Blog

  • Kisah Abu Yazid Al-Busthami dan Pengabdiannya kepada Sang Ibu



    Jakarta

    Seorang sufi dan ulama ternama pada zamannya, Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusan Al-Busthami, memiliki kisah menyentuh. Kasih sayangnya kepada sang ibu sangat luar biasa dan bisa dijadikan teladan.

    Fariduddin Aththar menceritakan kisah itu dalam kitab Tadzkiratul Auliya (Damaskus: Al-Maktabi, 2009), halaman 184-187, sebagaimana dikutip oleh Kemenag.

    Diceritakan, Abu Yazid pada saat itu masih muda. Ia sedang mengemban ilmu di sebuah pondok pesantren.


    Ketika mengaji tafsir Al-Qur’an, hati Abu Yazid tiba-tiba saja tersentuh mendengar gurunya menjelaskan surat Lukman ayat 14.

    اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ

    Artinya: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.”

    Hati Abu Yazid yang terguncang langsung mengingatkannya pada sang ibu di rumah. Kemudian Abu Yazid memohon izin kepada gurunya untuk pulang menjumpai ibunya.

    Sang guru pun mengizinkan Abu Yazid pulang. Ia kemudian pergi ke rumahnya dengan tergesa-gesa.

    Saat melihat kehadiran Abu Yazid di rumah, ibunya merasa terkejut dan heran.

    “Thaifur, mengapa kamu kembali?” tanya ibunya.

    Abu Yazid kemudian menjelaskan kejadian yang dialaminya. Ketika tengah mengaji hingga mencapai Surat Lukman ayat 14, hatinya tersentuh dan bergetar.

    “Aku tak mampu melaksanakan dua ibadah syukur secara bersamaan,” kata Abu Yazid.

    Menyaksikan anak tercintanya berada dalam dilema, sang ibu memutuskan untuk membebaskan Abu Yazid dari segala kewajiban terhadapnya. Ia minta Abu Yazid lebih baik menuntut ilmu daripada merawatnya.

    “Anakku, aku melepaskan segala kewajibanmu terhadapku dan menyerahkanmu sepenuhnya kepada Allah. Pergilah dan jadilah seorang hamba Allah,” ucap ibunya.

    Setelah itu, Abu Yazid meninggalkan kota Bustham dan menjadi “santri kelana,” merantau dari satu negeri ke negeri lain selama 30 tahun. Selama perjalanan itu, ia berguru kepada 113 guru spiritual.

    Hari-hari Abu Yazid diisi dengan puasa dan tirakat, hingga akhirnya ia menjadi seorang ulama sufi yang memiliki pengaruh di dunia tasawuf.

    Kisah yang berbeda juga dijelaskan dalam kitab yang sama. Abu Yazid pernah memegang tempat minum ibunya selama berjam-jam.

    Hal itu terjadi pada suatu malam, sang ibu terbangun dan merasa haus. Namun ternyata stok air minum sudah habis.

    Akhirnya Abu Yazid keluar rumah untuk mencari air. Setibanya di rumah, ia menemukan ibunya telah kembali tertidur.

    Semenjak itu, Abu Yazid memutuskan untuk melawan rasa kantuknya. Ia begadang semalam suntuk untuk memastikan sang ibu tidak kesulitan mendapatkan air minum.

    “Nak, kenapa kamu belum tidur?” tanya sang ibu.

    “Jika aku tidur, aku takut ibu tidak menemukan air minum ini,” jawab Abu Yazid.

    Dari cerita ini, kita dapat menarik hikmah bahwa persetujuan dan doa orang tua, terutama dari seorang ibu, memiliki nilai yang besar dan dapat mempengaruhi arah hidup seseorang. Berbakti kepada orang tua membawa berkah dan keberuntungan.

    Sebaliknya, jika berlaku durhaka terhadap orang tua kita akan mendapatkan keburukan. Baik di dunia maupun di akhirat.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Qais bin Sa’ad, Sahabat Rasulullah yang Dermawan


    Jakarta

    Para sahabat Rasulullah SAW memiliki perannya masing-masing. Meski demikian, mereka memiliki satu tujuan utama, yaitu untuk menyebarkan agama Islam.

    Qais bin Sa’ad RA adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang berperan besar. Ia terkenal dengan sifatnya yang dermawan. Berikut sosok Qais bin Sa’ad RA beserta perannya.

    Mengenal Qais bin Sa’ad, Pemuda yang Dermawan

    Dirangkum dari buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas, Qais bin Sa’ad bin Ubadah adalah sahabat Nabi SAW yang berasal dari kalangan Anshar keturunan suku Khazraj. Qais bin Sa’ad tumbuh besar di keluarga yang harmonis, santun, dan mulia.


    Dalam pertumbuhannya, Qais bin Sa’ad menjadi seorang yang cerdik dan waspada, seperti anak singa yang beranjak dewasa. Sebab ayah dan kakeknya merupakan orang yang sangat dermawan, ia juga mendapatkan warisan kedermawanan tersebut.

    Keluarga Qais bin Sa’ad merupakan keluarga yang terpandang. Mereka menjadi penolong-penolong agama Allah SWT dan Rasulullah SAW.

    Dirangkum dari buku The Great Sahaba oleh Rizem Aizid, terdapat beberapa cerita mengenai kedermawanan Qais bin Sa’ad. Salah satunya yaitu ketika Umar RA dan Abu Bakar RA yang membicarakan kedermawanan Qais.

