Blog

  • Kisah Nabi Hud AS dan Kaum Ad yang Diazab Allah SWT



    Jakarta

    Nabi Hud AS adalah salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui kaum muslimin. Beliau diutus untuk mengajak kaum Ad yang mana merupakan penyembah berhala.

    Kaum Ad diceritakan sebagai kelompok yang musyrik dan ingkar kepada Allah SWT. Mereka bahkan menyembah tiga berhala yang dinamai Shamda, Shamud dan Hira.

    Dikisahkan dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul karya Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, kaum Ad diberikan kekayaan yang melimpah. Hal ini dibuktikan dengan tanah yang subur, sumber-sumber air yang mengalir dari berbagai penjuru dan memudahkan mereka bercocok tanam, hingga tempat tinggal yang dikelilingi kebun bunga.


    Sayangnya, mereka tidak pernah bersyukur atas segala nikmat yang Allah SWT berikan. Tingginya ilmu pengetahuan yang mereka miliki justru membuat mereka tidak percaya akan keberadaan Allah SWT.

    Karenanya, Nabi Hud AS diutus untuk mengajak kaum Ad ke jalan yang benar. Beliau berdakwah tanpa lelah dan menyeru kepada kaum Ad untuk berhenti menyembah berhala yang merupakan warisan nenek moyang mereka.

    Meski demikian, alih-alih mempercayai dakwah Hud AS, kaum Ad justru menuduh sang nabi dengan banyak alasan. Mereka bahkan tak segan melontarkan ejekan hingga hinaan kepada Nabi Hud AS.

    Hud AS lantas meminta Allah SWT untuk menimpakan azab kepada kaum Ad yang enggan beriman kepada-Nya. Sebelum azab itu turun, Nabi Hud AS kembali memperingati kaumnya namun mereka tidak menggubris perkataan Hud AS.

    Tak sampai di situ, kaum Ad bahkan meminta pertolongan dan perlindungan kepada berhala-berhala yang mereka sembah. Azab kaum Ad ditandai dengan adanya kekeringan dan kemarau panjang selama tiga tahun yang membuat menderita, kemudian mereka memohon turunnya hujan.

    Mereka awalnya gembira karena mengira hujan akan turun dengan timbulnya awan hitam yang nantinya membasahi ladang mereka. Hud AS lalu kembali memperingati kalau awan hitam itu bukan awan rahmat, melainkan membawa kehancuran. Terkait hal ini, Allah SWT berfirman dalam surah Al Ahqaf ayat 24:

    فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا۟ هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا ٱسْتَعْجَلْتُم بِهِۦ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

    Artinya: “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih..”

    Lalu, ada seorang dari mereka yang menyaksikan azab apa yang terkandung di dalam awan hitam itu. Ia menjerit dan pingsan sesudah melihatnya.

    Kala itu, Allah SWT menimpakan azab kepada kaum Ad selama tujuh malam delapan hari berturut-turut. Peristiwa tersebut berlangsung hingga seluruh kaum Ad yang enggan beriman kepada Allah SWT binasa.

    Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa pusaran angin itu sama sekali tidak terasa bagi Nabi Hud AS dan pengikutnya yang beriman kepada Allah SWT. Angin itu terasa seperti angin segar yang nyaman dan menyentuh kulit.

    Wallahu’alam bishawab.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Penyebab Kemunduran Kerajaan Islam Samudra Pasai



    Jakarta

    Kerajaan Islam Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan Samudra Pasai terletak di Aceh.

    Dalam perkembangannya, Kerajaan Samudra Pasai memperoleh kemajuan pesat karena beberapa hal. Namun penyerbuan terhadap Kerajaan Samudra Pasai tak dapat dihindari.

    Sehingga Kerajaan Islam Samudra Pasai mengalami kemunduran sejak terjadinya penyerbuan. Berikut sejarahnya.


    Berdirinya Kerajaan Samudra Pasai

    Dirangkum dari buku Sejarah SMA Kelas 2 oleh Tugiyono dan buku Seri IPS Sejarah 1 SMP Kelas VII karya Prawoto, Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia yang berdiri pada abad 13 M. Kerajaan Samudra pasai dibangunoleh Laksamana Laut Mesir bernama Nazimudin Al-Kamil yang menaklukkan daerah ini pada 1283. Penguasa pertama yang diangkat adalah Marah Silu dengan gelar Sultan Malik Al-Saleh.

    Setelah resmi, Samudra Pasai berkembang pesat menjadi pusat perdagangan dan pusat studi Islam yang ramai. Banyak pedagang dari India, Benggala, Gujarat, Arab, Cina, dan daerah lain mengunjungi Samudra Pasai.

    Dalam perkembangannya, Kerajaan Samudra Pasai memperoleh kemajuan pesat karena dua hal berikut:

    Melemahnya kekuasaan Kerajaan Sriwijaya

    Letak Samudra Pasai di sepi Selat Malaka sehingga menjadi tempat persinggahan strategis bagi para pedagang internasional
    Setelah pertahanannya kuat, Samudra Pasai meluaskan daerah kekuasaannya. Kemudian Sultan Malik Al-Saleh mengawini putri Raja Perlak. Tak lama kemudian, beliau wafat dan dimakamkan di Kampong Samudra pemukiman Blang Me.

    Menjalin hubungan dengan Kesultanan Delhi (India)

    Samudra Pasai menjalin hubungan dengan Kesultanan Delhi (India). Buktinya yaitu ada seorang utusan dari India yang bernama Ibn Battuta singgah di Samudra Pasai ketika akan melakukan perjalanan ke Cina.

    Ibnu Battuta menceritakan bahwa sultan adalah orang yang selalu taat pada ajaran Islam yang disampaikan Nabi SAW dan membicarkakan masalah agama dalam Mazhab Syafi’i. Ibn Battuta juga mengatakan bahwa Samudra Pasai merupakan pelabuhan penting.

