Blog

  • Kisah Nabi & Para Sahabat yang Kesiangan Sholat Subuh



    Yogyakarta

    Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pernah mengalami kesiangan saat sholat Subuh. Ada hikmah dari peristiwa ini yang sekaligus menjadi pembelajaran bagi umat muslim sepeninggal Nabi Muhammad SAW.

    Sholat fardhu merupakan kewajiban seluruh umat muslim yang ditetapkan Allah SWT, seperti firman-Nya dalam beberapa ayat Al-Qur’an, salah satunya terdapat dalam surat an-Nisa ayat 103,

    فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا ١٠٣


    Artinya: “Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.”

    Ketika ketika mengawali hari, sholat subuh adalah yang pertama dilaksanakan. Dikutip dari buku Shalat Subuh dan Shalat Dhuha oleh Muhammad Khalid, bahwa sholat subuh merupakan pembuka hari dan pintu rahmat.

    Dalam perjalanan Islam, terdapat kisah yang menarik tentang Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang pernah kesiangan dalam menunaikan sholat subuh.

    Meskipun merupakan momen keterlambatan, kisah ini memberikan pelajaran berharga tentang ketekunan, taqwa, dan komitmen terhadap ibadah.

    Kisah Nabi dan Para Sahabatnya Kesiangan Sholat Subuh

    Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya adalah insan beriman yang tak luput dari kesalahan.

    Dikutip dari buku Jangan Bersedih Aku Bersamamu Sayang karya Achmad Farid, menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya pernah mengalami bangun kesiangan ketika hendak melaksanakan sholat subuh.

    Pada saat itu, dikisahkan Nabi SAW dan para sahabat memutuskan beristirahat hingga menjelang pagi di suatu tempat ketika mereka sedang melakukan perjalanan di malam hari.

    Saat itu Nabi SAW berkata,

    “Aku khawatir kalau kalian tidak bangun saat pagi sehingga melewatkan waktu subuh.”

    Lalu seorang sahabat, Bilal RA berkata,

    “Aku yang akan membangunkan kalian.”

    Kendati demikian, Bilal pun ternyata ikut tertidur pulas bersama Nabi SAW dan sahabat yang lain.

    Ketika Nabi Muhammad SAW terbangun, beliau kaget karena Bilal masih tertidur padahal matahari telah merangkak naik. Kemudian Nabi membangunkannya.

    Bilal pun mengatakan bahwa dia tidak pernah tidur selelap itu.

    Kemudian Nabi SAW memberikan nasihat kepada Bilal bahwa Allah SWT dapat mengambil nyawa kita kapan saja, dan dapat mengembalikannya kapan pun sesuai kehendak-Nya.

    Lalu, Nabi SAW memerintahkan Bilal untuk adzan dan mendirikan sholat Subuh dengan para sahabat meskipun matahari sudah meninggi.

    Pelajaran dari Kisah Nabi dan Para Sahabat yang Bangun Kesiangan

    Terdapat beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat di ambil dari kisah di atas, yaitu:

    Ketekunan dalam beribadah

    Nabi Muhammad dan para sahabatnya menunjukkan ketekunan luar biasa dalam menjalankan sholat, meskipun dalam kondisi yang sulit. Mereka tidak memandang lelah atau keterlambatan sebagai alasan untuk menghindari ibadah.

    Ketaqwaan dan kesadaran

    Meskipun kesiangan, mereka tetap mengutamakan ketaqwaan dan kesadaran akan Allah. Mereka menyadari bahwa kewajiban ibadah tidak dapat ditunda, bahkan dalam situasi yang tidak ideal.

    Inspirasi bagi umat

    Kisah ini menjadi inspirasi sekaligus pembelajaran bagi umat Islam untuk mengatasi keterlambatan atau kesulitan dalam ibadah. Sholat merupakan hal yang penting dan tidak boleh ditinggalkan. Ketika bangun kesiangan saat sholat Subuh maka hendaklah bergegas wudhu dan mendirikan sholat.

    Seperti Nabi dan para sahabatnya, kita juga dapat menghadapi tantangan dengan semangat dan tekad dalam menjalankan ibadah.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Saleh AS dan Pembangkangan Kaum Tsamud



    Jakarta

    Nabi Saleh termasuk ke dalam 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui oleh kaum muslimin. Ia diutus kepada kaum Tsamud yang tidak taat pada ajaran Allah SWT.

    Semasa hidupnya, Nabi Saleh AS berjuang mengajak kaum Tsamud beriman kepada Allah. Kaum tersebut menyembah berhala seperti kaum sebelumnya, yaitu kaum ‘Aad.

    Menukil buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul susunan Ridwan Abdullah Sani, tempat tinggal kaum Tsamud berada di daerah antara Hijaz dan Syam. Dahulu, kawasan tersebut dikuasai oleh kaum Ad yang mana merupakan pendahulu kaum Tsamud.


    Allah SWT memberikan segala karunia-Nya terhadap kaum Tsamud. Mulai dari kekayaan alam yang luar biasa, tanah yang subur, hingga binatang ternak yang mampu berkembang biak dengan baik.

    Sayangnya, kemakmuran yang dimiliki tidak membuat mereka taat kepada Allah SWT. Sebaliknya, mereka enggan mengimani apa yang Nabi Saleh AS yakini.

    Bahkan, kaum Tsamud menantang Nabi Saleh untuk menunjukkan mukjizatnya. Pada buku yang sama, dikisahkan mereka meminta Saleh AS untuk mengeluarkan unta dari sebuah batu bersar.

