Blog

  • Kisah Istri Nabi Nuh yang Turut Diazab Allah karena Durhaka



    Jakarta

    Terdapat dua orang istri nabi yang diazab oleh Allah SWT karena durhaka kepada-Nya. Salah satunya adalah istri Nabi Nuh AS. Lalu, bagaimanakah kisah istri Nabi Nuh yang durhaka itu?

    Disebutkan di dalam Al-Qur’an, istri Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS adalah dua perempuan yang durhaka kepada Allah SWT dan kepada suaminya. Tentu saja, mereka pasti mendapat azab dari-Nya meskipun menyandang gelar istri nabi sebab Allah SWT Maha Adil.

    Allah SWT berfirman dalam surah At-Tahrim ayat 10 yang berbunyi,


    ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ ١٠

    Artinya: “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”

    Lantas, bagaimanakah kisah istri Nabi Nuh yang durhaka itu? Berikut penjelasannya.

    Azab Istri Nabi Nuh AS yang Durhaka

    Mengutip dari buku Tafsir Qashashi Jilid IV: Umat Terdahulu, Tokoh, Wanita, Istri, dan Putri Nabi Muhammad SAW karya Sofyan Hadi, istri Nabi Nuh AS adalah wanita yang durhaka sebab selalu membenci kegiatan dakwah suaminya yang merupakan seorang nabi.

    Seperti yang diketahui, Nabi Nuh AS hidup berdakwah untuk meluruskan akidah umatnya selama ratusan tahun, tepatnya 950 tahun lamanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Ankabut ayat 14 yang berbunyi,

    وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا ۗفَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ ١٤

    Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim.”

    Selama seribu kurang lima puluh tahun inilah Nabi Nuh AS berdakwah tak kenal lelah kepada kaumnya. Namun, karena watak umat beliau yang sangat bebal, beliau pun hanya memiliki sedikit pengikut.

    Selama 950 tahun ini pula, keadaan rumah tangga Nabi Nuh AS tidak stabil. Terlebih lagi, Nabi Nuh AS hidup jauh dari kemewahan dan penuh dengan kesederhanaan, atau bahkan bisa dibilang hidup miskin.

    Harta yang dimiliki Nabi Nuh AS habis digunakan untuk berdakwah di jalan Allah SWT dan membantu orang-orang miskin. Beliau juga tidak mengharap apa pun dari dakwah yang disebarkannya sehingga tidak mungkin bagi beliau untuk mendapat penghasilan dari jihadnya itu.

    Kondisi ekonomi yang tidak stabil inilah yang kemudian memicu istri Nabi Nuh AS untuk berkhianat kepada beliau. Konon disebutkan, bahwa pada saat rumah tangga yang tidak stabil itulah datang seorang nenek hendak menyogok istri Nabi Nuh AS.

    Nenek itu membawa setumpuk uang kepada istri Nabi Nuh AS dengan syarat dia bersedia menjadi mata-mata pemuka kaum Nabi Nuh AS yang durhaka. Ternyata, nenek tadi adalah setan yang menyamar menjadi manusia.

    Istri Nabi Nuh AS yang durhaka ini tentu menerima dengan senang hati tawaran tersebut. Akhirnya ia pun menjadi pengkhianat yang melaporkan setiap aktifitas dakwah Nabi Nuh AS kepada orang-orang kafir.

    Terlebih lagi, istri Nabi Nuh AS juga berhasil mempengaruhi dan mendidik anaknya yang bernama Kan’an untuk juga turut durhaka kepada ayahnya. Usahanya untuk mengkafirkan anaknya yang lain, Sam, Ham, dan Yafits, gagal. Mereka tetap berada di jalan Allah SWT.

    Akhirnya, janji Allah SWT untuk orang-orang yang durhaka kepada-Nya pun terjadi. Seluruh bumi dipenuhi oleh air yang muncul dari permukaan bumi dan dari langit. Banjir yang sangat dahsyat pun tidak terelakkan.

    Saat itulah, istri Nabi Nuh AS yang durhaka bersama anaknya, Kan’an turut ditenggelamkan oleh Allah SWT bersama orang-orang kafir lainnya.

    Nabi Nuh AS sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengajak anak dan istrinya tersebut naik ke atas kapal. Namun, mereka tetap durhaka dan tidak mau mendengar beliau bahkan sampai akhir hayatnya.

    Nabi Nuh AS berdoa kepada Allah SWT untuk menyelamatkan anak dan istrinya tersebut dari azab-Nya yang sangat dahsyat. Namun, Allah SWT berkata lain. Dia berfirman dalam surah Hud ayat 46 yang berbunyi,

    قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ ٤٦

    Artinya: Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Zulkarnain dalam Al-Qur’an, Pembuat Benteng Penahan Ya’juj dan Ma’juj



    Jakarta

    Sosok Zulkarnain dalam Al-Qur’an dijelaskan dalam surah Al-Kahfi ayat 83-99. Allah SWT berfirman bahwa ia berhasil mengurung Ya’juj Ma’juj di balik tembok tembaga antara dua gunung.

    Kisah tentang Zulkarnain tertera pada surah al-Kahfi ayat 83-99. Ibnu Katsir juga menjelaskan kejadian ini dalam kitabnya yang berjudul Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir.

    Dalam surat Al-Kahfi

    Zulkarnain adalah seorang raja Romawi dan Persia. Dirinya dinamai demikian sebab memiliki dua tanduk di kepalanya. Sebagian percaya, nama ini didapat karena ia sudah berhasil menguasai bumi bagian timur dan barat.


