Blog

  • Kisah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam yang Rumahnya Jadi Madrasah Pertama Umat Islam



    Jakarta

    Ketika Nabi Muhammad SAW memulai dakwahnya di Makkah hanya segelintir orang yang bisa menerima pesannya. Merekalah yang disebut sahabat pertama Rasulullah SAW yang masuk Islam. Salah satunya adalah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam.

    Mengutip buku Seri Ensiklopedia Anak Muslim 125 Sahabat Nabi Muhammad SAW karya Mahmudah Mastur diceritakan siapa sebenarnya Al-Arqam bin Abi al-Arqam.

    Al-Arqam bin Abi Al-Arqam memiliki nama asli Abdu Manaf bin Asad bin Abdullah bin Amr bin Makhzum. Dia dikenal juga dengan nama Abu Abdillah. Ia juga termasuk Assabiqunal Awwalun atau para sahabat yang pertama masuk Islam.


    Al-Arqam masuk Islam pada usia 16 tahun. Peran Al-Arqam di awal dakwah Islam terbilang penting, karena rumahnya yang terletak di Bukit Shafa dijadikan tempat dakwah secara sembunyi-sembunyi oleh Rasulullah SAW.

    Nabi Muhammad SAW memilih rumah Al-Arqam sebagai tempat dakwah karena lokasinya yang terpencil sehingga aman dari gangguan kafir Quraisy. Maka rumahnya disebut sebagai madrasah pertama umat Islam.

    Alasan lainnya karena Al-Arqam berasal dari suku Makhzum, suku yang dikenal sebagai musuh keluarga besar Nabi Muhammad SAW. Jadi, kafir Quraisy tidak akan berpikir bahwa rumah Al-Arqam menjadi tempat dakwah.

    Selain itu, mengutip buku Negara Islam Modern: Menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dipilihnya rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam sebagai madrasah pertama umat Islam adalah:

    1. Karena Al-Arqam belum dikenal keislamannya, tidak seorang pun akan memikirkan kemungkinan Nabi Muhammad berkumpul di rumahnya.

    2. Al-Arqam bin Abi Al-Arqam sebenarnya berasal dari suku Bani Makhzum, yang terkenal karena persaingan dan konflik perang dengan Bani Hasyim. Jika keislamannya Al-Arqam sudah diketahui, kemungkinan besar tidak akan dipikirkan bahwa pertemuan akan berlangsung di rumahnya, karena hal itu akan dianggap terjadi di tengah-tengah musuh.

    3. Al-Arqam bin Al-Arqam adalah seorang yang masih muda ketika ia memeluk Islam, berusia hanya enam belas tahun. Ketika Quraisy merencanakan untuk menyelidiki perkembangan Islam, mereka tidak akan mengasumsikan bahwa mereka harus mencari di rumah-rumah para sahabat muda Nabi Muhammad. Sebaliknya, mereka akan lebih cenderung mencari di rumah-rumah para sahabat yang lebih terkemuka atau di tempat tinggal Nabi sendiri.

    4. Mereka menganggap bahwa pertemuan biasanya diadakan di rumah salah satu anggota Bani Hasyim, di rumah Abu Bakar, atau tempat lain yang dikenal. Oleh karena itu, pilihan rumah yang dipilih sangat bijak dari segi keamanan. Tidak pernah terdengar bahwa orang-orang Quraisy menyerang tempat pertemuan ini atau mengetahui lokasinya.

    5. Perhatikanlah bagaimana Nabi Muhammad secara cermat membangun sistem keamanan untuk menyebarkan dakwah Islam, dengan menempatkan para pengikutnya di tengah-tengah suku-suku, yang bertujuan untuk mengukuhkan ajaran Islam. Ketika Amr bin Ambasah memeluk Islam, Nabi Muhammad meminta dia untuk menyembunyikan keislamannya dan tetap bergabung dengan keluarganya.

    Semasa hidupnya Al-Arqam senantiasa ikut berperang bersama Rasulullah SAW, seperti perang Badar, perang Uhud, dan perang besar lainnya. Al-Arqam pun wafat di tahun 55 Hijriah atau ketika usianya mencapai 80 tahun.

    Melansir buku Quality Student of Muslim Achievement Kualitas Anak Didik dalam Islam yang ditulis Shabri Shaleh Anwar, