Blog

  • Ini Sosok Nabi yang Disebut Abul Anbiya



    Jakarta

    Abul Anbiya merupakan sebuah gelar yang artinya bapak para Nabi. Nabi yang disebut Abul Anbiya adalah Nabi Ibrahim AS.

    Muhammad Sholikhin dalam buku The Power of Sabar menjelaskan mengenai kisah Nabi Ibrahim AS yang digelari sebagai Abul Anbiya (bapak para Nabi) sekaligus sebagai Khaliluulah (kekasih Allah).

    Di dalam Al-Qur’an nama Nabi Ibrahim AS disebut sebanyak 69 kali, yang menyebar dalam 25 surah, dan Al-Qur’an mengabadikan namanya dalam surah ke-14 yaitu surah Ibrahim.


    Ali Amrin al-Qurawy dalam buku Koleksi Hafalan Penting dari Lahir sampai Mati menjelaskan lebih lengkap mengenai kisah Nabi Ibrahim AS.

    Menurut para ulama, Nabi itu jumlahnya sangat banyak bahkan ada ribuan bahkan ratusan ribu. Sedangkan, jumlah Rasul itu hanya 25 orang dan semuanya disebut oleh kitab suci Al-Qur’an al-Karim tidak terkecuali dengan Nabi Ibrahim AS.

    Nabi Ibrahim AS pada masa itu membawa ajaran “agama hanif”. Mengenai keistimewaan Nabi Ibrahim AS tersebut diriwayatkan dari Abu Muhammad bin Ajrah RA berkata,

    “Rasulullah SAW keluar kepada kami, lalu saya berkata: ‘Wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui bagaimana kami memberi salam kepadamu, maka bagaimana kami bersholawat untukmu?’ Maka beliau bersabda, ‘Katakanlah: ‘Ya Allah! Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

    Nasab Nabi Ibrahim hingga Disebut Abul Anbiya

    Menurut Muhammad Ash-Shallabi dalam buku Ibrahim Khalilullah: Da’iyah At-Tuhid wa Din Al-Islam wa Al-Uswah Al-Hasanah sebagaimana diterjemahkan oleh Muhammad Mishah, Ibrahim merupakan nama yang berasal dari bahasa Suryani, yang berarti “Bapak yang Penyayang”.

    Sedangkan dalam bahasa Ibrani, Ibrahim adalah nama Kombinasi dari dua kata yaitu ab yang berarti ayah dan raham, yang berarti kelompok atau massa atau jumlah yang besar seperti kata riham dalam bahasa Arab.

    Nabi Ibrahim AS adalah leluhur dan bapak para nabi karena dia merupakan pemimpin dakwah kenabian dalam dunia manusia seluruhnya. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman,

    وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖۗ هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَۗ هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗهُوَ مَوْلٰىكُمْۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ࣖ ۔

    Artinya: “Berjuanglah kamu pada (jalan) Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu, yaitu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan (begitu pula) dalam (kitab) ini (Al-Qur’an) agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah pada (ajaran) Allah. Dia adalah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS Al-Hajj: 78)

    Semua nabi bani Israil merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim AS, karena mereka adalah anak-anak dari Nabi Yaqub AS bin Ishaq AS yang mana Nabi Ishaq AS merupakan putra dari Nabi Ibrahim AS.

    Jadi, dari Nabi Ibrahim AS bercabang pohon kenabian hingga penutup para Rasul merupakan keturunannya lantaran beliau merupakan keturunan Nabi Ismail AS. Allah SWT juga berfirman,

    وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَجَعَلْنَا فِيْ ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتٰبَ وَاٰتَيْنٰهُ اَجْرَهٗ فِى الدُّنْيَا ۚوَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ

    Artinya: “Kami anugerahkan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’qub. Kami jadikan pada keturunannya kenabian dan kitab serta Kami berikan kepadanya balasan di dunia. Sesungguhnya di akhirat dia benar-benar termasuk orang-orang saleh.” (QS Al-Ankabut: 27)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Hawa Membujuk Nabi Adam Makan Buah Terlarang, Benarkah?



    Jakarta

    Nabi Adam dan Hawa diusir dari surga setelah makan buah khuldi. Banyak yang meyakini bahwa Hawa sempat membujuk Adam makan buah ini sebelum akhirnya mereka diusir dari surga.

    Nabi Adam merupakan manusia pertama yang diciptakan Allah SWT. Kemudian diikuti penciptaan Hawa yang ditakdirkan sebagai istri Nabi Adam. Banyak kisah antara keduanya yang terkenal hingga saat ini.

    Kisah tentang Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang pun dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 22


    فَدَلَّىٰهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءَٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ ٱلْجَنَّةِ ۖ وَنَادَىٰهُمَا رَبُّهُمَآ أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ

    Artinya: Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

    Benarkah Hawa Membujuk Nabi Adam?

    Mengutip buku Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa beberapa ulama menafsirkan kalau Hawa lebih lebih dulu memakan buah pohon itu sebelum Adam dan ia pula yang mendesak Adam untuk memakannya. Wallahu a lam.

    Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut ini mengandung makna seperti di atas. Diriwayatkan dari Basyar bin Muhammad, dari Abdullah, dari Ma’mar, dari Hamam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW: “Kalau bukan karena Bani Israil, niscaya tidak ada daging yang rusak. Kalau bukan karena Hawa, niscaya tidak akan ada wanita yang mengkhianati suaminya. ” (HR. Bukhari)

    Bukhari meriwayatkan hadis ini secara tunggal. Hadis ini juga diriwayatkan di dalam kitab Ash-Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari hadis riwayat Abdurrazaq, dari Ma’mar, dari Hamam, dari Abu Hurairah dengan redaksi hadits seperti di atas.

    Di samping itu, diriwayatkan juga oleh Ahmad dan Muslim dari Harun bin Ma’ruf, dari Abu Wahab, dari Amr bin al-Harits, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah dengan redaksi hadits seperti di atas.