    Mundurnya Kerajaan Samudra Pasai Sejak Terjadinya Penyerbuan

    Dirangkum dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas IX oleh Murodi, pada saat itu Kerajaan Samudra Pasai melemah karena pemerintahan dipegang oleh pembesar kerajaan. Keadaan itu diperparah ketika Samudra Pasai diserang Kerajaan Siam.

    Setelah itu, Kerajaan Samudra pasai diserang oleh Kerajaan Majapahit pada tahun 1377 M. Hayam Wuruk dari Majapahit khawatir atas kemajuan Kerajaan Samudra Pasai, terutama di bidang perniagaan dan penyebaran Islam. Sebab ini membayahakan posisi Majapahit dalam perdagangan dan kekuatan politik di Nusantara.

    Majapahit pun melancarkan sebuannya terhadap Kerajaan Islam Samudra pasai. Kerajaan Islam Samudra Pasai pun kemudian berhasil ditaklukkan Majapahit. Selain itu, terjadi juga peperangan antara Samudra Pasai dengan tentara Nuku pada tahun 1406 M.

    Saat Kerajaan Samudra Pasai dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda, beliau menjalin hubungan dengan Tiongkok. Tiongkok pun menjamin akan melindungi dan membantu Kerajaan Samudra Pasai jika ada serangan.

    Namun Sultan Iskandar Muda kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Kerajaan Samudra Pasai tidak memiliki kekuatan. Hal ini menjadi salah satu penyebab Kerajaan Islam Samudra Pasai mengalami kemunduran sejak terjadinya penyerbuan.

    Merujuk pada buku Sejarah SMA Kelas 2, penyebab lain yang menjadi faktor kemunduran Kerajaan Islam Samudra Pasai yaitu:

    1. Perebutan kekuasaan di antara keluarga
    2. Pindahnya pusat perdagangan ke Malaka
    3. Munculnya kerajaan baru, seperti Aceh dan Malaka
    4. Peninggalan Kerajaan Islam Samudra Pasai

    Merujuk pada buku Tinggalan Sejarah Samudra Pasai oleh Cisah, salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai adalah relief lampu (misykah) yang menjantungkan kalimat Tauhid pada batu nisan. Relief ini menjadi peninggalan sejarah Kerajaan Samudra Pasai di Gampong Maddi, Aceh Utara.

    Tauhid merupakan penerang jalan hidup yang dinyalakan Samudra Pasai melalui Syiar dan dakwah dalam rangka memperluas negeri Islam di Asia Tenggara. Hal ini juga menjadi tugas utama dari para penguasa Samudra Pasai selama lebih dari tiga abad berkuasa.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Utsman bin Affan yang Dermawan, Rela Sumbang Sepertiga Biaya Perang Tabuk



    Jakarta

    Utsman bin Affan adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW. Beliau dikenal sebagai sosok yang kaya raya dan dermawan.

    Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya yang berjudul Biografi Utsman bin Affan menjelaskan silsilah Utsman bin Affan. Namanya adalah Utsman bin Afan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf.

    Sang ibu bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Habib bin Abd Syams bin Abdi Manaf bin Qushay. Nama ibu Arwa (nenek Utsman bin Affan dari jalur ibu) adalah Ummu Hukaim Al-Baidha’ binti Abdul Muththalib, saudara perempuan sekandung Abdullah bin Abdul Muththalib, ayah Rasulullah.


    Utsman bin Affan lahir pada 12 Dzulhijjah 35 sebelum Hijriah dari pasangan Affan bin Abi Al-Ash dan Arwa binti Kuraiz. Beliau lahir dari keluarga yang kaya dan terpandang.

    Selama memeluk agama Islam, Utsman bin Affan memiliki banyak peran, terutama dari harta dan kekayaan yang dimilikinya. Sebagai sosok yang dermawan, ia bahkan pernah membiayai Perang Tabuk.

    Dalam Sirah Nabawiyah susunan Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dikisahkan bahwa umat Islam akan berperang kala itu, namun ada kendala di keuangan karena dalam keadaan paceklik. Nabi SAW lalu bersabda,

    “Barangsiapa yang mendanai pasukan ‘Usrah, maka surga untuknya.”

    Mendengar hal tersebut, Utsman bin Affan lalu menyumbangkan hartanya. Tak tanggung-tanggung, sumbangannya itu mencakup 300 ekor unta, 50 ekor kuda, dan uang yang berjumlah 1000 dinar.

    Melihat itu, Nabi SAW bersabda:

    “Setelah hari ini, apa yang dilakukan Utsman tidak akan membuatnya menjadi melarat.” (HR Tirmidzi & Ahmad)

    Mengutip Al-Akhbar oleh Ir Tebyan A’maari Machali MM, nilai yang Utsman sumbangkan untuk Perang Tabuk sama seperti sepertiga biaya perang. Selain itu, ketika masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bahkan memberi gandum yang diangkut 1000 unta untuk membantu masyarakat miskin yang menderita di musim kering.

    Kemudian, kedermawanan Utsman bin Affan juga dibuktikan ketika kaum muslimin berhijrah dari Mekkah menuju Madinah. Saat itu, mereka kekurangan air dan hanya satu orang yang memiliki sumur yang mana seorang Yahudi.

    Orang Yahudi itu menjual air kepada masyarakat dengan harga yang sangat tinggi. Hal ini membuat kaum muslimin resah.

    Nabi Muhammad SAW lalu menyeru kepada sahabat untuk menyelesaikan hal tersebut dan dijanjikan minuman di surga. Seperti biasa, mendengar itu maka Utsman langsung menemui pemilik sumur dan membelinya.