    Jika Nabi Saleh AS dapat melakukan hal demikian, kaum Tsamud berjanji akan beriman kepada Allah SWT. Atas kuasa Allah dan permohonan Nabi Saleh AS kepada-Nya, terjadilah mukjizat.

    Nabi Saleh AS lantas berkata kepada kaum Tsamud seperti termaktub dalam surat Hud ayat 64,

    وَيٰقَوْمِ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيْب٦٤

    Artinya: “Wahai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat untukmu. Oleh karena itu, biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu memperlakukannya dengan buruk yang akan menyebabkan kamu segera ditimpa azab.”

    Dengan izin Allah, keluarlah unta betina dari sebuah batu besar. Alih-alih menempati janji mereka, kaum Tsamud justru mengingkari dan membunuh unta tersebut.

    Hal tersebut mengakibatkan turunnya azab Allah SWT yang akan turun dalam waktu 3 hari. Sebagai seorang utusan, Saleh AS memperingatkan kaum Tsamud untuk terakhir kalinya.

    Sayangnya, mereka tidak menghiraukan hal tersebut. Hukuman Allah akan dijatuhkan pada hari keempat setelah 3 hari waktu tenggang yang dijanjikan. Dalam surat Hud ayat 65, Allah berfirman:

    فَعَقَرُوْهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوْا فِيْ دَارِكُمْ ثَلٰثَةَ اَيَّامٍ ۗذٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوْبٍ٦٥

    Artinya: “Mereka lalu menyembelih unta itu. Maka, dia (Saleh) berkata, “Bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS Hud: 65)

    Mengutip Kisah para Nabi oleh Ibnu Katsir, azab kepada kaum Tsamud dimulai ketika Allah SWT memerintahkan para malaikat-Nya untuk melemparkan bebatuan kepada sejumlah orang yang berniat untuk membunuh Nabi Saleh AS.

    Ketika hari Jumat pagi, seluruh wajah kaum Tsamud berubah menjadi merah. Pada sore harinya, mereka berkata, “sudah dua hari berlalu dari waktu yang ditentukan.” Pada hari selanjutnya, seluruh wajah mereka berubah warna menjadi hitam. Ketika waktu sore tiba, mereka berkata, “Sepertinya waktu yang ditentukan sudah tiba.”

    Keesokan hari ketika matahari telah terbit, terdengar suara yang sangat keras dari atas sehingga memecahkan jantung mereka, dan dari bawah mereka bumi terguncang dengan sangat keras. Maka tidak lama kemudian, nyawa-nyawa pun melayang.

    Kekuasaan Allah SWT dalam memberikan azab kepada kaum Tsamud dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Hud ayat 68 yang berbunyi sebagai berikut:

    كَأَن لَّمْ يَغْنَوْا۟ فِيهَآ ۗ أَلَآ إِنَّ ثَمُودَا۟ كَفَرُوا۟ رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِّثَمُودَ

    Artinya: “Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.” (QS Hud: 68)

    Naudzubillah min dzalik.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Benarkah Jari Rasulullah SAW Bisa Mengeluarkan Air?



    Jakarta

    Mukjizat adalah karunia yang Allah SWT berikan kepada nabi dengan tujuan untuk mempermudah utusan-Nya mengemban tugas. Rasulullah SAW adalah salah satu yang dikaruniai mukjizat memancarkan air dari sela-sela jarinya.

    Kisah pertama mukjizat Nabi Muhammad SAW ini terabadikan dalam riwayat hadits pada Kitab Fadha’il ash Shahabah yang diceritakan Anas bin Malik. Berikut bunyi haditsnya:

    عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا بِمَاءٍ فَأُتِيَ بِقَدَحٍ رَحْرَاحٍ فَجَعَلَ الْقَوْمُ يَتَوَضَّؤُونَ فَحَزَرْتُ مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى الثَّمَانِينَ. قَالَ: فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى الْمَاءِ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ. رواه مسلم


    Artinya: “Dari Anas RA bahwasannya Nabi SAW pernah meminta air, lalu diberikan kepada beliau sebaskom air. Maka berwudhulah kaum muslimin dengan air itu. Aku memperkirakan jumlah mereka berkisar antara enam puluh sampai delapan puluh orang. Dan aku menyaksikan sendiri air itu keluar dari sela-sela jari beliau.” (HR. Muslim).

    Dikutip dari buku Mukjizat Nabiku Muhammad karya Muhammad Ash-Shayyim, ada berbagai kisah menyebutkan mukjizat Rasulullah SAW yang mampu mengeluarkan air dari celah jarinya. Berikut hadits lain yang menceritakan kisah tersebut:

    عن أنس رضي الله عنه قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وحانت صلاة العصر وهو بالزوراء (موضع بسوق المدينة) فالتمس الناس الوضوء فلم يجدوه فأتى رسول الله صلى الله عليه وسلم بوضوء في إناء فوضع يده في ذلك الإناء. فأمر الناس أن يتوضؤوا منه فرأيت الماء ينبع من بين أصابعه صلى الله عليه وسلم. فتوضأ الناس حتى توضؤوا عن آخرهم. قيل لأنس: كم كنتم فقال: كنا زهاء ثلاثمئة.