    Tipu Daya Iblis Membujuk Adam dan Hawa Makan Buah Terlarang

    Masih dalam buku yang sama, Ibnu Katsir turut menjelaskan bahwa di dalam kitab Taurat yang berada di tangan para Ahli Kitab dijelaskan: “(Makhluk) yang menunjukkan kepada Hawa untuk memakan buah pohon itu adalah seekor ular dalam rupa yang sangat indah dan bertubuh besar. Pada
    akhirnya, Hawa memakan buah itu karena terpengaruh oleh tipu muslihatnya. Adam juga ikut memakannya.”

    Di dalam kitab Taurat itu sama sekali tidak disebutkan nama Iblis yang menunjukkan dan membujuk Hawa untuk makan buah terlarang.

    Selanjutnya, diceritakan lebih lanjut: “Seketika itu juga, mata keduanya menjadi terbuka. Keduanya baru menyadari kalau tubuhnya masing-masing dalam keadaan telanjang. Selanjutnya, mereka berdua menemukan daun-daun pohon tin. Keduanya lalu menganyam daun-daun itu untuk dijadikan sebagai penutup tubuh. Jadi, Adam dan Hawa masih dalam keadaan telanjang ketika berada di dalam surga.”

    Berkaitan dengan hal ini, Wahab bin Munabbih berkata, “Pakaian keduanya (Adam dan Hawa) adalah cahaya yang menutupi kemaluan mereka berdua.”

    Peristiwa ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf Ayat 27:

    يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ كَمَآ أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ ٱلْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَٰتِهِمَآ ۗ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوْلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

    Artinya: Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

    Ibnu Abi Hatim berkata, “Ali bin Hasan bin Askab telah menceritakan kepada kami, Ali bin Ashim telah menceritakan kepada kami, dari Said bin Abi Arubah, dari Qatadah, dari al-Hasan, dari Ubay bin Ka’ab bahwa Rasulullah bersabda:

    “Sesungguhnya, Allah telah menciptakan Adam dalam bentuk seorang laki-laki yang tubuhnya sangat tinggi dan rambutnya sangat lebat. Tubuhnya seperti pohon kurma yang menjulang sangat tinggi (nakhlah sahúq). Ketika beliau memakan buah pohon itu, terlepaslah pakaian dari tubuhnya. Hal pertama yang tampak dari pandangan mata beliau adalah auratnya. Saat beliau melihat auratnya, beliau merasa sangat tertekan di dalam surga. Rambut beliau dipegang oleh pohon itu dan beliau melepasnya. Selanjutnya, Allah Yang Mahamulia dan Mahatinggi memanggil beliau: ‘Engkau hendak lari dari Ku, wahai Adam?’ Ketika beliau mendengar suara Tuhannya, beliau menjawab: Tidak, wahai Tuhanku, tetapi aku merasa malu.”

    Ats-Tsauri menceritakan dari Ibnu Abi Laili, dari Minhal bin Amru, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas berkaitan dengan firman Allah: “Dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.” (QS. Al-A’raf: 22)

    Maksud dari daun-daun surga adalah daun pohon tin.

    A-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur riwayat Muhammad bin Ishaq, dari Hasan bin Dzakwan, dari Hasan al-Bashri, dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya, kakek moyang kalian (Adam), tubuhnya seperti pohon kurma yang sangat tinggi hingga mencapai enam puluh hasta. Rambutnya sangat lebat hingga menutupi auratnya. Setelah beliau melakukan kesalahan di surga, tampaklah baginya auratnya. Beliau pun keluar dari surga dan menjumpai sebatang pohon. Pohon itu lalu memegang ubun-ubun beliau. Selanjutnya Tuhannya berseru: ‘Engkau melarikan diri dari-Ku, wahai Adam? Adam menjawab: Tidak, wahai Tuhanku. Akan tetapi, aku merasa malu berkaitan dengan peristiwa yang telah menimpa diriku.”

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Sosok Sahabat Nabi yang Jasadnya Utuh karena Rajin Berpuasa



    Jakarta

    Abu Thalhah namanya, sahabat Nabi Muhammad SAW yang satu ini sangat rajin melaksanakan ibadah puasa. Dari Anas bin Malik dikatakan Abu Thalhah selalu berpuasa sepeninggal Rasulullah SAW selama 40 tahun.

    Menurut buku Ensiklopedia Sahabat Rasulullah yang ditulis oleh Wulan Mulya Pratiwi dkk, Abu Thalhah tidak berpuasa kecuali pada hari-hari yang diharamkan atau ketika sedang sakit. Selain rajin berpuasa, Abu Thalhah juga tidak pernah ketinggalan salat malam dan jihad di jalan Allah.

    Abu Thalhah tidak pernah letih menegakkan ajaran Allah SWT, bahkan ketika beliau berusia lanjut dan renta. Meski anak-anaknya menasehati Abu Thalhah, ia tetap bertekad untuk jihad dan mengarungi lautan bersama pasukan muslim.


    Anak dari Abu Thalhah berkata:

    “Semoga Allah merahmatimu wahai ayah kami. Kau sekarang sudah tua sekali. Kau sudah berjuang bersama Rasulullah, Abu Bakar, Umar, kenapa kau sekarang tidak istirahat saja dan biarkan kami yang berjihad?”

    Lantas, Abu Thalhah membalas melalui firman Allah SWT dalam surat At Taubah ayat 41, berikut artinya:

    ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

    Arab latin: Infirụ khifāfaw wa ṡiqālaw wa jāhidụ bi`amwālikum wa anfusikum fī sabīlillāh, żālikum khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

    Artinya: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui,”

    Sayangnya, Abu Thalhah meninggal dalam perjalanan tersebut. Saat itu, para pasukan muslim tidak menemukan pulau untuk menguburkan jenazahnya.

    Selama tujuh hari kaum muslimin mencari pulau, jenazah Abu Thalhah tetap utuh dan tidak berubah. Jasadnya terlihat seperti orang yang tertidur.

    Khalifa Bisma Sanjaya dalam buku Bahagia di Masa Susah mengisahkan Abu Thalhah wafat dalam keadaan menjalani ibadah puasa. Jihad yang hendak dilakukan olehnya kala itu berperang di lautan pada masa Khalifah Utsman bin Affan.

    Mengutip NU Online, jenazah Abu Thalhah tetap utuh karena rajin berpuasa. Bahkan semasa hidupnya, ia terus menegakkan dan memuliakan agama Allah SWT.

    Adapun, beberapa perang yang diikuti oleh Abu Thalhah ialah Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Hunain. Bahkan pada Perang Badar beliau memiliki andil yang cukup besar bagi kemenangan kaum muslimin.

    Sementara di Perang Uhud, Abu Thalhah tergolong sebagai pahlawan yang tetap bertahan bersama Rasulullah SAW dan membelanya dari kepungan kaum musyrik. Lalu pada Perang Hunain, Abu Thalhah berhasil membunuh dua puluh orang kafir dan mendapat harta rampasan dari mereka.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Lelaki Pembunuh 100 Orang yang Jadi Ahli Surga



    Jakarta

    Manusia tak luput dari kesalahan dan dosa, namun Allah SWT Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang bertaubat. Seperti kisah lelaki yang telah membunuh 100 orang lalu ia memilih untuk bertobat.

    Mengutip buku Berbuat Dosa tapi Masuk Surga oleh Muhammad Akrom dikisahkan dari Rasulullah SAW melalui hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri.

    Diceritakan, pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Kemudian ia ingin bertobat dan ia mencari penduduk bumi yang paling alim.


    Singkat cerita, kemudian ia ditunjukkan kepada salah seorang Rahib dari kalangan bani Israil. Ia pun langsung mendatanginya.

    Kepada Rahib, ia mengatakan bahwa telah membunuh 99 orang. Lalu ia bertanya, “Apakah tobat saya itu akan diterima?”

    Lantas Rahib menjawab: “Tidak.” Maka langsung dibunuh Rahib itu sehingga genap yang dibunuhnya 100 orang.

    Kemudian lelaki itu kembali mencari penduduk bumi yang paling alim, lalu ia ditunjukkan kepada seorang alim (ulama).

    Kepada orang alim tersebut, ia berkata bahwa telah membunuh 100 orang. Lalu, ia bertanya, “Apakah tobat saya itu akan diterima?” Orang alim itu menjawab: “Ya, dan apa yang menghalangi antara dirinya dan tobat.”

    Alim ulama itu lalu menyuruhnya pergi ke suatu daerah yang terdapat banyak orang yang beribadah kepada Allah SWT. Ia memerintahkan untuk beribadah bersama orang-orang itu dan melarangnya kembali ke daerah itu karena adalah lingkungan yang buruk.

    Maka berangkatlah ia ke daerah itu untuk beribadah. Tiba-tiba di tengah perjalanan ia mati! Maka bertengkarlah Malaikat Rahmat dengan Malaikat Azab untuk memperebutkan siapakah yang lebih berhak mengatasi nasib orang ini.

    Malaikat Rahmat berkata, “Dia telah datang kepada kami, untuk menghadap kepada Allah Yang Maha Tinggi.” Lalu Malaikat Azab berkata, “Dia tidak pernah berbuat kebaikan sama sekali.”

    Akhirnya datanglah malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat itu. Lantas kedua malaikat itu mengangkatnya sebagai hakim, kemudian malaikat yang terakhir ini berkata, “Sekarang ukurlah antara jarak yang sudah tempuh dengan jarak yang akan dituju, mana di antara dua daerah itu yang lebih dekat?” lalu diukur dan nyata lebih dekat pada kota yang dituju, lalu diambil oleh Malaikat Rahmat.

    alam hadits lain diterangkan, ketika kedua malaikat itu sedang mengukur jarak, Allah memerintahkan kepada bumi yang berada di antara tempat itu dengan tempat yang dituju menjadi lebih dekat, bedanya hanya satu jengkal. (HR Bukhari dan Muslim masing-masing dalam Shahih-nya)

    Dalil tentang Tobat

    Allah SWT Maha Penyayang dan menerima semua hambanya yang tobat dengan sungguh-sungguh. Dalam Al-Qur’an ada beberapa surat yang menjelaskan bahwa Allah SWT Maha Menerima Tobat.

    Salah satunya termaktub dalam surat Al- Maidah ayat 39:

    فَمَن تَابَ مِنۢ بَعْدِ ظُلْمِهِۦ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: “Maka barang siapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya orang mukmin bila melakukan dosa di hatinya diberi bintik hitam. Bila bertaubat dan mau meninggalkannya dan minta ampun kepada Allah (dan membaca istighfar) maka hatinya mengkilat lagi. Bila tidak bertaubat dan menambah dosanya maka bertambah bintik hitamnya sehingga menutupi hatinya.

    Itulah yang diberi nama arran yang disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Muthaffifin ayat 14:

    كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

    Artinya: Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

    Ali bin Thalib berkata : “Sesungguhnya iman itu terlihat seperti sinar yang putih, apabila seorang hamba melakukan kebaikan, maka sinar tersebut akan tumbuh dan bertambah sehingga hati (berwarna) putih. Sedangkan kemunafikan terlihat seperti titik hitam, maka bila seorang melakukan perkara yang diharamkan, maka titik hitam itu akan tumbuh dan bertambah hingga hitamlah (warna) hati”, kemudian membaca ayat Allah : (كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ) QS Al-Muthaffifin ayat 14.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Kisah Nabi Muhammad di Bulan Ramadan



    Jakarta

    Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling mulia bagi umat Islam, karena pada bulan ini berbagai berkah dan rahmat diberikan oleh Allah SWT. Bulan Ramadan juga sebagai saksi dari peristiwa besar dan penting yang dialami Nabi Muhammad SAW.

    Salah satu kisah Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadan adalah kala beliau menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Pendapat terkuat menyebut, peristiwa itu terjadi pada 17 Ramadan. Berikut selengkapnya.

    Kisah Nabi Muhammad di Bulan Ramadan

    1. Nabi Muhammad Menerima Wahyu Pertama

    Deni Darmawan dalam buku Keajaiban Ramadan mengatakan bahwa Allah SWT menambahkan kemuliaan bulan Ramadan dengan menurunkan Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah ad-Dukhan ayat 3,


    اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan.”

    Menurut hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menerima wahyu dalam dua keadaan. Pertama, terdengar seperti suara lonceng yang berbunyi keras dan dikatakan bahwa ini cara paling berat bagi Rasulullah.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Muzammil ayat 5:

    إِنَّا سَنُلْقِى عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

    Artinya:” Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.”

    Kedua, dikatakan bahwa Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW dalam keadaan seperti manusia biasa, menyerupai seorang laki-laki. Jibril mendatangi dengan berkata iqra` bismi rabbikallażī khalaq khalaqal-insāna min ‘alaq iqra` wa rabbukal-akram allażī ‘allama bil-qalam ‘allamal-insāna mā lam ya’lam (QS Al ‘Alaq: 1-5)

    Al-Qur’an diturunkan secara bertahap, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan secara sekaligus. Al-Qur’an itu dua kali diturunkan. Pertama, diturunkan secara sekaligus pada malam Lailatulqadar ke Baitul Izzah di langit dunia.

    Kedua, diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Al-Qurtubi menukil riwayat dari Muqatil bin Hayyan bahwa menurut kesepakatan, Al-Qur’an turun langsung sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia dan secara berangsur-angsur diturunkan ke bumi.

    Dikatakan, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad SAW dan orang-orang yang beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah SWT.

    2. Nabi Muhammad Memenangkan Perang Badar

    Mustafa Murrad dalam buku ‘Umar ibn al-Khaththab sebagaimana diterjemahkan Ahmad Ginanjar Sya’ban dan Lulu M. Sunman mengisahkan bahwa Perang Badar terjadi pada suatu senja di hari ke-8 bulan Ramadan tahun ke-2 Hijriah. Umat Islam meninggalkan rumah mereka dan menyatakan ikut membela Rasulullah SAW melawan kaum Quraisy.

    Suara gemuruh dan ringkik kuda bercampur aduk dengan suara pedang, tombak, perisai yang silih beradu. Debu lembah berpasir Badar membumbung meliut-liut bersamaan dengan muncratan darah.

    Perang dahsyat itu akhirnya dimenangkan oleh pasukan Muhammad SAW. Mereka berhasil memukul mundur dan menjadikan pasukan Makkah terpecah dan lari kocar-kacir. Dari Perang Badar inilah, umat Islam memperoleh kemenangan pertamanya sekaligus menjadi tonggak eksistensi dakwah Islam.

    Hal itu dapat dibuktikan dengan kekuatan umat Islam yang setelah lebih dari tiga belas tahun ditindas oleh kaum Quraisy akhirnya menang. Tentu saja kemenangan ini mendorong umat Islam untuk semakin mengukuhkan dakwah dan meraih kemenangan-kemenangan berikutnya.

    3. Nabi Muhammad Melakukan Pembebasan Kota Makkah

    Masih dalam buku yang sama diceritakan, hingga tahun ke-8 Hijriah, pasukan muslim telah beberapa kali memenangkan pertempuran hingga membuat pengaruh agama Islam kian meluas. Sementara, kaum Quraisy kian melemah, bahkan beberapa klan Arab banyak yang bergabung dengan pasukan Nabi Muhammad SAW dan memeluk agama Islam.

    Traktat perdamaian dan gencatan senjata Hudaibiyah, yang semula ditandatangani pihak umat Islam dan Quraisy, pada akhirnya dilanggar oleh pihak Quraisy ketika mereka mempersenjatai klan Bakr untuk menyerang Khuza’ah yang memilih bergabung dengan pasukan muslim.

    Pada hari kesembilan bulan Ramadan, matahari yang mulai merangkak menuju titik kulminasi Kota Madinah tampak bersiap. Sepuluh ribu orang tampak berbaris dan panas yang memanggang dan perut perih karena puasa tidak menyurutkan semangat mereka.

    Setelah memanjatkan doa dan berkhotbah sebentar, Rasulullah SAW kemudian memimpin pasukan itu bergerak menuju Makkah. Ketika sampai di perbatasan Rasulullah SAW meminta untuk menyalakan api di atas bukit-bukit yang mengelilingi Makkah.

    Penduduk Makkah ketakutan melihat besarnya pasukan Nabi Muhammad SAW dan menganggap bahwa ribuan obor itu akan membakar kota mereka. Kalangan Quraisy pun tak mampu menghadapi pasukan tersebut dan mereka hanya bisa pasrah.

    Hingga tiba memasuki kota Makkah dengan penuh wibawa dan tanpa adanya perlawanan serta pertumpahan darah. Mula-mula, Beliau memasuki pelataran Ka’bah, bertawaf, mencium hajar aswad, bersembahyang di Ka’bah, dan menghancurkan ratusan patung dewa-dewa Arab di sekitar rumah ibadah itu.

    Setelah itu Rasulullah SAW pun menerima baiat sumpah setia dari penduduk Makkah. Tak lebih dari dua tahun kemudian, sejumlah utusan klan tiba dari seluruh penjuru semenanjung Arab untuk menyatakan bergabung dengan Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini pula (10H/632M), Rasulullah SAW melaksanakan ibadah haji yang terakhir.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Inilah Adan dan Salsa, Si Kembar Penghafal Al-Qur’an Sejak 2 SD



    Jakarta

    Adan dan Salsa adalah dua saudara kembar yang sama-sama berprestasi di bidang hafalan Al-Qur’an. Si kembar yang baru berusia sepuluh tahun tersebut ternyata sudah mulai diperkenalkan orang tuanya dengan Al-Qur’an sejak mereka berusia tiga tahun.

    Menurut penuturan sang ibu, Rina R. Lestari, kemampuan keduanya dalam membaca Al-Qur’an baru diketahuinya setelah guru dari anak-anaknya tersebut memberi penilaian akademik yang baik bagi keduanya.

    “Dari situ, Umi baru tau anak-anak Umi punya kemampuan untuk membaca Al-Qur’an,” kata sang ibu, dikutip dari HaiBunda, Rabu (29/3/2023).


    Bahkan, baik Adan dan Salsa tidak secara khusus belajar membaca Al-Qur’an untuk menghafal. Sebaliknya, keduanya sama-sama mengkhatamkan Al-Qur’an di usia 5 tahun hingga baru mulai menghafal Al-Qur’an juz 30 pada kelas 2 SD.

    Tidak mengherankan, meski baru berusia 10 tahun, Adan dan Salsa sudah menjuarai berbagai lomba, salah satunya Musabaqah Hidzfil Qur’an (MHQ).

