Blog

  • Kisah Pendeta Buhaira ketika Melihat Tanda Kenabian Nabi Muhammad SAW



    Jakarta

    Ketika Muhammad SAW masih belia dan belum diangkat sebagai utusan Allah SWT, beliau pernah bertemu dengan seorang pendeta yang melihat tanda kenabian pada dirinya. Bagaimana kisahnya?

    Ibnu Ishaq dalam As-Sirah an-Nabawiyyah yang diterjemahkan Ali Nurdin, menceritakan sebuah riwayat mengenai pendeta (rahib) asal Bushra, Syam bernama Buhaira yang mengetahui kenabian Muhammad saat berjumpa dengannya.

    Kisah bermula ketika Abu Thalib, paman Nabi SAW, hendak berangkat ke Syam bersama kafilah dagang. Saat persiapan keberangkatan, Muhammad SAW yang berusia belia ingin ikut. Umur beliau sekitar sembilan, atau sepuluh, atau dua belas, berdasarkan riwayat yang berbeda.


    Hati Abu Thalib pun luluh. Ia berkata kurang lebih, “Demi Allah, aku akan membawanya pergi. Ia tidak akan berpisah denganku dan aku juga takkan meninggalkannya.” Setelahnya ia pergi dengan membawa keponakannya itu.

    Tibalah rombongan dagang di Bushra, wilayah Syam. Di sana dikenal seorang pendeta yang senang menyendiri dan tak pernah keluar dari biaranya sejak menjadi diangkat rahib. Ia menjadi rujukan ilmu bagi pemeluk ajaran Nasrani, dan mereka mempelajari ilmu agama darinya. Namanya Buhaira.

    Banyak dari kalangan dagang Quraisy yang kerap mampir di tempat itu. Tetapi pendeta Buhaira tak pernah bicara dengan mereka, bahkan menampakkan diri sekali pun, kepada mereka.

    Pada tahun itu, saat kafilah dagang Abu Thalib menepi di dekat biara, Buhaira telah menyiapkan banyak hidangan. Diduga karena sesuatu yang ia lihat dari dalam biara. Di mana ada yang meyakini bahwa saat Muhammad SAW berjalan di antara rombongan, ia melihat ada awan yang menaungi kawanan itu.

    Mereka pun singgah dan bernaung di bawah pohon terletak dekat biara. Buhaira sekali lagi menyaksikan awan menaungi pohon tersebut, dan dahan-dahannya merunduk di atas Muhammad SAW sehingga beliau bisa berteduh.

    Kemudian Buhaira turun dari biaranya, dan mengutus seseorang untuk menemui kelompok dagang itu seraya berpesan, “Saudara-saudara Quraisy, aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua hadir tanpa kecuali; anak kecil, orang dewasa, hamba sahaya, ataupun orang merdeka.”

    Seorang dari rombongan terheran dan bertanya, “Demi Allah, wahai Buhaira, hari ini engkau benar-benar berbeda. Apa yang kau lakukan pada kami? Kami sudah sering melewati tempatmu, tetapi hari ini mengapa sikapmu berbeda?”

    Buhaira menjawab, “Engkau benar. Apa yang kau katakan memang sesuai dengan kenyataan. Namun, kalian semua adalah tamuku. Aku ingin menghormati kalian dan membuat makanan untuk kalian. Karena itu, kuharap kalian semua memakannya.”

    Akhirnya seluruh kafilah dagang berkumpul di biara. Dan hanya Muhammad SAW yang tidak ikut lantaran usianya masih anak-anak. Beliau memilih untuk menunggu dan menjaga di dekat tunggangan mereka di bawah pohon itu.

    Ketika Buhaira mengamati mereka, ia tidak menemukan sifat-sifat yang dilihatnya tadi dalam rombongan. Maka ia mengatakan, “Saudara-saudara Quraisy, tak boleh ada seorang pun yang tertinggal dari menyantap makanan yang kupersiapkan.”

    Mereka berujar, “Wahai Buhaira, tidak seorang pun tertinggal untuk mendatangimu, kecuali seorang anak yang paling muda usianya. Ia tetap berada di kendaraan.”

    Buhaira berkata, “Jangan lakukan hal itu, ajaklah anak itu. Ia harus ikut bersama kalian menyantap makanan ini.”

    Seorang dari mereka mengucap, “Demi Lata dan Uzza, betapa aib bagi kami jika putra Abdullah bin Abdil Muththalib tidak ikut menyantap bersama kami.”

    Orang itu pun keluar untuk memanggil Muhammad SAW, dan diajaklah beliau agar bergabung bersama rombongan.

    Lantas Buhaira memperhatikan Muhammad SAW secara diam-diam. Ia mengamati seluruh tubuhnya anak belia tersebut, hingga ia mendapati tanda kenabian pada diri Muhammad SAW kecil.

    Setelah menyantap makanan, rombongan dagang itu berpencar. Kemudian Buhaira mendekati Muhammad SAW sambil bertanya, “Nak, demi Lata dan Uzza aku akan bertanya kepadamu, dan engkau harus menjawab pertanyaanku.”

    Mendengar rahib itu mengucap nama berhala “Lata dan Uzza”, Muhammad SAW menjawab, “Janganlah engkau bertanya kepadaku atas nama Lata dan Uzza. Demi Allah, tidak ada yang paling kubenci selain keduanya.”

    Buhaira berkata, “Demi Allah, hendaknya engkau menjawab pertanyaan-pertanyaanku.” Muhammad SAW menjawab, “Silakan bertanya.”

    Pendeta itu pun menanyakan segala hal yang ingin diketahuinya. Muhammad SAW menjawab semua pertanyaannya, dan ternyata jawaban yang diberikannya sesuai dengan sifat-sifat kenabian.

    Akhirnya Buhaira memeriksa punggung Muhammad SAW. Ia menyaksikan ada stempel kenabian antara kedua bahunya seperti bekas bekam, persis di tempat yang diketahuinya.

    Setelah mencermati Muhammad SAW selesai, Buhaira bertanya kepada Abu Thalib. Ia bertanya, “Anak siapa ini?” Abu Thalib menjawab, “Dia anakku.”

    Buhaira menentang, “Ia bukan anakmu. Tidak mungkin anak ini punya seorang ayah yang masih hidup.” Abu Thalib membenarkan, “Memang, ia anak saudaraku.”

    Buhaira bertanya kembali, “Apa yang dilakukan ayahnya?” Abu Thalib mengatakan, “Ia sudah meninggal saat ibunya mengandung anak ini.”

    Rahib itu berujar, “Engkau benar. Sebaiknya engkau segera membawa keponakanmu ini kembali ke negerimu. Dan berhati-hatilah terhadap orang Yahudi.”

    “Demi Allah, kalau sampai mereka melihat anak ini dan mengetahui apa yang kuketahui, mereka akan melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya. Sungguh, keponakanmu ini akan memiliki kedudukan yang agung. Sekarang, pulanglah cepat-cepat ke negerimu.” ungkap Buhaira.

    Selesainya urusan dagang di Syam, Abu Thalib langsung membawa Muhammad SAW pulang ke Makkah.

    Dikatakan ada tiga orang Ahli Kitab; Zurair, Tammam, dan Daris menyaksikan Muhammad SAW sebagaimana yang dilihat oleh Buhaira ketika perjalanannya bersama Abu Thalib. Dan mereka pun menginginkan Muhammad SAW, tetapi Buhaira mencegahnya sembari mengingatkan mereka akan Allah SWT. Kemudian mereka membiarkannya.

