Blog

  • Kisah Pemimpin Adil Ali bin Abi Thalib dan Baju Zirahnya yang Hilang



    Jakarta

    Banyak kisah yang menceritakan sikap bijaksana yang dimiliki Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah kisah, Ali bin Abi Thalib menunjukkan sikap adilnya bahkan ketika melihat baju miliknya yang hilang dan kemudian dikenakan oleh orang lain.

    Mengutip buku Kisah Hidup Ali Ibn Abi Thalib oleh Mustafa Murrad dikisahkan suatu hari, Amirul Mukminin melihat baju zirahnya, yang telah lama hilang, ada pada seorang Nasrani. la tidak tahu, bagaimana baju perangnya itu bisa berada di tangan Nasrani itu.

    Ia berusaha meminta baju zirahnya dan menjelaskan bahwa baju zirah itu miliknya. Namun, Nasrani itu enggan memberikan dan bersikukuh mengatakan bahwa itu baju miliknya. Akhirnya, Ali ibn Abu Thalib membawa laki-laki itu ke pengadilan.


    Di pengadilan, Ali bin Abi Thalib bertemu Qadi atau Khadi yakni seorang hakim yang membuat keputusan berdasarkan syariat Islam.

    Khadinya saat itu adalah Syarih. Kadi berkata kepada laki-laki Nasrani itu, “Apa pembelaanmu, atas apa yang dikatakan oleh Amirul Mukminin?”

    Nasrani itu berkata, “Baju zirah ini milikku. Amirul Mukminin tidak berhak menuduhku.”

    Syarih berpaling kepada Ali dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah kau punya bukti?”

    Ali ra. tertawa dan berkata, “Ya, engkau benar Syarih, aku tidak punya bukti apa-apa.”

    “Atau, adakah saksi yang mendukung tuduhanmu?”

    “Ada, anakku al-Hasan.”

    “la tidak dapat menjadi saksi bagimu.”

    “Bukankah kau pernah mendengar sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Umar bahwa al-Hasan dan al-Husain adalah dua pemimpin pemuda ahli surga?”

    “Meski begitu, tetap saja ia tidak berhak menjadi saksi untukmu.”

    Akhirnya Syarih memutuskan bahwa baju zirah itu milik si Nasrani.

    Laki-laki Nasrani itu mengambil baju zirah itu, lalu berjalan pulang ke rumahnya. Namun, belum lagi jauh, ia kembali menemui keduanya dan berkata, “Aku bersaksi bahwa hukum seperti ini adalah hukum para nabi. Amirul Mukminin membawaku kepada hakim yang diangkat olehnya dan ternyata hakimnya itu menetapkan keputusan yang memberatkannya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Baju zirah ini, demi Allah, ini adalah baju zirahmu, wahai Amirul Mukminin. Aku mengikuti pasukan dan saat itu kau pergi ke Shiffin, dan aku mengambil beberapa barang dari kendaraanmu.”

    Ali berkata, “Karena kau telah berislam, baju zirah ini untukmu.”

    Mendengar perkataan Ali, laki-laki itu lalu membawa baju zirahnya dengan senang.

    Kendati telah dibaiat dan ditetapkan sebagai khalifah, Ali ibn Abu Thalib tidak pernah berlaku sewenang-wenang. la selalu menempatkan setiap urusan pada tempatnya dan mendelegasikan wewenang kepada orang yang tepat.

    Kasus baju zirah itu membuktikan keadilan Ali. la tidak mau mencampuri atau memengaruhi keputusan khadi pengadilan. Dan yang sangat menakjubkan, Syarih, yang menjadi khadi saat itu, tidak merasa takut kepada Amirul Mukminin dan tetap menjalankan tugasnya tanpa terpengaruh oleh kedudukan Ali.

    Kedaulatan pemerintahan Ali ibn Abu Thalib berdiri di atas landasan keadilan. Selama masa kekuasaannya, tidak pernah ada seorang pun yang dizalimi kemudian diabaikan atau tidak ditolong oleh penguasa.

    Khalifah senantiasa menjaga amanatnya dengan baik dan melindungi seluruh rakyatnya dari penindasan dan kezaliman. Ketika memilih para khadi yang dianggap layak memimpin lembaga peradilan di wilayah Islam, Khalifah Ali turun langsung menguji mereka dan meneliti keadaan serta kecakapan mereka dalam bidang hukum.

    Ia juga memperhatikan akhlak dan perilaku keseharian para calon khadi ini. Ia pernah berkata kepada seorang khadi, “Apakah kau mengetahui ayat yang menasakh dan ayat yang dinasakh?”

    Ia menjawab, “Tidak.”

    Ali berkata, “Celakalah engkau dan kau akan mencelakakan orang lain.”

    Abu al-Aswad al-Du’ali pernah diangkat sebagai khadi namun kemudian dipecat. Ia berkata kepada Ali, “Mengapa engkau memecatku, sedangkan aku tidak berkhianat dan tidak berbuat salah?”

    Ali ra. menjawab, “Aku pernah melihatmu membentak-bentak dua orang yang bertikai.”

    Di masa kepemimpinannya, Ali memilih langsung orang-orang yang menjadi khadi dan dipercayainya untuk memimpin lembaga peradilan.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Berapa Lama Nabi Nuh Berdakwah? Ini Kisah Perjuangannya



    Jakarta

    Kisah Nabi Nuh AS adalah salah satu kisah penting yang termaktub dalam Al-Qur’an. Nabi Nuh AS memiliki kisah terkait masa dakwahnya yang cukup panjang.