    Salah satu dari mereka berkata, “Kalau kita biarkan pemuda ini dengan kemurahan hatinya, niscaya harta ayahnya akan habis tidak tersisa.” Saad bin Ubadah yang tidak jauh dari mereka mendengar percakapan mereka. Kemudian, Sa’ad bin Ubadah berkata kepada mereka dengan tegas, “Siapakah yang dapat membela diriku terhadap Abu Bakar dan Umar? Mereka mengajarkan kekikiran kepada anakku dengan memperalat namaku.”

    Peran Qais bin Sa’ad RA

    Dirangkum dari sumber sebelumnya, Qais bin Sa’ad merupakan orang yang sangat dermawan. Selain terkenal dengan sifatnya yang dermawan, Qais bin Sa’ad juga terkenal dengan keberanian dan keperwiraannya.

    Qais bin Sa’ad mengikuti berbagai peperangan bersama Rasulullah SAW dan tidak pernah absen dalam berjihad di jalan Allah SWT. Qais bin Sa’ad juga menjadi pengawal yang menemani Rasulullah SAW dimana pun dan kapan pun beliau berada.

    Bahkan, setelah Rasulullah SAW wafat, Qais bin Sa’ad tetap senantiasa berjihad di jalan Allah SWT. Ia mengutamakan keberanian yang berlandaskan kebenaran dan kejujuran serta tidak pernah bermain curang apalagi licik.

    Ketika tiga peperangan (Perang Shiffin, Jamal, dan Nahrawan) di masa Ali bin Abi Thalib terjadi, Qais menjadi salah satu pahlawan yang berperang tanpa takut dan mati. Sebagai balasan aas jasanya, Ali bin Abi Thalib RA mengangkat Qais bin Sa’ad menjadi Gubernur Mesir.

    Setelah Ali bin Abi Thalib RA wafat, Qais memandang Hasan sebagai tokoh yang cocok menurut syariat untuk menjadi Amirul Mukminin. Qais pun berbaiat kepadanya dan berdiri di sampingny sebagai pembela.

    Peristiwa pembaiatan tersebut terjadi pada bulan Ramadhan tahun 40 H. Sejak saat itu, Hasan menjadi khalifah dan Qais bin Sa’ad menjadi Amir di wilayah Azerbaijan dengan mengomando 40.000 pasukan.

    Wafatnya Qais bin Sa’ad

    Dirangkum dari sumber sebelumnya, Qais bin Sa’ad wafat pada 59 H di Madinah karena pembunuhan. Saat itu, Qais sedang bertempur di pihak Hasan melawan Mu’awiyah.

    Qais mendapat perintah dari Hasan bin Ali agar berada di barisan terdepan dengan memimpin 12.000 pasukan. Ketika Qais berangkat ke Syam, tiba-tiba ada teriakan lantang yang mengatakan bahwa Qais bin Sa’ad telah terbunuh.

    Hal tersebut membuat Hasan dan pasukannya panik dan segera mengemas perbekalan mereka. Mereka juga membongkar dan mengemas tenda yang ditempati Hasan.

    Demikianlah akhir hidup dari Qais bin Sa’ad. Semoga Allah SWT senantiasa mengaruniakan rahmat kepadanya. Amin.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Wasiat Nabi Khidir kepada Nabi Musa Jelang Perpisahannya


    Jakarta

    Nabi Musa AS dikisahkan pernah bertemu Nabi Khidir AS dalam suatu perjalanan spiritualnya. Dalam perjumpaan itu, Nabi Khidir AS memberikan wasiat kepada Nabi Musa AS.

    Nabi Khidir AS tidak termasuk dalam 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui umat Islam. Meski demikian, ada ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kisah pertemuannya dengan Nabi Musa AS dan ini diperjelas dalam sejumlah hadits.

    Kisah tersebut turut diceritakan Imam Ibnu Katsir dalam kitab Qashash al-Anbiyaa yang diterjemahkan Umar Mujtahid. Dikatakan, Nabi Khidir AS berwasiat kepada Nabi Musa AS setelah mengatakan,


    قَالَ هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَۚ سَاُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا ٧٨

    Artinya: “Dia berkata, “Inilah (waktu) perpisahan antara aku dan engkau. Aku akan memberitahukan kepadamu makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.” (QS Al Kahfi: 78)

    Saat Nabi Musa AS hendak berpisah dengan Nabi Khidir AS, ia berkata, “Beri aku wasiat.” Kemudian, Nabi Khidir AS memberikan wasiat kepadanya dengan berkata, “Jadilah orang yang berguna, dan jangan menjadi orang yang membahayakan, cerialah selalu dan jangan suka marah, tinggalkan gelombang dan jangan menempuh perjalanan yang tidak diperlukan.”

    Ibnu Katsir menyandarkan hal ini dengan riwayat Al Baihaqi dari Abu Abdullah Al-Malathi. Dalam riwayat lain dikatakan, Nabi Khidir AS menambah nasihatnya dengan mengatakan, “Dan jangan marah, kecuali saat merasa kagum.”

    Wahab bin Munabbih turut meriwayatkan bahwa Nabi Khidir AS berkata, “Wahai Musa! Di dunia, manusia disiksa sebatas pikiran mereka terhadap dunia.”