    Ngaji di TPA Sejak 3 Tahun

    Rina mengatakan, anak kembarnya itu sudah belajar mengaji sejak usia 3 tahun di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Mulanya, Rina mulai menyekolahkan anak-anaknya di usia muda untuk tujuan bersosialisasi, namun kedua anaknya justru meraih nilai tertinggi di sana.

    Hasilnya, selama satu semester, Salsa berhasil meraih peringkat 1 dan Adan meraih peringkat 2. Hal inilah yang membuat Rina mengetahui bahwa Adan dan Salsa memiliki minat dan bakat dalam mengaji.

    Mulai dari situlah, Rina terus mendukung mereka untuk mengkhatamkan Iqra hingga Al-Qur’an serta menggali potensi-potensi yang ada dalam diri anak kembarnya. Seperti, mendatangkan guru-guru dari luar TPA untuk mengajarkan bacaan Al-Qur’an yang benar untuk anak-anaknya.

    “Alhamdulillah mereka juga bisa belajar nada,” terang Rina.

    Setelahnya, Adan dan Salsa pun mengikuti banyak lomba Musabaqah Hidzfil Qur’an (MHQ). Awalnya mereka tidak kunjung memenangkan lomba, namun setelah melakukan evaluasi, pada perlombaan berikutnya mereka akhirnya berhasil meraih juara.

    Ikuti Berbagai Perlombaan

    Tidak hanya berprestasi sebagai hafiz quran, Adan dan Salsa juga kerap ambil bagian dalam berbagai macam perlombaan.

    Untuk Saadan Azri Rizqi, begitu nama lengkap Adan, anak lelaki ini sudah mengikuti lomba gerakan salat, lomba mewarnai, lomba dai cilik, lomba olimpiade pendidikan agama dan Al-Qur’an, lomba MTQ, lomba azan, hingga lomba MHQ.

    Sementara Salsa yang bernama lengkap Salsabilla Naaila Risqah, sudah mengikuti beragam perlombaan mulai dari lomba syair, lomba puisi, lomba olimpiade IPA, lomba olimpiade agama dan Al-Qur’an, lomba MTQ, dan lomba MHQ.

    Meski demikian, sang ibunda mengaku, tidak pernah melatih atau membagi waktu untuk kedua anaknya dengan ekstrem yang difokuskan belajar maupun mengikuti beragam perlombaan.

    “Seperti, kalau kita waktunya liburan ya sudah full liburan,” tuturnya.

    Kisah si kembar hafiz quran Adan dan Salsa dapat disimak selengkapnya melalui tayangan Episode 3 Juara Cilik dari HaiBunda yang dapat disaksikan DI SINI!

    (rah/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Darda, Sahabat Nabi yang Merupakan Ahli Hikmah



    Jakarta

    Abu Darda merupakan satu dari sekian banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang kisahnya menginspirasi. Ia merupakan seorang ahli hikmah yang memiliki pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kehidupan yang bersumber dari Al-Qur’an.

    Menurut buku Ibrah Kehidupan yang disusun oleh Mahsun Djayadi, nama lengkap Abu Darda adalah Abu Darda’ Uwaimir bin Amir bin Malik bin Zaid bin Qais bin Umayyah bin Amir bin Adi bin Ka’ab bin Khazraj bin al-Harits bin Khazraj. Sementara Abu Darda atau Uwaimir merupakan panggilan populernya.

    Masuk Islamnya Abu Darda bermula ketika berhalanya dirusak oleh temannya sendiri. Kala itu ia langsung berpikir, jika saja berhala tersebut memang berkuasa tentu dia mampu menyelamatkan dirinya sendiri saat dirusak.


    Dari situlah mulai timbul benih-benih keimanan kepada Allah. Akhirnya, Abu Darda menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah SAW.

    Khalid Muhammad Khalid dalam buku yang bertajuk Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW mengisahkan Abu Darda sebagai seseorang yang tidak pernah berhenti belajar. Dia selalu merenung, berpikir, dan berguru kepada Nabi Muhammad SAW hingga menjadi ahli hikmah.

    Di masa Rasulullah, pendapat Abu Darda sebagai ahli hikmah bahkan menjadi pegangan umat Islam karena ia selalu menyeru kepada kebaikan.

    Semasa kekhalifahan Utsman bin Affan, beliau mengangkat Abu Darda sebagai hakim di Syam. Ia merupakan seseorang dengan penuh pesona, hatinya berisi perasaan cinta pada akhirat, bahkan sehari-harinya beliau membuka majelis-majelis taklim.

    Mengutip dari buku Kisah Seru 60 Sahabat Rasul tulisan Ummu Akbar, Abu Darda berkata,

    “Bila Anda menghendaki saya pergi ke Syam, saya mau pergi untuk mengajarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah kepada mereka serta menegakkan sholat bersama-sama mereka,”

    Utsman lantas menyetujui maksud Abu Darda. Selanjutnya ia berangkat ke Damsyiq dan di sana ternyata masyarakat tenggelam dalam kenikmatan dunia serta hidup bermewah-mewah.

    Keadaan tersebut lantas membuat Abu Darda sedih, ia kemudian memperingati mereka agar tidak melupakan kehidupan akhirat. Sayangnya, masyarakat Damsyiq tidak menyukai sifat Abu Darda, terlebih dengan nasihat-nasihatnya.

    Agar tidak berlarut-larut, Abu Darda lalu mengumpulkan orang-orang di masjid untuk berpidato di hadapan mereka.

    “Wahai penduduk Damsyiq! Kalian adalah saudaraku seagama, tetangga senegeri, dan pembela dalam melawan musuh bersama. Wahai penduduk Damsyiq! Saya heran, apakah yang menyebabkan kalian tidak menyenangi saya? Padahal, saya tidak mengharapkan balas jasa dari kalian. Nasihatku berguna untuk kalian, sedangkan belanjaku bukan dari kalian,” kata Abu Darda.

    Ia berpidato cukup panjang hingga membuat orang-orang yang mendengar menangis. Isak tangisnya bahkan terdengar hingga ke luar masjid.

