Blog

  • Saat Nabi Ibrahim AS Mengajak Ayahnya untuk Beriman, Ini Kisahnya



    Jakarta

    Kisah Nabi Ibrahim AS ketika menyeru ayahnya agar beriman dan menyembah Allah SWT diabadikan dalam sejumlah ayat dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW.

    Para ulama berbeda pendapat terkait nama ayah Nabi Ibrahim. Menukil buku Kisah Para Nabi terjemah Qashash Al-Anbiya karya Ibnu Katsir, jumhur ulama nasab menyatakan nama bapak dari Ibrahim AS yakni Tarikh.

    Pendapat Ibnu Jarir dan sebagian ulama lain, nama ayahnya adalah Azar lantaran merujuk Surat Al-An’am ayat 74. Mereka berpandangan, nama Tarikh merupakan gelar dari berhala yang disembah bapaknya itu, sehingga Azar yaitu nama asli ayahnya.


    Terlepas dari nama ayah Nabi Ibrahim, Ibnu Katsir mengemukakan bahwa dakwah pertama kali yang dilaksanakan Ibrahim AS adalah kepada ayah kandungnya. Yang mana ayahnya adalah seorang penyembah berhala.

    Bahkan dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul oleh Ridwan Abdullah Sani & Muhammad Kadri disebutkan ayah Nabi Ibrahim yakni pedagan dari patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri. Kemudian ia menjual berhala itu kepada kaumnya untuk disembah.

    Maka dari itu, bapak kandunganya menjadi orang pertama sekaligus terdekat yang diajak Ibrahim AS untuk beriman dan menyembah Alah SWT, serta meninggalkan tuhan lamanya itu.

    Kisah Dakwah Nabi Ibrahim AS kepada Ayahnya

    Masih dari buku Kisah Para Nabi terjemah Qashash Al-Anbiya, Allah SWT menceritakan kisah Ibrahim AS dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Pada Surat Maryam ayat 41-48 diceritakan:

    “Ceritakanlah (Nabi Muhammad, kisah) Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an)! Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat benar dan membenarkan lagi seorang nabi. “

    Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak pula bermanfaat kepadamu sedikit pun?

    Wahai Bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu. Ikutilah aku, niscaya aku tunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

    Wahai Bapakku, janganlah menyembah setan! Sesungguhnya setan itu sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

    Wahai Bapakku, sesungguhnya aku takut azab dari (Tuhan) Yang Maha Pemurah menimpamu sehingga engkau menjadi teman setan.”

    Dia (bapaknya) berkata, “Apakah kamu membenci tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika tidak berhenti (mencela tuhan yang kusembah), engkau pasti akan kurajam. Tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan bagimu. Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia Mahabaik kepadaku.

    Aku akan menjauh darimu dan apa yang engkau sembah selain Allah. Aku akan berdoa kepada Tuhanku semoga aku tidak kecewa dengan doaku kepada Tuhanku.” (QS Maryam: 41-48)

    Terlihat dari ayat tersebut, ajakan Ibrahim AS kepada ayahnya dengan begitu tulus dan lembut. Beliau menggunakan kata-kata persuasi santun tanpa adanya bentakan atau kekerasan dan menyatakan fakta bahwa berhala tidak dapa mendengar maupun melihat, sehingga bagaimana mampu patung itu merupakan tuhan yang pantas disembah.

    Beliau bahkan berjanji akan memohonkan ampunan atas ayahnya itu kepada Allah SWT jika ia mau mengikuti ajaran yang diwahyukan Nabi Ibrahim. Setelah berbagai usaha yang dilakukan oleh Ibrahim AS, beliau melihat dengan jelas segala penolakan yang dilakukan oleh ayahnya tersebut. Maka jelas bagi Nabi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah SWT.

    Sebagaiman Allah SWT nyatakan dalam Surat At-Taubah ayat 114, “Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah dia ikrarkan kepadanya. Maka, ketika jelas baginya (Ibrahim) bahwa dia (bapaknya) adalah musuh Allah, dia (Ibrahim) berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim benar-benar seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

    Rasul SAW melalui sabdanya juga mengisahkan tentang Ibrahim AS yang bertemu ayahnya kelak di hari kiamat, tetapi bapaknya itu sudah tidak diberi kesempatan lagi oleh Allah SWT. Abu Hurairah meriwayatkan hadits bahwa Nabi SAW bersabda:

    “Ibrahim AS bertemu dengan ayahnya, Azar, pada hari Kiamat nanti. Ketika itu wajah Azar tampak hitam berdebu. Lalu Ibrahim AS berkata kepada ayahnya: ‘Bukankah sudah aku katakan kepada ayah agar ayah tidak menentang aku?’

    Ayahnya menjawab, ‘Hari ini aku tidak akan menentangmu.’

    Kemudian Ibrahim AS berkata, ‘Wahai Tuhan, Engkau sudah berjanji kepadaku untuk tidak menghinakan aku pada hari berbangkit. Lalu kehinaan apalagi yang lebih hina dari pada keberadaan ayahku yang jauh (dariku)?’

    Allah SWT berfirman: ‘Sesungguhnya, Aku mengharamkan surga bagi orang-orang kafir.” (HR Bukhari)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Azab bagi Kaum Madyan, Hawa Panas dan Petir Menggelegar



    Yogyakarta

    Dalam Al-Qur’an disebutkan kaum Madyan adalah golongan yang mengingkari Allah dan mengabaikan peringatan dari Nabi Syuaib AS. Kaum Madyan kemudian ditimpa azab yang mengerikan berupa badai petir dan hawa panas sebagai hukuman.

    Penduduk negeri Madyan adalah umat Nabi Syuaib AS. Disebutkan dalam buku Pemahaman Terjemahan Ayat Suci Al Qur’an oleh Zen Muhammad Al Hadi, nama Madyan diambil dari salah seorang putra Nabi Ibrahim AS, yang kemudian menjadi nama bagi anak keturunan dan pengikutnya, yakni kaum Madyan.

    Kota Madyan (Yordania) adalah kota yang makmur dan memiliki padang rumput yang luas. Terletak di sebelah timur daerah Sinai berdekatan dengan Teluk Aqabah. Di zaman sekarang, daerah tersebut berada di sebelah selatan Palestina.


    Kaum Madyan, Golongan Orang yang Ingkar

    Mayoritas kaum Madyan berprofesi sebagai pedagang, tetapi tidak jujur dalam timbangan dan sering melakukan penipuan. Kaum Madyan juga dikenal sebagai penyembah berhala dan suka mengurangi timbangan serta menumpuk harta.

    Sementara itu dalam beberapa sumber, Madyan adalah negeri yang sangat korup dalam aktivitas dagangnya. Jika ada kafilah yang datang ke negeri itu untuk menjual barang, mereka segera mengeluarkan timbangan yang beratnya sudah dikurangi.

    Allah pun mengutus Nabi Syuaib AS kepada mereka. Nabi Syuaib memerintahkan mereka untuk menyembah Allah semata. Ia pun melarang mereka berbuat kezaliman yakni dengan berhenti mengurangi takaran dan timbangan.

    Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 84 yang berbunyi:

    وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗوَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ اِنِّيْٓ اَرٰىكُمْ بِخَيْرٍ وَّاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيْطٍ

    Artinya: Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan! Sesungguhnya Aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang meliputi (dan membinasakanmu, yaitu hari Kiamat).”

    Peringatan dari Nabi Syuaib AS

    Atas segala kemungkaran dan perbuatan tercela yang diperbuat oleh kaum Madyan, Allah SWT memerintahkan Nabi Syuaib AS untuk memberi peringatan bagi kaum tersebut. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 89:

    وَيٰقَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِيْٓ اَنْ يُّصِيْبَكُمْ مِّثْلُ مَآ اَصَابَ قَوْمَ نُوْحٍ اَوْ قَوْمَ هُوْدٍ اَوْ قَوْمَ صٰلِحٍ ۗوَمَا قَوْمُ لُوْطٍ مِّنْكُمْ بِبَعِيْدٍ

    Artinya: “Wahai kaumku, janganlah sekali-kali pertentanganku (denganmu) menyebabkan apa yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud, atau kaum Saleh juga menimpamu, sedangkan (tempat dan masa kebinasaan) kaum Lut tidak jauh dari kamu.”

    Kemudian, kaum Madyan justru berkata, “Wahai Syuʻaib, Kami tidak banyak mengerti apa yang engkau katakan itu, sedangkan kami sesungguhnya memandang engkau sebagai seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah melemparimu (dengan batu), sedangkan engkau pun bukan seorang yang berpengaruh atas kami.”

    Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri dalam bukunya Hikmah Kisah Nabi dan Rasul, menyebutkan bahwa Nabi Syuaib berhasil menyadarkan sebagian kecil dari kaumnya. Akan tetapi sebagian besar kaum Madyan masih tertutup hatinya terhadap Allah.

    Mereka malah menuduh Nabi Syuaib sebagai tukang sihir yang ulung dan menentang Nabi Syuaib untuk membuktikan kebenaran dari risalahnya dengan mendatangkan bencana dari Allah.

    Mendengar tantangan tersebut, Nabi Syuaib pun berdoa dan memohon kepada Allah untuk menurunkan azab bagi kaum Madyan sebagai peringatan bagi generasi di masa yang akan datang.

    Azab bagi Kaum Madyan

    Allah mengabulkan permohonan Nabi Syuaib dan menurunkan udara yang sangat panas. Udara tersebut dapat mengeringkan kerongkongan karena menimbulkan dahaga yang tidak dapat dihilangkan oleh air.

    Udara tersebut juga membakar kulit dan tidak dapat dihindari dengan berteduh di bawah atap rumah atau rerimbunan pohon.

    Kaum Madyan yang ingkar berada dalam kebingungan dan kepanikan. Mereka berlari ke sana ke mari mencari perlindungan dari panasnya terik matahari yang membakar.

    Kemudian terlihat gumpalan awan hitam tebal di atas kepala mereka, lalu mereka berbondong-bondong lari untuk berteduh di bawah awan tersebut.

    Namun, setelah mereka berada di bawah awan hitam sembari berdesakan, jatuhlah percikan api dari awan hitam itu ke kepala mereka diiringi dengan suara petir dan gemuruh ledakan yang sangat dahsyat.

    Pada saat itu bumi di bawah mereka bergoyang dengan kuatnya sehingga mereka berjatuhan, saling tertimbun satu sama lain, dan selesailah sudah riwayat mereka. Hal ini tercantum dalam Al Qur’an Surat Hud ayat 94.

    وَلَمَّا جَاۤءَ اَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَّالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ بِرَحْمَةٍ مِّنَّاۚ وَاَخَذَتِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَاَصْبَحُوْا فِيْ دِيَارِهِمْ جٰثِمِيْنَۙ

    Artinya: Ketika keputusan Kami (untuk menghancurkan mereka) datang, Kami selamatkan Syuʻaib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Adapun orang-orang yang zalim, mereka dibinasakan oleh suara yang menggelegar sehingga mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka.

    Ahmad Fatih, S.Pd. dalam buku Menengok Kisah 25 Nabi dan Rasul menyebutkan bahwa ketika datang azab, Allah menyelamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman. Dalam Al-Qur’an Surat Al Araf disebutkan gempa yang dahsyat, sedangkan di dalam Surat Asy-Syura disebutkan azab pada hari mereka dinaungi oleh awan.

    Fakta tersebut diperkuat dan diperjelas dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 95.

    كَاَنْ لَّمْ يَغْنَوْا فِيْهَا ۗ اَلَا بُعْدًا لِّمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُوْدُ

    Artinya: (Negeri itu tak berbekas) seolah-olah mereka tidak pernah tinggal di sana. Ingatlah, (penduduk) Madyan binasa sebagaimana juga (kaum) Samud.

    Dalam hal ini, tempat tinggal orang-orang Madyan bertetangga dengan orang-orang Samud. Berdasarkan sejarah, mereka kurang lebih berbuat kekufuran yang sama, yakni suka merampas yang bukan haknya.

    Demikian azab yang menimpa kaum Madyan . Azab dan hukuman yang dilimpahkan pada kaum Madyan merupakan balasan yang setimpal atas kedurhakaan yang telah mereka lontarkan kepada Nabi Syuaib AS sebagai utusan Allah.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Tongkat Nabi Musa, Mukjizat yang Bisa Berubah Menjadi Ular



    Jakarta

    Allah SWT memberikan mukjizat kepada Nabi Musa berupa sebuah tongkat. Tongkat ini bisa berubah menjadi ular atas kehendak Allah SWT.

    Salah sattu kisah yang menakjubkan tentang mukjizat Nabi Musa AS adalah ketika berhadapan dengan para tukang sihir Firaun. Nabi Musa melemparkan tongkat miliknya yang kemudian berubah menjadi seekor ular.

    Kisah ini begitu terkenal dan bahkan terbilang istimewa karena tercatat dalam beberapa ayat Al-Qur’an yakni Surah Al-Qashash ayat 31, Surah An-Nam ayat 10-11, dan Surah Thaha ayat 17-21.


    Tongkat yang Berubah Menjadi Ular

    Dalam buku Hewan-Hewan yang Disebutkan dalam Al-Qur’an yang Mulia dan As-Sunnah yang Shahih oleh Zaki Yamani, disebutkan bahwa ular menjadi salah satu hewan yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Adapun penyebutannya ada dalam kisah Nabi Musa AS.

    Kisah Nabi Musa AS bertemu dengan Firaun dan para tukang sihirnya dari sikap Firaun yang sangat sombong sebagai orang yang telah membesarkan Musa, maka Firaun mendustakan ayat-ayat yang dibawa oleh Musa dari sisi Rabbnya serta menuduhnya telah melakukan sihir.