    Allah SWT telah memberikan kepadanya kekuasaan yang amat besar. Ia memiliki bala tentara yang banyak, alat perang yang dahsyat, dan benteng-benteng yang kuat pula.

    Oleh sebab itu, banyak negeri yang tunduk kepada Zulkarnain. Bahkan raja di seluruh dunia pun juga hormat kepadanya, baik raja dari Arab maupun non-Arab. Mereka semua mengabdi kepadanya.

    Suatu hari, dirinya menempuh sebuah perjalanan ke barat sampai menemui sebuah kaum dari Bani Adam yang besar. Ia pun mengajak mereka tentang untuk menyembah Allah SWT.

    Kemudian Zulkarnain kembali melanjutkan sebuah perjalanan ke arah matahari terbit di negeri bagian timur. Setiap melewati segolongan umat, Zulkarnain dapat mengalahkan dan menguasai mereka serta menyeru kepada Allah SWT.

    Lalu sampailah Zulkarnain ke negeri di belahan bumi bagian paling timur, daerah di mana terbitnya matahari. Di sana terdapat sebuah kaum yang tidak memiliki bangunan apa pun untuk dijadikan sebagai tempat tinggal.

    Bahkan pepohonan yang digunakan untuk berlindung dari sinar matahari saja tidak ada. Sehingga Sa’id bin Jubair mengatakan, mereka ini berkulit merah, bertubuh pendek, tinggal di gua, dan pemakan ikan.

    Zulkarnain lalu melanjutkan perjalanannya ke arah timur lagi sampai menemui dua buah gunung dengan satu lubang di antaranya. Pada celah itu, keluarlah Ya’juj Ma’juj menuju negeri Turki untuk berbuat kerusakan, termasuk pada tanaman dan keturunan.

    Di depan gunung tadi, tinggallah sebuah kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka keterasingan bahasa sebab tinggal terlalu jauh dari umat manusia.

    Kaum tersebut meminta kepada Zulkarnain untuk membuatkan sesuatu sebagai penghalang antara mereka dengan Ya’juj Ma’juj sang pembuat onar. Mereka bahkan sudah berniat membalas jasa Zulkarnain dengan harta mereka.

    Namun dengan penuh kesucian, ketulusan, perbaikan dan tujuan baik, Zulkarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik.” Artinya, Zulkarnain tidak meminta imbalan dari mereka, melainkan ikhlas karena Allah SWT.

    Kemudian, Zulkarnain meminta kaum tersebut untuk mengumpulkan potongan-potongan besi dan tembaga. Ia menumpuk besi-besi itu hingga tingginya sama dengan kedua puncak gunung tadi.

    Zulkarnain lalu meminta penduduk kaum tersebut untuk meniup atau memanaskan besi tadi hingga luluh dan membentuk sebuah tembok penghalang yang besar.

    Atas izin Allah SWT, kerja keras Zulkarnain dan kaum tersebut untuk membuat tembok pembatas dengan Ya’juj Ma’juj berhasil.

    Dinding ini sangat kuat hingga Ya’juj dan Ma’juj tidak akan sanggup memanjat bagian atas dinding tembaga tersebut dan tidak pula dapat melubanginya di bagian bawahnya. Ya’juj Ma’juj tidak akan pernah bisa keluar tanpa izin Allah SWT.

    Lalu kapan mereka akan keluar? Yaitu ketika janji Allah SWT sudah datang. Allah SWT akan merobohkan dinding itu dengan bumi sehingga Ya’juj dan Ma’juj bisa keluar dan bercampur dengan umat manusia sambil membawa kerusakan di mana-mana.

    As-Suddi mengatakan, “Yang demikian itu adalah pada saat mereka keluar ke tengah-tengah umat manusia. Semuanya itu terjadi sebelum hari Kiamat tiba dan sesudah munculnya Dajjal.

    Sebagaimana yang ada dalam firman Allah:

    حَتَّىٰٓ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ

    Arab-Latin: ḥattā iżā futiḥat ya`jụju wa ma`jụju wa hum ming kulli ḥadabiy yansilụn

    Artinya: Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiyaa ayat 96)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Seorang Penggembala Jujur yang Digoda Ibnu Umar



    Jakarta

    Dalam kitab ‘Uyunul Hikayat karya Imam Ibnu Jauzi, terdapat kisah menarik antara Abdullah bin Umar dengan seorang penggembala kambing. Di mana, Ibnu Umar menggoda penggembala tersebut yang sedang melintas di depannya.

    Kisah ini disampaikan oleh Abdul Aziz, yang diperolehnya dari Nafi’. Mengutip buku berjudul 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah yang ditulis oleh Imam Ibnul Jauzi, begini ceritanya.

    Pada suatu hari, Abdullah bin Umar dan sahabat-sahabatnya pergi ke pinggiran kota Madinah. Saat beristirahat dan makan, mereka bertemu dengan seorang penggembala yang sedang melintas.


    Ketika berjumpa dengan penggembala tersebut, Ibnu Umar mengundangnya untuk bergabung dan makan bersama.

    “Silakan bergabung, mari makan bersama kami,” ajak Ibnu Umar kepada penggembala yang tengah melintas.

    “Terima kasih, tapi saya sedang puasa,” jawab si penggembala singkat.

    Ibnu Umar kagum melihat penggembala tersebut. Bisa-bisanya ia tetap menjalankan ibadah puasa di tengah terik matahari.