    Ketika membeli sumur, Utsman bernegoisasi dengan orang Yahudi tersebut dengan harga 12.000 dirham. Syaratnya, kepemilikan sumur secara bergantian. Satu hari milik Utsman dan hari berikutnya milik orang Yahudi.

    Setelah sepakat, Utsman menyerukan kepada kaum muslimin untuk mengambil air sumur sebanyak mungkin ketika sumur itu dimiliki Utsman. Pada hari berikutnya di mana bagian orang Yahudi, tidak ada satu pun orang yang membeli air di sumur itu.

    Akhirnya, orang Yahudi itu merasa dirugikan dan menawarkan kepemilikan sumur secara keseluruhan untuk Utsman. Mendengar itu, Utsman setuju dan membayarkan lagi sebesar 8000 dirham.

    Ketika sudah sepenuhnya dimiliki oleh Utsman, maka sumur tersebut diwakafkan untuk kepentingan umat Islam.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Daud dan Gunung yang Bertasbih Bersamanya



    Jakarta

    Nabi Daud AS adalah nabi yang dianugerahi Allah SWT dengan suara yang sangat indah dan merdu. Bahkan, ada cerita tentang kisah Nabi Daud dan gunung yang bertasbih. Bagaimanakah kisah tersebut?

    Nabi Daud AS adalah utusan Allah SWT dan khalifah-Nya di wilayah Baitul Maqdis. Nama lengkapnya adalah Daud bin Aisya bin Uwaid bin Abir bin Salmun bin Nahsyun bin Uwainadzib bin Iram bin Hashrun bin Farshun bin Yahudza bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil.

    Ibnu Katsir menceritakan hal ini dalam bukunya yang berjudul Sejarah Lengkap Kehidupan Para Nabi Sejak Nabi Adam Alaihissalam hingga Nabi Isa Alaihissalam.


    Sejak kecil, Nabi Daud AS sudah dikaruniai banyak hal oleh Allah SWT. Kehebatannya terlihat dari keberhasilannya mengalahkan Jalut. Selain itu, ia juga dikaruniai Allah SWT suara yang sangat merdu.

    Berkaitan dengan suaranya yang sangat indah, ada sebuah cerita yang sangat terkenal, di mana ada kisah Nabi Daud dan gunung yang bertasbih.

    Bagaimanakah kisah tersebut? Berikut ulasannya!

    Kisah Nabi Daud dan Gunung yang Bertasbih

    Allah SWT berfirman dalam surah Saba ayat 10 yang berbunyi,

    ۞ وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضْلًاۗ يٰجِبَالُ اَوِّبِيْ مَعَهٗ وَالطَّيْرَ ۚوَاَلَنَّا لَهُ الْحَدِيْدَۙ ١٠

    Artinya: Sungguh, benar-benar telah Kami anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang kali bersama Daud!” Kami telah melunakkan besi untuknya.

    Kemudian, Allah SWT juga berfirman dalam ayat selanjutnya, yakni surah Saba ayat 18 yang berbunyi,

    وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَّقَدَّرْنَا فِيْهَا السَّيْرَۗ سِيْرُوْا فِيْهَا لَيَالِيَ وَاَيَّامًا اٰمِنِيْنَ ١٨

    Artinya: Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi (Syam) beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman.)

    Ibnu Abbas, Mujahid, dan beberapa ulama lainnya berkomentar mengenai ayat ini. Gunung-gunung ikut bertasbih kepada Allah SWT sebab Dia telah menganugerahkan suara yang sangat merdu kepada Nabi Daud AS, suatu karunia yang tidak diberikan kepada siapa pun.

    Oleh karena itu, ketika Nabi Daud AS membaca kitab Zabur, burung-burung yang terbang di angkasa mendarat untuk mendengar lantunan suaranya, gunung-gunung ikut bertasbih bersamanya di waktu pagi dan sore hari.

    Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang mendengarkan kemerduan suara Nabi Daud AS, melainkan ia akan berjalan dengan sebelah kakinya seperti berdansa.

    Manusia dan segala jenis hewan akan rela berhenti untuk mendengarkan kemerduan suaranya. Bahkan ada dari hewan-hewan itu mati kelaparan dan sungai pun berhenti mengalir.

    Ibnu Juraij pernah bertanya kepada Atha’ tentang membaca kitab suci dengan dilagukan. Kemudian, ia menjawab,

    “Hal itu tidak mengapa. Aku pernah mendengar Ubaid bin Umar berkata: Dulu Daud AS pernah mengambil rebana dan menabuhnya. Lalu beliau membaca kitab suci. Beliau mengulang-ulang suaranya. Beliau sengaja melakukan hal itu agar beliau bisa menangis. begitu juga yang mendengarkannya.”

    Di samping memiliki suara yang amat merdu dan indah, Nabi Daud AS juga sangat cepat dalam membaca kitab Zabur. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,

    “Daud sangat lincah dalam membaca (kitab). Beliau pernah memerintahkan seseorang memasang pelana kudanya sementara beliau sendiri membaca kitab. Sebelum pelana kuda itu selesai dipasang, beliau lebih dulu selesai membaca Al-Qur’an (kitab)-nya. Beliau juga tidak makan, kecuali dari hasil kerjanya sendiri.” (HR Bukhari dan Ahmad)

    Mengenai anugerah suara yang sangat indah milik Nabi Daud AS, salah seorang sahabat Rasulullah SAW ternyata juga memiliki suara yang mirip dengan milik Daud AS.

    Diriwayatkan oleh Ahmad, bahwasanya Aisyah RA pernah berkata, “Rasulullah SAW pernah mendengar suara Abu Musa Al Asy’ari ketika ia sedang membaca Al-Qur’an. Kemudian beliau bersabda,

    “Abu Musa Al Asy’ari dianugerahi keindahan suara dari seruling kepunyaan Daud.” (HR Ahmad)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Cinta Salman Al Farisi RA, Merelakan Pujaan Hati Demi Sahabat Sejati



    Jakarta

    Kisah cinta Salman Al Farisi RA menunjukkan perilaku ikhlas itu tidak terbatas apa pun. Keikhlasan ini dibuktikan dengan kerelaan dirinya melihat sang pujaan hati menikah dengan sahabat sejatinya. Berikut cerita selengkapnya.

    Siapa yang tidak kenal dengan Salman Al Farisi RA. Seorang sahabat Rasulullah SAW yang sangat cerdas dan berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraisy dengan idenya membangun parit di sekeliling kota Madinah saat Perang Khandaq.

    Ada sebuah kisah yang menarik dari Salman Al Farisi RA yang menyangkut dengan hati dan cintanya terhadap seorang perempuan salihah. Dari cerita ini, banyak hikmah yang bisa diambil, salah satunya adalah perilaku ikhlas yang amat besar.


    Kisah Cinta Salman Al Farisi RA

    Dikisahkan dalam buku Cinta di Sujud Terkahir karya Cinta Mulia, Salman Al Farisi RA pernah jatuh cinta pada seorang muslimah Anshar dari Madinah. Ia kemudian membulatkan tekadnya untuk melamar wanita tersebut.

    Masalah pun muncul saat ia hendak melamar wanita itu. Salman Al Farisi RA merasa ia belum mengetahui bagaimana adat melamar wanita di kalangan masyarakat Madinah dan bagaimana tradisi Anshar dalam mengkhitbah wanita.

    Salman Al Farisi RA kemudian mendatangi sahabat yang merupakan penduduk asli Madinah, yaitu Abu Darda RA. Ia meminta tolong untuk ditemani ketika proses khitbah wanita yang ia dambakan itu.

    Mendengar pengakuan dari Salman Al Farisi RA yang hendak melamar wanita ini, Abu Darda RA pun sangat senang dan bahkan memeluknya sebagai bentuk dukungan.

    Tak ada perasaan ragu dalam diri seorang Abu Darda RA. Ia merasa, inilah saatnya untuk membantu saudara seimannya, sahabat sejatinya.

    Beberapa hari kemudian, Abu Darda RA mempersiapkan segala kebutuhan untuk lamaran tersebut. Salman Al Farisi RA pun mendatangi rumah sang pujaan hati ditemani sahabatnya itu.

    Selama perjalanan tidak ada perasaan lain melainkan kebahagiaan memenuhi hati keduanya. Setibanya rumah wanita tadi, keduanya disambut dengan baik oleh orang tua sang pujaan hati Salman Al Farisi RA.

    Di sinilah misi Abu Darda RA sebagai sahabat mulai dilancarkan. Ia memperkenalkan dirinya dan Salman Al Farisi RA dengan sangat baik dan tujuan mereka berkunjung.

    Tak lupa, ia pun menyinggung kedekatan Salman RA dengan Rasulullah SAW untuk dapat mendapatkan hati calon mertuanya.

    Mendengar itu semua, kedua orang tua wanita tadi merasa sangat terhormat. Ia senang dan langsung menanyakan hal ini kepada putrinya karena keputusan ada di tangan dirinya.

    Ternyata, sang putri sudah mendengar percakapan antara ayah dengan dua sahabat Rasulullah SAW itu. Ia pun segera memberikan jawabannya kepada ibunya untuk kemudian disampaikan kepada Salman Al Farisi RA dan Abu Darda RA.

    Jantung Salman Al Farisi RA pun sangat berdebar menunggu jawaban wanita idamannya itu. Dari balik hijab, terdengar suara sang ibu dari putri itu berkata,

    “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” kalimat ini membuat Salman Al Farisi RA dan Abu Darda RA berdebar menanti jawaban.

    “Namun karena kalian berdualah yang datang dan mengharap rida Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda RA juga memiliki keinginan yang sama seperti keinginan Salman Al Farisi RA.”

    Jawaban ini sangat mengejutkan baik untuk Salman Al Farisi RA dan Abu Darda RA. Niat hati ingin membantu sahabatnya untuk menggapai pujaan hatinya, yang terjadi malah cinta itu bertepuk sebelah tangan. Lebih mengejutkan lagi, bahwa yang disukai wanita itu adalah dirinya sendiri.

    Bukannya bersedih, marah, atau mencela sahabatnya sendiri, Salman Al Farisi RA adalah pria yang saleh, taat dan mulia. Oleh karena itu ia dengan segala ketegaran hati dan keikhlasannya malah berseru,

    “Allahuakbar!”

    Salman Al Farisi RA justru sangat senang dengan jawaban wanita itu. Ia bahkan menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya.

    Tanpa perasaan hati yang sakit, ia dengan ikhlas memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu. Bahkan, mahar dan nafkah yang telah dipersiapkannya diberikan kepada Abu Darda RA.

    Bahkan, Salman Al Farisi RA jugalah yang menjadi saksi pernikahan sahabatnya dan wanita tersebut.

    Begitu besar hati Salman Al Farisi RA bersamaan dengan sifat ikhlas dan tabah dalam menerima takdir dari Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Shuhaib bin Sinan, Sahabat Nabi yang Dermawan tapi Kaya Raya



    Jakarta

    Islam adalah agama yang berperan besar dalam mengubah dunia dari jaman jahiliyah menuju jaman yang terang benderang. Berbagai tokoh Islam juga memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran agama Islam.

    Di antara tokoh Islam tersebut adalah para Nabi utusan Allah SWT hingga para sahabat Nabi SAW. Salah satu sahabat Nabi yang berperan menyebarkan Islam adalah Shuhaib bin Sinan.

    Shuhaib bin Sinan adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang selalu untung. Berikut kisahnya.


    Biografi Shuhaib bin Sinan

    Merujuk pada buku Ensiklopedia Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas, Shuhaib bin Sinan merupakan putra Sinan bin Malik dan Salma binti Qa’id. Orang tua Shuhaib adalah orang Arab tulen.

    Ketika kecil, Shuhaib bin Sinan dipanggil al-Rumi karena ia pernah ditawan oleh Bangsa Romawi. Sedangkan Rasulullah SAW memanggilnya Abu Yahya.

    Shuhaib merupakan seorang anak yang sangat dicintai dan disayangi orang tuanya. Keluarga mereka hidup damai di dekat Sungai Efrat.

    Kisah Shuhaib bin Sinan, Sahabat Nabi yang Selalu Untung

    Dirangkum dari buku Rijal Haula Ar-Rasul oleh Khalid Muhammad Khalid, bahwa pada suatu ketika, negeri yang menjadi tempat tinggal Shuhaib diserang oleh Romawi. Tak hanya menyerang, Romawi juga menawan sejumlah penduduk untuk dijual belikan sebagai budak, termasuk Shuhaib bin Sinan.

    Shuhaib bin Sinan adalah anak yang cerdas, rajin, dan jujur. Atas dasar itulah, majikannya tertarik dan memerdekakan Shuhaib bin Sinan. Majikannya juga memberinya kesempatan untuk berniaga bersamanya.

    Suatu ketika, Shuhaib bin Sinan dan Ammar bin Yasir pergi ke rumah Arqam. Mereka menuju ke sana dengan penuh keberanian dalam menghadapi bahaya.

    Shuhaib telah menggabungkan dirinya dengan kafilah orang-orang beriman. Pernah diceritakan keadaan yang membuktikan besarnya rasa tanggung jawabnya sebagai seorang muslim yang telah bai’at kepada Rasulullah SAW dan bernaung di bawah panji-panji Islam.

    Shuhaib bin Sinan menjadi pribadi yang keras, ulet, zuhud tak kenal lelah, hingga dengan bekal tersebut ia berhasil mengatasi berbagai peristiwa dan menjinakkan marabahaya. Ia selalu menghadapinya dengan keberanian yang luar biasa. Shuaib tak pantang mundur dari segala pertempuran dan bahaya.

    Ketika Rasulullah SAW hendak hijrah, kafir Quraisy mencegahnya. Shuhai terjebak dan terhalang untuk hijrah, sedangkan Rasulullah SAW dan sahabatnya berhasil lolos atas barkah Allah SWT.

    Shuhaib berusaha menolak tuduhan Quraisy dengan cara bersilat lidah. Hingga ketika mereka lengah, Shuhaib naik ke punggung untanya dan melarikan diri menuju Sahara. Mengetahui hal itu, Quraisy menyusulnya dan usaha mereka hampir berhasil.

    Shuhaib kemudian menawar Quraisy yang hendak menangkapnya dengan menunjukkan tempat penyimpanan harta bendanya dengan syarat Quraisy harus membebaskannya. Quraisy pun menerima tawaran itu.

    Setelah menunjukkan tempat hartanya disimpan, Quraisy membiarkan Shuhaib hijrah hingga berhasil menyusul Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW sedang duduk dikelilingi beberapa sahabat, ketika dengan tidak diduga Shuhaib mengucapkan salamnya.

    Rasulullah SAW yang melihatnya berseru dengan gembira, “Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya! Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!”

    Kemudian turunlah surah Al Baqarah ayat 207,

    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ ٢٠٧

    Artinya: “Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari rida Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba(-Nya).”

    Memang, Shuhaib menebus dirinya yang beriman itu dengan segala harta kekayaannya. Shuhaib tidak merasa rugi sedikit pun karena hartanya tidak begitu berarti baginya.

    Di samping keshalihan dan ketaqwaannya, Shuhaib adalah seorang periang dan jenaka. Shuhaib juga merupakan sosok yang pemurah dan dermawan.

    Shuhaib membelanjakan tunjangannya dari Baitul Mal untuk di jalan Allah SWT. Uang itu ia gunakan untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin dalam kesengsaraan.

    Ketika Umar bin Khattab RA dipilih sebagai imam salat kaum muslim, beliau memilih enam sahabat untuk mengurus pemilihan khalifah baru. Khalifah kaum muslimin biasanya menjadi imam dalam salat-salat mereka.

    Saat ruhnya yang suci hendak menghadap Allah SWT, Umar bin Khattab RA kemudian memilih Shuhaib bin Sinan RA sebagai imam kaum muslimin menunggu munculnya khalifah baru. Maka peristiwa ini merupakan kesempurnaan karunia Allah SWT terhadap hamba-Nya yang shalih, Shuahaib bin Sinan.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Perang Badar, Salah Satu Pertempuran Besar dalam Sejarah Islam



    Jakarta

    Perang Badar terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah. Pertempuran ini disebut terbesar yang pertama dalam sejarah Islam.

    Kala itu, jumlah pasukan kaum muslimin dan kafir Quraisy tidak seimbang. Penyebab meletusnya sendiri ialah karena perseteruan umat Islam dengan kaum Quraisy yang musyrik, seperti dijelaskan dalam Kitab As-Sirah an-Nabawiyah tulisan Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi.

    Kaum Quraisy kerap kali berupaya memerangi Islam. Mereka menghalangi jalan Allah SWT dan membuat berbagai kesulitan terhadap kaum muslimin.


    Saat Perang Badar, pasukan muslimin berjumlah 313 orang, sementara tentara Quraisy mencapai 1.000 orang lebih.

    Mengutip Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Perang Badar terjadi saat pasukan Madinah menghadang kafilah dagang Quraisy yang pulang dari Syam menuju Makkah.