    Firaun pun menantang Musa, maka Musa berkata kepadanya, “…. Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalan naik.) (dalam Al Qur’an Surat Thaha Ayat 59)

    Firaun segera menyebar pasukannya mencari tukang sihir yang andal di seluruh pelosok negeri Mesir. Tak lama, terkumpullah puluhan ahli sihir yang terpandai di negeri itu. Pada hari yang telah disepakati itu, para tukang sihir pun datang membawa perlengkapan sihir mereka.

    Musa tampil dengan menasihati dan mengingatkan dengan keras kepada mereka agar tidak membiasakan diri dengan perbuatan sihir. Para ahli sihir bermusyawarah dan sepakat untuk melayani Musa dengan pertarungan.

    Mereka melemparkan tali dan tongkat, lalu mengelabui mata orang-orang dengan sihir. Lantas masing-masing dari tukang sihir itu melemparkan apa yang mereka pegang berupa tali-tali dan tongkat-tongkat mereka.

    Tiba-tiba tongkat dan tali tersebut seolah berubah menjadi ular seperti gunung yang memenuhi lembah. Dan ular-ular itu kemudian saling tumpang tindih satu sama lain.

    Bukti Kebesaran dan Kuasa Allah

    Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al Qasas ayat 31:

    وَاَنْ اَلْقِ عَصَاكَ ۗفَلَمَّا رَاٰهَا تَهْتَزُّ كَاَنَّهَا جَاۤنٌّ وَّلّٰى مُدْبِرًا وَّلَمْ يُعَقِّبْۗ يٰمُوْسٰىٓ اَقْبِلْ وَلَا تَخَفْۗ اِنَّكَ مِنَ الْاٰمِنِيْنَ

    Artinya: Lemparkanlah tongkatmu!” Maka, ketika dia (Musa) melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular kecil yang gesit, dia lari berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Allah berfirman,) “Wahai Musa, kemarilah dan jangan takut! Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman.

    Al Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anil Adzhiem menjelaskan tentang kisah Mukjizat Nabi Musa AS yang melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi ular besar di hadapan para tukang sihir Firaun, “Ini merupakan bukti dari Allah bagi Nabi Musa AS, sebagai mukjizat yang besar, di luar kebiasaan lagi nyata, yang menunjukkan bahwasannya tidak ada yang mampu melakukan hal tersebut kecuali hanya Allah dan bahwasannya tidak ada yang membawanya kecuali Nabi yang diutus.

    Allah memberi perintah kepada Nabi Musa AS agar ia melempar tongkatnya, maka tiba-tiba tongkat itu menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Ketika Firaun melihat ular itu berjalan menuju dirinya, ia segera melompat dari singgasananya dan lari minta tolong kepada Nabi Musa AS untuk mencegahnya.

    Setelah menyaksikan hal itu, maka Nabi Musa AS berbalik tanpa melihat lagi ke belakang, kemudian ia pergi tanpa memperdulikan keadaan Firaun. Nabi Musa tidak menoleh ke belakang karena menghindari adanya bahaya.

    Mukjizat Nabi Musa AS telah membuat mata para tukang sihir terbelalak dan kebingungan sebab sihir yang mereka bangga-banggakan selama ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan Nabi Musa AS.

    Mereka pun menyadari bahwa apa yang dilakukan Nabi Musa AS bukanlah jenis sihir seperti yang biasa mereka perbuat, melainkan terjadi karena kehendak Allah SWT. Seketika itu para ahli sihir mengetahui bahwa yang dibawa oleh Nabi Musa AS bukanlah sihir.

    Mereka pun bersujud dan berkata, “Kami beriman kepada Rabb semesta alam, Rabb Musa dan Harun) (dari Al Qur’an Surat Asy Syua’ra Ayat 47-48).

    Hamka dalam Tafsir al-Azhar Jilid 5 menuliskan bahwa ketika itu Firaun sangat murka karena kekalahan tersebut. Para tukang sihir itu bukannya merasa malu tetapi justru menyatakan keimanannya. Bahkan mereka sudah tidak memedulikan amarah Firaun lagi.

    Kisah ini dilanjutkan dalam firman Allah pada Al-Qur’an Surat An-Naml Ayat 10.

    يٰمُوْسٰٓى اِنَّهٗٓ اَنَا اللّٰهُ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

    Artinya: (Allah berfirman,) “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

    Hal ini membuktikan bahwa kuasa Allah lebih besar dan tiada tandingnya. Sihir-sihir yang dilakukan oleh pesuruh Firaun tersebut hanya tipu daya syaitan yang tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan Allah.

    Diharamkannya Ilmu Sihir

    Dari kisah ini, dapat diambil kesimpulan bahwa Nabi Musa AS pada dasarnya tidak mengetahui tentang mukjizat yang diberikan Allah kecuali setelah diwahyukan. Hal ini diketahui berdasarkan sikap Nabi Musa AS yang terkejut dan ketakutan ketika tongkatnya berubah menjadi ular yang besar dan khawatir ular tersebut akan menyerang dirinya.

    Inilah yang kemudian menjadi pembeda antara mukjizat dengan sihir. Mukjizat terlihat sangat nyata akan tetapi sihir termasuk dalam tipuan yang memberikan ilusi pada penglihatan mata sehingga menjadi seakan-akan melihat sesuatu padahal hakikatnya tidak.

    Mukjizat berasal dari Allah SWT secara langsung apabila Ia berkehendak dan hanya ditujukan sebagai bentuk pemuliaan terhadap Nabi-Nya, lain halnya dengan sihir yang berasal dari bisikan syaitan.

    Dalam Al-Qur’an Surat Al Isra Ayat 88, Allah berfirman:

    قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

    Artinya: Katakanlah, “Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat mendatangkan yang serupa dengannya, sekalipun mereka membantu satu sama lainnya.”

    Demikian kisah dari tongkat Nabi Musa AS yang berubah menjadi ular untuk membuktikan kuasa Allah kepada Firaun dan para tukang sihir. Semoga kisah ini dapat mengajarkan kita semua untuk semakin tunduk dan patuh kepada perintah-Nya

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Sahabat Nabi yang Paling Kuat, Dulunya Preman Quraisy



    Jakarta

    Sosok sahabat Nabi SAW paling kuat adalah Umar bin Khattab. Ia adalah khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

    Melansir buku Biografi 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga karya Sujai Fadil, Umar bin Khattab dijuluki Al-Faruq oleh Rasulullah SAW karena bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

    Biografi Singkat Umar bin Khattab

    Umar bin Khattab lahir di Makkah, Jazirah Arab pada 583 M. Ia wafat pada 25 Zulhijah atau 23 Hijriyah, tepatnya pada 3 November 644 M.


    Letak makam Umar bin Khattab tepat di sebelah kiri makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah. Umar bin Khattab memiliki gelar selain Al-Faruq yaitu Amirul Mukminin yang artinya pemimpin orang-orang yang beriman.

    Masih dalam buku yang sama, juga menjelaskan mengenai profil dari Umar bin Khattab. Ia berasal dari bani Adi yang masih satu rumpun dari suku Quraisy dengan nama lengkap Umar bin al-Khattab bin Abdul Uzza.

