Blog

  • Kisah Nabi yang Paling Sabar saat Derita Penyakit Menahun


    Jakarta

    Salah satu nabi yang paling sabar adalah Nabi Ayyub AS. Beliau adalah nabi yang memiliki kekayaan luar biasa dan seketika diterpa beragam ujian oleh Allah SWT namun tetap bersabar.

    Dikutip dari buku Qashash Al-Anbiyaa’ (Kisah para Nabi) tulisan Ibnu Katsir, nama lengkap Nabi Ayyub AS adalah Ayyub bin Mushin bin Rezah bin Esau bin Ishaq bin Ibrahim. Nabi Ayyub AS berasal dari negeri Romawi.

    Pandangan ulama lain menyebutkan bahwa Nabi Ayyub AS bernama lengkap Ayyub bin Mushin bin Ragel bin Esau bin Ishaq bin Ya’qub.


    Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa ibu Nabi Ayub adalah anak perempuan dari Nabi Luth. Sebab, Nabi Ayyub AS memang memiliki keturunan dari Nabi Ibrahim AS seperti tercatat dalam Al-Qur’an, “Dan di antara keturunannya (Ibrahim) ada yang Kami beri petunjuk, yaitu Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, dan Harun.” (Al-An’am: 84)

    Kisah Kesabaran Luar Biasa Nabi Ayyub AS

    Ulama tafsir, pakar biografi, dan ulama lainnya menyatakan bahwa Nabi Ayyub AS adalah seseorang yang memiliki kekayaan melimpah, mencakup berbagai aset mulai dari budak, hewan peliharaan, hingga tanah luas yang terletak di daerah Batsniya di negeri Hawran.

    Ibnu Asakir dalam riwayatnya menyatakan bahwa seluruh wilayah tersebut menjadi milik Nabi Ayyub AS. Dan juga disebutkan bahwa Nabi Ayyub AS memiliki istri dan keturunan yang cukup banyak.

    Namun, dikisahkah, seketika seluruh kenikmatan dan kekayaan di atas sirna dari diri Nabi Ayyub AS. Bahkan ia diuji dengan berbagai penyakit menahun yang merusak tubuhnya, sehingga tidak ada lagi bagian tubuhnya yang sehat, kecuali hati dan mulutnya saja–keduanya tetap digunakan beliau untuk mengingat Allah SWT.

    Walaupun dalam kondisi seperti itu, Nabi Ayyub AS tetap bersabar, melakukan introspeksi diri, dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT. Ia terus-menerus mengingat Allah SWT pada siang, malam, sore, dan pagi hari.

    Penyakit menahun tersebut belakang diketahui melalui sebuah riwayat. Riwayat tersebut berasal dari Mujahid yang menyebutkan, bahwasanya Nabi Ayyub AS adalah orang pertama yang terjangkit penyakit kusta.

    Dalam satu riwayat yang diceritakan oleh Humaid, disebutkan bahwa Nabi Ayyub AS menderita penyakit yang sangat langka pada masanya selama delapan belas tahun. As-Suddi juga menuturkan bahwa penyakit tersebut menghancurkan seluruh tubuhnya, sampai-sampai hanya tersisa tulang dan urat-uratnya saja.

    Pada masa itu, satu-satunya yang merawat dan setia berada di sisi Nabi Ayyub AS adalah istrinya. Setiap hari, sang istri menaburkan pasir di bawah tubuh Nabi Ayyub AS.

    Setelah waktu yang cukup lama berlalu, istri Nabi Ayyub AS berkata, “Wahai suamiku, mengapa kamu tidak berdoa kepada Allah untuk disembuhkan dari penyakit ini?”

    Mendengar pertanyaan itu, Nabi Ayyub AS menjawab dengan bijak, “Aku telah merasakan hidup sehat selama tujuh puluh tahun. Jadi, jika aku harus mengalami penyakit selama tujuh puluh tahun pula, apakah aku tidak mampu bersabar?”

    Jawaban Nabi Ayyub AS ini membuat istri Nabi Ayyub AS kagum dan merasa bangga akan kesabaran suaminya.

    Bersamaan dengan itu, istri Nabi Ayyub AS dengan tulus rela berkorban untuk membantu suaminya. Ia bersedia bekerja sebagai pelayan dengan upah yang rendah, hanya demi memberi makan kepada Nabi Ayyub AS.

    Namun, situasi berubah ketika masyarakat enggan mempekerjakannya karena takut tertular penyakit Nabi Ayyub AS.

    Hingga akhirnya, istri Nabi Ayyub AS menjual salah satu ikatan rambutnya kepada seorang anak perempuan dari keluarga tuan rumah yang kemudian memberinya makanan sebagai alat tukarnya. Setelah makanan itu habis dan istrinya tetap belum mendapatkan pekerjaan, ia menjual ikatan rambut terakhirnya untuk mendapatkan makanan.

    Nabi Ayyub AS menolak pada awalnya. Namun, pada akhirnya Nabi Ayyub AS setuju untuk makan setelah istrinya mengungkapkan kenyataan bahwa ia harus menjual ikat rambutnya untuk mendapatkan makanan.

    Kejadian ini pun menyadarkan Nabi Ayyub AS hingga akhirnya memanjatkan doa kepada Allah SWT dan terabadikan dalam surah Al Anbiya ayat 83, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”

    Terlihat dari doa Nabi Ayyub AS yang tidak langsung meminta kesembuhan pada Allah. Sebaliknya, menurut buku Mukjizat Doa-doa yang Terbukti Dikabulkan Allah karya Yoli Hemdi, ia meminta untuk diperlihatkan bentuk Maha Penyayangnya Allah SWT.

    Kesabaran dan kesantunan dalam doa Nabi Ayyub agar sembuh dari penyakit tersebut kemudian didengar oleh Allah SWT. Kisah ini tercantum dalam surah Al Anbiya ayat 84 yang berbunyi,

    فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

    Artinya: “Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami,”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Umar bin Khattab dan Kebijakan Subsidi Makanan bagi Rakyatnya



    Jakarta

    Umar bin Khattab merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang kemudian menjadi khalifah kedua. Di masa kepemimpinannya, Umar dikenal sebagai sosok yang bijaksana.