    Begitulah Muhammad SAW yang kemudian tumbuh menjadi pemuda yang berada dalam perlindungan dan pemeliharaan Allah SWT. Dia memeliharanya dari noda kaum jahiliyah karena menghendaki kehormatan dan kerasulan untuknya kelak di masa dewasa.

    Beliau menjadi orang yang baik kepribadiannya, bagus akhlaknya, mulia garis keturunannya, tinggi kesantunannya, benar bicaranya, agung amanahnya, dan paling jauh dari kekejian dan perangai tercela. Hal itu merupakan bentuk penyucian dan penghormatan. Sehingga tak heran Muhammad SAW diberi gelar Al-Amin (orang terpercaya).

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Saleh Mampu Mengeluarkan Unta dari Batu, Bagaimana Kisahnya?



    Jakarta

    Nabi Saleh merupakan salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib kita ketahui ketahui dan imani. Nabi Saleh diutus oleh Allah SWT untuk memimpin Kaum Tsamud yang hidup di suatu dataran bernama Al-Hijir.

    Menurut buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul karya Ridwan Abdullah Sani, Kaum Tsamud hidup di daerah yang terletak antara Hijaz dan Syam (daerah antara barat laut (yang dikenal sekarang) Arab Saudi dan daerah Palestina, Suriah, Yordania, dan Lebanon). Daerah ini terlebih dahulu dikuasai oleh suku ‘Ad yaitu pendahulu kaum Tsamud.

    Suku ‘Ad adalah leluhur dari Kaum Tsamud dan mewariskan kekayaan alam yang luar biasa bagi Kaum Tsamud. Mereka memiliki tanah yang subur, seluruh tanaman bisa tumbuh, dan binatang ternak yang dapat berkembang biak dengan baik.


    Semua kelebihan yang dimiliki oleh Kaum Tsamud membuat mereka makmur dan serba berkecukupan. Namun, kondisi ini tidak serta merta membuat Kaum Tsamud beriman ke Allah SWT.

    Singkat cerita, melalui perjuangan dakwah Nabi Saleh kepada kaum Tsamud, mereka tidak mau untuk mengimani apa yang telah diucapkan dan dipandu olehnya. Kaum Tsamud ini kemudian menantang Nabi Saleh untuk menunjukkan mukjizatnya.

    Mukjizat Nabi Saleh

    Masih mengutip dari buku karya Ridwan Abullah Sani yang sama dijelaskan bahwa penolakan Kaum Tsamud kepada Nabi Saleh terus berlanjut. Mereka kemudian bahkan berani menantang Nabi Saleh untuk menunjukkan mukjizatnya.

    Mukjizat yang dituntut oleh Kaum Tsamud ini adalah mengeluarkan unta dari sebuah batu besar. Ketika mukjizat ini, mereka berjanji bahwa barulah setelah itu mereka akan beriman terhadap Nabi Saaleh.

    Nabi Saleh kemudian bergegas menuju tempat ibadahnya lalu menunaikan sholat. Ia lalu berdoa kepada Allah SWT untuk mengabulkan permintaan Kaum Tsamud yang menantang keagungan Allah SWT. Allah SWT kemudian mengabulkan doa yang diminta Nabi Saleh untuk mengalahkan keangkuhan kaum Tsamud.

    Nabi Saleh meyakini bantuan Allah SWT untuk menurunkan mukjizat dengan timbal balik berupa janji iman Kaum Tsamud kepada Allah SWT. Janji ini berupa Kaum Tsamud harus meninggalkan agama dan sesembahan mereka serta harus beriman kepada Allah ketika mukjizat itu benar terjadi. Nabi Saleh pun berkata pada kaumnya seperti diabadikan dalam surah Hud ayat 64,

    وَيٰقَوْمِ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيْب٦٤

    Artinya: “Wahai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat untukmu. Oleh karena itu, biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu memperlakukannya dengan buruk yang akan menyebabkan kamu segera ditimpa azab.” (QS. Hud: 64)

    Setelah mukjizat keluarnya unta betina itu benar-benar terjadi, Kaum Tsamud merespon untuk mengingkari janji mereka kepada Allah SWT. Kaum Tsamud kemudian membunuh unta tersebut yang mengakibatkan azab yang dijanjikan Allah SWT akan turun dalam waktu tiga hari.

    Akhirnya Nabi Saleh yang berbaik hati, memperingatkan untuk terakhir kalinya kepada Kaum Tsamud yang masih ingkar untuk beriman kepada Allah. Nabi Saleh menyampaikan mereka yang telah menentang Allah dan tetap berada di jalan yang salah akan mendapatkan azab langsung dari Allah SWT.

    Hukuman Allah SWT akhirnya dijatuhkan pada hari keempat setelah tiga hari waktu tenggang yang dijanjikan, sesuai dengan apa yang dikisahkan dalam surah Hud ayat 65, yaitu

    فَعَقَرُوْهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوْا فِيْ دَارِكُمْ ثَلٰثَةَ اَيَّامٍ ۗذٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوْبٍ٦٥

    Artinya: “Mereka lalu menyembelih unta itu. Maka, dia (Saleh) berkata, “Bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 65)

    Mereka yang beriman kemudiandiberikan keamanan dan perlindungan Allah SWT dari azab-Nya. Sedangkan yang ingkar kepada Allah SWT diberikan azab berupa guntur yang sangat keras yang membuat orang-orang ingkar itu mati bergelimpangan di rumahnya.

    Itulah mukjizat Nabi Saleh yang mampu mengeluarkan unta betina dari sebuah batu untuk menjawab tantangan kaumnya yaitu Tsamud. Semoga bermanfaat

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abdullah Bin Amr Bin Hiram, Jasadnya Utuh Setelah Dimakamkan 40 Tahun



    Jakarta

    Abdullah bin Amr bin Hiram adalah ayah dari Jabir bin Abdullah, seorang sahabat Rasulullah SAW. Abdullah meninggal dalam keadaan syahid ketika Perang Uhud. Setelah puluhan tahun dimakamkan, jasadnya masih utuh dan bahkan masih mengeluarkan darah layaknya orang yang baru saja meninggal dunia.

    Kisah tentang jasad Abdullah bin Amr bin Hiram yang masih utuh ini menjadi salah satu kisah yang terkenal. Peristiwa ini juga sekaligus menunjukkan bahwa Allah SWT berkuasa atas segala kehendak-Nya.

    Mengutip buku Kisah Karomah Para Wali Allah oleh Abul Fida’ Abdurraqib bin Ali Al-Ibi, kisah Abdullah ayah Jabir ini diceritakan oleh banyak sahabat Nabi SAW.


    Al-Bukhari Rahimahullah berkata, “Kami mendengar cerita dari Ali bin Abdullah, dari Sufyan, dari Ibnu al Munkadir, ia berkata, Aku pernah mendengar Jabir bin Abdullah Radhiyalahu Anhuma bercerita, ‘Pada Perang Uhud orang tuaku didatangkan dalam keadaan tertutup sekujur tubuhnya. Ternyata beliau telah terbunuh dalam keadaan yang sangat mengerikan. Ketika aku bermaksud membuka pakaiannya, orang-orang melarangku. Sekali lagi aku bermaksud membuka pakaiannya, tetapi mereka tetap melarangku. Akhirnya, Rasulullah sendiri yang membukakannya, atau beliau menyuruh untuk dibukakan.

    Tiba-tiba saja beliau mendengar suara tangisan atau jeritan. Beliau bertanya, “Siapa itu?”

