Blog

  • Nabi yang Mendapatkan Gelar Asad Al Usud, Siapakah Dia?



    Jakarta

    Nabi dan Rasul dalam Islam memiliki beragam keunikan dan kehebatan, salah satunya adalah pemilik gelar Asad al Usud. Siapakah nabi yang mendapatkan gelar Asad al Usud tersebut?

    Dikutip dari Buku Mengenal Mukjizat 25 Nabi tulisan Eka Satria P. & Arif Hidayah dijelaskan bahwa Nabi Idris adalah sosok nabi yang dianugerahi mukjizat luar biasa dan memperoleh kekuatan yang istimewa dari Allah SWT. Dengan anugerah kekuatan ini, Nabi Idris menjalankan tugas mulia dalam memerangi Bani Qabil yang enggan mengikuti ajaran Allah.

    Salah satu mukjizat yang dianugerahkan kepada Nabi Idris adalah pemberian gelar Asad al Usud, yang artinya raja dari segala singa. Gelar ini merujuk pada kehebatan dan kekuatan Nabi Idris yang begitu mengagumkan, sehingga disebut sebagai raja dari segala singa.


    Selain kekuatan fisik yang luar biasa, Nabi Idris juga mendapatkan mukjizat berupa kecakapan dalam ilmu pengetahuan. Ia memiliki kemampuan dalam menulis, membaca, menghitung, dan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya. Ia menjadi sosok yang cerdas dan berpengetahuan luas, yang memimpin dalam pemahaman dan pengaplikasian ilmu pengetahuan.

    Nabi Idris dikenal sebagai orang pertama dalam sejarah dunia yang memiliki pengetahuan mendalam dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Di antara bidang ilmu yang dikuasainya, terdapat beberapa diantaranya:

    – Ia menjadi orang pertama yang mahir menulis dengan pena, yang merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa pada zamannya.

    – Nabi Idris juga menjadi tokoh pertama yang memiliki kemampuan membaca dengan baik dan mendalam.

    – Ia dikenal sebagai orang pertama yang memahami dan menguasai ilmu perbintangan, menunjukkan pemahaman mendalamnya terhadap tata letak dan gerak benda langit.

    Allah SWT telah menjadikan sikap mulia dari Nabi Idris AS sebagai teladan umat muslim dalam salah satu firman-Nya yakni surat Al Anbiyaa ayat 85-86,

    (85) وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ

    (86) وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُمْ مِنَ الصَّالِحِينَ

    Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang saleh.”

    Selain keberanian dan kesabaran yang dibekali Allah SWT kepada Nabi Idris, beliau juga dibekali kemampuan lain sebagai ahli nasihat dan ahli hikmah pada zamannya. Ada banyak nasihat yang disampaikan Nabi Idris kepada umatnya semasa hidupnya.

    Dikutip dari Buku Sejarah Terlengkap 25 Nabi oleh Rizem Aizid, berikut kumpulan nasihat dari nabi yang bergelar Asad al Usud ini kepada umatnya.

    Nasihat nabi yang bergelar Asad al Usud pada umatnya

    • Kombinasi kesabaran yang dilandasi oleh keyakinan kepada Allah SWT akan menghasilkan kemenangan.
    • Kehadiran kebahagiaan terletak pada orang yang berhati-hati dan percaya pada kemurahan ampunan dari Tuhannya, sambil berupaya dengan amal-amal kebajikannya.
    • Saat kamu meraih sesuatu dari Allah SWT melalui doa, pastikanlah bahwa niatmu tulus. Hal yang sama berlaku untuk puasa dan sholatmu.
    • Janganlah mengeksploitasi sumpah palsu dan hindari menyembunyikan sumpah palsu, untuk mencegah dosa dan kesalahan.
    • Jalani ketaatan kepada penguasa dan tunjukkan penghormatan kepada mereka yang memiliki jabatan tinggi. Sampaikanlah rasa syukur dan pujian kepada Allah SWT dalam setiap ucapanmu.
    • Tak perlu iri pada individu yang sedang mendapatkan keberuntungan, karena keberuntungan itu tidak akan bertahan lama.
    • Mengatasi batas kewajaran hanya akan menimbulkan ketidakpuasan.
    • Tidak akan ada rasa syukur terhadap nikmat yang diterima tanpa berbagi dengan orang lain.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Rasulullah SAW Terkena Sihir, Ini Doa yang Beliau Panjatkan


    Jakarta

    Praktik sihir sudah terjadi sejak zaman nabi. Menurut sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah terkena sihir dari orang Yahudi bani Zuraiq.

    Disebutkan dalam Ash-sihr karya Mutawalli Sya’rawi, orang Yahudi yang mengirim sihir kepada Rasulullah SAW bernama Labid bin Al A’sham. Hal ini diketahui dari riwayat yang diceritakan oleh Aisyah RA.

    Kisah saat Rasulullah SAW Terkena Sihir

    Aisyah RA menceritakan, Rasulullah SAW pernah disihir oleh seorang Yahudi bani Zuraiq yang bernama Labid bin Al ‘Asham. Sehingga, kata Aisyah RA, Rasulullah SAW mengkhayalkan suatu perbuatan padahal beliau tidak mengerjakannya.


    Pada suatu waktu, Rasulullah SAW terus berdoa kepada Allah SWT. Beliau kemudian berkata kepada Aisyah RA, “Hai, Aisyah, aku merasa Allah telah menjawab apa yang aku tanyakan. Aku didatangi dua orang laki-laki. Yang seorang duduk di dekat kepalaku dan yang seorang lainnya duduk di sisi kakiku.