    Rasulullah SAW memberikan julukan Abu Faiz bagi Umar bin Khattab. Julukan ini disematkan karena kecerdasan Umar dalam mengatur pemerintahan dan strategi perang. Umar memang lihai dalam mengatur sistem pemerintahan, termasuk mengambil kebijakan untuk memberikan subsidi makanan bagi rakyatnya.

    Dirangkum dari buku Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi oleh Muhammad Nasrulloh, dikisahkan bahwa Umar memberikan subsidi makanan bagi anak-anak yang telah disapih. Ternyata kebijakan ini disalahartikan oleh beberapa orang.


    Suatu malam tiba, Umar bin khattab mendapati kafilah dagang yang sedang singgah di salah satu tempat di kota Madinah. la mendapati Abdurrahman bin ‘Auf sedang bersama mereka. Umar pun berkata pada Abdurrahman bin ‘Auf yang juga merupakan sahabat Rasulullah SAW ini.

    “Apakah engkau sedang menemani dan menjaga mereka?” tanya Umar.

    Abdurrahman bin ‘Auf: “Benar!”

    Umar: “Kalau begitu aku bantu menemanimu terjaga untuk menjaga mereka”.

    Di tengah malam, Umar mendengar isak tangis anak kecil, kemudian ia mencari sumber suara dari mana asal tangisan tersebut. Umar akhirnya mengetahui bahwa anak itu tengah bersama ibunya.

    Umar pun mengingatkan ibu tersebut: “Berbuat baiklah pada buah hatimu”. Kemudian Umar mendengar lagi isak tangis anak kecil tersebut dan kembali memperingatkan si ibu untuk berlaku baik pada anaknya.

    Hingga di penghujung malam, Umar mendengar kembali isak tangis anak kecil tersebut lalu ia berkata pada ibunya.

    “Celaka engkau! Sungguh engkau ibu yang buruk! Tidak henti-hentinya aku melihat dan mendengar putramu menangis sejak malam tadi”.

    Ibu: “Wahai tuan, aku sudah berusaha memberinya makan. Namun ia tidak mau.”

    Ibu ini tidak mengetahui kalau lawan bicaranya adalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

    Umar: “Kenapa engkau paksa ia makan?”

    Ibu: “Karena Umar tidak memberi subsidi makanan kecuali hanya bagi anak yang telah disapih”.

    Umar: “Berapa usia anakmu?”

    Ibu: “Masih beberapa bulan”

    Umar: “Celaka engkau. Jangan tergesa-gesa menyapihnya!”

    Dari pengalaman ini, Umar kemudian sadar bahwa kebijakannya memberi subsidi dengan membagikan makanan hanya kepada anak yang telah disapih telah membuat banyak ibu-ibu mempercepat menyapih bayinya. Tujuan tidak lain yakni agar para ibu mendapatkan makanan dari pemerintah.

    Menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan, ia pun berkata pada dirinya sendiri: “Buruk sekali engkau Umar. Sudah berapa anak yang telah engkau sengsarakan?”

    Umar lalu membuat kebijakan baru agar setiap orang tidak tergesa-gesa menyapih anaknya. Dan subsidi makanan kemudian diberikan kepada setiap anak yang lahir tanpa menunggu disapih.

    Dikutip dari buku ‘Umar Ibn Al-Khattab His Life and Times Vol. 1, kekeringan dan kelaparan parah juga sempat terjadi pada tahun ke 18 setelah hijrah. Tahun ini disebut Ar-Ramadah karena angin menerbangkan debu seperti abu atau Ar-Ramad.

    Bencana ini mengakibatkan kematian hingga hewan-hewan ikut merasakan dampaknya. Bencana alam ini terjadi pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab.

    Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, Umar memastikan agar rakyatnya tidak ada yang kesulitan mendapatkan makanan. Ia bahkan tak segan untuk turun langsung dan membagikan makanan.

    Kebijakan memberikan makanan bagi rakyatnya bukan satu atau dua kali dilakukan Umar tetapi menjadi kegiatan yang rutin.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Syuaib dan Mukjizatnya saat Dakwah pada Kaum Madyan



    Jakarta

    Nabi Syuaib AS adalah seorang yang memiliki julukan “Khatib al-Anbiya” atau juru bicaranya para nabi. Ia memiliki kisah terkait mukjizatnya ketika melaksanakan perintah Allah SWT untuk membimbing kaumnya yaitu Madyan.

    Dikutip dari Qashash al-Anbiyaa tulisan Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa masyarakat Madyan merupakan suku Arab yang menetap di Madyan, sebuah kota yang terletak di wilayah Mu’an tepatnya di perbatasan negeri Syam dan Hijaz. Wilayah ini berdekatan dengan danau kaum Luth.

    Ibnu Katsir menjelaskan, Madyan adalah nama sebuah kabilah keturunan dari Madyan bin Madyan bin Nabi Ibrahim. Nabi yang diutus kepada mereka adalah Syuaib bin Misykal bin Yasyjan, seperti yang dikatakan Ibnu Ishaq.


    Kisah Nabi Syuaib dan Mukjizatnya

    Masih dalam sumber yang sama diceritakan, penduduk Madyan adalah orang-orang kafir yang memiliki kebiasaan buruk. Mereka gemar merampok di tengah jalan dan menakut-nakuti orang yang sedang dalam perjalanan.

    Mereka adalah contoh kelompok masyarakat dengan karakter yang paling buruk dalam interaksi sosial. Mereka melakukan kecurangan dalam jual beli, seperti mengurangi timbangan dan mengambil tambahan ketika membeli.

    Kaum Madyan menyembah sebatang pohon yang dikelilingi kebun-kebun yang dikenal dengan Aikah. Allah SWT mengutus seorang laki-laki dari kalangan mereka, yakni Nabi Syuaib AS. Dia mengajak kaum Madyan untuk hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

    Nabi Syuaib AS juga melarang perbuatan keji dan tercela. Sebagian dari kaumnya beriman, tetapi kebanyakan tetap dalam kekafiran. Hingga akhirnya Allah SWT menimpakan azab yang sangat pedih kepada kaum Madyan.

    Berkaitan dengan ini, Allah SWT berfirman,

    “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, yaitu Syuaib. Ia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia. Sesungguhnya, telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Tuhan kalian.’” (QS Al-A’râf: 85)

    Ibnu Katsir menjelaskan, melalui ayat tersebut Allah SWT telah memberikan bukti kebenaran melalui mukjizat yang diberikan kepada Nabi Syuaib AS. “Walaupun berita tentang mukjizat beliau tidak sampai kepada kita secara detail, ayat di atas telah membuktikan adanya mukjizat itu meskipun bersifat umum,” lanjut Ibnu Katsir.

    Diceritakan dalam buku Mukjizat Isra Mi’raj dan Kisah 25 Nabi-Rasul karya Winkanda Satria Putra, kaum Madyan tidak mengindahkan peringatan Nabi Syuaib AS bahkan mencemoohnya. Mereka menganggap Nabi Syuaib AS sudah gila dan perkataannya dusta belaka. Mereka juga menantang Nabi Syuaib AS agar Allah SWT menyegerakan azab-Nya seperti yang dikisahkan oleh Nabi Syuaib AS.

    Kemudian, Nabi Syuaib AS berdoa kepada Allah SWT agar menurunkan azab kepada kaum Madyan. Akhirnya, Allah SWT mengabulkan doa tersebut dan menurunkan azab yang pedih kepada kaum Madyan sebagai balasan atas dosa dan keingkaran mereka.

    Dikatakan, azab tersebut mulanya diturunkan dalam beberapa tahap, seperti hembusan udara panas yang kering dan membuat mereka dahaga, terjadinya gempa dahsyat, hingga akhirnya membinasakan kaum Madyan.

    Sementara itu, Nabi Syuaib AS dan orang-orang yang beriman diberi perlindungan oleh Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,

    “Ketika putusan Kami tiba, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Sementara orang-orang yang berbuat zalim dihancurkan oleh suara yang menggelegar, sehingga mereka mati berserakan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah tinggal di sana. Ingatlah, begitulah binasa penduduk Madyan, dan seperti yang telah terjadi pada kaum Tsamud juga.” (QS Hud: 94-95)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Idris AS Meninggalkan Sandalnya di Surga


    Jakarta

    Salah seorang nabi dikisahkan pernah merasakan kenikmatan surga hingga tanpa sengaja meninggalkan sandalnya. Nabi tersebut adalah Nabi Idris AS. Bagaimana kisah Nabi Idris AS meninggalkan sandalnya di surga?

    Nabi Idris AS adalah salah satu nabi dan rasul yang memiliki mukjizat atau kejadian luar biasa. Salah satunya, Nabi Idris AS menjadi satu-satunya nabi yang diangkat ke langit keempat untuk melihat indahnya surga.

    Allah SWT berfirman dalam surah Maryam ayat 57,


    وَّرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا

    Arab Latin: Wa rafa’nāhu makānan ‘aliyyā

    Artinya: “Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi.”

    Ibnu Katsir menjelaskan, ayat tersebut menjelaskan tentang ketinggian martabat Nabi Idris AS. Hal ini turut disebutkan dalam Ash-Shahihain tentang hadits Isra Miraj, bahwasannya Rasulullah SAW pernah bertemu dengan Nabi Idris AS di langit keempat.

    Kisah Nabi Idris AS Meninggalkan Sandal di Surga

    Kisah Nabi Idris AS ini diceritakan dalam buku Sejarah Terlengkap 25 Nabi yang ditulis oleh Rizem Aizid.

    Pada suatu ketika, malaikat Izrail sangat mengagumi Nabi Idris AS karena ketaatannya kepada Allah SWT dan kepandaiannya. Malaikat Izrail berkeinginan untuk menemui Nabi Idris AS agar lebih mengenal dirinya.

    Malaikat Izrail lantas meminta izin kepada Allah SWT untuk turun ke bumi. Secara diam-diam Malaikat Izrail menyamar menjadi laki-laki yang tampan dan bertamu ke rumah Nabi Idris AS.

    Nabi Idris AS pun mempersilahkan tamunya yang mengetuk pintu rumahnya untuk masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, Malaikat Izrail mengungkapkan kepada Nabi Idris bahwa dirinya ingin mengenal lebih dekat.

    Nabi Idris AS lantas mengajak Malaikat Izrail untuk menginap dirumahnya. Kegiatan di dalam rumah tidak banyak dihabiskan untuk berbincang, melainkan dihabiskan untuk terus beribadah kepada Allah SWT.

    Malaikat Izrail pun diajak untuk makan oleh Nabi Idris AS yang kemudian dia tolak dengan alasan dirinya ingin melanjutkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Hal yang sama terjadi ketika Nabi Idris AS mengajaknya untuk tidur karena sudah malam, namun tamunya tersebut tetap menolak dan ingin melanjutkan ibadahnya.

    Keesokan harinya, kejadian yang sama berulang yang membuat Nabi Idris AS terheran-heran. Lantas Nabi Idris AS pun bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya tamunya itu. Dengan hati-hati, beliau pun menanyakan hal itu.

    “Saya adalah malaikat maut,” kata sang tamu.

    Nabi Idris AS pun sangat kaget mendengar pernyataan Malaikat Izrail. Ia mengira malaikat itu datang untuk mencabut nyawanya namun dibantah oleh Malaikat Izrail karena tujuannya datang adalah untuk mengenal Nabi Idris AS lebih jauh.

    Setelah itu Malaikat Izrail dibuat kaget dengan permintaan Nabi Idris AS yang menyatakan bahwa dirinya ingin merasakan dicabut nyawanya. Lalu atas izin Allah SWT, nyawa Nabi Idris AS pun dicabut oleh Malaikat Izrail dengan selembut- lembutnya.

    Nabi Idris AS juga meminta untuk ditunjukkan surga dan neraka dan diizinkan oleh Allah SWT. Beliau sangat terkejut ketika melihat neraka yang sangat menyeramkan itu.

    Sebaliknya, ketika di surga ia menunjukkan rasa kekaguman yang sangat besar. Sebab, ia bisa melihat sungai-sungai yang mengalirkan air jernih, pohon-pohon rindang, buah-buah yang lezat, serta pemandangan indah lainnya.

    Berkali-kali dirinya mengucapkan, “Subhanallah, subhanallah, subhanallah,” dan juga menunjukkan rasa syukurnya terhadap apa yang dirasakannya dan dilihatnya sambil terus berucap, “Alhamdulillah, alhamdulillah,”

    Saat sudah waktunya keluar surga, beliau teringat bahwa sandalnya masih tertinggal di dalam surga. Beberapa sumber menyebutkan sandal Nabi Idris AS berada di bawah pohon yang rindang. Lalu dirinya masuk lagi untuk mengambilnya.

    Selang beberapa saat, Malaikat Izrail kebingungan karena Nabi Idris AS tidak segera keluar dari sana. Ternyata, Nabi Idris AS tidak ingin meninggalkan surga Allah SWT tersebut dan ingin tetap berada di sana.

    Atas izin Allah SWT, akhirnya Nabi Idris AS diperbolehkan oleh Allah SWT untuk tetap tinggal di surga keempat tanpa menunggu datangnya hari kiamat. Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa Nabi Idris AS dicabut nyawanya oleh Malaikat Izrail di langit keempat. Wallahua’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Aba Dahdah dan 600 Pohon Kurma



    Jakarta

    Seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Aba Dahdah rela menukar kebun berisi 600 pohon kurma dengan sebatang pohon kurma. Namun kelak di surga, ia akan mendapatkan balasan berupa kebun kurma yang sangat luas.

    Dalam sebuah riwayat oleh Ahmad, dikisahkan bahwa Aba Dahdah bersedia menukar kebun kurma miliknya agar bisa membantu seorang pemuda yatim. Kisah ini kemudian diceritakan kembali dalam buku Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi yang ditulis oleh Muhammad Nasrulloh.

    Suatu ketika datang pemuda yatim ke majelis di mana Rasulullah SAW berada. la mengadukan perkaranya kepada Rasulullah SAW.


    Anak yatim tersebut berkata, “Aku hendak mengadukan tetanggaku pada engkau, Rasulullah SAW.”

    Rasulullah SAW bertanya lagi, “Apa yang hendak engkau adukan?”

    “Aku hendak membuat pagar di sekeliling kebunku. Namun ada satu pohon kurma milik tetanggaku yang menghalangi. Sudah aku tawar untuk membelinya namun ia enggan menjualnya,” jawab anak yatim itu.

    Pemuda yatim itu memohon kepada Rasulullah SAW agar beliau bersedia mendatangi tetangganya dan membujuknya untuk menjual pohon kurmanya.

    Rasulullah SAW pun menghampiri tetangga tersebut dan memberitahukan duduk perkaranya. Rasulullah SAW meminta agar ia berkenan memberikan pohon kurma tersebut atau rela menjualnya. Namun sang tetangga bersikukuh menolak.

    Rasulullah SAW lalu mengatakan, “Juallah pohon kurma itu demi pemuda yatim ini. Niscaya, engkau di akhirat akan mendapatkan pohon kurma yang luasnya andaikata orang berjalan akan menempuh waktu yang panjang.”

    Tawaran Rasulullah SAW sangat menggiurkan karena tidak ada yang sebanding antara sebuah pohon kurma di dunia dengan pohon kurma di akhirat. Namun sang tetangga tidak bergeming dengan janji Rasulullah SAW. la tetap enggan menjual pohon kurmanya.

    Para sahabat pun terheran-heran dengan hal tersebut. Salah seorang sahabat bernama Aba Dahdah kemudian bertanya pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah SAW, apabila aku dapat membeli pohon kurma orang itu lalu aku berikan pada pemuda yatim, apakah surga yang engkau janjikan akan menjadi milikku?”

    Rasulullah menjawab “lya.” Tanda bahwa beliau menyepakati apa yang ditanyakan Aba Dahdah.

    Mendengar hal tersebut, Aba Dahdah mendatangi tetangga anak yatim itu dan ia berkata, “Apakah engkau tahu bahwa kebun kurmaku memiliki 600 pohon kurma?”

    Tetangga itu berkata, “Siapa yang tidak tahu dengan kebunmu wahai Aba Dahdah. Semua pedagang pun tahu.”

    Dijawab lagi oleh Aba Dahdah, “Kalau begitu. Kebun kurma ku termasuk pagar, sumur dan tempat singgahnya aku tukar dengan pohon kurmamu. Apakah engkau mau?”

    Tetangga itu pun menjawab, “Tentu aku mau.”

    Setelah transaksi terjadi Aba Dahdah memberikan pohon kurma itu kepada pemuda yatim agar ia dapat menyempurnakan membuat pagar kebunnya.

    Lalu ia menagih janji kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah apakah kini aku telah mendapatkan pohon kurma di surga?”

    Rasulullah SAW menjawab, “Tidak.”

    Mendengar jawaban Rasulullah SAW, Aba Dahdah merasa galau. la tidak percaya setelah pengorbanannya untuk mendapatkan pohon surga tidak membuahkan hasil. Jawaban Rasulullah SAW membuatnya sangat terpukul.

    Kemudian Rasulullah melanjutkan ucapanny, “Wahai Aba Dahdah sesungguhnya Allah SWT menawar satu pohon kurma di dunia dengan pohon kurma miliknya di surga. Namun engkau justru menambahnya dengan kebunmu dan seisinya. Kini bukan pohon kurma yang akan engkau dapatkan. Namun kebun surga yang tidak akan mampu dijangkau luasnya. Alangkah luas kebun kurma milik Aba Dahdah di surga.”

    Aba Dahdah sangat gembira. Ia begitu senang dengan kebun surga miliknya. la pulang dan menceritakan semua kejadian tersebut kepada istrinya. la katakan bahwa kebunnya telah dijual. Dibeli dengan kebun surga yang sangat luas hingga tidak akan mampu untuk diukur luasnya.

    Mendengar cerita Aba Dahdah. Istrinya turut bahagia. Mereka amat begitu senang. Sang istri mengatakan, “Sungguh jual beli yang sangat menguntungkan.”

    Aba Dahdah rela melepaskan kebun dengan 600 pohon kurma semata-mata agar mendapatkan ridho dari Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hadid Ayat 11,

    مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥ وَلَهُۥٓ أَجْرٌ كَرِيمٌ

    Artinya: Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.

    (dvs/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Fatimah Meminta Pembantu pada Rasulullah, Apa Responsnya?


    Jakarta

    Fatimah Az-zahra RA adalah salah seorang putri Nabi Muhammad SAW yang menikah dengan seorang sahabat ayahnya sendiri, yaitu Ali bin Abi Thalib RA. Fatimah RA juga merupakan seorang ibu yang mengurus seluruh pekerjaan rumah tangganya sendiri.

    Suatu ketika, Fatimah RA pernah meminta pembantu kepada ayahnya karena kelelahan bekerja. Bagaimana respons Rasulullah SAW?

    Saat Fatimah RA Meminta Pembantu pada Rasulullah SAW

    Dikutip dari buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW yang ditulis oleh Fuad, Fatimah RA dan suaminya Ali bin Thalib hidup dalam kesederhanaan.


    Sepasang suami istri ini hanya memiliki dua buah batu penggiling gandum yang digunakan untuk menumbuk gandum. Di dalam rumahnya pula hanya memiliki dua buah wadah air yang terbuat dari kulit kambing, minyak wangi yang tidak banyak, serta bantal berbahan ijuk pohon kurma.

    Mereka tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan rumah tangga Fatimah RA. Walaupun Ali RA kerap kali membantu mengerjakan pekerjaan rumah Fatimah RA, ia tetap saja masih merasa kelelahan bahkan membuat kedua tangannya menjadi kasar dan melepuh akibat menggiling gandum.

    Ali bin Abi Thalib pun mengusulkan kepada istrinya untuk meminta seorang pembantu kepada ayahnya, Nabi Muhammad SAW, agar pekerjaan rumahnya menjadi ringan. Fatimah RA lantas mengunjungi Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW pulang dari sebuah perang dan beliau mendapat banyak harta rampasan perang.

    Fatimah RA lantas ditanya oleh ayahnya, “Apa keperluanmu, Putriku?” Namun Fatimah tetap diam dan tidak kuasa untuk mengatakan maksud kedatangannya.

    Lantas Fatimah RA berkata, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Aku ke sini hanya menyampaikan salam kepadamu,” lalu ia kembali ke rumahnya.

    Setibanya di rumah, suaminya sudah menunggunya dan kabar tentang usulannya tadi. Namun, Fatimah RA hanya bisa menjawab bahwa dirinya malu untuk meminta pembantu kepada Rasulullah SAW sehingga tidak mengatakannya.

    Keduanya lantas memutuskan untuk mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta pembantu tersebut. Fatimah RA masih tidak berani berkata pada Rasulullah SAW hingga suaminya yang mengambil alih.

    Ali RA berkata, “Aku akan memberi tahu kamu, Rasulullah. Ia (Fatimah RA) memutar kincir angin hingga membekas pada tangannya. Ia menuangkan air dengan geriba hingga membekas di dada atasnya,”

    “Ketika para pembantu datang, aku menyuruhnya untuk mendatangimu dan meminta pembantu yang akan membantu pekerjaannya dan menjaganya dari beratnya pekerjaan yang dilakukannya.”

    Sebaliknya, Rasulullah SAW justru memberi solusi dari kelelahan Fatimah RA setelah melakukan pekerjaan, terutama pekerjaan rumah yang melelahkan seharian. Dikutip dari Husnul bima Tsabala min Allah wa Rasulibi fin Niswab karya Muhammad Shidiq Hasan Khan, Rasulullah SAW menganjurkan Fatimah RA untuk membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 34 kali sebelum tidur sebagai obat lelah ketika ditimpa pekerjaan yang banyak.

    Keterangan ini bersumber dari salah satu hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu A’bud. Diterjemahkan oleh Muhammad Arifin dalam buku Ensiklopedia Hadits Sahih Kumpulan Hadis tentang Wanita, berikut bunyi haditsnya,

    فَقَالَ : اتَّقِى اللَّهَ يَا فَاطِمَةً ، وَأَدِّي فَرِيضَةَ رَبِّكَ ، وَاعْمَلَي عَمَل أَهْلكَ ، فَإِذَا أَخَذْت مَضْحَعَكَ : فَسَبِّحى ثَلاثًا وَثَلاثِينَ ، وَاحْمَدَي ثَلَاثًا وَثَلاثِينَ، وَكَبْرِي أَرْبَعًا وَثَلاثِينَ ، فَتِلْكَ مِائَةٌ فَهِيَ خَيْرٌ لَكَ مِنْ خَادِم. قَالَتْ : رَضِيتُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلٌ وَعَنْ رَسُولِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم. أخرجه الخمسة إلا (النسائي)

    Artinya: Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata, “Bertakwalah kepada Allah, Fatimah. Tunaikanlah kewajiban Tuhanmu dan laksanakanlah pekerjaan keluargamu. Jika engkau hendak berangkat ke pembaringan, berdoalah dengan membaca tasbih sebanyak 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 34 kali. Semuanya berjumlah 100. Itu semua lebih baik bagimu daripada pembantu rumah tangga.’ Fatimah berkata, Aku rela (rida) atas apa yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya.’ Fatimah tidak dibantu oleh pembantu.” (HR Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

    Sejak saat itu, Ali bin Abi Thalib dan Fatimah RA tidak pernah meninggalkan sunnah yang diberikan oleh Rasulullah SAW tersebut.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Dibunuh 70 Kali tapi Masih Hidup, Ini Sosok Nabi Utusan Allah



    Jakarta

    Allah SWT mengutus nabi-Nya kepada seorang raja zalim penyembah berhala yang bernama Dardiyanah. Salah satu kisah yang populer dari nabi tersebut adalah tatkala ia dibunuh 70 kali tapi masih hidup.

