Blog

  • Kisah Nabi Sulaiman Punya Kekayaan Berlimpah, Namun Tetap Bertanggung Jawab



    Jakarta

    Allah SWT memberikan anugerah yang berbeda pada setiap nabi. Bagi Nabi Sulaiman, diberi limpahan kekayaan dan kekuasaan yang jumlahnya tak terhingga.

    Kisah tentang kekuasaan dan kekayaan Nabi Sulaiman diabadikan dalam beberapa ayat Al-Qur’an seperti surat An-Naml. Tak ada yang bisa menandingi kekayaan Nabi Sulaiman, namun ia tetap dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab.

    Mengutip buku Rahasia Kekayaan Nabi Sulaiman: Amalan-amalan Pelimpah Rezeki oleh Muhammad Gufron Hidayat, SE. I dijelaskan bahwa Allah SWT menjadikan Nabi Sulaiman sebagai sosok yang bertanggung jawab terhadap segala apa yang dimilikinya, termasuk terhadap kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki.


    Sikap tanggung jawab Nabi Sulaiman tercermin dalam beberapa tindakan dan bagaimana cara menggunakan harta dan kekuasaan yang dimiliki. Seperti halnya ketika Nabi Sulaiman mengumpulkan seluruh bala tentaranya yang terdiri dari manusia, jin, dan binatang. Namun dalam pertemuan tersebut burung hud-hud tidak hadir.

    Peristiwa ini sebagaimana termaktub dalam surat An-Naml Ayat 21

    لَأُعَذِّبَنَّهُۥ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَا۟ذْبَحَنَّهُۥٓ أَوْ لَيَأْتِيَنِّى بِسُلْطَٰنٍ مُّبِينٍ

    Artinya: Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.”

    Sikap tegas yang dimiliki Nabi Sulaiman terhadap burung hud-hud di atas adalah salah satu cerminan bahwa Nabi Sulaiman bertanggung jawab terhadap apa yang dimilikinya.

    Dia menyadari bahwa semua harta dan kekuasaan termasuk semua prajuritnya adalah karunia sekaligus titipan dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat kelak. Jika tidak diperhatikan, maka ia telah melalaikan apa yang diberikan Allah.

    Terlebih lagi kalau sampai prajuritnya tersebut melakukan hal yang dilarang dalam syariat, maka selain prajuritnya berdosa, maka rajanya pun ikut berdosa karena tidak memperhatikan apa yang dilakukan bawahannya.

    Dalam al-Qur’an juga mengisahkan sosok Nabi Sulaiman yang menolak hadiah yang dikirimkan Ratu Balqis dengan maksud untuk menguji dan menyuap Nabi Sulaiman agar tidak mengganggu kerajaannya yang menyembah matahari. Namun ternyata Nabi Sulaiman menolak hadiah yang dikirimkan Ratu Balqis untuknya.

    Hal tersebut sekaligus membuktikan bahwa Nabi Sulaiman adalah raja yang bertanggung jawab dan tidak serakah akan harta.

    Peristiwa ini tercatat dalam Surat An-Naml ayat 35

    وَإِنِّى مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِم بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌۢ بِمَ يَرْجِعُ ٱلْمُرْسَلُونَ

    Artinya: Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.

    Sifat tanggung jawab yang dimiliki Nabi Sulaiman tersebut merupakan pangkal dari keimanan, rasa syukur dan kesadaran bahwa semua yang ada di langit dan di bumi ini adalah milik Allah SWT termasuk semua yang ada pada dirinya. Sehingga ia akan menolak serta menjauhi segala hal yang tidak diridhai Allah SWT.

    Berapa Harta Kekayaan Nabi Sulaiman?

    Banyak yang bertanya-tanya tentang jumlah kekayaan Nabi Sulaiman, namun hingga saat ini belum ada yang bisa menjawabnya.

    Mengutip buku Keajaiban Seribu Dinar oleh Miftahur Rahman El-Banjary dijelaskan bahwa manusia paling kaya yang pernah hidup di muka bumi ini adalah Nabi Sulaiman atau dalam literatur Barat dikenal dengan nama King Solomon.

    Sebenarnya tidak tersedia data yang lengkap untuk mengkalkulasikan seberapa besar total kekayaan bersih Nabi Sulaiman. Beberapa ahli sejarah mencoba menelusuri manuskrip samawi untuk memprediksikan total kekayaan Nabi Sulaiman.

    Sebagian dari mereka meyakini bahwa harta kekayaan Nabi Sulaiman untuk ukuran saat ini berkisar US$500 miliar atau setara Rp 5.000 triliun. Data tersebut baru berdasarkan prediksi. Pada kenyataannya jumlah kekayaan Nabi Sulaiman jauh lebih banyak dari itu.

    Wallahu alam.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Malaikat Turun dan Menjabat Tangan Manusia di Malam Lailatul Qadar



    Jakarta

    Malam lailatul qadar disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam tersebut, banyak keutamaan yang terkandung, salah satunya turunnya malaikat ke Bumi.

    Dalil mengenai turunnya malaikat ke Bumi tersemat dalam surat Al Qadr ayat 3-4:

    لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ – ٣


    تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ – ٤

    Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan,”

    Menukil dari buku Rahasia Puasa Ramadhan oleh Yasin T Al Jibouri dan Mirza Javad Agha Maliki Tabrizi, dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Allah memerintahkan Jibril untuk turun ke Bumi disertai dengan sekelompok malaikat yang membawa panji-panji hijau. Jibril menancapkan panji-panji itu di puncak Kakbah.

    Bahkan, sayap Jibril yang berjumlah 600 itu tidak bisa mengembang salah satunya kecuali pada malam lailatul qadar. Sebagai malam yang mulia, saat lailatul qadar berlangsung Jibril dan malaikat lain mengucapkan salam kepada setiap orang pada malam tersebut.

    Para malaikat menjabat tangan mereka yang berdoa dan memohon kepada Allah SWT di malam lailatul qadar. Allah SWT yang Maha Agung menerima doa-doa mereka hingga terbit fajar tiba, ini sesuai dengan sebuah riwayat.

    Dari Ibnu Abbas RA, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

    “Dan bila tiba malam lailatul qadar, Allah akan memerintahkan Jibril turun ke Bumi bersama serombongan malaikat yang membawa bendera hijau dan menancapkan bendera itu di puncak Ka’bah. Malaikat Jibril memiliki seratus sayap, dua sayap di antaranya tidak pernah dibentangkan kecuali pada malam itu. Lalu, ia membentangkan kedua sayapnya itu pada malam tersebut, sehingga meliputi timur dan barat. Kemudian Jibril mengerahkan para malaikat agar memberi salam kepada setiap orang yang sedang berdiri, duduk, shalat, dan berdzikir. Para malaikat akan berjabat tangan dengan mereka dan mengamini doa-doa mereka hingga terbit fajar. Apabila fajar terbit, Jibril menyeru para malaikat, ‘Wahai para malaikat, berpencarlah!’