    Artinya: Dari Anas bin Malik RA, dia mengatakan mengatakan: “Aku melihat Rasulullah SAW ketika waktu Ashar, beliau berada di dekat pasar Madinah, telah tiba dan orang-orang sedang mencari air wudhu, namun mereka belum mendapatkannya. Lantas dibawakan air wudhu kepada Rasulullah SAW maka Rasulullah SAW meletakkan tangannya ke dalam bejana tersebut. Beliau pun memerintahkan orang-orang untuk berwudhu darinya. Anas berkata: Aku melihat air mengalir dari bawah jari-jari beliau (Nabi SAW), sehingga mereka berwudhu sampai orang yang terakhir.” Anas ditanya, berapa jumlah mereka ketika itu. Anas menjawab, “Kurang lebih 300 orang.” (HR Muslim).

    Dikisahkan Nabi Muhammad SAW ketika itu berada di Zawra atau tempat yang agak tinggi di Masjid Nabawi. Beliau diketahui memasukkan tangannya ke dalam sebuah ember.

    Atas izin Allah SWT, air secara tiba-tiba memancar dari jari-jemari beliau. Para kaum muslimin saat itu pun berwudhu dari air tersebut.

    Qatadah yang mendengar kisah ini pun bertanya pada Anas, “Berapa jumlah kalian saat itu?”

    Anas menjawab, “Sekitar tiga ratus orang,” (HR Bukhari dan Muslim).

    Bukti lainnya terangkum dalam sejumlah kitab shahih terutama dari shahih Bukhari dan Muslim. Dalam sebuah riwayat yang berasal dari Salim bin Abi al Ju’d dari Jabir bin Abdillah al Anshari RA yang berkata,

    “Pada saat melakukan perjalanan Hudaibiyah, para sahabat mengalami kehausan. Sementara, di hadapan Nabi Muhammad SAW terdapat kantong dari kulit. Kemudian beliau berwudhu.”

    Melihat Nabi Muhammad SAW berwudhu lewat kantong tersebut, para sahabat pun menghampiri beliau. Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

    Kemudian, para sahabat menjawab, “Kami tidak memiliki air untuk berwudhu dan untuk minum kecuali yang ada di depanmu ini.”

    Lantas, Nabi Muhammad SAW pun memasukkan tangannya ke dalam kantong air tersebut. Seketika air memancar dari jari jemari layaknya sumber mata air. Para sahabat pun mengambil air untuk wudhu dan minum dari pancaran air tersebut.

    Salim bertanya pada Jabir, “Berapa jumlah kalian waktu itu?”

    Jabir berkata, “Andaikan jumlah kami 100 ribu tentu masih cukup. Namun, ketika itu, jumlah kamihanya seribu lima ratus orang.” (HR Bukhari dan Muslim dalam Bab al Manaqib, al Maghzai, dan al Imarah).

    Peristiwa serupa juga disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Saat itu, Rasulullah SAW dan para sahabat tengah melakukan perjalanan pada suatu pagi dan ternyata, mereka telah kehabisan persediaan air.

    Seseorang pun mengadukan hal itu pada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, persediaan air di kalangan para prajurit telah habis,”

    Kemudian beliau bertanya, “Apakah kamu mempunyai sedikit air?”

    “Ya,” jawab orang itu.

    “Kalau begitu bawa air itu padaku,” Setelahnya, orang tersebut membawa sebuah wadah kepunyaannya yang berisi sedikit air.

    Nabi Muhammad SAW pun terlihat meletakkan jari jemari tangannya di bibir wadah sambil merenggangkannya. Tiba-tiba, ada sumber air memancar dari sela-sela jarinya.

    Lalu, beliau pun meminta Bilal bin Rabbah untuk menyerukan panggilan wudhu pada muslim yang lain, “Panggilah orang-orang untuk berwudhu dari air yang diberkahi ini.” (HR Ahmad dan Al Baihaqi).

    Wallahu’alam.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Regal, Kaum Tsamud yang Dikubur Bersama Sebongkah Emas



    Jakarta

    Azab Allah SWT yang pedih pasti menimpa siapapun yang ingkar. Demikian pula pada kaum Tsamud di masa Nabi Saleh AS.

    Kaum Tsamud binasa karena mereka mengingkari ajaran yang dibawa Nabi Saleh AS. Azab yang pedih menimpa kaum ini hingga hancur tak bersisa. Namun ada satu orang yang lolos dari azab, ia adalah Abu Regal.

    Dikisahkan Imam Ibnu Katsir dalam bukunya yang berjudul Kisah Para Nabi, Imam Ahmad meriwayatkan, dari Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Abdullah bin Utsman bin Khaitsam, dari Abu Zubair, dari Jabir, ia berkata,


    “Ketika Rasulullah lewat di daerah Hijr, beliau bersabda, “Janganlah kalian meminta mukjizat, sebab kaum Nabi Saleh pernah memintanya, dan dikeluarkanlah seekor unta dari tebing ini, namun kaum itu melanggar perintah Tuhan mereka dengan menyembelihnya. Unta itu meminum persediaan air mereka dalam satu hari dan sebagai gantinya kaum itu dapat meminum persediaan susu unta itu dalam satu hari, namun mereka tetap membunuhnya, maka mereka pun diazab dengan suara yang menggelegar dari atas langit, hingga mereka semua binasa kecuali satu orang yang bersembunyi di dalam wilayah Haram (sekarang Masjidil Haram).”

    Kemudian para sahabat bertanya, “Siapakah orang itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “la adalah Abu Regal.

    “Namun setelah ia keluar dari wilayah Haram ia juga dikenakan azab yang sama dengan azab yang menimpa kepada kaumnya. “

    Sanad hadits ini shahih, namun tidak ada satupun dari enam kitab para imam hadits yakni Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Abu Dawud, dan Ibnu Majah yang menyebutkannya dalam kitab mereka.