    Keluarga Umar bin Khattab termasuk dalam keluarga kelas menengah. Ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang sangat jarang sekali terjadi. Bukan hanya itu saja, Umar bin Khattab juga dikenal memiliki fisik yang kuat bahkan ia juga menjadi juara gulat di Makkah.

    Umar bin Khattab tumbuh menjadi pemuda yang sangat disegani dan ditakuti pada masa itu. Ia memiliki watak yang keras hingga dijuluki sebagai “Singa Padang Pasir”. Ia termasuk pemuda yang amat keras dalam membela agama tradisional Arab yang saat itu masih menyembah berhala serta menjaga adat istiadat mereka.

    Kebiasaan Umar bin Khattab sebelum Masuk Islam

    Merangkum buku Akidah Akhlak karya Harjan Syuhada dan buku Biografi 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga karya Sujai Fadil dikisahkan bahwa sebelum memeluk Islam, Umar bin Khattab dikenal sangat gigih dalam membela agama nenek moyangnya.

    Bahkan, ia dikenal sebagai peminum berat namun setelah menjadi muslim ia tidak lagi menyentuh alkohol (khamr) sama sekali, meskipun saat itu belum diturunkan larangan meminum khamr secara tegas. Umar bin Khattab dulu juga tidak membiarkan siapapun mengusik agama nenek moyangnya. Itulah mengapa ketika Rasulullah SAW mulai mendakwahkan Islam Umar bin Khattab menjadi salah satu yang sangat memusuhi Rasulullah SAW.

    Dalam buku Umar bin Khathab RA karya Abdul Syukur al-Azizi turut dikatakan bahwa Umar bin Khattab dikenal sebagai jawara kota Makkah alias preman di kota itu. Pada masa mudanya, ia senang berkelahi dan menantang siapa pun yang berbeda pendapat dengannya.

    Ia memiliki sifat temperamen, keras, arogan, dan mudah emosi. Ia juga dikenal sebagai pegulat yang biasa bertanding pada pekan tahunan Ukaz dan menyabet predikat jawara.

    Kisah Umar bin Khattab Memeluk Islam

    Pada waktu awal dakwah Islam di Makkah, bersama dengan Abdul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal), Umar bin Khattab merupakan tokoh Quraisy yang sangat ditakuti oleh kaum Muslimin. Hingga pada puncak kebenciannya terhadap Rasulullah SAW ia mencoba untuk membuhun Nabi Muhammad SAW.

    Namun, sebelum melaksanakan niatnya, dalam perjalanan ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah dan memberikan kabar bahwa saudara perempuan Umar bin Khattab telah memeluk Islam.

    Karena kabar tersebut, Umar bin Khattab menjadi terkejut dan kembali ke rumah. Dalam riwayatnya, Umar bin Khattab menjumpai saudarinya yang kebetulan sedang membaca Al-Qur’an surah At-Thaha ayat 1-8. Hal ini membuatnya semakin marah dan memukul saudarinya.

    Hingga ia merasa iba saat melihat saudarinya berdarah, ia kemudian meminta agar ia melihat bacaan tersebut. Hingga ia menjadi sangat terguncang saat melihat isi Al-Qur’an dan beberapa waktu setelah kejadian itu Umar bin Khattab akhirnya menyatakan masuk Islam dan membuat semua orang terkejut.

    Hingga pada akhirnya, Umar bin Khattab masuk Islam setelah Nabi Muhammad SAW menjadi rasul selama enam tahun. Ia pun menjadi Khalifah setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Selama di bawah pemerintahan Umar bin Khattab kekuasaan Islam tumbuh sangat pesat.

    Islam mengambil alih Mesopotamia dan Persia dari tangan Dinasti Sassanid, serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari Kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adidaya, yaitu Persia dan Romawi, namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam di bawah pimpinan Umar bin Khattab.

    Umar bin Khattab juga melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat mengenai kebijakan publik termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Nabi Adam Beri 40 Tahun Usianya kepada Nabi Daud, Ini Kisahnya



    Jakarta

    Nabi Daud AS termasuk nabi yang mendapat keberuntungan dalam hal umur. Menurut sebuah riwayat, ia mendapatkan tambahan umur dari Nabi Adam AS.

    Dalam buku Al-Aabaa wal Abnaa fil Qur’anil Karim karya Adil Musthafa Abdul Halim dan diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al-Katani dan Fithriah Wardie mengungkap bahwa Nabi Daud AS masih keturunan Nabi Ibrahim AS dari anaknya, Nabi Ishaq AS.

    Kepada Daud AS, Allah SWT mengistimewakannya dengan kenabian serta kerajaan. Dia mewahyukan Nabi Daud dengan kitab Zabur, yang diturunkan sebagai petunjuk bagi bani Israil dan penyempurna kitab sebelumnya, yakni Taurat kepada Nabi Musa AS.


    Nabi Daud AS juga merupakan sosok hamba yang bertakwa, taat, dan rajin beribadah. Sehingga ia adalah panutan bagi bani Israil.

    Sebagai seorang penguasa, Dia memberikan Daud AS kerajaan yang besar, bala tentara yang kuat, kebijaksanaan dan keadilan dalam memutuskan perkara berdasarkan hukum Allah SWT, serta kebaikan dan kepedulian kepada kaumnya.

    Nabi Adam AS Berikan 40 Tahun Umurnya kepada Nabi Daud AS

    Selain kenabian dan kerajaan, Allah SWT menganugerahkan pula Nabi Daud AS dengan umurnya yang 100 tahun. Perihal umur Nabi Daud AS ini berkaitan dengan riwayat penciptaan Nabi Adam AS yang dinukil dari Kitab Qashash Al-Anbiyaa’ karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan oleh Saefullah MS.

    Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Diceritakan, ketika Allah SWT mengeluarkan anak-anak keturunan Adam AS dari punggungnya, lalu ia melihat di antara mereka ada yang menjadi para nabi. Ia melihat di antara anak-anak keturunannya seorang laki-laki yang bagus bercahaya.

    Kemudian Adam AS bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah dia?” Allah SWT menjawab, “Ia adalah anak keturunanmu yang bernama Daud.”

    Adam AS kembali bertanya, “Wahai Tuhanku, berapa umurnya?” Allah SWT menjawab, “60 tahun.”

    Adam AS berkata, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah umurnya.” Allah SWT menjawab, “Tidak, Aku tidak akan menambah umurnya, kecuali Aku tambah umurnya dengan mengambil dari umurmu.”

    Allah SWT menetapkan usia Adam AS mencapai 1000 tahun. Dari umurnya, Nabi Adam memohon agar diambil 40 tahun untuk ditambahkan kepada keturunannya itu, yakni Daud AS.

    Saat tiba ajal Adam AS, malaikat maut datang kepadanya. Adam AS keheranan seraya bertanya, “Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun lagi?”

