Blog

  • Rasulullah Wafat pada 12 Rabiul Awal, Ini Tahun Persisnya


    Jakarta

    Wafatnya Rasulullah SAW adalah salah satu peristiwa paling bersejarah dalam sejarah Islam. Sejumlah kitab Tarikh menyebut, Rasulullah SAW wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal.

    Tanggal wafatnya Rasulullah SAW sama seperti tanggal kelahiran beliau. Saat itu beliau wafat di usia 63 tahun.

    Sakitnya Rasulullah SAW

    Dikutip dari buku Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik karya Mahdi Rizqullah Ahmad dkk, Rasulullah SAW jatuh sakit setelah pulang dari haji Wada’, tepatnya dua hari terakhir di bulan Safar atau menjelang bulan Safar.


    Rasulullah SAW diantar budaknya yang bernama Abu Muwaihibah menuju ke pemakaman Baqi’ dan memintakan ampunan untuk ahli kubur yang dimakamkan di sana atas perintah Allah SWT.

    Setelah itu, Rasulullah SAW menuju ke rumah Aisyah RA guna memenuhi kewajibannya sebagai suami dengan berkeliling ke rumah istri-istrinya.

    Ketika rasa sakit Rasulullah SAW sudah semakin parah, beliau meminta izin kepada semua istrinya untuk tinggal di rumah Aisyah RA selama beliau sakit.

    Ibnu Al Jauzi dalam kitabnya, Sifatush-Shafwah, menyatakan bahwa para ulama mempunyai perbedaan pendapat tentang lamanya Rasulullah SAW sakit. Ada yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW jatuh sakit selama 12 hari, dan ada yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW jatuh sakit selama 14 hari.

    Wafatnya Rasulullah SAW

    Masih mengutip dari sumber buku yang sama, bahwa sakit yang dialami Rasulullah SAW ini semakin parah hingga menyebabkan beliau wafat.

    Aisyah RA berkata, “Ketika sakit Rasulullah SAW semakin parah yang akhirnya membuat beliau wafat, aku memegang tangan beliau. Aku mengusap tangan itu sambil mengucapkan kalimat doa yang telah beliau ucakan. Namun beliau menarik tangannya dariku sembari berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan segera sampaikan aku ke haribaan-Mu’.” Aisyah berkata, “Inilah kalimat terakhir yang aku dengar dari Rasulullah SAW.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah karya lbnu Hisyam Jilid 2, karena Rasulullah SAW memperhatikan sahabatnya membawa siwak, Aisyah RA pun memintakan siwak tersebut karena beliau suka bersiwak.

    Namun karena kayu siwak tersebut terlalu keras, maka Aisyah RA melunakkannya, dan Rasulullah SAW pun bersiwak.

    Setelah meletakkan siwak dan meludah, Aisyah RA melihat wajah Rasulullah SAW terbuka. Rasulullah SAW pun wafat di usia 63 tahun.

    Menurut Tarikh Al-Khulafa’ karya Imam As-Suyuthi yang diterjemahkan Samson Rahman, Rasulullah wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Juraij dan Bayi yang Dapat Berbicara



    Yogyakarta

    Kisah Juraij dan bayi yang dapat berbicara merupakan salah satu kisah menarik dalam Islam yang mengajarkan nilai-nilai keimanan, kejujuran, dan keadilan.

    Dikutip dari buku Bukan Kisah Biasa karya Joko Susanto, Juraij merupakan ahli ibadah yang shahih di kalangan Bani Israil. Karena ketekunannya dalam sholat dan beribadah, ia mengabaikan ibunya selama tiga hari hingga membuat ibunya kesal.

    Ketika sedang sholat, Juraij berkata, “Ya Allah, ibuku dan sholatku.” Juraij pun memilih sholatnya. Karena kekesalan ibunya itu, ibu Juraij berdoa agar Allah SWT mendatangkan wanita pezina kepada Juraij.


    Dikutip dari buku Tiga Bayi Bisa Bicara karya Al’Ajami Damahuri Khalifah, kemudian, datanglah seorang wanita pezina yang merayu Juraij. Namun, usaha wanita pezina itu gagal karena keimanan Juraij.

    Karena putus asa, wanita pezina itu bersetubuh dengan seorang penggembala hingga melahirkan seorang bayi.

    Setelah ia melahirkan bayi, ia kembali menemui Juraij dan menuduhnya bahwa bayi itu adalah anak Juraij. Karena itulah, masyarakat Bani Israel marah dan merobohkan tempat ibadah Juraij.

    Juraij pun menghadapi cobaan itu dengan tenang. Ia pun meminta masyarakat Bani Israel untuk mendatangkan bayi itu, kemudian ia sholat dua rakaat.

    Setelah sholat, Juraij mendekati bayi itu dan menekan perutnya sambil berkata, “Hai ghulam, siapa sebenarnya bapakmu?” Bayi tersebut menjawab, “Fulan, si penggembala kambing.”

    Para masyarakat Bani Israel terkejut dan terkesan oleh kejadian tersebut. Mereka meminta maaf kepada Juraij.

    Mereka pun hendak membangun kembali tempat ibadah Juraij dengan emas, namun Juraij hanya meminta mereka untuk membangunnya dengan tanah seperti sebelumnya.