    “Saya tidak suka melihat ulama-ulama pergi meninggalkan kalian, sementara orang-orang bodoh tetap saja bodoh. Saya hanya mengharapkan kalian supaya melaksanakan segala perintah Allah Taala dan menghentikan segala larangan-Nya. Saya tidak suka melihat kalian mengumpulkan harta kekayaan banyak-banyak, tetapi tidak kalian pergunakan untuk kebaikan. Kalian membangun gedung-gedung yang mewah, tetapi tidak kalian tempati,” beber Abu Darda.

    Sejak hari itu, Abu Darda mengunjungi majelis-majelis masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar. Dia akan menjawab pertanyaan orang yang lalai.

    Suatu hari, ketika Abu Darda sedang berjalan-jalan ia melihat sekelompok orang yang memaki seorang laki-laki. Melihat hal itu, Abu Darda segera menghampiri mereka.

    “Apa yang terjadi?” tanyanya

    “Orang ini jatuh ke dalam dosa besar,” jawab mereka.

    “Seandainya dia jatuh ke dalam sumur, apakah kalian akan membantunya keluar dari sumur itu?” ujar Abu Darda.

    “Tentu saja!” sahut sekelompok orang tersebut.

    “Karena itu, janganlah kalian mencaci dia, tapi ajari dan sadarkan dia. Bersyukurlah kalian kepada Allah yang senantiasa memaafkan kalian dari dosa,” kata Abu Darda menanggapi.

    Orang yang bersalah itu lantas menangis dan bertobat.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nu’aiman, Sahabat Nabi yang Suka Menjahili Rasulullah SAW



    Jakarta

    Nu’aiman adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal suka bercanda. Meski demikian, Nu’aiman pernah ikut serta menjadi bagian pasukan Islam dalam Perang Badar yang dipimpin Rasulullah SAW.

    Dikutip melalui buku Saring Sebelum Sharing karya Nadirsyah Hosen, salah satu kisah Nu’aiman yang menarik untuk diceritakan yakni saat ia mengerjai Rasulullah SAW. Nu’aiman bin Ibnu Amr bin Raf’ah adalah nama lengkapnya. Nu’aiman diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa ia akan memasuki surga dengan keadaan tertawa.

    Saat Nu’aiman Mengerjai Rasulullah SAW

    Kisah ini dimulai ketika Nu’aiman mendatangi Nabi Muhammad SAW dengan membawakan buah-buahan sebagai hadiah. Tak lama kemudian ternyata datanglah seorang penjual buah-buahan yang menagih uang pembayaran buah-buahan tersebut kepada Nabi Muhammad SAW.


    Rasulullah SAW yang terkaget sontak bertanya kepada Nu’aiman, “Bukankah engkau memberikan buah-buah ini sebagai hadiah kepadaku?”

    Tanpa disangka ternyata Nu’aiman berhutang terlebih dahulu kepada penjual buah-buahan tersebut. Ia ternyata berkata kepada penjual tersebut bahwa buah-buahan itu sudah dibebankan tagihan atas nama Rasulullah SAW.

    Nu’aiman menjawab pertanyaan Rasulullah SAW tadi, “Benar, ya Rasulullah, aku sungguh ingin memakan buah-buahan ini bersamamu, akan tetapi aku sedang tidak memiliki uang.”

    Respons suri tauladan umat Islam ini tertawa, lalu ia membayar harga buah yang ditagihkan kepadanya itu.

    Saat Nuaiman ‘Menjual’ Sahabatnya

    Kisah selanjutnya yang juga masih diceritakan dari buku yang sama, dipastikan sumbernya melalui Ibnu Majah. Pada suatu hari Nu’aiman pernah diajak untuk berjualan bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq juga dengan sahabat lainnya ke Negeri Syam. Negeri Syam dapat dikatakan menjadi salah satu negeri paling maju saat itu.

    Salah satu dari sahabat itu namanya adalah Suwaibith bin Harmalah. Dikisahkan ketika hari beranjak siang, Nu’aiman yang sedang merasa kelaparan menghampiri Suwaibith yang saat itu ditugaskan untuk menjaga makanan.

    Suwaibith yang bersikap patuh serta amanah kemudian menolak dengan tegas saat Nu’aiman hendak meminta satu potong roti untuknya. Hingga Nu’aiman berkata, “Kalau memang begitu, artinya kamu setuju saya buat ulah yang membuatmu marah!”

    Ulah yang dimaksudkan oleh Nu’aiman adalah ketika ia bertemu dengan sekelompok kafilah, ia bertanya kepada mereka, “Apakah kalian hendak membeli budak? Saya memiliki budak yang tangkas dan pandai bicara,” ujarnya.

    Kafilah yang tertarik dengan budak yang ditawarkan Nu’aiman itu kemudian membayarnya dengan sepuluh ekor unta. Dengan cerdik seakan membaca masa depan Nu’aiman berkata, “Budak itu nantinya akan berkata, ‘Saya adalah orang merdeka dan bukan budak!’ Apabila demikian, jangan hiraukan perkataannya,”

    Setelah beberapa saat para kafilah itu datang ke tempat Suwaibith berada dan berkata “Kami telah membelimu!” Suwaibith pun menjawab “Dia (Nuaiman) itu pembohong, saya adalah seorang lelaki merdeka!”

    Lalu, para kafilah itu menjawab, “Dia telah mengatakan kepada kami bahwa engkau akan berkata yang sedemekian itu.” Mereka pun menghiraukan perkataan Suwaibith kemudian mengikatkan tali di lehernya dan langsung pergi.

    Ketika beberapa waktu, Abu Bakar yang datang Negeri Syam kemudian diberi tahu akan kejadian tersebut. Ia dan para sahabat pun akhirnya bergegas pergi untuk menemui kafilah untuk menjelaskan kondisi yang sebenarnya.

    Setelah berunding, kafilah pun sepakat untuk mengembalikan Suwaibith dan dikembalikan juga sepuluh ekor unta yang dibayarkan mereka untuk ‘budak’ Suwaibith.

    Setelah beberapa lama, Rasulullah SAW pun juga mendengarkan mengenai kisah ini. Ketika kisah ini diceritakan kepada Rasulullah SAW, beliau merespons dengan tertawa karena kelucuan atas aksi jahil Nuaiman tersebut.un

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Umar bin Khattab Ingin Dimakamkan di Sisi Dua Sahabatnya



    Jakarta

    Umar bin Khattab dikenal sebagai sosok sahabat nabi yang sekaligus pernah menjadi khalifah. Menjelang dirinya wafat, ia punya satu permintaan yang tak ada lagi lebih penting dari hal itu. Ini kisahnya!

