Blog

  • Kisah Pemboikotan Kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW merupakan penutup para nabi bagi umat Islam. Selama menjalani tugasnya untuk menegakkan agama Islam, Nabi Muhammad menghadapi banyak tantangan.

    Pemboikotan kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi Rasulullah SAW.

    Pemboikotan Quraisy terhadap Bani Hasyim

    Dirangkum dari buku Sirah Nabawiyah karya Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi, Islam mulai tersebar di berbagai kabilah. Kaum Quraisy pun mengadakan pertemuan dan merencanakan untuk menulis surat kesepakatan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib.


    Kaum Quraisy sepakat untuk tidak mengadakan pernikahan dan tidak melakukan jual beli dengan kedua kaum tersebut. Hasil pertemuan mereka ditulis dalam sebuah lembaran sebagai surat perjanjian yang akan dipatuhi bersama. Mereka menggantungkan surat tersebut di dalam Kakbah dalam rangka memperoleh legitimasi.

    Ketika pemboikotan dilaksanakan, Bani Hasyim dan Bani Muthalib berpihak kepada Abu Thalib. Mereka masuk bersama Abu Thalib ke dalam kelompok yang diboikot. Hal ini terjadi pada bulan Muharram tahun ke-7 dari kenabian.

    Sedangkan Abu Lahab bin Abdul Muthalib menyatakan keluar dari Bani Hasyim. Ia memilih bergabung dengan kaum Quraisy.

    Kaum Bani Hasyim yang bertahan harus merasakan kepayahan karena sempitnya blokade. Mereka memakan daun samur, anak-anak mereka kejang karena kelaparan, hingga tangisan mereka terdengar dari jauh.

    Mereka berada dalam pemboikotan selama tiga tahun. Rasulullah SAW tetap melakukan dakwah kepada kaumnya baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Kaum Bani Hasyim pun tetap bersabar dan mempertimbangkan segala sesuatunya.

    Rusaknya Kesepakatan dan Berakhirnya Pemboikotan

    Beberapa orang dari kaum Quraisy yang memiliki kedudukan dan rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi beraksi. Di antara mereka yang menonjol adalah Hisyam bin ‘Amr bin Rabi’ah.

    Mereka beraksi karena jiwa mereka bertentangan dengan surat keputusan Quraisy. Mereka tidak setuju dengan surat yang bersifat menzhalimi tersebut.

    Hisyam adalah lelaki dari kaum Quraisy yang gandrung akan perdamaian. Ia memiliki kedudukan tinggi di kalangan kaumnya.

    Ia membangkitkan perasaan empati dan harga diri sebagai kaum laki-laki. Mereka yang berjumlah lima orang itu berkumpul dan sepakat untuk menghapuskan surat pemboikotan.

    Keesokan harinya saat kaum Quraisy berada di majelis pertemuan mereka, Zuhair bin Abi Umaiyah berkata, “Wahai penduduk Makkah! Apakah kita akan memakan makanan dan memakai pakaian, sedangkan Bani Hasyim dalam keadaan menderita, tidak boleh mengadakan hubungan jual beli dengan kita? Sungguh, aku tidak akan duduk hingga surat pemboikotan yang jahat itu hancur.”

    Abu Jahal yang hendak ikut campur dalam pembicaraan tersebut tidak diperkenankan. Kemudian al-Muth’im bin ‘Adi bangkit dan mendatangi surat pemboikotan itu untuk merobeknya.

    Namun al-Muth’im menemukan bahwa hampir seluruh surat pemboikotan tersebut telah dimakan rayap. Hanya kalimat “bismikallahumma” (dengan nama-Mu, ya Allah) yang tersisa.

    Ketika itu, Rasulullah SAW telah mengetahui hal tersebut dan memberitahukannya kepada Abu Thalib. Maka, lembaran surat tersebut dihancurkan dan seluruh isinya tidak berlaku.

    Dampak Pemboikotan yang Dilakukan Kaum Quraisy

    Dirangkum dari buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih karya M. Quraish Shihab, pemboikotan oleh kaum Quraisy sangat merugikan kaum Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Bukan hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga pada perkembangan dakwah islamiyah. Bahkan Abu Thalib dan Khadijah yang mendampingi Nabi SAW pun wafat setelah masa pemboikotan tersebut.

    Meskipun sangat merugikan, pemboikotan tersebut tidak seluruhnya berakibat negatif. Pemboikotan oleh kaum Quraisy tersebut membuka mata masyarakat secara umum tentang kehadiran satu ajaran baru yang mengajak kepada keluhuran budi pekerti, yang penganutnya bersedia berkorban demi mempertahankan agamanya atau karena simpati terhadap penganjurnya.

    Kaum Bani Hisyam dan Bani Muthalib mendapatkan bagian tertentu dari harta rampasan perang, apalagi mereka tidak dibenarkan menerima zakat. Kedua kaum ini memperoleh hak tersebut sebagai ganjaran Ilahi atas dukungan mutlak kepada Nabi Muhammad SAW.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Keteladanan Sahabat Nabi Umar bin Khattab dan Contoh Kisahnya


    Jakarta

    Selain meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW, umat Islam juga bisa mencontoh perilaku dan kebaikan para sahabat nabi. Salah satu sahabat nabi yang patut dicontoh adalah Umar bin Khattab RA.

    Umar bin Khattab RA adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang memiliki sikap bijaksana. Ia lahir pada tahun 581 M dari salah satu keluarga suku Quraisy, seperti dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII oleh Murodi.

    Ayah Umar bin Khattab RA bernama Nufail bin Abdul ‘Uzza Al-Quraisyi yang berasal dari suku Bani ‘Adi. Sedangkan ibunya bernama Hantamah binti Hasyim bin Mughairah bin Abdillah.


    Ketika Umar bin Khattab RA masih muda, ia dikenal sebagai pemuda yang gagah perkasa, tegap, dan pemberani. Setelah masuk Islam, sikap kerasnya mulai melemah apabila menghadapi sesama muslim. Namun masih bersikap keras bila menghadapi musuh.

    Banyak sekali sikap dan keteladanan Umar bin Khattab RA yang bisa dicontoh oleh kaum muslimin. Apa sajakah keteladanan tersebut?

    4 Keteladanan yang Dimiliki Sahabat Nabi Umar bin Khattab RA

    Ada sejumlah keteladanan yang dimiliki sahabat nabi Umar bin Khattab RA. Harjan Syudaha dan Fida’ Abdilah dalam bukunya yang berjudul Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah Kelas IX menyebutkan ia merupakan seorang pemimpin yang terkemuka.