    Pelajaran dari Kisah Juraij dan Bayi yang Dapat Berbicara

    Kisah Juraij dan bayi yang dapat berbicara mengandung beberapa pelajaran seperti yang terdapat dalam buku Bukan Kisah Biasa karya Joko Susanto,

    Selalu bertaqwa kepada Allah SWT

    Allah SWT akan menyelamatkan hambanya karena seshalihan dan ketaqwaannya, sebagaimana Dia menyelamatkan Juraij dan membebaskannya dari tuduhan yang ditujukan kepadanya.

    Hati-hati dengan tuduhan tanpa bukti

    Kisah tersebut menunjukkan pentingnya berhati-hati dalam mempercayai tuduhan terhadap seseorang tanpa bukti yang cukup. Masyarakat Bani Israel telah menuduh Juraij tanpa adanya bukti yang konkret.

    Memaafkan kesalahan sesama

    Islam telah mengajarkan pentingnya memaafkan kesalahan orang lain dan memberikan kesempatan untuk beribadah. Pada kisah di atas, Juraij pun menerima permintaan maaf dari kaum Bani Israel yang telah menuduhnya dan menghancurkan tempat beribadahnya.

    Meminta maaf jika melakukan kesalahan

    Hendaknya meminta maaf jika terdapat melakukan kesalahan kepada siapapun. Seperti yang kaum Bani Israel lakukan, mereka meminta maaf kepada Juraij karena telah menuduh dan menghancurkan tempat ibadahnya. Mereka pun hendak membangun tempat ibadah baru untuk Juraij.

    Kebenaran dan keadilan selalu ditegakkan

    Allah SWT Maha Adil dan Maha Mengetahui. Segala perbuatan umatnya akan diketahui oleh-Nya. Seperti yang Juraij hadapi, meskipun ia dihadapkan dengan situasi yang sulit, ia tetap teguh pada prinsipnya dan mempercayakan segalanya kepada Allah SWT.

    Medoakan anak dengan kebaikan

    Dalam kisah ini juga dapat diambil pelajaran bagi para orang tua agar senantiasa memberikan doa-doa baik untuk anaknya. Jangan sampai emosi dan kemarahan membuat orang tua mendoakan keburukan pada anaknya.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Rasulullah SAW dengan Burung yang Berdzikir dan Unta yang Menangis



    Jakarta

    Allah SWT memberikan banyak mukjizat kepada Rasulullah SAW, salah satunya yakni dapat mengerti bahasa binatang. Dalam sebuah riwayat, dikisahkan saat Rasulullah SAW bertemu seekor burung buta yang berdzikir serta seekor unta yang menangis kelaparan.

    Ada beberapa kisah tentang Rasulullah SAW yang dapat memahami percakapan binatang. Semua kisah ini dapat memberi pelajaran sekaligus menegaskan bahwa Allah SWT memiliki kuasa atas alam semesta dan isinya.

    Merangkum buku Kisah Mengagumkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW oleh Khoirul Anam, diceritakan sebuah kisah yang berasal dari sahabat Anas ibn Malik r.a. yang menuturkan bahwa suatu hari ia pergi ke gurun bersama Rasulullah SAW dan bertemu seekor burung buta.


    Anas ibn Malik dan Rasulullah SAW menyaksikan seekor burung yang sedang berkicau. Beliau bertanya kepada Anas Ra, “Apakah kau tahu, apa yang dikatakan burung ini?”

    Anas lantas menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

    “Burung itu mengatakan, Ya Allah, Engkau telah menghilangkan penglihatanku dan Engkau menciptakanku dalam keadaan buta. Maka, berilah rezeki kepadaku, karena aku lapar,” kata Rasulullah SAW.

    Tiba- tiba, Rasulullah SAW dan Anas r.a. melihat burung lain datang membawa belalang di mulutnya dan memasukkannya ke mulut burung yang buta itu. Setelah makan, burung itu kembali berkicau.

    “Apakah kau tahu apa yang dikatakan burung ini barusan?” tanya Rasulullah SAW lagi.

    “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” kata Anas r.a

    “Burung ini mengatakan, Segala puji bagi Allah yang tidak melupakan siapa pun yang mengingat-Nya,” jelas beliau.

    Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burung itu berkata, “Barangsiapa yang tawakal kepada Allah SWT, Dia akan mencukupinya.”

    Kisah yang nyaris serupa dialami sahabat Abdullah ibn Ja’far. la menuturkan bahwa suatu hari ia menemani Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan.

    Di tengah perjalanan, Rasulullah SAW ingin buang hajat. Biasanya, beliau suka dinding yang tinggi atau rerimbunan pohon kurma yang berdekatan sebagai tirainya. Maka, beliau pergi ke balik sebuah dinding (bangunan) milik orang Anshar.

    Ternyata, di dalamnya ada seekor unta jantan. Ketika Rasulullah SAW melihatnya, unta itu merintih seraya meneteskan air mata.

    Melihat keadaannya, Rasulullah SAW mendekatinya dan menghapus air matanya. Unta itu pun terdiam dan tak lagi merintih.

    Rasulullah SAW bertanya, “Siapakah pemilik unta ini?”

    Kemudian datang seorang pemuda Anshar dan berkata, “Ia milikku, wahai Rasulullah SAW.”

