Blog

  • Penyebab Meletusnya Perang Badar, Pertempuran Besar Islam Pertama Kalinya


    Jakarta

    Perang Badar adalah pertempuran besar pertama kali dalam sejarah Islam. Perang yang berlangsung pada 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriyah itu dimenangkan oleh kaum muslimin.

    Ketika perang berlangsung, tentara Islam dan kafir Quraisy tidak imbang. Pasukan muslimin berjumlah 313 orang sementara tentara Quraisy mencapai 1.000 orang lebih.

    Dari segi jumlah, tampaknya mustahil bagi umat Islam untuk memenangkan Perang Badar. Namun, atas kuasa Allah, para malaikat yang jumlahnya ribuan turun dan menjadi pasukan dalam pertempuran besar itu.


    Dalam surat Ali Imran ayat 123-126, Allah SWT bersabda:

    وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَن يَكْفِيَكُمْ أَن يُمِدَّكُمْ رَبُّكُم بِثَلَٰثَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُنزَلِينَ بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُم بِهِۦ ۗ وَمَا ٱلنَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَكِيمِ

    Artinya: “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,”

    Menukil dari Sirah Nabawiyah susunan Abdul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi, Nabi Muhammad memohon pertolongan kepada Allah SWT seraya berkata, “Ya Allah! Kaum Quraisy telah datang dengan pasukan dan segala kecongkakakannya. Mereka datang untuk memerangi-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, jika golongan ini (kaum muslim) binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka Bumi ini. Ya Allah, laksanakanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, kami mohon pertolongan-Mu,”

    Lalu, apa penyebab meletusnya Perang Badar?

    Penyebab Pecahnya Perang Badar

    Menurut buku Dua Pedang Pembela Nabi SAW karya Rizem Aizid, penyebab pecahnya Perang Badar ialah ketidakadilan yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy. Hal ini menyebabkan kaum muslimin harus hijrah dari Makkah ke Madinah demi menghindari tindakan zalim yang dilakukan kaum Quraisy.

    Sayangnya, ketegangan dan bentrok antar keduanya semakin memanas. Bahkan setelah hijrah pun, kaum muslimin dan kafir Quraisy tetap berseteru.

    Ketegangan yang makin memuncak itu menjadi lahirnya perang antara keduanya. Perang besar dimulai dengan Perang Badar.

    Kemudian, penyebab lain dari pecahnya Perang Badar ini adalah balas dendam kafir Quraisy terhadap kaum muslimin. Sebelum perang besar pertama itu berlangsung, telah terjadi ‘perang’ antara keduanya dengan skala kecil, bahkan tidak dapat disebut sebagai perang.

    Contohnya ketika Rasulullah memimpin 200 tentara untuk menyerang kabilah besar kafir Quraisy. Tak lama setelah itu, kaum Quraisy membalas dengan melancarkan serangan ke Madinah yang bertujuan untuk mencuri ternak kaum muslim.

    Penamaan Yaum al-Furqan pada Hari Perang Badar

    Merujuk pada sumber yang sama, saking pentingnya Perang Badar sampai-sampai Allah SWT menamai hari berlangsungnya pertempuran itu dengan Yaum al-Furqan yang berarti hari perbedaan. Pada saat itu, Allah SWT ingin membedakan antara yang hak dan batil.

    Peperangan hebat itu berlangsung selama dua jam. Pasukan muslim berhasil menghancurkan garis pertahanan tentara Quraisy yang menyebabkan mereka mundur secara berurutan.

    Allah SWT meninggikan derajat kaum muslimin dengan memenangkan peperangan yang dari segi jumlah sangat timpang.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pengangkatan Utsman bin Affan sebagai Khalifah, Menggantikan Umar bin Khattab



    Jakarta

    Utsman bin Affan adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk ke dalam golongan Assabiqunal Awwalun. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas dan dermawan.

    Utsman berasal dari keluarga suku Quraisy Bani Umayyah dan hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliyah. Mengutip dari buku Biografi Utsman bin Affan susunan Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi, Utsman bin Affan merupakan laki-laki keempat yang memeluk Islam setelah Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah.

    Perbedaan usia Utsman dan Rasulullah SAW hanya terpaut 6 tahun lebih muda. Beliau juga merupakan khalifah ketiga sesudah masa kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.


    Menurut buku Kitab Sejarah Lengkap Khulafaur Rasyidin tulisan Ibnu Katsir, kala itu Umar bin Khattab menetapkan perkara pengangkatan khalifah di bawah Majelis Syura yang anggotanya berjumlah 6 orang. Mereka terdiri atas Utsman bin Affan, Ali bin Abi thalib, Thalhah bin Ubaidillah, az-Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash serta Abdurrahman bin Auf.

    Umar merasa sangat berat menentukan salah seorang di antara mereka yang menjadi khalifah setelahnya. Ia berkata,

    “Aku tidak sanggup untuk bertanggung jawab tentang perkara ini, baik ketika aku hidup maupun setelah aku mati. Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap kalian maka Dia akan membuat kalian bersepakat untuk menunjuk seorang yang terbaik di antara kalian sebagaimana telah membuat kalian sepakat atas penunjukan orang yang terbaik setelah nabi kalian,”

    Akhirnya dilakukan musyawarah usai Umar bin Khattab wafat. Terpilihlah tiga kandidat, yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

    Dari keenam anggota Majelis Syura, tidak ada satu pun yang mengajukan diri untuk dibaiat. Begitu pun dengan Ali dan Utsman, sehingga musyawarah ditunda.