    “Para malaikat bertanya, ‘Wahai Jibril, apa yang akan Allah perbuat, apakah sehubungan dengan hajat-hajat kaum Mukmin dari umat Muhammad?’

    “Jibril berkata, ‘Allah memandang mereka pada malam ini dan mengampuni mereka kecuali empat golongan manusia.’

    “Maka kami (para sahabat) bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah mereka itu?’

    “Beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang yang meminum arak, orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, orang yang memutuskan tali silaturahmi, dan yang memusuhi.’

    “Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah yang memusuhi itu?’

    “Beliau bersabda, ‘Yaitu orang yang membenci dan memutuskan persaudaraanya.” …. (HR Ibnu Hibban dan Baihaqi).

    Diterangkan pada laman NU Online, malaikat yang turun ke Bumi pada malam lailatul qadar berjumlah besar. Mereka turun dengan cahaya yang cemerlang, penuh kedamaian serta kesejahteraan.

    Keutamaan Malam Lailatul Qadar Lainnya

    1. Malam Keselamatan dan Setan Tak Mampu Mengganggu

    Malam lailatul qadar disifati oleh salaam (keselamatan) sebagaimana tercantum dalam surat Al Qadr ayat 5, “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar,”

    Mujahid dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim menjelaskan bahwa lailatul qadar adalah malam penuh keselamatan, di mana para setan tidak mampu berbuat apapun dii malam tersebut, baik itu kejelekan maupun mengganggu yang lain.

    2. Diampuni Dosa-dosa Terdahulu

    Mengutip dari buku Sukses Berburu Lailatul Qadar yang disusun oleh Muhammad Adam Hussein, malam lailatul qadar sering disebut sebagai malam pengampunan. Karenanya, dalam sebuah riwayat dikatakan orang yang beribadah menyambut datangnya malam lailatul qadar akan diampuni dosanya yang terdahulu.

    Hal tersebut merujuk dalam sebuah hadits yang berasal dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barang siapa yang pada malam lailatul qadar mengerjakan ibadah dan berdoa dengan penuh keimanan yang dipersembahkan semata-mata untuk Allah, akan diampuni dari segala dosanya yang terdahulu dan yang akan datang.” (HR Ahmad dan Thabrani).

    Dalil serupa juga diterangkan dalam Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, Nabi SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA,

    “Siapa saja yang mendirikan salat pada lailatul qadar karena iman dan hanya mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (Muttafaq Alaih).

    3. Khusus untuk Umat Rasulullah SAW

    Keutamaan lainnya pada malam lailatul qadar ialah diperuntukkan bagi umat Rasulullah SAW. Jumhur ulama sepakat bahwa keistimewaan malam lailatul qadar hanya berlaku bagi para umat Nabi Muhammad, sementara umat-umat nabi terdahulu tidak mendapatkannya.

    Ini sesuai dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa:

    “Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya yang relatif panjang sesuai dengan kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka beramal karena panjangnya usia mereka. Maka Allah memberikan Rasulullah lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan,” (HR Malik).

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Lubabah, Sahabat Nabi yang Berkhianat dan Menghukum Dirinya Sendiri



    Jakarta

    Abu Lubabah adalah salah satu sahabat Nabi sekaligus pahlawan muslim yang telah menegakkan agama Islam.

    Disebutkan dalam buku Tokoh-Tokoh yang Diabadikan Al-Qur’an karya ‘Abd al-Rahman Umairah, Abu Lubabah dilahirkan di Kota Yatsrib (Madinah) dan termasuk orang pertama yang masuk Islam. Ia menjadi Islam saat beberapa orang Anshar berjumpa dengan Mush’ab bin Umair di Yatsrib lalu mereka percaya kepada Rasulullah SAW.

    Tatkala terjadi Perang Badar, Abu Lubabah diamanatkan Rasulullah SAW untuk mewakilinya sebagai pemimpin di Madinah untuk memelihara keamanan, keselamatan penduduk, menjaga perkebunan, hingga daerah perbatasannya.


    Abu Lubabah mematuhi perintah dan arahan Rasulullah SAW serta ikut membantu mempersiapkan bekal yang dibutuhkan oleh pasukan perang dengan menggalakkan pembuatan senjata perang bagi kaum muslimin.

    Jika melihat kisah tersebut, terlihat bahwa Abu Lubabah adalah seorang mukmin yang jujur serta pejuang yang ikhlas kepada Nabi dan Rabbnya. Namun dalam kisah hidupnya, Abu Lubabah pernah berkhianat kepada Rasulullah SAW kemudian menghukum dirinya sendiri.

    Kisah Abu Lubabah yang Berkhianat

    Ketika terjadi penyerbuan Rasulullah SAW ke perbentengan Yahudi Bani Quraizhah, Abu Lubabah ikut bersama beliau, sementara pimpinan pemerintahan di Madinah diserahkan pada Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Rasulullah SAW bersama para sahabat mengepung benteng Bani Quraizhah selama 25 malam sehingga mereka hidup dalam kekurangan dan ketakutan.

    Namun, Bani Quraizhah tetap tidak mau meninggalkan hukum Taurat dan meminta Abu Lubabah dikirimkan kepada mereka untuk dimintai pendapatnya sebab mereka adalah sekutu golongan al-Aus seperti istri Abu Lubabah.

    Rizem Aizid dalam bukunya Terbang Menjemput Rahmat dengan Sayap Taubat, menceritakan ketika Abu Lubabah diantar oleh Rasulullah SAW untuk berunding dengan Bani Quraizhah.

    Perundingan tersebut dilakukan sebab Bani Quraizhah telah mengkhianati perjanjian sebelumnya dan membuat kesepakatan jahat untuk mencelakai umat Islam. Maka dari itu, Rasulullah SAW memerintahkan Abu Lubabah untuk mendatangi Bani Quraizhah sebagai wakil beliau untuk berunding.

    Pada saat Abu Lubabah tiba, semua laki-laki yang berada di sana segera bangun dan berdiri, sedangkan para perempuan dan anak-anak datang kepadanya dalam keadaan sedih sembari menangis.