    Orang yang duduk di dekat kepalaku berkata kepada yang duduk di sisi kakiku, atau sebaliknya, yang duduk di sisi kakiku kepada yang di dekat kepalaku, ‘Apa penyakit orang ini?’ Orang itu menjawab, ‘Ia terkena sihir.’ Ia bertanya, ‘Siapa yang menyihirnya?’ Orang itu menjawab, ‘Labid bin Al A’sham.’ Ia bertanya, ‘Di mana diletakkan?’ Dia menjawab, ‘Di sumur Zarwan.’”

    Selanjutnya Aisyah RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW datang ke sumur itu bersama beberapa sahabatnya. Kemudian beliau bersabda, “Hai, Aisyah, demi Allah, seolah-olah warna airnya seperti warna air daun inai dan seakan-akan kurmanya seperti kepala-kepala setan.”

    Aisyah RA lalu berkata, “Ya Rasulullah apakah tidak sebaiknya engkau bakar saja?”

    Rasulullah SAW menjawab, “Tidak. Sesungguhnya Allah sudah menyembuhkan itu. Aku sudah memerintahkannya supaya ditanam saja.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dikatakan dalam buku Kumpulan Kisah dan Doa Para Nabi yang disusun oleh Abi Abbari, benda yang digunakan sebagai media menyihir Rasulullah SAW tersebut adalah sebuah boneka yang dibuat menyerupai Rasulullah SAW dengan menggunakan rambut dan ramuan lainnya. Boneka tersebut ditusuk dengan sebelas jarum.

    Allah SWT menurunkan surah Al-Falaq sebagai doa penyembuhan untuk Rasulullah SAW. Baginda Nabi SAW diperintahkan untuk membacanya dan meniupkan ke dalam segelas air putih. Kemudian, air putih tersebut dioleskan ke seluruh tubuh Rasulullah SAW. Dengan keistimewaan surah Al-Falaq dan anugerah Allah SWT, Rasulullah SAW sembuh dari sihir yang ditujukan kepada beliau.

    Doa agar Terhindar dari Sihir

    Selain surah Al Falaq dan An Nas, ada juga doa yang bisa dibaca agar terhindar dari sihir. Diambil dari buku Do’a & Wirid: Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah tulisan Yazid bin Abdul Qadir Jawas, berikut doanya.

    لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

    Arab Latin: Laa ilaha illallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumit, wa huwa ‘ala syai’in qadir

    Artinya: “Tidak ada Tuhan Selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik Allah segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,”

    Dijelaskan dalam buku tersebut, doa itu dapat dibaca 100 kali setiap hari, kapan pun, terutama setelah bangun tidur, sebelum tidur dan selepas salat wajib maupun sunnah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah Pertama



    Jakarta

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk ke dalam Assabiqunal Awwalun. Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimi.

    Menukil dari Tarikh Khulafa tulisan Ibrahim Al-Quraibi, Abu Bakar RA disebut sebagai orang pertama yang masuk Islam. Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra dari Asma’ binti Abu Bakar yang menuturkan,

    “Ayahku masuk Islam, sebagai muslim pertama. Dan demi Allah aku tidak mengingat tentang ayahku kecuali ia telah memeluk agama ini,”


    Sepeninggalan Rasulullah SAW, Abu Bakar RA ditunjuk sebagai khalifah. Menurut buku Pengantar Studi Islam susunan Shofiyun Nahidloh, S Ag, M H I, Abu Bakar RA menerima jabatan sebagai khalifah pada saat Islam dalam keadaan krisis dan gawat.

    Kala itu, muncul berbagai perpecahan, adanya para nabi palsu, serta terjadinya berbagai pemberontakan yang mengancam eksistensi negeri Islam yang masih baru. Pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah berdasarkan keputusan bersama balai Tsaqidah Bani Sa’idah.

    Keputusan terkait pemilihan Abu Bakar RA sebagai khalifah setelah Nabi Muhammad SAW wafat dikarenakan beberapa hal, antara lain sebagai berikut:

    • Dekat dengan Rasulullah SAW baik dari ilmunya maupun persahabatannya
    • Sahabat yang sangat dipercaya oleh Rasulullah SAW
    • Dipercaya oleh rakyat, sehingga beliau mendapat gelar As-Siddiq atau orang yang sangat dipercaya
    • Seorang yang dermawan
    • Abu Bakar RA merupakan sahabat yang diperintah oleh Rasulullah SAW untuk menjadi imam salat jamaah
    • Abu Bakar RA ialah seseorang yang pertama memeluk agama Islam

    Abu Bakar RA menjabat sebagai khalifah pada tahun 632-634 Masehi. Usai wafatnya Rasulullah SAW, pengangkatan Abu Bakar RA dilakukan dengan persiaran Umar bin Khattab RA dalam sebuah pertemuan di Safiqah melalui musyawarah yang disetujui oleh para tokoh kabilah dan suku lain.

    Pada saat itu, pemilihan Abu Bakar RA sebagai khalifah terkesan mendadak karena kondisi dan situasi cukup genting bahkan berpotensi menimbulkan perpecahan. Di sela-sela ketegangan itu, kaum Anshar menyarankan harus ada dua kelompok untuk menjadi khalifah.