    “Di hari yang begitu panas seperti ini, di tengah perbukitan sambil menggembala kambing, engkau masih tetap berpuasa?” tanya Ibnu Umar.

    “Waktu berlalu dengan cepat, saya tidak ingin menyia-nyiakannya,” kata penggembala itu.

    Ibnu Umar kemudian menawarkan kepada penggembala untuk menjual salah satu kambingnya. Nantinya, sebagian dari daging tersebut akan ia bagikan untuk si penggembala sebagai bekal berbuka puasa.

    Namun si penggembala enggan untuk menjualnya. Sebab kambing tersebut bukanlah miliknya.

    “Mereka bukanlah milikku, melainkan milik majikanku,” jawab si penggembala menolak tawaran Ibnu Umar.

    Kemudian Ibnu Umar mencoba untuk menggoda penggembala tersebut. Ia mengajarkan si penggembala untuk berbohong jika ditanya oleh majikannya ke mana satu ekor kambingnya yang hilang.

    “Mudah, katakan saja pada majikanmu bahwa salah satu kambingnya dimakan oleh serigala,” kata Ibnu Umar.

    Jawaban si penggembala cukup mencengangkan. Ia sama sekali tidak tergoda oleh rayuan Ibnu Umar.

    “Namun, di mana Allah berada?” jawab penggembala dengan tegas meyakinkan Ibnu Umar bahwa Allah selalu mengawasi hamba-Nya.

    Tak lama kemudian, penggembala itu melanjutkan perjalanannya. Ia meninggalkan Ibnu Umar yang sedang beristirahat bersama kawan-kawannya.

    Setelah kembali ke Madinah, Umar menemui majikan penggembala yang ternyata adalah seorang hamba sahaya. Ibnu Umar lalu membeli kambing-kambingnya.

    Namun, tak hanya itu, Ibnu Umar juga memerdekakan penggembala tersebut dan memberikannya kambing-kambing yang baru saja dibelinya.

    Berkat sebuah kejujuran, si penggembala akhirnya memperoleh kambing yang berlimpah dan mendapatkan kemerdekaan. Seandainya penggembala itu mau menjual kambingnya saat pertama kali bertemu dengan Ibnu Umar, ia mungkin akan tetap menjadi budak dan hanya menerima bayaran seharga satu kambing beserta sepotong daging.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Hud AS dan Binasanya Kaum Ad Penyembah Berhala



    Jakarta

    Nabi Hud AS adalah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dalam Islam. Ia diutus untuk berdakwah pada kaum Ad.

    Kaum Ad adalah penduduk kabilah Iram, mereka tinggal di sekitar Gunung Ram, 25 mil dari kota Aqabah yang letaknya di antara Yaman dan Oman, sampai Hadramaut dan As-Syajar seperti dinukil dari buku Mutiara Hikmah Kisah 25 Rasul tulisan Dhurorudin Mashad.

    Hud AS adalah putra dari Abdullah bin Ribah bin Khulud bin Ad nin Aus bin Irim bin Syam bin Nuh. Letak daerah tempat diutusnya Nabi Hud terkenal dengan tanahnya yang subur, aliran sungai melimpah, dan hewan ternak yang sehat.


    Meski dengan anugerah yang dikaruniai Allah SWT itu, kaum Ad justru mengingkari Sang Khalik. Mereka menyembah berhala dan tidak mengenal Allah sebagai Tuhan mereka.

    Kisah mengenai Nabi hud AS yang berdakwah menyerukan ajaran Allah SWT itu tercantum dalam surah Hud ayat 52,

    وَيَٰقَوْمِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا۟ مُجْرِمِينَ

    Artinya: “Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”

    Sayangnya, kaum Ad sama sekali tidak menghiraukan seruan sang nabi. Mereka tetap menyembah berhala-berhala hingga menuduh Hud AS sebagai orang gila.

    Ingkarnya kaum Ad itu membuat Allah SWT murka. Atas kuasa-Nya, nikmat yang dilimpahkan pada kaum Ad dicabut, mereka mengalami kekeringan yang panjang.

    Tak sampai di situ, situasi semakin parah hingga menyebabkan hasil pertanian mereka gagal karena keringnya sumber air. Para penduduk kaum Ad kelaparan.

    Nabi Hud AS tak henti-hentinya menyerukan dakwah pada kaum Ad di situasi yang serba sulit itu. Ia mengajak kaum Ad untuk kembali ke jalan Allah SWT.

    Mirisnya, masih banyak penduduk kaum Ad yang enggan menggubris seruan sang nabi hingga azab dari Allah SWT pun turun,

    وَٱذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنذَرَ قَوْمَهُۥ بِٱلْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦٓ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

    Artinya: “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar.” (QS Al Ahqaf: 21)

    Adapun, azab yang ditimpakan pada kaum Ad adalah angin yang dingin dan kencang hingga berputar untuk membinasakan mereka selama tujuh hari tujuh malam. Azab itu mengakibatkan kaum Ad lenyap, mayat mereka berserakan ditutupi pasir.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Haqqah ayat 6-7,

    وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا۟ بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

    Artinya: “Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.” (QS Al Haqqah: 6)

    سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى ٱلْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

    Artinya: “yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS Al Haqqah: 7)

    Riwayat lain menyebut, azab pusaran angin itu sama sekali tidak terasa bagi Hud AS dan pengikutnya yang beriman. Mereka hanya merasa angin segar dan nyaman saja yang menyentuh kulit.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah



    Jakarta

    Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dimaksudkan untuk menyebarluaskan ajaran Islam. Dalam berhijrah, banyak tantangan yang dilalui oleh sang rasul.

    Dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Volume 1 yang disusun oleh Moenawar Khalil, ketika di Makkah pun sang nabi berdakwah dan bertabligh selama 10 tahun pada penduduk asli Makkah.

    Mengutip Kisah Nabi Muhammad SAW oleh Ajen Dianawati, setelah berlangsungnya peristiwa Isra Mi’raj dan Nabi SAW kembali ke Makkah, banyak pengikutnya yang tidak mempercayai beliau. Bahkan, banyak yang memilih untuk murtad dan menganggap Rasulullah SAW gila.


    Lain halnya dengan Abu Bakar yang justru percaya dan selalu membenarkan perkataan sang nabi. Kebencian kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah SAW semakin memuncak, mereka tak segan menghentikan sang nabi dengan iming-iming harta.

    Meski begitu, usahanya gagal. Mereka tidak dapat menghentikan Rasulullah SAW dalam mensyiarkan agama Islam.

    Tak kenal lelah menghentikan Nabi Muhammad SAW, kaum kafir Quraisy semakin kejam terhadap beliau dan para pengikutnya. Mereka bahkan tak segan mengusir kaum muslimin dari kota Makkah dengan harapan Rasulullah SAW berubah pikiran.

    Sikap keji kaum kafir Quraisy inilah yang menyebabkan Nabi SAW untuk membawa kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah. Perjalanan tersebut mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi.

    Anif Sirsaeba dalam bukunya Agar Kekayaan Dilipatkan dan Kemiskinan Dijauhkan juga menceritakan bagaimana kejamnya kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah SAW beserta dengan para pengikutnya.

    Kaum kafir Quraisy juga mengancam akan membunuh dan mencincang hidup-hidup Nabi Muhammad SAW beserta dengan pengikutnya. Tak hanya itu, mereka juga diboikot dalam perniagaan dan perdagangan. Hingga membuat para pengikut Rasulullah SAW mengalami kesulitan dan tidak memiliki apa-apa.

    Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain memasrahkan nasib dan keberlangsungan hidup kepada Allah SWT. Hingga pada akhirnya, Rasulullah SAW melakukan hijrah dari tanah kelahirannya menuju Kota Madinah atas dasar perintah Allah SWT.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 218,

    اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٢١٨

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Maka Rasulullah SAW beserta seluruh pengikutnya pun menuruti perintah Allah SWT. Mereka meninggalkan rumah dan kampung halaman serta mengumpulkan sisa-sisa kekayaan yang mereka miliki untuk diinfakkan dalam jalan Allah SWT.

    Ketika mereka benar-benar telah hijrah di jalan-Nya, maka semakin dilimpahkan rezeki kepada mereka. Di Madinah kehidupan dan dakwah mereka semakin membesar bahkan kesuksesan, kemakmuran, keberhasilan, dan kejayaan mereka tersiar hingga ke Makkah.

    Saat di Madinah pun, kedatangan sang rasul dan kaum muslimin disambut baik oleh penduduk Madinah. Dalam buku Kisah Teladan Sepanjang Zaman: Rasullullah dan Para Sahabat karya Syaikh Muhammad Yusuf, orang yang pertama kali melihat kedatangan Rasulullah SAW adalah seorang Yahudi.

    Pada saat itu orang Yahudi tersebut melihat kedatangan mereka dari atap rumahnya, setelah itu ia langsung berteriak keras memanggil penduduk Madinah untuk memberitahukan mengenai kedatangan Rasulullah SAW.

    Penduduk Madinah pun segera keluar dan pergi ke batas kota untuk menyambut kedatangan mereka. Namun, orang-orang belum pernah melihat wujud dari Rasulullah SAW.

    Pada saat itu kaum Anshar langsung mendatangi dan menyalami Abu Bakar RA, karena mereka mengira Abu bakar RA adalah Rasulullah SAW.

    Al Baihaqi telah meriwayatkan dalam Al-Bidayah: 3/197, dari Aisyah RA mengatakan, “Ketika Rasulullah dan Abu Bakar tiba di kota Madinah, saking bahagianya penduduk di sana banyak kaum wanita dan anak-anak membacakan syair:

    “Telah muncul bulan purnama ke atas kami yang datang dari bukit, Tsaniyatil Wada’, wajib bersyukur atas kami dan atas ajakanya kepada Allah.”

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi dengan Seekor Burung



    Jakarta

    Cerita ini tentang dua sufi terkemuka yang bernama Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi. Saat bertemu di Makkah, Ibrahim bin Adham mampu mengubah pandangan Syaqiq Al-Balkhi tentang konsep perjalanan spiritual.

    Kisah ini tercatat di kitab ‘Uyunul Hikayat karya Imam Ibnu Jauzi. Ia mendapatkan cerita tersebut dari Khalaf bin Buhaim.

    Pada suatu hari, Ibrahim bin Adham memulai obrolannya pada Syaqiq dengan mengajukan sebuah pertanyaan. Ia penasaran dengan kisal awal perjalanan spriritual Syaqiq.


    “Bagaimana kisah awal perjalanan spiritualmu?” tanya Ibrahim kepada Syaqiq.

    Syaqiq segera berbagi pengalaman pribadinya kepada Ibrahim. Seekor burunglah yang menjadi titik awal perjalanan spiritualnya.