    Sikapnya sangat pemberani dan tidak takut mati apabila harus membela sebuah kebenaran. Keteladanan Umar bin Khattab RA antara lain adalah sebagaimana berikut:

    • Sikap berani dan tegas dalam menegakkan kebenaran
    • Pandai dalam menyelesaikan perselisihan
    • Berani mempertaruhkan nyawa untuk membela kebenaran
    • Tegas dalam memisahkan antara yang hak dan yang batil

    Sahabat Umar bin Khattab RA ketika menjabat sebagai khalifah untuk umat Islam terkenal sebagai pemimpin yang meletakkan dasar-dasar demokrasi dalam Islam. ia sangat mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadinya.

    Dalam pemerintahannya, ia memilih pejabat yang benar-benar dapat dipercaya. Umar bin Khattab RA juga selalu membuka diri untuk menerima saran langsung dari rakyatnya.

    Kisah Keteladanan Umar bin Khattab RA

    Kisah keteladanan Umar bin Khattab RA pernah diceritakan oleh pelayannya yang bernama Aslam. Ia berkata bahwa suatu malam ia dan Umar bin Khattab RA keluar menelusuri Kota Madinah.

    Dari kejauhan, keduanya melihat ada segerombolan musafir yang kedinginan dan kemalaman. Keduanya pun segera menghampiri gerombolan musafir itu.

    Sesampainya di tempat musafir itu, betapa terkejutnya Umar bin Khattab RA dan Aslam melihat seorang perempuan bersama anak-anaknya yang menangis. Mereka duduk di depan sebuah periuk yang dimasak di atas api.

    Umar bin Khattab RA bertanya, “Apa yang terjadi?”

    Wanita itu menjawab, “Kami kemalaman dan kedinginan,”

    “Lalu mengapa anak-anakmu menangis?” tanya Umar bin Khattab RA lagi.

    “Mereka lapar,” jawab wanita itu.

    Umar RA heran sebab ia melihat wanita itu seakan-akan memasak di dalam sebuah periuk di depannya. Lalu mengapa anak-anak itu tetap menangis dan tidak segera diberi makanan di dalamnya.

    Namun, ternyata wanita itu berkata, “Di periuk itu hanya ada air, aku sengaja memasaknya agar mereka bisa tenang hingga tertidur. Allah akan menjadi hakim antara kami dan Umar.”

    Wanita tadi tidak tahu jika yang diajak berbicara adalah Umar bin Khattab RA. Lalu beliau berkata, “Semoga Allah merahmatimu, sedangkan Umar tidak mengetahui keadaanmu.”

    Wanita itu berkata, “Ia mengatur kami, memimpin kami, tetapi melupakan kami,”

    Tanpa pikir panjang, Umar bin Khattab RA langsung mengajak Aslam untuk pulang dan mengambil sekarung gandum dengan seember daging. Ia segera memberikan semua itu kepada wanita dan anak-anaknya tadi.

    Tak sampai di situ saja, Umar bin Khattab RA bahkan bersedia untuk memasakkan bahan makanan tadi untuk mereka sehingga mereka merasa kenyang dan aman.

    Wanita tadi lalu berkata kepada Umar bin Khattab RA, “Semoga Allah membalas kebaikanmu, sungguh engkau lebih mulia dibanding Amirul Mukminin (Umar bin Khattab RA).”

    Umar bin Khattab RA pun menjawab, “Bicaralah yang santun, jika engkau menemui Amirul Mukminin, Insyaallah engkau akan mendapatiku di sana.” Kemudian ia menjauhi wanita itu.

    Setelah wanita dan anak-anaknya tadi tertidur dalam keadaan perut kenyang, Umar bin Khattab RA pergi dari sana bersama Aslam. Ia pun berkata kepada pelayannya tersebut,

    “Wahai Aslam, sesungguhnya rasa lapar membuat anak-anak itu tidak bisa tidur dan menangis. Aku tidak akan pergi sebelum memastikan mereka sudah tidur dan tidak menangis lagi.”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Yusuf AS Menafsirkan Mimpi, Salah Satu Mukjizat dari Allah SWT



    Jakarta

    Nabi Yusuf AS diberi ilmu berupa kemampuan menafsirkan mimpi. Ilmu ini termasuk ke dalam mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT.

    Yusuf AS adalah anak dari Yaqub AS yang juga merupakan keturunan Nabi Ibrahim AS, dari anaknya yaitu Ishaq AS. Dirinya diperintahkan berdakwah untuk bangsa Kan’an dan Firaun di Mesir, kisah mengenai Nabi Yusuf AS tercantum dalam surat Yusuf.

    Mengutip dari buku Takdir dan Mukjizat Manusia Tertampan Yusuf Alaihi Salam oleh Sulistyawati Khairu, dakwah Nabi Yusuf AS kali pertamanya terjadi di dalam penjara. Penyebab sang nabi dijebloskan ke dalam penjara sendiri dikarenakan terlalu tampan dan membuat majikannya Al-Aziz tidak nyaman.


    Ketika di penjara, Nabi Yusuf AS bertemu dengan dua orang pegawai istana Raja, mereka saling bercerita dan berbagi kisah. Kepribadian Yusuf AS yang baik menyebabkan dirinya dapat berteman akrab dengan kedua pekerja itu.

    Dahulu, mereka adalah pelayan kerajaan, namun karena dituduh memasukkan racun ke dalam makanan dan minuman akhirnya mereka dimasukkan ke dalam penjara. Suatu malam, saat semua orang dalam penjara itu tertidur, kedua orang bekas pelayan kerajaan itu mendapat sebuah mimpi yang sungguh menakjubkan.

    Keduanya sama-sama bermimpi memiliki kaitan dengan pekerjaan mereka sebelum masuk penjara. Karena merasa ada hal yang aneh, maka mereka menceritakan perihal mimpi itu kepada Nabi Yusuf AS.

    Melalui mukjizat yang Allah SWT berikan kepada Nabi Yusuf AS, beliau mengetahui arti mimpi dari kedua bekas pelayan itu. Namun, Yusuf AS tidak menceritakan secara langsung, melainkan menggunakan kesempatan tersebut untuk berdakwah dan mengajarkan kepada mereka untuk menyembah Allah SWT.

    Kemampuan Yusuf AS dalam menafsirkan mimpi ini juga menjadi penyelamat bagi dirinya. Dikisahkan dalam Al-Quran surat Yusuf ayat 43, seorang Raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai gandum yang hijau, dan tujuh tangkai lainnya yang kering.

    Tidak ada seorang pun yang dapat menafsirkan mimpi sang raja. Akhirnya, salah seorang pemuda yang mengingat kemampuan Nabi Yusuf AS mengusulkan kepada raja.