    Melihat situasi itu, Abu Lubabah menjadi lembut hatinya. Lalu, mereka bertanya kepada Abu Lubabah, “Wahai Abu Lubabah, apakah sekiranya kami patut mengikuti hukum Nabi Muhammad SAW?”

    Akan tetapi, Abu Lubabah tidak menjawab ataupun berkata-kata. Ia hanya merentangkan tangannya ke tengkuk yang mengisyaratkan bahwa mereka akan dibunuh. Hal tersebut menjadi peristiwa di mana Abu Lubabah telah berkhianat dan mendurhakai Rasulullah SAW sebab tidak melakukan perundingan sebagaimana perintah beliau.

    Abu Lubabah Menghukum Diri Sendiri di Tiang Masjid

    Sebelum Abu Lubabah memulai perkataannya kepada Bani Quraizhah, ia merasa sangat bersalah karena telah menghianati Allah SWT dan rasul-Nya. Setelah itu, ia segera meninggalkan tempat tersebut dan mengikat dirinya di salah satu tiang masjid.

    Saat mengikat diri, Abu Lubabah turut berkata bahwa ia tidak akan meninggalkan tempat itu hingga ampunan Allah SWT datang kepadanya. Ia juga berjanji untuk tidak berpijak di tempat Bani Quraizhah yang menjadi tempat dirinya berkhianat kepada Rasulullah SAW.

    Masih dalam sumber yang sama, disebutkan dari sumber lain bahwa Abu Lubabah berdiam diri di bawah terik matahari tanpa makan dan minum selama satu hari penuh. Lantas, ia berkata, “Aku akan terus begini hingga meninggal dunia atau Allah SWT mengampuniku.” Sementara itu, Rasulullah SAW terus memperhatikannya siang dan malam.

    Atas peristiwa tersebut, Allah SWT kemudian menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW berupa teguran atas perbuatan Abu Lubabah yang mengikat dirinya selama enam hari di masjid. Wahyu tersebut termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 27, sebagaimana firman Allah SWT:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal: 27).

    Setelah turunnya teguran dari Allah SWT, datang kembali wahyu yang menyatakan bahwa taubat Abu Lubabah telah diterima sehingga Rasulullah SAW melepaskan tali yang mengikat tubuh Abu Lubabah. Wahyu tersebut adalah surat At-Taubah ayat 102, Allah SWT berfirman:

    وَءَاخَرُونَ ٱعْتَرَفُوا۟ بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا۟ عَمَلًا صَٰلِحًا وَءَاخَرَ سَيِّئًا عَسَى ٱللَّهُ أَن يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS At-Taubah: 102).

    Demikianlah kisah pertaubatan sahabat Nabi Abu Lubabah yang berkhianat dan menghukum diri sendiri setelah memberi tanggapan buruk kepada orang-orang Bani Quraizhah hingga Allah SWT mengampuni dosanya.

    Semoga umat muslim dapat memetik hikmah dari kisah ini untuk menyegerakan diri dalam bertaubat kepada Allah SWT setelah melakukan kesalahan dan maksiat.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 6 Nabi yang Diabadikan sebagai Nama Surat Al-Qur’an, Siapa Saja?



    Jakarta

    Dari 114 surat yang termuat dalam Al-Qur’an, terdapat beberapa nabi dan rasul yang diabadikan sebagai nama surat. Siapa saja?

    Menukil buku Misteri Di Balik Penamaan Surat-Surat Al-Qur’an oleh Latifatul Umamah, para ulama terbagi menjadi dua pendapat mengenai penamaan surat Al-Qur’an. Jumhur ulama berpendapat bahwa surat Al-Qur’an ditentukan oleh Rasulullah SAW dan semuanya tercantum dalam hadits shahih.

    Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan, “Semua surat di Al-Qur’an memiliki nama yang diberikan oleh Nabi SAW.”


    Syekh Sulaiman Al-Bajirami juga menuturkan, “Nama-nama surat berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW. Karena nama-nama surat, urutan surat, dan urutan ayat-ayat, semuanya berdasarkan petunjuk beliau, atas bimbingan Jibril bahwa sistematika Al-Qur’an di Lauh Mahfudz adalah seperti itu.”

    Sementara ulama lain berpandangan tidak semua surat Al-Qur’an dinamakan oleh Nabi SAW, lantaran sebagian nama surat merupakan hasil ijtihad para sahabat

    Fatwa Lajnah Daimah menyatakan, “Kami tidak mengetahui adanya dalil dari Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa beliau memberi nama seluruh surat. Hanya saja, terdapat beberapa hadits shahih yang menyebutkan nama beberapa surat dari beliau, seperti Al-Baqarah dan Ali Imran. Sementara nama surat-surat lainnya, yang lebih dekat, itu dari para sahabat.”

    Ahli Tafsir Quraish Shihab dalam bukunya M. Quraish Shihab Menjawab turut mengemukakan, “Nama-nama surat Al-Qur’an terkadang bersumber dari Allah SWT sendiri, atau Rasulullah SAW, atau para sahabat dan ulama.”

    Lebih lanjut menurutnya, “Nama surat itu boleh jadi diambil dari kata-kata yang terdapat dalam surat itu, baik di awal misal Surat Ar-Rahman dan Bara’ah. Di tengah maupun di akhir misal Surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Boleh jadi kata yang menjadi nama itu juga tidak terdapat dalam surat yang dinamainya, melainkan karena kandungan atau sifat suratnya.”

    Untuk surat Al-Qur’an yang dinamakan karena kandungan atau isinya, seperti surat-surat yang diambil dari nama nabi dan rasul. Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an berpandangan:

    “Ada surat-surat yang di dalamnya terdapat kisah-kisah para nabi, kemudian surat itu diberi nama dengan nama-nama mereka (para nabi), seperti Surat Nuh, Surat Hud, Surat Ibrahim, Surat Yunus, Surat Yusuf, dan Surat Muhammad.” ujarnya.

    6 Surat yang Diambil dari Nama Para Nabi

    Berdasarkan pendapat Jalaluddin as-Suyuthi pada penjelasan di atas terdapat 6 surat yang diambil dari nama nabi dan rasul. Ini penjelasannya yang dilansir dari Tafsir Tahlili Kementerian Agama (Kemenag).

    1.Surat Yunus

    Merupakan surat ke-10 dan terdiri dari 109 ayat. Termasuk golongan surat Makkiyah, yang mana diturunkan setelah Surat Al-Isra dan sebelum Surat Hud. Dinamakan surat ‘Yunus’ lantaran surat ini mengisahkan Nabi Yunus AS bersama pengikutnya yang punya keteguhan iman dalam ayat 98-100.