    Syaqiq menceritakan bahwa suatu hari ia sedang melakukan perjalanan di sebuah gurun. Merasa kelelahan, ia memutuskan untuk beristirahat untuk mengembalikan energi yang telah terkuras oleh teriknya matahari.

    Ketika sedang istirahat, tiba-tiba Syaqiq terkejut karena melihat seekor burung jatuh tak jauh dari tempat ia duduk. Setelah diperhatikan, ternyata sayap burung tersebut patah, sehingga burung itu tak mampu terbang dan mencari makanan.

    “Kita perhatikan dari mana burung ini bisa mendapatkan makanan,” gumam Syaqiq di dalam hati.

    Sambil mendekati, Syaqiq terus memperhatikan burung itu. Ibrahim bin Adham pun fokus mendengarkan kisah Syaqiq Al-Balkhi hingga tak berkomentar.

    Tiba-tiba, kata Syaqiq, datanglah seekor burung sehat dan normal mendekati burung yang sakit dan terjatuh itu. Burung yang sehat ini membawa belalang di paruhnya, kemudian menyodorkan belalang tersebut ke paruh burung yang sayapnya patah.

    Syaqiq terkesima oleh peristiwa tersebut. Ia memuji kekuasaan Allah yang memberikan rezeki kepada burung tak berdaya di tengah gurun.

    Dengan penuh keyakinan, Syaqiq percaya hal yang sama juga bisa terjadi padanya. Sejak saat itu, Syaqiq akhirnya memutuskan diri untuk fokus ibadah dan tidak bekerja.

    Ia percaya bahwa Allah akan tetap memberikan rezeki kepada Syaqiq, seperti yang dialami oleh burung yang sayapnya patah itu.

    “Saya yakin, Allah juga akan memberikan rezeki kepada saya di mana pun saya berada,” ujar Syaqiq.

    Setelah cerita Syaqiq selesai, Ibrahim bin Adham memberikan tanggapan yang membuat Syaqiq tercengang. Ia melontarkan sebuah pertanyaan dan pernyataan yang tidak terpikirkan oleh Syaqiq.

    “Ya Syaqiq, mengapa kamu memilih menjadi seperti burung yang sayapnya patah? Mengapa tidak memilih menjadi burung yang sehat dan memberi makan burung yang sakit itu?” ucap Ibrahim bin Adham.

    Ibrahim kemudian mengeluarkan dalil yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

    “Tidakkah kamu pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang menerima?’” imbuh Ibrahim.

    “Dan bukankah di antara tanda seorang mukmin yang sejati adalah keinginannya untuk mendapatkan salah satu dari dua derajat yang lebih tinggi dalam berbagai hal, sehingga ia mencapai tingkatan Al-Abrar?” lanjutnya.

    Setelah mendengar penjelasan dari Ibrahim bin Adham, Syaqiq Al-Balkhi langsung memegang dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata, “Anda adalah guru kami, wahai Abu Ishaq.”

    Dari kisah ini, dapat diambil hikmah bahwa menempuh perjalanan spiritual tidak selalu berarti meninggalkan aspek kehidupan ekonomi dan sosial. Lebih dari itu, perjalanan spiritual dapat ditingkatkan dengan selalu menyebarkan kebaikan dan terus memberikan manfaat kepada orang lain.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir, Ada Pelajaran di Balik Kisahnya


    Jakarta

    Nabi dan Rasul adalah para utusan Allah SWT untuk menyebarkan ajaran Islam. Jumlah mereka ada 25 dan memiliki kisahnya tersendiri.

    Di antara 25 para Nabi, kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir memiliki cerita tersendiri. Berikut kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir.

    Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir

    Dirangkum dari buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, nama lengkap Nabi Musa AS yaitu Musa bin Qahits bin Azir bin Lawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Nabi Musa AS lahir dari kalangan Bani Israil. Ketika beliau lahir, Bani Israil dikuasai oleh raja yang sangat zalim dan kejam yang bernama Raja Fir’aun.


    Setelah Nabi Musa AS dan kaum Bani Israil selamat dari Fir’aun, Nabi Musa AS berpidato di hadapan mereka. Nabi Musa AS mengingatkan mereka atas nikmat-nikmat Allah SWT yang telah menyelamatkan dari kejaran Fir’aun, ungkap Mahmud asy-Syafrowi dalam buku Khidir As Nabi Misterius, Penguasa Samudra yang Berjalan Secepat Kilat.

    Nabi Musa AS berrpidato dengan sangat fasih dan semangat. Beliau berkata, “Sungguh Allah telah berdialog langsung dengan nabi kalian, Dia telah memilihku untuk Diri-Nya, dan Dia telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya. Allah telah memberi kalian apa yang kalian minta. Maka, nabi kalian adalah manusia yang paling utama di muka bumi, sedangkan kalian semua telah membaca kitab Taurat.”

    Setelah selesai berpidato dan beranjak pergi, Nabi Musa AS diikuti oleh seorang lelaki dari umatnya. Lelaki itu bertanya, “Wahai Nabi Allah, sungguh kami telah mengetahui apa yang telah engkau katakan. Lalu, adakah di muka bumi ini orang yang kiranya lebih alim dan lebih berpengetahuan dibandingkan dengan dirimu?”

    Nabi Musa AS menjawab, “Tidak. Tak ada seorang yang lebih mengetahui Allah dan perintah-Nya daripadaku.” Beliau bergumam dalam hatinya dan menunjukkan kesombongan.