    Kala itu Nabi Adam AS lupa bila umurnya telah dikurangi karena untuk menambah umur salah satu keturunannya, Daud AS. Akan tetapi, kemudian Allah SWT menyempurnakan kembali umur Adam AS menjadi 1000 tahun, begitu pula dengan usia Daud AS yang 100 tahun.” (HR Ahmad)

    Imam At-Tirmidzi turut meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Hurairah dengan redaksi yang serupa. Ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

    Sementara itu, dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Hatib bin Hibban dalam Kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah RA, jumlah umur yang ditetapkan untuk Nabi Daud AS adalah 40 tahun dan Nabi Adam AS memberikan 60 tahun jatah umurnya kepada Nabi Daud AS.

    Malaikat Maut Datangi Rumah Nabi Daud AS

    Ketika usia Nabi Daud AS telah mencapai batasnya, Rasulullah SAW juga menceritakan sebuah kisah mengenainya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda,

    “Daud AS adalah seorang nabi yang memiliki kecemburuan sangat besar. Apabila beliau keluar rumah, beliau selalu mengunci pintu-pintu rumahnya, sehingga tidak seorang pun yang dapat masuk menemui keluarga (istrinya), hingga beliau kembali pulang.

    Pada suatu hari, beliau keluar rumah dan beliau segera menutup pintu rumahnya. Istrinya melihat-lihat di dalam rumahnya. Kemudian ia mendapati seorang lelaki berada di dalamnya.

    Lalu ia keheranan dan bertanya-tanya dalam hatinya), ‘Siapa yang ada di dalam rumah? Dari mana pria itu bisa masuk ke dalam rumah, padahal semua pintu sudah terkunci rapat? Sungguh, aku aku melaporkannya kepada (suamiku) Daud.’

    Datanglah Nabi Daud AS di rumahnya, dan lelaki tadi berada di tengah rumahnya. Kemudian Daud AS bertanya kepadanya, ‘Siapa engkau?’

    Ia menjawab, ‘Aku adalah makhluk yang tidak takut sedikit pun kepada raja dan tidak ada suatu dinding pun yang dapat menghalangiku.’

    Daud AS berkata, ‘Kalau begitu, engkau adalah malaikat maut. Selamat datang dengan perintah Allah yang engkau bawa.’ Tak lama kemudian, malaikat maut mencabut nyawa Daud AS.

    Ketika Nabi Daud AS dimandikan dan dikafani, suasana berubah dengan munculnya matahari yang menyinarinya. Lalu, Sulaiman AS berkata kepada burung: ‘Naungilah (jenazah) Daud AS.’

    Burung pun segera menaunginya, sehingga keadaan bumi menjadi terlihat gelap. Setelah itu, Sulaiman AS berkata kepada burung: ‘Lepaskan naungan kedua sayapmu,’

    Abu Hurairah berujar, ‘Pada jenazah Rasulullah SAW juga diperlakukan hal yang sama oleh para burung. Ketika Rasulullah SAW wafat, saat itu tempat penguburan jenazah beliau dinaungi oleh seekor burung yang panjang sayapnya.” (HR Ahmad dalam Musnad-nya)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kala Nabi Musa Salahkan Nabi Adam karena Dikeluarkan dari Surga



    Jakarta

    Allah SWT mengeluarkan Nabi Adam AS dari surga hingga akhirnya seluruh anak keturunan Nabi Adam AS hidup di bumi. Menurut sebuah riwayat, Nabi Musa AS pernah menyalahkan Nabi Adam AS terkait hal ini.

    Hal tersebut diceritakan Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Qashash Al-Anbiyaa’ dengan bersandar pada riwayat yang berasal dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda,

    “Musa AS pernah mendebat Adam AS. Musa berkata kepada Adam, ‘Engkau telah mengeluarkan manusia dari surga hingga membuat mereka sengsara karena kesalahanmu.’ Adam menjawab, ‘Wahai Musa, engkau telah dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya. Apakah engkau mencela diriku atas suatu hal yang telah ditulis Allah sebelum Dia menciptakan aku atau yang telah ditakdirkan Allah terhadap diriku sebelum Dia menciptakan aku?’” Rasulullah SAW bersabda, “Maka Adam dapat membantah argumentasi Musa.” (HR Bukhari)


    Imam Muslim turut mengeluarkan riwayat tersebut. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits itu dari az-Zuhri, dari Hamid bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW.

    Sementara itu, Imam Ahmad meriwayatkan dari A’masyi, dari Abu Salih, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda,

    “Adam dan Musa pernah saling berdebat. Musa berkata kepada Adam, ‘Wahai Adam, engkau telah diciptakan Allah dengan tangan-Nya sendiri. Dia telah meniupkan roh-Nya ke dalam dirimu. Namun, engkau telah menyesatkan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga.”

    Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Adam menjawab, ‘Adapun engkau Musa telah dipilih Allah dengan kalam-Nya. Apakah engkau mencela diriku atas suatu perbuatan yang tidak aku kerjakan? Padahal, Allah telah menetapkan hal itu atas diriku sebelum Dia menciptakan langit dan bumi?’” Beliau bersabda, “Akhirnya, Adam pun dapat membantah argumentasi Musa.” (HR Ahmad)

    Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan redaksi yang lebih panjang. Dalam riwayat tersebut, Nabi Adam AS membantah argumentasi Nabi Musa AS dengan menanyakan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepadanya, yakni Kitab Taurat.

    Dikeluarkannya Nabi Adam AS dari surga termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 36. Allah SWT berfirman,

    فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ

    Artinya: ‘Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.”

    Menurut hadits yang terdapat dalam Kitab Shahih Muslim, peristiwa tersebut terjadi pada hari Jumat. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Sebaik-baik hari yang padanya matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan. Pada hari itu juga beliau dimasukkan ke surga dan pada hari itu pula beliau dikeluarkan dari surga.” (HR Muslim)

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Deretan Pujian Rasulullah kepada Umar bin Khattab



    Jakarta

    Umar bin Khattab adalah seorang sahabat kesayangan Rasulullah SAW. Semasa hidupnya, Rasulullah SAW banyak melontarkan pujian kepada Umar.

    Sebelum mengenal ajaran Islam, Umar sangat membenci agama yang dibawa Rasulullah SAW ini karena menganggap Islam telah melanggar ajaran nenek moyang dan memecah belah kaum Quraisy. Dalam perjalanannya, kemudian Umar berubah menjadi seorang pembela Islam yang gigih lagi pemberani. Ia juga menjadi sahabat Rasulullah SAW yang dijamin surga.

    Beliau turut membantu barisan Islam yang pada zaman itu masih sedikit jumlahnya. Keislaman Umar bin Khattab adalah jawaban Allah atas doa-doa yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang Engkau cintai, Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam.”


    Pilihan Allah jatuh kepada Umar bin Khattab karena Abu Jahal mengingkari Allah beserta Rasul-Nya, bahkan melecehkan dan menyiksa umat Islam. Berkat perjuangan, kesetiaan, ketaatan, dan kegigihannya, Rasulullah memuji Umar dalam beberapa hadits.