    2. Surat Hud

    Adalah surat ke-11 dalam urutan mushaf Al-Qur’an. Terdiri dari 123 ayat dan tergolong surat Makkiyah yakni diwahyukan sesudah Surat Yunus. Dinamakan surat ‘Hud’ karena berisi riwayat Nabi Hud AS di dalamnya pada ayat 50-60.

    3. Surat Yusuf

    Terdiri dari 111 ayat dan berada di urutan ke-12 dalam susunan surat Al-Qur’an. Termasuk Makkiyah karena diturunkan sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah. Dinamakan surat ‘Yusuf’ lantaran hampir seluruh isinya mengenai kisah Nabi Yusuf AS.

    4. Surat Ibrahim

    Berada di urutan ke-14 dalam susunan mushaf Al-Qur’an. Terdapat 52 ayat dan surat ini tergolong Makkiyah. Dinamakan surat ‘Ibrahim’ karena mengandung kisah doa Nabi Ibrahim AS pada ayat 35-40. Isi doanya antara lain perihal permohonan agar kelak keturunannya adalah orang yang mendirikan sholat, dijauhkan dari penyembahan berhala, dan supaya wilayah Makkah dan sekitarnya menjadi daerah aman dan makmur.

    5. Surat Muhammad

    Merupakan surat ke-47 dalam mushaf Al-Qur’an.Terdiri dari 38 ayat dan termasuk golongan Madaniyah. Dinamakan ‘Muhammad’ karena diambil dari kata tersebut dalam ayat 2. Surat ini menjelaskan bahwa Allah SWT membandingkan antara hasil yang didapat orang yang percaya akan apa yang diturunkan kepada Nabi SAW dan apa yang diperoleh orang yang tidak percaya kepadanya.

    6. Surat Nuh

    Terdiri dari 28 ayat dan merupakan surat Makkiyah. Dinamakan surat ‘Nuh’ karena seluruh isi ayatnya mengisahkan dakwah Nabi Nuh AS.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Tentang Paman Nabi Muhammad yang Menentang Dakwah Islam



    Jakarta

    Paman Nabi Muhammad SAW yang menentang dakwah beliau adalah Abu Lahab. Perihal keterangan ini banyak dikisahkan dan diterangkan dalam Al-Qur’an.

    Berikut adalah kisah Abu Lahab yang dikutip melalui Buku Senangnya Belajar Agama Islam untuk SD Kelas 6 tulisan Hj. Hindun Anwar.

    Kisah Paman Nabi Muhammad yang Menentang Dakwahnya

    Abu Lahab merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Meskipun demikian, Abu Lahab selalu menentang dakwah yang dilakukan oleh keponakannya itu. Abu Lahab kuat bersama istrinya menentang Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah.


    Salah satu peristiwa konfrontasi Abu Lahab adalah ketika Nabi Muhammad SAW mengundang kaum kerabat serta kaum Quraisy. Maksud dan tujuan Rasulullah SAW adalah untuk berdakwah secara perlahan dan halus agar Islam dapat diterima.

    Setelahnya, Abu Lahab yang ikut turut hadir sontak menentang Nabi Muhammad SAW sembari memaki, “Celakalah engkau sebenar-benarnya! Hanya untuk inikah kamu mengundang kami kemari?”

    Abu Lahab bersama istrinya pada saat itu juga menolak dengan keras ajaran Islam. Hal ini terabadikan dalam firman Allah SWT pada Al-Qur’an surah Al Lahab ayat 1 sampai 5.

    تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ١

    مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ٢

    سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ٣

    وَّامْرَاَتُهٗ ۗحَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ٤

    فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ٥

    Artinya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dengan benar-benar binasa dia! Tiada satu hal yang berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Pasti besok dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (berlaku juga bagi) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya terdapat tali dari sabut yang dipintal.

    Dilansir melalui Tafsir Tahlili dari Quran Kemenag, ayat ini menerangkan tentang ganjaran bagi Abu Lahab dan istrinya atas perbuatan buruk mereka. Ayat pertama menjelaskan kerugian yang diterima Abu Lahab baik di dunia maupun di akhirat sebagai penghuni neraka.

    “Abū Lahab akan diazab pada hari Kiamat dengan neraka yang menyemburkan bunga api dan suhunya yang sangat panas, Azab itu disediakan Allah untuk orang-orang seperti Abū Lahab dari kalangan orang-orang kafir yang menentang Nabi, selain azab di dunia dengan kegagalan usahanya,” demikian penjelasan dari Tafsir Tahlili tersebut.

    Surah ini juga menjelaskan betapa Abu Lahab membenci Rasulullah SAW dan paling gigih mengajak orang menentangnya. Dikisahkan dalam salah satu riwayat hadits yang dikisahkan dari Rabā’ah bin ‘Ubbād RA. Ia berkata,

    رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فِى سُوْقِ ذِي الْمَجَازِ وَهُوَ يَقُوْلُ: قُوْلُوْا لَا إِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ تُفْلِحُوْا، وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُوْنَ عَلَيْهِ، وَرَاءَهُ رَجُلٌ وَضِيْءُ الْوَجْهِ اَحْوَلُ الْعَيْنَيْنِ ذُوْ غَدِيْرَتَيْنِ يَقُوْلُ إِنَّهُ صَابِئٌ كَاذِبٌ، يَتْبَعَهُ حَيْثُ ذَهَبَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَقَالُوْا: هٰذَا عَمُّهُ أَبُوْ لَهَبٍ. (رواه أحمد)

    Artinya: Saya melihat Nabi Muhammad saw pada masa Jahiliah di pasar Żū al-Majāz bersabda, “Ucapkanlah tiada Tuhan melainkan Allah niscaya kamu akan berbahagia!” Orang-orang berkumpul di sekitar beliau. Di belakang beliau seorang laki-laki, putih warna mukanya, juling matanya, mempunyai dua untaian rambut di kepalanya, berkata, “Dia (Muhammad) beragama Ṣābi’ dan pembohong.” Ia mengikuti Nabi ke mana saja beliau pergi, lalu saya bertanya, “Siapakah orang itu?” Mereka menjawab, “Itu adalah pamannya sendiri Abū Lahab.” (HR Aḥmad)

    Selain Abu Lahab, surah ini juga menunjukkan keburukan perbuatan istri Abu Lahab, kerendahan budi pekerti serta kejelekan amal perbuatannya. Pada lehernya akan selalu ada seutas tali yang kuat, digunakannya untuk memikul duri-duri yang akan diletakkannya pada jalan yang dilalui Nabi Muhammad SAW.