    وَقَالَ ٱلْمَلِكُ إِنِّىٓ أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَٰتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنۢبُلَٰتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَٰتٍ ۖ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَأُ أَفْتُونِى فِى رُءْيَٰىَ إِن كُنتُمْ لِلرُّءْيَا تَعْبُرُونَ

    Artinya: “Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering”. Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat menabirkan mimpi’

    Raja Mesir itu kemudian memanggil Nabi Yusuf AS dan memintanya menafsirkan mimpi serba tujuh itu. Jadi, tujuh sapi gemuk mewakili kebaikan dan kesuburan, sedangkan tujuh sapi kurus menandakan keburukan dan kekeringan. Nabi Yusuf memaknainya sebagai tujuh tahun musim panen dan tujuh tahun kekeringan panjang.

    Sementara itu, biji gandum mewakili hasil pertanian. Menurut Nabi Yusuf, selama tujuh tahun musim panen dan tanah sedang subur, pemerintah dan rakyat perlu berhemat dengan menyimpan sebagian hasil pertanian untuk tujuh tahun berikutnya.

    Setelahnya, sang raja langsung memerintahkan anak buahnya untuk membuat lumbung. Lumbung tersebut digunakan untuk menyimpan bahan makanan perbekalan yang sekiranya cukup untuk tujuh tahun kemarau panjang seperti yang diramalkan.

    Berkat mukjizatnya itu, Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara dan diangkat menjadi bendahara kerajaan.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Musa Pernah Sakit Gigi, Begini Kisahnya



    Jakarta

    Nabi Musa Alaihissalam pernah mengalami sakit gigi yang luar biasa. Ia sampai mengeluh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saking tak kuat menahan kesakitan tersebut.

    Mengutip laman Kemenag, Nabi Musa yang merasakan sakit gigi itu memohon doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar sakit giginya segera sembuh. Pada saat itu juga, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menyembuhkan sakit giginya dengan menggunakan tanaman obat.

    “Ambillah rumput itu dan letakkan di gigimu,” perintah Allah kepada Nabi Musa, sebagaimana dikisahkan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nurudh Dholam.


    Setelah menerima petunjuk dari Allah, Nabi Musa melaksanakan perintah-Nya dengan memetik tanaman obat dan meletakkannya di giginya yang sedang bermasalah. Pada saat itu juga, sakit giginya segera sembuh berkat penggunaan tanaman obat sebagai wasilah.

    Beberapa waktu setelahnya, Nabi Musa mengalami kekambuhan sakit gigi. Tanpa mengeluh atau berdoa kepada Allah seperti sebelumnya, ia langsung memetik tanaman obat dan meletakkannya di gigi yang sakit.

    Tindakan tersebut dilakukan oleh Nabi Musa dengan keyakinan bahwa tanaman obat sebelumnya telah terbukti berkhasiat dalam menyembuhkan sakit gigi.

    Namun sayang, usahanya tidak membuahkan hasil. Sebaliknya, sakit gigi Nabi Musa justru semakin parah.

    Dalam buku Genius Dari Syurga karya Ainizal Abdul Latif, Nabi Musa bertanya kepada malaikat mengapa sakit giginya tak hilang meskipun sudah banyak daun yang dikunyahnya. Malaikat mengatakan bahwa dulu ia meletakkan seluruh kepercayaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tapi kali ini Nabi Musa meletakkan kepercayaannya kepada daun.

    Di tengah keadaan tersebut, Nabi Musa segera mencurahkan keluhannya dan berdoa kembali kepada Allah. Kemudian Allah berfirman:

    “Ya Musa, Aku adalah Dzat yang memberi kesembuhan, Dzat yang memberikan kesehatan, Dzat yang memberikan bahaya, Dzat yang memberikan manfaat. Pada sakit pertama kamu datang menghadap kepada-Ku maka Aku hilangkan penyakitmu. Kali ini, kamu tidak datang kepada-Ku tapi kamu datang kepada tanaman obat itu.”

    Dari kisah ini, setidaknya dapat diambil dua hikmah. Pertama, Allah memiliki sifat Jaiz yang memberikan-Nya kebebasan untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

    Allah dapat meningkatkan atau menurunkan derajat seseorang sesuai kebijakan-Nya. Selain itu, Allah juga memiliki kuasa untuk menimpakan penyakit atau memberikan kesembuhan kepada siapa pun sesuai dengan kehendak-Nya.

    Kedua, Allah adalah pemilik segala yang ada di langit dan bumi, termasuk kesehatan dan kesembuhan. Oleh karena itu, tindakan yang perlu dilakukan oleh umat Islam ketika sakit adalah memohon kesehatan dan kesembuhan kepada Allah melalui doa.

    Selain itu, mereka diwajibkan untuk tetap melakukan usaha nyata seperti penggunaan obat dan berbagai bentuk pengobatan, sambil meyakini bahwa hal tersebut hanya sebagai wasilah atau perantara untuk mencapai kesehatan dan kesembuhan.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Masa Kecil Umar bin Khattab, Terlahir di Keluarga Bangsawan


    Jakarta

    Umar terlahir dengan nama lengkap Umar bin Khattāb bin Nufail bin abd al Uzza bin Rabah bin Abdullah bin Qursth bin Razah bin Adiy bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al-Quraisi Al Adawi. Umar bin Khattab lahir sekitar tahun 586 M.

    Nama lengkap ayahnya adalah Al Khattāb bin Nufail dan ibunya bernama Hatamah binti Hasyim bin Mughiroh.

    Kakek moyangnya Nufail bin Abd Al Uzza adalah seorang hakim, dimana orang Quraisy memercayainya untuk menyelesaikan berbagai sengketa yang terjadi di antara mereka. Ditambah lagi moyangnya Ka’ab bin Luay, adalah orang yang terpandang di kalangan bangsa Arab. Dari situlah di kemudian hari nanti Umar selalu mendapat posisi yang strategis di kalangan masyarakat Quraisy.


    Jika dirunut, nasab Umar bertemu dengan Nabi Muhammad dari Ka’ab dan Luay.

    Mengutip buku Jejak Langkah Umar bin Khattab oleh Abdul Rohim dijelaskan bahwa Umar kecil lahir di tengah keluarga bangsawan di Makkah.

    Umar Tumbuh Menjadi Anak yang Keras dan Tegas

    Sejak kecil Umar tumbuh seperti anak-anak Quraisy pada umumnya. Ia menghabiskan separuh perjalanan hidupnya dimasa Jahiliyah yang penuh dengan adat masyarakat yang tidak beradab.