    Kafilah dagang Quraisy itu membawa harta kekayaan penduduk Makkah yang jumlahnya melimpah, yaitu sebanyak 1.000 unta membawa harta benda yang nilainya tidak kurang dari 5.000 dinar emas. Hal ini jadi kesempatan emas bagi pasukan Madinah untuk melancarkan pukulan yang telak bagi orang-orang kafir Quraisy. Ini menjadi serangan dalam bidang politik, ekonomi, dan militer.

    Karenanya, Nabi Muhammad SAW mengumumkan kepada orang-orang muslim seraya mengatakan,

    “Ini adalah kafilah dagang Quraisy yang membawa harta benda mereka. Hadanglah kafilah itu, semoga Allah SWT memberikan barang rampasan itu kepada kalian.”

    Akhirnya, hal tersebut menyebabkan Perang Badar pecah. Tanpa rasa takut, Nabi Muhammad SAW dan pasukannya berangkat dari Madinah menuju medan pertempuran.

    Dengan taktik dan siasat dari Rasulullah SAW pasukan Islam sampai terlebih dahulu ke mata air Badar. Hal ini menjadi taktik dan siasat bagi pasukan muslim supaya mereka memiliki cadangan air di tengah lembah gurun Badar.

    Hingga akhirnya peperangan pun dimulai. Orang pertama yang menjadi korban ialah Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi ia adalah seorang laki-laki yang kasar dan buruk akhlaknya.

    Ia keluar barisan dan mengancam pasukan muslim, ia datang untuk merebut mata air dan mengambil air minum. Namun kedatangannya langsung disambut oleh Hamzah bin Abdul Muthalib.

    Setelah saling berhadapan Hamzah langsung menebas kaki Al-Aswad di bagian betis hingga putus, ia pun lalu merangkak dan tercebur ke dalamnya. Tetapi secepat kilat Hamzah berhasil menyerangnya dan membuatnya meninggal dunia.

    Setelah itu, perang pun pecah dan orang Quraisy kehilangan 3 orang penunggang kuda yang merupakan komando pasukan mereka. Hal itu, membuat pasukan Quraisy murka dan menyerang pasukan muslim dengan membabi buta.

    Di sisi lain, Rasulullah SAW berdoa kepada Allah SWT dan memohon kemenangan, hingga akhirnya Rasulullah SAW dilanda rasa kantuk. Dalam riwayat Muhammad bin Ishaq disebutkan: “Rasulullah SAW bersabda, “Bergembiralah wahai Abu Bakar. Telah datang pertolongan Allah SWT kepadamu. Inilah Jibril yang datang sambil memegang tali kekang kuda yang ditungganginya di atas gulungan-gulungan debu.”

    Orang-orang muslim pun bertempur dengan bantuan para malaikat. Disebutkan dalam riwayat Ibnu Sa’d dari Ikrimah, dia berkata, “Pada saat itu ada kepala orang musyrik yang terkulai, tanpa diketahui siapa yang telah membabatnya. Ada pula tangan yang putus, tanpa diketahui siapa yang membabatnya.” Hingga akhirnya pasukan muslim pun menang dan orang Quraisy mundur dari pertempuran.

    Saking pentingnya Perang Badar Allah SWT bahkan menamai hari berlangsungnya pertempuran itu dengan Yaum al-Furqan. Maknanya sendiri ialah hari perbedaan. Kala itu, Allah SWT ingin membedakan antara yang hak dan batil.

    Peperangan hebat itu berlangsung selama dua jam. Pasukan muslim berhasil menghancurkan garis pertahanan tentara Quraisy yang menyebabkan mereka mundur secara berurutan.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Zuhudnya Imam an-Nawawi sampai Enggan Menikah


    Jakarta

    Para ulama terdahulu yang karya-karyanya masih hidup sampai hari ini banyak yang menjalani kehidupannya dengan zuhud. Tak terkecuali Imam an-Nawawi.

    Menurut buku Min A’lam As-Salaf karya Syaikh Ahmad Farid yang diterjemahkan Masturi Irham dan Asmu’i Taman, kehidupan Imam an-Nawawi dipenuhi dengan wira’i (menjaga dari perkara yang haram), zuhud, kesungguhan mencari ilmu, amal saleh, nahi munkar, cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

    Biografi Singkat Imam An-Nawawi

    Imam an-Nawawi lahir pada 631 H di Nawa, sebuah daerah yang masih bagian Damaskus. Ia memiliki nama lengkap Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam Al-Hizam Al-Haurani Ad-Dimasyqi Asy- Syafi’i.


    Imam an-Nawawi kerap dipanggil Abu Zakariya karena namanya Yahya. Ini merupakan tradisi orang Arab ketika memanggil orang yang memiliki nama Yahya dengan maksud meniru Yahya nabi Allah SWT dan ayahnya, Zakariya.

    Sementara itu, dalam Syarah Riyadhus Shalihin yang ditulis Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dan diterjemahkan M. Abdul Ghoffar dkk dikatakan, Imam an-Nawawi mendapat panggilan Abu Zakariya karena ia tidak menikah dan termasuk ulama yang membujang hingga akhir hayatnya.

    Imam an-Nawawi memiliki gelar Muhyiddin. Namun, dirinya tidak suka dengan gelar ini karena sikap dan rasa tawadhu’nya kepada Allah SWT yang amat besar.

    Kisah Zuhud Imam An-Nawawi

    Masih diambil dari sumber yang sama, Imam An-Nawawi adalah orang yang sangat zuhud terhadap perkara dunia yang tidak penting.

    Zuhud sendiri diartikan sebagai tindakan meninggalkan sesuatu karena tidak butuh dan menganggap remeh terhadap sesuatu tersebut namun senang atau melakukan sesuatu yang lebih baik dari yang ditinggalkannya itu.