    Adapun, Bisyr bin Harits Al Hafi mengatakan saat Nabi Musa AS meminta nasihat kepada Nabi Khidir AS, Nabi Khidir AS pun menasihati, “Semoga Allah memberikan kemudahan padamu untuk taat pada-Nya.”

    Kisah Pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir

    Rasulullah SAW pernah menceritakan kisah pertemuan Nabi Musa AS dengan Nabi Khidir AS. Beliau bersabda,

    “Saudaraku, Musa, berdoa, ‘Ya Rabb!’ Musa menyebutkan doa yang dimaksud, kemudian ia dihampiri Khidir, ia masih muda, harum aromanya, putih bajunya, dan lengannya dilipat. Khidir kemudian mengucapkan, ‘Assalaamu ‘alaika wa rahmatullah, wahai Musa bin Imran. Rabb-mu titip salam untukmu.’

    Musa menjawab, ‘Huwas Saalam wa ilahis salaam (Ia Maha Pemberi keselamatan dan kepada-Nya juga keselamatan kembali), segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam, yang nikmat-nikmat-Nya tiada mampu kuhitung, dan tiada mampu aku mensyukurinya tanpa pertolongan-Nya’.”

    Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya bahwa setelah itu Nabi Musa AS meminta nasihat kepada Nabi Khidir AS. Nabi Khidir AS pun memberikan nasihat tentang bagaimana semestinya manusia menjalani kehidupan di dunia.

    Berikut penggalan nasihatnya,

    Wahai penuntut ilmu! Orang yang berkata itu lebih sedikit merasa bosan daripada orang yang mendengar. Karenanya, janganlah engkau membuat teman-temanmu merasa bosan kala kau berbicara pada mereka. Ketahuilah! Hatimu adalah wadah, maka perhatikan isi yang kau masukkan dalam wadahmu itu. Jauhilah dunia dan lemparkan jauh ke belakangmu, karena dunia bukan tempat menetap bagimu, dunia hanya tempat untuk mencari rezeki sekedarnya, tempat mencari bekal untuk hari kiamat, relakan dirimu untuk bersabar, dan lepaskan diri dari dosa!

    Kisah tersebut termuat dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan Ibnu Asakir dari jalur Zakariya bin Yahya Al Waqqad. Sayangnya, kata Ibnu Katsir, Zakariya bin Yahya Al Waqqad termasuk salah seorang pendusta besar.

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Al Mahdi Penuhi Kehidupan Akhir Zaman dengan Keadilan



    Jakarta

    Umat Islam disebut akan memasuki kehidupan yang penuh keadilan di bawah kepemimpinan Al Mahdi. Hal ini terjadi saat mendekati kiamat.

    Kisah keadilan kepemimpinan Al Mahdi ini diceritakan dalam hadits shahih sebagaimana termuat dalam Qashash Al Ghaib Fii Shahih Al Hadits An-Nabawi karya Umar Sulaiman Al-Asyqar yang diterjemahkan Asmuni.

    Diriwayatkan dari Abu Sa’id dan Jabir bin Abdullah, keduanya berkata, “Di akhir zaman adalah seorang khalifah yang membagi-bagikan harta dengan tidak menghitungnya lagi.”


    Khalifah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Al Mahdi. Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan dari Nabi SAW yang bersabda, “Hadir di tengah-tengah umatku Al Mahdi. Jika masanya sebentar, maka itu berlangsung selama tujuh tahun dan jika tidak, maka selama sembilan tahun. Selama durasi tersebut umatku menikmati kenikmatan yang mereka belum pernah menikmati situasi seperti itu sebelumnya sama sekali. Diberikan segala buah-buahan dan tidak ada di antara umatku yang menyimpannya sedikit pun. Ketika itu harta ditolak, sehingga seseorang berdiri dan berkata, ‘Wahai Mahdi, beri aku sesuatu.’ Maka, dia mengatakan, ‘Ambillah’.”

    Terkait hadits tersebut, Umar Sulaiman Al-Asyqar menjelaskan, nama Al Mahdi yang diucapkan Rasulullah SAW adalah seorang khalifah yang menangani segala urusan kaum muslimin di akhir zaman. Dia memenuhi dunia dengan keadilan di tengah dunia yang penuh kedustaaan dan kezaliman,

    Allah SWT menguatkan Al Mahdi dengan kemenangan untuk mengalahkan kekuatan jahat dan perusak yang berkuasa. Sosoknya menjadi contoh hakim muslim yang wara’ dan kuat dalam menegakkan keadilan dan menghancurkan kezaliman.

    Para ahli ilmu memandang Al Mahdi sebagai seorang khalifah yang banyak mengeluarkan harta pada zamannya. Dia memberikan hartanya kepada siapa pun yang memintanya dan ia tidak pernah menghitungnya lagi.

    Menurut penuturan Umar Sulaiman Al-Asyqar, kesejahteraan kaum muslimin di zaman Al Mahdi lebih besar daripada di zaman Khalifah Ar Rasyid Umar bin Abdul Aziz. Kemakmuran di zaman Khalifah Umar sampai pada tingkatan seseorang tidak menemukan orang yang berhak mengambil sedekahnya, sedangkan di zaman Al Mahdi sampai pada kondisi orang-orang bersedekah memberikan hartanya.