    Kemudian, di hari kedua Abdurrahman bin Auf berkeliling Madinah untuk menjumpai para sahabat. Ia meminta pendapat kepada mereka.

    Di malam hari ketiganya, Abdurrahman bin Auf memanggil Zubair bin al-Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqash, mereka lalu bermusyawarah. Abdurrahman memandang Ali dan membacakan syahdatain sambil berkata memegang tangannya,

    “Engkau punya hubungan dekat dengan Rasulullah, dan sebagaimana diketahui engkau pun lebih dulu masuk Islam. Demi Allah, jika aku memilihmu engkau harus berbuat adil. Dan jika aku memilih Utsman, engkau harus patuh dan taat. Wahai Ali, aku telah berkeliling menghimpun pendapat dari berbagai kalangan dan ternyata mereka lebih memilih Utsman. Aku berharap engkau menerima ketetapan ini,”

    Ali bin Abi Thalib lantas menjadi orang kedua yang berkata sama kepada Utsman untuk membaiatnya sebagai khalifah menggantikan Umar bin Khattab. Kala itu, kaum muslimin yang hadir serempak membaiat Utsman sebagai khalifah.

    Utsman diangkat menjadi khalifah ketiga dan disebut sebagai yang tertua. Pada saat pembaiatan, ia berusia 70 tahun.

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Cinta Khadijah dan Rasulullah, Paling Romantis dalam Islam


    Jakarta

    Kisah cinta Sayyidah Khadijah RA dengan Nabi Muhammad SAW tidak kalah romantis dari Romeo dan Juliet. Kecintaan Rasulullah SAW kepada istri pertamanya itu sangat dalam, hingga saat kepergian Khadijah RA membuat dirinya bersedih dan menjadi Amu al-Huzn (tahun kesedihan) bagi Rasulullah SAW.

    Muhammad Ibnu Saad dalam bukunya The Women of Madina, Khadijah binti Khuwailid merupakan istri pertama Rasulullah SAW dan merupakan satu-satunya istrinya yang tidak ia poligami. Sebelum menikahi Rasulullah SAW, Khadijah RA telah berhasil membangun bisnisnya sendiri dan menjadi wanita sukses.

    Khadijah RA dikenal sebagai perempuan yang lahir dari keluarga yang terhormat dan mulia. Masyarakat pada zaman Jahiliyah bahkan memberinya julukan at-Thahirah, yaitu seorang wanita yang suci.


    Dalam beberapa riwayat menyebutkan, Khadijah RA berstatus janda sebelum menikah dengan Rasulullah SAW. Beliau dikatakan sudah menikah dua kali dan kedua suaminya meninggal dunia.

    Awal Pertemuan Khadijah RA dan Rasulullah SAW

    Dalam Kitab Ar-Rahiqul Makhtum karya Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury menjelaskan, Sayyidah Khadijah RA adalah seorang wanita yang pandai berbisnis dalam masyarakat patriarki sehingga beliau membutuhkan laki-laki untuk membantunya. Lalu, Khadijah RA mencari pemuda yang jujur dan mampu menjalankan bisnisnya.

    Pada masa itu, Rasulullah SAW yang belum diangkat menjadi nabi mendatangi Khadijah RA untuk melamar posisi tersebut. Tanpa ragu, Khadijah RA memberikan posisi itu kepada Rasulullah SAW.

    Beliau memerintahkan Rasulullah SAW agar menjajakan barang dagangannya ke negeri Syam dengan ditemani seorang pelayan bernama Maisarah. Beliau juga dibekali modal yang cukup besar dibanding pekerja lain.

    Di negeri Syam, Rasulullah SAW mulai menjual barang-barang dagangannya. Keuntungan yang diperoleh Rasulullah SAW berlipat ganda, sehingga Khadijah RA memberi bonus dari hasil penjualan tersebut.

    Pernikahan Khadijah RA dengan Rasulullah SAW

    Berdasarkan buku Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Kisah Istri-Istri Nabi Muhammad SAW karya Herwanti Subekti dan Sutarman, saat menikah Khadijah RA berusia 40 tahun sedangkan Rasulullah SAW berusia 25 tahun. Tapi perbedaan usia yang sangat jauh ini tidak menghalangi cinta mereka.

    Sepulang dari negeri Syam, Khadijah RA bertanya kepada pelayannya mengenai sikap Rasulullah SAW. Maisarah bercerita bahwa Rasulullah SAW adalah pria paling baik dan lembut yang pernah ia temui.

    Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga sangat mumpuni dalam menjalankan tugasnya sebagai mitra dagang. Khadijah RA pun mulai terkesan dan menaruh perhatian pada Rasulullah SAW.

    Kemudian, Khadijah RA mengutarakan keinginannya untuk menikah dengan Rasulullah SAW. Beliau mengutus sahabatnya, Nafisah, untuk menyampaikan berita ini ke Rasulullah SAW.

    Setelah melalui berbagai perbincangan, Rasulullah SAW bersedia menerima tawaran Nafisah untuk menikahi Khadijah RA. Kabar gembira ini disampaikan kepada kedua pihak keluarga.

    Rasulullah SAW dan pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib RA bersiap untuk mendatangi rumah Khuwailid bin Asad RA selaku wali dari Khadijah RA. Dua bulan setelah perjalanan bisnis pertamanya, Rasulullah SAW resmi menikah dengan Sayyidah Khadijah RA.

    Kehidupan Pernikahan Khadijah RA dengan Rasulullah SAW

    Selain menjadi istri pertama, Sayyidah Khadijah RA adalah satu-satunya istri Rasulullah SAW yang tidak dipoligami. Pernikahan mereka dikaruniai dua orang putra dan empat orang putri. Mereka adalah Abdullah, Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.