    Dikutip dari buku Pengantar Studi Ilmu Dakwah karya Abu Al-Fath Al-Bayanuni dan M. A. Bayayuni, Nabi Nuh AS merupakan utusan Allah SWT pertama yang dakwah dan risalahnya tercatat dalam Al-Qur’an.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 59-64,


    لَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ ٥٩ قَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٦٠قَالَ يٰقَوْمِ لَيْسَ بِيْ ضَلٰلَةٌ وَّلٰكِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ ٦١ اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنْصَحُ لَكُمْ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٦٢ اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوْا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ٦٣ فَكَذَّبُوْهُ فَاَنْجَيْنٰهُ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ فِى الْفُلْكِ وَاَغْرَقْنَا الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا عَمِيْنَ ࣖ ٦٤

    Artinya: “Sungguh, Kami telah mengutus Nuh (sebagai rasul) kepada kaumnya, lalu ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah (karena) tidak ada tuhan bagi kamu selain Dia.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (hari Kiamat). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar melihatmu (berada) dalam kesesatan yang nyata.” Dia (Nuh) menjawab, “Hai kaumku, tidak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah rasul dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu risalah (amanat) Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa telah datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu kepada seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu, agar kamu bertakwa, dan agar kamu mendapat rahmat?” (Karena) mereka mendustakannya (Nuh), Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera serta Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).”

    Sejarah dakwah Nabi Nuh AS juga diabadikan dalam surah Nuh. Allah SWT berfirman tentang salah satu strategi dakwah Nabi Nuh AS dan sistem tadarruj yang dikembangkannya dalam surah Nuh.

    Nabi Nuh AS dakwah secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan dengan penuh kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi pertentangan kaumnya dalam kurun waktu yang lama. Karena Nabi Nuh AS merupakan nabi yang memiliki umur paling panjang.

    Allah berfirman dalam surah Al Ankabut ayat 14 tentang usia Nabi Nuh AS,

    وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا ۗفَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ ١٤

    Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim.”

    Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam buku Nuh: Peradaban Manusia Kedua menyatakan bahwa Nabi Nuh AS telah menasehati, memerintahkan, dan memperingatkan kaumnya untuk menyembah Allah SWT. Namun mereka menentangnya dan semakin sesat serta menyombongkan diri. Namun, kesabaran Nabi Nuh AS semakin bertambah.

    Nabi Nuh AS menghabiskan waktu untuk berdakwah selama 950 tahun untuk menyerukan tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah SWT serta mendorong untuk takut dan taat kepada-Nya.

    Dakwah yang sangat panjang ini membangun metode, pemikiran, gaya atau teknik, perdebatan, pertentangan, cobaan, dan pelajaran bagi para nabi.

    Nabi Nuh AS merupakan nabi yang istimewa dan menjadi suri tauladan untuk kaum muslim atas kesabaran dan ketabahannya dalam menghadapi kaum musyrikin yang menentangnya, hingga datanglah pertolongan Allah SWT atas kaumnya yang kafir.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Hindun, Perempuan Kejam Pemakan Jantung Paman Nabi yang Masuk Islam


    Jakarta

    Hindun binti Utbah adalah wanita yang sangat kejam. Dialah yang membunuh paman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Hamzah bin Abdul Mutholib. Tak hanya membunuh, Hindun juga merobek tubuh dan memakan jantung Hamzah. Namun, kemudian ia mendapat hidayah dan masuk Islam.

    Salah satu kisah menakjubkan tentang hidayah Allah SWT kepada hamba-Nya yang terpilih datang dari Hindun binti Utbah. Ia merupakan wanita yang jahil, yang membuat dirinya tega membunuh paman Nabi SAW dan memakan jantungnya.

    Bagaimana kisah Hindun binti Utbah yang akhirnya mendapat hidayah dari-Nya dan masuk Islam? Berikut selengkapnya.


    Hindun binti Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf adalah wanita yang sangat kejam, sebagaimana diceritakan dalam buku Meniti Berkah dalam Setiap Langkah (Kisah Hebat Para Sahabiyah, Ilmuan Muslimah, dan Muslimah Nusantara) yang ditulis oleh Ririn Astutiningrum.

    Hindun binti Utbah memiliki watak yang keras, teguh pendirian, mahir bersyair, dan fasih dalam komunikasi. Di sisi lain, ia sangat membenci dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, Islam dan menjadi salah satu wanita Quraisy yang paling keras menentang dakwah Rasulullah SAW.

    Kekejaman dari istri Abu Sufyan bin Harb ini semakin terkenal ketika Perang Uhud terjadi. Ia menyewa seorang budak bernama Wahsy bin Harb untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW.

    Hindun binti Harb memang sudah lama memendam dendam kepada Hamzah bin Abdul Muthalib. Hal ini disebabkan lantaran Hamzahlah yang sudah membunuh ayah dan saudara Hindun saat Perang Badar terjadi.

    Wahsy bin Harb pun melaksanakan tugas dari majikannya tersebut. Ia menusuk tubuh Hamzah yang dikenal sebagai Sang Singa Allah SWT dengan sebuah tombak. Hamzah akhirnya gugur di peperangan tersebut.

    Melihat musuh bebuyutannya sudah diam tak bernyawa lagi, Hindun binti Utbah segera berlari mendekatinya. Kemudian dia dengan kejam merobek dada Hamzah hingga keluar jantungnya.

    Hindun binti Utbah kemudian mengunyah jantung Hamzah dan meludahkannya. Ia ungkapkan semua dendamnya dengan aksi tersebut. Kejadian inilah yang membuat Hindun binti Utbah mendapat julukan sebagai “perempuan pemakan jantung.”

    Kisah Hindun binti Utbah Masuk Islam

    Siapa yang menyangka? Hindun binti Harb yang sangat kejam dan membenci Islam ini, akhirnya menjadi seorang muslim.

    Tahun demi tahun berlalu. Kaum muslimin yang mulanya terusir dari tanahnya sendiri, Makkah, kini sudah menjelma menjadi peradaban yang besar.

    Delapan tahun setelah hijrah ke Madinah, yakni bertepatan pada bulan Ramadhan tahun 630 Masehi, Rasulullah SAW memimpin 10.000 pasukan kaum muslimin memasuki Makkah.

    Hal ini tentunya membuat orang-orang kafir ketakutan. Mereka melakukan perlawanan semampunya yang tak sebanding dengan kekuatan Islam kala itu.

    Suami Hindun binti Utbah, Abu Sufyan bin Harb, menghadap Rasulullah SAW pada malam sebelum beliau memasuki Makkah. Di sana ia bersyahadat dan akhirnya masuk Islam.