    “Apakah kamu tidak takut kepada Allah yang telah mengaruniakan unta ini kepadamu? Sungguh, unta ini mengadu kepadaku bahwa kau membuatnya lapar dan susah.”

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Sulaiman AS dan Semut yang Berdoa agar Diturunkan Hujan



    Jakarta

    Nabi Sulaiman AS terkenal dengan mukjizatnya yang dapat berbicara dengan hewan. Tak sampai di situ, Sulaiman AS bahkan mampu membuat para hewan itu patuh terhadap perintahnya.

    Nabi Sulaiman AS juga mampu berbicara dengan bangsa jin. Selain itu, dirinya dianugerahi kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa oleh Allah SWT.

    Menurut buku Rahasia Kekayaan Nabi Sulaiman: Amalan-amalan Pelimpah Rezeki Nabi Sulaiman tulisan Muhammad Gufron Hidayat, dengan kekayaan yang melimpah itu justru Nabi Sulaiman AS semakin bertakwa kepada Allah SWT. Dikatakan, dirinya merupakan orang terkaya di muka bumi.


    Nabi Sulaiman pernah berdoa kepada Allah SWT agar diberikan mukjizat dan harta kekayaan yang melimpah. Dalam Al-Qur’an surat An Naml ayat 35, Allah SWT berfirman:

    وَإِنِّى مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِم بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌۢ بِمَ يَرْجِعُ ٱلْمُرْسَلُونَ

    Arab latin: Wa innī mursilatun ilaihim bihadiyyatin fa nāziratum bima yarji’ul-mursalụn

    Artinya: Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”

    Selain kaya raya, ada sebuah cerita menarik mengenai Nabi Sulaiman AS dan hewan semut yang meminta air. Seperti yang diketahui, sang nabi diberi mukjizat memahami bahasa hewan dan berbicara dengan mereka.

    Mengutip buku Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Qur’an karya Adil Musthafa Abdul Halim. Kala itu, Sulaiman AS hendak melaksanakan salat istisqa sebelum akhirnya mendapati seekor semut yang sedang terbaring sambil mengangkat tangan dan kakinya ke arah langit seraya berkata,

    “Ya Allah sesungguhnya saya adalah salah satu makhluk ciptaan-Mu yang tidak bisa hidup tanpa curahan air dari-Mu. Jika kamu tidak mencurahkan air kepada kami, kami akan binasa.”

    Usai menyaksikan perbuatan si semut, Sulaiman AS lalu meminta orang-orang yang mengiringinya untuk kembali lalu berkata,

    “Sesungguhnya Allah telah mencurahkan air berkat doa makhluk lain,”

    Dalam kesempatan lain, ada juga kisah Nabi Sulaiman AS dengan gerombolan semut. Menukil buku The Leadership of Sulaiman karya Ibnu Mas’ud, kala itu pasukan Sulaiman AS melakukan parade.

    Pasukannya tidak hanya terdiri dari manusia, melainkan juga jin dan burung. Ketika hendak melewati segerombolan semut, ratu semut meminta gerombolannya agar menghindar dari jalanan untuk bersembunyi di dalam lubang-lubang agar tidak terinjak oleh pasukan Nabi Sulaiman AS.

    Sulaiman AS ternyata mendengar percakapan gerombolan semut itu. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk berhenti sejenak seraya berkata,

    “Berhentilah sejenak. Kita memberi jalan untuk makhluk yang berlindung kepada Allah Ta’ala,”

    Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah An Naml ayat 18-19,

    (18) حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

    فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ
    (19) عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

    Artinya: hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”

    Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

    Para pasukan Nabi Sulaiman AS merasa bingung, sebab di depan mereka tidak ada satu pun makhluk hidup yang melintas. Sang nabi lantas memberitahu bahwa sehasta tepat di depannya ada lembah dengan jumlah jutaan semut yang sedang mencari perlindungan agar tidak terlindas oleh kuda pasukannya.

    Setelahnya, Sulaiman AS berkata:

    “Wahai Tuhanku, berikanlah ilham dan taufik kepadaku agar aku dapat mensyukuri nikmat dan keutamaan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku. Berikanlah taufik kepadaku agar aku dapat melakukan kebaikan yang dapat mendekatkan aku kepadamu serta perbuatan yang kamu sukai dan kamu ridhai. Masukkanlah aku ke surga yang merupakan rumah yang indah bersama dengan hamba hamba-Mu yang saleh.”

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Azab bagi Kaum Nabi Luth yang Diceritakan Al-Qur’an


    Jakarta

    Kaum Nabi Luth AS adalah salah satu kaum yang dikenal dalam sejarah agama sebagai kaum yang mendapatkan azab dari Allah SWT. Kisah ini menggambarkan peristiwa tragis yang menimpa kaum Nabi Luth AS karena perilaku mereka.

    Kisah Azab bagi Kaum Nabi Luth

    Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, Nabi Luth AS adalah putra dari Haran bin Tarih. Nabi Luth AS singgah di kota Sodom di negeri Ghaur Zaghar atas perintah dan izin dari pamannya yang bernama Ibrahim Al-Khalil.

    Kota Sodom merupakan kota yang dihuni oleh orang-orang yang sangat keji, ingkar, dan berwatak sangat buruk. Sebab itulah, Allah SWT mengutus Nabi Luth AS untuk memberikan peringatan dan mengajak mereka kembali ke jalan yang benar.