    Umar juga dikenal sebagai anak yang suka belajar dan cerdas, dia tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab. Meskipun hidup di tengah keluarga yang kaya, Umar bukanlah anak yang suka bermewah-mewah.

    Umar juga terkenal mempunyai watak yang keras, hal ini karena pola asuh yang diterapkan sejak dini oleh sang ayah yang menempatkannya di dunia gembala. Di dunia inilah sosok Umar mulai terbentuk, mental

    kerasnya terbentuk dari perlakuan keras sang ayah yang mewariskan sikap-sikap keras dan tegas pada diri Umar.

    Diceritakan oleh Abdurrahman bin Hathib dalam suatu riwayat, “Suatu ketika, aku pernah bersama Umar bin Khattab di bukit Djanan. Umar bercerita, “Dulu, aku menggembalakan unta milik Al-Khattāb di tempat ini. Ia adalah orang yang kasar dan keras tutur katanya. Terkadang aku disuruh Al-Khattāb menggembala unta dan terkadang mengumpulkan kayu bakar.”

    Suatu hari ketika Umar bin Khattãb sudah menjadi seorang khalifah pun memori tentang perjalanan kecilnya yang keras sebagai seorang penggembala kambing ia ceritakan kepada kaum muslimin, dengan tujuan untuk mengukur dirinya sendiri.

    Muhammad bin Umar AI Makzumi merawikan dari ayahnya, ia bercerita “Suatu hari Umar mengumandangkan adzan shalat, setelah orang-orang berkumpul dan melakukan shalat berjamaah, ia naik ke atas mimbar. Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah dan shalawat kepada Nabi, ia menyampaikan kepada hadirin,

    “Wahai hadirin sekalian, tadi malam aku bermimpi menggembala kambing dan unta milik beberapa bibi dari Bani Mahkzum. Mereka memberi bekal segenggam kurma dan kismis. Aku masih mengenang masa lalu ku itu.”

    Setelah itu Umar turun dari mimbar. “Wahai Amirul mukminin mengapa Anda mencela dirimu sendiri?” kata Abdurahman bin Auf.

    Umar menjawab “Celakalah Anda wahai bin Auf! Sungguh aku telah mencoba melupakan kenangan itu, tapi hati kecilku berkata padaku, “Anda adalah Amirul mukminin, siapa lagi yang paling hebat selain diri Anda.” Karenanya maka aku ingin mengenalkan tentang jiwaku tentang hakikatku sebenarnya.”

    Dalam riwayat yang lain, Umar mengatakan, “Kutemui ganjalan dalam hatiku, maka aku ingin merasa kecil darinya.”

    Dari riwayat-riwayat tersebut tergambar jelas bahwa pekerjaan menggembala kambing dan unta yang keras telah menempa hidup Umar bin Khattab sehingga memunculkan sikap yang luhur yang dimiliki Umar, seperti bertanggung jawab, tegar dan berani menghadapi sesuatu.

    Pada masa Jahiliyah, Umar bin Khattab tidak hanya pernah menjadi seorang penggembala. Ia juga terampil dalam berbagai olahraga seperti berkuda.

    Di samping itu Umar juga ahli dalam menciptakan syair dan mendendangkannya. Ini sangat sesuai dengan budaya yang terkenal di jazirah Arab dengan keunggulan sastranya dan para penyairnya. Pada masa Jahiliyyah, Umar juga tidak bisa dilepaskan dengan budaya kesusastraan tersebut.

    Rasa ingin tahu yang tinggi serta minat belajar yang sejak kecil tertanam dalam diri Umar, memikat perhatiannya pada masalah sejarah dan urusan-urusan kaum Quraisy. Hal ini membuat Umar gemar mengunjungi pasar-pasar besar bangsa Arab seperti, pasar Ukazh, pasar Majannah, dan pasar Dzu Al-majaz.

    Kunjungannya ke berbagai tempat umum ini selain ia gunakan untuk mempelajari sejarah bangsa Arab, ia juga gunakan untuk berdagang dan mengetahui berbagai kejadian yang sedang terjadi, kontes pembangunan keturunan, dan persengketaan di antara suku.

    Dari sini juga Umar sering melihat persaingan antarsuku di Pasar Ukazh yang telah menyulut perang saudara selama empat kali.

    Umar Mahir Berdagang

    Di dunia perdagangan Umar tergolong sebagai pedagang yang sukses, ia meraih keuntungan yang sangat besar dari kunjungan dagangnya di berbagai tempat di jazirah Arab.

    Saat musim panas, Umar berdagang ke wilayah Syam, dan pada musim dingin ke daerah Yaman. Hal ini yang menghantarkan Umar menjadi salah satu orang terkaya dan terpandang di kota Makkah.

    Sebagai orang kaya di kota Makkah, Umar juga mendapatkan posisi strategis di tengah masyarakat.

    Umar juga dikenal sebagai orang yang adil dan mampu menyelesaikan konflik yang terjadi.

    Ibnu Sa’ad mengatakan, “Sebelum masa Islam, Umar sudah terbiasa menyelesaikan berbagai sengketa yang terjadi di kalangan bangsa Arab.” Selain menjadi orang yang dipercayai masyarakat untuk menjadi hakim, Umar juga sering dijadikan delegasi bagi suku Quraisy dan menjadi wakil dalam membanggakan keturunan mereka dengan suku-suku yang lainnya.”

    Ibnu Jauzi mengatakan “Umar bin Khattab menempati posisi sebagai duta atau delegator. Bila terjadi peperangan di antara suku Quraisy dengan suku-suku yang lain, maka mereka akan mengutus Umar sebagai delegasi yang menangani konflik di antara mereka. Mereka dengan suka rela mempercayakan urusan semacam ini kepada Umar.”

    Keterlibatan Umar yang memberikan kontribusi yang sangat signifikan di tengah masyarakat Quraisy membuat Umar sangat dicintai masyarakat Makkah. Dan sebaliknya Umar juga mencintai masyarakatnya. Sehingga apa pun yang menggangu kelangsungan kehidupan masyarakat, dia menjadi tokoh pertama yang akan membela dan mempertahankan apa yang sudah diyakini tersebut.

    Keteguhan Umar bin Khattab ini membuat proses dakwah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad mengalami kesulitan. Umar menjadi salah satu tokoh yang paling semangat menentang agama Islam.

    Umar merasa khawatir terhadap kehadiran Islam pada saat itu, kalau merusak tatanan sosial, politik masyarkat Makkah yang sudah mapan. Bahkan Umar termasuk tokoh yang paling kejam menyiksa para pengikut Islam di awal keberadaanya.