    Abu Sufyan lalu kembali ke kaumnya sambil berteriak,

    “Sungguh kaum muslimin telah datang dengan pasukan yang amat besar. Kalian tidak akan mampu melawannya. Sesungguhnya aku telah masuk Islam. siapa yang ke rumahku, maka dia akan selamat!”

    Mendengar hal itu, Hindun binti Utbah sangat marah. Ia pun meneriaki suaminya dengan berkata,

    “Engkau sungguh seburuk-buruk pemimpin kaum ini! Wahai kalian semua, bunuhlah laki-laki yang tidak berguna ini!”

    Abu Sufyan lalu membantah perkataan istrinya itu. Ia kemudian memerintahkan kaumnya untuk masuk ke rumahnya atau masjid di sana.

    Orang-orang kafir yang bersembunyi itu dilanda dengan ketakutan dan kepanikan. Mereka seketika ingat perbuatan keji terhadap umat Islam dahulu. Mereka takut kalau umat Islam dan Rasulullah SAW datang untuk membalas dendam kepada mereka.

    Namun yang terjadi malah kebalikannya. Rasulullah SAW memasuki Makkah dengan begitu berwibawa dan penuh kasih. Tak ada kekerasan sedikit pun yang kaum muslimin lakukan terhadap orang-orang kafir.

    Rasulullah SAW datang menuju Ka’bah dan menghancurkan berhala-berhala yang ada di sana. Beliau juga menghancurkan gambar Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

    Pada akhirnya, banyak orang kafir yang terpesona dengan cara dakwah Rasulullah SAW tersebut sehingga banyak dari mereka yang memutuskan untuk masuk Islam. Salah satu di antaranya adalah Hindun binti Utbah.

    Ya, Hindun binti Utbah akhirnya masuk Islam. Ia disarankan oleh suaminya untuk menghadap kepada Rasulullah SAW bersama Usman bin Affan dan wanita yang lainnya.

    Hindun binti Utbah datang dengan menggunakan cadar. Ia malu dan takut atas perbuatan jahatnya dahulu. Namun, Rasulullah SAW tetap mengetahui bahwa yang bertemu dengannya itu adalah Hindun.

    Rasulullah SAW berkata padanya, “Dulu tidak ada penghuni rumah yang lebih aku ingin hinakan selain penghuni rumahmu. Sekarang, tidak ada penghuni rumah yang lebih dimuliakan daripada penghuni rumahmu.”

    Demikianlah kisah Hindun binti Utbah yang masuk Islam. Dirinya meninggal pada tahun 20 Hijriah dalam keadaan memeluk Islam.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Berdirinya Masjid Al Aqsa, Disebut Tertua setelah Masjidil Haram


    Jakarta

    Masjid Al Aqsa disebut juga dengan Baitul Maqdis. Tempat suci umat Islam ini berdiri di kompleks Haram Al Sharif atau Temple Mount di Yerusalem ini memiliki sejarah dan dinamika yang panjang

    Dikutip dari buku Kilau Mutiara Sejarah Nabi oleh Amandra Mustika Megarani, Masjid Al Aqsa dibangun di sebuah tempat yang berbentuk persegi dengan luas sekitar 144 ribu meter persegi. Kawasan ini mampu menampung kurang lebih 400 ribu jemaah, sedangkan bangunan masjidnya sebesar 83 meter dengan lebar 56 meter yang dapat menampung 5 ribu jemaah.

    Kisah Masjid Al Aqsa tidak bisa lepas tentang bagaimana masjid ini menjadi perebutan antar dua negara, yakni Israel dan Palestina. Di tempat inilah banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam terjadi.


    Kisah Berdirinya Masjid Al Aqsa di Yerusalem

    Pada dasarnya, kapan tepatnya Masjid Al Aqsa berdiri belum dapat dipastikan. Berbagai sumber mengatakan hal yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

    Namun, hal yang pasti Masjid Al Aqsa adalah masjid tertua kedua setelah Masjidil Haram. Hal ini disebutkan dalam buku Qashash Al-Anbiya karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh H. Dudi Rosyadi, Lc.

    Abu Dzar pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali didirikan?”

    Beliau menjawab, “Masjidil Haram.”

    Lalu Abu Dzar bertanya lagi, “Kemudian setelah itu masjid apa?”

    Beliau menjawab, “Masjid Baitul Maqdis.”

    Abu Dzar bertanya lagi, “Berapa tahunkah keduanya berselang?”

    Beliau menjawab, “Empat puluh tahun.”

    Sebagaimana yang tertera dalam hadits tersebut, Masjid Al Aqsa adalah masjid yang sudah didirikan sejak lama bahkan sebelum kenabian Rasulullah SAW.

    Ada yang berpendapat, menurut buku Sejarah & Keutamaan Masjid Al-Aqsha & Al-Quds karya Mahdy Saied Rezk Karisem, sosok yang benar-benar pertama kali mendirikan Masjid Al Aqsa adalah para malaikat berdasarkan sumber dari beberapa kitab tafsir.

    Namun, ada pula yang berpendapat dari kesepakatan mayoritas ulama dan yang shahih, nabi pertama yang membangun Masjid Al Aqsa yaitu Nabi Adam AS atas wahyu yang diberikan oleh Allah SWT.

    Selanjutnya, sekitar tahun 2.000 SM, Nabi Ibrahim AS merenovasi bangunan Masjid Al Aqsa serta meninggikan bangunannya. Setelah itu, diketahui bahwa Nabi Yaqub AS juga melangsungkan perbaikan pada bangunan Masjid Al Aqsa.

    Selang waktu yang sangat lama, masjid itu kembali dibangun oleh ayah dan anak yang sangat mulia. Mereka adalah Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS, sebagaimana dijelaskan Seni Bertuhan yang ditulis oleh Bambang Saputra.