    Imam An-Nawawi bukan orang yang mudah tergiur dengan dunia beserta perhiasannya yang fana. Sikap zuhud Imam an-Nawawi tercermin dalam kesehariannya. Ia rela makan, minum, dan memiliki pakaian yang sedikit.

    Imam An-Nawawi biasanya memakan roti Al-Ka’k dan buah zaitun hauran yang dikirim ayahnya karena ia tidak memiliki waktu untuk memasak atau makan. Hanya makanan-makanan ini saja yang ia makan sehari-hari.

    Imam An-Nawawi tidak serakah bahkan sangat sederhana dalam berpakaian. Ia rela memakai pakaian yang ditambal dan menempati asrama yang disediakan untuk para siswa.

    Di dalam kamarnya pun dipenuhi dengan kitab-kitab. Apabila ada tamu yang hendak mengunjunginya, ia harus menumpuk kitab-kitab itu agar para tamu bisa memiliki ruang untuk masuk.

    Kezuhudan Imam an-Nawawi terhadap dunia juga tampak dari sikapnya yang lain. Ia tidak memasuki kamar mandi umum yang di dalamnya terdapat pemanas air dan tidak memakan buah-buahan karena menjalani wira’i.

    Zuhud Imam An-Nawawi sampai pada tahapan tidak punya waktu untuk menikah dengan wanita yang cantik atau memiliki budak perempuan. Ia menggunakan seluruh hidupnya semata-mata untuk nasihat, mendalami ilmu, mengajar, mengarang, ibadah, zuhud, terutama zuhud dari nafsu.

    Imam An-Nawawi telah menempatkan dirinya pada posisi yang berbahaya ketika ia menasihati pemerintah kala itu. Ia mengirim surat kepada Ibnu An-Najjar dengan mengatakan, “Alhamdulillah, aku termasuk orang yang suka meninggal dalam keadaan taat kepada Allah SWT.”

    Al-Yunini mengatakan, “Perkara yang menyebabkan ia berada di barisan terdepan dari para ulama adalah banyaknya zuhud, taat agama, dan wira’inya di dunia.”

    Imam an-Nawawi wafat pada 24 Rajab 676 H dan dimakamkan di kampung halamannya, Nawa. Ia meninggalkan karya-karya menjadi rujukan umat Islam hingga kini.

    Beberapa karya Imam an-Nawawi antara lain Syarhu Shahiih Muslim, al-Adzkaar, al-Arba’uun an-Nawawiyyah, al-Isyaaraat ilaa Bayaanil Asmaa’ al-Mubhamaat, at-Taqriib, Irsyaadu Thullaabil Haqaa’iq ilaa Ma’rifati Sunani Khairil Khalaa’iq, Syarhu Shahiih al-Bukhari, Syarhu Sunan Abi Dawud, dan Riyaadhus Shaalihiiin min kalaami Sayyidil Mursaliin.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Nabi Muhammad Bertemu Nabi Adam di Surga


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW pernah bertemu Nabi Adam AS di surga. Peristiwa ini terjadi saat Rasulullah SAW melakukan Mikraj, perjalanan dari Masjid Al Aqsa ke Sidratul Muntaha.

    Kisah pertemuan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Adam AS diceritakan Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiyaa dan diterjemahkan oleh Umar Mujtahid. Ibnu Katsir menyandarkan kisah ini dengan hadits Isra’ dalam kitab Shahihain.

    Diceritakan, dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril melewati setiap lapisan langit. Beliau bertemu Nabi Adam AS di langit paling bawah.


    Saat melihat kedatangan Nabi Muhammad SAW, Nabi Adam AS berkata, “Selamat datang anak saleh dan nabi saleh.”

    Nabi Muhammad SAW melihat di samping kanan dan kiri Nabi Adam AS ada kumpulan banyak manusia. Saat melihat ke kanan, Nabi Adam AS tertawa dan saat melihat ke kiri, Nabi Adam AS menangis.

    Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapa dia?” Jibril menjawab, “Dia Adam, dan mereka itu anak keturunannya. Saat melihat ke sebelah kanan–mereka adalah para penghuni surga, Adam tertawa, dan saat melihat ke sebelah kiri, mereka adalah para penghuni neraka, Adam menangis.”

    Terkait Nabi Adam AS, Abu Bakar Al-Bazzar menyebut riwayat dari Muhammad bin Mutsanna, dari Yazid bin Harun, dari Hisyam bin Hassan yang mengatakan, “Akal Adam sama seperti akal seluruh anak keturunannya.”

    Dalam riwayat lain dikatakan, Nabi Muhammad SAW melintas di hadapan Nabi Yusuf AS, beliau bersabda, “Aku melintas di hadapan Yusuf, ternyata ia diberi separuh ketampanan.”

    Sebagian ulama menafsirkan makna hadits tersebut adalah Nabi Yusuf AS diberi separuh ketampanan Nabi Adam AS. Ibnu Katsir berpendapat makna ini sesuai karena Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dan membentuknya dengan tangan-Nya, meniupkan roh padanya dan makhluk yang Allah SWT ciptakan pasti memiliki keindahan yang paling baik.

    Dalam Shahihain juga terdapat riwayat lain dari sejumlah jalur yang menyebut Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, Allah menciptakan Adam sesuai wujud-Nya (sifat-sifat-Nya).” (HR Bukhari)

    Nabi Muhammad Bertemu Nabi-nabi Lain

    Nabi Muhammad SAW juga bertemu nabi-nabi lain saat melakukan perjalanan menuju Sidratul Muntaha. Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab al-Isra’ wa al-Mi’raj yang diterjemahkan oleh Arya Noor Amarsyah menceritakan, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS di langit kedua.

    Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yusuf AS di langit ketiga dan berjumpa Nabi Idris AS di langit keempat.

    Beliau kemudian melanjutkan perjalanan. Saat tiba di langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun AS dan bertemu dengan Nabi Musa AS di langit keenam.