    Kisah Kerasnya Umar Menentang Islam

    Sebelum mengenal dan memeluk Islam, Umar dikenal sebagai orang yang sangat menentang Islam dan Nabi Muhammad. Umar pernah memukul seorang hamba sahaya perempuan yang telah menganut agama Islam sampai kedua tangannya letih dan cambuk yang ia gunakan terjatuh dari tangannya.

    Ia berhenti memukul sahaya perempuan tersebut setelah ia mengalami kelelahan. Saat itu, Abu Bakar lewat dan melihat Umar sedang memukuli hamba sahaya perempuan tersebut. Abu Bakar kemudian membelinya dan memerdekakannya.

    Dari kisah ini dapat dilihat bahwa Umar adalah sosok orang yang sangat teguh dalam memegang pendirian dan mempunyai watak yang kasar. Apalagi di dalam situasi
    masyarakat yang Jahiliyah saat itu yang penuh akan kerusakan moral tidak tahu akan perbuatan yang haq dan yang batil, membuat Umar nampak sebagai seorang yang sangat kejam dan tidak punya perasaan.

    Setelah menerima hidayah dan akhirnya masuk Islam, Umar menjadi pembela Islam yang sangat loyal, dan pengetahuan yang didapatkan dari ajaran Islam tentang akhlak yang baik membuat Umar menjadi sosok yang bisa membedakan akan kebenaran dan
    kebatilan. Sehingga Umar dijuluki sebagai Al-Faruq yang artinya sang pembeda.

    Setelah memeluk Islam, Umar menjadi salah satu sahabat setia Rasulullah SAW. Hingga pada akhirnya Umar bin Khattab terpilih menjadi Khalifah pada 634 hingga tahun 644. Ia menjadi Khulafaur Rasyidin kedua menggantikan Khalifah Abu Bakar.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sumur Zamzam Digali Kembali oleh Abdul Muthalib, Kakek Rasulullah SAW


    Jakarta

    Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW, memiliki jasa yang besar dalam penggalian kembali sumur zamzam. Ia berhasil menemukan kembali sumur yang sebelumnya sempat tertimbun.

    Sumur zamzam menjadi sumur yang tidak pernah kering. Air dari sumur ini bahkan memiliki banyak keutamaan sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadits.

    Dalam sejarahnya, kemunculan air zamzam bermula dari kegelisahan Siti Hajar bersama putranya, Ismail, yang ditinggal Nabi Ibrahim AS di sebuah padang tandus. Cerita Siti Hajar yang ditinggal Nabi Ibrahim ini diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 37.


    رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

    Artinya: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

    Siti Hajar dan bayi Ismail kehabisan bekal, ia kemudian berusaha mencari makanan atau orang-orang yang kemungkinan berada di sekitarnya. Siti Hajar berlari ke Bukit Marwah, kemudian ke Bukit Shafa, dan kembali lagi ke Bukit Marwah. Tercatat, tujuh kali dirinya bolak-balik bukit Shafa-Marwah.

    Apa yang dilakukan Siti Hajar itu kini menjadi salah satu rukun haji yang wajib dilaksanakan umat Islam yang melaksanakan haji, yaitu sai.

    Setelah lelah bolak-balik dari bukit Shafa ke Marwah, Siti Hajar mendengar perintah untuk melihat putranya yang sedang menangis dan mengentak-entakkan kakinya ke tanah. Ternyata, entakan kaki Ismail AS berhasil mengeluarkan air yang berlimpah. Siti Hajar pun kemudian berkata, “Zamzam
    (berkumpullah),” hingga akhirnya air berkumpul dan dinamakan Zamzam.

    Munculnya air dari bekas entakan Nabi Ismail ini kemudian memicu hadirnya serombongan burung-burung di sekitarnya. Melihat adanya burung ini, para kafilah yang juga sedang mencari air segera menuju tempat burung-burung beterbangan itu. Inilah kisah singkat awal mula munculnya sumur Zamzam.

    Nazar Abdul Muthalib

    Merangkum buku Situs-Situs Dalam Al-Qur’an: Dari Banjir Nabi Nuh hingga Bukit Thursina oleh Syahruddin El-Fikri dijelaskan bahwa sumur zamzam digali kembali setelah sekian ribu tahun tertimbun.

    Kakek Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib, bernazar untuk menggalinya kembali apabila dirinya dikaruniai banyak anak dan akan mengurbankan salah satunya.

    Doanya dikabulkan Allah SWT dan ia mempunyai 10 orang anak. Kemudian, Abdul Muthalib melaksanakan nazarnya. Namun, ia ragu siapa yang akan dijadikan kurban.

    Lalu, diundilah hingga kemudian muncul nama Abdullah, ayah Nabi Muhammad SAW. Keraguan makin memuncak karena ia sangat menyayangi putra bungsunya ini.

    Setelah berkali-kali mencoba melakukan undian, nama Abdullah terus muncul. Kemudian ada yang mengusulkan agar nama Abdullah diundi dengan onta. Dan, setelah berkali-kali diundi, selalu muncul nama Abdullah, jumlah onta yang akan dijadikan kurban ditambah hingga 100 ekor onta. Dan, pada undian berikutnya, akhirnya muncullah nama onta yang akan dikurbankan.

    Karena doanya dikabulkan dan Abdul Muthalib melaksanakan nazarnya, dia pun menggali sumur Zamzam tersebut. Karena itu, sumur Zamzam disebut pula dengan sumur gali.

    Abdul Muthalib Menggali Kembali Sumur Zamzam

    Makkah ditinggali oleh suku Jurhum dan Qathura’. Suatu hari, dua suku berkonflik dan berperang berebut posisi penguasa Makkah.

    Imam Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah menceritakan bahwa kemudian ‘Amr bin al-Harits bin Mudladl al-Jurhumu keluar Makkah dengan (membawa) dua (patung) kijang Kakbah dan batu tiang, lalu menimbunnya dalam (sumur) Zamzam. Dia pun pergi bersama orang-orang Jurhum yang bersamanya menuju Yaman. Sumur zamzam pun tertimbun.

    Setelah beratus-ratus tahun lamanya tertimbun, sumur Zamzam ditemukan kembali keberadaannya oleh Abdul Muttalib melalui isyarat mimpi. Dia pun menggali sumur tersebut sesuai dengan yang dilihatnya dalam mimpi.

    Mengutip buku Sejarah Arab Sebelum Islam oleh Dr. Jawwad Ali, sumur zamzam berhasil ditemukan dan digali kembali oleh Abdul Muthalib. Ini menjadi jasa yang abadi hingga sekarang.

    Ketika Abdul Muthalib menemukan dan menggalinya, semua jamaah haji memanfaatkan airnya dan tidak lagi memakai sumur-sumur yang ada sebelumnya.