    Sebongkah Emas di Makam Abu Regal

    Abu Regal mendapatkan azab yang sama dengan kaum Tsamud. Namun karena jasadnya ditemukan, maka ia dimakamkan oleh orang-orang sekitar.

    Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Ismail bin Umayyah, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW lewat di makam Abu Regal, lalu beliau berkata, “Apakah kalian tahu makam siapa ini?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu.”

    Lalu Nabi menjelaskan, “Ini adalah makam Abu Regal, salah seorang dari kaum Tsamud. Dahulu (ketika diturunkannya azab kepada kaum Tsamud) ia melarikan diri dan kemudian bersembunyi di wilayah Haram, sehingga ia terhindar dari dari azab tersebut.

    Ketika ia keluar dari sana (Tanah Haram) maka ia pun mendapatkan azab yang sama dengan azab yang dijatuhkan kepada kaumnya, lalu ia dikebumikan di sini, dan dikubur juga bersamanya sebongkah emas.”

    Maka para sahabat pun kemudian berlomba-lomba menggali makam itu dengan pedang mereka untuk mencari emas tersebut, dan akhirnya mereka benar-benar menemukan emas itu di sana.

    Abdurrazzaq setelah meriwayatkan hadits ini berkata, “Ma’mar menyampaikan bahwa Az-Zuhri mengatakan, Abu Regal itu adalah Abu Tsagif. Hadits dengan sanad ini adalah hadits mursal, yakni hadits yang disandarkan oleh para tabi’in -mereka adalah orang yang mendengarkan hadist dari sahabat- kepada Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, ataupun sifat.

    Lalu Abdurrazzaq melanjutkan, “Ada riwayat lain yang serupa dengan sanad yang berbeda, seperti disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq dalam kitab sirahnya, dari Ismail bin Umayyah, dari Bujair bin Abi Bujair, dari Abdullah bin Umar, ia berkata,

    “Ketika kami bersama Rasulullah menuju Kota Thaif dan lewat di sebuah makam, aku mendengar beliau bersabda, “Sesungguhnya ini adalah makam Abu Regal, alias Abu Tsaqif, dan ia adalah salah seorang dari kaum Tsamud. Wilayah Haram mencegahnya dari azab ketika itu, namun ketika ia keluar dari wilayah Haram maka ia pun mendapatkan azab yang sama dengan azab yang ditimpakan kepada kaumnya di tempat ini, lalu ia dikuburkan disini.

    Bukti bahwa ia dikuburkan di sini adalah sebongkah emas yang dikuburkan bersamanya. Apabila kalian menggalinya maka kalian akan menemukan emas itu. Maka para sahabat berlomba-lomba menggali makam tersebut dan mengeluarkan emas tersebut”

    Riwayat inilah yang disebutkan oleh Abu Dawud, melalui Muhammad bin Ishaq, dan para perawi lainnya seperti sanad di atas. Wallahu alam.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ummu Habibah, Anak Abu Sufyan yang Menjadi Istri Nabi


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW memiliki sejumlah istri. Sang penghulu Rasul itu menikahi mereka karena perintah dari Allah SWT dan untuk berdakwah. Salah satu istri Nabi Muhammad adalah Ummu Habibah, anak dari Abu Sufyan yang sangat membenci Islam ketika itu.

    Ramlah binti Abi Sufyan Shakhr bian Harb bin Umayah bin Abdi Syams, Ummu Habibah Ummul Mukminin adalah seorang putri pemimpin Quraisy dan pentolan kaum musyrikin hingga menjelang Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah). Tulis Bassam Muhammad Hamami dalam bukunya yang berjudul Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam.

    Ummu Habibah menjadi seorang yang beriman walaupun ayahnya saat itu adalah orang yang sangat kafir. Ayahnya tidak bisa mencegah putrinya untuk tetap berada pada kesesatan dengan mengikuti ajaran nenek moyang mereka.


    Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, Ummu Habibah telah menikah dengan seorang lelaki bernama Ubaidillah bin Jahsy al-Asdi, seorang singa Bani Khuzaimah.

    Keduanya meninggalkan Makkah demi hijrah ke Habasyah. Namun di sana, suaminya itu malah berpaling dari Islam dan menjadi non muslim.

    Meskipun begitu, Allah SWT telah menyempurnakan keimanan Ummu Habibah. Ia sudah berkata kepada suaminya itu bahwa meninggalkan Islam bukanlah hal yang terbaik. Dia juga sudah berupaya mencegah agar sang suami tidak murtad. Namun Ubaidillah tak menghiraukan dan terus meminum khamr hingga dirinya mati.

    Kisah Ummu Habibah Dilamar Rasulullah SAW

    Dijelaskan dalam buku 365 Hari Bersama Sahabat Nabi SAW: Bercengkerama dengan Mereka Setiap Hari oleh Biru Tosca, dijelaskan cerita mengenai pelamaran Ummu Habibah dari jarak jauh.

    Setelah ditinggal oleh suaminya, Ummu Habibah selalu merasa sedih. Namun begitu dirinya tetap tinggal di Habasyah seorang diri.

    Ternyata kesedihan dan kesendirian Ummu Habibah ini diketahui oleh Rasulullah SAW. Setelah habis masa iddahnya, akhirnya Rasulullah SAW meminta bantuan Raja Negus (Raja Habasyah) untuk meminangnya.

    Raja Negus mengutus pegawai perempuannya untuk menemui Ummu Habibah untuk menyampaikan surat pinangan Rasulullah SAW kepadanya. Ia lantas menerima pinangan tersebut dengan senang perasaan sangat bahagia.

    Pernikahan pun dilangsungkan pada tahun ke-7 Hijriah dengan mahar 400 dinar. Setelah menikah, dirinya tetap tinggal di Habasyah barulah setelah Perang Khaibar ia hidup bersama Rasulullah SAW.

    Kisah Ummu Habibah Bersama Rasulullah SAW

    Selama hidup bersama Rasulullah SAW, belum ada satu riwayat pun yang mengabarkan perilaku cemburu yang ditunjukkan oleh Ummu Habibah. Inilah salah satu kelebihan Ummu Habibah di antara para istri Nabi SAW yang lain.

    Suatu saat, Abu Sufyan tiba di Madinah untuk membicarakan Perjanjian Hudaibiyah yang dilanggar oleh kaum Quraisy. Namun, ia tidak langsung menemui Rasulullah SAW, melainkan ingin memanfaatkan anaknya sendiri untuk negosiasi itu.

    Ia terkejut melihat keberadaan ayah yang sudah lama tidak ia lihat itu berada di rumahnya. Ia lebih tidak terima ketika ayahnya duduk di tikar yang biasanya digunakan untuk duduk oleh Rasulullah SAW.

    Ummu Habibah berkata, “Tikar ini milik Rasulullah. Sementara engkau masih musyrik. Aku tidak suka engkau duduk di atasnya.”

    Dirinya pun marah, namun masih bisa dipendam. Hal ini lantas membuat Abu Sufyan untuk mengurungkan niatnya memanfaatkan putrinya.

    Kejadian ini menunjukkan bahwa keimanan istri Nabi Muhammad Ummu Habibah sangatlah kuat dan teguh. Iman dan keyakinan itu tidak goyah walaupun dihadapkan dengan ayah kandungnya sendiri.

    Setelah ditinggal wafat Rasulullah SAW, Ummu Habibah menghabiskan sisa waktunya untuk menyendiri beribadah kepada Allah SWT.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Umar Menangis Lihat Nabi Tidur Hanya Beralaskan Tikar



    Jakarta

    Sahabat nabi, Umar bin Khattab RA, pernah sampai menangis karena melihat kesederhanaan Rasulullah SAW. Hal ini diceritakan dalam salah satu riwayat hadits dari Anas bin Malik RA.

    Dikutip dari Ibnul Jauzi dalam Al-Wafa, Anas RA bercerita, saat itu Rasulullah SAW tengah tiduran hanya beralaskan tikar dan mengenakan selimut. Bantal yang digunakan sebagai penyangga kepalanya terbuat dari kulit yang diisi serabut.

    Seorang sahabat kemudian turut masuk ke kamar Rasulullah SAW, berikut dengan Umar bin Khattab RA.


    Saat itulah, Rasulullah SAW membalikkan badannya sehingga Umar bin Khattab RAmelihat pakaian Rasulullah SAW tersingkap pada bagian punggungnya. Umar bin Khattab RA melihat ada bekas-bekas pada punggung beliau karena alas tidurnya yang terlalu keras. Setelahnya, Umar bin Khattab RA menangis.

    Rasulullah SAW yang melihat itu pun bertanya pada Umar bin Khattab RA, “Apa yang membuatmu menangis?”

    Umar bin Khattab RA menjawab, “Demi Allah, saya menangis setelah mengetahui bahwa engkau lebih mulia dari raja-raja dan kaisar. Mereka hidup sesuai dengan kemauannya di dunia (mewah dan kaya),”

    “Sementara engkau adalah Rasulullah SAW (utusan Allah). Seperti yang saya lihat, engkau tidur di tempat yang seperti ini (sangat sederhana),” lanjut Umar bin Khattab.

    Setelahnya, Rasulullah SAW bertanya lagi, “Bukankah kamu suka kalau mereka mendapat kesenangan dunia sementara kita mendapat kesenangan akhirat?”

    Umar bin Khattab menjawab lagi, “Tentu, wahai rasul.”

    “Memang demikianlah adanya,” kata Rasulullah SAW. (HR Ahmad)

    Tidak hanya tempat tidurnya, kesederhanaan Rasulullah SAW juga tampak pada seluruh perabotan rumah tangga yang dimilikinya. Salah satunya yang diceritakan oleh Abu Rifa’ah tentang kursi di rumah Rasulullah SAW.

    “Saya mendatangi Rasulullah SAW, beliau duduk di atas kursi yang terbuat dari serabut, yang kakinya terbuat dari besi.”

    Alas karpet yang dimiliki Rasulullah SAW terbuat dari kulit yang diisi serabut. Kondisinya bahkan sudah usang hingga membuat salah seorang kaum Anshar membawakan permadani berisi wol untuk beliau.

    Namun, Rasulullah SAW menolak pemberikan permadani tersebut dan meminta Aisyah RA untuk mengembalikannya. Aisyah RA awalnya sempat menolak, namun Rasulullah SAW mengulangi perintahnya sampai tiga kali dan berkata,

    “Wahai Aisyah, demi Allah, kalau aku mau, niscaya Allah akan memberikan gunung emas dan gunung perak kepadaku.” Aisyah pun mengembalikan permadani tersebut. (HR Al Baihaqi)

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Mitos atau Fakta? Auj bin Unuq, Raksasa yang Hidup di Zaman Nabi Nuh



    Jakarta

    Mungkin sebagian dari umat muslim masih asing dengan nama Auj bin Unuq. Namun, dalam artikel ini akan dipaparkan kisah tentang Auj bin Unuq.

    Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karya Imam Ibnu Katsir, bahwa Auj bin Unuq atau Ibnu Inaq ini telah hidup sejak masa Nabi Nuh AS hingga masa Nabi Musa AS.

    Auj merupakan seorang kafir yang sangat kejam, jahat, sombong dan tidak berperikemanusiaan.


    Banyak yang mengatakan bahwa Auj dilahirkan oleh ibunya yang bernama Unuq binti Adam dari sebuah perzinaan (lahir tanpa melalui pernikahan).

    Ada juga yang mengatakan bahwa Auj memiliki tinggi tiga ribu tiga ratus tiga puluh hasta plus dua pertiga hasta. Dengan badannya yang sangat tinggi itu, dia dapat mengambil ikan dari dasar laut dan memanggangnya di dekat matahari.

    Dikatakan pula bahwa Auj bin Unuq ini mengejek dan mengolok-olok Nabi Nuh AS dengan perkataan yang buruk. Salah satu perkataannya yaitu ketika sedang berada di bahtera Nabi Nuh, dia berkata, “Mangkuk apa yang kamu buat ini?”

    Masih terdapat riwayat-riwayat lain yang mengatakan tentang keburukan Auj bin Unuq. Namun sangat sedikit sumber yang mengisahkannya karena kisah ini merupakan mitos yang bertentangan dengan dalil, baik secara akal ataupun naqal (Al-Qur’an dan hadits).

    Auj bin Unuq Mitos atau Fakta?

    Secara akal, jika anak Nabi Nuh yang dibinasakan karena kekufurannya padahal ayahnya adalah seorang Nabi, bagaimana mungkin Auj bin Unuq yang lebih kufur dan dzalim tidak dibinasakan.

    Secara naqal, Allah SWT berfirman dalam surat As Safaat ayat 80-82,

    Artinya: “Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan yang lain.”

    Di antara doa Nabi Nuh yang dikabulkan juga disebutkan dalam Al-Qur’an,

    “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.”

    Mitos Auj bin Unuq ini juga bertentangan dengan hadits. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dengan tinggi 60 hasta. Kemudian semakin lama tinggi manusia semakin berkurang, hingga saat ini.”

    Hadits tersebut merupakan hadits yang shahih, terpercaya, dapat diandalkan, dan terjaga.

    Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa tidak ada keturunan Nabi Adam yang memiliki tubuh lebih tinggi dari Nabi Adam.

    Dalam bukunya, Ibnu Katsir berpandangan bahwa kisah Auj bin Unuq adalah mitos belaka dan cerita yang hanya dikarang oleh beberapa orang zindik dan pelaku dosa (musuh-musuh Nabi Muhammad SAW).

    Sayangnya, informasi mengenai kehidupan Auj bin Unuq sangat terbatas dan tidak banyak yang diketahui tentang dirinya.

    Dari kisah tersebut, maka sudah sepantasnya sebagai umat muslim yang beriman untuk memilah dan mencari sumber yang shahih berdasarkan dalil (Al-Qur’an dan hadits).

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pertempuran Yamamah dan Syahidnya Para Penghafal Al-Qur’an



    Jakarta

    Pertempuran Yamamah terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Kala itu, ia mengutus Khalid bin Walid untuk memimpin pertempuran tersebut.

    Mengutip buku Para Panglima Perang Islam oleh Rizem Aizid, Pertempuran Yamamah terjadi pada bulan Desember 632 M di Jazirah Arab, wilayah Yamamah. Peperangan ini melawan Musailamah Al Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi palsu.

    Padahal, setelah Nabi SAW wafat tidak ada nabi lagi selain beliau. Rasulullah SAW adalah nabi terakhir sekaligus penutup seperti yang tercantum dalam sebuah hadits.


    “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para nabi dan tidak ada nabi setelahku.” (HR Abu Dawud)

    Dijelaskan dalam buku Orang-orang yang Memusuhi Nabi Muhammad SAW susunan Kaha Anwar, Musailamah Al Kadzdzab lahir sebelum Rasulullah SAW. Begitu pun setelah sang nabi wafat, dirinya masih hidup dan meninggal di usia 150 tahun.

    Musailamah berasal dari Bani Hanifah yang mendiami Yamamah, daerah yang terletak di sebelah timur Hijaz. Kawasan tersebut terkenal indah dan subur sehingga sering disebut dalam syair Arab.

    Musailamah telah lama mengaku dirinya sebagai rasul, bahkan jauh sebelum Nabi SAW diangkat menjadi nabi. Orang-orang Makkah telah mengetahui terkait hal ini.

    Musailamah bahkan sering pergi ke luar daerah untuk menyampaikan ajarannya. Menukil buku Get Smart PAI oleh Udin Wahyudin, sebagai pendusta besar, Musailamah bahkan disebut sebagai orang munafik dan penyembah berhala.

    Kesesatan Musailamah semakin menjadi. Dirinya bahkan menyatakan telah membebaskan mereka dari kewajiban salat Subuh dan Maghrib.

    Setelah Rasulullah SAW wafat, banyak umat Islam yang murtad. Tak sedikit juga yang mengaku-ngaku sebagai nabi palsu.

    Kesesatan tersebut diberantas oleh Khalifah Abu Bakar RA, salah satunya melalui Pertempuran Yamamah. Pada perang itu, jumlah pasukan Islam lebih sedikit sementara musuh berkisar 3 kali lipat lebih banyak.