    Sejarawan dan ahli tafsir, Imam Ibnu Katsir, dalam kitab An Nihayah seperti diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan, mengatakan bahwa Al Mahdi merupakan salah seorang Khulafaur Rasyidin dan imam yang mendapat petunjuk Allah SWT (Al-A’immah Al-Mahdiyyin). Menurut riwayat Ummu Salamah, ia Al Mahdi adalah keturunan Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW bersabda,

    الْمَهْدِي مِنْ عِتْرَتِي مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ

    Artinya: “Al Mahdi itu dari keturunanku, dari anak cucu Fatimah.” (HR Abu Dawud)

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kesabaran Nabi Musa AS dan Dua Ekor Burung



    Jakarta

    Nabi Musa AS dikenal sebagai nabi yang sabar. Semasa hidupnya, ia pernah beberapa kali diberi ujian oleh Allah SWT.

    Nabi Musa AS lahir di zaman kepemimpinan Fir’aun, raja yang dzalim terhadap Bani Israil. Firaun zaman Nabi Musa AS terkenal sebagai raja yang sangat biadab dan kejam kepada rakyatnya, terutama kepada Bani Israil.

    Beberapa kisah tentang Nabi Musa AS termaktub dalam Al-Qur’an, seperti dalam surat Al Qashash, surat Al Baqarah, dan surah Taha.


    Kisah Nabi Musa AS dan Burung

    Merangkum dari buku Kisah Orang-orang Sabar oleh Nasiruddin, dikisahkan pada suatu hari, ketika Nabi Musa AS dan Yusya’ bin Nun bepergian, tiba-tiba hinggaplah seekor burung putih di bahu Nabi Musa AS.

    Atas kuasa Allah SWT, burung tersebut bisa berbicara. Burung putih ini berkata, “Hai Musa! Jagalah aku pada hari ini dari ancaman maut. Sebab, aku akan dimangsa oleh burung elang.”

    Mendengar hal tersebut, Nabi Musa AS mengizinkan burung itu masuk ke dalam bajunya.

    Tak lama kemudian, burung elang datang menghadap beliau seraya berkata, “Hai Musa! Jangan kau halangi diriku untuk memangsa buruanku.”

    “Bagaimana kalau kusembelihkan domba untukmu?” tanya Nabi Musa AS memberi tawaran.

    “Daging domba bukanlah makananku,” jawab elang.

    “Bagaimana kalau daging pahaku ini?” tanya Nabi Musa lagi.

    “Aku hanya bersedia jika memakan dua biji mata Anda,” jawab elang.

    Maka, Nabi Musa AS langsung merebahkan tubuhnya di tanah dan dalam keadaan terlentang. Burung elang lantas hinggap di dada beliau untuk mematuk bola mata beliau dengan paruhnya.

    Melihat apa yang dilakukan Nabi Musa AS, Yusya’ bin Nun menyahut, “Hai Musa! Apakah kedua bola matamu itu begitu sepele untuk membela burung itu?”

    Ketika itulah burung putih terbang dari bagian lengan baju beliau, dan elang pun memburunya. Anehnya, kedua burung itu tiba-tiba kembali menghadap Nabi Musa AS.

    “Sebenarnya aku adalah malaikat Jibril,” kata seekor burung putih.

    “Dan aku adalah malaikat Mikail,” jawab burung yang satunya.

    “Allah memerintahkan kepada kami berdua untuk menguji sampai sejauh mana kesabaranmu dalam mengabdi ketentuan Allah SWT,” seru keduanya.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Utsman bin Affan Hendak Dibunuh Kaum Quraisy Sebelum Perjanjian Hudaibiyah



    Jakarta

    Utsman bin Affan pernah diutus Rasulullah SAW untuk mendatangi Makkah dan bertemu kaum Quraisy. Seruannya untuk mengajak pada perdamaian ternyata disambut dengan amarah yang membuat kaum Quraisy hendak membunuh Utsman.

    Utsman bin Affan adalah sahabat Rasulullah SAW yang dikenal setia serta berani membela ajaran Islam. Ia bahkan sama sekali tak gentar meskipun dirinya diancam untuk dibunuh.

    Mengutip buku 150 Kisah Utsman ibn Affan oleh Ahmad Abdul Al Atl-Thathawi dikisahkan bahwa Rasulullah SAW mengutus Utsman bin Affan untuk menghadapi kaum Quraisy dalam Perjanjian Hudaibiyah dan menyeru untuk menghindari peperangan. Rasulullah SAW memanggil Utsman dan berkata,


    “Pergilah kepada kaum Quraisy dan beritahu kepada mereka bahwa kita tidak datang untuk memerangi mereka, tetapi kita datang sebagai pengunjung Baitullah dan pengagung kehormatannya. Kita juga membawa hewan sembelihan. Kita akan menyembelihnya, kemudian pergi.”

    Peristiwa ini terjadi sebelum disepakatinya Perjanjian Hudaibiyah.

    Kaum Quraisy Mencoba Membunuh Utsman

    Mendengar perintah dari Rasulullah SAW, Utsman lantas pergi sendirian menyusuri perbatasan Tanah Haram, Makkah untuk menemui penduduk Makkah. Dengan berani Utsman melangkah tanpa rasa takut dan khawatir akan bahaya yang mengintainya.

    Di pesisir Makkah dan Lembah Baldah, Utsman bertemu dengan orang-orang bersenjata yang terdiri atas para ksatria Quraisy. Mereka hendak membunuh Utsman yang dianggap telah masuk ke wilayah Quraisy.