    Perbuatan buruk yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth AS ini adalah melakukan homoseksual dan meninggalkan para wanita yang diciptakan Allah SWT untuk campuri.

    Perbuatan tersebut sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Allah SWT melarang hambanya untuk melakukan perbuatan tersebut karena dapat merusak tatanan sosial dan moral dalam masyarakat. Selain itu, kaum Nabi Luth AS juga melakukan perampokan dan tidak melarang perbuatan keji.

    Meskipun Allah SWT telah memerintahkan Nabi Luth AS untuk mengajak kaum Sodom menuju jalan yang benar, mereka menolaknya dan memilih untuk tetap berada di jalan kesesatan.

    Untuk itu, Nabi Luth AS berdoa kepada Allah SWT agar kaumnya itu diberikan azab. Doa Nabi Luth AS tersebut terdapat dalam surah Al-Ankabut ayat 29,

    اَىِٕنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُوْنَ السَّبِيْلَ ەۙ وَتَأْتُوْنَ فِيْ نَادِيْكُمُ الْمُنْكَرَ ۗفَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهٖٓ اِلَّآ اَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ ٢٩

    Artinya: “Pantaskah kamu mendatangi laki-laki (untuk melampiaskan syahwat), menyamun, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” Maka, jawaban kaumnya tidak lain hanyalah mengatakan, “Datangkanlah kepada kami azab Allah jika engkau termasuk orang-orang benar!”

    Allah SWT mengabulkan doa Nabi Luth AS tersebut dan memberikan azab dimana tidak ada seorang pun dari kaum Nabi Luth AS tersebut yang dapat menghindari azab Allah SWT itu.

    Nabi Luth AS dan keluarganya berhasil meninggalkan kota tersebut sebelum Allah SWT memberikan azab atas perintah yang disampaikan oleh malaikat. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hijr ayat 73-77,

    فَاَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِيْنَۙ ٧٣ فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ ٧٤ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِيْنَۙ ٧٥ وَاِنَّهَا لَبِسَبِيْلٍ مُّقِيْمٍ ٧٦ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّلْمُؤْمِنِيْنَۗ ٧٧

    Artinya: Maka, mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari terbit. Maka, Kami menjungkirbalikkan (negeri itu) dan Kami menghujani mereka dengan tanah yang membatu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan (dengan saksama) tanda-tanda (itu). Sesungguhnya (negeri) itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang mukmin.

    Allah SWT mengubah Kota Sodom tersebut menjadi danau yang tidak bermanfaat. Danau tersebut berbau menyengat dan airnya tidak bisa dimanfaatkan.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Siti Aminah saat Mengandung Nabi Muhammad



    Jakarta

    Siti Aminah, ibunda Nabi Muhammad SAW, mengalami sejumlah peristiwa tak biasa saat mengandung putranya. Kisah Siti Aminah saat mengandung Nabi Muhammad SAW ini termuat dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah.

    Diceritakan dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya karya Abdurrahman bin Abdul Karim, Siti Aminah binti Wahab dipinang oleh seorang pemuda yang berasal dari keluarga terpandang di Makkah bernama, Abdullah bin Abdul Muthalib.

    Sama seperti Abdullah, Aminah binti Wahab, juga merupakan seorang yang terpandang di kotanya. Ia adalah putri dari pemimpin Bani Zurah. Dirinya bahkan dijuluki sebagai “Si Bunga Quraisy.” Lalu keduanya pun menikah.


    Beberapa bulan setelah pernikahan Siti Aminah dengan suaminya, ia mendapat pesan lewat mimpinya bahwa kehamilan dirinya berbeda dari wanita lainnya.

    Siti Aminah bermimpi seolah-olah melihat sinar yang terang benderang mengelilingi dirinya. Seakan-akan ia juga melihat istana di Basrah dan Syam. Bahkan ia juga mendengar suara yang berkata, “Engkau telah hamil, dan akan melahirkan seorang manusia termulia di kalangan umat ini!”

    Dalam riwayat dari Ibu Sa’ad dan baihaqi, dari Ibnu Ishaq, ia berkata,

    “Aku mendengar bahwa saat Aminah hamil, ia berkata, ‘Aku tidak merasa bahwa aku hamil, dan aku tidak merasa berat sebagaimana dirasakan oleh wanita hamil lainnya. Hanya saja, aku tidak merasa haid, dan ada seseorang yang datang kepadaku, ‘Apakah engkau merasa hamil?’ Aku menjawab, “Tidak tahu. Kemudian, orang itu berkata, ‘Sesungguhnya, engkau telah mengandung seorang pemuka dan nabi dari umat ini. Dan, hal itu pada hari Senin. Dan, tandanya, ia akan keluar bersama cahaya yang memenuhi istana Basrah di negeri Syam. Apabila sudah lahir, berilah nama Muhammad.”

    Aminah berkata, “Itulah yang membuatku yakin kalau aku telah hamil. Kemudian, aku tidak menghiraukannya lagi hingga saat masa melahirkan dekat, ia datang lagi dan mengatakan kata-kata yang pernah aku utarakan. Aku memohon perlindungan untuknya kepada Dzat Yang Maha Esa dari kejelekan orang yang dengki.”