    Nabi Sulaiman AS mendirikan Masjid Al Aqsa dengan lebih besar, luas, dan indah. Sesuai sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru bin Ash, beliau bersabda:

    “Ketika Sulaiman bin Dawud selesai membangun Baitul Maqdis (dalam riwayat lain disebutkan: membangun masjid Baitul Maqdis), maka ia meminta tiga perkara kepada Allah SWT, yaitu; keputusan hukum yang sejalan berdasarkan keputusan Allah, kerajaan yang tidak selayaknya dimiliki seseorang sesudahnya, dan agar masjid ini tidak didatangi seseorang yang tidak menginginkan selain salat di dalamnya, melainkan ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan ibunya. Kedua perkara yang pertama telah diberikan kepada Sulaiman, dan aku berharap ia juga diberikan yang ketiga.” (HR Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

    Menurut para ahli tafsir dan sejarah, sekitar abad ke VI sebelum Masehi, Masjid Al Aqsa (Yerusalem) diserang oleh Nebukadnezar dari Babilonia. Hal ini menyebabkan Bani Israel tidak memiliki tanah suci.

    Ratusan tahun berlalu, mendekati masa di mana Nabi Isa AS akan lahir ke dunia. Datanglah Raja Herodus (Khirudus) ke Yerusalem untuk membangun kembali Masjid Al Aqsa dengan sangat megah mengikuti rancangan Nabi Sulaiman AS.

    Bertahun-tahun kemudian, tempat suci itu kembali dihancurkan oleh Kaisar Titus dari Roma. Kejadian ini diperkiraan terjadi pada tahun 70 Masehi ketika ia datang ke Palestina untuk menghukum orang-orang Yahudi.

    Bekas Masjid Al Aqsa yang sudah hancur lalu diubah menjadi ladang oleh Raja Titus sebagaimana pendapat Ibn Khaldun. Akhirnya, Baitul Maqdis nyaris menjadi tidak tersisa dan terbengkalai keberadaannya.

    Barulah ketika Baitul Maqdis berhasil dikuasai oleh umat Islam pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA, kaum muslimin berbondong-bondong membangun kembali Masjid Al Aqsa sebagai wujud laknat Allah SWT kepada orang-orang kafir di kalangan Bani Israil.

    Pembangunannya kemudian dilanjutkan kembali pada masa khalifah Umayyah Abdul Malik dan diselesaikan oleh putranya, Al Walid, pada 705 M. Bertahun-tahun setelahnya Masjid Al Aqsa terus mengalami renovasi, perbaikan, dan penambahan akibat gempa maupun perang.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Tobatnya Malik bin Dinar, Seorang Polisi yang Pemabuk


    Jakarta

    Malik bin Dinar adalah seorang ulama yang gemilang di dunia keilmuan Islam. Ia memiliki nama lengkap Abu Yahya al-Basri Malik bin Dinar. Ia sempat hidup bersama dengan beberapa sahabat nabi dan berguru dengan tabi’in yang alim, sebagaimana disebutkan dalam buku Kisah-kisah Tidak Sahih di Meja Penceramah oleh Dzulkhairi Md Noor.

    Malik bin Dinar dikenal sebagai orang yang memiliki watak yang tinggi. Contohnya, beliau pernah berkata, “Penduduk dunia keluar dari dunia, namun mereka tidak merasai kelezatan satu perkara.”
    Ia lalu ditanya perkara apakah itu, ia pun menjawab, “Ma’rifah Allah (mengenali Allah SWT).”

    Dikisahkan, mulanya Malik bin Dinar adalah seorang pemabuk. Namun, ia akhirnya mau bertobat kepada Allah SWT dan menjadi orang yang lebih baik.


    Kisah Tobatnya Malik bin Dinar

    Kisah tobatnya Malik bin Dinar ini diambil dari buku Tetesan Saripati Hikmah oleh Ilha Akbar. Dulunya ia adalah polisi yang gemar meminum khamr (alkohol) dan kerap bermabuk-mabukan.

    Suatu hari, Malik bin Dinar pun membeli seorang budak. Ia menikahinya dan dikaruniai seorang putri.

    Setiap kali, ia meletakkan khamr di hadapannya, putrinya tersebut yang sudah mulai bisa merangkak selalu datang dan menjauhkan minuman itu darinya. Putrinya juga akan menumpahkannya atau menyingkirkannya. Namun, tidak lama, putri Malik bin Dinar meninggal dunia saat usia menginjak umur dua tahun.

    Dikisahkan, malam Nisfu Sya’ban yang bertepatan pada hari Jumat pun datang. Saat itu, Malik bin Dinar sedang mabuk di rumah sampai lupa untuk melaksanakan salat Isya. Saat mabuk, ia memimpikan hal yang mengerikan.

    Dalam mimpi itu, Malik bin Dinar melihat hari kiamat telah tiba, sangkakala telah ditiup dan orang-orang bangkit dari kuburnya. Ia berada di tengah lautan manusia yang berkumpul di situ. Ia pun berlari saat kulihat seekor ular raksasa berwarna biru kehitaman yang mengejarnya dengan mulut yang terbuka.

    Saat tengah berlari berlari, Malik bin Dinar melihat seorang syaikh yang berpakaian bersih dan memancarkan wangi semerbak. Ia pun meminta perlindungan darinya.

    Namun syaikh tersebut berkata, “Aku lemah dan dia (ular) lebih kuat dariku. Aku tidak dapat melawannya. Pergilah cepat, mungkin Allah akan menganugerahimu sesuatu yang akan menyelamatkanmu darinya.”

    Ketika Malik bin Dinar kembali berlari sampai melihat sebuah tebing, ternyata ada neraka di baliknya yang hampir menelan siapapun.

    Dalam mimpi tersebut ia terus berlari hingga mendatangi gunung perak dengan kubah berlapis permata di atasnya. Di setiap kubah itu memiliki dua pintu besar yang berwarna merah keemasan dengan taburan zamrud dan mutiara yang digantungi tirai-tirai sutra.

    Belum sampai di dalamnya, salah seorang malaikat berteriak kepada Malik bin Dinar, “Angkatlah tirai-tirai, bukalah pintu-pintu dan awasilah! Mudah-mudahan orang yang malang ini mempunyai sesuatu dalam simpanan bersamamu yang dapat menolong dari musuhnya.”