    Saat Rasulullah SAW menerima wahyu dan diangkat menjadi nabi, Khadijah RA menjadi orang pertama yang percaya kepada Allah SWT dan rasul beserta ajaran-ajarannya. Khadijah RA juga senantiasa menemani Rasulullah SAW saat berdakwah.

    Hubungan suami-istri Sayyidah Khadijah RA dengan Rasulullah SAW berlangsung selama kurang lebih 25 tahun. Ketika Rasulullah SAW berusia 50 tahun, Khadijah RA wafat pada usianya yang menginjak 65 tahun.

    Mengutip buku Pengantin Al-Quran karya Quraish Shihab, meskipun Khadijah RA telah meninggal, cinta Rasulullah SAW kepadanya tidak pernah hilang. Rasulullah SAW bahkan pernah menangis ketika tak sengaja melihat kalung yang biasa digunakan oleh almarhum istrinya.

    Sungguh indah ketika dua insan memadu cinta, melewati susah senangnya kehidupan bersama, dalam bahtera rumah tangga. Kisah kesetiaan keduanya dapat menjadi inspirasi bagi pasangan suami istri.

    (hnh/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Hakim Agung Zaman Rasulullah yang Pandai Putuskan Perkara, Ini Sosoknya


    Jakarta

    Rasulullah SAW memiliki sahabat yang pandai memutuskan perkara. Kecerdasannya itu membuatnya disebut-sebut sebagai hakim agung era nabi.

    Adalah Amr bin Ash. Diceritakan dalam buku Politik Hukum: Studi Perbandingan dalam Praktik Ketatanegaraan Islam dan Sistem Hukum Barat karya Abdul Manan, Rasulullah SAW pernah menunjuknya untuk menyelesaikan kasus.

    Rasulullah SAW bersabda kepada Amr bin Ash, “Hai Amr, putuskanlah permasalahan ini.” Amr berkata, “Apakah aku akan berijtihad, sedangkan baginda Rasul masih di sini?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, kalau ijtihadmu benar, maka engkau akan mendapat dua pahala dan kalau salah engkau akan mendapat satu pahala.”


    Imam Bukhari dan Muslim mengeluarkan riwayat tersebut dalam kitabnya. Al-Bukhari menyebutnya dalam bahasan Al-I’tisham bab Ajru Al-Hakim Idza Ijtahada fa Ashaba aw Akhtha’a dan Muslim menyebutnya dalam bahasan Al-Aqdhiyah bab Bayan Ajri Al-Hakim Idza Ijtahada fa Ashaba aw Akhtha’a. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i.

    Sosok Amr bin Ash

    Menurut sebuah riwayat sebagaimana dinukil Abdurrahman Ra’fat al-Basya dalam Shuwar min Hayatish Shabah 65 Syakhshiyyah, Amr bin Ash memeluk Islam setelah ia merenung dan berpikir cukup panjang. Rasulullah SAW pernah bersabda tentang diri Amr, “Para manusia telah masuk Islam, dan Amr bin Ash telah beriman.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi)

    Abdurrahman Ra’fat al-Basya menjelaskan, barangkali maksud hadits tersebut adalah orang-orang yang masuk Islam pada tahap-tahap akhir.

    Amr bin Ash juga dikenal sebagai ahli makar dan tipu daya bangsa Arab. Ia termasuk salah seorang paling jenius di antara mereka. Semasa hidupnya, Amr bin Ash berhasil menaklukkan dua daerah besar dan makmur. Keduanya adalah Palestina dan Mesir. Keberhasilannya dalam menaklukkan wilayah tersebut tak luput dari kecerdikan yang ia miliki.

    Amr bin Ash tak sedikit mengucapkan sesuatu yang sarat akan makna. Ia pernah berkata bahwa manusia itu terbagi menjadi tiga, yakni manusia yang sempurna, separuh manusia, dan manusia yang tak bermakna.

    Manusia yang sempurna, kata Amr bin Ash, adalah manusia yang lengkap agama dan akalnya. Ketika akan memutuskan suatu perkara, ia akan meminta pendapat orang-orang cerdas sehingga ia akan terus mendapatkan petunjuk.

    Sedangkan separuh manusia, lanjut Amr bin Ash, adalah orang yang disempurnakan agama dan akalnya oleh Allah SWT. Jika ia akan memutuskan suatu perkara, ia tidak meminta pendapat orang lain dan ia berkata, “Manusia seperti apa yang mesti aku ikuti pendapatnya kemudian aku akan meninggalkan pendapatku dan mengikuti pendapatnya?” Hal ini membuatnya terkadang benar dan terkadang salah.

    Adapun, manusia yang tak bermakna yang dimaksud Amr bin Ash adalah orang yang tidak beragama dan tidak berakal. Amr bin Ash menyebut, manusia jenis ini akan selalu keliru dan terbelakang.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Rasulullah SAW Menerima Wahyu Pertamanya



    Jakarta

    Rasulullah SAW merupakan nabi sekaligus rasul penutup yang terakhir diutus oleh Allah SWT. Beliau lahir di Makkah pada 12 Rabiul Awwal tahun Gajah yang mana bertepatan dengan 570 M.

    Ayah Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya Aminah binti Wahab. Abdullah adalah seorang saudagar yang sering bepergian ke Negeri Syam.

    Sayangnya, Abdullah wafat ketika usia kandungan Aminah 2 bulan. Akhirnya, Nabi Muhammad lahir tanpa sosok ayah.