    Kisah Siti Aminah saat mengandung Nabi Muhammad SAW tidak berhenti sampai di situ. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di setiap bulan usia kandungannya, beberapa orang nabi datang menyambangi beliau melalui mimpi, dan menyampaikan salam serta kegembiraan atas anugerah Allah SWT dan kehadiran nabi agung penyelamat manusia.

    Pada usia kandungan yang ketiga, Siti Aminah didatangi oleh Nabi Idris AS yang memberi kabar gembira, “Sungguh beruntung engkau, wahai Aminah. Berbahagialah, sungguh engkau telah mengandung nabi agung yang kelak menjadi pemimpin yang sangat agung.”

    Pada usia kandungan yang keempat, Siti Aminah didatangi oleh Nabi Nuh AS seraya memberi kabar, “Sungguh beruntung engkau, wahai Aminah. Berbahagialah karena engkau sudah mengandung nabi agung yang kelak dianugerahi Allah SWT pertolongan dan kemenangan besar.”

    Begitu pun seterusnya hingga usia kandungan Siti Aminah berusia sembilan bulan. Secara urut, pada usia kandungan lima bulan Nabi Hud AS datang pada Aminah, lalu bulan berikutnya adalah Nabi Ibrahim AS, lalu Nabi Ismail AS, lalu Nabi Musa AS, dan bulan kesembilan ia didatangi oleh Nabi Isa AS.

    Bahkan hingga saat sudah waktunya Nabi Muhammad SAW lahir, Siti Aminah tidak pernah merasakan letih maupun kepayahan.

    Malam yang membahagiakan datang. Akhirnya pada hari Senin malam menjelang dini hari, 12 Rabiul Awal, tahun Gajah, Siti Aminah melahirkan anaknya.

    Di dalam kesendirian tanpa didampingi sang suami yang sudah tiada, Allah SWT mengutus empat orang wanita agung yang membantu persalinan Nabi Muhammad SAW.

    Empat orang itu adalah Siti Hawa, Sarah istri Nabi Ibrahim AS, Asiyah binti Muzahim, dan Ibunda Nabi Isa AS, Maryam. Kelak, keempat wanita agung ini yang akan pula menemani Khadijah al-Kubra ath- Thahirah dalam prosesi kelahiran Az-Zahra al-Mardhiyah Ummu Aimmah.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Al Qamah, Sahabat yang Saleh Namun Tersiksa Sakaratul Maut Sebab Murka Ibu



    Jakarta

    Rasulullah SAW memiliki seorang sahabat bernama Al Qamah. Ia dikenal sebagai sosok mukmin beriman dan taat dalam beribadah. Namun menjelang kematiannya, ia justru mengalami sakaratul maut yang cukup menyiksa.

    Dikutip dari buku Kisah dan ‘Ibrah oleh Syofyan Hadi digambarkan bahwa Al Qamah adalah seorang yang sangat mulia, taat, rajin beribadah, dan ia bahkan selalu ikut bersama Rasulullah SAW dalam setiap kali peperangan yang beliau pimpin menghadapi kaum musyrik.

    Al Qamah memiliki seorang ibu yang sudah tua. Ibunya menjadi wanita yang sangat ia hormati dan sayangi.


    Namun sikap Al Qamah berubah saat telah menikah. Ia sangat menyayangi istrinya, sampai-sampai lupa bahwa ada sosok ibu yang harus dilimpahi kasih sayang dan perhatiannya. Apalagi sang ayah telah meninggal dunia.

    Al Qamah Duhaka pada Ibunya

    Mengutip buku karya Syamsuddin Abu ‘Abdillah Adz-Dzahabi dalam kitab al-Kabair diceritakan Al Qamah kemudian menderita suatu penyakit. Penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan meskipun telah dicoba menggunakan berbagai teknik pengobatan. Lambat laun, sakitnya ini membuat ia sekarat.

    Semua orang yang mengenalnya, termasuk Rasulullah SAW berkumpul di rumah Al Qamah dengan tujuan melepas kepergiannya. Semua yang hadir meminta maaf sekaligus memberikan maaf kepadanya.

    Kalimat tauhid pun sudah diajarkan kepadanya untuk dibaca, sementara kerabat dan sahabat yang lain membacakan surat Yasin di rumahnya. Namun hari berganti, Al Qamah tak juga menghembuskan napas terakhirnya.

    Akhirnya Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Siapa lagi yang belum datang memberikan maaf pada Al Qamah?”

    Ternyata yang belum datang memberi maaf kepada Al Qamah adalah ibunya sendiri. Maka Rasulullah SAW mengirim utusan untuk menjemput ibu Al Qamah agar datang ke rumah anaknya yang sedang sekarat dan memberi maaf jika dia pernah berbuat salah.

    Dua orang sahabat pergi menemui ibunda Al Qamah dan memberitahukan keadaan anaknya. Ibunya kemudian diminta untuk datang memberikan maaf kepada anaknya. Akan tetapi, ibunya menolak untuk datang dan memberikan maaf.

    Pulanglah dua orang sahabat itu menemui Rasulullah SAW dan memberitahukan jawaban ibu Al Qamah.