    Para shahabat menjawab, Putri atau saudara perempuannya, Amr. Beliau bersabda, ‘Mengapa ia menangis? Malaikat sekarang ini masih selalu menaungi Abdullah dengan sayap-sayapnya sampai dia diberangkatkan’”

    Firasat Abdullah bin Amr tentang Kematiannya

    Imam Al-Bukhari Rahimahullah berkata, “Bisyr bin Al Mufadhdhal bercerita kepada kami, dari Husain Al-Mu’allim, dari Atha’, dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Menjelang Perang Uhud, tengah malam ayahku memanggilku. la berkata, ‘Aku merasa diriku adalah orang pertama dari sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang akan terbunuh. Bagiku, sepeninggalku nanti aku tidak akan membiarkan ada yang lebih mulia daripada kamu selain jiwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya aku masih punya tanggungan hutang. Oleh karena itu, bayarlah dan berilah wasiat yang baik kepada adik-adik perempuanmu’.

    Esoknya ayahku adalah orang yang pertama kali terbunuh. la dimakamkan bersama orang lain dalam satu kubur. Karena merasa tenang, enam bulan kemudian aku membongkar kuburnya. Ternyata keadaannya masih seperti ketika ia diletakkan, kecuali bagian telinga saja yang rusak.

    Abdullah bin Amr Dimakamkan Tanpa Dimandikan

    Orang-orang yang mati syahid dimakamkan tanpa dimandikan, hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,

    لَا تُغَسِّلُوهُمْ، فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ – أَوْ كُلَّ دَمٍ – يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    Artinya: “Jangan kalian memandikan mereka (orang yang mati syahid dalam jihad) karena setiap luka dan setiap darah akan mengeluarkan minyak beraroma kasturi di hari kiamat. (HR Ahmad).

    Rasulullah SAW sendiri mencontohkannya melalui pemakaman jenazah para syuhada Uhud. Meski jenazah mereka dalam kondisi berdarah, Rasulullah SAW menganjurkan untuk tidak dimandikan maupun disalati.

    Ibnu Sa’ad Rahimahullah dalam kitab Ath-Thabagat (I/562) berkata, “Kami mendapat cerita dari Al-Walid bin Muslim, dari ALAuza’i, dari Az-Zuhri, dari Jabir bin Abdullah, ‘Bahwasanya Rasulullah SAW ketika keluar rumah untuk mengebumikan para shahabat yang gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud bersabda, ‘Selimutilah mereka sekalian dengan luka mereka karena sesungguhnya aku adalah saksi bagi mereka. Setiap orang Muslim yang terluka dalam perang di jalan Allah, niscaya pada hari Kiamat kelak ia akan datang dengan darah yang mengalir yang warnanya laksana warna minyak za’faran dan aromanya laksana aroma kesturi’.

    Jabir bercerita, ‘Jenazah ayahku dibungkus dengan selembar kain selimut. Rasulullah SAW menyeleksi di antara para korban yang gugur. Beliau menyuruh mendahulukan yang paling banyak hafal Al-Qur’an untuk dimasukkan ke dalam liang lahat.

    Abdullah bin Amr bin Hiram adalah pasukan Uhud pertama yang gugur di medan perang. la dibunuh oleh seorang pasukan musyrik bernama Sufyan bin Abdu Syams Abu Al-A’war As-Sulami. Rasulullah menyalatkannya sebelum pasukan kaum Muslimin berlarian. Beliau bersabda, ‘Makamkan Abdullah bin Amr dan Amr bin Jamuh dalam satu kubur karena keduanya adalah sepasang shahabat karib. Makamkan kedua orang yang saling men cintai di dunia ini dalam satu lubang’.

    Jasad Abdullah bin Amr Masih Utuh

    Abdullah bin Amr adalah orang yang berkulit merah, berkepala botak dan memiliki postur tubuh tinggi. Sementara Amr bin Jamuh memiliki postur tinggi sehingga keduanya bisa dikenali. Letak kubur mereka berada di tempat yang mudah terkena banjir.

    Hal inilah yang membuat makamnya dibongkar dengan maksud untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

    Setelah dibongkar, jasad mereka kedapatan masih utuh berikut kain kafannya. Luka di wajah Abdullah juga masih ada, dan posisi tangannya memegang luka itu.

    Jabir berkata, “ketika aku berusaha menyingkirkan tangannya dari luka, darah mengalir cukup deras. Ketika aku kembalikan pada posisi semula, darah menjadi berhenti.

    Aku melihat keadaan ayahku seperti orang yang sedang tidur nyenyak. Sedikit pun tidak ada yang berubah. Kain selimut yang digunakan untuk kafan dan menutupi wajahnya masih dalam keadaan utuh. Demikian pula dengan mantel yang ditutupkan pada sepasang kakinya. Padahal, itu sudah berlangsung selama empat puluh enam tahun yang lalu.”

    Jabir yang hendak memindahkan makam ayahnya ini urung melakukan niatnya karena para sahabat Rasulullah SAW merasa keberatan.

    Orang yang Syahid Dijamin Surga

    Tirmidzi Rahimahullah berkata, “Kami mendapatkan riwayat dari Yahya bin Habib bin Arabi, dari Musa bin Ibrahim bin Katsir Al Anshari, dari Thalhah bin Kharrasy, ia berkata, ‘Aku pernah mendengar Jabir bin Abdullah mengatakan, ‘Aku bertemu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau bertanya kepadaku, Wahai Jabir, kenapa aku melihat kamu nampak bersedih?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, ayahku gugur pada saat peristiwa Perang Uhud. la meninggalkan keluarga dan tanggungan hutang.

    Beliau bersabda, ‘Maukah aku berikan kabar gembira kepadamu atas apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada mendiang ayahmu?’ Aku menjawab, “Tentu wahai Rasulullah’. Beliau bersabda, Sesungguhnya Allah tidak berfirman kepada siapa pun, kecuali dari balik tirai. Setelah menghidupkan kembali ayahmu, Allah berfirman kepadanya secara terang-terangan. Allah berfirman, Wahai hamba Ku, sampaikan keinginanmu, niscaya Aku akan meluluskan keinginanmu itu’.

    Ayahmu berkata, “Ya Tuhan, Engkau telah memberikan kehidupan padaku, lalu aku berjuang di jalan-Mu sebanyak dua kali. Lalu, Allah Yang Maha mulia lagi Mahaagung berfirman, ‘Sesungguhnya Aku sudah tahu bahwa mereka tidak akan kembali. Kemudian, turunlah ayat dalam surat Ali Imran ayat 169

    وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

    Arab-Latin: Wa lā taḥsabannallażīna qutilụ fī sabīlillāhi amwātā, bal aḥyā`un ‘inda rabbihim yurzaqụn

    Artinya: Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Akhir dari Kisah Cinta Beda Agama Putri Rasulullah



    Jakarta

    Putri sulung Rasulullah SAW dan Khadijah RA, Zainab RA, menikah dengan seorang lelaki kafir Quraisy, Abul Ash bin Rabi’. Keduanya menjalani cinta beda agama sejak Zainab RA memeluk Islam mengikuti sang ayah.

    Kisah cinta beda agama yang dijalani Zainab RA ini sampai membuat Rasulullah SAW iba melihat perjuangan dan ketulusan cinta putrinya kepada Abul Ash. Menurut Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakputri, Abul Ash merupakan putra bibi Zainab RA yang bernama Halah binti Khuwailid.