    Pujian Rasulullah untuk Umar bin Khattab

    Rasulullah SAW memberikan julukan khusus kepada Umar, yakni Al Faruq (pembeda) yang berarti orang yang dapat memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

    Nabi Muhammad bersabda,

    أقواكم في دين الله عمر ؛ قوله الحق و ما له في الناس من الصديق

    Artinya: “Yang paling teguh dalam melaksanakan agama Allah (syariat Islam) ialah Umar. Perkataanya adalah benar dan yang ia miliki dari (kepribadian) manusia adalah kejujuran.”

    Mengutip buku Kisah Hidup Umar ibn Khattab oleh Mustafa Murrad, dari Uqbah ibn Amir Rasulullah bersabda, “Andaikata setelah aku terdapat seorang nabi, dia adalah Umar.” (HR Ahmad 4/154, At Tirmidzi 3686, al-Hakim 3/85, Ibn Syahin 140, al-Lalkai 2491).

    Kemudian, dalam riwayat yang lain, Amr ibn Ash bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling kau cintai?” Rasulullah menjawab, “Aisyah.”

    “Lalu siapakah lelaki yang paling kau utamakan?” Beliau menjawab, “Ayah ‘Aisyah (Abu Bakar).” Aku lanjut bertanya, “Lalu siapa lagi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Umar ibn Khattab.”

    Setelah itu Rasulullah menyebut nama sahabat lainnya. (HR al-Bukhari dalam Kitab Fadhail al-Shahabah, bab Qawl an-Nabi, juz 7, hal. 22, nomor 3662)

    Pujian untuk Keimanan Umar

    Rasulullah pernah memuji ketaatan Umar yang luar biasa. “Suatu malam aku bermimpi. Beberapa orang mendatangiku sambil membawa baju. Di antara mereka ada yang bajunya hanya sampai menutupi dada, di antara yang lain ada yang melebihinya.

    Umar bin Khattab menghadapku sambil menyodorkan baju, dan aku pun menerima baju pemberian Umar.” Para sahabat bertanya, “Apa takwilnya, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Itu adalah perlambang dari agama.” (HR al-Bukhari dalam Kitab Fadhail al-Shahabah, Bab Manaqib Umar, juz 7, hal. 52, nomor 3861)

    Rasulullah juga memuji Umar dalam hadits yang lain: “Suatu ketika aku pernah bermimpi. Dalam mimpi itu aku meminum susu sampai kurasakan kesegarannya mengalir di antara sela kuku jemariku. Setelah itu, kusodorkan gelas itu kepada Umar.”

    Para sahabatnya bertanya, “Apa arti semua itu?” Rasulullah pun menjawab, “Itu perumpamaan ilmu.”

    Perumpamaan ilmu dan susu sejatinya menyiratkan makna banyaknya manfaat dari keduanya. Ilmu dan susu juga obat dan penyembuh. Susu adalah sumber pokok kekuatan badani sementara ilmu adalah sumber kekuatan maknawi.

    Adapun Lia Heliana dalam bukunya Rasulullah My Soulmate, menyebutkan bahwa Umar mendapat pujian dari Rasulullah. Salah satunya adalah, “Hai Umar, tidaklah setan berjumpa denganmu sedang berjalan di satu sisi melainkan ia berjalan di sisi yang tidak engkau lalui.”

    Dalam riwayat lainnya disebutkan pujian kepada Umar bin Khattab atas keimanan dan sikapnya yang teguh pendirian, “Hai Umar, setanpun akan lari terbirit-birit jika berjumpa denganmu.”

    Sebagai bagian dari Khulafaur Rasyidin, Umar bin Khattab memimpin Islam dengan gagah berani. Hal ini terbukti pada masa kepemimpinannya selepas Rasulullah dan Abu Bakar wafat, Islam pun mencapai masa-masa gemilang dan menjadi suatu kekhalifahan yang kuat.

    Maka, tidak heran apabila Rasulullah SAW begitu menghormati perjuangan Umar lagi mengutamakannya dengan pujian-pujian yang beliau lontarkan. Hal ini termasuk bukti cinta Rasulullah kepada sahabatnya.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Ratu Balqis Masuk Islam dan Kisah di Balik Usaha Nabi Sulaiman AS



    Jakarta

    Ratu Balqis merupakan ratu Saba yang dikisahkan tunduk kepada Nabi Sulaiman. Dilansir dalam Ridwan Abqary dalam bukunya 99 Kisah Menakjubkan dalam Al-Qur’an, Ratu Balqis mendiami sebuah negeri yanag subur dan masyarakatnya sejahtera yang bernama Negeri Saba.

    Kisah Ratu Balqis ini juga diabadikan oleh Allah SWT melalui firmanNya di dalam beberapa ayat Al-Qur’an Surah An-Naml. Bagaimana kisahnya?

    Awal Mula Ratu Balqis Diketahui Oleh Nabi Sulaiman AS

    Hal ini dikisahkan dalam Surah An-Naml ayat 23 dan 24, yang berbunyi:


    اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَةً تَمْلِكُهُمْ وَاُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَّلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ(23

    وَجَدْتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُوْنَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُوْنَۙ(24

    Artinya: “Sesungguhnya aku (burung hudhud) mendapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka (penduduk negeri Saba’). Dia dianugerahi segala sesuatu dan memiliki singgasana yang besar.Aku (burung Hudhud) mendapati dia dan kaumnya sedang menyembah matahari, bukan Allah. Setan telah menghiasi perbuatan-perbuatan (buruk itu agar terasa indah) bagi mereka sehingga menghalanginya dari jalan (Allah). Mereka tidak mendapat petunjuk.”

    Menurut Tafsir Quran Kemenag dijelaskan yang dimaksud dengan perempuan dalam ayat ini adalah Ratu Balqis yang memerintah kerajaan Saba’ pada zaman Nabi Sulaiman AS. Diketahui meskipun Ratu Balqis memiliki segalanya, ia tidak menyembah Allah SWT sebagai pemilik seluruh alam beserta isinya.

    Ketegasan Nabi Sulaiman AS Menyampaikan Pesan Keagungan Allah SWT kepada Ratu Balqis

    Dikutip dalam Cerita Teladan 25 Nabi dan Rasul karangan Iip Syarifah, Nabi Sulaiman AS merasa heran ketika mendengar ada orang yang menyembah selain Allah SAW. Oleh karena itu, Nabi Sulaiman AS segera mengirim surat kepada Ratu Balqis yang diantarkan oleh Hudhud.

    Setelah Ratu Balqismenerima surat itu kemudian ia segera mengumpulkan orang-orang kepercayaannya untuk membicarakan isi surat itu. Para orang terpercayanya menyampaikan pandangan mereka mengenai surat itu.

    Mereka menyarankan kepada Ratu Balqis agar tidak mudah percaya pada isi surat itu, karena bisa saja raja (Nabi Sulaiman AS) pengirim surat itu ingin menguasai kerajaan mereka. Ratu Balqis bersikap sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan dan mengirimkan surat balasan kepada Nabi Sulaiman AS yang berisi bahwa beliau akan mengirimkan utusannya.