    Usaha yang dilakukan oleh istri Abu Lahab begitu keras untuk menyalakan permusuhan antara manusia, sehingga Allah SWT mengisahkan dia sebagai seorang perempuan yang membawa kayu bakar yang digantungkan pada lehernya ke mana saja ia pergi. Ini adalah gambaran seburuk-buruknya bagi seorang perempuan.

    Begitulah pembahasan kali ini mengenai paman Nabi Muhammad yang menentang dakwah beliau. Semoga tulisan ini dapat membantu kita untuk belajar dari kisah Abu Lahab dan mendapatkan perlindungan serta arahan dari Allah SWT selalu agar tidak tersesat. Aamiin yaa Rabbalalamiin.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Gemar Beli Miras dan Datangi Wanita Malam, Pria Ini Ternyata Wali Allah



    Jakarta

    Sebuah kisah menarik mengenai seorang wali datang dari Murad IV. Sultan Turki Utsmani yang satu ini memiliki kebiasaan unik. Terkenal sebagai pemimpin yang bijaksana, dirinya kerap berkeliling dengan menyamar sebagai rakyat biasa.

    Menurut buku Subjects of the Sultan: Culture and Daily Life in the Ottoman Empire tulisan Suraiya Faroqhi, pemilik nama asli Murad Ahmad itu lahir pada 27 Juli 1612. Ia naik takhta saat berusia 11 tahun menggantikan kepemimpinan pamannya, Mustafa I.

    Dijelaskan pada laman All About Turkey, karena usianya yang masih belia ketika memegang takhta, sang ibu yang bernama Kosem beserta kerabat lainnya mengambil alih pemerintahan untuk sementara. Sayangnya, kala itu kekaisaran jauh dari kata sejahtera.


    Barulah ketika Sultan Murad IV dewasa dan memimpin, ia memperkuat negaranya hingga melakukan ekspansi. Murad IV terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang tegas dan tak pandang bulu, dirinya akan menghukum siapapun demi menegakkan peraturan di negaranya.

    Adapun, kisah menarik yang melibatkan Sultan Murad IV dengan seorang wali diceritakan oleh Ustaz Khalid Basalamah melalui kanal YouTube Muda Mengaji. Pada suatu malam, Sultan Murad IV merasa resah tanpa tahu penyebabnya.

    Akhirnya, Murad IV memutuskan untuk berjalan-jalan keluar istana bersama kepala pengawalnya sambil menyamar sebagai rakyat biasa. Di saat itu pula, Sultan Murad IV menemukan seorang pria yang tergeletak di lorong sempit.

    Ia mulai menggerak-gerakkan lelaki tersebut, namun tidak ada respons. Ternyata, ia dinyatakan meninggal. Anehnya, orang di sekitar tidak ada yang peduli sama sekali, bahkan mereka enggan menolong pria itu.

    Ketika Sultan Murad IV bertanya kepada warga sekitar, ternyata lelaki itu terkenal sebagai orang yang gemar meminum minuman keras dan berzina. Lantas, sang Sultan berkata:

    “Tapi, bukankah dia termasuk umat Nabi Muhammad?” ujarnya.

    Orang-orang tersebut akhirnya tergerak untuk mengangkat jenazah si lelaki dan dibawa ke rumahnya. Setibanya di sana, para warga langsung pergi hingga menyisakan Sultan Murad IV dan kepala pengawalnya, mereka bertemu dengan istri dari pria tersebut.

    “Semoga Allah SWT merahmatimu wahai Wali Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang saleh,” kata sang Istri sambil menangis di depan jenazah suaminya.

    Mendengar hal itu, Sultan Murad IV terkejut. Bagaimana bisa? Orang-orang yang ia temui tadi menyebut pria itu sebagai pezina yang gemar meminum miras.

    Lalu, bertanyalah Sultan Murad IV kepada istri dari lelaki itu:

    “Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah, sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?”

    Mendengar hal itu, sang istri menjelaskan bahwa setiap malam suaminya keluar rumah pergi ke toko minuman keras bukan untuk ia minum. Melainkan, si lelaki membeli minuman keras dari para penjual, kemudian ia bawa minuman tersebut ke rumah dan dibuangnya ke dalam toilet sambil berkata, “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin,”.

    Selain itu, terkait omongan warga yang menyatakan si suami sering berzina, ternyata ia hanya mendatangi tempat prostitusi, menemui sejumlah wanita malam dan membayarnya seraya berkata, “Malam ini kalian sudah saya bayar, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi,”.

    Selanjutnya, pria tersebut pulang ke rumah sambil berujar, “Alhamdulilah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pria-pria Islam,”

    Sang istri kerap menyampaikan kekhawatirannya terhadap pria itu, ia takut suatu saat nanti ketika suaminya wafat, tidak ada kaum muslimin yang ingin memandikan, menyolati, atau menguburkan jenazahnya. Sebab, selama ini mereka hanya mengetahui lelaki itu sebagai orang yang sering membeli miras dan mendatangi tempat pelacuran.

    Alih-alih menuruti sang istri, lelaki itu justru tertawa dan mengatakan, “Jangan takut, nanti kalau aku mati, aku akan disholati oleh Sultanku, kaum muslimin, para ulama dan para Wali,”

    Sultan Murad IV yang mendengar cerita tersebut langsung menangis. Dirinya lantas mengaku bahwa ia adalah Sultan yang tengah menyamar dan siap mengurusi jenazah pria itu sampai ke pemakaman.

    Akhirnya, atas perintah sang Sultan, jenazah si pria menjalani proses pemakaman yang dihadiri para ulama, wali Allah, hingga seluruh masyarakat Turki.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Nabi Musa Dirawat Istri Fir’aun yang Dijamin Masuk Surga



    Jakarta

    Nabi yang dirawat oleh istri Fir’aun, Asiyah, di dalam istananya adalah Nabi Musa AS. Dikisahkan, Nabi Musa tidak dirawat langsung oleh ibu kandungnya. Hal ini, dikutip dari buku Cerita Terbaik 25 Nabi & Rasul karangan Wirawan Sukarwo, dilatarbelakangi dari kepemimpinan Fir’aun kepada Bani Israil yang kejam.

    Awal Mula Nabi Musa Dirawat Istri Fir’aun

    Bayi laki-laki yang dilahirkan pada tahun tertentu akan dibunuh, seperti satu tahun dibunuh, berikutnya tidak dan begitu seterusnya. Nabi Musa AS lahir bertepatan dengan tahun pembunuhan untuk semua bayi Bani Israil.