    Tirai-tirai itu pun terbuka. Terlihat wajah anak-anak yang bercahaya seperti bulan purnama. Saat ular itu hampir kembali menyusul Malik bin Dinar untuk masuk ke dalam kubah itu, anak-anak tadi dengan sigap keluar dengan bergerombol.

    Hingga, Malik bin Dinar melihat putrinya yang sudah meninggal dunia berada di barisan anak-anak tersebut. Putriku menangis dan memanggilnya, “Ayahku, Demi Allah!”

    Malik bin Dinar pun menangis seraya menggendong putrinya. Ia juga menanyakan apakah anak-anak itu mengerti tentang Al-Qur’an. Putrinya tersebut menjawab bahwa ia memahaminya lebih baik daripada ayahnya sendiri.

    Anak Malik bin Dinar kemudian menjelaskan, ular besar yang mengejarku tadi adalah amal-amal buruk yang sudah kukerjakan. Ia berniat untuk membawa Malik bin Dinar ke neraka dan disiksa di dalamnya.

    “Bagaimana dengan syaikh yang kulewati?” tanyanya.

    “Wahai ayahku! Itu adalah amal kebaikanmu yang lemah, sehingga mereka tidak dapat mengatasi dosa-dosamu.”

    Lalu, saat Malik bin Dinar menanyakan perihal anak-anak yang berada di gunung tadi, putrinya mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak orang muslim yang dikumpulkan di sana sampai hari kiamat yang menanti kedatangan orang-orang agar bisa diberi syafaat.

    Hingga, Malik bin Dinar pun terbangun dari tidurnya. Saat itu juga, ia melemparkan khamr di tanganku dan bertekad untuk bertobat dari perbuatan yang buruk kepada Allah SWT.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengenal Hamzah bin Abdul Muthalib, Sahabat Nabi dengan Julukan Singa Allah



    Jakarta

    Sosok-sosok terkemuka dalam sejarah Islam sering kali menjadi inspirasi bagi umat Muslim di seluruh dunia. Salah satu tokoh yang patut dikenal dan dihormati adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, yang dikenal sebagai salah satu pahlawan Islam.

    Hamzah bin Abdul Muthalib adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijuluki sebagai “Singa Allah”.

    Dikutip dari buku edisi Indonesia: Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi: Menyimak Kisah Hidup 154 Wisudawan Madrasah Rasulullah SAW karya Muhammad Raji Hasan Kinas, Hamzah ibn Abdul Muthalib adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari suku Quraisy.


    Hamzah merupakan saudara laki-laki dari Abu Thalib, yang merupakan wali dan pelindung Nabi Muhammad SAW.

    Julukan Hamzah bin Abdul Muthalib

    Hamzah bin Abdul Muthalib memiliki beberapa julukan, seperti yang disebut dalam buku Dua Pedang Pembela Nabi SAW karya Rizem Aizid, yaitu; Singa Allah dan pemimpin para syuhada.

    Sebutan dan julukan tersebut memberikan gambaran kepada umat muslim tentang sosok Hamzah bin Abdul Muthalib, pejuang dan pahlawan Islam yang gigih serta berani membantai musuh-musuh Islam di medan perang.

    Kisah Hamzah bin Abdul Muthalib dalam Perang Badar

    Mengutip sumber sebelumnya, Perang Badar merupakan pertempuran besar pertama antara kaum muslimin dan kafir Quraisy pada 17 Maret 624 M atau 17 Ramadhan 2 Hijriah.

    Perang Badar terjadi dua tahun setelah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah karena kondisinya tidak memungkinkan untuk ditinggali.

    Perang Badar terjadi karena balas dendam kaum Quraisy terhadap kaum muslimin. Kaum Quraisy mengirim 1000 bala tentara, sedangkan kaum muslim hanya berjumlah 314.

    Hamzah bin Abdul Muthalib ikut berpartisipasi dalam Perang Badar. Bersama Ali bin Abi Thalib, Hamzah bin Abi Thalib menunjukkan keberanian dan keperkasaan yang luar biasa dalam membela Islam.

    Atas kegigihan dan keberanian dalam berperang melawan kafir Quraisy, Perang Badar pun dimenangkan oleh umat muslim.

    Dalam Perang Badar, Hamzah bin Abdul Muthalib memiliki peran penting, yaitu membubarkan dan melumpuhkan orang-orang kafir Quraisy. Hamzah bin Abdul Muthalib juga berhasil membunuh salah satu kafir Quraisy yaitu, Syaibah bin Rabi’ah dan saudaranya, Utbah bin Rabi’ah.

    Perjuangan Hamzah bin Abdul Muthalib dalam Perang Uhud

    Hamzah bin Abdul Muthalib juga turut berpartisipasi dalam Perang Uhud. Perang Uhud merupakan perang yang terjadi karena kaum Quraisy yang balas dendam kepada umat muslim atas kemenangan pada Perang Badar.

    Banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang gugur syahid dalam Perang Uhud, hingga mengakibatkan kekalahan umat muslim dalam Perang Uhud melawan kaum kafir Quraisy, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib.

    Hamzah bin Abdul Muthalib tewas di tangan kafir yang bernama Wahsyi, budak Jubair bin Muttan. Wahsyi diam-diam berada di balik batu dan bersiap untuk menyerang Hamzah bin Abdul Muthalib ketika Hamzah lengah di medan perang.

    Muhammad Raji Hasan Kinas dalam bukunya menyatakan bahwa setelah mengetahui bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib wafat dalam Perang Uhud di tangan kafir Quraisy, Rasulullah SAW sangat terpukul.

    Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah SAW terpaku diam melihat jenazah Hamzah yang diperlakukan dengan sangat keji oleh kaum musyrik. Rasulullah SAW bersabda, “Allah merahmatimu, Paman! Engkau telah menjadi penyambung silaturahim dan melakukan segala kebaikan.”