    Ketika menggali sumur zamzam, Abdul Muthalib menemukan harta karun yang terpendam di dalamnya, berupa dua patung unta dari emas. Harta itu dipendam oleh suku Jurhum.

    Selain itu, juga terdapat pedang-pedang tanpa sarung dan baju perang lengkap. Pedang-pedang itu lalu dilebur menjadi bahan pintu Kakbah, kemudian salah satu patung unta tadi disepuhkan pada pintu Kakbah.

    Selanjutnya, pintu Kakbah dibuat khusus dari emas. Ini merupakan emas pertama yang menjadi perhiasan Kakbah.

    Sebelumnya bangsa Quraisy melarang Abdul Muthalib menggali sumur zamzam. Namun, ia bersikukuh melakukannya.

    Ada pula riwayat lain yang menyebutkan bahwa Abdul Muthalib menggali sumur Zamzam itu karena adanya perintah yang didapatkan ketika beliau tertidur di Hijir Ismail. Maka, perintah itu beliau laksanakan.

    Setelah sumur zamzam kembali ditemukan, masyarakat Makkah memanfaatkan airnya untuk berbagai keperluan sehari-hari. Hingga saat ini air zamzam masih terus mengalir deras, bahkan menjadi salah satu oleh-oleh yang dibawa oleh jemaah umroh dan haji.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Asiyah binti Muzahim, Istri Fir’aun Wanita Mulia Penghuni Surga


    Jakarta

    Asiyah binti Muzahim atau Asiyah adalah istri Fir’aun pada zaman Nabi Musa AS dan dipandang menjadi salah satu perempuan mulia dalam sejarah Islam. Dalam Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab dikatakan, jika Asiyah adalah seorang Bani Israil.

    Asiyah merupakan wanita yang beriman dan tidak menyembah Fir’aun. Oleh karenanya, dia adalah salah satu dari keempat wanita penghuni surga yang paling utama.

    Dari Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas r.a mengatakan:


    سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ

    “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.”

    Asiyah Menjadi Istri Fir’aun

    Fir’aun adalah sosok raja Mesir yang kejam dan angkuh. Saat menjabat jadi raja, Fir’aun membedakan dua suku yang ada pada zaman itu, yakni Qibthi dan Bani Israil.

    Suku Qibthi adalah pembela raja, maka mereka memiliki kebebasan dan memiliki apapun yang dikehendaki karena mereka membela raja. Sedangkan Bani Israil, para lelaki dijadikan budak dan perempuan sebagai pemuas nafsunya.

    Merujuk buku Siti Asiyah karya Syukur Yanuardi, suatu hari kecantikan Asiyah dan beberapa kelebihannya sampai ke telinga Fir’aun. Ia tertarik untuk melamar Asiyah dan mengutus seorang menteri.

    Ternyata lamaran itu ditolak oleh Asiyah dan keluarganya. Mendengar lamarannya ditolak, Fir’aun sangat murka kemudian menyuruh tentaranya untuk menangkap kedua orang tua Asiyah dan mengancam akan membakar mereka berdua jika Asiyah tidak mau menerima lamaran Fir’aun.

    Karena tidak mau melihat orang tuanya disiksa, akhirnya Asiyah mau menerima lamaran Fir’aun tapi dengan beberapa syarat. Salah satu syaratnya adalah Asiyah akan menghadiri acara-acara Fir’aun tetapi tidak tidur bersama Fir’aun. Fir’aun pun setuju dan mereka berdua akhirnya menikah.

    Asiyah Disiksa Fir’aun

    Mengutip buku Wanita-Wanita Hebat Pengukir Surga oleh Ibrahim Mahmud Abdul Radi, ketika mendengar mukjizat kenabian Nabi Musa, Asiyah langsung beriman kepada ajaran Nabi Musa dan Asiyah menjadi perempuan pertama yang beriman dan mengikuti ajarannya. Saat mengetahui istrinya beriman kepada Allah SWT, Fir’aun pun menyiksa Asiyah dan memaksanya meninggalkan keyakinannya itu.

    Kedua tangan Asiyah diikat oleh suaminya sendiri di bawah terik matahari. Namun, siksaan dari Fir’aun justru kian meneguhkan keyakinannya.

    Tatkala Fir’aun dan para pengawalnya meninggalkan Asiyah sendiri di bawah terik matahari, malaikat datang memberikan naungan karena doa yang telah ia panjatkan. Hal ini sebagaimana termaktub dalam surat At-Tahrim ayat 11:

    وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا امۡرَاَتَ فِرۡعَوۡنَۘ اِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ابۡنِ لِىۡ عِنۡدَكَ بَيۡتًا فِى الۡجَـنَّةِ وَنَجِّنِىۡ مِنۡ فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِىۡ مِنَ الۡقَوۡمِ الظّٰلِمِيۡنَۙ

    Artinya: Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim,”

    Setelah itu Fir’aun meminta pengawalnya untuk mengawasi Asiyah. Namun, saat para pengawal Fir’aun datang ke Padang pasir, tempat Asiyah diikat di bawah terik matahari, mereka melihatnya tengah memandang langit.

    Saat itu Asiyah tengah memandang rumah yang telah dibangun untuknya di dalam surga. Dan dia tetap teguh pada ucapan serta keyakinannya hingga ajal menjemputnya.

    Sungguh Asiyah adalah sosok wanita yang teguh memegang keyakinannya kepada Allah SWT, meskipun ia harus menerima siksaan dari suaminya sendiri. Dia adalah pribadi wanita tangguh dan memiliki kesabaran luar biasa dalam menghadapi ujian dan siksaan fisik lainnya.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Abdullah bin Ubay, Sosok Munafik di Zaman Rasulullah SAW



    Jakarta

    Abdullah bin Ubay adalah sosok yang secara lisan mengaku beriman kepada Allah SWT, namun sebenarnya ia adalah orang munafik. Abdullah bin Ubay hidup di zaman Rasulullah SAW dan kisahnya menjadi salah satu sebab turunnya ayat dalam Al-Qur’an.

    Allah SWT melaknat orang yang berbuat munafik, hal ini tercatat dengan tegas dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Salah satunya dalam surat At Taubah ayat 68 yang berbunyi,

    وَعَدَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚوَلَعَنَهُمُ اللّٰهُ ۚوَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيْمٌۙ


    Artinya: Allah telah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang kekal.

    Rasulullah SAW pun tegas memperingati kaum muslimin untuk menjauhi sifat munafik. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu yang mengutip sabda Rasulullah SAW,

    أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

    Artinya: “Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: jika diberi amanat, khianat; jika berbicara, dusta; jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; jika berselisih, dia akan berbuat zalim.” (HR Muslim)

    Abdullah bin Ubay Sosok Munafik

    Banyak riwayat yang menceritakan tentang kisah Abdullah bin Ubay yang dikenal sebagai sosok munafik.