    Setelah lahir pun, ia diserahkan pada Halimah Sa’diah untuk disusui. Zaman dahulu, masyarakat Arab memiliki kebiasaan menyusui anak-anak mereka kepada perempuan desa seperti mengutip dari arsip detikHikmah.

    Adapun, mengenai wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW ialah di Gua Hira yang berupa surat Al Alaq ayat 1-5. Dalam pendapat terkuatnya, momen penerimaan wahyu itu terjadi pada 17 Ramadan 610 M.

    Dalam buku 1001 Fakta Dahsyat Mukjizat Kota Makkah oleh Asima Nur Salsabila, Gua Hira juga disebut sebagai Jabal Nur. Letaknya di sebelah timur laut Masjidil Haram yang berada di jalur jalan Thaif (Sael), sekitar 4 km dari Masjidil Haram.

    Pada bukit tersebut, Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu: “Iqra” yang artinya bacalah. Kisah turunnya wahyu pertama Rasulullah diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA, ia berkata:

    “Turunnya wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW dalam bentuk mimpi ketika waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak saat itu hati beliau tertarik untuk mengasingkan diri (khalwat) ke Gua Hira. Dan di situ beliau beribadah selama beberapa malam, dan tidak pulang ke rumah istrinya Khadijah RA. Kemudian beliau membawa perbekalan yang cukup. Setelah perbekalannya habis, beliau kembali kepada Khadijah, untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Lalu beliau kembali ke Gua Hira, pada suatu ketika datang kepadanya kebenaran (wahyu), yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira.

    Malaikat Jibril datang kepadanya, lalu berkata: “Bacalah,”

    Nabi menjawab: “Aku tidak bisa membaca,”

    Nabi menceritakan maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Lalu aku dilepaskannya dan di suruh membaca. Malaikat Jibril berkata: “Bacalah,”

    Aku menjawab: “Aku tidak bisa membaca,”

    Lalu aku dilepaskannya dan di suruh membaca. Malaikat Jibril berkata: “Bacalah,”

    Aku menjawab: “Aku tidak bisa membaca,”

    Maka aku ditarik dan dipeluknya lagi untuk ketiga kali. Kemudian aku dilepaskannya sambil dia berkata:

    اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

    Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya,” (QS Al-Alaq 1-5)

    Disebutkan dalam buku Fikih Sirah karya Said Ramadhan Al-Buthy bahwa gambaran ketakutan yang dialami oleh Rasulullah SAW saat itu semakin tebal karena beliau mengira yang menemuinya di dalam Gua Hira adalah sebangsa Jin.

    (aeb/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ayyub yang Sabar Diuji dengan Penyakit Kulit Bertahun-tahun


    Jakarta

    Nabi Ayyub AS adalah sosok nabi dikenal sabar dalam menghadapi setiap musibah yang mendatanginya. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia pernah mendapat ujian berupa kehilangan harta dan keluarga, hingga penyakit kulit yang mendera tubuhnya bertahun-tahun.

    Ibnu Katsir mengisahkan dalam bukunya Qashash Al-Anbiyya, Nabi Ayyub AS mulanya termasuk seseorang yang sangat kaya raya. Di antara harta kekayaan yang dimilikinya, yakni berupa hewan ternak serta tanah pertanian yang terbentang luas di daerah Hauran.

    Tak hanya itu, Nabi Ayyub AS juga memiliki seorang istri yang melahirkan anak-anak baik dan saleh. Namun, Allah SWT kemudian mengujinya dengan mengambil seluruh kenikmatan yang dimilikinya saat itu.


    Banyak musibah kian berdatangan menimpa Nabi Ayyub AS mulai dari anak-anaknya yang meninggal dunia, harta kekayaan yang habis tak tersisa, serta beliau mengalami penyakit kulit selama 18 tahun yang sangat sulit disembuhkan.

    Meski demikian, Nabi Ayyub AS senantiasa sabar dan tidak pernah mengeluh terhadap segala ujian yang menerpanya. Ia selalu berbaik sangka dan bertawakal atas kehendak Allah SWT.

    Diuji Penyakit Kulit hingga Diusir dari Kampung Halaman

    Ujian berupa penyakit kulit yang menimpa Nabi Ayyub AS berlangsung selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut membuatnya semakin lama dikucilkan oleh masyarakat hingga diusir dari kampung halamannya.

    Bahkan, Anas meruwayatkan bahwa Nabi Ayyub AS dibuang di tempat sampah milik bani Israil hingga tubuhnya dikerumuni lalat dan berbagai macam serangga lainnya.

    Kala itu, tak ada seorang pun yang merasa kasihan kepada Nabi Ayyub AS, kecuali istrinya sendiri yang selalu memuliakan dan mengurus segala kebutuhannya.

    As-Saddiy menceritakan, “Daging yang melekat pada tubuh Ayyub mulai berjatuhan hingga tidak ada yang tersisa di tubuhnya, kecuali tulang belilang dan otot-ototnya saja. Sementara itu, istrinya tiada henti menemui beliau sembari membawa abu gosok sebagai alas untuk berbaring.”

    Usai kondisi yang sangat memprihatinkan itu berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, istrinya berkata, “Duhai Ayyub, seandainya engkau berdoa memohon kepada Tuhanmu, niscaya Dia akan menyembuhkanmu.”

    Kemudian Nabi Ayyub AS menjawabnya, “Aku telah menjalani hidup dalam keadaan sehat walafiat selama tujuh puluh tahun. Oleh sebab itu, tidak sewajarnyakah jika aku bersabar kepada Allah dalam menjalani ujian yang lebih pendek dari tujuh puluh tahun?”