    Rasulullah SAW didampingi beberapa sahabat langsung pergi menemui ibu Al Qamah tersebut. Setelah sampai, Rasulullah SAW mengucapkan salam kepadanya dan mengatakan, bahwa Al Qamah anaknya sudah beberapa hari sekarat. Oleh karena itu, Rasulullah SAW meminta agar ibunya datang dan memberikan maaf kepada anaknya.

    Saat sang ibu berhasil dijemput, Rasulullah SAW bertanya, “Apa tingkah Al Qamah yang memberatkan dirinya ini? Jika ada dosa terhadap ibu sendiri, maka perlu dimaafkan.”

    Sang ibu lalu menyebut bahwa Al Qamah merupakan anak yang baik dan taat kepada Allah SWT. Ia menceritakan terkait anaknya yang telah berumah tangga dan tidak lagi memperhatikan dirinya.

    Al Qamah hendak Dibakar

    Murka sang ibulah yang membuat lidah Al Qamah kelu untuk mengucap syahadat. Rasulullah SAW kemudian berseru, “Kalau begitu, ayo para sahabat kumpulkan kayu bakar yang banyak, supaya Al Qamah dibakar saja.”

    Mendengarkan kabar bahwa anaknya akan dibakar, menangislah perempuan tua itu dan segeralah dia pergi menemui anaknya, memeluknya dan menangis sambil memberikan maaf atas kesalahan anaknya itu.

    Setelah mendapat maaf dari sang ibu, Al Qamah kemudian meninggal dengan tenangnya setelah mengucapakan kalimat syahadat.

    Dari kisah Al Qamah, kita dapat mengambil pelajaran berharga. Orang tua tidak meridhai seorang anak, maka Allah SWT pun tidak meridhainya. Betapapun shalih dan banyaknya amalan seseorang, jika hubungan dengan orang tuanya tidak baik, maka sia-sialah kebaikannya yang banyak itu.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pernikahan Nabi Muhammad dengan Khadijah yang Penuh Hikmah


    Jakarta

    Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA merupakan salah satu kisah cinta yang paling agung dalam sejarah Islam. Kisah ini terjadi saat Rasulullah SAW berusia 25 tahun.

    Dikutip dari Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Nabi Muhammad SAW merupakan pemuda yang memiliki akhlak baik dan bekerja sebagai pedagang, sedangkan Khadijah RA merupakan seorang janda 40 tahun yang terpandang, cantik, kaya, terhormat, dan dikenal sebagai pedagang yang sukses.

    Pertemuan pertama antara Khadijah RA dan Nabi Muhammad SAW terjadi ketika Khadijah RA mempekerjakan Nabi Muhammad SAW untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Nabi Muhammad SAW pun pergi ke Syam bersama pelayan Khadijah RA yang bernama Maisarah. Mereka mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dari hasil penjualan tersebut.


    Maisarah mengabarkan kepada Khadijah RA tentang sifat mulia, kecerdikan, dan kejujuran Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut membuat Khadijah RA kagum dan tertarik dengan Nabi Muhammad SAW.

    Khadijah RA meminta rekannya, Nafisah binti Munyah, untuk menemui Nabi Muhammad SAW dan membuka jalan agar beliau mau menikah dengannya. Nabi Muhammad SAW pun menerima tawaran tersebut dan menemui paman-pamannya. Kemudian paman Nabi Muhammad SAW menemui paman Khadijah RA untuk mengajukan lamaran.

    Setelah semua dianggap selesai, maka pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah pun dilaksanakan dengan maskawin 20 ekor unta.

    Khadijah RA adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak pernah menikahi wanita lain sampai Khadijah RA meninggal.

    Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya Sirah Nabawiyah Jilid 1 mengemukakan, pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA mendapat karunia dua anak laki-laki dan empat anak perempuan.

    Anak pertama laki-laki bernama Al-Qasim dan anak kedua bernama Abdullah. Mereka wafat pada saat masih kecil. Adapun, anak perempuan mereka bernama Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum, da Fathimah. Mereka semua masuk Islam dan ikut hijrah ke Madinah serta menikah.

    Hikmah dari Kisah Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah

    Masih mengutip dari sumber buku yang sama, bahwa dari kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA di atas memiliki beberapa hikmah, di antaranya:

    • Berdagang dengan Cara Amanah dan Jujur

    Nabi Muhammad SAW dan Khadijah RA menerapkan cara untuk berdagang dengan amanah dan jujur. Hal tersebut memberikan keuntungan yang cukup besar. Allah SWT menganugerahkan berkah kepada Khadijah melalui usaha yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW.

    • Berdagang Merupakan Sumber Penghasilan atau Rezeki

    Nabi Muhammad SAW sebelum diutus menjadi nabi dan rasul melakukan kegiatan berdagang untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau selalu mempelajari dunia bisnis dari pamannya.

    • Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA adalah takdir Allah SWT

    Allah SWT telah memilih Khadijah RA untuk dijadikan istri Nabi Muhammad SAW. Khadijah RA diharapkan akan meringankan beban kehidupan ekonomi Nabi Muhammad SAW dan membantu beliau dalam mengemban Islam, serta menemani duka Nabi Muhammad SAW.

    • Pernikahan Bukan Sekadar untuk Kenikmatan Biologis

    Nabi Muhammad SAW menikahi Khadijah RA yang berusia 40 tahun, yakni lebih tua dari usia Nabi Muhammad SAW. Beliau menikah dengan Khadijah RA karena dia adalah wanita terhormat dan terpandang di tengah kaumnya. Khadijah RA juga memiliki predikat sebagai wanita suci dan terjaga kehormatannya.