    Merangkum buku Kisah Orang-orang Sabar oleh Nasiruddin S.Ag. MM, disebutkan bahwa Abdullah bin Ubay tercatat sebagai gembong munafik generasi pertama. Secara lisan dia memproklamirkan diri sebagai penganut Islam, tapi secara batin ia amat benci dan memusuhi Islam.

    Kebencian Abdullah bin Ubay kepada Nabi Muhammad SAW berawal dari faktor dendam.

    Sebelum Rasulullah SAW hijrah, suku Khazraj dan Aus sebenarnya telah sepakat menjadikan Abdullah bin Ubay sebagai penguasa Madinah, bahkan telah sempat dipersiapkan mahkota khusus untuk Abdullah bin Ubay.

    Namun akhirnya Abdullah bin Ubay tidak dinobatkan menjadi pemimpin Madinah. Harapannya menjadi raja tak jadi kenyataan, bahkan orang-orang meninggalkan serta tak mempedulikannya.

    Hal inilah yang kemudian membuat Abdullah bin Ubay merasa dendam. Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai biang keladi keterpurukan nasibnya.

    Dendam merasuk dalam hatinya. Berbagai upaya pecah belah dalam Islam telah dilakukan Abdullah bin Ubay, demikian juga dengan berbagai fitnah keji yang ditujukan pada Nabi Muhammad.

    Melihat fitnah yang terus menerus dilakukan Abdullah bin Ubay, sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab sempat minta ijin kepada Nabi untuk membunuhnya.

    Hal ini kemudian dilarang oleh Rasulullah, “Tak layak melakukan itu, karena orang akan berkata, Muhammad telah membunuh sahabatnya sendiri,” ujar Rasulullah SAW.

    Melihat sikap lunak Rasulullah SAW, Abdullah bin Ubay justru semakin gencar membuat kegaduhan.

    Pada perang Bani Mustaliq, Abdullah bin Ubay kembali melakukan adu domba. Hampir saja antara kaum Muhajirin dan Anshor muncul saling ketidakpercayaan.

    Melihat pengaruh buruk hasil rekayasa Abdullah bin Ubay, dapat dipahami jika sempat muncul isu bahwa Nabi Muhammad SAW akan menghukum mati si munafik ini.

    Kabar tersebut akhirnya terdengar oleh anak Abdullah bin Ubay yakni Abdullah bin Abdullah bin Ubay. Anak Abdullah bin Ubay ini tergolong anak yang saleh dan taat beragama. Ia sangat berbeda jauh dengan sang ayah yang munafik.

    Abdullah bin Abdullah bin Ubay mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta izin agar diperkenankan membunuh sang ayah.

    Kepada Nabi Muhammad SAW ia meminta, “Wahai Rasul, jika diputuskan bahwa ayah saya harus dihukum mati, saya mohon biarlah saya sendiri yang menjalankan eksekusi. Karena bila orang lain yang menjalankan, saya khawatir berdasarkan emosi kesukuan orang Arab dan sentimen keterikatan anak ayah, akan memunculkan dendam di hati. Bila hal itu terjadi, sangat mungkin dapat mendorong saya melakukan balas dendam yang menyebabkan hidup saya menjadi sia-sia.”

    Mendengar permintaan dari anak saleh itu, Rasulullah SAW tersenyum sembari menjawab, “Tak ada niat saya seperti itu. Saya akan berlaku lunak kepadanya.”

    Artinya, Rasulullah SAW sama sekali tidak berniat untuk membunuh Abdullah bin Ubay meskipun Beliau tahu orang ini tergolong munafik. Sikap agung tadi ternyata menumbuhkan simpati atas keluhuran budi Nabi Muhammad SAW.

    Sebaliknya, pada saat yang sama, celaan, cemoohan, dan cercaan makin gencar menimpa Abdullah bin Ubay, tokoh munafik kelas wahid ini.

    Ia menjadi sedemikian hina di mata umat Islam, sehingga tak seorang pun peduli kepadanya. Sehubungan dengan fakta ini, akhirnya Rasulullah SAW bicara kepada sahabatnya, Umar ibn Khattab,
    “Kamu pernah minta izin kepada ku untuk membunuhnya. Orang yang paling terpukul bila kala itu ia dibunuh, bahkan mungkin membelanya, pada hari ini justru telah menghinanya. Bahkan, bila Aku memberi perintah agar mereka membunuh ibn Ubay, niscaya mereka akan membunuh sekarang juga.”

    Sifat Munafik Tercatat dalam Al-Qur’an

    Golongan orang-orang munafik akan selalu ada di setiap zaman. Allah SWT telah mengingatkan umat Islam untuk menjauhi sifat munafik.

    Ajaran Islam mengecam keras sifat munafik tersebut. Salah satunya yang termaktub dalam surah At Taubah ayat 68,

    وَعَدَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚوَلَعَنَهُمُ اللّٰهُ ۚوَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيْمٌۙ

    Artinya: Allah telah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang kekal.

    Dalam buku Tokoh Yang Diabadikan Al-Qur’an 4 oleh Abdurrahman Umairah, dijelaskan orang munafik memiliki beberapa sifat dan tanda yang menunjukkan kemunafikannya, menjelaskan dirinya, mengarahkan pada hakikatnya, dan menjelaskannya.

    Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat 30

    وَلَوْ نَشَآءُ لَأَرَيْنَٰكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَٰهُمْ ۚ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِى لَحْنِ ٱلْقَوْلِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَٰلَكُمْ

    Artinya: Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.

    Orang munafik adalah pengecut, karena itu dia menampakkan sesuatu dan menyembunyikan hal lain. Mereka mengaku puas dan menerima, tetapi menyembunyikan penolakan dan bantahan.

    Orang munafik juga termasuk penipu. Menipu merupakan salah satu sifat mereka dan tanda yang membedakan mereka dari yang lain. Orang munafik mengira dirinya pandai dan cerdas, padahal dia hanya memiliki kemampuan untuk menipu dan mengacaukan manusia.

    Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 9, Allah SWT berfirman,

    يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

    Artinya: Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pengemis Buta Yahudi yang Rindukan Rasulullah SAW



    Jakarta

    Rasulullah SAW terkenal dengan pribadinya yang ramah dan akhlaknya yang mulia. Hal ini bahkan dibuktikan dari sebuah kisah mengenai sang rasul dengan pengemis buta.