    Nabi yang dibunuh 70 kali tapi masih hidup ini adalah Nabi Jirjis AS. Ia tidak masuk dalam daftar 25 nabi dan rasul yang wajib diimani umat Islam. Namun, beberapa riwayat menceritakan tentang kisahnya.

    Diceritakan dalam buku Diabadikan Qur’an Dipelihara Bumi karya TGH. Lalu Ibrohim, Nabi Jirjis AS diutus Allah SWT kepada penduduk sebuah kerajaan di Ba’labakka. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang bernama Dardiyanah.


    Dardiyanah merupakan penyembah berhala bernama Ba’l. Berhala tersebut dikatakan terbuat dari emas yang tingginya mencapai sekitar 10 m. Berhala ini memiliki empat wajah yang masing-masing menghadap tiap penjuru mata angin.

    Saat Nabi Jirjis AS diutus, tentu ia enggan sujud kepada berhala itu. Dengan tegas ia mengatakan, “Hai raja kenapa kau menyembah benda mati yang tidak bisa melihat ataupun mendengar?”

    Dengan bangga raja itu menjawab, “Sejak aku menyembah berhala ini, aku bisa menjadi raja. Aku menjadi kaya raya dan memiliki nikmat yang tak terhitung banyaknya. Tetapi engkau menyembah Tuhan yang tidak pernah kelihatan, apa yang kamu peroleh dari Tuhanmu itu sebagai imbalannya?”

    “Kekayaan dan kesenangan dunia akan sirna. Allah akan memberiku nikmat akhirat yang kekal di surga,” ujar Nabi Jirjis AS.

    Hingga akhirnya terjadilah perdebatan antara Dardiyanah dan Nabi Jirjis AS. Karena lawannya adalah utusan Allah SWT, Dardiyanah kalah berdebat. Dia lantas menggunakan kekuasaannya untuk menyiksa Nabi Jirjis AS dengan 70 macam siksaan yang pedih–ada juga riwayat yang menyebut 100 siksaan.

    Setiap mendapat satu siksaan hingga meninggal, Allah SWT menghidupkan kembali Nabi Jirjis AS. Lalu, Nabi Jirjis AS datang lagi kepada Dardiyanah dengan seruan yang sama untuk menyembah Allah SWT.

    Kisah Nabi Jirjis AS ini tidak banyak dibahas di kalangan ulama tafsir seperti Ibnu Katsir. Para ulama tafsir dan sejarah menyebutkan banyak nama nabi dengan menukil dari bani Israil atau berpegang pada sejumlah pendapat. Dalam kitab Fathu al-Bari sebagaimana dinukil Umar Sulaiman Al-Asyqar dalam Al-Madkhal ila Dirasal Al-Akidah Al-Islamiyyah, dikatakan Jirjis adalah nabi setelah Nabi Isa AS.

    Namun, Umar Sulaiman Al-Asyqar menolak pendapat ini. Ia berdasar pada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang menyebut bahwa antara Nabi Isa bin Maryam dan Rasulullah SAW tidak ada seorang nabi.

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Masuk Islamnya Khalid bin Walid, Panglima Islam Tersohor pada Masanya



    Jakarta

    Dalam sejarah kemiliteran Islam, sosok Khalid bin Walid RA dikenal akan kehebatannya dalam panglima perang. Saking hebatnya Khalid RA, ia menyandang julukan Pedang Allah yang Terhunus.

    Mengutip buku Ensiklopedia Sahabat Rasulullah oleh Wulan Mulya Pratiwi dkk, Khalid bin Walid RA lahir pada tahun 592 M. Ayahnya bernama Walid bin al-Mughirah, sementara ibunya ialah Lubabah binti al-Harith.

    Khalid bin Walid RA termasuk kerabat Rasulullah SAW karena bibinya yang bernama Maimunah merupakan istri dari Nabi Muhammad. Selain itu, Khalid RA juga merupakan sepupu dari Umar bin Khattab RA, bahkan keduanya memiliki kemiripan wajah dan postur tubuh.


    Mulanya, Khalid RA memusuhi Nabi SAW seperti suku Quraisy kebanyakan yang memegang teguh agama lama mereka. Bahkan dirinya turut serta dalam memerangi kaum muslimin, salah satunya ketika Perang Uhud.

    Saat Perang Uhud, Khalid bin Walid RA sebagai panglima pasukan berkuda suku Quraisy berhasil mengalahkan pasukan muslim. Akibatnya, tentara Islam kalah telak.

    Seiring berjalannya waktu, Allah SWT memberi hidayah pada Khalid bin Walid RA hingga akhirnya ia memeluk Islam. Dijelaskan dalam buku Para Panglima Perang Islam susunan Rizem Aizid, setelah masuk Islam Khalid RA menjadi juru tulis Nabi SAW yang bergelar Abu Sulaiman.

    Melalui Kitab Al-Maghzi Muhammad karya Al-Waqidi, disebutkan Khalid RA mengatakan bahwa Allah SWT memberinya hidayah.

    “Aku telah menyaksikan tiga perang, yang semuanya melawan Muhammad. Di setiap pertempuran yang kusaksikan, aku pulang dengan perasaan bahwa aku berada di sisi yang salah, dan bahwa Muhammad pasti akan menang,” ucapnya.