    Sejak kecil, Abul Ash sudah bergaul dengan Zainab RA seperti bergaul dengan saudara sendiri. Abul Ash diasuh oleh Khadijah RA dengan kasih sayang seperti anak kandung sendiri. Ia diizinkan keluar-masuk rumah Rasulullah SAW seperti rumah sendiri, sebagaimana diceritakan dalam buku Rumah Tangga Seindah Surga karya Ukasyah Habibu Ahmad.


    Setelah dewasa, Abul Ash menjadi pemuda kaya, rupawan, dan mempesona bagi setiap orang yang memandangnya. Sebagai bangsawan, ia juga termasuk kaum Quraisy yang mewarisi bakat dan keterampilan berdagang. Banyak masyarakat Makkah yang menyetor harta mereka kepada Abul Ash untuk diperdagangkan.

    Abul Ash kemudian menikahi Zainab RA. Pernikahan ini berlangsung sebelum masa kenabian atau sebelum turunnya wahyu yang pertama kepada Rasulullah SAW.

    Kegelisahan Sayyidah Zainab kala Perang Badar

    Singkat cerita, setelah mendapat wahyu kenabian, Zainab RA masuk Islam di tangan ayahnya. Ia tetap tinggal bersama suaminya, Abul Ash. Ketika itu, suami dan keluarganya masih dalam kemusyrikan, sebagaimana diceritakan Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal dalam Ummu Al-Mukminin Khadijah binti Khuwailid: Al-Mitslu Al-A’la li Nisa’i Al-‘Alamin.

    Usai menjalani dakwah yang sangat sulit di Makkah, Rasulullah SAW memutuskan hijrah. Pada saat itu, Zainab RA tidak diperbolehkan oleh Abul Ash dan keluarganya meninggalkan Makkah.

    Hingga Perang Badar meletus, Zainab RA menjadi satu-satunya muslimah yang tinggal bersama kafir Quraisy di Makkah.

    Pada saat itu, Abul Ash turut serta dalam pertempuran untuk memerangi kaum muslimin dan mertuanya, Rasulullah SAW.

    Peperangan tersebut jelas membuat Zainab RA merasa gelisah. Bagaimana tidak, saat itu sang suami berada di pihak musuh yang melawan ayahnya, padahal keduanya merupakan orang yang sangat dicintai Zainab RA.

    Zainab RA hanya bisa berdoa semoga Allah SWT memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, namun ia juga berharap suaminya dijauhkan dari bahaya dan mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam.

    Pada akhirnya, kaum muslimin memenangkan peperangan dan Abul Ash menjadi salah satu tawanan. Ia digiring menuju Madinah dan Rasulullah SAW mewajibkan setiap tawanan menebus diri mereka jika ingin bebas.

    Rasulullah SAW menetapkan uang tebusan antara 1.000-4.000 dirham sesuai dengan kedudukan dan kekayaan para tawanan di kaumnya.

    Akhirnya, Zainab RA mengirimkan uang tebusan dan sebuah kalung pemberian ibunya, Khadijah binti Khuwailid. Ketika Rasulullah SAW melihat Zainab RA beserta dengan kalung tersebut beliau terharu, air mata pun menetes di pipi beliau.

    Melihat duka Rasulullah SAW, para sahabat setuju untuk membebaskan Abul Ash bin Rabi’ tanpa harus membayar tebusan. Kemudian Rasulullah SAW mengembalikan kalung tersebut dan meminta Abul Ash untuk menceraikan Zainab RA.

    Sayyidah Zainab Sempat Berpisah dengan Abul Ash

    Abul Ash kemudian menyetujui permintaan Rasulullah SAW agar menceraikan Zainab RA. Begitu kembali ke Makkah, keluarga Abul Ash juga menyetujui hal tersebut.

    Mereka berkata, “Biarlah engkau menceraikan istrimu itu, dan kami akan mencarikan bagimu gadis yang jauh lebih cantik daripadanya.”

    Namun, Abul Ash sangat mencintai Zainab RA sehingga ia berkata, “Di suku Quraisy tidak ada gadis yang dapat menandingi istriku.”

    Meskipun dihalang-halangi orang Quraisy, pada akhirnya Abul Ash melepaskan Zainab RA ke Madinah. Di tengah perjalanan, beberapa orang Quraisy mengganggu unta Zainab RA dan membuatnya terjatuh. Putri Rasulullah SAW yang saat itu tengah mengandung akhirnya harus kehilangan bayinya karena keguguran.

    Abul Ash Akhirnya Memeluk Islam

    Setibanya di Madinah, Zainab RA dikabarkan masih sakit-sakitan dan lukanya sulit diobati. Hingga pada suatu ketika, Abul Ash akhirnya mendapat hidayah dari Allah SWT dan ia pun masuk Islam. Abul Ash kemudian menyusul Zainab RA pada tahun ke-7 Hijriah.

    Rasulullah SAW amat senang menerima menantunya kembali. Zainab RA pun bahagia di sisa-sisa hidupnya bersama suami tercinta. Hingga akhirnya, Zainab RA wafat pada awal tahun 8 Hijriah di Madinah.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Qarun, Orang Terkaya yang Tenggelam Bersama Hartanya



    Jakarta

    Dalam bahasa Indonesia, harta karun diartikan sebagai harta benda yang tidak diketahui pemiliknya. Harta karun identik dengan harta yang terkubur. Ternyata hal ini berkaitan dengan kisah Qarun yang tenggelam bersama harta kekayaannya akibat kekufuran dan kesombongannya.

    Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai bentuk peringatan sekaligus menjadi pengingat bagi manusia. Sungguh Allah tidak menyukai hamba-Nya yang sombong dan tidak mengakui nikmat pemberian-Nya. Bahkan, dalam sebuah hadits, nama Qarun dijejerkan bersamaan dengan nama-nama lain yang tercela perilakunya.

    Abdullah bin Amr berkata bahwa suatu hari Nabi SAW menjelaskan tentang sholat. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menjaganya (shalat), maka ia akan menjadi cahaya, hujjah, dan keselamatan baginya dari neraka pada hari kiamat.


    Dan barangsiapa yang tidak menjaganya (shalat), maka ia tidak akan menjadi cahaya, tidak pula keselamatan dan hujjah baginya. Pada hari kiamat, ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR Ad-Darimi).

    Kekayaan Qarun yang Melimpah Ruah

    Dalam Ensiklopedia Al-Qur’an dan Hadis per Tema yang diterbitkan oleh Alita Aksara Media, disebutkan bahwa Qarun adalah salah seorang sepupu Nabi Musa, anak dari Yashar yang merupakan adik kandung ayah Nabi Musa, Imran.

    Baik Nabi Musa dan Qarun masih termasuk keturunan Nabi Ya’qub karena keduanya merupakan cucu dari Quhas bin Lewi. Adapun Lewi bersaudara dengan anak Nabi Ya’qub, Yusuf. Oleh karena itu apabila diurutkan nasabnya maka nama lengkapnya adalah Qarun bin Yashar bin Qahit/Quhas bin Lewi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.

    Sebelum menjadi hartawan yang bergelimang kekayaan, Qarun sangatlah miskin dan memiliki banyak anak. Ia bahkan sempat meminta Nabi Musa untuk mendoakannya agar diberikan harta benda dan permintaan tersebut dikabulkan oleh Allah.

    Dikisahkan pula, dia sering mengambil harta dari Bani Israil yang lain dan memiliki ribuan gudang harta, penuh berisi emas dan perak. Saking kayanya, kunci-kunci harta bendanya harus dipikul oleh beberapa orang yang kekar karena terlampau berat untuk dibawa oleh satu orang.