    Betapa terkejutnya istri Nabi Ayyub AS tatkala mendengar ucapan suaminya itu. Selanjutnya, ia bekerja pada orang lain agar dapat mencukupi kebutuhan hidup bersama suaminya.

    Ketika tidak mendapatkan seorang pun yang mau menerimanya bekerja, istri Nabi Ayyub AS lantas menjual salah satu dari dua kepang rambutnya kepada putri seorang pejabat dan ditukarkan dengan makanan yang sangat banyak.

    Saat Nabi Ayyub AS mengetahui kepala istrinya yang sudah tidak berambut, beliau berdoa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya ayat 83,

    وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

    Artinya: Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

    Dikabulkannya Doa Nabi Ayyub Sembuh dari Penyakit Kulit

    Dikutip dari buku Cara Nyata Mempercepat Pertolongan Allah oleh Syafi’ie el-Bantanie, penyakit kulit yang diderita Nabi Ayyub AS akhirnya sembuh atas pertolongan dari Allah SWT dengan mengabulkan doa-doanya.

    Pada saat itu, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ayyub AS agar menghentakkan kakinya ke tanah hingga terpancarlah air yang dapat digunakannya untuk mandi dan meminumnya. Perintah ini termaktub dalam surah Shad ayat 42, Allah SWT berfirman,

    ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

    Artinya: (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”

    Setelah Nabi Ayyub AS mandi dan minum dengan air tersebut, seketika penyakit kulit yang menimpanya sembuh, badannya sehat kembali, dan wajahnya pun tampak lebih segar dan berseri.

    Tak hanya itu, Nabi Ayyub AS juga kembali dianugerahi dengan harta kekayaan seperti sedia kala, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Ia pun hidup bahagia bersama istrinya dan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Sulaiman yang Berhasil Penjarakan Iblis



    Jakarta

    Nabi Sulaiman mendapatkan banyak mukjizat dari Allah SWT. Semasa hidup, ia bisa berkomunikasi dengan hewan dan bangsa jin, ia juga berhasil menjadi raja yang kaya. Termasuk mukjizat dari Allah SWT yakni keberhasilan Nabi Sulaiman menangkap dan memenjarakan iblis.

    Mengutip buku The Leadership of Sulaiman oleh Ibnu Mas’ud, dikisahkan dalam sebuah riwayat yang menyebutkan sebutkan bahwa Nabi Sulaiman pernah memohon kepada Allah untuk menangkap iblis.

    “Ya Allah, Engkau telah menundukkan bagiku manusia, jin, binatang buas, burung-burung, dan para malaikat. Ya Allah, aku ingin menangkap iblis, memenjarakan, merantai serta mengikatnya, sehingga manusia tidak melakukan dosa dan maksiat lagi,” pinta Nabi Sulaiman kepada Allah SWT.


    Tujuan Nabi Sulaiman menangkap iblis hanya satu, yaitu agar tidak ada lagi yang mengganggu manusia.

    Allah SWT sebenarnya melarang Nabi Sulaiman menangkap iblis, karena perbuatan tersebut tidak ada gunanya. Tetapi, Nabi Sulaiman bersikukuh ingin menangkap dan memenjarakan iblis.

    Allah SWT: “Wahai Sulaiman, tidak ada gunanya jika iblis ditangkap.”

    Nabi Sulaiman: “Ya Allah, keberadaan makhluk terkutuk ini tidak ada kebaikan di dalamnya.”

    Allah SWT: “Jika iblis ditangkap, maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan.”

    Nabi Sulaiman: “Ya Allah, aku ingin menangkap makhluk terkutuk ini beberapa hari saja.”

    Setelah mendapat izin dari Allah SWT, Nabi Sulaiman pun menangkap iblis dan memenjarakannya. Setelah iblis ditangkap, Nabi Sulaiman memerintahkan anak buahnya pergi ke pasar untuk menjual tas hasil kerajinan kerajaan.

    Uang hasil penjualan tas ini akan digunakan untuk membeli gandum. Nabi Sulaiman memang dikenal sebagai raja yang kaya raya namun ia tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

    Dalam buku Perjumpaan Dengan Iblis oleh Muhammad Syahir Alaydrus, dijelaskan ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa setiap hari di dapur (istana) Nabi Sulaiman dimasak 4.000 ekor unta, 5.000 ekor sapi, dan 6.000 ekor kambing. Meski demikian, Nabi Sulaiman tetap membuat tas dan menjualnya ke pasar untuk mencari makan.

    Sayangnya saat hendak menjual tas, anak buah Nabi Sulaiman mendapati pagi itu pasar tutup. Tidak ada satu pun orang yang berjualan.

    Atas kejadian tersebut, dilaporkanlah hal tersebut kepada Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman bertanya, “Kenapa bisa begitu? Apa yang terjadi?” Tidak ada jawaban.

    Setelah peristiwa itu berlangsung beberapa hari, Nabi Sulaiman akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Allah SWT, “Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa orang-orang tidak bekerja mencari nafkah?”

    Dan, Allah SWT menjawab, “Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak bergairah bekerja mencari nafkah. Bukankah sebelumnya telah Aku katakan padamu bahwa menangkap iblis tidak mendatangkan kebaikan?”

    Iblis yang ditangkap Nabi Sulaiman berhenti menggoda manusia sehingga manusia tidak lagi bersemangat mencari hal yang sifatnya duniawi.

    Akhirnya, Nabi Sulaiman pun segera melepaskan iblis. Keesokan harinya, orang-orang kembali pada aktivitasnya di pasar. Membuka kios, bekerja dan mencari nafkah untuk kehidupan duniawi.