    Hal ini membuat ibu Nabi Musa kebingungan. Sebelumnya, saudara Nabi Musa yaitu Harun sudah lahir di tahun sebelumnya sehingga berhasil selamat.


    Melihat kebingungan ibunda Nabi Musa, Allah SWT memberikan petunjuk agar bunda Nabi Musa AS ini menghanyutkan beliau di sebuah peti kayu di Sungai Nil. Atas kehendak Allah SWT, istri Fir’aun menemukan peti kayu tersebut dan langsung membawanya masuk ke istana.

    Ketika dibuka, alangkah senangnya istri Fir’aun bahwa di situ terdapat bayi yang tampan. Ia telah mendambakan untuk memiliki keturunan sejak sekian lama.

    Fir’aun yang selalu bersikap kasar merasa tersentuh karena kebahagiaan yang dipancarkan oleh istrinya itu. Sudah lama ia tidak melihat senyuman dari istrinya, dengan alasan ini ia mengizinkan bayi peti kayu itu dirawat oleh istrinya.

    Namun, Nabi Musa kecil tidak lama kemudian mulai kehausan dan menangis. Hal ini lantaran tidak ada satupun wanita yang bisa menyusui Nabi Musa sekaligus membuatnya berhenti menangis.

    Pada momen tersebut, Allah SWT menyampaikan pesan kepada ibunda Nabi Musa untuk mengutus orang agar pergi ke istana. Tujuannya orang tersebut menawarkan ibu Nabi Musa agar bisa menyusui Nabi Musa kecil.

    Singkat cerita, melalui utusan dan dialog yang cukup panjang, ibunda Nabi Musa berhasil masuk istana Fir’aun dan menyusui anaknya. Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan semua penghuni istana bahwa yang menyusui dan menenangkan Nabi Musa adalah ibunya sendiri.

    Itulah kisah semasa Nabi Musa kecil yang dirawat oleh istana Fir’aun khususnya dari Asiyah istri Fir’aun.

    Istri Fir’aun yang Dijamin Surga

    Asiyah, wanita yang merawat Nabi Musa, merupakan salah satu dari empat wanita yang keberadaannya di surga telah dijamin oleh Allah SWT meskipun ia memiliki suami sekejam Fir’aun. Dalam sebuah hadits dijelaskan,

    أَفْضَلُ نِسَاء أَهْلِ الْجَنَّةِ خَدِيجَةُ بِنْتُ حُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَآسِيَةً بِنْتُ مُرَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

    Artinya: “Sebaik-baik wanita penghuni surga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim alias istri Fir’aun.” (HR An-Nasa’i)

    Selain riwayat ini, penyebutan nama Asiyah secara langsung kurang dapat ditemui di dalam Al-Qur’an melainkan secara tersirat. Diabadikan oleh Allah SWT melalui firman-Nya bahwa Asiyah tetap berpegang teguh pada pendirian dan imannya meskipun mendapatkan berbagai tekanan oleh Fir’aun.

    Keterangan diatas terdapat pada Al-Qur’an Surah At-Thamrin ayat 11, yaitu:

    وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ١٢

    Artinya: “Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir’aun (Asiyah), ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan juga selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.””

    Dikutip dari tafsir Quran Kemenag bahwa dalam ayat ini dijelaskan oleh Allah SWT perumpamaan orang yang beriman dan hubungannya dengan orang kafir. Orang kafir tidak akan membahayakan sedikitpun terhadap orang mukmin kalau diri mereka murni dan suci.

    Sebagai perumpamaan, disebutkan bahwa Asiyah yang merupakan istri Fir’aun yang kafir sekaligus musuh berbahaya Allah SWT selalu teguh seraya memohon dan berdoa seperti di ayat tersebut yaitu, “Ya Tuhanku! Bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

    Itulah pembahasan kali ini mengenai Nabi Musa yang dirawat oleh Asiyah yang merupakan istri Fir’aun. Semoga kita selalu diberi keteguhan dan petunjuk oleh-Nya dan termasuk orang-orang yang selalu mengikuti ajaran-Nya ya, detikers!

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat 700 Muslim Lawan 3.000 Quraisy di Perang Uhud



    Jakarta

    Jumlah pasukan kaum muslimin ketika terjadi perang Uhud adalah 700 orang yang melawan tiga ribu orang pasukan Quraisy. Mulanya, dikutip dari buku Sang Panglima Tak Terkalahkan Khalid Bin Walid karangan Hanatul Ula Maulidya, jumlah pasukan muslim ada seribu orang yang keluar dari kota Madinah menuju medan perang.

    Berkurangnya jumlah pasukan kaum Muslimin ini terjadi karena salah satu pemimpin Bani terbesar dari kaum Quraisy, Abdullah bin Ubay, membelot dan berhasil membawa kurang lebih 300 orang pasukan muslimin. Mereka gentar mengetahui jumlah musuh yang besar.

    Meskipun sempat dihinggapi perpecahan, namun 700 orang pasukan muslim akhirnya tegap berangkat untuk menghadapi perang Uhud.


    Terjadinya Perang Uhud

    Perang Uhud menjadi tonggak sejarah dan mengandung banyak pelajaran berharga bagi umat Islam pada masa itu hingga masa kini. Perang ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke-3 Hijriah.

    Perang ini terjadi karena keinginan balas dendam kaum Quraisy yang menerima kekalahan pada perang sebelumnya yaitu perang Badar. Hal ini lantaran ketika perang Badar, kaum muslimin berhasil membunuh banyak pemimpin kaum Quraisy.

    Meskipun dengan ketimpangan jumlah pasukan yang luar biasa, pasukan muslim pimpinan Nabi Muhammad SAW terlihat unggul ketika peperangan berlangsung. Pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan terlihat mulai kewalahan ketika menghadapi pasukan muslim.

    Menurut buku Islam at War karya George F. Nafziger, keunggulan pasukan muslim dikarenakan strategi Rasulullah SAW yang menempatkan 150 pasukan pemanah di atas bukit untuk melindungi pasukan yang berada di bawah bukit. Rasulullah AW menginstruksikan kepada pasukan pemanah dalam perang Uhud ini untuk tidak berpindah dari posisi mereka dan selalu waspada, apapun yang terjadi.

    Praktis, ketika melihat pasukan Quraisy yang kewalahan dan mulai banyak korban, pasukan pemanah kaum muslim berbondong-bondong untuk turun dan berebut tidak ingin kehabisan harta rampasan perang. Meskipun sempat diinstruksikan berulang kali oleh Rasulullah SAW untuk kembali ke posisinya, imbauan ini tidak dihiraukan.