    Meskipun berkerabat dengan Nabi Musa, pada masa itu Qarun yang pandai berbisnis memihak Raja Fir’aun dengan mendukung dan menyokong pemerintahannya. Maka tak heran apabila hartanya melimpah ruah.

    Sikap Sombong Qarun

    Yana Adam (Abu Alwi bin Nasrudin bin Sudir) dalam bukunya yang berjudul Rahasia Dahsyat di Balik Kata Syukur menyebutkan bahwa Qarun sering disebut dengan julukan ‘Munawwir’ karena keindahan suaranya dalam membaca kitab Taurat. Qotadah, Muqotil dan al-Kalbi mengatakan bahwa Qarun adalah kaum Bani Israil yang paling bagus bacaan Tauratnya.

    Ia bahkan merupakan ahli kitab Taurat setelah Nabi Musa dan Harun. Namun, di balik ilmu dan hartanya yang berlimpah, Qarun termasuk ke dalam golongan orang-orang yang munafik karena harta bendanya telah membutakan hatinya.

    Banyak orang saleh yang mengingatkannya dan menasihati agar ia tidak bersikap berlebihan dan tinggi hati. Namun, Qarun mengabaikannya dan menganggap bahwa harta yang dimilikinya didapat dari ilmu dan usahanya tanpa campur tangan dari Allah.

    Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surat Al Qashash ayat 78,

    قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَّاَكْثَرُ جَمْعًا ۗوَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ

    Artinya: Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu bahwa sesungguhnya Allah telah membinasakan generasi sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Orang-orang yang durhaka itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.

    Bahkan, Qarun seringkali melewati kaum Bani Israil dengan pakaian beserta harta yang mewah. Ia diiringi oleh para pembantu dan juga budak yang siap sedia melayaninya. Tentu saja hal itu membuat orang-orang iri bahkan sampai berangan-angan memiliki kekayaan seperti Qarun.

    Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al Qashash ayat 79,

    فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ فِيْ زِيْنَتِهٖ ۗقَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا يٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ اُوْتِيَ قَارُوْنُۙ اِنَّهٗ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ

    Artinya: Maka, keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Andaikata kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

    Qarun Mendapatkan Azab dari Allah

    Pada akhirnya Qarun diazab oleh Allah, yakni dengan dibenamkan ke dalam tanah dalam waktu semalam. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Allah menurunkan gempa bumi yang dahsyat beserta tanah longsor.

    Tempat Qarun ditenggelamkan bersama dengan harta dan pengikutnya telah menjadi danau yang dikenal sebagai Danau Qarun (Bahirah Qarun). Adapun yang tersisa hanya puing-puing istana Qarun yang terletak di daerah Al-Fayyum, Mesir.

    Hal ini tercantum dalam firman Allah yakni Al-Qur’an surat Al Qashas ayat 81,

    فَخَسَفْنَا بِهٖ وَبِدَارِهِ الْاَرْضَ ۗفَمَا كَانَ لَهٗ مِنْ فِئَةٍ يَّنْصُرُوْنَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖوَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ

    Artinya: Lalu, Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka, tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.

    Qarun tenggelam bersama seluruh harta kekayaannya ke dalam perut bumi dan tidak ada satupun yang tersisa. Tidak ada pula satu orang saja dari keluarga, kerabat, teman, maupun pengikutnya yang mampu menyelamatkannya. Harta dan ilmu yang dimiliki dan diagung-agungkan olehnya justru menjadi malapetaka baginya.

    Melihat apa yang telah menimpa Qarun, orang-orang yang tadinya merasa iri hati dan berandai-andai ingin memiliki harta seperti Qarun kemudian menjadi semakin beriman dan memperbanyak kesabaran.

    Mereka juga memuji Allah atas peringatan yang telah disampaikan, sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al Qashash ayat 82,

    وَاَصْبَحَ الَّذِيْنَ تَمَنَّوْا مَكَانَهٗ بِالْاَمْسِ يَقُوْلُوْنَ وَيْكَاَنَّ اللّٰهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُۚ لَوْلَآ اَنْ مَّنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ۗوَيْكَاَنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْكٰفِرُوْنَ

    Artinya: Orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudukannya (Qarun) itu berkata, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya dan Dia (juga) yang menyempitkan (rezeki bagi mereka). Seandainya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya pada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah tidak akan beruntung orang-orang yang ingkar (terhadap nikmat).”

    Demikian kisah dari Qarun, seorang kaya raya yang mendapatkan peringatan keras dari Allah berupa azab atas sikap sombongnya. Bagaimanapun, setiap rezeki dan nikmat yang didapatkan setiap manusia adalah atas izin dan karunia Allah. Semoga kita semua dapat mempelajari kisah ini untuk senantiasa bersyukur kepada Allah.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Umar dengan Janda Tua yang Masak Batu untuk Makan



    Jakarta

    Banyak sekali kisah inspiratif dan menambah keimanan dalam berbagai keterangan dalam dunia Islam. Salah satunya adalah kisah dari sahabat, Umar bin Khattab RA dengan janda tua.

    Umar bin Khattab atau yang kerap dipanggil Umar merupakan salah satu orang terhebat di dalam sejarah Islam mungkin setelah Rasulullah SAW. Beliau merupakan Amirul Mukminin atau pemimpin orang-orang yang beriman sekaligus menjadi khalifah pertama setelah sepeninggalnya Rasulullah SAW.

    Catatan dan rekaman sepak terjangnya semenjak masih menjadi musuh Islam hingga akhirnya menjadi ujung tombak Islam menyimpulkan dirinya sebagai orang yang besar dan tangguh. Namun, dalam satu kisah kita dapat mengetahui bagaimana hati seorang Umar yang ternyata lembut dan sangat perasa.


    Umar diceritakan gemar melakukan blusukan ke rumah-rumah rakyatnya untuk mengetahui secara langsung bagaimana kondisi mereka. Seperti dikisahkan dalam buku Memang untuk Dibaca, 100 Kisah Islami Inspiratif Pembangkit Jiwa karya Rian Hidayat Abi, kisah ini berawal ketika suatu malam pada salah satu jadwal blusukan rutin sang khalifah.

    Suatu malam, Umar bersama seorang sahabat bernama Aslam mengunjungi sebuah desa terpencil. Ketika sedang berkeliling, ia mendengar terdapat suara tangisan anak kecil yang bersumber dari sebuah rumah.

    Rumah tersebut dihuni oleh seorang perempuan tua dan anaknya yang sedang menangis tadi. Alangkah terkejutnya ketika Umar ini mengetahui ternyata ibu tersebut sedang memasak batu seolah-olah sedang memasak makanan.

    Hal ini membuat Khalifah umar merasa penasaran sekaligus merasa iba dengan perilaku yang ditunjukkan oleh janda tua tersebut, sehingga ia bertanya kepadanya perihal anaknya yang sedang menangis itu. Wanita tersebut kemudian menjawab,

    “Saya memasak batu-batu ini hanya untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan yang dilakukan Umar bin Khattab (wanita itu tidak mengetahui sedang berbicara dengan Umar) yang tidak mau melihat rakyatnya sengsara. Sungguh kejam! Seharian ini kami belum makan satu suap pun, bahkan anakku pun sampai harus berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, saya mengharap bakal ada rezeki yang datang, namun kenyataannya tidak! Saya harus mengumpulkan batu-batu ini kemudian memasaknya untuk membohongi anakku yang kelaparan dengan harapan dia akan lekas tertidur. Ternyata anakku tidak bisa tertidur, kemudian ia menangis meminta makan.”