    Nabi Musa AS juga tidak mengembalikan ilmu itu kepada Allah SWT. Hal tersebut mendapat celaan dari Allah SWT. Untuk menegur, menyadarkan, dan menunjukkan kelemahan Nabi Musa AS, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS agar berguru pada seorang hamba yang telah diberi rahmat oleh Allah SWT.

    Nabi Musa AS bertanya kepada Allah SWT dimana dia dapat menemui hamba tersebut. Allah SWT memberikan wahyu padanya, “Pergilah ke lautan, bawalah serta seekor ikan yang telah mati di dalam sebuah keranjang selama masa pencarianmu, dan ketahuilah di mana kamu mendapati ikan itu tidak ada dalam keranjang. Di situlah tempat bertemunya dua lautan (majma’al bahrain), dan di situ pula tempat hamba yang saleh dan alim itu berada.”

    Dalam buku Menguak Misteri Nabi Khidir karya Muhyiddin Abdul Hamid, Nabi Musa AS kemudian berangkat bersama muridnya mencari tempat yang ditunjukkan oleh Allah SWT kepadanya. Setelah lama mencari, mereka heran karena ikan yang dibawa telah melepaskan diri. Kemudian Nabi Musa AS bertemu dengan Nabi Khidir AS ketika ia berhenti di sebuah batu besar.

    Nabi Musa AS menyampaikan maksud tujuannya bertemu dengan Nabi Khidir AS. Kemudian Nabi Khidir mengatakan, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” (QS Al Kahfi ayat 67-68)

    Nabi Musa AS pun menjawabnya bahwa ia akan sabar. Kemudian Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS berjalan menelusuri pantai dan menumpang sebuah bahtera.

    Ketika mereka di bahtera tersebut, Nabi Musa AS heran karena Nabi Khidir AS mencabut sebagian papan bahtera. Padahal mereka menumpang secara cuma-cuma. Kemudian Nabi Khidir berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku.”

    Kemudian, mereka keluar dari bahtera dan berjalan di tepi pantai. Nabi Khidir AS melihat seorang anak laki-laki yang sedang bermain bersama anak-anak yang lain. Nabi Khidir AS kemudian memegang dan melepaskan kepala anak kecil itu hingga ia mati.

    Nabi Musa AS kembali bertanya mengapa Nabi Khidir AS membunuh jiwa yang bersih. Nabi Khidir AS berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku.”

    Nabi Musa AS berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.” Kemudian Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS berjalan hingga sampai di sebuah negeri.

    Mereka minta dijamu oleh penduduk negeri tersebut, namun penduduk tersebut tidak ingin menjamu mereka. Melihat dinding rumah yang hampir roboh, Nabi Khidir AS menegakan dinding itu.

    Nabi Musa AS berkata, “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” Nabi Khidir AS berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

    Al-Hasan Al-Bashry berkata, “Sesungguhnya harta yang tersimpan di bawah dinding tersebut (yang terdapat pada kisah Khidir) adalah berupa papan yang terbuat dair emas dan terdapat tulisan ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’. Aku heran terhadap orang yang beriman dengan qadar, mengapa ia merasa sedih? Dan aku juga heran terhadap orang yang beriman dengan adanya kematian, mengapa merasa bangga? Dan aku merasa heran terhadap orang yang mengenal dunia dan perubahan apa yang di atasnya, bagaimana ia merasa tenang dengan dunia tersebut? Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Ummu Salamah, Istri Rasulullah yang Terakhir Wafat



    Jakarta

    Rasulullah SAW mempunyai beberapa istri, salah , bernama Ummu Salamah. Ummu Salamah adalah salah satu istri mulia Rasulullah SAW.

    Terdapat hikmah tersendiri dari pernikahan Ummu Salamah dengan Rasulullah SAW. Berikut kisahnya:

    Ummu Salamah Istri Rasulullah SAW

    Dirangkum dari buku Kelengkapan Tarikh Rasulullah SAW karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, nama lengkap Ummu Salamah adalah Hindun binti Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib. Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, Ummu Salamah adalah istri Abu Salamah bin Abdul Asad.


    Menurut buku Sirah Nabawiyah karya Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Ummu Salamah dan Rasulullah SAW menikah pada bulan Syawwal tahun 4 Hijriyah.

    Dijelaskan dari buku Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 2 karya Ali Muhammad Ash-Shallabi, beberapa saat setelah Abu Salamah meninggal dan masa iddah Ummu Salamah habis, Rasulullah SAW datang kepada Ummu Salamah dan menyatakan pinangan kepadanya melalui anak laki-laki Ummu Salamah. Ummu Salamah berkata, “Apakah pantas aku menolak Rasul utusan Allah?! Atau aku mengajukan diri dengan keluargaku.” Keesokan harinya Rasulullah SAW datang langsung meminang Ummu Salamah.

    Terdapat perbedaan pendapat tentang siapa wali yang menikahkan Ummu Salamah dengan Rasulullah SAW.

    Ketika Ummu Salamah setuju untuk menikah, Rasulullah SAW berkata, “Aku tidak memberikan kurang dari apa yang pernah aku berikan kepada si fulan, alat penggiling gandum, dua kantong gandum, dan bantal dari kulit yang diisi dengan bulu hewan.”

    Dari hasil pernikahan Ummu Salamah dengan Abu Salamah, mereka dikaruniai dengan seorang bayi. Ketika Rasulullah SAW menikahinya, beliau mendatanginya. Jika Rasulullah SAW datang kepadanya, Zainab mengambil bayi itu ke kamarnya untuk ia susukan. Malu dengan hal itu, Rasulullah SAW pun kembali.