    Menukil Kitab Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, Umar bin Khattab memiliki julukan ‘Al-Faruq’. Ia juga diberi gelar ‘Amirul Mukminin’ saat menjabat sebagai khalifah yang menggantikan kepemimpinan Rasulullah SAW dalam persoalan kenegaraan.

    Ketika memangku amanah menjadi khalifah, ia banyak menorehkan prestasi. Seperti berhasil menaklukkan banyak daerah di negeri Syam dan Irak, sehingga wilayah kekuasaan Islam meluas.


    Selain itu, ia yang pertama kali membuat penanggalan Hijriah, mengumpulkan kaum muslim untuk salat Tarawih berjamaah, berkeliling untuk mengontrol rakyatnya, membentuk tentara resmi, hingga membuat undang-undang perpajakan.

    Menjelang penghujung hayatnya, Umar bin Khattab sempat berdoa kepada Allah SWT untuk mengadu akan usianya yang senja dan kekuataannya yang melemah, sementara rakyatnya tersebar luas dan ia khawatir tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

    Sehingga berdoalah ia kepada Allah SWT supaya mewafatkannya dalam keadaan syahid dan bisa dikebumikan di Madinah. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Umar pernah berkata, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu mendapatkan syahadah (mati syahid) di atas jalan-Mu dan wafat di tanah Nabi-Mu.”

    Dan benar saja, Allah SWT yang Maha Mendengar mengabulkan doa Umar bin Khattab. Dirinya wafat setelah dibunuh oleh seorang budak Majusi.

    Kisah Terbunuhnya Umar bin Khattab

    Masih dari Kitab Bidayah wan Nihayah, Umar bin Khattab ditikam seorang hamba sahaya Majusi bernama Abu Lu’lu’ah Fairuz, milik al-Mughirah bin Syu’bah.

    Peristiwa penusukan terjadi pada waktu pagi, tepatnya tanggal 25 Dzulhijjah tahun 23 Hijriah, ketika dirinya memimpin salat Subuh berjamaah. Setelah kejadian, Umar tersungkur dan menunjuk Abdurrahman bin Auf agar menggantikannya menjadi imam salat.

    Kemudian Abu Lu’lu’ah berlari ke belakang sambil menikam orang-orang yang dilaluinya. Sebanyak 13 orang terluka dan enam orang dari mereka tewas. Saat itu, ada seseorang yang melemparkan humus (baju panjang) kepada Abu Lu’lu’ah supaya ia terjerat. Tetapi Abu Lu’lu’ah terlanjur bunuh diri.

    Darah Umar bin Khattab yang kala itu mengalir deras dari luka tusuk, membuat dirinya segera dibawa pulang ke rumah.

    Ketika mengetahui bahwa seorang budak Majusi yang menikamnya, Umar berkata, “Semoga Allah memberikan kejelekan baginya, kami telah menyuruhnya suatu perkara yang baik.”

    Kemudian Umar bin Khattab mewasiatkan agar penggantinya (seorang khalifah) dimusyawarahkan oleh enam orang yang Rasulullah SAW wafat dalam keadaan ridha kepada mereka, yakni Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

    Umar bin Khathab berwasiat kepada orang yang akan menggantikannya untuk berbuat yang terbaik kepada seluruh manusia dengan berbagai tingkatan mereka.

    Akhirnya, Umar bin Khattab wafat tiga hari setelah peristiwa penikaman itu. Ia dimakamkan pada hari Ahad, awal Muharram tahun 24 H.

    Umar Minta Izin Dikebumikan di Sisi Dua Sahabatnya

    Saat Umar bin Khattab dalam keadaan terluka berdarah-darah setelah peristiwa penikaman, dirinya menyuruh Abdullah bin Umar, putranya, untuk mendatangi Ummul Mukminin Aisyah di rumahnya.

    Umar berujar, “Berangkatlah engkau sekarang ke rumah Aisyah Ummul Mukminin dan katakan, ‘Umar bin Khattab menyampaikan salam kepadanya dan jangan kau katakan salam dari Amirul Mukminin. Sebab sejak hari ini, aku tidak lagi menjadi Amirul Mukminin, katakan kepadanya bahwa Umar bin Khattab minta izin agar dapat dimakamkan di samping dua sahabatnya.”

    Maka pergilah Abdullah bin Umar ke rumah Aisyah, dan segera mengucapkan salam untuk izin masuk ke dalam. Ternyata didapati Aisyah sedang duduk menangis.

    Abdullah bin Umar berkata, “Umar bin Khattab mengucapkan salam untukmu dan ia meminta izin agar dapat dikebumikan di sisi kedua sahabatnya.”

    Aisyah menjawab, “Sebenarnya aku menginginkan agar tempat tersebut menjadi tempatku kelak jika mati, tetapi hari ini aku harus mengalah untuk Umar bin Khattab.”

    Ketika Abdullah bin Umar kembali, maka ada seorang yang mengatakan, “Lihatlah Abdullah bin Umar telah datang.” Kemudian Umar bin Khattab berkata, “Angkatlah aku.”

    Salah seorang menyandarkan Umar bin Khattab ke tubuh anaknya, Abdullah bin Umar. Umar lalu bertanya kepada putranya, “Apa berita yang engkau bawa?” Ia menjawab, “Sebagaimana yang engkau inginkan, wahai Amirul Mukminin. Aisyah telah mengizinkan dirimu.”

    Maka Umar berkata, “Alhamdulillah, tidak ada yang lebih penting bagiku selain dari itu. Jika aku wafat maka bawalah jenazahku ke sana dan katakan, ‘Umar bin Khattab minta izin untuk dapat masuk.’ Jika ia (Aisyah) memberikan izin maka bawalah aku masuk, tetapi jika ia menolak, maka bawalah jenazahku ke pemakaman kaum muslimin.”