    Rizem Aizid melalui karya lainnya yang berjudul Dua Pedang Pembela Nabi SAW mengatakan bahwa Pertempuran Yamamah berlangsung sengit. Sejak mendeklarasikan diri sebagai nabi, tidak sedikit orang yang murtad dan mempercayai Musailamah.

    Musailamah bahkan menghapuskan kewajiban untuk melaksanakan salat dan memberikan kebebasan untuk mengonsumsi alkohol hingga berhubungan dengan yang bukan mahram. Dirinya juga menyebut sebagai utusan Allah bersama Nabi SAW.

    Kala itu, 12.000 tentara muslim mengalahkan 40.000 orang murtad. Meski perang berhasil dimenangkan, banyak para penghafal Al-Qur’an yang gugur pada Pertempuran Yamamah.

    Para penghafal Qur’an selalu berada di barisan paling depan. Ada yang menyebut jumlah penghafal yang syahid mencapai 700 orang.

    Syahidnya para penghafal Qur’an dalam Pertempuran Yamamah itulah yang membuat Aku Bakar RA berinisiatif membukukan Al-Qur’an. Dikhawatirkan, firman-firman Allah SWT hilang bersama dengan wafatnya mereka yang jihad.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Abu Darda, Sahabat Nabi yang Paling Terakhir Masuk Islam



    Jakarta

    Sahabat Nabi Muhammad SAW yang pertama kali masuk Islam disebut dengan “As sabiqunal awwalun.” Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Khadijah, Abu Bakar As-Shiddiq, Zaid bin Haritsah, dan Utsman bin Affan. Lalu bagaimana dengan sahabat Rasulullah SAW yang terakhir kali memeluk Islam? Berikut kisah lengkap sahabat nabi yang paling akhir masuk Islam.

    Sahabat Nabi SAW yang paling akhir masuk Islam adalah Abu Darda. Ia adalah seorang laki-laki yang unggul, penuh ketaatan, dan spesifik. Ia seorang muslim yang selalu berusaha menggapai derajat ibadah tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia.

    Kisahnya dirangkum dalam buku Sosok Para Sahabat Nabi oleh Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya, sebagaimana berikut ini.


    Abu Darda memiliki nama asli Uwaimir bin Malik dari suku Khazraj. Namun orang-orang lebih sering memanggilnya dengan Abu Darda karena ia memiliki anak bernama darda.

    Suatu pagi yang sangat pagi ia telah terbangun dari tidurnya. Ia lantas mengucapkan doa dan salam kepada berhala yang ia simpan di tempat terbaik di rumahnya.

    Tak lupa, ia juga mengoleskan wangi-wangian serta memberinya baju sutera, hadiah dari kawannya yang kembali dari Yaman kemarin.

    Setelah matahari sudah meninggi, ia lantas pergi menuju tokonya. Namun belum jauh ia berjalan, di Kota Yatsrib terdapat riuh-rendah yang ternyata berasal dari sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang pulang dari Perang Badar.

    Ia lantas menanyakan kabar sahabat jahiliyahnya dulu yang kini telah memeluk Islam, Abdullah ibn Rawalah. Seorang pemuda menjawab bahwa Abdullah baik-baik saja dan pulang dengan membawa ghanimah. Ia pun merasa tenang dan lega.

    Meskipun Abdullah bin Rawalah telah masuk Islam, dirinya masih berhubungan baik dengan Abu Darda. Ia bahkan sering mengunjunginya dan menyemangatinya untuk segera masuk Islam. Namun selalu saja ditolak oleh Abu Darda.

    Ketika Abu Darda sudah sampai di tokonya, kesibukan langsung menyelimutinya, tanpa tahu apa yang akan diperbuat Abdullah di rumahnya.

    Di Rumah Abu Darda

    Pintu rumah Abu Darda terbuka dan Abdullah melihat Ummu Darda di dalam. Lantas ia meminta izin untuk masuk rumah dan diijinkan olehnya.

    “Di mana gerangan Abu Darda?” Tanya Abdullah.

    “Dia sudah pergi ke toko. Tak lama lagi tentu pulang.” Lalu ia menunggu kedatangan Abu Darda di dalam rumah. Tanpa sepengetahuan Ummu Darda, Abdullah diam-diam masuk ke ruangan berhala dan menghancurkannya.

    “Semua yang menyekutukan Allah itu sesat.” Gumam Abdullah. Setelah patung itu hancur, ia lantas meninggalkannya.

    Tak lama, Ummu Dardah masuk dan berteriak histeris mendapati patung sembahannya telah hancur berkeping-keping. Sambil memukul-mukul kepala dan menampar pipi ia meratap, “Engkau menghancurkanku. Ibnu Rawahah, engkau menghancurkanku…”

    Abu Darda pun pulang dari tokonya. Ia mendapati istrinya di depan pintu sambil memeluk berhala rusak itu dengan wajah yang ketakutan.

    “Kenapa kau?” Tanya Abu Darda.

    “Saudaramu, Abdullah ibn Rawalah, tadi datang lalu menghancurkan patung pemujaanmu…” jawab Ummu Darda

    Sekejap emosinya pun memuncak dan hendak langsung mendatangi Abdullah. Namun setelah dipikir-pikir, amarahnya mereda dan tidak jadi marah. Ia malah berkata,

    “Kalau patung ini memiliki kebaikan, tentu dia mampu melindungi dirinya dari segala gangguan…”

    Setelah kejadian ini, ia langsung pergi mencari Abdullah ibn rawalah. Ia lantas meminta untuk diantar menghadap Rasulullah SAW untuk menyatakan keislamannya.