    Hal tersebut berarti sama seperti perpecahan kesatuan Islam, akhirnya dengan segala risiko, Abu Bakar RA tampil ke depan dan berkata, “Saya akan menyetujui salah seorang yang kalian pilih di antara kedua orang ini,”

    Suasana di Safiqah masih belum kondusif, kemudian Umar bin Khattab RA berbicara untuk mendukung Abu Bakar RA dan mengangkat setia kepadanya. Umar bin Khattab RA tidak memerlukan waktu yang lama untuk meyakinkan kaum Anshar dan yang lain bahwa Abu Bakar RA adalah orang yang tepat di Madinah untuk menjadi penerus setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

    Lalu, musyawarah secara bulat menentukan bahwa Abu Bakar RA-lah yang akan menjadi khalifah dengan gelar Amirul Mu’minin. Pertemuan tersebut merupakan sebuah implementasi dari sebuah politik dengan semangat musyawarah.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Yahya yang Tidak Menikah dan Menentang Pernikahan Terlarang



    Jakarta

    Nabi Yahya AS adalah putra semata wayang dari Nabi Zakaria AS. Saat beliau dilahirkan, kedua orang tuanya telah berusia senja sehingga tidak mungkin baginya memiliki anak. Kelahiran Nabi Yahya AS menunjukkan mukjizat dan wujud kebesaran Allah SWT.

    Mengutip dari buku Cerita 25 Nabi & Rasul karya Irsyad Zulfahmi, Nabi Yahya AS sejak kecil telah dikaruniai hikmah oleh Allah SWT. Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur’an surat Maryam ayat 12, Allah SWT berfirman:

    يَٰيَحْيَىٰ خُذِ ٱلْكِتَٰبَ بِقُوَّةٍ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ ٱلْحُكْمَ صَبِيًّا


    Artinya: “Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (QS Maryam: 12).

    Di masa kecilnya, Nabi Yahya AS sudah tampak lebih pandai dan tajam pemikirannya dari kebanyakan anak-anak seusianya.

    Beliau kemudian tumbuh menjadi anak yang cerdas, berperilaku baik, pandai menahan hawa nafsu, hingga diangkat menjadi nabi untuk menggantikan tugas dakwah ayahnya kepada Bani Israil yang kala itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi.

    Nabi Yahya Tidak Menikah Semasa Hidupnya

    Disebutkan dalam beberapa tafsir ayat Al-Qur’an, Nabi Yahya termasuk salah satu nabi yang tidak menikah semasa hidupnya. Hal ini mengacu pada firman Allah SWT yang termaktub dalam surat Ali Imran ayat 39:

    فَنَادَتْهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٌ يُصَلِّى فِى ٱلْمِحْرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًۢا بِكَلِمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

    Artinya: “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan sholat di mihrab (katanya): ‘Sesungguhnya, Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.” (QS Ali Imran: 39).

    Melalui ayat tersebut, Allah SWT memuji Nabi Yahya AS dengan empat sifat terpuji, yakni sebagai panutan, seorang yang hashur, seorang nabi, dan orang yang soleh. Kata ‘hashur’ yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu bermakna orang yang menahan diri dari hawa nafsu atau hubungan seksual.

    Disebutkan dalam buku Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Menjomblo, KH Husein Muhammad mengartikan kata hashur sebagai orang yang tidak tertarik kepada perempuan, meskipun ia sehat secara seksual.

    Namun, hashur bukan berarti menjadi kelemahan yang dimiliki oleh Nabi Yahya AS. Sebab, dalam agama tidak diperbolehkan menyematkan suatu aib dalam pujian.

    Syaikh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni dalam buku Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an menerangkan bahwa sifat Nabi Yahya AS yang mampu menahan diri dari hawa nafsu tersebut bukan berarti tidak menginginkan wanita, tetapi ia terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.

    Wafatnya Nabi Yahya Kala Menentang Pernikahan Bersaudara

    Dalam kisah hidupnya, wafatnya Nabi Yahya AS disebabkan karena menegakkan syariat dengan menentang pernikahan bersaudara.

    Selama mengemban risalah Allah SWT untuk menyadarkan kaum Bani Israil, Nabi Yahya AS ikut merasakan sengitnya pertentangan dari kaumnya. Terlebih, ketika para pemuka kaum Bani Israil bersekutu dengan Raja Herodes selaku wakil kekaisaran Romawi di Palestina untuk melawan dakwahnya.

    Dikisahkan dalam buku Riwayat 25 Nabi dan Rasul oleh Gamal Komandoko, kegemparan kala itu terjadi di kalangan kaum Bani Israil ketika terdapat kabar yang menyatakan Raja Herodes hendak menikahi anak tirinya yang bernama Herodia.

    Pernikahan yang hendak dilakukan Raja Herodes tersebut merupakan bentuk perkawinan yang terlarang di dalam kitab taurat. Nabi Yahya AS pun dengan lantang menyatakan apa yang akan diberbuat Herodes termasuk sebuah kesalahan.

    Raja Herodes tentu murka mendengar kecaman dari Nabi Yahya hingga berniat menangkap dan menjatuhkan hukuman terberatnya. Ia kemudian memerintahkan kepada para prajuritnya untuk menangkap dan membunuh Nabi Yahya AS.

    Para prajurit Romawi bergerak cepat memenuhi perintah sang raja. Mereka berhasil menemukan keberadaan Nabi Yahya AS ketika tengah melaksanakan sholat. Tanpa menunggu lama, pedang algojo Romawi berkelebat memenggal kepala Nabi Yahya AS.

    Saat itu pula Nabi Yahya AS dinyatakan wafat sebagai syuhada, yakni orang-orang yang meninggal saat sedang membela agama Allah SWT.

    Azab pedih pun menimpa Raja Herodes dan para pengikutnya, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 21

    إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلنَّبِيِّۦنَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ ٱلَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِٱلْقِسْطِ مِنَ ٱلنَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

    Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Rasulullah Gendong Cucu Perempuannya saat Sholat



    Jakarta

    Rasulullah SAW semasa hidupnya sangat dekat dan menyayangi cucu-cucunya. Dalam sejumlah riwayat disebutkan, beliau beberapa kali pernah ditemani cucunya saat sholat.

    Di tengah tugas dakwahnya yang berat, Rasulullah SAW selalu menyempatkan diri untuk bermain-main bersama sang cucu dan memberikan pendidikan akhlak yang baik kepada mereka. Beliau juga sering mencium cucunya sebagai bentuk rasa kasih sayang.

    Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang dinukil dari buku Agungnya Taman Cinta Sang Rasul oleh Azizah Hefni, dari Abu Hurairah RA, ia berkata,


    “Rasulullah SAW pernah mencium Hasan bin Ali (cucunya dari Fatimah), sedangkan di samping beliau ada Aqra’ bin Habis at-Tamimi sedang duduk. Lalu Aqra’ berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, tetapi aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.’

    Rasulullah SAW kemudian memandangnya dan bersabda, ‘Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi.’” (HR Bukhari)

    Rasulullah SAW Ditemani Cucunya saat Sholat

    Dikisahkan dalam suatu riwayat, Rasulullah SAW pernah ditemani cucunya saat sholat. Beliau sholat sambil menggendongnya. Kala itu, beliau menggendong cucunya yang bernama Umamah binti Abi al-‘Ash, putri dari Sayyidah Zainab RA.

    Kejadian ini terdapat dalam hadits yang dinukil dari kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, dari Abu Qatadah RA berkata,

    كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتِ زَيْنَبَ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

    Artinya: “Rasulullah SAW pernah sholat sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika beliau sujud, beliau meletakkannya dan jika beliau berdiri, beliau menggendongnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dalam riwayat muslim, hadits tersebut ditambahkan, “Padahal beliau sedang mengimami orang-orang.”

    Mengutip dari buku Manajemen Cinta Sang Nabi Muhammad SAW karya Sopian Muhammad, ada pendapat yang mengatakan bahwa Nabi SAW sengaja menggendong cucu perempuannya (Umamah) untuk mengubah tradisi Arab jahiliyah yang cenderung tidak menyukai anak perempuan, terlebih menggendongnya.

    Cucu yang lain pun mendapat perlakukan yang serupa. Rasulullah SAW kerap menggendong mereka ketika menuju ke masjid. Saat tengah berdiri sholat, beliau tetap menggendongnya dan menurunkannya ketika hendak rukuk dan sujud.

    Rasulullah memperlama sujud saat punggungnya dinaiki cucu>>>

    Rasulullah SAW Memperlama Sujud saat Punggungnya Dinaiki Cucu

    Berdasarkan riwayat yang terdapat dalam buku Sholat Khusyuk untuk Wanita oleh M. Khalilurrahman Al-Mahfani & Ummi Nurul Izzah, Rasulullah SAW juga pernah memperlama sujudnya ketika sholat, sebab ada cucunya yang naik ke atas punggung beliau.

    Kisah ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Syidad, bahwa ayahnya berkata:

    “Pada suatu ketika, Rasulullah keluar untuk mengerjakan sholat Dzuhur atau Ashar. Beliau membawa cucunya Hasan atau Husain, lalu maju ke depan dan meletakkan cucunya, kemudian bertakbir. Ketika sujud, beliau sujud lama sekali hingga terangkat kepalaku.

    Terlihat olehku, ternyata sang cucu sedang berada di punggung Rasulullah. Karenanya, aku pun kembali sujud. Setelah selesai sholat, para jemaah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lama sekali Anda sujud hingga kami mengira bahwa telah terjadi sesuatu atau wahyu sedang diturunkan kepadamu.’

    Rasulullah menjawab, ‘Semua itu tidak terjadi, melainkan ketika itu, cucuku sedang berada di punggungku dan aku tidak mau mengganggunya hingga dia merasa puas bermain-main.’” (HR Ahmad, Nasa’i, dan Hakim)

    Mengetahui kisah Rasulullah SAW bersama cucunya tersebut menunjukkan bahwa beliau senantiasa memperlakukan anak-anak dengan sabar. Beliau menanggapi keusilan cucunya dengan tidak memarahi ataupun menghardik mereka.

    Bahkan ketika cucunya menaiki punggung beliau saat sholat, Rasulullah SAW justru tidak mau mengganggu kesenangan cucunya tersebut. Sikap beliau yang penuh kasih sayang ini dapat menjadi teladan bagi para orang tua dalam mendidik anaknya dengan sabar.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ibu Pemasak Batu pada Masa Khalifah Umar bin Khattab



    Jakarta

    Ada sebuah kisah menarik mengenai seorang ibu pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Kala itu, beliau dikenal sebagai pemimpin yang adil dan sangat peduli pada rakyatnya.

    Dikisahkan dalam buku Kisah dan Hikmah susunan Dhurorudin Mashad, ketika malam menjelang dini hari Umar bin Khattab melakukan kebiasaan rutinnya yaitu berjalan bersama sang pengawal untuk melihat kondisi rakyat. Sesampainya di dusun kecil terpencil, terdengar suara tangis anak kecil.

    Tangisan anak kecil ini memilukan hati Umar. Akhirnya, ia mencari sumber suara tangis yang ternyata berasal dari rumah gubuk sederhana. Bangunan itu terbuat dari kulit kayu, di dalamnya ada seorang ibu yang tengah duduk di depan tungku seperti sedang memasak. Sang ibu sesekali mengaduk panci seraya membujuk anaknya untuk tidur.


    “Diamlah wahai anakku. Tidurlah kamu sesaat, sambil menunggu bubur segera masak,” katanya.

    Akhirnya sang anak tertidur. Namun tak lama setelahnya ia kembali terbangun dan menangis lagi. Kejadian ini terus berulang sampai akhirnya memancing Umar untuk mengecek apa yang sebenarnya dikerjakan oleh ibu tersebut.

    Perlahan Umar mendekat, ia mengetuk pelan sambil mengucap salam. Tak ingin identitasnya diketahui, Umar bertamu dalam keadaan menyamar.

    Setelah pintu dibuka, Umar menanyakan terkait apa yang dimasak ibu tersebut dan apa yang menyebabkan putranya menangis terus-menerus.

    Dengan sedih, sang ibu menceritakan keadaannya. Ia menyebut anaknya menangis karena lapar padahal ia tak punya makanan apapun di rumah.

    Ibu itu juga mengatakan bahwa yang dimasaknya adalah sebongkah batu untuk menghibur si anak. Ini dilakukan seolah-olah ia tengah memasak membuat makanan. Selain itu, ibu tersebut bahkan sempat mengumpat kesal terhadap sang pemimpin pada masa itu yang mana Umar bin Khattab sendiri.

    “Celakalah Amirul Mu’minin ibnu Khattab yang membiarkan rakyatnya kelaparan,”

    Mendengar hal itu, Umar lalu pergi dan menangis memohon ampun kepada Allah SWT. Ia merasa menjadi pemimpin yang teledor sampai-sampai tidak tahu ada rakyatnya yang kesusahan.

    Tanpa berpikir panjang, Umar bin Khattab pulang dan mengambil sekarung gandum. Dibawanya seorang diri karung gandum itu di punggungnya sambil menuju ke rumah ibu yang memasak batu.

    Melihat hal itu, pengawal Umar menawarkan diri untuk membantu. Sayangnya, Umar justru menolak.

    “Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar aku sendiri yang memikulnya, karena ini lebih ringan bagiku dibanding siksaan Allah di akhirat nanti,” kata Umar yang terus membawa karung gandum tersebut.

    Sesampainya di rumah ibu tersebut, Umar langsung memasakkan sebagian gandum untuk dijadikan makanan. Setelah matang, ibu dan anak itu dipersilakan makan hingga kenyang.

    Setelah selesai, Umar segera pamit ke ibu dan anak itu. Ia juga berpesan agar esoknya anak dan ibu tersebut datang ke Baitul Mal menemui Umar untuk mendapat jatah makan dari negara.

    Sang ibu mengucapkan terima kasih sambil berkata, “Engkau lebih baik dibanding Khalifah Umar,” ucapnya.

    Keesokan harinya, sang ibu datang ke Baitul Mal untuk meminta jatah tunjangan pangan bagi diri dan anaknya. Umar menyambut dengan senyum bahagia.

    Saat ibu itu menyadari bahwa orang yang membantunya di malam buta adalah Umar sang Amirul Mu’minin, ia langsung terkejut. Umar menyambut si ibu sambil mendekat dan menyampaikan permohonan maafnya.

    Beliau tidak sungkan menyampaikan permohonan maafnya sebagai seorang pemimpin.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kelahiran hingga Usia 8 Tahun


    Jakarta

    Rasulullah SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 570 Masehi di Kota Makkah. Simak di sini kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW dari masa kelahirannya hingga peristiwa yang dialaminya pada masa itu.

    Informasi mengenai kapan Nabi Muhammad lahir dapat disandarkan pada keterangan dari sejumlah hadits. Salah satunya dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas,

    وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ


    Artinya: “Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal dua belas di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awal, Tahun Gajah.”

    Dikutip dari Ifsya Hamasah dalam buku Kisah Teladan 25 Nabi & Rasul, Nabi Muhammad SAW dilahirkan oleh seorang ibu mulia bernama Aminah.

    Di kemudian hari, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah sebagai panutan bagi seluruh umat manusia di dunia. Allah SWT mengutusnya sebagai penutup para nabi dan rasul. Setelahnya, tidak akan ada lagi nabi dan rasul yang diutus oleh Allah SWT.

    Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad SAW: Saat Kelahiran

    Kelahiran Nabi Muhammad SAW disertai dengan peristiwa luar biasa. Pada saat itu, Abrahah dan pasukannya bermaksud menyerang Ka’bah, namun usaha mereka digagalkan oleh Allah SWT dengan hujan batu dari neraka yang dibawa oleh burung-burung ababil.

    Sebab peristiwa itulah, tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai tahun gajah.

    Nabi Muhammad SAW dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, meninggal sebelum kelahirannya. Setelah lahir, Nabi Muhammad SAW kecil diasuh oleh Halimah As-Sa’diyah, seperti yang biasa dilakukan oleh bangsa Arab pada waktu itu. Halimah mengasuh dan menyusui Nabi Muhammad SAW untuk sementara waktu.

    “Agar anak dapat berbicara bahasa yang asli, bahasa Arab Kaum Badwi sejati, bahasa yang belum rusak karena belum dipengaruhi bahasa asing. Dengan demikian, anak dapat bertutur kata dengan bahasa Arab yang baik dan dialek Arab yang asli serta fasih,” tulis Moenawar Khalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad.

    Masa kecil Nabi Muhammad SAW dihabiskan di perkampungan Bani Sa’ad yang dikenal sebagai daerah yang kering dan gersang. Namun, setelah Nabi Muhammad SAW diasuh oleh Halimah, keadaan perkampungan tersebut berubah menjadi subur. Kambing-kambing menghasilkan banyak susu, sehingga penduduk lain di perkampungan pun berkata, “Gembalakanlah kambing-kambing kalian di ladang milik Halimah As-Sa’diyah.”

    Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad SAW: Saat Dadanya Dibelah

    Menurut Sirah Nabawiyah oleh Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakpuri, saat itu, sebenarnya Nabi Muhammad SAW sudah seharusnya dipulangkan kembali ke keluarganya karena masa menyusuinya telah berakhir.

    Namun, Halimah mengajukan permohonan kepada ibu Nabi Muhammad SAW, Aminah, agar dia diizinkan untuk terus merawat Nabi Muhammad SAW lebih lama.

    Halimah merasa bahwa keluarganya mendapatkan berkah sejak Nabi Muhammad SAW tinggal bersama mereka, dan permohonannya disetujui oleh Aminah.

    Suatu hari, peristiwa besar terjadi. Nabi Muhammad SAW kecil sedang bermain dan menggembala kambing dengan anak-anak Halimah di dekat rumahnya.

    Tiba-tiba, dua orang laki-laki berpakaian putih mendekatinya dan membawa Nabi Muhammad SAW ke tempat yang agak jauh dari tempatnya menggembala. Saat itu, Nabi Muhammad SAW kecil ditinggalkan sendirian ketika anak-anak Halimah pulang untuk mengambil bekal makanan.

    Ketika anak-anak Halimah kembali, mereka tidak menemukan Nabi Muhammad di mana-mana, namun melihat peristiwa besar saat para malaikat membersihkan hati Nabi Muhammad SAW. Mereka berlari ke rumah untuk memberitahu Halimah dan suaminya.

    Mereka bergegas mencari Nabi Muhammad dan menemukannya duduk seorang diri di dekat sebuah rusun. Halimah bertanya mengapa Nabi Muhammad SAW berada di sana seorang diri, dan Nabi Muhammad menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.

    Dua orang laki-laki berpakaian putih tersebut ternyata adalah Malaikat Jibril yang membersihkan hati Nabi Muhammad SAW. Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad SAW, mengeluarkan sesuatu dari hatinya, dan berkata bahwa itu adalah bagian setan dalam dirinya.

    Hati Nabi Muhammad SAW kemudian dimasukkan ke dalam sebuah bejana emas yang diisi dengan air zamzam untuk dibersihkan, lalu para malaikat mengembalikannya ke tempatnya semula.

    Peristiwa ini terjadi sekitar tiga kali dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan menjadi peristiwa pertama sebelum peristiwa Isra Mi’raj dan sebelum menerima perintah shalat 5 waktu. Bekas luka akibat jahitan dapat dilihat oleh Anas RA, yang menyaksikan kondisi dada Nabi Muhammad SAW.

    Berdasarkan tulisan dalam buku Al-Qalb: Kajian Saintis dalam Al-Qur’an, peristiwa pembersihan hati Nabi Muhammad SAW mengandung makna kelapangan dada, yang memungkinkan kemampuan menerima, menemukan kebenaran, hikmah, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memaafkan kesalahan, seperti yang tercantum dalam surah Taha ayat 25 dan Az Zumar ayat 22.

    Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad SAW: Saat Ibu dan Kakek Wafat

    Nabi Muhammad SAW saat berusia 5 tahun sudah kembali ke rumahnya. Ia mulai kembali hidup bersama ibunda dan kakeknya. Namun tak lama setelah itu tepatnya saat Rasulullah SAW berusia 6 tahun,

    Nabi Muhammad SAW juga kehilangan sang ibu, Siti Aminah, yang meninggal dunia setelah mereka berdua ziarah ke makam Abdullah. Aminah dikabarkan jatuh sakit sebelumnya dan dikuburkan di sebuah desa bernama Abwaa’.

    Alhasil, Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkah bersama Ummu Aiman, sosok pelayan di keluarganya yang kemudian dianggap sebagai saudara sendiri oleh orang tua Nabi Muhammad SAW.

    Sepeninggal ibunya, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh Abdul Muthalib, kakeknya. Sang kakek dikisahkan memiliki tempat spesial karena Nabi Muhammad SAW menghabiskan masa kecil bersamanya.

    Demikianlah, seorang Nabi Muhammad SAW yang masih berusia 6 tahun sudah harus menjadi seorang anak yatim piatu tanpa kedua orang tuanya. Hal ini membuat Nabi Muhammad dirawat sepenuhnya oleh Abdul Muthalib yang sangat menyayanginya.

    Nabi Muhammad SAW kecil hidup bahagia dalam asuhan Abdul Muthalib dan Ummu Aiman. Namun, seakan kebahagian tidak berlangsung lama. Dua tahun kemudian, beliau yang masih berusia 8 tahun itu kehilangan seseorang yang istimewa baginya, yakni sang kakek, Abdul Muthalib.

    Pengasuhan Nabi Muhammad SAW kemudian diserahkan kepada pamannya yang bernama Abu Thalib. Disebutkan dalam sejumlah sirrah bahwa Abdul Muthalib mewasiatkan hal tersebut kepada Abu Thalib, mengingat Abdullah dan Abu Thalib adalah saudara seibu.

    Saat bersama pamannya inilah, seorang pemuka agama mengenali Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT dan membawa Islam pada seluruh masyarakat dunia.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Umar bin Khattab dan Ummu Kultsum yang Bantu Perempuan Melahirkan



    Jakarta

    Umar bin Khattab adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, Umar menjadi khalifah kedua dari empat Khulafaur Rasyidin.

    Di masa kepemimpinannya, Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang hebat, adil dan bijaksana. Banyak kisah kebaikan yang dilakukan kepada orang-orang di bawah kepemimpinannya.