    Ammar bin Yasir (saudara seibu Ummu Salamah) yang memahami hal tersebut mengambil bayi itu agar disusukan di rumahnya atau di rumah salah seorang perempuan. Setelah menanyakan keberadaan Zannab, Rasulullah SAW berkata kepada Ummu Salamah, “Aku akan datang kepada kamu malam ini.”

    Rasulullah SAW kemudian menetap selama tiga hari di rumah Ummu Salamah. Kemudian Rasulullah SAW memberikan giliran kepadanya seperti istri-istrinya yang lain, yaitu tujuh hari bagi istri yang masih gadis, dan tiga hari bagi janda.

    Hikmah Pernikahan

    Hikmah pernikahan Ummu Salamah dengan Rasulullah SAW adalah bukan untuk kenikmatan yang memang dihalalkan. Akan tetapi karena keutamaan Ummu Salamah yang hanya diketahui oleh orang-orang yang berpikir tentang kualitas pendapat Ummu Salamah pada perjanjian Al-Hudaibiyah dan sebagai ungkapan belasungkawa atas kematian suaminya.

    Di balik pernikahan mereka juga terkandung makna untuk meredam kedengkian kabilah dan mendekatkan hati anak-anak Ummu Salamah, sehingga membuat mereka tertarik untuk masuk Islam setelah mereka menjadi keluarga Rasulullah SAW melalui pernikahan.

    Dalam pernikahan mereka terkandung fiqh Rasulullah SAW dalam membangun interen umat, menunaikan hak para syuhada’ terhadap istri-istri mereka. Di antara hak para istri tersebut adalah mendapatkan nur nubuwwah sesuai kehendak Allah SWT agar mereka menyampaikan nur nubuwwah tersebut dari Rasulullah SAW.

    Ummu Salamah adalah istri Rasulullah SAW yang terakhir meninggal dunia. Beliau meninggal pada tahun 61 Hijriyah. Semasa hidupnya, Ummu Salamah berperang menyebarkan ilmu pengetahuan dan hikmah dari Rasulullah. Dengan wafatnya Ummu Salamah, maka padamlah lampu terakhir dari lampu-lampu Ummahat Al-Mukminin yang memancarkan cahaya, hidayah, dan ilmu.

    Semoga Allah SWT meridhainya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Peristiwa Perang Tabuk, Pertempuran di Kala Masa Sulit Kaum Muslimin



    Jakarta

    Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab. Pertempuran ini menjadi yang terakhir diikuti oleh Nabi Muhammad SAW.

    Tabuk sendiri adalah sebutan untuk tempat yang terletak antara Wadil Qura dan Syam. Perang Tabuk juga disebut Ghazwah Al-Usrah yang bermakna Perang Kesulitan.

    Menukil Sirah Nabawiyah susunan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, latar belakang terjadinya Perang Tabuk adalah keinginan Rasulullah SAW menyerang Romawi sebagai kekuatan militer terbesar di muka bumi pada masa itu, sehingga ajaran Islam dapat meluas. Keinginan sang Rasul muncul setelah dibunuhnya Al-Harits bin Umair di tangan Syuhrabil bin Amr Al-Ghasaani ketika Al-Harits membawa surat yang ditujukan kepada pemimpin Bushra.


    Nabi Muhammad SAW mengirimkan satuan pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah yang nantinya bertempur dengan pasukan Romawi dalam peperangan besar dan meninggalkan pengaruh bagi bangsa Arab. Ketika Rasulullah memerintahkan kaum muslimin bersiap menyerang Romawi, keadaan mereka sedang dalam masa sulit.

    Dikutip dari buku Perang Hunain dan Perang Tabuk yang diterjemahkan oleh Muhammad Ridha dan H. Anshori Umar Sitanggal Abu Farhan, dijelaskan bahwa Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab tahun ke-9 H. Dalam kalender Masehi diperkirakan terjadi antara bulan September-Oktober 630 M.

    Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan perbekalan dan menganjurkan umat Islam yang kaya untuk berinfak membiayai jihad di jalan Allah SWT.

    Ketika Rasulullah hendak berangkat ke medan perang, cuaca terasa amat panas dan musim itu musim paceklik.

    Rasulullah SAW tidak menggunakan metode tauriyah (sindiran) lagi mengenai tujuan keberangkatan, seperti yang biasa beliau lakukan pada peperangan sebelumnya. Kali ini beliau menjelaskan kepada para sahabatnya bahwa beliau hendak menghadapi bala tentara Romawi.

    Begitu panasnya udara saat peristiwa Perang Tabuk, orang-orang menyembelih unta, lalu meminum air dalam kantong di perut kecilnya. Itulah sebabnya perang ini disebut juga Ghazwah Al-Usrah, yakni perang yang dilakukan dalam masa kesulitan dan kesempitan.

    Kisah perang Tabuk dijelaskan dalam Al-Qur’an surah At-Taubah Ayat 117,

    لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِى سَاعَةِ ٱلْعُسْرَةِ مِنۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”

    Perang antara kaum Muslimin dan bangsa Romawi tersebut berhasil dimenangkan oleh kaum muslimin. Meski dalam keadaan yang sulit, mereka berhasil memenangkan peperangan tersebut.