    Terakhir, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh. Menurut riwayat Nabi Ibrahim AS saat itu sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Ma’mur–Ka’bah-nya para malaikat penduduk langit.

    Para nabi terdahulu itu memberikan sapaan hangat kepada Nabi Muhammad SAW dan mendoakan kebaikan untuk beliau.

    Kisah bertemunya Nabi Muhammad SAW dengan para nabi terdahulu di setiap lapisan langit itu mengacu pada hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Syaiban ibn Farukh, dari Hamad ibn Salamah, dari Tsabit al-Banani, dari Anas ibn Malik RA yang menceritakan dari Rasulullah SAW. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan ini adalah hadits yang paling kuat dan tidak diperselisihkan.

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ayub dan Kesabarannya Hadapi Beratnya Ujian


    Jakarta

    Allah SWT mengutus para nabi untuk menyampaikan ajaran tauhid. Para nabi utusan Allah SWT tersebut melewati berbagai ujian selama berdakwah.

    Nabi Ayub AS adalah salah satu nabi yang terkenal dengan kesabarannya dalam menghadapi ujian. Berikut kisah Nabi Ayub AS dan kesabarannya menghadapi ujian.

    Kisah Kesabaran Nabi Ayub

    Dirangkum dari buku Qashash al-Anbiyaa karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan oleh Umar Mujtahid, Nabi Ayub AS termasuk salah satu nabi yang diberikan wahyu, seperti yang tertera dalam surah An-Nisa’ ayat 163,


    ۞ اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ ١٦٣

    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya. Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan keturunan(-nya), Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Kami telah memberikan (Kitab) Zabur kepada Daud.”

    Nabi Ayub AS adalah orang yang kaya raya. Ia memiliki berbagai jenis harta, mulai dari binatang ternak, budak, hewan, tanah yang terbentang dari Tsaniyah sampai Hauran. Nabi Ayub AS juga memiliki banyak anak dan istri.

    Meski memiliki harta kekayaan yang sangat melimpah, Nabi Ayub AS mendapatkan berbagai ujian pada tubuhnya. Tidak ada satu pun anggota badan yang sehat tanpa penyakit, selain hati dan lisan.

    Dengan hati dan lisan, Nabi Ayub AS senantiasa menyebut Allah SWT. Ia menghadapi semua ujian itu dengan sabar dan selalu mengingat Allah SWT.

    Lamanya Nabi Ayub AS sakit membuat teman dekatnya merasa jijik. Hingga Nabi Ayub AS diusir dari kampung halamannya. Tidak ada satu orang pun yang merasa iba kepada dirinya, selain istrinya.

    Istri Nabi Ayub AS senantiasa menjaga haknya. Ia sering menengok Nabi Ayub AS, merawatnya, dan membantunya untuk buang hajat.

    Kondisi istri Nabi Ayub AS mulai lemah dan harta bendanya semakin berkurang. Ia kemudian bekerja pada orang lain untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan. Sang istri senantiasa bersabar menghadapi ujian bersama Nabi Ayub AS.

    Semua ujian yang menimpa tersebut membuat Nabi Ayub AS senantiasa sabar. Ia selalu mengharap pahala, memuji dan bersyukur, hingga menjadi perumpamaan dalam kesabaran, juga perumpamaan orang yang mendapat berbagai macam ujian.

    Namun karena orang-orang sudah mengetahui bahwa istri Nabi Ayub AS yang bekerja bersama mereka, orang-orang tersebut tidak mau menggunakan jasa istri Nabi Ayub AS lagi. Sebab, mereka khawatir akan tertimpa ujian seperti yang dialami Nabi Ayub AS atau tertular penyakitnya.

    Kemudian istri Nabi Ayub AS menjual sebagian salah satu kucir rambut pada putri salah seorang terhormat dengan imbalan makanan enak dan banyak. Ia membawakan makanan itu untuk Nabi Ayub AS. Nabi Ayub AS senantiasa berdoa kepada Allah SWT dan mengharap kesembuhan penyakitnya.

    Suatu hari, istri Nabi Ayub AS tidak kunjung datang, lalu Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Ayyub AS. Allah SWT berfirman,

    اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ ٤٢

    Artinya: “(Allah berfirman,) “Entakkanlah kakimu (ke bumi)! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” (QS Sad: 42)

    Kemudian Nabi Ayub AS mandi dan minum dengan air tersebut. Ketika istrinya datang, Nabi Ayub AS pun menghampirinya. Ujian yang menimpa Nabi Ayub AS telah hilang. Nabi Ayub AS terlihat lebih tampan dari sebelumnya.

    Namun karena ketampanan Nabi Ayub AS, istrinya pun bingung dan berkata kepada Nabi Ayub AS, “Hai hamba Allah! Ke mana perginya orang yang tertimpa ujian yang biasa berada di sini? Sepertinya ia telah dibawa pergi anjing atau serigala.”

    Nabi Ayub AS pun berkata kepada istrinya, “Bagaimana kau ini? Aku Ayub!” Istrinya berkata, “Apa kau meledekku, wahai hamba Allah?” Nabi Ayub AS kembali berkata, “Bagaimana kau ini? Ini aku, Ayub! Allah telah mengembalikan tubuhku.”

    Allah SWT telah menghilangkan penyakit dan gangguan yang ada pada Nabi Ayub AS secara lahir dan batin. Allah SWT menggantinya dengan kesehatan lahir batin, rupa nan elok, dan harta benda yang banyak. Allah SWT juga menurunkan hujan belalang emas padanya dan mengembalikan keluarganya.

    Inilah jalan keluar yang Allah SWT berikan bahwa hamba yang bertakwa dan taat kepada-Nya. Terlebih terkait istrinya yang sabar lagi mengharap pahala, pendamping setia, berbakti, dan bertindak dengan benar.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com