    Dengan ini menjadikan Abu Darda sebagai sahabat nabi paling akhir dari yang memeluk Islam dari kaum Khazraj.

    Sejak saat itu, ia langsung beriman secara mantab kepada Allah SWT. Ia menyesali ketertinggalannya tersebut, membalasnya dengan mempelajari agama dengan sangat giat dan tekun.

    Dirinya bagai orang yang kehausan akan ilmu-ilmu dan ibadah. Bahkan ia tak segan untuk meninggalkan jual belinya demi menghadiri majelis-majelis ilmu. Akhirnya Abu Darda menjadi sahabat nabi dan orang yang paling mengerti tentang dinullah dan hafal Al-Qur’an.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Fatimah Az Zahra yang Tak Lama setelah Rasulullah


    Jakarta

    Fatimah Az Zahra adalah seorang wanita mulia yang memiliki julukan ratu wanita surga karena keutamaan akhlaknya. Putri Rasulullah SAW ini wafat pada usia yang cukup muda, yakni 27 tahun.

    Kecintaannya pada Rasulullah SAW membuatnya sangat terpukul ketika beliau wafat. Ia bahkan ingin segera menyusul beliau untuk berhadapan dengan Allah SWT. Bagaimana kisah wafatnya Fatimah Az Zahra?

    Sosok Fatimah Az Zahra

    Fatimah Az Zahra binti Muhammad RA adalah putri Rasulullah SAW yang keempat dengan pernikahan beliau dengan Khadijah binti Khuwailid. Fatimah RA lahir di Ummul Qura (Makkah) pada hari Jumat, 20 Jumadi al-Tsani.


    Ia bahkan dipersunting oleh salah satu sahabat nabi, Ali bin Abi Thalib. Pernikahan keduanya pun dikaruniai empat orang anak, dua anak laki-laki dan dua anak perempuan.

    Kedua anak laki-laki Fatimah Az Zahra bernama Hasan dan Husain, sedangkan anak perempuan Fatimah RA dan Ali RA bernama Zainab dan Ummu Kultsum.

    Fatimah Az Zahra RA adalah anak yang paling disayangi oleh Rasulullah SAW. Beliau bahkan pernah berkata, “Fatimah adalah bagian dari tubuhku. Barangsiapa menyusahkannya, berarti ia menyusahkanku,” seperti yang dikutip dari buku 99 Kisah Menakjubkan Sahabat Nabi oleh Tethy Ezokanzo.

    Menurut Abdus Sattar Asy-Syaikh dalam buku Fatimah Az-Zahra: Penghulu Wanita Surga, Rasulullah SAW bahkan menyatakan bahwa Fatimah RA adalah sebaik-baik wanita di antara semua wanita di dunia.

    Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik wanita seluruh alam adalah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah istri Firaun.” (HR Muslim)

    Kisah Wafatnya Fatimah Az Zahra

    Usai Rasulullah SAW wafat, Fatimah RA merasa sedih yang sangat mendalam. Ia bahkan juga merasa bahwa hari-harinya di dunia hanya tinggal sebentar.

    Menurut keterangan hadits, Fatimah RA adalah keluarga pertama Rasulullah SAW yang meninggal setelah beliau sendiri. Dari Urwah, dari Aisyah RA, ia berkata, “Fatimah wafat enam bulan sesudah wafatnya Rasulullah.”

    Menurut buku Taman-Taman Cinta Sang Nabi: Kisah-Kisah Kekasih Hati Nabi Muhammad SAW yang Penuh Hikmah dan Kesejukan oleh Prof. Dr. Abdurrahman Umairah, sebelum wafatnya, Fatimah RA menderita sakit keras.

    Sakit yang dideritanya semakin parah sehingga ia mengadu kepada Asma’ binti Amis, selaku pelayannya, tentang sakit yang menjangkiti tubuhnya. Fatimah RA pun berkata,

    “Dapatkah engkau menutupiku dengan sesuatu?” Fatimah RA juga menambahkan, “Aku melihat orang-orang Habsyi itu selalu membuat tempat tidur bagi para wanita dan menutupinya dengan keranda.”

    Kemudian Asma’ menyuruh seseorang untuk membuatkan keranda tersebut, ketika Asma’ menoleh, Fatimah RA berkata,

    “Wahai pelayanku, siapkanlah air untuk mandi,”

    Setelah itu Asma’ benar-benar menyiapkan air untuk mandi Fatimah RA.

    Ia lalu berkata kepada Asma’, “Ambilkanlah pakaian baruku,”

    Setelah pakaian itu diberikan kepadanya, Fatimah RA kembali berkata, “Wahai pelayanku, aku akan dipanggil saat ini, dan aku sudah mandi, maka jangan sampai ada seorang pun yang membuka bahuku.”

    Setelah itu, Fatimah RA pun dipanggil oleh Allah SWT. Wafatnya bertepatan pada malam Selasa bulan Ramadan tahun 11 Hijriah.

    Umat Islam berbondong ke Masjid Nabawi untuk menyalatkan Fatimah RA yang dipimpin oleh suaminya, Ali RA. Salat jenazah gelombang kedua dipimpin pamannya Abbas bin Abdul Muthalib RA. Jenazah Fatimah lalu dibawa ke Makam Baqi, dimakamkan bersebelahan dengan saudaranya, Zainab RA, Ruqayyah RA, dan Ummu Kultsum RA.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com