    Rasulullah SAW berdoa memohon ampunan untuk Hamzah dan memerintahkan untuk mengubur jenazah Hamzah dan Abdullah ibn Jahsy dalam satu liang. Abdullah ibn Jahsy adalah keponakan Hamzah dari Umaymah binti Abdul Muthalib.

    Dalam sebuah riwayat dari Anas ibn Malik, ia berkata, “Baginda Nabi bertakbir (dalam sholat jenazah) empat kali ketika menyalati seseorang, tetapi untuk jenazah Hamzah beliau bertakbir 70 kali.”

    Abu Ahmad al-Askari berkata, “Hamzah adalah syahid pertama dari keluarga Rasulullah SAW.”

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Muhammad dan Anggur Asam dari Lelaki Miskin



    Jakarta

    Kisah Nabi Muhammad SAW merupakan sumber inspirasi dan pembelajaran bagi umat Islam. Salah satu kisah menarik dari kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah kisahnya dengan anggur asam yang diberikan oleh seorang lelaki miskin.

    Anggur merupakan buah yang istimewa. Buah dengan rasa manis ini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Buah anggur disebutkan sebanyak 14 kali dalam Al-Qur’an dan terdapat kisah Nabi Muhammad SAW bersama buah anggur.

    Ayat Al-Qur’an tentang Anggur

    Allah SWT telah berfirman dalam beberapa ayat Al Qur’an tentang buah anggur.


    Surah An Nahl ayat 11,

    يُنْۢبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُوْنَ وَالنَّخِيْلَ وَالْاَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ١١

    Artinya: “Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untukmu tumbuh-tumbuhan, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.”

    Surah Al Isra ayat 91,

    اَوْ تَكُوْنَ لَكَ جَنَّةٌ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْاَنْهٰرَ خِلٰلَهَا تَفْجِيْرًاۙ ٩١

    Artinya: “atau engkau mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu engkau alirkan di celah-celahnya sungai yang deras alirannya,”

    Surah Ar Ra’d ayat 4,

    وَفِى الْاَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّجَنّٰتٌ مِّنْ اَعْنَابٍ وَّزَرْعٌ وَّنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَّغَيْرُ صِنْوَانٍ يُّسْقٰى بِمَاۤءٍ وَّاحِدٍۙ وَّنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلٰى بَعْضٍ فِى الْاُكُلِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ ٤

    Artinya: “Di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang. (Semua) disirami dengan air yang sama, tetapi Kami melebihkan tanaman yang satu atas yang lainnya dalam hal rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar (terdapat) tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.”

    Kisah Nabi Muhammad dan Anggur Asam dari Lelaki Miskin

    Dikutip dari buku Rumah Cinta Rasul karya Dewi Ambarsari, Nabi Muhammad SAW memiliki kisah dengan anggur asam.

    Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW dihampiri oleh lelaki miskin yang membawa segenggam buah anggur. Buah anggur tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hadiah.

    Lelaki miskin itu berkata, “Wahai Rasulullah, terimalah buah anggur ini sebagai hadiah kecil dariku.” Ia sangat senang dan bersemangat ketika memberikan buah anggur itu kepada Nabi Muhammad SAW.

    Nabi Muhammad SAW pun menerima buah anggur pemberian lelaki miskin itu dan mengambil satu butir untuk dimakannya.

    Saat itu, Nabi Muhammad SAW sedang bersama para sahabatnya. Para sahabat sangat berharap agar Nabi Muhammad SAW membagikan buah anggur itu kepada mereka.

    Bukannya membagi, Nabi Muhammad SAW justru menghabiskan anggur tersebut seorang diri dan tidak menyisakan untuk sahabatnya.

    Lelaki miskin tersebut sangat senang karena Nabi Muhammad SAW menghabiskan anggur pemberiannya. Kemudian ia pamit dengan hati yang gembira.

    Para sahabat pun heran, hingga bertanya, “Wahai Rasulullah kenapa kau makan semua anggur itu dan tanpa sama sekali menawarkannya kepada kami?”

    Nabi Muhammad SAW tersenyum dan berkata, “Aku makan semua anggur itu karena rasa buah anggur itu asam. Jika aku menawarkannya pada kalian, aku khawatir kalian tidak dapat menahan rona muka yang tidak mengenakkan. Hal itu bisa menyakiti hati lelaki tersebut. Jadi aku berpikir lebih baik aku makan semuanya demi menyenangkan sang pemberi anggur. Aku tidak ingin menyakiti hati lelaki tersebut.”

    Dari kisah Nabi Muhammad dan anggur asam, terdapat beberapa pelajaran seperti untuk saling berbagi dan menghargai usaha yang telah dilakukan oleh orang yang telah memberikan sesuatu.

    Manfaat Anggur

    Mengutip dari sumber sebelumnya, buah anggur memiliki banyak manfaat. Jika dikonsumsi secara rutin dalam bentuk alami, buah anggur dapat memberi manfaat kesehatan. Berikut beberapa manfaat anggur:

    1. Mencegah kanker karena anggur mengandung antioksidan
    2. Biji anggur dapat mencegah penuaan dini
    3. Menyeimbangkan kadar kolesterol, sehingga mencegah penyakit stroke
    4. Menjaga kesehatan jantung
    5. Mengatasi insomnia

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Detik-detik Malaikat Izrail Mencabut Nyawa Sang Rasul



    Jakarta

    Meski Rasulullah SAW merupakan utusan Allah SWT, beliau tetap merasakan sakitnya sakaratul maut. Setiap makhluk yang hidup akan mengalami pencabutan nyawa.

    Nabi Muhammad SAW wafat pada Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah. Abu Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi melalui Sirah Nabawiyah menjelaskan bahwa sang rasul mulai jatuh sakit pada akhir bulan Safar tahun ke-11 Hijriah.

    Dikatakan oleh Aisyah RA, Rasulullah SAW jatuh sakit setelah mengunjungi pemakaman para sahabat di Baqi’ al Gharqadd. Setelah itu,belia menemui Aisyah di rumah.


    Nabi Muhammad SAW kemudian memanggil istri-istrinya dan meminta izin tinggal di rumah Aisyah selama sakit. Di rumah Aisyah inilah Rasulullah wafat.