    Kemudian, Hudhud kembali membawa surat balasan. Ratu Balqis mengirimkan utusannya kepada Nabi Sulaiman AS dengan membawa berbagai macam hadiah mewah dari kerajaannya. Untuk menyambut kehadiran utusan Ratu Balqis, Nabi Sulaiman mempersiapkan istana yang keindahan dan kemegahannya tidak tertandingi.

    Ratu Balqis Tunduk kepada Nabi Sulaiman AS melalui Kuasa Allah SWT

    Singkat cerita, utusan Ratu Balqis ini menyampaikan apa yang dilihatnya ini sangat di luar nalarnya. Bagaimana ada istana yang lebih megah dibandingkan kepunyaan Ratu Balqis, hal ini membuat Ratu Balqis penasaran.

    Ratu Balqis kemudian berniat berangkat sendiri untuk memastikan apa yang disampaikan oleh utusannya. Mendengar kabar bahwa Ratu Balqis ingin datang langsung ke istananya, Nabi Sulaiman AS bertanya kepada para jin, “Siapa yang sanggup memindahkan kerajaan Ratu Balqis ke istanaku dalam waktu sekejap?”

    Akhirnya istana yang megah ini berhasil dibangun oleh anugerah yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Sulaiman AS. Segera setelah Ratu Balqis sampai di istana Nabi Sulaiman AS, ia bertanya “Seperti inikah singgasanamu?” kepada Ratu Balqis yang kebingungan mengamati siggahsana itu.

    Setelah kebingungan beberapa saat, Ratu Balqis menjawab, “Seakan-akan singgasana ini adalah singgasanaku”.

    Nabi Sulaiman AS kemudian berkata lagi, “Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

    Kalimat terakhir yang disampaikan Nabi Sulaiman bertujuan mengingatkan agar Ratu Balqis dapat berpikir ada kuasa di atas kemampuannya. Tindakannya selama ini dengan menyembah matahari dan kemajuan ilmu yang telah dicapainya tidak ada apa-apanya sama sekali jika dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman AS dan keislamannya.

    Ratu Balqis akhirnya tersadar bahwa yang dilihatnya adalah benar-benar singgasananya. Ratu Balqis kemudian sangat terpesona dengan keimanan Nabi Sulaiman AS yang telah disaksikannya.

    Dia juga terpesona dengan kemajuan ilmu yang telah dicapai di kerajaan Nabi Sulaiman AS. Beliau kemudian mempersilakan Ratu Balqis untuk masuk ke istana yang sudah dipersiapkannya.

    Akhirnya Ratu Balqis tersadar bahwa matahari yang selama ini disembah oleh kaumnya hanyalah makhluk yang telah diciptakan oleh Allah SWT untuk semua hamba-Nya. Ratu Balqis lalu mengumumkan keislamannya. Dia pun tunduk dan berserah diri kepada Allah SWT dan diikuti oleh seluruh rakyatnya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Mukjizat Nabi Musa yang Kisahnya Diterangkan dalam Al-Qur’an



    Jakarta

    Nabi Musa AS merupakan salah satu dari nabi yang perlu kita Imani dan kita pelajari. Nabi Musa AS termasuk ke dalam Ulul Azmi yang artinya memiliki mukjizat melalui kehendak Allah SWT.

    Bisa dikatakan bahwa Nabi Musa AS adalah nabi dengan mukjizat yang banyak dan terkenal. Salah satu kisah mukjizatnya yang tersohor adalah ketika beliau membelah laut merah untuk menenggelamkan Firaun atas kehendak Allah SWT.

    Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut adalah mukjizat dari Nabi Musa AS yang dikisahkan oleh Allah SWT melalui firmanNya dalam surah Al-Qur’an, yaitu:


    Mukjizat Nabi Musa AS

    1. Membelah Laut Merah

    Mengenai mukjizat ini dijelaskan Allah SWT melalui firmanNya dalam Al-Qur’an Surah Taha ayat 77-79, bunyinya:

    وَلَقَدْ اَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْ فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيْقًا فِى الْبَحْرِ يَبَسًاۙ لَّا تَخٰفُ دَرَكًا وَّلَا تَخْشٰى(77

    فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُوْدِهٖ فَغَشِيَهُمْ مِّنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ(78 ۗ

    وَاَضَلَّ فِرْعَوْنُ قَوْمَهٗ وَمَا هَدٰى(79

    Artinya: “Sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa, “Pergilah bersama hamba-hamba-Ku (Bani Israil) pada malam hari dan pukullah laut itu untuk menjadi jalan yang kering bagi mereka tanpa rasa takut akan tersusul dan tanpa rasa khawatir (akan tenggelam).” Fir’aun dengan bala tentaranya lalu mengejar mereka (Musa dan pengikutnya), tetapi mereka (Fir’aun dengan bala tentaranya) digulung ombak laut (yang dahsyat) sehingga menenggelamkan mereka. Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi (mereka) petunjuk.” (QS. Taha: 77-79)

    2. Diturunkan Kitab Taurat

    Menurut Tafsir Quran Kemenag, Allah SWT menjelaskan bahwa Islam sebagai jalan kebenaran yang harus diikuti bukanlah sesuatu yang baru, tetapi telah dibawa oleh para nabi terdahulu, antara lain adalah Nabi Musa AS. Berikut ayatnya:

    ثُمَّ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ تَمَامًا عَلَى الَّذِيْٓ اَحْسَنَ وَتَفْصِيْلًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ بِلِقَاۤءِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ(154 ࣖ

    Artinya: “Kemudian, Kami telah menganugerahkan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, menjelaskan secara rinci segala sesuatu, serta memberi petunjuk dan rahmat agar mereka beriman kepada pertemuan dengan Tuhannya.” (QS. Al-An’am: 154)

    3. Air Keluar Melalui Pukulan Tongkatnya

    Mukjizat ini dikisahkan Allah SWT melalui firmanNya dalam Surah Al-Baqarah ayat 60, yaitu:

    ۞ وَاِذِ اسْتَسْقٰى مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْحَجَرَۗ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۗ قَدْ عَلِمَ كُلُّ اُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۗ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا مِنْ رِّزْقِ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ(60

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Musa memohon (curahan) air untuk kaumnya. Lalu, Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka, memancarlah darinya (batu itu) dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 60)

    4. Tangan Nabi Musa AS Memancarkan Cahaya

    Melalui Tafsir Quran Kemenag, dikisahkan Firaun meminta bukti yang lain, dan dia Nabi Musa AS mengeluarkan tangannya dari dalam lubang leher bajunya, tiba-tiba tangan yang sebelumnya berwarna hitam sesuai warna kulitnya yang kehitam-hitaman, menjadi bercahaya putih gemerlapan, yang tampak jelas bagi orang-orang yang melihatnya ketika itu, bukan karena belang atau penyakit, tetapi putih karena sangat bercahaya.