    Utsman hampir saja dibunuh jika tidak ada Aban ibn Sa’id ibn Al-Ash ibn Abi Al-Ash ibn Umayyah ibn Abd Syam yang memberikan jaminan kepada para petugas yang berjaga. Aban ibn Sa’id memberikan jaminan perlindungan bagi putra dari pamannya itu (Utsman bin Affan).

    Dia berseru, ” Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Utsman berada dalam perlidunganku. Maka, biarkanlah Utsman!”

    Kedatangan Utsman Membawa Pesan Bagi Kaum Quraisy

    Utsman tiba di Baldah, sebuah daerah dekat Makkah. Di sana, ia bertemu dengan orang-orang Quraisy. Mereka lantas bertanya, “Hendak ke manakah kamu?”

    Utsman menjawab, “Rasulullah SAW telah mengutusku agar menemui kalian untuk menyeru kepada Allah dan Islam. Kalian semua hendaknya masuk agama Allah. Sebab, Allah pasti akan memenangkan agama-Nya dan memuliakan Nabi-Nya. Jika tidak, hendaklah kalian membiarkan kami. Lalu, urusan selanjutnya diserahkan kepada orang-orang selain kalian. Jika mereka berhasil mengalahkan Muhammad, itulah yang kalian inginkan. Namun jika Muhammad yang menang, kalian memiliki pilihan: apakah kalian masuk ke agama Islam atau kalian memerangi kami dengan jumlah kalian yang banyak dan lengkap. Padahal, sesungguhnya peperangan telah menyiksa kalian dan menghilangkan orang-orang terpilih di antara kalian.”

    Menurut Al Shalabi dalam buku berjudul Utsman bin Affan, Utsman terus berbicara kepada mereka tentang hal-hal yang sebenarnya tidak ingin mereka dengar. Kaum Quraisy lantas berkata, “Kami telah mendengarkan apa yang kamu ucapkan. Dan hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Dia (Muhammad) tidak akan pernah memasuki Makkah dengan jalan kekerasan. Pulanglah kepada kawanmu itu. Beri tahukan kepadanya bahwa dia tidak akan pernah sampai kepada kami.”

    Utsman Membalas Kebaikan Abdullah ibn Sa’aad

    Usai menyampaikan pesan kepada kaum Quraisy, Utsman tidak pernah lupa dengan kebaikan Abdullah ibn Saad ibn Abi Al Sarh yang telah memberinya perlindungan dan menjaganya selama di Makkah.

    Ketika terjadi pembebasan Makkah, Abdullah ibn Sa’ad bersembunyi di rumah Utsman. Kemudian Utsman membawa dan mengantarkannya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, Abdullah telah berbaiat, lalu dia membatalkan baiatnya (keluar dari Islam).” Beliau pun melihat Abdullah tiga kali. Hal itu menunjukkan bahwa beliau tidak suka. Namun beliau membaiatnya kembali ke dalam Islam setelah melihatnya tiga kali.

    Setelah itu, beliau menghadap kepada para sahabat dan bertanya, “Tidakkah di antara kalian ada orang yang mengerti dan menghampiri orang ini untuk membunuhnya ketika aku tidak mengulurkan tanganku untuk membaiatnya?”

    Mereka menjawab, “Kami tidak mengetahui apa yang ada di dalam benakmu, wahai Rasulullah. Mengapa engkau tidak memberikan isyarat mata kepada kami?”

    Rasulullah menjawab, “Seorang nabi tidak patut memiliki mata yang berkhianat.”

    Abdullah ibn Sa’ad adalah salah seorang penulis wahyu. Namun, ia murtad dan melarikan diri ke Makkah. Karena itulah Rasulullah SAW menghalalkan darahnya untuk dibunuh.

    Merujuk pada buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Fida Abdillah, akhirnya Rasulullah dan kaum Quraisy menyepakati Perjanjian Hudaibiyah. Situasi di Makkah menjadi aman dan tidak ada peperangan. Bahkan, pengikut Nabi Muhammad SAW yang pada awalnya hanya berjumlah 1.400 orang bertambah menjadi hampir 10.000 orang.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kesabaran Nabi Yakub ketika Kehilangan Sang Putra



    Jakarta

    Nabi Yakub AS termasuk ke dalam 25 nabi yang wajib diketahui dalam Islam. Kisahnya tercantum dalam Al-Qur’an.

    Yakub AS adalah putra dari Nabi Ishaq. Dahulu, dirinya memiliki saudara kembar bernama Aish, seperti dijelaskan dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul oleh Dr h Ridwan Abdullah Sani M Si dan Muhammad Kadri S Si MSc.

    Karena keduanya kurang akur, akhirnya Nabi Ishaq menyuruh Yakub AS untuk merantau ke Irak. Ia diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah di negeri Kan’an.


    Selain memiliki kepribadian yang baik, Nabi Yakub AS dikenal sebagai sosok yang sangat sabar. Bahkan ketika ditimpa musibah dan menghadapi tipu daya putra-putranya.

    Beliau memiliki anak yang juga seorang nabi, yaitu Yusuf AS. Nabi Yakub AS sangat menyayangi Yusuf AS, hal ini lantas menimbulkan kecemburuan dari saudara-saudaranya yang lain.