    Hatinya semakin tersentuh setelah menerima surat dari saudaranya yang terlebih dulu masuk Islam, yaitu Walid bin Al Walid. Ia mengingatkan Khalid RA bahwa banyak kesempatan baik yang terlewat olehnya. Dengan demikian, Khalid RA memutuskan untuk memeluk Islam.

    Ketika di bulan Safar 8 H, pada masa gencatan senjata setelah Perjanjian Hudaibiyah, Khalid RA bersama Amr bin Al Ash RA dan Utsman bin Thalhah RA menemui Nabi SAW untuk memeluk Islam.

    Ia berkata kepada Rasulullah SAW untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Sang nabi lantas berdoa:

    “Ya Allah, aku memohon agar Engkau mengampuni Khalid bin Al-Walid atas tindakannya menghalangi jalan-Mu pada masa lalu,”

    Setelah masuk Islam, Khalid bin Walid RA banyak memimpin berbagai pertempuran antara lain Perang Mu’tah, Fathu Makkah, Pertempuran Hunain, Pengepungan Thaif, Pertempuran Tabuk, dan Haji Wada’.

    Perang Mu’tah menjadi awal mula karier kemiliteran Khalid bin Walid RA setelah masuk Islam. Kala itu, ia melawan suku Ghassan.

    Sebelumnya, Khalid RA tidak ditugaskan untuk memimpin Perang Mu’tah. Namun karena kematian para pemimpin perang, akhirnya Tsabit bin Arqam RA meminta Khalid RA untuk memimpin pasukan muslim.

    Sebagai sosok yang dikenal hebat dalam pertempuran, Khalid RA lantas menyusun strategi untuk melakukan tipu muslihat. Khalid RA memberi perintah agar barisan pasukan belakang berpindah ke depan, lalu pasukan sayap kiri berpindah ke sayap kanan, begitu sebaliknya.

    Pasukan yang berada di barisan belakang terus menerus bergerak menuju bagian depan sehingga debu-debu berterbangan. Hal ini tentu mengganggu penglihatan pasukan musuh.

    Strategi Khalid RA yang brilian itu mengakibatkan pasukan musuh mengira kaum muslimin mendapat tambahan bala tentara baru. Karenanya, pasukan musuh tidak berani berbuat gegabah dalam menggempur kaum muslimin.

    Taktik yang Khalid RA lakukan membuat pasukan muslim memenangkan perang tersebut. Begitu pula pada pertempuran-pertempuran lainnya yang diikuti Khalid RA setelah memeluk Islam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Yaqub saat Kehilangan Nabi Yusuf dan Menangis hingga Buta



    Yogyakarta

    Nabi Yaqub AS pernah kehilangan sang putra, Nabi Yusuf AS. Saking sedihnya, ia kemudian menangis dan bersedih dalam waktu yang lama hingga matanya menjadi buta.

    Nabi Yaqub AS memiliki nama lengkap Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim AS. Ia adalah putra dari Nabi Ishaq AS.

    Nabi Yaqub memiliki saudara kembar yang bernama Aish. Namun, karena keduanya kurang akur, Nabi Ishaq meminta Yaqub untuk merantau ke A’ram (Irak).


    Disebutkan dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul karya Dr. H. Ridwan Abdullah Sani, M.Si. dan Muhammad Kadri, S.Si., M.Sc. bahwa ketika Nabi Yaqub dalam perjalanan merantau, ia bermimpi akan memperoleh rezeki yang banyak, kehidupan yang aman damai, memiliki keluarga dan anak cucu yang saleh dan berbakti, serta memiliki kerajaan yang besar dan makmur.

    Dalam buku Islam on the Spot disebutkan bahwa Nabi Yaqub memiliki 4 istri dan 12 anak laki-laki. Terdapat satu anak yang tampan dan merupakan putra kesayangan Nabi Yaqub, yaitu Nabi Yusuf.

    Dona Ningrum Mawardi dan Atin Sumaryani dalam bukunya yang berjudul Meneladani Kesalehan Ayah dalam Al-Qur’an, disebutkan Nabi Yusuf pernah bermimpi melihat 11 bintang, bulan, dan matahati bersujud kepadanya.

    Ketika beliau menceritakan mimpinya kepada sang ayah, ia justru melarangnya untuk tidak bercerita kepada siapapun. Karena Nabi Yaqub mengartikan mimpi tersebut bahwa suatu hari, Nabi Yusuf akan menjadi seorang yang besar dan semua anggota keluarganya akan tunduk hormat kepadanya.

    Karena Nabi Yaqub menunjukkan betapa sayangnya ia kepada Nabi Yusuf, saudara-saudara Nabi Yusuf merasa cemburu dan berencana untuk mencelakainya. Kisah ini termaktub dalam Al-Qur’an.

    Allah SWT berfirman dalam surat Yusuf ayat 15,

    فَلَمَّا ذَهَبُوْا بِهٖ وَاَجْمَعُوْٓا اَنْ يَّجْعَلُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِاَمْرِهِمْ هٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ١٥

    Artinya: “Maka, ketika mereka membawanya serta sepakat memasukkannya ke dasar sumur, (mereka pun melaksanakan kesepakatan itu). Kami wahyukan kepadanya, ‘Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan mereka ini kepada mereka, sedangkan mereka tidak menyadari.’”

    Masih dengan sumber yang sama, diceritakan bahwa sesampainya di rumah, para saudara Nabi Yusuf ini mengatakan kepada ayahnya jika Nabi Yusuf telah diterkam binatang buas.

    Allah SWT berfirman dalam QS Yusuf ayat 17,

    قَالُوْا يٰٓاَبَانَآ اِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوْسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَاَكَلَهُ الذِّئْبُۚ وَمَآ اَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَّنَا وَلَوْ كُنَّا صٰدِقِيْنَ ١٧

    Artinya: “Mereka berkata, “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu serigala memangsanya. Engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.”

    Setelah mendapati kabar tersebut, Nabi Yaqub sangat sedih dan menangis berkepanjangan sehingga membuat kedua matanya buta.