    Oleh karena itu, korban dari kaum muslim banyak berjatuhan karena kaum Quraisy yang tadinya sudah mundur kemudian kembali lagi karena aman dari ancaman pemanah. Korban yang tercatat dalam perang Uhud adalah yang terbanyak selama Nabi Muhammad SAW masih hidup, yaitu berjumlah 72 orang.

    Bahkan, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai Singa Allah, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib ikut gugur. Ia dibunuh oleh Wahsyi bin Harb, seorang budak Quraisy asal Ethiopia yang dalam lanjutan kisah hidupnya kemudian masuk Islam.

    Melalui buku yang sama, dijelaskan bahwa Khalid bin Walid yang memimpin pasukan Quraisy untuk menyergap kelengahan kaum muslim yang teralihkan dengan harta rampasan perang. Khalid bin Walid dengan cepat dan seksama menginstruksikan untuk pasukan Quraisy menyerang dari arah belakang pasukan muslim.

    Strategi cepat ini membuat pasukan muslim kalah dalam perang Uhud. Namun, ini adalah momen yang diperhatikan Nabi Muhammad SAW dengan saksama karena strategi dan pengambilan keputusan cepat yang dilakukan oleh Khalid bin Walid.

    Singkat cerita Khalid bin Walid kemudian menjadi tangan kanan Rasulullah SAW setelah masuk Islam. Kemudian ia dikenal sebagai panglima paling berhasil dan menjadi andalan bagi Rasulullah SAW.

    Itulah ringkasan mengenai perang Uhud yang mengisahkan bagaimana 700 orang pasukan muslim harus menghadapi kaum Quraisy yang berjumlah lebih dari empat kali mereka. Dengan memahami kisah ini, sebagai umat Islam kita bisa meniru semangat dan perjuangan yang tanpa putus ketika bersandar kepada Allah SWT.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Dapat Menghidupkan Orang yang Telah Mati



    Jakarta

    Nabi Ilyasa merupakan sosok penerus Nabi Ilyas AS setelah beliau wafat. Ilyasa berasal dari garis keturunan yang sama dengan Nabi Harun, Musa, dan Ilyas.

    Selama berdakwah, Nabi Ilyasa berpegang teguh pada metode dakwah Nabi Ilyas. Semasa mudanya, Ilyasa AS selalu mengikuti ke mana Nabi Ilyas pergi hingga dianggap seperti putranya sendiri.

    Mengutip dari buku Nabi Ilyasa AS: Penerus Dakwah di Negeri Ba’labak oleh Olman Dahuri, dahulu Nabi Ilyasa menderita sakit keras. Sang ibu hampir menyerah karena badan Ilyasa kian melemah seiring berjalannya waktu.


    Nabi Ilyasa hanya mampu berbaring kaku di kasur. Meski begitu, Nabi Ilyasa tetap tabah dan percaya bahwa kesembuhan akan segera datang untuknya.

    Pertemuan Nabi Ilyasa dengan Nabi Ilyas

    Benar saja, ketika Nabi Ilyas dikejar-kejar oleh kaumnya dan bersembunyi di rumah Nabi Ilyasa. Kala itu, Nabi Ilyas bermaksud mencari tempat persembunyian di rumah seorang wanita yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya.

    Menurut buku Nabiku Teladanku yang disusun oleh Lutfiya Cahyani, kerabat tersebut adalah ibu Nabi Ilyasa. Melihat kondisi Nabi Ilyasa yang memprihatinkan, Nabi Ilyas lantas berdoa kepada Allah SWT agar mengangkat penyakit Ilyasa.

    Atas izin Allah, dikabulkanlah doa Nabi Ilyas dan disembuhkan penyakit Ilyasa. Setelah itu, dirinya diangkat menjadi putra dari Nabi Ilyas. Ilyasa terus mengikuti ke manapun Nabi Ilyas berdakwah hingga menjadi penggantinya dalam menyebarkan ajaran tauhid.

    Mukjizat Nabi Ilyasa Menghidupkan Orang Mati

    Semasa kenabian Ilyasa, kaum Bani Israil hidup damai, tenteram, dan taat kepada Allah SWT. Sayangnya, setelah Nabi Ilyasa wafat mereka kembali ingkar, menyembah berhala, hingga melakukan pembunuhan.

    Disebutkan dalam buku 365 Kisah Islami tulisan Kak Thifa, kala itu ada salah satu golongan Bani israil yang membunuh seseorang. Sang pembunuh bingung akan menguburkan mayat tersebut di mana, lantas pembunuh lainnya mengusulkan untuk memakamkan korban di salah satu makam yang ternyata merupakan makam Nabi Ilyasa.

    Dengan segera, mereka mengubur korban pembunuhan tersebut di makam Nabi Ilyasa. Dilemparkannya mayat itu hingga mengenai jasad Nabi Ilyasa. Atas izin Allah, mayat itu kemudian kembali hidup.

    Sungguh luar biasa kuasa Allah SWT. Semoga kisah mengenai mukjizat Nabi Ilyasa dapat menambah keimanan kita, Aamiin.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Yaqub, Sosok Teladan yang Berbakti pada Orang Tua



    Jakarta

    Nabi Yaqub merupakan anak dari Nabi Ishaq dan cucu dari Nabi Ibrahim. Dalam beberapa riwayat, Nabi Yaqub digambarkan sebagai sosok yang berbakti kepada orang tua.

    Dalam kisah yang diceritakan melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebelum wafat, Nabi Yaqub sempat berpesan pada para putranya untuk senantiasa menjalankan perintah Allah. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 133,

    اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ


    Artinya: “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

    Berikut ini adalah rangkuman dari kisah Nabi Yaqub yang perlu diketahui dan teladani oleh umat muslim.

    Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Yaqub AS

    Dikutip dari buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul oleh Ridwan Abdullah Sani, Muhammad Kadri diceritakan Nabi Yaqub adalah anak kandung dari Nabi Ishaq dengan Rafqa binti A’zar, seorang perempuan yang masih kerabat Nabi Ibrahim.

    Melalui surah Huud ayat 71, sebelumnya sudah terjadi peristiwa tatkala Nabi Ibrahim As beserta sang istri, Siti Sarah, didatangi malaikat utusan Allah SWT untuk menyampaikan kabar gembira.

    وَٱمْرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ

    Artinya: “Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Yaqub”.

    Nabi Yaqub memiliki kembaran yang bernama Ish. Mereka berdua tumbuh besar bersama meskipun dengan sifat yang bertolak belakang. Berbeda dengan Nabi Yaqub yang tenang, penyabar, baik hati, dan menghindari keburukan, saudara kembarnya Ish justru penuh dengan iri dengki dan berbuat maksiat.