    “Maut datang kepada Rasulullah ketika kepala Beliau berada di pangkuanku,” kata Aisyah.

    Sebelum wafat, Rasulullah sempat pingsan sebentar, lalu tersadar. Saat sadar pandangan Nabi Muhammad mengarah ke atap rumah dan berkata, “Allahumma Ar-Rafiqal A’la (Ya Allah Dzat yang Maha Tinggi).” Setelah mengucapkan kalimat itu, Rasulullah wafat.

    Mengutip dari buku Kisah-kisah Islami Inspiratif for Kids oleh A. Septiyani, kisah tersebut diketahui saat ada yang bertamu ke kediaman Rasulullah SAW namun Fatimah, putri nabi, tidak mengetahui siapa dia.

    “Aku mohon maaf, tapi aku tidak bisa membiarkanmu masuk karena ayahku sedang demam,” kata Fatimah seraya menutup pintu.

    Fatimah segera mendekati ayahnya, dan Rasulullah SAW bertanya, “Wahai anakku, siapa tamu itu?”

    “Aku tidak tahu, Ayah. Tapi sepertinya ini pertama kalinya aku bertemu dengannya.” jawab Fatimah.

    Rasulullah SAW menatap putri tercintanya dengan tatapan yang menggetarkan. Beliau berkata, “Wahai anakku, ketahuilah bahwa orang yang kamu lihat adalah yang mengakhiri kenikmatan sesaat. Dia yang memisahkan pertemuan di dunia. Dia adalah Malaikat Maut.” Mendengar itu, Fatimah tidak bisa menahan tangisnya.

    Lalu, Malaikat Maut mendekati Rasulullah SAW. Karena Rasulullah SAW menanyakan keberadaan Malaikat Jibril, Malaikat Maut memanggil Malaikat Jibril untuk menemani Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW bertanya, “Wahai Jibril, katakan padaku apa hakku di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?”

    Malaikat Jibril menjawab, “Wahai Rasulullah, pintu-pintu langit akan terbuka dan para malaikat sudah menantikanmu di sana. Semua pintu surga telah terbuka lebar menantikan kedatanganmu.”

    Meskipun mendengar kabar gembira dari Malaikat Jibril, Rasulullah SAW masih terlihat cemas.

    Melihat kecemasan sang rasul, Malaikat Jibril bertanya, “Mengapa engkau masih cemas seperti itu? Apakah engkau tidak bahagia mendengar kabar ini, ya Rasulullah?”

    Rasulullah SAW kembali bertanya, “Beritahukanlah kepadaku, bagaimana nasib umatku kelak?”

    Malaikat Jibril menjawab, “Jangan khawatirkan nasib umatmu, ya Rasulullah. Aku mendengar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepadaku: ‘Aku telah mengharamkan surga bagi selain umat Muhammad, hanya umatmu yang berhak memasukinya.’”

    Mendengar itu, Rasulullah SAW merasa sedikit tenang. Tak terasa, saat-saat kepergian sang rasul semakin dekat.

    Malaikat Izrail terlihat menjalankan tugasnya. Dengan perlahan, ruh Nabi Muhammad SAW diambil. Tubuh beliau dibanjiri oleh keringat.

    Urat-uratnya sang nabi tampak tegang. Sembari merasakan sakit yang tiada tara, Nabi Muhammad SAW berkata, “Wahai Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini.”

    Melihat Rasulullah SAW kesakitan, Malaikat Jibril hanya bisa memalingkan wajahnya. Ia tidak tega melihat beliau dalam penderitaan.

    “Wahai Malaikat Jibril, apakah engkau merasa jijik melihatku sehingga kau memalingkan wajahmu?” tanya Rasulullah SAW.

    Malaikat Jibril menjawab, “Siapakah yang akan tega melihat kekasih Allah menghadapi ajalnya?”

    Dikisahkan dalam Kitab Maraqi Al-‘Ubudiyyah susunan Syekh Nawawi Al-Bantani, hingga di penghujung hidupnya, Nabi Muhammad SAW tetap memikirkan nasib umatnya. Ketika merasakan dahsyatnya sakit sakaratul maut, Rasulullah SAW masih sempat berdoa untuk keselamatan umatnya.

    “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku. Jangan (timpakan) kepada umatku,” doa Nabi Muhammad SAW.

    Tubuh beliau semakin dingin. Bibirnya bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu. Ali bin Abi Thalib mendekati beliau, dan Rasulullah SAW berbisik, “Jagalah salat dan peliharalah orang-orang lemah di antara kalian.”

    Tangisan terdengar di sekeliling dan Fatimah menutup wajahnya dengan tangannya. Ali bin Abi Thalib mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah SAW, dan Beliau berbisik, “Ummatii, ummatii, ummatii… (Umatku, umatku, umatku…).”

    Mustofa Murod melalui bukunya yang berjudul Dialog Malaikat Maut dengan Para Nabi AS yang bersandar pada hadits riwayat dari Aisyah RA menceritakan terkait perjumpaan Malaikat Maut dengan Nabi Muhammad SAW. Sebagian menyebut Rasulullah tengah bersama Ali bin Abi Thalib di ujung ajalnya, sebagian lagi mengatakan bersama dengan Aisyah RA.

    Wallahu a’lam bishawab.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Utus 2 Sahabat ke Yaman



    Jakarta

    Sekitar 1400-an tahun yang lalu pada bulan Rabiul Akhir, Rasulullah SAW mengutus dua sahabat ke Yaman. Mereka mendapat tugas untuk memerangi orang yang bermaksiat.

    Diceritakan dalam As-Sirah An-Nabawiyah bi Riwayah Al-Bukhari karya Riyadh Hasyim Hadi, Rasulullah SAW mengutus Abu Musa dan Muadz bin Jabal ke Yaman. Rasulullah SAW mengingatkan agar mereka mempermudah dan tidak mempersulit, memberikan motivasi, dan tidak menakut-nakuti.