    Mengutip buku Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi oleh Muhammad Nasrulloh, dikisahkan pada suatu malam, Amirul Mukminin Umar bin Khattab melakukan kebiasaannya berjalan di tengah malam melihat langsung kondisi rakyatnya.


    Ia kemudian penasaran melihat sebuah tenda baru yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Dalam tenda tersebut terdengar
    suara perempuan sedang merintih sehingga mengundang tanya Sang Khalifah.

    Lalu dipanggil penghuni tenda tersebut dan keluarlah seorang laki-laki dan terjadilah percakapan.

    Umar: “Siapakah engkau?”

    Laki-laki: “Aku seorang pria pedesaan yang datang ke kota mencari keadilan Umar sang Amirul Mukminin yang terkenal sangat mengayomi rakyatnya dan mementingkan kebutuhan rakyat.”

    Umar: “Lantas suara apa rintihan itu?”

    Laki-laki: “Itu istriku yang sedang kesakitan hendak melahirkan.”

    Umar: “Apakah di sampingnya ada orang yang merawat dan membantu melahirkan?”

    Laki-laki:”Tidak ada selain aku sendiri.”

    Umar: “Apakah kamu punya bekal untuk dimakan?”

    Sang laki-laki hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.

    Umar: “Tunggu di sini, aku akan kembali membawa makanan dan orang yang membantunya melahirkan.”

    Kemudian Umar bergegas pulang dan segera menemui istrinya Ummu Kultsum bin Abi Thalib

    Umar: “Apakah engkau dalam kondisi sehat?”

    Ummu kultsum: “Kenapa engkau bertanya begitu?”

    Umar: “Di ujung kota tergeletak perempuan miskin yang sedang kesakitan di tendanya karena hendak melahirkan tanpa ditemani seorang yang ahli dalam membantu
    melahirkan. Dapatkah engkau membantunya dan menyiapkan apa yang dia butuhkan?”

    Ummu Kultsum: “Tentu!”

    Lalu Umar segera menuju tenda tersebut bersama istrinya seraya ia pikul makanan yang diambil dari rumahnya. Sang istri masuk ke dalam tenda membantu persalinan dan Umar mempersiapkan makanan dengan tangannya sendiri ditemani sang laki-laki di luar tenda.

    Dengan berharap cemas, terdengarlah suara dari Ummu Kultsum.

    Ummu Kultsum: “Wahai Amirul Mukminin, Allah SWT telah mengaruniai seorang anak dan ibunya dalam kondisi baik”.

    Mendengar kata-kata Ummu Kultsum, sang laki-laki segera memalingkan diri ditemani rasa tidak percaya bahwa orang yang telah membantunya adalah Umar bin Khattab sang Amirul Mukminin.

    Melihat tingkah sang laki-laki, Umar pun tertawa dan memanggilnya.

    Umar: “Mendekatlah!”. Memang benar aku adalah Umar bin Khattab, Amirul Mukminin dan yang di dalam tenda adalah istriku Ummu Kultsum putri Ali Bin Abi Thalib

    Laki-laki: “Keluarga Nabi membantu persalinan istriku. Sementara Amirul Mukminin yang memasak untukku dan istriku,” ia berkata sembari menjatuhkan dirinya dan menangis terharu.

    Umar: “Ambillah makanan ini, aku akan kembali dengan membawa makanan lainnya untukmu.”

    Sebagai sosok pemimpin Umar bin Khattab bukan hanya dikenal bijaksana dan adil. Ia juga adalah pribadi yang sederhana dan selalu mementingkan rakyatnya.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Sahabat Nabi Sembuhkan Sakit dengan Surat Al-Fatihah, Ini Kisahnya



    Jakarta

    Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT sudah berkehendak. Ayat-ayat Al-Qur’an bahkan bisa menjadi obat dan menjadi penawar bagi racun.

    Abi Said Al-Khudriyi, seorang sahabat Rasulullah SAW membuktikan bahwa surat Al-Fatihah dapat menjadi obat. Kisah ini dibagikan Muhammad Nasrulloh dalam bukunya yang berjudul Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi. Dalam riwayat hadits Muslim, kisah ini juga mahsyur di kalangan umat muslim.

    Pada masa Rasulullah SAW terdapat beberapa sahabat yang sedang melakukan perjalanan. Mereka telah membawa bekal dalam perjalanannya. Namun cuaca yang sangat terik dalam perjalanan menyusuri gurun pasir sangatlah menguras energi. Ditambah jarak yang ditempuh sangatlah jauh.


    Bekal yang telah disiapkan pun habis semasa di perjalanan. Dan para sahabat merasakan kepayahan dalam perjalanannya.

    Di tengah gontainya perjalanan, alangkah bahagianya mereka ketika melihat pemukiman. Mereka lekas menghampiri sebuah rumah.

    Namun niat mereka agar dijamu dengan baik oleh tuan rumah sia-sia. Tuan rumah enggan menjamu mereka.

    Mendapati sang pemilik rumah tidak berkenan menerima tamu, mereka lantas keluar dan meneduh tidak jauh di pinggiran pemukiman. Sayup-sayup mereka mendengar suara yang memanggil. Ternyata tuan rumah yang telah mereka kunjungi telah disengat kalajengking. Racun hewan ini menyebar dan membuat pemilik rumah merasa kesakitan.

    Keluarga dan penghuni rumah kebingungan. Mereka telah berupaya mengobati namun tidak berhasil. Salah satu penghuni rumah itu mengusulkan agar meminta bantuan kepada para pengembara tadi. Siapa tahu di antara mereka ada yang dapat mengobati.