    Tak lama Umar bin Khattab menemui ajalnya, maka kaum muslim yang hadir kala itu keluar membawa jenazahnya menuju rumah Aisyah. Abdullah bin Umar mengucapkan salam sambil berkata, ‘Umar bin Khattab meminta izin agar dapat masuk.”

    Aisyah menjawab, “Bawalah ia masuk.” Kemudian jenazah Umar bin Khattab dibawa masuk dan dimakamkan di tempat itu bersama kedua sahabatnya, yakni Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

    Diketahui semasa hidupnya Umar bin Khattab sangat dekat dengan Nabi SAW, begitu juga bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib pernah menuturkan kepada Umar, yang dinukil dari sumber yang sama:

    “Demi Allah, aku merasa yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu dengan kedua sahabatmu (Nabi SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq). Aku banyak mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku berangkat bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, aku masuk bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, aku keluar bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.”

    Akhirnya, Umar bin Khattab dikubur di kamar Nabi Muhammad SAW, di samping Abu Bakar Ash-Shiddiq, setelah mendapat izin dari Ummul Mukminin, Aisyah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Adam yang Wafat & Dikafani Kain dari Surga



    Jakarta

    Ketika Nabi Adam AS yang merupakan manusia pertama ciptaan Allah SWT menemui ajalnya, beliau memperoleh perlakuan khusus dari para malaikat.

    Ibnu Katsir dalam bukunya Qashash Al-Anbiya, mengemukakan bahwa Adam AS wafat pada hari Jumat. Di mana kemudian malaikat menemui beliau sambil membawa balsam (wewangian) dan kain kafan dari Allah SWT yang berasal dari surga.

    Jumat adalah hari Adam AS menjemput ajal juga diketahui melalui sabda Nabi SAW yang diriwayatkan Abu Lubabah Al-Badri. Beliau SAW menuturkan: “Penghulu hari (Sayyidul Ayyam) adalah hari Jumat, dan ia adalah seagung-agungnya hari bagi Allah SWT, bahkan lebih agung bagi Allah daripada hari raya Fitri dan Adha.


    Dan pada hari Jumat itu terdapat lima kejadian, yaitu; Allah menciptakan Adam AS, Allah menurunkan Adam ke dunia, Allah mewafatkan Adam, hari Jumat adalah saat yang tidaklah seseorang memohon kepada Allah melainkan pasti dikabulkan selama ia tidak meminta barang yang haram, dan pada hari itu akan terjadi kiamat. Tidak ada malaikat yang dekat kepada Allah, langit, bumi, angin, gunung-gunung, lautan melainkan semuanya mencintai hari Jumat.” (HR Ahmad & Ibnu Majah)

    Kisah Wafatnya Nabi Adam AS

    Masih dari Qashash Al-Anbiya, Ubay bin Ka’ab meriwayatkan hadits mengenai kisah wafatnya Adam AS. Ia berkata:

    “Sesungguhnya ketika menjelang wafatnya, Adam AS berkata kepada anak-anaknya, ‘Wahai anak-anakku, aku menginginkan buah-buahan dari surga.’

    Ka’ab melanjutkan, “Kemudian anak-anak Adam AS pun segera mencari buah-buahan itu untuk ayah mereka. Mereka lalu ditemui oleh para malaikat yang membawa balsam dan kain kafan. Sementara itu, anak-anak Adam AS membawa kapak, pedang, dan golok.

    Para malaikat berkata kepada mereka, ‘Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian cari?’ Mereka menjawab: ‘Ayah kami sedang sakit dan beliau menginginkan buah-buahan dari surga.’

    Para malaikat kembali berujar, ‘Kalian pulang lagi saja. Sesungguhnya, ayah kalian telah mendapatkannya.’

    Setelahnya, para malaikat datang menemui Adam AS. Saat Hawa (istri Nabi Adam) melihat kedatangan mereka, ia mengetahui bahwa mereka adalah para malaikat. Hawa segera berlindung mendekati Adam AS.

    Lalu Adam AS menuturkan, ‘Menjauhlah dariku, sesungguhnya aku datang sebelum kamu. Oleh sebab itu, menjauhlah dari hadapanku dan dari hadapan para malaikat Tuhanku.’

    Tak lama, malaikat mencabut nyawa Adam AS. Kemudian memandikan, mengafani, dan mengolesi tubuhnya dengan wewangian. Selanjutnya, mereka mengubur jenazah beliau ke dalam liang kubur yang telah dipersiapkan.

    Setelah itu, para malaikat berkata: ‘Wahai anak-anak Adam, inilah tata cara (mengurus jenazah) bagi kalian’.” (HR Ahmad dalam kitab Musnad-nya) Ibnu Katsir menyatakan hadits ini bersanad shahih.

    Ibnu Abbas mengutip sumber yang sama, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Para malaikat bertakbir empat kali (saat mensholati jenazah) Adam AS. Abu Bakar bertakbir empat kali (saat mensholati jenazah) Fathimah. Umar bertakbir empat kali (saat mensholati jenazah) Abu Bakar, dan Shuhaib bertakbir empat kali (saat mensholati jenazah) Umar.” (Disebutkan As-Suyuthi dalam kitab Al-Fathul Kabir, 2/316)

    Tempat Nabi Adam AS Dimakamkan

    Dalam Qashash Al-Anbiya dijelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai lokasi makam Adam AS. Menurut pendapat yang masyhur, jenazah beliau dikebumikan di pegunungan yang juga menjadi tempat beliau diturunkan (dari surga), yaitu di Hindi.

    Ada juga yang mengatakan jenazah Adam AS dikubur di Jabal Abu Qubais, sebuah gunung di kawasan Makkah.

    Dikatakan dalam sumber lain, sebelum badai topan dan banjir dahsyat di zaman Nabi Nuh AS, Nuh AS sempat memindahkan jasad Adam AS dan Hawa dalam sebuah peti. Kemudian, jenazah keduanya dimakamkan di Baitul Maqdis. Pandangan ini juga diceritakan oleh Ibnu Jarir.

    Ibnu Asakir meriwayatkan pula dari sebagian perawi, ia berkata, “Kepala (jenazah) Adam AS berada di Masjid Ibrahim, sementara kedua kakinya berada di bebatuan di Baitul Maqdis. Adapun Hawa wafat setahun setelah kematian Adam AS.” Wallahu a’lam.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com