    Demikianlah kisah kehebatan Nabi Sulaiman. Sebagai manusia beriman, ia diberi kelebihan oleh Allah SWT mampu menangkap iblis, menguasai jin, menundukkan angin dan binatang, dan menjadi raja atas manusia. Dengan kekuatan dan mukjizat tersebut Nabi Sulaiman tetap takwa kepada Allah SWT dan bersikap bijaksana.

    (dvs/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Diterimanya Tobat Nabi Adam pada Hari Asyura, Begini Kisahnya



    Jakarta

    Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharram menyimpan sejumlah peristiwa dalam sejarah para nabi. Dikatakan, Allah SWT menerima tobat Nabi Adam AS pada hari tersebut.

    Kisah tobatnya Nabi Adam AS ini diceritakan dalam Qashash Al-Anbiyaa karya Ibnu Katsir. Dikisahkan, ketika berada di surga, Nabi Adam AS dan istrinya, Hawa, melakukan sebuah kesalahan berupa memakan buah dari pohon terlarang akibat bujuk rayu iblis. Ulama berbeda pendapat terkait apakah ini merupakan sebuah kiasan.

    Allah SWT berfirman,


    فَدَلّٰىهُمَا بِغُرُوْرٍۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۗ وَنَادٰىهُمَا رَبُّهُمَآ اَلَمْ اَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَاَقُلْ لَّكُمَآ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٢٢

    Artinya: “Ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya. Maka, ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah pada keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (di) surga. Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS Al A’raf: 22)

    Lebih lanjut ditafsirkan, akibat perbuatan tersebut Allah SWT mengeluarkan Nabi Adam AS dan Hawa dari surga. Al-Hafizh ibnu Asakir meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, “Allah memerintahkan dua malaikat untuk mengeluarkan Adam dan Hawa dari sisi-Nya. Jibril melepas mahkota dari kepala Adam sementara Mikail melepas tanda kehormatan dari jidatnya.

    Selanjutnya, benda-benda berharga itu digantungkan pada sebatang dahan. Adam menyangka hukuman akan disegerakan baginya sehingga beliau menundukkan kepalanya seraya berkata: ‘Maafkan aku. Maafkan aku.’ Allah lalu berfirman kepada beliau: ‘Engkau hendak lari dari-Ku?’ Adam menjawab: ‘Tidak, tetapi aku malu pada-Mu, wahai Tuhanku’.”

    Menurut riwayat yang berasal dari Abu Hurairah, peristiwa turunnya Nabi Adam AS dan Hawa ke bumi terjadi pada hari Jumat. Rasulullah SAW bersabda,

    “Sebaik-baik hari yang padanya matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan. Pada hari itu juga beliau dimasukkan ke surga dan pada hari itu pula beliau diturunkan dari surga, dan pada hari itu juga akan terjadi kiamat.” (HR Ahmad)

    Atas peristiwa tersebut, Nabi Adam AS dan Hawa bertobat, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

    قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٢٣

    Artinya: Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Al A’raf: 23)

    Hingga pada akhirnya Allah SWT menerima tobat Nabi Adam AS dan Hawa sebagaimana Dia berfirman,

    فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ٣٧

    Artinya: “Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah: 37)

    Menurut sebuah riwayat, Allah SWT menerima tobat Nabi Adam AS pada hari Asyura (10 Muharram). Imam Baihaqi dalam Kitab Fadha ‘Ilul Quqat mengeluarkan riwayat yang panjang terkait diterimanya tobat Nabi Adam AS pada hari Asyura. Berikut penggalan haditsnya,

    “…Allah menciptakan Adam pada hari Asyura. Demikian halnya dengan Hawa. Allah menciptakan Ibrahim di hari Asyura dan pada hari itu pula Allah menyelamatkannya dari api dan mengganti (sembelihannya). Allah menenggelamkan Firaun pada hari Asyura, Allah mengangkat Idris AS pada hari Asyura, Allah menyembuhkan Ayyub pada hari Asyura, Allah mengangkat Isa bin Maryam juga pada hari Asyura, demikian juga ia dilahirkan pada hari Asyura. Allah menerima tobat Adam pada hari Asyura…”

    Imam Baihaqi juga menyebutkan hadits serupa dalam redaksi yang lebih singkat dari Imam Ali, bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada seorang laki-laki,

    “Jika kamu ingin berpuasa sebulan selain puasa Ramadan, maka puasalah di bulan Muharram, sesungguhnya di sana terdapat hari di mana Allah menerima tobat kepada suatu kaum dan akan memberikan ampunan bagi kaum yang lain.” (HR Al-Baihaqi dalam Kitab Fadha ‘Ilul Quqat)

    Wallahu a’lam.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Keberanian Nabi Ibrahim AS Menghancurkan Berhala Raja Namrud



    Jakarta

    Nabi Ibrahim termasuk ke dalam 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Ia tergolong sebagai rasul ulul azmi, sebuah gelar yang Allah berikan bagi rasul-Nya dengan kedudukan tinggi.

    Ibnu Katsir melalui Qashash Al-Anbiyaa mengatakan bahwa nama Nabi Ibrahim AS adalah Ibrahim bin Tarikh. Beliau berasal dari keluarga Nahur, Sarugh, Raghu, Faligh, ‘Abir, Syalih, Arfakhsyadz, Sam, dan Nuh. Nama ibunya adalah Buna binti Karbita bin Kartsi yang berasal dari Bani Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh.