    Setelah duduk perkara disampaikan pada para sahabat. Salah satu dari mereka yang bernama Abi Said al-Khudriyi berkata “Aku paham dengan rahasia pengobatan. Jika aku mampu menyembuhkan aku meminta upah atas jasaku dalam menyembuhkan tuan rumah kalian”.

    Keluarga pemilik rumah ini pun sepakat. Setelah itu Abi Said al-Khudriyi menghampiri tuan rumah yang tengah kesakitan itu. la bacakan surat Al-Fatihah seraya memohon pertolongan kepada Allah SWT.

    Berangsur-angsur kemudian tuan rumah pulih dan sembuh. Seluruh penghuni rumah bersyukur atas kesembuhan tuan rumah mereka.

    Sebagai imbalan, para sahabat diberikan kambing satu per satu. Tentu saja imbalan ini dapat menambah perbekalan selama perjalanan.

    Sepulangnya mereka dari perjalanan. Kisah tersebut disampaikan kepada Rasulullah SAW. Rasul pun bertanya bagaimana bisa Abi Said al-Khudriyi mengetahui rahasia pengobatan dalam Al-Qur’an?

    Abi Said al-Khudriyi menjawab bahwa ia serasa diberi ilham oleh Allah SWT sehingga ia tergerak membacakan doa berupa surat Al-Fatihah.

    Nabi SAW kemudian meminta Abi Said al-Khudriyi agar juga dibagikan resep rahasia pengobatan padanya. Beliau tersenyum karena mengetahui bahwa sahabatnya dapat mengerti rahasia-rahasia pengobatan dalam Al-Qur’an.

    (dvs/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Nabi Zakaria AS yang Terbunuh di Dalam Pohon


    Jakarta

    Ada dua perbedaan versi yang menceritakan tentang kisah wafatnya Nabi Zakaria AS. Salah satunya ada yang mengatakan bahwa Nabi Zakaria AS terbunuh oleh kaumnya.

    Nabi Zakaria AS adalah ayah dari Nabi Yahya AS yang berasal dari Bani Israil. Al-Hafizh Abul Qasim Ibnu Asakir dalam kitabnya menyebutkan bahwa Nabi Zakaria AS bernama lengkap adalah Zakaria bin Berekhya. Ada juga yang mengatakan, Zakaria bin Dan.

    Pendapat lainnya menyebutkan, Zakaria bin Ladun bin Muslim bin Shaduq bin Hasyban bin Dawud bin Sulaiman bin Shadiqah bin Balathah bin Nahor bin Solom bin Bahfasyat bin Inamen bin Rahiam bin Sulaiman bin Dawud.


    Kisah Wafatnya Nabi Zakaria AS

    Dikutip dari Qashash Al-Anbiyaa’ (Kisah Para Nabi) karya Ibnu Katsir yang menukil pendapat dari Wahab bin Munabbih, ada berbagai versi keterangan mengenai bagaimana Nabi Zakaria AS meninggal. Beberapa di antaranya menyebut, Nabi Zakaria AS meninggal secara wajar tetapi ada pula yang menyebut karena dibunuh.

    Untuk pendapat pertama bersumber dari riwayat Abdul Mun’im bin Idris bin Sinan dari ayahnya yang meriwayatkan dari Wahab bin Munabbih dari Mukhtashar Tarikh Dimasyqa. Wahab menceritakan, saat itu Nabi Zakaria AS tengah melarikan diri dari penganiayaan yang dilakukan kaumnya.

    Dikutip dari buku Kisah Bapak & Anak dalam Al-Qur’an karya Adil Musthafa Abdul Halim, Nabi Zakaria AS melarikan diri ke sebuah kebun yang ditumbuhi pepohonan di Baitul Maqdis. Pepohonan yang ada di sana tersebut memanggilnya, “Wahai Nabi Allah, silakan datang ke dekatku.”

    Ketika Nabi Zakaria AS mendekat, pepohonan tersebut membuka dirinya dan memungkinkan Nabi Zakaria AS bersembunyi di dalamnya. Setelahnya, Nabi Zakaria AS dikisahkan masuk ke dalam sebuah pohon.

    Saksi mata, iblis, melihat ini dan mengambil sepotong kain dari pakaian Nabi Zakaria AS. Ia membawa kain tersebut keluar dari tumbuhan untuk membuktikan keberadaan Nabi Zakaria AS kepada kaum yang mencarinya.

    Hingga pada akhirnya, kaumnya tersebut mengetahui keberadaan Nabi Zakaria AS. Mereka pun memutuskan untuk menebang pohon tersebut dengan menggergajinya.

    “Setelah kaumnya mengetahui bahwa dia berada dalam pohon tersebut, mereka mengambil gergaji dan mulai menebang pohon itu,” demikian cerita dari Wahab.

    Hingga saat gergaji tersebut hampir mengenai Nabi Zakaria AS, Allah SWT memberikan wahyu untuknya, “Apabila eranganmu tidak berhenti, maka Aku akan membalikkan negerimu dan semua orang yang ada di atasnya.”

    Pada saat itulah, menurut riwayat dari Wahab, erangan Nabi Zakaria AS berhenti dan pohon pun terbelah menjadi dua bersamaan dengan Nabi Zakaria AS.

    Sementara itu, pendapat lainnya berasal dari Ishaq bin Bisyr yang meriwayatkan dari Idris bin Sinan, dari Wahab bin Munabbih. Wahab mengatakan,

    “Orang yang diselubungi oleh pohon tersebut adalah Yesaya, sementara Zakaria meninggal dunia secara wajar. Wallahu a’lam.”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com