    Rasa cemburu itu mengakibatkan saudara Yusuf AS memiliki rencana buruk padanya. Dalam surah Yusuf ayat 15, Allah SWT berfirman:

    فَلَمَّا ذَهَبُوْا بِهٖ وَاَجْمَعُوْٓا اَنْ يَّجْعَلُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِاَمْرِهِمْ هٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ١٥

    Artinya: “Maka, ketika mereka membawanya serta sepakat memasukkannya ke dasar sumur, (mereka pun melaksanakan kesepakatan itu). Kami wahyukan kepadanya, ‘Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan mereka ini kepada mereka, sedangkan mereka tidak menyadari.’”

    Setelah menjebloskan Yusuf AS ke dalam sumur, saudara-saudaranya berkata pada sang ayah bahwa Nabi Yusuf AS tewas diterkam oleh binatang buas. Mendengar hal itu, Nabi Yakub AS sangat sedih. Saking sedihnya ia terus menangis tanpa henti dan berkepanjangan, akibatnya kedua matanya mengalami kebutaan.

    Meski kehilangan putra tercintanya, Nabi Yakub AS berusaha untuk tetap teguh dan sabar. Allah SWT pun memberi sang nabi kekuatan agar dapat melewati ujian tersebut.

    Setelah sekian lama, Allah SWT mengembalikan penglihatan Nabi Yakub sehingga ia dapat kembali melihat. Nabi Yakub juga akhirnya mengetahui fakta bahwa sang anak, Nabi Yusuf, masih hidup.

    Mengutip buku Dua Puluh Lima Nabi Banyak Bermukjizat Sejak Adam AS hingga Muhammad SAW tulisan Usman bin Affan bin Abul As bin Umayyah bin Abdu Syams, Nabi Yakub AS memiliki mukjizat indra penciuman yang sangat tajam. Ia dapat mencium aroma dari tempat yang ditempuh dalam delapan hari perjalanan. Ini terjadi ketika ia mencium baju Nabi Yusuf AS dan mendapatkan semerbak wanginya.

    Nabi Yakub lalu memohon ampun atas perbuatan putra-putranya seperti yang tertera dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 98,

    قَالَ سَوْفَ اَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيْ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٩٨

    Artinya: “Dia (Yakub AS) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Kisah ini menjadi bukti betapa sabarnya Yakub AS menghadapi ujian dan musibah yang menimpanya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Abbas bin Abdul Muthalib, Sahabat Sekaligus Paman Nabi



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT untuk menyebarkan dan menegakkan ajaran Islam yang benar. Dalam menjalankan tugasnya sebagai utusan, Nabi Muhammad SAW dibantu oleh sejumlah sahabat.

    Abbas bin Abdul Muthalib adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Abbas bin Abdul Muthalib menjadi penyedia minuman jamaah haji.

    Dirangkum dari buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas, Abbas bin Abdul Muthalib adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari suku Quraisy. Ia juga merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Usianya dua tahun lebih tua dari usia Nabi Muhammad SAW.


    Abbas menikahi Lubabah al-Kubra, putri Harits bin Hazn al-Hilaliyah yang dipanggil dengan sapaan “Ummu al-Fadhal”. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai oleh sepuluh anak laki-laki, diantaranya al-Fadhal, Ubaidillah, Qutsam, Abdurrahman, Ma’bad, al-Harits, Katsir, Aun, dan Tammam.

    Dirangkum dari buku Edisi Indonesia: Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah oleh Muhhammad Sa’id Mursi, Abbas adalah nenek moyang dari seluruh khalifah Dinasti Abbasiyah. Abbas adalah pemakmur sekaligus penghidang minuman di Masjid Al-Haram.

    Abbas bin Abdul Muthalib terkenal dengan sosoknya yang memiliki ide cemerlang, suara yang lantang, cerdas, dermawan, toleran, dan sangat membenci perbudakan. Suatu hari, ia membeli 70 budak, dan kemudian ia memerdekakan semua budak itu.

    Saat proses Bai’at ‘Aqabah II, Abbas bin Abdul Muthalib adalah juru bicaranya. Saat itu, ia belum memeluk Islam.

    Setelah memeluk Islam, Abbas ingin hijrah ke Madinah. Mendengar kabar itu, Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepadanya yang berisi, “Anda lebih baik tetap tinggal di Makkah”. Abbas pun mematuhi perintah Nabi Muhammad SAW tersebut.

    Selama tinggal di Makkah, Abbas menyembunyikan keislamannya. Ia selalu menulis surat kepada Nabi Muhammad SAW dan memberikan informasi tentang orang-orang kafir Quraisy di Makkah. Ketika Perang Badar terjadi, Nabi Muhammad SAW melarang kaum muslim untuk membunuh Abbas bin Abdul Muthalib.

    Abbas terkenal memiliki suara yang lantang. Maka dari itulah Nabi Muhammad SAW menyuruhnya untuk memanggil kaum Anshar dan Muhajirin setelah barisan mereka terpencar. Abbas pun mematuhi perintah Nabi Muhammad SAW dan akhirnya pertempuran ini dimenangkan oleh kaum muslimin.

    Abbas juga merupakan orang yang terhormat. Jika Abbas bin Abdul Muthalib bertemu Umar bin Khattab RA dan Utsman bin Affan RA, mereka pasti akan turun dari hewan tunggangannya sebagai penghormatan (takzim) kepada Abbas.