    Sembari mendengar keluh kesah yang diutarakan oleh perempuan tua itu, Amirul Mukminin berlinang air mata. Kemudian. Umar segera beranjak dari tempat itu dan kembali ke Madinah untuk mengambil gandum yang dipikul di punggungnya untuk diantar ke janda tua itu.

    Tanpa istirahat, Umar kemudian sampai ke rumah janda tua itu dan membawakan gandum serta beberapa liter minyak samin untuk bisa dimasak oleh janda tua itu. Setelahnya, janda tua itu bergegas memasak makanan untuk dia dan anaknya.

    Setelah mampu menikmati makanan tersebut, wanita tua itu berkata, “Terima kasih, Semoga Allah SWT membalas amal perbuatanmu.”

    Setelah kejadian yang menguras hati dan tenaga itupun akhirnya Umar lega karena bisa membantu rakyatnya agar tidak kelaparan lagi sekaligus menghentikan tangisan anak kecil tersebut. Umar kemudian berpamitan, sebelum pergi, ia menyampaikan kepada wanita tua itu untuk segera menemui Umat karena akan diberikan kepadanya hak penerima santunan negara.

    Esok harinya, wanita itu bergegas untuk menemui Umar bin Khattab. Alangkah terkejutnya ia ketika mengetahui ternyata yang semalaman membantunya mengangkat gandum dan minyak adalah Umar sendiri.

    Dikutip dari buku Umar Ibn Al-Khattab His Life and Times Vol. 1, kekeringan dan kelaparan parah sempat terjadi pada tahun ke 18 setelah hijrah. Tahun ini disebut Ar-Ramadah karena angin menerbangkan debu seperti abu atau Ar-Ramad. Bencana ini mengakibatkan kematian hingga hewan-hewan ikut merasakan dampaknya.

    Umar yang merasa bertanggung jawab melakukan berbagai usaha untuk membantu rakyatnya, termasuk mendistribusikan makanan dari Dar Ad-Daqeeq. Umar membagikan hingga berdoa memohon pengampunan pada Allah SWT hingga akhirnya turun hujan dan mengakhiri bencana tersebut.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Sayyidah Aisyah pada 17 Ramadan



    Jakarta

    Tepat hari ini, 17 Ramadan 58 H silam, Sayyidah Aisyah RA menghembuskan napas terakhirnya. Ummul Mukminin wafat setelah salat Witir.

    Sayyidah Aisyah RA adalah istri ketiga dan merupakan istri kesayangan Rasulullah SAW. Satu hal yang membuat Rasulullah SAW sangat mencintai dan menyayangi Sayyidah Aisyah RA adalah kecerdasan dan keleluasaan wawasannya.

    Semasa hidupnya Sayyidah Aisyah RA memiliki akhlak yang sangat baik, hingga menjelang wafatnya Sayyidah Aisyah RA juga menunjukkan sifat rendah hatinya.


    Dalam buku The Way of Muslimah karya Nurfaisya dikatakan, kecerdasan yang dimiliki oleh istri yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW itu sudah terlihat sejak dia masih kecil.

    Sayyidah Aisyah RA mampu mengingat dengan baik apa yang terjadi pada masa kecilnya, termasuk hadis-hadis yang didengarnya dari Rasulullah SAW.

    Dia mampu memahami, meriwayatkan, menarik kesimpulan, serta memberikan penjelasan detail hukum fiqih yang terkandung di dalam hadits. Sayyidah Asiyah RA juga sering menjelaskan hikmah-hikmah dari peristiwa yang dialaminya pada masa kecil.

    Selain itu, Sayyidah Aisyah RA mampu mengingat dan memahami rahasia-rahasia hijrah secara terperinci hingga bagian-bagian terkecilnya.

    Wafatnya Sayyidah Aisyah pada Malam 17 Ramadan

    Merangkum dari buku Agungnya Taman Cinta sang Rasul karya Ustadzah Azizah Hefni dan buku Aisyah Ummul Mukminin, Keanggunan Sejati karya Sulaiman an-Nadawi, menjelang wafatnya Sayyidah Aisyah RA berkeinginan untuk menjadi hamba Allah SWT yang biasa dan tak dikenang. Ia bahkan merasa malu jika dimakamkan di dekat Rasulullah SAW.

    Sayyidah Aisyah RA tidak menghendaki hal tersebut dan berpesan agar kelak jika wafat, ia dikubur bersama dengan para sahabat lainnya di Baqi’.

    Sayyidah Aisyah RA berwasiat supaya beliau dikebumikan pada waktu malam. Imam Muhammad meriwayatkan dalam Kitab al-Muwatta’ yang Aisyah pernah ditanya mengapa beliau tidak mau dikebumikan di sisi Nabi Muhammad SAW? Aisyah RA menjawab, “Jika saya dikuburkan bersama mereka, saya adalah satu-satunya orang yang pernah melakukan amalan buruk yang dikuburkan di sana.”

    Aisyah meninggal dunia pada malam 17 Ramadan tahun 58 Hijriah setelah salat Witir. Utsman bin Abu Atiq berkata bahwa, “Saya melihat perempuan berkumpul di Baqi’ pada malam Sayyidah Aisyah RA meninggal dunia seolah-olah itu malam Raya.” Kisah ini diambil dari Kitab ath-Thabbaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’ad.

    Pada malam itu pula, Ummu Salamah mendengar bunyi hiruk pikuk seperti orang bergaduh. Beliau menyuruh pembantunya melihat apakah yang sudah terjadi. Tidak lama kemudian, pembantunya pulang dan menyampaikan berita bahwa Sayyidah Aisyah RA sudah meninggal dunia.

    Ummu Salamah berkata, “Demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, Aisyah adalah orang yang paling dicintai pesuruh Allah SWT setelah ayahnya (Abu Bakar). Hakim mencatatkan kisah ini.

    Sewaktu Sayyidah Aisyah RA meninggal dunia, Abu Hurairah RA merupakan gubernur sementara di Kota Madinah. Beliau menjadi imam sembahyang jenazah. Setelah selesai Aisyah dikebumikan di Baqi’ yang menurunkan jenazah Aisyah ke dalam kubur adalah Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar, Abdullah bin Atiq, Urwah bin Zubair, dan Abdullah bin Zubair.

    Pada saat itu pula, Madinah seolah-olah sedang dilanda kiamat pada malam itu, mereka sedang tenggelam pada masa-masa kesedihannya. Cahaya yang terang-benderang menyinari kota Madinah sudah padam untuk selama-lamanya.

    Masruq, salah seorang pemimpin tabiin berkata, “Jika bukan karena takut timbulnya masalah, tentu saya sudah dirikan tempat berkabung untuk Aisyah, Ummul Mukminin.”

    Sementara itu, ada pendapat lain sebagaimana diceritakan dalam buku Aisyah Ummul Mu’Minin, Ayyamuha Wa Siratuha Al-Kamilah karya Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, Sayyidah Aisyah RA wafat pada malam Selasa, 17 Ramadan. Salah satu ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Ibnu Katsir.

    Sayyidah Aisyah RA wafat pada usia 66 tahun.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Utsman bin Affan yang Masuk Islam Atas Ajakan Abu Bakar



    Yogyakarta

    Utsman bin Affan adalah salah seorang sahabat Nabi dan khulafaur rasyidin ketiga setelah Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Utsman bin Affan dilahirkan dari keluarga suku Quraisy Bani Umayyah dan hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliyah.