    Ia selalu mengejek dan mengganggu Nabi Yaqub, akan tetapi Nabi Yaqub dengan penuh kesabarannya tidak membalas perbuatan saudara kembarnya dengan keburukan. Tatkala ia sudah tidak tahan dengan tingkah Ish, Nabi Yaqub pun mengadu pada ayahandanya.

    Akhirnya Nabi Ishaq pun berdiskusi dengan istrinya. Ia memutuskan untuk menikahkan Ish dengan harapan supaya perangai anaknya dapat berubah menjadi pribadi yang lebih tenang dan dewasa.

    Akan tetapi, Ish tidak berubah sebagaimana yang diekspektasikan. Ia justru makin sering mengganggu dan menganiaya Nabi Yaqub. Bahkan ia menyimpan dendam pada saudara kembarnya karena merasa bahwa ibu mereka lebih menyayangi Nabi Yaqub.

    Nabi Ishaq akhirnya menitipkan Nabi Yaqub pada saudara istrinya, Syekh Labban, yang bertempat tinggal di Faddan A’ram (Irak). Hal ini adalah sebagai bentuk perlindungan dari Nabi Ishaq pada Nabi Yaqub agar ia tidak lagi diganggu oleh saudara kembarnya.

    Nabi Yaqub adalah seorang yang sangat patuh pada perintah orang tuanya. Dengan segala baktinya ia pun berangkat ke Irak selepas menjalankan sholat subuh dan sang ayah berpesan agar ia dapat banyak belajar dari sang paman dan menitipkan secarik surat padanya.

    Masa Kenabian Nabi Yaqub AS

    Ujian pertama Nabi Yaqub adalah perjalanan dari Kan’an menuju Faddan A’ram dengan melewati gurun pasir yang luas, ia membawa perbekalan secukupnya dan memakannya ketika lelah. Saat siang hari, Nabi Yaqub akan beristirahat sementara ketika malam telah datang ia akan melanjutkan perjalanan.

    Dengan penuh rasa sabar, Nabi Yaqub terus menelusuri jalan panjang menuju Irak. Di tengah rasa lelahnya, ia tertidur dan bermimpi tentang kehidupannya di masa depan yang berlimpah rezeki dan penuh kedamaian. Ketika terbangun, ia memikirkan mimpinya.

    Jibril pun berbisik di telinganya bahwa ia menyampaikan wahyu dari Allah, kabar gembira bahwa Allah telah mengangkat dirinya sebagai Nabi. Rasa lelah dan penat pun menghilang. Hal ini juga diabadikan dalam QS. Al Baqarah ayat 132.

    وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

    Artinya: Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya’qub, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

    Dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul oleh Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, dikisahkan sesampainya di tempat Syekh Labban, Nabi Yaqub pun berjumpa dengan Rahil, seorang gadis cantik yang tengah menggembala kambing. Rahil adalah putri kedua dari Syekh Labban dan merupakan sepupu Nabi Yaqub.

    Setelah tinggal di sana, ia menyampaikan surat dari ayahnya pada pamannya tersebut. Ternyata, isinya adalah keinginan Nabi Ishaq untuk menikahkan Nabi Yaqub dengan salah satu putri Syekh Labban.

    Syekh Labban kemudian memberikan prasyarat pada Nabi Yaqub untuk menggembala selama tujuh tahun sebelum menikahi salah seorang putrinya, hal tersebut dianggap sebagai mas kawin. Syekh Labban pun bertanya pada Nabi Yaqub siapa yang ingin dinikahinya dan ia menjawab Rahil.

    Akan tetapi, hal tersebut tidak bisa dilakukan jika Laya, sebagai putri pertama belum menikah. Hal tersebut adalah hukum adat di wilayah mereka. Akhirnya Nabi Yaqub menerima solusi dari Syekh Labban dengan menikahi kedua putrinya sekaligus dan mulai menggembala selama tujuh tahun lamanya.

    Setelah melewati ujian tersebut dan berdoa pada Allah, akhirnya Nabi Yaqub dapat menikahi Laya dan juga Rahil. Oleh karena kebaikannya sebagai suami, Laya dan Rahil pun meminta Nabi Yaqub menikahi budak mereka yang cantik parasnya, yakni Balhah dan Zulfah. Dari pernikahannya dengan empat perempuan tersebut, Nabi Yaqub dikaruniai banyak anak, salah satunya Nabi Yusuf.

    Meneladani Nabi Yaqub AS

    Melalui kisah Nabi Yaqub AS dan segala kesabaran serta keteguhannya memiliki banyak hal yang dapat dipelajari oleh umat muslim. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita teladani dari sosok Nabi Yaqub.

    1. Seorang Ayah yang Penyayang

    Dalam buku Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Qur’an yang ditulis oleh Adil Musthafa Abdul Halim, Nabi Yusuf menceritakan mimpi yang didapatnya pada ayahnya. Ia bermimpi menyaksikan sebelas bintang yang datang dari langit tunduk bersujud kepadanya.

    Menyadari tanda-tanda kenabian dari putranya, Nabi Yaqub pun menasihati Nabi Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya pada saudara-saudaranya yang penuh iri dengki. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga Nabi Yusuf dari kejahatan saudara-saudaranya yang selalu berbuat jahat padanya.

    2. Penyabar dan Teguh Pendirian

    Meski tidak mudah, Nabi Yaqub menjalankan dan menyelesaikan ujian-ujian dari Allah SWT. Ia tidak pantang menyerah, senantiasa memanjatkan doa, dan berpikir positif. Ia juga berbesar hati dan selalu mengalah atas saudara kembarnya, Ish. Nabi Yaqub tidak mau membalas perbuatan buruk Ish dengan kejahatan.

    3. Adil dan Bijaksana

    Nabi Yaqub memiliki empat orang istri yang mana ia harus berlaku adil. Dari keempat istrinya pun ia dikaruniai belasan anak. Oleh karenanya, Nabi Yaqub selalu memperlakukan istri-istri dan anak-anaknya dengan adil tanpa ada rasa pilih kasih.

    Demikian penjelasan dari kisah Nabi Yaqub yang sangat berbakti pada orang tuanya. Ketika menjadi ayah, Nabi Yaqub pun senantiasa memberikan nasihat pada anak-anaknya untuk selalu beriman kepada Allah SWT. Dari kisahnya, kita sebagai umat muslim bisa mempelajari dan mengambil sisi positif untuk kita amalkan di kehidupan sehari-hari.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com