    Dirangkum dari buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi, pada saat Perang Badar terjadi, Abbas bin Abdul Muthalib menjadi tawanan Perang Badar. Orang yang berhasil menawan Abbas saat Perang Badar adalah Abu al-Sair bin Ka’b bin Amr dari Bani Salamah yang memiliki tubuh jauh lebih pendek daripada Abbas.

    Rasulullah SAW pun bertanya, “Bagaimana kau bisa menawan Abbas, hai Abu al-Sair?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, ada seorang laki-laki yang membantuku dan aku belum pernah melihat laki-laki itu sebelum atau setelahnya. Ciri-ciri orang itu begini dan begini.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh kau telah ditolong oleh malaikat yang mulia.”

    Abbas bin Abdul Muthalib wafat di Madinah. Ia wafat pada usia 88 tahun dan dimakamkan di Baqi.

    Di hari kematiannya, Utsman bin Affan RA ikut menyalati jenazahnya. Hal tersebut terjadi sekitar dua tahun sebelum terbunuhnya Utsman bin Affan RA.

    Semoga Allah SWT merahmatinya.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Sedekahkan Seluruh Harta Demi Kepentingan Agama



    Jakarta

    Selain Utsman bin Affan, Rasulullah SAW memiliki banyak sahabat dari golongan saudagar kaya. Abdurrahman bin Auf termasuk ke dalam salah satunya.

    Nama lengkap Abdurrahman bin Auf adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah Al-Qurassyi Al-Zuhri.

    Nasabnya bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada Kilab bin Murrah, sedangkan kinayahnya adalah Muhammad dan laqab-nya Al-Shadiq Al-Barr. Ibunya bernama Asy-Syifa binti Auf bin Abdu bin Al-Harits bin Zuhrah.


    Mengutip buku Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas XI karya H Aminudin dan Harjan Syuhada, Abdurrahman bin Auf lahir di Makkah 10 tahun setelah tahun Gajah. Usianya lebih muda dari Rasulullah SAW.

    Abdurrahman bin Auf adalah sosok yang rajin bersedekah. Ia bahkan terus menyumbangkan hartanya untuk menegakkan ajaran Allah SWT seperti disebutkan dalam buku Kisah 10 Pahlawan Surga karya Abu Zaein.

    Dalam kalangan masyarakat, Abdurrahman bin Auf disebut sebagai sosok yang sangat dermawan. Seluruh usahanya ditujukan untuk mencari ridha Allah SWT.

    Saat berdagang, dirinya selalu menjauhkan barang-barang yang haram hingga subhat. Keuntungannya tidak hanya ia nikmati sendiri, melainkan untuk sanak keluarga sekaligus perjuangan di jalan Allah SWT.

    Saking kayanya, penduduk Madinah mengatakan seluruh masyarakat di sana berserikat dengan Abdurrahman bin Auf. Dari hartanya 1/3 dipinjamkan kepada mereka, 1/3 membayari utang-utang mereka, dan 1/3 lainnya dibagi-bagikan kepada mereka.

    Bahkan ketika persiapan Perang Tabuk, umat Islam membutuhkan banyak perbekalan. Abdurrahman tanpa ragu membawa semua harta yang ia miliki dan disedekahkan demi kepentingan kaum musliimin.

    Rasulullah SAW pernah bertanya kepadanya, “Wahai Abdurrahman bin Auf, kenapa engkau infakkan seluruh hartamu? Lalu apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

    Dia menjawab, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan keluargaku yang jauh lebih berharga dari semua harta itu ya Rasulullah, yaitu Allah dan Rasul-Nya.”

    Disebutkan dalam buku The Great Sahaba oleh Rizem Aizid, Abdurrahman bin Auf dikenala sebagai seseorang yang selalu menepati janji. Bahkan ketika masa mudanya.

    Akhirnya, sosok Abdurrahman tumbuh menjadi seseorang bertoleransi tinggi terhadap sesama. Saking dermawan dan bijaksananya beliau, Nabi SAW berkata pada para sahabatnya mengenai Abdurrahman bin Auf,

    “Sesungguhnya yang akan menjaga kamu sekalian sepeninggalanku adalah Ash-Shadiq al-Bar (Abdurrahman bin Auf). Ya Allah, hidangkanlah minuman mata air surga kepada Abdurrahman bin Auf.”

    Setelah Rasulullah SAW wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan para istri Nabi SAW. Ia memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi Ummahatul Mukminin tersebut bila berpergian.

    Abdurrahman bin Auf bahkan membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada Bani Zuhrah serta Ummahatul Mukminin. Ketika jatah Aisyah RA diberitahu, beliau bertanya,

    “Siapa yang menghadiahkan tanah itu buatku?”

    “Abdurrahman bin Auf,” jawab si petugas.

    Aisyah lalu berkata, “Rasulullah pernah bersabda, ‘Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang bersabar,”

    Semakin banyak keuntungan yang diperoleh Abdurrahman bin Auf, semakin besar pula kedermawanannya dalam menyumbangkan harta di jalan Allah. Hal ini ia lakukan secara sembunyi maupun terang-terangan.

    Dalam buku Cara Meng-Upgrade Diri dengan Metode EnSQ Entrepreneur Spiritual Question oleh Bahrudin disebutkan bahwa kekayaan Abdurrahman bin Auf saat wafat berkisar Rp 6 triliun. Ia wafat di usia ke-72 tahun.