    Disebutkan dalam buku Biografi Utsman bin Affan oleh Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Utsman bin Affan termasuk salah satu Assabiqunal Awwalun, yaitu golongan orang-orang yang pertama masuk Islam. Ia adalah umat laki-laki keempat yang masuk Islam, setelah Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

    Utsman bin Affan masuk Islam atas ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq. Saat Rasulullah SAW diangkat menjadi Nabi, Utsman berusia 34 tahun. Tidak ada perasaan bimbang dalam dirinya untuk segera memeluk Islam dan masuk ke agama Allah SWT.


    Ajakan Abu Bakar kepada Utsman bin Affan untuk Masuk Islam

    Mengutip dari buku Tarikh Khulafa karya Ibrahim Al-Quraibi, Utsman bin Affan memiliki bibi yang bernama Sa’da binti Kuraiz, seorang peramal di masa Jahiliyah. Bibinya pernah menyampaikan kepada Utsman mengenai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

    Sa’da mengatakan bahwa Muhammad itu berada di pihak yang benar serta agama yang diajarkannya akan unggul dan mengalahkan seluruh kaum yang memusuhinya. Pernyataan bibinya tersebut selalu terngiang dalam benaknya. Kemudian ia mendapati Abu Bakar yang sedang sendirian lalu duduk di sampingnya.

    Abu Bakar yang melihat kegundahan Utsman bin Affan kemudian bertanya tentang persoalannya. Lantas, Utsman menceritakan semua hal yang didengar dari bibinya.

    Abu Bakar kemudian berkata, “Celakalah engkau wahai Utsman! Demi Allah engkau adalah orang yang punya tekad kuat. Tidak sulit bagimu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Bukanlah berhala-berhala yang disembah kaum mu itu hanyalah batu yang tuli, tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, tidak bisa mencelakai, dan tidak bisa memberikan pertolongan?”

    Utsman menjawab, “Benar. Demi Allah, begitulah berhala-berhala itu.”

    Abu Bakar lalu melanjutkan, “Demi Allah, bibimu telah berkata benar kepadamu. Sesungguhnya, Muhammad bin Abdullah telah diutus oleh Allah dengan risalah-Nya untuk segenap makhluk. Apakah engkau mau menemui beliau dan mendengar penyampaian beliau?”

    Utsman langsung menjawab dengan yakin, “Ya, aku mau.”

    Tak selang lama, Rasulullah SAW bersama Ali bin Abi Thalib lewat. Abu Bakar pun langsung berdiri menghampiri beliau dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Ketika duduk, Rasulullah SAW menghadap Utsman lalu beliau bersabda, “Wahai Utsman, sambutlah panggilan Allah menuju surga-Nya. Sesungguhnya aku adalah utusan-Nya kepadamu dan seluruh makhluk-Nya.”

    Utsman menuturkan, “Ketika mendengar ucapan beliau, aku tidak bisa menahan diri untuk masuk Islam dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.”

    Keislaman Utsman bin Affan

    Sama halnya dengan orang-orang yang telah masuk Islam lainnya, ketika kaumnya mendengar dan mengetahui keislaman Utsman bin Affan, ia mendapat penentangan dan tekanan yang keras dari kaumnya, Bani Abdusy Syams. Penentangan tersebut terutama berasal dari pamannya sendiri, Hakam bin Ash bin Umayyah.

    Dikisahkan dalam buku Utsman bin Affan Ra. karya Abdul Syukur al-Azizi, Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim bin Harits at-Taimi, ia mengisahkan bahwa sewaktu Utsman bin Affan memeluk Islam, pamannya menangkapnya lalu membelenggunya dengan tali.

    Pamannya mengatakan, “Apakah kamu membenci agama nenek moyangmu sehingga mengganti dengan agama baru? Demi Tuhan, tidak akan kulepas belenggumu sampai kamu meninggalkan agama yang kau anut sekarang!”

    Utsman bin Affan menjawab dengan tegas, “Demi Allah, aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku ini selama-lamanya. Aku juga tidak akan berpisah dari nabiku sepanjang hayat.”

    Melihat keteguhan Utsman bin Affan r.a. dalam memegang agama barunya, Hakam pun meninggalkannya.

    Semenara dalam riwayat lain, diceritakan bahwa Utsman bin Affan merupakan pemuda Quraisy terkemuka yang memiliki harta melimpah, berakhlak mulia, dan memiliki nasab yang terhormat di antara kaumnya.

    Namun, setelah orang-orang mengetahui keislaman Utsman bin Affan, mereka menjadi membencinya. Mereka menganggap apabila seseorang laki-laki sekaliber Utsman masuk Islam, maka keislamannya akan membuat banyak pemuda di Makkah ikut masuk Islam dan meniru jejaknya.

    Seperti banyak sahabat lainnya yang disiksa karena keislamannya, Utsman bin Affan juga mengalami nasib serupa. Disebutkan dalam riwayat, Utsman bin Affan diikat dengan tali-tali dan tidak diberi makan oleh pamannya, Hakam bin Ash.

    Pamannya berkata padanya, “Kembalilah kepada agama bapak-bapakmu! Demi Allah aku tidak akan meninggalkanmu sampai kamu meninggalkan agama Muhammad!”

    Namun, Utsman tetap teguh dengan pilihannya memeluk agama Rasulullah SAW. Ia sabar dan rela menanggung siksaan agar tetap berada di jalan-Nya. Hakam tidak menemukan cara penyiksaan lain selain siksaan setan.

    Konon, ia juga pernah membungkus Utsman bin Affan dengan tikar lalu menyalakan api di bawahnya hingga keluar asap. Akibatnya, Utsman r.a. hampir tercekik mati tetapi tetap tidak bergeming. Ia berteriak dengan lantang, “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku, aku tidak akan berpisah dengan Nabiku!”

    Setiap pamannya menambah siksaan pada dirinya, maka bertambah pula keteguhan Utsman bin Affan dalam memegang agamanya. Pada akhirnya, pamannya putus asa dalam menyiksa sehingga ia meninggalkan Utsman r.a. begitu saja.

    Itulah kisah Utsman bin Affan yang masuk Islam atas ajakan Abu Bakar. Meskipun mendapatkan penyiksaan dari kaum dan pamannya sendiri, ia tetap memegang teguh keislamannya.

    Hal tersebut juga dapat dijadikan sebagai teladan bagi umat muslim agar menjadi pribadi layaknya Utsman bin Affan yang kuat meyakini keimanannya dan ikhlas melakukan perjuangan karena Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Rasulullah Urungkan Niat Kabarkan Waktu Lailatul Qadar



    Jakarta

    Malam lailatul qadar adalah malam yang sangat diagungkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Menurut sebuah riwayat, Rasulullah SAW sempat ingin memberitahukan kapan waktu persis jatuhnya lailatul qadar, namun beliau mengurungkan niatnya.

    Perihal lailatul qadar telah disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al Qadr. Allah SWT berfirman,

    اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ ٥


    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam lailatul qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatulqadar itu ? Malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (QS Al Qadr: 1-5)

    Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya, malam lailatul qadar sebagaimana disebutkan dalam surah di atas adalah malam yang penuh dengan keberkahan. Hal ini turut dijelaskan dalam ayat lain melalui firman-Nya,

    إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةٍ مُبارَكَةٍ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (lailatul qadar).” (QS Ad Dukhan: 3)

    Disebutkan dalam sebuah hadits yang termuat dalam Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari yang disusun oleh M. Nashiruddin al-Albani, lailatul qadar terletak pada 10 malam terakhir Ramadan. Tidak ada yang mengetahui kapan waktu persisnya kecuali Allah SWT.