    Disebutkan dalam buku Ibrahim Alaihissalam susunan Abu Haafizh Abdurrahmad, Nabi Ibrahim AS adalah ayahanda dari para nabi atau dijuluki Abul Anbiya. Putra Ibrahim juga merupakan seorang nabi yaitu Ismail AS.


    Sebagai seorang rasul, tugas Nabi Ibrahim AS sangatlah berat. Ia dilahirkan di tengah masyarakat jahiliyah penyembah berhala dan tinggal pada masa Kerajaan Babilonia yang dikuasai oleh Raja Namrud.

    Berkaitan dengan itu, ada kisah menarik mengenai Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala menggunakan kapaknya. Diceritakan dalam buku Kisah 25 Nabi dan Rasul For Kids oleh Yudho Pramuko, suatu hari Raja Namrud dan pengikutnya pergi keluar dari kampung halaman.

    Mereka hendak melakukan upacara keagamaan, sehingga suasana gedung tempat berhala menjadi sepi. Kesempatan itu lantas digunakan oleh Ibrahim untuk menghancurkan berhala-berhala yang ada di dalamnya.

    Sebelumnya, Ibrahim AS memang sudah berencana untuk menghancurkan para berhala. Hal ini dimaksudkan agar mereka berhenti menyembah berhala dan beriman kepada Allah SWT.

    Akhirnya, Nabi Ibrahim AS memasuki gedung tempat berhala-berhala itu bersemayam. Dengan penuh semangat, Ibrahim AS menghancurkan satu persatu hingga menyisakan satu berhala yang paling besar.

    Setelahnya, Nabi Ibrahim AS meletakkan kapaknya di leher berhala besar itu dalam keadaan menggantung. Ia lalu pulang kembali pulang ke rumahnya.

    Ketika Raja Namrud dan para pengikutnya kembali, mereka sangat terkejut melihat berhala-berhala yang mereka sembah justru hancur. Mengetahui Ibrahim yang menghancurkan berhala tersebut, Raja Namrud kemudian memerintahkan para prajurit untuk menangkapnya.

    Setelah berhasil ditangkap, Nabi Ibrahim dibawa ke pengadilan raja yang disaksikan oleh masyarakat umum. Sidang itu terbuka dengan tujuan rakyat mengetahui jalannya persidangan pelaku penghancuran berhala-berhala yang mereka sembah.

    Raja Namrud bertanya, “Hai Ibrahim! Apakah kamu yang menghancurkan berhala-berhala itu?”

    “Bukan,” jawab Nabi Ibrahim cepat.

    Raja Namrud yang geram lantas mendesak Ibrahim, “Jangan mungkir, hai Ibrahim! Akui saja perbuatanmu itu,”

    “Tidak!” ujar Nabi Ibrahim sambil bersikukuh.

    Jawaban itu justru memancing kemarahan sang raja. Akhirnya, Ibrahim AS melanjutkan ucapannya, “Baiklah, kita sama-sama berakal. Persoalan saat ini adalah mencari pelaku penghancuran berhala itu. Siapa yang telah memperlakukan berhala-berhala seperti itu. Sebetulnya, buktinya sudah ada. Sekarang di hadapan kita ada satu patung besar dan di lehernya tergantung kapak besar. Mungkin dialah pelakunya!”

    Ucapan Nabi Ibrahim AS semakin membuat Raja Namrud marah. Ia berkata, “Hai Ibrahim! Kau banyak akal. Kau pikir aku dan rakyatku sebodoh itu? Mana mungkin patung bisa aku ajak bicara dan aku tanyakan siapa pelakunya. Kau terlalu bodoh, hai Ibrahim!”

    “Hai Raja Namrud! Rupanya yang bodoh bukan aku, tapi engkau dan seluruh rakyatmu. Buktinya, patung yang tidak berdaya apa–apa, tidak bisa bicara, tidak bisa dimintai pertolongan, dan tidak bisa mendatangkan kebaikan dan kejelekan itu, engkau sembah dan engkau puja,” kata Ibrahim AS menanggapi Raja Namrud.

    Ia lalu melanjutkan, “Kalau engkau dan rakyatmu sudah tahu bahwa patung dan berhala yang kalian sembah itu tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, dan tidak bisa dimintai pertolongan, mengapa kalian sembah dan kalian puja? Di hadapannya, kalian berdoa. Kalian meminta kebaikan dan keselamatan. Sudah jelas, patung-patung yang kalian sembah itu tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari bahaya kehancuran,”

    Mendengar jawaban Nabi Ibrahim AS, Raja Namrud dan para pengikutnya merasa terpojok. Ucapan beliau memang masuk akal, sehingga mereka tidak bisa berkata-bata.

    Namun, akhirnya secara serentak mereka menangkap Nabi Ibrahim AS dan hendak membakarnya. Seketika itu juga, Raja Namrud menyuruh rakyatnya mencari kayu bakar.

    Atas izin Allah, ketika api dinyalakan justru Nabi Ibrahim AS tidak merasa panas. Sebaliknya, api tersebut malah menyejukkan Ibrahim. Hal ini termasuk ke dalam salah satu mukjizat yang Allah SWT berikan kepada beliau.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Muhammad SAW Menggembala Kambing di Masa Kecil



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW pernah menggembala kambing semasa kecil. Beliau menjadi salah satu nabi yang memiliki kambing dan merawatnya bersama Halimah, ibu susuannya.

    Mengutip buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Volume 1 oleh Moenawar Khalil, kisah Nabi Muhammad SAW menggembala kambing dijelaskan dalam beberapa hadits.