    Menurut hadits dari jalur Yadiz bin Quthaib dari Muadz, saat Rasulullah SAW melepasnya, beliau berpesan, “Kamu aku utus ke kaum yang berhati lembut. Maka bersama orang yang taat kepadamu perangilah orang yang maksiat.”


    Keduanya lantas berangkat membawa amanah dari Rasulullah SAW tersebut. Masing-masing dari mereka membuat perjanjian, jika salah seorang dari mereka berada di tempat yang berdekatan, ia akan mampir.

    Muadz pun berangkat ke tempat yang dekat dengan Abu Musa. Kala itu ia mendapati Abu Musa tengah duduk dikelilingi banyak orang dan ada seseorang dengan tangan diikat duduk di samping Abu Musa.

    “Siapa dia wahai Abdullah bin Qais?” tanya Mu’adz.

    Abu Musa berkata, “Ia murtad setelah masuk Islam. Turunlah dari kendaraanmu sampai kamu menyaksikan dia dibunuh. Ia didatangkan ke sini dalam keadaan seperti itu untuk dihukum. Ayo turunlah.”

    Muadz pun memerintahkan agar pria itu dibunuh dulu baru ia mau turun dari kendaraannya.

    Menurut para ahli tentang peperangan Rasul dan para sahabat, peristiwa itu terjadi pada bulan Rabiul Akhir tahun kesembilan setelah hijrah. Ada pendapat yang menyebut, Abu Musa dan Muadz diutus sebelum haji wada.

    Haji wada adalah haji terakhir Rasulullah SAW sebelum berpulang ke Rahmatullah. Haji ini kerap disebut dengan haji perpisahan.

    Sementara itu, Ibnu Hajar memberikan komentar atas peristiwa tersebut bahwa kata diutusnya Abu Musa dan Muadz ke Yaman “sebelum haji wada” itu bersifat relatif. Sebab, Al Bukhari menyebut dalam hadits lain bahwa saat Muadz pulang dari Yaman, ia berjumpa dengan Nabi SAW di Makkah ketika haji wada.

    Peristiwa bulan Rabiul Akhir yakni diutusnya Abu Musa dan Muadz ke Yaman ini diceritakan dalam riwayat Imam Bukhari dalam hadits nomor 4341 dan 4342.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Burung Ababil dalam Al-Qur’an yang Bawa Kerikil Neraka



    Jakarta

    Al-Qur’an menceritakan berbagai kisah dan peristiwa yang mengandung pelajaran yang berharga untuk seluruh umat muslim. Salah satu kisah menarik dalam Al-Qur’an adalah kisah burung ababil.

    Kisah Burung Ababil dalam Al-Qur’an terdapat dalam surah Al Fiil ayat 3-5. Burung ababil adalah burung yang dikirim Allah SWT untuk menghancurkan pasukan gajah yang akan menghancurkan Ka’bah.

    Allah SWT berfirman,


    وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَۙ ٣ تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍۙ ٤ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ ࣖ ٥

    Artinya: “Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, sehingga Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS Al Fiil: 3-5)

    Diceritakan dalam Tafsir Ibnu Katsir, menurut riwayat dengan sanad shahih, burung ababil yang menjadi pasukan Allah SWT tersebut muncul dari laut dengan gesit seperti burung walet. Paruh dan kedua cakarnya berwarna hitam.

    Burung tersebut diutus Allah SWT untuk menghancurkan tentara bergajah. Setiap ekor burung membawa tiga buah batu, satu batu terletak pada paruhnya, dan dua lainnya dalam cengkeraman kakinya.

    Burung-burung tersebut datang bersaf-saf. Mereka mengeluarkan suara dan menjatuhkan batu-batu yang ada di paruh dan kaki mereka. Setiap orang yang tertimpa batu itu akan binasa.

    “Tiada sebuah batu pun yang menimpa kepala seseorang dari mereka melainkan tembus sampai ke duburnya dan sekali-sekali batu itu mengenai sesuatu dari subuh seseorang dari mereka melainkan tembus ke bagian bawahnya,” jelas Ibnu Katsir dalam kitab tafsir-nya yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

    Allah SWT menggambarkan kekalahan tentara bergajah atas pasukan burung ababil seperti daun-daun yang dimakan ulat. Sebagaimana firman-Nya,

    فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ ࣖ ٥

    Artinya: “sehingga Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS Al Fiil: 5)

    Ibnu Katsir menjelaskan, maksudnya ayat tersebut adalah Allah SWT membinasakan dan menghancurkan mereka serta menjadikan mereka ‘senjata makan tuan’.

    Disebutkan dalam Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, pasukan bergajah tersebut berada di bawah pimpinan Abrahah bin Shabah, seorang Gubernur Jenderal Najasyi Habasyah di Yaman. Mereka datang ke Makkah untuk menghancurkan Ka’bah namun Allah SWT menggagalkan rencananya dengan mengutus burung ababil.

    Arti Burung Ababil

    Mengutip dari sumber buku yang sama, para ulama mengartikan burung ababil sebagai berikut:

    • Ibnu Hisyam mengatakan, “Al-ababil berarti kawanan, dan masyarakat Arab tidak menggunakan kata itu dalam bentuk mufrad (tunggal.”
    • Ibnu ‘Abbas dan adh-Dhahhak mengatakan, “Ababil berarti sebagian mengikuti sebagian lainnya.”
    • Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengatakan, “Ababil berarti sangat banyak.”
    • Mujahid mengatakan, “Ababil berarti sekumpulan yang saling mengikuti dan berkumpul.”
    • Ibnu Zaid mengatakan, “Al-ababil berarti yang berbeda-beda, yang datang dari semua penjuru.”

    Hikmah di Balik Kisah Burung Ababil

    Kisah burung ababil mengandung beberapa hikmah. Mengutip buku Cerita Al Quran yang disusun oleh Tim Erlangga for Kids, berikut di antaranya:

    • Sesungguhnya Allah SWT Maha Besar, tidak ada pasukan yang dapat mengalahkan kebesaran-Nya.
    • Senantiasa berserah diri kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT akan selalu melindungi hamba-Nya yang beriman.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com