    Dari Aisyah RA, ia berkata,

    كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، وَيَقُولُ : تَحَرَّوا (وَفِي رِوَايَةٍ : الْتَمِسُوا) لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

    Artinya: “Rasulullah SAW beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, dan beliau mengatakan, ‘Carilah lailatul qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR Bukhari)

    Dalam Shahih Bukhari juga terdapat riwayat yang menyebut bahwa Rasulullah SAW sempat akan memberitahukan waktu lailatul qadar. Namun, beliau mengurungkan niatnya.

    Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah SAW pergi untuk menemui para sahabatnya untuk mengabarkan tentang lailatul qadar, akan tetapi di sana terdapat perselisihan antara dua orang muslim.

    Rasulullah bersabda,

    إِنِّيْ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فتلاحَى فُلَانٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ، فَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوْهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

    Artinya: “Aku datang kemari untuk mengabarkan tentang lailatul qadar, tetapi si Fulan dan si Fulan berselisih, maka kabar itu (tanggal turunnya) pun telah diangkat, mungkin itu yang lebih baik bagi kalian carilah ia (lailatul qadar) pada tanggal tujuh, sembilan, atau kelima (maksudnya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan).”

    Doa Malam Lailatul Qadar

    Shabri Shaleh Anwar dalam buku 10 Malam Akhir Ramadhan, menjelaskan mengenai sunah untuk memperbanyak doa pada malam tersebut. Diriwayatkan dari Aisyah RA, dia bertanya kepada Rasulullah SAW,

    يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Artinya: “Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku mengetahui malam lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau (Rasulullah SAW) menjawab, “Ucapkanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku).’” (HR At-Tirmidzi dengan sanad shahih)

    Bacaan doa malam lailatul qadar dalam hadits tersebut adalah sebagai berikut,

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni

    Artinya: “Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku”

    Rasulullah SAW juga menggambarkan bahwa paginya malam lailatul qadar agar seorang muslim mengetahuinya dari Ubai RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim)

    Ibnu Abbas RA juga meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Malam lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas, dan tidak juga dingin, dan keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Ibnu Khuzaimah)

    Lailatul Qadar Disebut Malam Penentuan

    Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mengatakan dalam Kitab Syifa’ul ‘Alil fi Masa’ilil Qadha wal Qadar wal Hikmah wat Ta’lil, kata al-qadar merupakan bentuk masdar dari kata qadara. Kata qadara asy-syai’a artinya seseorang menentukan sesuatu sementara kata yuqaddiruhu qadran artinya seseorang akan menentukan sesuatu dengan ukuran tertentu. Jadi, lailatul qadar artinya malam penetapan dan penentuan.

    Sufyan meriwayatkan dari Ibnu Abi Najih dan dari Mujahid bahwa lailatul qadar adalah malam penentuan. Sufyan juga meriwayatkan dari Muhammad Ibn Sauqah, dari Sai’is ibn Jubair, ia berkata, “Diserukan kepada orang-orang yang menunaikan ibadah haji pada malam lailatul qadar kemudian ditulislah nama-nama mereka juga nama-nama ayah mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ketinggalan, ditambah atau dikurangi.”

    Sementara itu, Ibnu Aliyyah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Rabi’ah ibn Kultsum, ia berkata: ‘Ada seorang laki-laki bertanya kepada Hasan dan kebenaran saat itu aku mendengarkannya: ‘Menurutmu, apakah lailatul qadar turun di setiap bulan Ramadan?’ Hasan menjawab: ‘Ya benar. Demi Allah, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh lailatul qadar itu turun di setiap bulan Ramadan. Pada malam itu juga Allah menentukan setiap ajal, perbuatan, dan rezeki seorang hamba’.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Nabi yang Pingsan saat Puasa, Siapakah Dia?



    Jakarta

    Qais bin Shirmah Al-Anshari namanya. Sahabat Rasulullah SAW yang satu ini berasal dari golongan kaum Anshar.

    Kala itu pada bulan Ramadan, suhu udara di Madinah sangat terik. Sampai-sampai, panas Matahari terasa seperti menyengat tubuh.

    Setelah selesai bekerja tepat pada waktu berbuka, Qais pulang ke rumah dan bertanya kepada sang istri, “Apa kita punya makanan?”


    Si istri yang tidak berpuasa karena tengah haid, menjawab Qais dengan perasaan sedih bahwa tidak ada makanan di rumah. Merasa tak tega, ia berkata “Tunggulah sebentar, aku akan mencarikan makanan untukmu,”

    Dikisahkan dalam buku Pesona Ibadah Nabi oleh Ahmad Rofi’ Usmani, sang istri lalu pergi mencari makanan untuk Qais. Merasa lelah setelah seharian bekerja, Qais pun tertidur pulas.

    Sekembalinya si istri membawa makanan, ia merasa tak tega membangunkan suaminya yang tengah terlelap karena seharian bekerja. Akhirnya, tidurlah Qais semalaman tanpa berbuka.

    Walau begitu, keesokan harinya Qais tetap berpuasa. Alhasil, pada tengah hari dirinya jatuh pingsan karena belum makan dan minum sejak kemarin.

    Peristiwa tersebut lantas sampai ke telinga Rasulullah SAW. Lalu turunlah surat Al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi:

    أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

    Arab latin: Uḥilla lakum lailataṣ-ṣiyāmir-rafaṡu ilā nisā`ikum, hunna libāsul lakum wa antum libāsul lahunn, ‘alimallāhu annakum kuntum takhtānụna anfusakum fa tāba ‘alaikum wa ‘afā ‘angkum, fal-āna bāsyirụhunna wabtagụ mā kataballāhu lakum, wa kulụ wasyrabụ ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr, ṡumma atimmuṣ-ṣiyāma ilal-laīl, wa lā tubāsyirụhunna wa antum ‘ākifụna fil-masājid, tilka ḥudụdullāhi fa lā taqrabụhā, każālika yubayyinullāhu āyātihī lin-nāsi la’allahum yattaqụn

    Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa,”

    Mengutip dari buku Bekal Ramadhan dan Idhul Fitri 2 oleh Saiyid Mahadhir Lc MA, pada ayat tersebut dijelaskan terkait benang putih dan benang hitam. Maksud dari kata benang ialah gelapnya malam dan terangnya siang atau fajar.

    Hal tersebut dikatakan oleh salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Adi bin Hatim RA, ia bertanya kepada Nabi SAW mengenai maksud dari benang putih dan benang hitam pada surah Al Baqarah ayat 187, beliau bersabda: “(Bukan) akan tetapi ia adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar).” (HR Bukhari)

    Pada zaman itu, puasa Ramadan baru diwajibkan sehingga belum ada ketentuan jelas terkait batasan-batasan kapan diperbolehkan makan-minum serta kapan tidak boleh. Sebagian sahabat yang berpuasa bahkan tertidur sebelum berbuka hingga sepanjang malam.

    Ada juga yang tertidur lelap sampai-sampai tidak melaksanakan sahur, namun tetap harus puasa keesokan harinya, seperti yang dialami oleh Qais ibn Shirmah. Dengan demikian, turunnya surah Al Baqarah ayat 187 menjadi pedoman bagi kaum muslimin menjalankan puasa Ramadan.

    Terlebih, pada ayat tersebut dijelaskan mengenai waktu berpuasa Ramadan, yaitu dari terbit fajar hingga terbenamnya Matahari.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com