    Nabi Muhammad SAW telah ditinggal sang ayah, ketika beliau masih berusia dua bulan dalam kandungan ibunya, Aminah. Ketika meninggal dunia, sang ayah, Abdullah bin Abu Muthalib tidak meninggalkan harta benda yang banyak, kecuali lima ekor unta, beberapa ekor kambing, dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kemudian menjadi perawat dan pengasuh pribadi beliau yang amat setia di rumah ibunya.


    Sejak dilahirkan sebagai anak yatim, Nabi Muhammad SAW tidak pernah memiliki harta benda dan perhiasan dunia sebagaimana kebiasaan anak-anak bangsawan Quraisy lainnya.

    Ketika beliau berusia kurang lebih empat tahun, yaitu waktu berada di bawah asuhan Halimah di dusunnya, dengan kehendak sendiri telah ikut menggembala kambing milik ibu susuannya, Halimah, bersama-sama dengan anak Halimah.

    Mengutip buku Nabi Muhammad SAW – Kisah Manusia Paling Mulia di Dunia oleh Neti S, Aisyah Fad dan Endah W dikisahkan suatu saat, Muhammad kecil sedang menggembala kambing bersama sama saudara sepersusuannya kemudian datanglah malaikat Jibril menghampiri Muhammad dalam wujud manusia.

    Malaikat Jibril memegang tangan mungil Muhammad. Hal itu membuat Muhammad kecil kaget dan pingsan.

    Jibril membaringkan Muhammad di atas batu. Kemudian, ia membelah dada Muhammad dan mengeluarkan segumpal darah berwarna hitam dari hati Muhammad. Mereka membuang gumpalan darah hitam itu dari hati Muhammad.

    Hati Muhammad dicuci hingga bersih dengan air zamzam dalam bejana emas. Setelah itu, Jibril menempatkan kembali hati tersebut di tempat semula.

    Saudara-saudara susuan Muhammad ketakutan ketika melihat Muhammad dibelah dadanya oleh dua laki-laki jelmaan malaikat itu.

    Mereka berlari pulang mengadukan hal tersebut kepada ibunya, Halimah.

    “lbu…Ibu…Muhammad….dibunuh! Muhammad dibunuh!” jerit mereka ketakutan sambil menunjuk-nunjuk ke arah padang gembalaan.

    “Ada apa dengan saudaramu?” tanya Halimah cemas.

    “Muhammad…, ada orang yang ingin mencelakainya,” jawab anak itu terbata-bata.

    Halimah terkejut dan cemas mendengar kabar yang disampaikan oleh anak-anaknya. Dengan perasaan cemas ia berlari menyusul Muhammad ke padang gembalaan kambing mereka.

    Ketika sampai ke sana, Halimah tidak melihat sesuatu yang mengkhawatirkan telah terjadi pada diri Muhammad. la menemui Muhammad yang sedang asyik menggembalakan kambing dalam kondisi baik-baik saja. Muhammad terlihat sehat, bahkan rona wajahnya terlihat lebih cerah dari biasa.

    “Apa yang telah terjadi padamu, wahai anakku?” tanya Halimah sambil merangkul Muhammad kecil.

    “Dua orang laki-laki berjubah putih telah mengambil sesuatu dari tubuhku,” jawab Muhammad dengan lugu sambil memeluk ibu susunya itu.

    “Apa itu?” tanya Halimah dengan wajah khawatir.

    “Aku tidak tahu,” jawab Muhammad

    “Kamu tidak apa-apa?” Halimah masih lemah sambil memeriksa tubuh anak susuannya itu. Namun, ia tidak menemukan kejanggalan apa pun pada diri Muhammad.

    Karena khawatir, Halimah segera membawa Muhammad dan anak-anaknya pulang. Halimah kemudian membawa Muhammad kembali ke rumah ibunya, Aminah.

    Nabi Muhammad kecil juga dikenal sebagai penggembala kambing milik penduduk Makkah.

    Selanjutnya, setelah Nabi Muhammad kecil ditinggal wafat oleh ibunya. Beliau diasuh oleh sang kakek yang pada masa itu memegang kekuasaan di Makkah. Meskipun demikian, beliau tidak merasa malu untuk bekerja menggembala kambing sebagai buruh penggembala kambing milik
    orang Makkah. Dari pekerjaan ini, Nabi Muhammad SAW memperoleh upah.

    Riwayat pekerjaan sebagai penggembala kambing milik orang Makkah itu, oleh beliau sendiri pernah dinyatakan dengan sabdanya kepada sebagian sahabat ketika beliau telah menjadi nabi dan rasul Allah, yang bunyinya menurut riwayat sebagai berikut,
    “Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan dia pernah menggembala kambing. “Para sahabat bertanya, “Dan engkau, ya Rasulullah?” Beliau bersabda. “Dan, aku sudah pernah juga menggembala kambing milik orang Makkah dengan menerima upah yang tidak seberapa banyaknya.” (HR. Bukhari)

    Dalam riwayat lain, beliau bersabda,

    “Nabi Musa diutus dan dia seorang penggembala kambing, dan Nabi Daud diutus dan dia seorang penggembala kambing, dan aku diutus dan aku juga menggembala kambing ahliku (keluargaku) di kampung Jiyad.” (HR. an Nasa’i)

    Selanjutnya setelah berusia dua belas tahun, Nabi Muhammad ikut pamannya, Abu Thalib, untuk berniaga ke negeri Syam untuk berjualan. Tetapi, karena ada hal-hal yang sangat mencemaskan pamannya, pamannya tidak lagi berangkat ke negeri Syam untuk berniaga.

    Itulah kisah singkat Nabi Muhammad SAW yang pernah menggembala kambing sewaktu kecil.

    (dvs/nwk)



    Sumber : www.detik.com