    Mengutip buku Jubah Kanjeng Nabi: Kisah Menakjubkan Para Ulama yang Berjumpa Nabi oleh A Yusrianto Elga dan Nor Fadhilah, dahulu ada seorang pengemis buta di sudut pasar Madinah. Pengemis Yahudi tersebut kerap kali mengatakan hal-hal buruk mengenai Rasulullah SAW.

    Dirinya bahkan merasa jijik sekaligus muak jika mendengar nama Nabi Muhammad SAW. Sampai-sampai, pengemis buta itu menuduh sang rasul sebagai tukang sihir dan pembohong besar.


    Mendengar dan menyaksikan hal itu, Rasulullah SAW sama sekali tidak benci kepada si pengemis. Beliau malah meluangkan waktu untuk menyuapi makanan kepada pengemis buta itu.

    Si pengemis sama sekali tidak tahu bahwa yang menyuapinya ialah Nabi Muhammad SAW. Setiap hari, sang rasul melakukan kebiasaan itu.

    Usai wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi yang menyuapi makanan kepada di pengemis. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq baru menggantikannya bebetapa waktu setelahnya berkat informasi dari istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah RA.

    Si pengemis lalu bertanya setelah Abu Bakar sampai di sana,

    “Siapa engkau?”

    Abu Bakar lalu menjawab, “Aku orang yang biasa,”

    Pengemis itu tidak percaya, ia lalu membalas perkataan Abu Bakar.

    “Apabila orang yang biasa mendatangiku datang, ia selalu menyuapiku. Ia juga menghaluskan makanan tersebut dan barulah diberikan kepadaku,” ujarnya.

    Ucapan si pengemis membuat Abu Bakar tersedu seraya berkata, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku merupakan salah satu sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia merupakan Nabi Muhammad, Rasulullah SAW,”

    Pengemis buta yang mendengar Abu bakar langsung menangis, dirinya tak menyangka bahwa orang yang selama ini ia hina dan caci maki ternyata adalah orang yang menyuapinya makanan setiap hari.

    “Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan tiap pagi, ia begitu mulia,” kata pengemis tersebut.

    Setelah kejadian itu, pengemis buta tersebut lalu masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat di depan Abu Bakar.

    Kisah tersebut menjadi bukti bahwa Rasulullah SAW selalu bersikap ramah, meski dengan orang yang menentangnya. Dia tidak dendam, marah, apalagi membenci. Sebaliknya, Nabi Muhammad SAW malah menyayanginya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kezaliman Firaun terhadap Bani Israil Demi Kekuasaan



    Jakarta

    Firaun zaman Nabi Musa AS terkenal sebagai raja yang sangat biadab dan kejam kepada rakyatnya, terutama kepada Bani Israil. Lantas, apa saja kezaliman Firaun terhadap Bani Israil?

    Kisah kekejaman Firaun terhadap Bani Israil diceritakan dalam Al-Qur’an. Di antaranya dalam surah Al Qashash, surah Al Baqarah, dan surah Taha. Ada juga sejumlah riwayat yang membahas kekejaman Firaun terhadap Bani Israil.

    Ulama tafsir dan sejarawan Imam Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiyaa memaparkan sejumlah ayat Al-Qur’an dan riwayat yang menjelaskan kekejaman Firaun terhadap Bani Israil. Berikut di antaranya.


    Kezaliman Firaun terhadap Bani Israil

    Bani Israil pada awalnya merupakan bagian dari kelompok masyarakat terbaik di Mesir. Namun sayangnya, mereka dipimpin oleh seorang raja yang zalim, durhaka, melampaui batas, dan kafir.

    Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam surah Al-Qashash ayat 4 yang berbunyi,

    اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ٤

    Artinya: Sesungguhnya Firʻaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya. Sesungguhnya dia (Firʻaun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir, maksud kekejaman Firaun dalam ayat tersebut adalah bertindak di luar batas, zalim, dan sewenang-wenang demi menuruti nafsu duniawi. Firaun juga telah menyimpang dari ajaran Tuhan.

    Beberapa kekejaman Firaun sebagaimana diterangkan Ibnu Katsir adalah menjadikan penduduk di negerinya terpecah belah. Ia membeda-bedakan rakyatnya atas dasar strata sosial dan kelompok tertentu.

    Firaun juga terus menindas dan bertindak sewenang-wenang terhadap kelompok yang tidak disukainya, yaitu Bani Israil yang berasal dari keturunan Nabi Ya’qub AS.

    Raja Mesir era Nabi Musa AS tersebut memerintahkan rakyatnya untuk selalu taat dan menyembah dirinya. Bahkan ia juga menuntut para prajuritnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang ada di wilayah kekuasaannya.

    Pada masa itu, kaum Bani Israil memang rajin dan aktif dalam mempelajari kitab yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS. Dalam kitab itu disebutkan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki keturunan Ibrahim AS yang akan menghancurkan raja Mesir.

    Berita mengenai kelahiran bayi laki-laki Bani Israil yang akan memimpin Mesir sudah menyebar luas di kalangan masyarakat. Sampai suatu saat terdengar oleh Firaun.

    Firaun pun takut kekuasaannya akan hancur, sehingga ia membuat sebuah peraturan biadab yakni membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir di bawah kerajaannya.

    Dia membentuk sebuah tim khusus yang ditugaskan untuk mendata semua wanita yang hamil. Sehingga, apabila anak mereka lahir dengan kelamin laki-laki, maka algojo akan langsung merebut dan membunuhnya.

    Namun demikian, Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tentu saja takdir-Nya akan tetap terjadi tidak peduli seberapa kuat seorang manusia mencoba menghambat. Dialah Tuhan sesungguhnya, Yang Maha Perkasa.

    Ternyata, anak laki-laki yang diberitakan dalam kitab orang-orang Bani Israil itu benar-benar ada dan selamat hingga ia dewasa. Bahkan, bayi itu dirawat sendiri oleh Firaun layaknya anak kandungnya.

    Ia memakan makanan yang sama, mengenakan pakaian yang sama, dan mengendarai kendaraan yang sama dengan Firaun. Anak laki-laki itu kemudian tumbuh menjadi seorang nabi utusan Allah SWT, Nabi Musa AS.

    Nabi Musa AS, anak angkat Firaun, sendirilah yang kemudian menghancurkan dan menumpas kezalimannya terhadap rakyatnya, terutama kepada Bani Israil.

    Pada akhirnya, raja zalim, kejam, dan melampaui batas ini diazab oleh Allah SWT dengan ditenggelamkan di Laut Merah bersama pengikutnya yang sama sesatnya. Sebagaimana firman Allah SWT,

    وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ ٥٠

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya).” (QS Al Baqarah: 50)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com