    Hal ini dikisahkan melalui Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 108, yaitu:

    وَّنَزَعَ يَدَهٗ فَاِذَا هِيَ بَيْضَاۤءُ لِلنّٰظِرِيْنَ(108 ࣖ

    Artinya: “Dia menarik tangannya, tiba-tiba ia (tangan itu) menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihat(-nya).” (QS. Al-A’raf: 108)

    5. Tongkat Berubah Menjadi Ular

    Mukjizat ini dikehendaki oleh Allah SWT ketika Nabi Musa AS melawan penyihir kerajaan milik firaun. Seperti dikisahkan dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 107, bunyinya:

    فَاَلْقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِيْنٌ(107 ۖ

    Artinya: “Maka, dia (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba ia (tongkat itu) menjadi ular besar yang nyata.” (QS. Al-A’raf: 107)

    Melalui tafsir quran kemenag dikisahkan bahwa Nabi Musa AS melemparkan tongkatnya yang ada di tangan kanan ke hadapan firaun dan kaumnya. Seketika, tongkat tersebut melalui kekuasaan Allah SWT berubah menjadi ular raksasa yang bergerak dengan sangat cepat yang terlihat dengan mata kepala secara jelas.

    6. Tanda-tanda yang diberikan Allah SWT kepada Umat Firaun

    Dilansir melalui Tafsir Qashashi Jilid II: Nabi Yusuf AS dan Nabi Musa AS karya Syofyan Hadi melalui Surah Al-Baqarah: 63 & 93 serta An-Nisa: 154 dikisahkahkan, yaitu:

    Allah SWT menurunkan tujuh tanda sebagai bentuk bencana kepada mereka sebelum kehancuran firaun. Tujuh tanda itu adalah:

    • Datang angin topan yang menghancurkan
    • Muncul gerombolan belalang yang menghabisi
    • Muncul kutu yang membuat tidak bisa tidur
    • Muncul katak yang mengganggu makanan mereka
    • Air minum bercampur dengan darah, tidak bisa dikonsumsi
    • Terangkatnya bukit Thursina di atas kepala mereka sebagai saksi sumpah setia mereka

    Itulah mukjizat yang menjadi kelebihan Nabi Musa AS yang diberikan oleh Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapakah Nama Asli Nabi Ilyasa? Masuk Golongan Orang Terbaik di Al-Qur’an



    Jakarta

    Nabi Ilyasa AS adalah salah satu dari 25 nabi yang wajib kita imani. Nabi Ilyasa memiliki sedikit kisah yang diceritakan namun dapat memberikan pelajaran dan hikmah kepada umat muslim.

    Nama asli Nabi Ilyasa AS menurut penulisan di Al-Qur’an pada Surah Al-An’am: 86 adalah Alyasa’. Selanjutnya, pada surah Sad: 48 dituliskan nama beliau adalah Ilyasa’.

    Menurut buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul oleh Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri disebutkan Nabi Ilyasa adalah putra dari paman Nabi Ilyas. Ilyasa adalah rasul dari kalangan Bani Israil dari garis keturunan yang sama dengan Musa, Harun dan Ilyas.


    Dalam Bahasa Ibrani, Nabi Ilyasa AS disebutkan sebagai Eliyahu. Dalam Bahasa Yunan disebutkan Nabi Ilyasa AS disebutkan sebagai Elias, sama seperti terjemahan dalam Bahasa Indonesia.

    Nabi Ilyasa AS adalah salah satu dari beberapa nabi yang nama dan kisahnya disebutkan dalam 3 agama berbeda, yaitu: Islam, Kristen, dan Yahudi. Hal yang membuat menarik adalah kisah Nabi Ilyasa AS tidak bisa dipisahkan dari kisah Nabi Ilyas AS yaitu pendahulunya.

    Masa Kecil Nabi Ilyasa AS

    Dalam buku 25 Nabi dan Rasul yang ditulis oleh Nurul Ihsan disebutkan bahwa Nabi Ilyasa AS lahir dari kaum Bani Israil yang saat itu dituntun oleh Nabi Ilyas AS atas perintah Allah SWT. Nabi Ilyasa lahir dari seorang perempuan yang rumahnya dijadikan tempat berlindung dan bersembunyi oleh Nabi Ilyas AS atas kejaran kaumnya.

    Umat Nabi Ilyas AS sangat kejam dan durhaka kepada pesan yang disampaikan olehnya. Meskipun demikian, dengan tekanan yang ada beliau tetap berdakwah secara lembut kepada kaumnya.

    Ketika Nabi Ilyasa AS kecil, beliau mengalami sakit yang cukup sulit disembuhkan. Oleh karena itu, Nabi Ilyas AS berdoa kepada Allah SWT untuk kesembuhan Nabi Ilyasa AS.

    Doa seorang nabi ternyata langsung dikabulkan oleh Allah SWT sehingga Nabi Ilyasa AS langsung sembuh dari sakitnya. Singkat cerita, Nabi Ilyasa AS selalu mendampingin kemanapun Nabi Ilyas AS pergi berdakwah.

    Kisah Kenabian Nabi Ilyasa AS

    Menurut Tafsir Kemenag, Allah menyebutkan bahwa Nabi Ilyasa AS merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim. Diolah dari tafsir Kemenag dalam Surah Sad: 48 bahwa Nabi Ilyasa AS termasuk orang yang paling baik yang dipilih oleh Allah SWT untuk membimbing kaumnya agar taat kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan.

    Nabi Ilyasa AS melanjutkan perjuangan dakwah yang sebelumnya dilaksanakan Nabi Ilyas AS. Nabi Ilyasa AS berdakwah kepada Bani Israil yang saat itu sedang ramai menyembah berhala.

    Ba’labak adalah sebutan daerah yang ditugaskan Allah SWT kepada Nabi Ilyasa AS untuk melaksanakan dakwahnya. Penduduk tersebut secara berangsur pada zaman dakwah Nabi Ilyas AS mulai mendapatkan hidayah dan mengikuti seruannya untuk beriman kepada Allah SWT.

    Setelah Nabi Ilyas AS wafat, kemudian masyarakat Ba’labak kembali ke kemungkaran dan tidak lagi beriman kepada Allah SWT.

    Keburukan masyarakat Ba’labak inilah yang menjadi tantangan bagi Nabi Ilyasa AS dalam masa berdakwahnya dari awal kenabian hingga masa akhir kenabiannya yaitu ketika beliau wafat. Nabi Ilyasa dengan tidak kenal lelah tetap berdakwah dan menyerukan ajaran Allah SWT dengan lembut dan berusaha untuk mengajak kaumnya untuk kembali ke jalan yang lurus.

    Hingga menjelang akhir kenabian Nabi Ilyasa AS, Bani Israil yang dipandu oleh Nabi Ilyasa AS masih tidak mau untuk mendengar dan mengikuti ajakan Nabi Ilyasa AS. Hal ini mengakibatkan Allah murka dan memberikan bencana kekeringan yang luar biasa.

    Kesabaran yang dikisahkan oleh berbagai riwayat inilah yang mungkin menjadi penyebab Allah SWT memasukan nama Ilyasa sebagai golongan orang yang paling baik di dunia Wallahu a’lam bish-shawabi. Semoga kisah ini menambah kesabaran serta keimanan kita kepada Allah SWT ya, detikers!

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com