    Wallahu’alam bishawab.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Salahuddin Al Ayyubi sebelum Mendirikan Dinasti Ayyubiyah


    Jakarta

    Kisah Salahuddin Al Ayyubi sebagai pendiri Dinasti Ayyubiyah sangat terkenal bahkan sampai dunia barat. Mereka menyebutnya sebagai pahlawan dalam Perang Salib yang gagah dan berani.

    Disebutkan dalam buku Kilau Mutiara Sejarah Nabi yang disusun oleh Tempo Publishing, Amanda Mustika Megarani Salahuddin Al Ayyubi adalah salah satu orang yang berhasil merebut Yerusalem kembali ke tangan Islam setelah Umar bin Khattab RA.

    Dia juga merupakan tokoh Islam yang sangat disegani dan dihormati. Orang-orang barat mengenalnya dengan sebutan Saladin, sang pahlawan gagah berani di Perang Salib.


    Dalam tulisan kali ini, detikHikmah akan menjelaskan tentang kisah Salahuddin Al Ayyubi yang merupakan pendiri dari Dinasti Ayyubiyah.

    Kisah Salahuddin Al Ayyubi dan Berdirinya Dinasti Ayyubiyah

    Buku Sejarah Perkembangan Islam di Mesir (Masa Khalifah Umar bin Khaththab Sampai Masa Dinasti Ayyubiyah) karya Husain Abdullah, dkk, menyebutkan bahwa Salahuddin Al Ayyubi dilahirkan di Takriet, Irak, pada tahun 589 H atau 1137 M.

    Pada kala itu, keadaan Perang Salib semakin tidak bisa terkendali dan sulit untuk dilawan. Akibatnya, Dinasti Fatimiyah di Mesir, yang menjadi lawannya saat itu, meminta bantuan dari Raja Syam Nurudin Zanki.

    Kemudian, Salahuddin Al Ayyubi ditunjuk oleh Raja Syam untuk memimpin pasukan angkatan bersenjata yang terdiri dari suku Kurdi dan Turkuman. Ia bertugas sebagai pemimpin salah satu komando pasukan.

    Dalam Perang Salib, Salahuddin Al Ayyubi menunjukkan kepiawaiannya dalam menumpas musuh dan memimpin pasukan. Berdasarkan rekam jejak yang sangat baik ini, ia pun ditunjuk sebagai menteri oleh Khalifah Bani Fatimiyah Al-Adhid.

    Setelah menjadi menteri menggantikan Khalifah Al Adhid, Salahuddin Al Ayyubi mulai memperkuat pengaruhnya di Mesir. Namun dirinya tidak ingin melanjutkan Dinasti Fatimiyah. Oleh karena itu, ia melakukan beberapa cara.

    Cara yang pertama adalah memproklamasikan Mesir menjadi bagian dari pemerintahan Abasiyah di Baghdad. Kemudian, ia menyatukan Mesir sebagai bagian dari pemerintahan Abasiyah dan menyatukan umat Islam Abasiyah yang Sunni dan Fatimiyah yang Syi’ah.

    Kedua, Di Mesir, Salahuddin Al Ayyubi juga mengangkat orang kepercayaannya untuk menduduki jabatan yang penting. Setelah menjadi kuat, ia memanggil semua keluarganya untuk hidup bersamanya di Mesir.

    Tak lama, Raja Syam Nuruddin mengetahui hal ini. Ia pun menyiapkan bala tentara untuk melawan Salahuddin Al Ayyubi di Mesir. Di sisi lain, Salahuddin Al Ayyubi sudah tahu dan juga sudah siap bertempur.

    Namun perang ini tidak sempat terjadi sebab Raja Syam Nuruddin Zanki sudah meninggal dunia terlebih dahulu. Peristiwa ini terjadi pada tahun 569 H.

    Pada kesempatan inilah, Salahuddin Al Ayyubi berhasil memproklamasikan diri sebagai Raja Mesir. Ia berhasil menyatukan Mesir, Syiria, Mesopotamia, dan Yaman untuk melawan tentara salib.

    Demi menjaga dan mempertahankan diri melawan pengikut Fatimiyah di Mesir dan bisa membendung bahaya serangan dari pasukan Salib di Syiria dan Palestina, Salahuddin Al Ayyubi mendirikan benteng Kairo di atas Benteng Muqattam paling barat.

    Tahun 1186 M- 1193 M, masa yang dilakukan Salahuddin Al Ayyubi adalah melakukan perang suci melawan tentara salib. Dirinya pun terbukti tidak pernah kalah dalam melawan mereka.

    Akhirnya, Perang Suci ini dihentikan dengan terjadinya perjanjian tahun 1192 M di Ramleh dengan beberapa syarat perjanjian.

    Kemudian, baru pada tahun 1174 M Salahuddin Al Ayyubi berhasil menguasai Mesir dan mendirikan Dinasti Ayyubiyah. Dinasti ini berkuasa selama 90 tahun dan dipimpin oleh 9 sultan. Sultan pertama adalah Salahuddin Al Ayyubi itu sendiri, dan berakhir pada masa kekuasaan Sultan Asyraf bin Yusuf pada tahun 1250 M.

    (rah/lus)



    Sumber : www.detik.com