    Hikmah di Balik Wafatnya Putra Nabi dan Khadijah

    Terdapat hikmah dibalik wafatnya kedua putra mereka yang belum menginjak dewasa. Allah SWT telah menganugerahkan mereka anak laki-laki agar tidak menjadi bahan cemooh karena tidak bisa memberikan keturunan anak laki-laki.

    Meskipun Nabi Muhammad SAW dan Khadijah RA mendapatkan ujian berat ini, mereka tetap tabah menerimanya karena hal ini merupakan cobaan yang diberikan oleh Allah SWT.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pemberian Nama Nabi Muhammad yang Berawal dari Mimpi



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir untuk umat manusia yang membawa ajaran yang menyempurnakan ajaran-ajaran yang dibawa oleh rasul-rasul sebelumnya. Ada kisah tersendiri di balik pemberian nama Nabi Muhammad SAW.

    Kisah lahirnya Nabi Muhammad SAW merupakan hal yang sangat menakjubkan bagi seluruh alam dan tidak hanya kepada manusia.

    Nabi Muhammad SAW lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal, Tahun Gajah, 570 M, seabagaimana dijelaskan oleh Yoli Hemdi dalam bukunya yang berjudul Sejarah Keteladanan Nabi Muhammad SAW: Memahami Kemuliaan Rasulullah Berdasarkan Tafsir Mukjizat Al-Qur’an.


    Di hari kelahiran beliau, semua orang dan keluarga sangat berbahagia. Bahkan pamannya, Abu Lahab, mengirimkan budaknya Tsuwaibah untuk menyusui Nabi Muhammad selama beberapa hari. Kakek Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib juga sangat gembira mendengar kelahiran cucu dari putra yang paling dia cintai, Abdullah, yang sudah lebih dahulu wafat.

    Setelah lahir ke dunia ini, Abdul Muthalib membawa bayi Nabi Muhammad SAW untuk menghadap Ka’bah. Ia lalu memberi nama bayi itu “Muhammad” yang memiliki arti “terpuji.”

    Sementara itu, dalam buku Biografi Rasulullah: Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-Sumber yang Otentik oleh DR. Mahdi Rizqullah Ahmad, menyebutkan bahwa Aminah, ibunda Rasulullah SAW, memberi beliau nama “Ahmad.”

    Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ali RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Aku diberi nama Ahmad.”

    Dalam riwayat lain, al-Waqidi yang sanadnya bersambung kepada Abu Ja’far Muhammad ibn Ali, Ibnu Sa’ad menceritakan, “Ketika tengah mengandung Muhammad, Aminah diperintahkan untuk memberi nama Ahmad bagi bayi yang dikandungnya.”

    Selain itu, Abu Nu’aim meriwayatkan, Buraidah dan Ibnu Abbas berkata, “Aminah bermimpi dalam tidurnya. Ia mendengar seseorang berkata kepadanya, ‘Engkau sedang mengandung manusia paling suci dan penghulu seluruh alam semesta ini. Maka, apabila engkau telah melahirkannya, berilah anakmu itu nama Ahmad, Muhammad,…, dan seterusnya.’”

    Terdapat pula riwayat lain yang memperkuat riwayat di atas. Ibnu Ishaq dan al-Baihaqi dalam kitab ad-Dalâ’il meriwayatkan, Aminah mengaku pernah didatangi oleh seseorang ketika dirinya sedang mengandung Muhammad.

    Orang itu berkata kepadanya,

    “Apabila anak ini telah lahir, berilah ia nama Muhammad. Sesungguhnya namanya di dalam kitab Taurat dan Injil adalah Ahmad. Semoga dengan nama itu ia dipuji oleh seluruh penghuni langit dan bumi. Sedangkan namanya di dalam al-Qur`an adalah Muhammad.” Demikianlah, maka Aminah pun menamai bayinya Muhammad.

    Pada akhir riwayat dijelaskan, ia memberitahukan kepada mertuanya, Abdul Muthalib, tentang perintah yang mengharuskan dirinya memberi nama Muhammad untuk bayi yang lahir dari rahimnya.

    Setelah mendengar pernyataan dari menantunya Aminah, Abdul Muthalib lalu melontarkan sebuah syair yang akhir baitnya berbunyi, “…nama Ahmad telah terukir di lisan setiap insan.” Ibnu Asakir turut meriwayatkan hal ini.

    Nama Nabi Muhammad SAW adalah nama yang dipilihkan langsung oleh Allah SWT. Nama “Ahmad” adalah nama yang langsung disebutkan oleh Allah SWT untuk beliau sedangkan nama Muhammad adalah pemberian dari kakek beliau, jelas buku Ajari Anakmu Berenang, Berkuda, dan Memanah karya Yuli Farida.

    Nama “Ahmad” tertera dalam firman Allah SWT dalam surah Ash-Shaff ayat 6 yang berbunyi,

    وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

    Artinya: (Ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Nabi Muhammad).” Akan tetapi, ketika utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Makam Ibu Nabi Muhammad di Al-Abwa, Desa di antara Makkah dan Madinah



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW lahir dari sepasang suami istri yang bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Beliau lahir pada 12 Rabiul Awal, Tahun Gajah 570 Masehi.