    Dijelaskan dalam buku terjemahan Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Qur’an karya Adil Musthafa Abdul Halim Nabi Yaqub menghadapi musibah terebut dengan penuh kesabaran dalam menghadapi tipu daya dan kebohongan putra-putranya.

    Allah SWT memberikan kekuatan kepada Nabi Yaqub sehingga ia dapat melewati ujian dan dapat menyaksikan kebenaran.

    Setelah sekian lama, Allah SWT mengembalikan penglihatan Nabi Yaqub sehingga ia dapat kembali melihat. Nabi Yaqub juga akhirnya mengetahui fakta bahwa sang anak, Nabi Yusuf, masih hidup.

    Nabi Yaqub kemudian memohon ampun atas perbuatan putra-putranya seperti yang tertera dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 98,

    قَالَ سَوْفَ اَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيْ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٩٨

    Artinya: “Dia (Ya’qub) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Seperti yang dijelaskan dalam buku Menengok Kisah 25 Nabi dan Rasul karya Ust. Fatih bahwa Nabi Yaqub memberikan contoh kesabaran dalam menghadapi segala hal.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Hud AS Berdakwah kepada Kaum ‘Ad yang Sombong



    Jakarta

    Nabi Hud AS memiliki garis keturunan yang sama dengan Nabi Nuh AS. Allah SWT mengutus Hud AS kepada kaum Ad. Kaum Ad adalah kelompok yang musyrik dan ingkar kepada Allah SWT. Sebab mereka menyembah 3 berhala, yaitu Shamda, Shamud, dan Hira.

    Mengutip buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul susunan Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, kaum Ad dikaruniai oleh Allah SWT berbagai kekayaan. Mulai dari tanah yang subur, sumber-sumber air yang mengalir dari berbagai penjuru dan memudahkan mereka bercocok tanam, serta tempat tinggal mereka yang dikelilingi dengan kebun bunga.

    Kaum Ad hidup dengan makmur, sejahtera, serta bahagia. Mereka bahkan menjadi suku terbesar di antara suku-suku yang hidup di sekelilingnya.


    Tak sampai di situ, Allah SWT bahkan menganugerahkan kaum Ad tubuh yang kuat dan kekar sehingga memudahkan mereka untuk bekerja keras. Mereka juga memiliki pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi.

    Dengan ragam kenikmatan yang Allah SWT berikan, mereka tidak pernah bersyukur. Tingginya ilmu pengetahuan dan kebudayaan tidak membuat mereka percaya akan keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Esa.

    Kaum Ad meyakini bahwa patung-patung yang mereka sembah merupakan Tuhan mereka. Nabi Hud AS diutus pada kaum yang banyak menyimpang dari nabi-nabi sebelumnya.

    Allah SWT menugaskan Hud AS untuk mengingatkan kembali ajaran-ajaran nabi yang sebelumnya agar mereka kembali ke jalan yang benar. Sebab, kaum Ad sudah tidak menyembah Allah SWT dan melakukan berbagai perbuatan syirik serta tahayul.

    Dakwah Nabi Hud AS ditolak oleh kaum Ad dengan ragam alasan, bahkan mereka tak segan melontarkan tuduhan, ejekan, serta hinaan kepada sang nabi. Sebagai utusan Allah, Hud AS bersabar atas apa yang dikatakan oleh kaumnya.

    Kaum Ad berdalih tidak akan mengubah kebiasaan mereka menyembah berhala karena hal itu merupakan warisan nenek moyang mereka. Bahkan, mereka mengatakan seharusnya Nabi Hud AS kembali kepada aturan nenek moyang dan menyembah berhala.

    Meski tidak menyerah dalam menyampaikan dakwah, kaum Ad tidak menggubris Nabi Hud AS. Mereka menghina dan merendahkan Hud AS hingga mengatakan beliau tidak memiliki kelebihan apapun dibanding mereka.

    Nabi Hud AS lalu berkata bahwa Allah akan segera menurunkan azabnya bagi kaum Ad yang tidak beriman kepada-Nya. Alih-alih percaya pada peringatan Hud AS, kaum Ad justru semakin sombong dan kufur sambil menyebut mereka tidak akan ditimpa azab.

    Azab Allah SWT kepada Kaum Ad

    Merujuk pada sumber yang sama, Allah menurunkan azab kepada kaum Ad melalui dua tahap. Pertama, ladang-ladang dan kebun mereka mengalami kekeringan.

    Pada keadaan itu, Nabi Hud AS berusaha meyakinkan kaumnya bahwa kekeringan tersebut merupakan azab yang Allah berikan. Namun tetap saja, perkataan Nabi Hud AS tidak digubris oleh kaum Ad, mereka bahkan berdoa dan memohon perlindungan kepada berhala-berhala yang mereka sembah.

    Selanjutnya, tahapan kedua dari azab yang Allah timpa pada kaum Ad adalah munculnya gumpalan awan dan awan hitam yang tebal di atas mereka. Melihat hal itu, kaum Ad sempat gembira karena menganggap akan turun hujan dan membasahi ladang mereka yang mengalami kekeringan.

    Menyaksikan hal itu, Nabi Hud AS lalu berkata bahwa awan hitam tersebut bukanlah awan rahmat, melainkan membawa kehancuran sebagai balasan Allah yang dijanjikan. Dalam surat Al Ahqaf ayat 24, Allah SWT berfirman:

    فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا۟ هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا ٱسْتَعْجَلْتُم بِهِۦ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

    Artinya: “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,”

    Allah SWT memberikan kaum Ad azab berupa angin topan dan badai hebat. Saking dahsyatnya, bencana itu berlangsung hingga 8 hari 7 malam yang berujung melenyapkan kaum Ad tanpa sisa.

    Dalam peristiwa itu, Nabi Hud AS beserta sahabatnya yang beriman mendapat perlindungan dari Allah SWT. Setelah cuaca tenang, Hud AS pergi hijrah ke Hadramaut dan menghabiskan sisa hidupnya di sana hingga wafat.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com