    Setelah persiapan matang, pasukan muslim pun bergerak ke arah utara menuju Tabuk dengan membawa 30.000 prajurit, 10.000 lebih sedikit dibanding jumlah prajurit Romawi. Sekalipun begitu banyak sumbangan yang berhasil terkumpul, ternyata belum mencukupi untuk pasukan sebanyak itu.

    Meskipun telah mendatangi kawasan Tabuk, pihak musuh kemudian mengajak berdamai dengan membayar upeti. Dengan ini, kemenangan berada di pihak kaum Muslim, kendati tidak sampai terjadi pertempuran.

    Sejak peristiwa itu, pasukan muslim semakin digdaya karena berhasil mengalahkan imperium raksasa Romawi. Kabilah-kabilah Arab yang sebelumnya mendukung Romawi pun kini bergabung bersama pasukan muslim.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pedagang Kurma yang Dermawan hingga Hartanya Habis



    Jakarta

    Kisah Athiyah bin Khalaf patut untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang sedang mendapat cobaan dari Allah SWT berupa kekurangan. Ia mengajarkan kepada kita tentang berbagi dan tolong menolong.

    Dinukil dari laman NU Jabar Online, Athiyah bin Khalaf adalah seorang pedagang kurma di Mesir. Dirinya termasuk dalam jajaran pedagang sukses yang kaya raya.

    Lambat laun, kekayaannya tersebut luntur dan hilang seketika. Dirinya tidak lagi memiliki harta yang banyak, kecuali hanya tertinggal pakaian yang ia gunakan saat itu saja.


    Suatu hari, Athiyah bin Khalaf berdoa kepada Allah SWT memohon agar dipenuhi segala permintaannya. Ia berdoa dengan tekun dan penuh keimanan kepada-Nya.

    Bersamaan dengan doanya tersebut, datanglah seorang wanita yang membawa anak-anaknya. Mereka berkata, “Wahai tuan, semoga engkau bisa meringankan kesulitanku dan bisa memberikan sesuatu yang bisa kugunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan anak-anak ini, mereka semuanya adalah anak yatim dan tidak memiliki apa-apa,”

    Mendengar keluh kesah dari ibu anak-anak tadi, Athiyah bin Khalaf merasa sangat iba, dirinya ingin sekali membantu. Namun, di satu sisi, dirinya tidak memiliki apapun untuk memenuhi kebutuhan mereka.

    Kemudian, Athiyah bin Khalaf berkata kepada mereka, “Mari pergi bersamaku ke rumah, aku akan memberimu sesuatu,”

    Wanita tersebut bersama anak-anaknya lalu mengikuti Athiyah bin Khalaf pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, Athiyah bin Khalaf menempatkan wanita itu untuk menunggu di depan rumahnya sementara dirinya masuk ke dalam rumah.

    Di dalam rumah, dia melepas bajunya dan menggunakan sarung lusuh yang dia punya untuk diberikan kepada wanita dan anak-anak tadi dari samping pintunya. Selepas Athiyah bin Khalaf memberikan baju dan sarung tersebut, wanita itu berkata,

    “Semoga Allah memberikan pakaian-pakaian surga kepadamu sehingga engkau tidak butuh kepada orang lain selama hidupmu.”

    Perkataan wanita tadi didengar oleh Athiyah bin Khalaf. Dirinya menjadi sangat senang dan bahagia. Kemudian ia mempersilahkan wanita tadi untuk pulang, sedangkan dirinya masuk ke dalam rumahnya.

    Sepeninggal wanita tadi, Athiyah bin Khalaf berdzikir kepada Allah SWT hingga larut malam. Dirinya bahkan tak sadar jika melakukannya sampai tertidur.

    Di dalam tidurnya, Athiyah bin Khalaf bermimpi melihat bidadari yang belum pernah dilihatnya. Bidadari itu sangat cantik dan bahkan belum pernah dilihatnya di dunia ini.

    Di tangan bidadari itu ada apel yang baunya sangat wangi. Kemudian, bidadari tadi membelah buah apel itu dan diberikan kepada Athiyah bin Khalaf.

    Buah apel yang sudah dibelah oleh bidadari tadi kemudain mengeluarkan pakaian surga yang tidak sebanding dengan dunia dan seisinya. Pakaian itu pun dipakai oleh Athiyah bin Khalaf.

    Bidadari itu lalu duduk di pangkuan Athiyah bin Khalaf. Dirinya lalu bertanya kepadanya, “Siapakah kamu ini?”

    “Aku adalah Asyura, istrimu di surga,” jawab bidadari tersebut.

    Athiyah bin Khalaf lalu mempertanyakan amal apa yang membuatnya bisa memperoleh kemuliaan yang amat besar ini. Hal itu dijawab oleh Asyura dengan berkata,

    “Dengan seorang janda miskin dan anak-anak yatim yang kemarin engkau berbuat baik kepadanya.”

    Athiyah bin Khalaf pun terbangun dari tidurnya. Ia menemui seluruh rumahnya semerbak bau yang sangat harum. Ia kemudian berwudhu dan melakukan salat dua rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.

    Selesai salat, dia berdoa kepada Allah SWT, “Wahai Tuhanku, jika mimpiku itu benar dan bidadari dalam mimpiku itu adalah istriku di dalam surga, maka matikanlah aku saat ini juga untuk bertemu dengan-Mu.”

    Belum selesai doa yang dipanjatkan oleh Athiyah bin Khalaf, Allah SWT sudah segera mencabut nyawa dirinya untuk segera berada di sisi-Nya. Wallahu a’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com