    Seperti yang sudah diketahui, Nabi Muhammad SAW sudah menjadi seorang yatim piatu sejak masih kanak-kanak. Beliau lebih dulu ditinggal oleh ayahnya sebelum pernah melihat wajahnya, kemudian ditinggal wafat oleh ibunya.

    Lantas, di mana ibu Nabi Muhammad SAW dimakamkan? Berikut sejarah singkatnya.


    Cerita masa kecil Nabi Muhammad SAW dimulai ketika Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW, memilihkan istri untuk anak tersayangnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, tulis Daeng Naja dalam bukunya yang berjudul Hidup Bersama Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang ditulis oleh .

    Abdul Muthalib memilihkan seorang gadis terhormat dari kalangan Quraisy, baik dari hal nasab (garis keturunan) maupun martabatnya. Wanita itu adalah putri dari pemuka Bani Zahrah yang bernama Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zahrah bin Kilab.

    Setelah menjalani hubungan pernikahan selama beberapa bulan, Abdullah bin Abdul Muthalib pergi ke Yatsrib (Madinah) karena dikirim oleh ayahnya untuk mengurusi kurma di sana.

    Takdir berkata lain, ketika tiba di Yatsrib, Abdullah jatuh sakit dan tidak bisa tertolong. Ia akhirnya wafat di usia yang sangat muda, yakni pada umur 25 tahun. Ia dimakamkan di suatu tempat bernama Dar an-Nabighah al-Ja’dl. Tanpa dia sadari, ia wafat meninggalkan istrinya yang ternyata sedang mengandung anaknya.

    Aminah binti Wahab yang mendengar wafatnya sang suami merasa sangat terpukul dan sedih. Apalagi dirinya sedang mengandung anak pertama. Meski demikian, saat kehamilannya ia lalui tanpa ada rasa susah dan berat sedikit pun.

    “Aku tidak merasa sedang hamil, tidak pula merasa lelah seperti biasa dialami wanita hamil. Hanya aku heran mengapa haidku berhenti”, ujar Aminah.

    Ibnu Hisyam mengatakan, ketika Aminah binti Wahab sedang hamil, ia didatangi oleh seseorang seraya berkata kepadanya,

    “Sungguh, engkau mengandung bayi yang kelak menjadi pemimpin umat. Apabila bayimu lahir, ucapkanlah, ‘Aku memohonkan perlindungan baginya kepada Yang Maha Esa dan kejahatan setiap pendengki,’ dan namai dia Muhammad.”

    Tanda-tanda kenabian pada bayi yang dikandung Aminah itu juga terlihat karena sebuag cahaya yang sangat terang keluar dari dalam diri Aminah dan mampu menyinari istana Basra di Syam.

    Lalu, bayi yang dikandung oleh Aminah binti Wahab tersebut pun lahir pada hari Senin malam, 12 Rabiul Awal, di Makkah pada tahun 570 Masehi.

    Setelah lahir, Muhammad disusui oleh seorang perempuan bernama Tsuwaibah selama beberapa hari sebelum datang ibu susuan lain bernama Halimatus Sa’diyah. Muhammad kecil lalu diasuh oleh Halimatus Sa’diyah hingga usianya kurang lebih mencapai 4-5 tahun, sebagaimana dijelaskan dalam buku Be Smart PAI yang disunting oleh Ahmad Dimyati.

    Baru setelah itu Muhammad diasuh oleh ibundanya sendiri, Aminah binti Wahab tanpa adanya sosok ayah.

    Makam Ibunda Nabi Muhammad SAW

    Diambil dari sumber sebelumnya, Nabi Muhammad SAW menjadi seorang anak yatim piatu saat usianya menginjak enam tahun.

    Saat itu, Siti Aminah mengajak Muhammad kecil untuk pergi ke Yatsrib (Madinah) untuk menziarahi sanak saudaranya dari pihak ibu, sekaligus menziarahi makam suaminya atau ayah Muhammad, Abdullah.

    Perjalanan ini juga disertai oleh Ummu Aiman yang merupakan pembantu dari Aminah dan Abdullah. Siti Aminah dan putranya beserta Ummu Aiman tinggal di Yatsrib hingga sebulan lamanya. Setelah itu, mereka bertolak kembali menuju Makkah.

    Di tengah perjalanan kembali ke Makkah dari Madinah, tepatnya di desa Abwa, Aminah akhirnya jatuh sakit.

    Sakit itu tidak kunjung sembuh dan berujung pada wafatnya ibunda Nabi Muhammad SAW, Aminah. Sehingga ibunda Nabi Muhammad SAW dimakamkan di Abwa.

    Sepeninggal ibunda Nabi Muhammad SAW, beliau lantas diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib di kota Makkah. Beliau sangat dicintai oleh kakeknya tersebut melebihi cintanya pada anak-anaknya yang lain.

    Menurut Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW karya Abdurrahman bin Abdul Karim, setelah Siti Aminah wafat, Nabi Muhammad SAW diasuh juga oleh Ummu Aiman. Ummu Aiman menjadi seorang perempuan yang berarti bagi hidup Nabi Muhammad SAW dan beliau memanggil Ummu Aiman juga sebagai ibu

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com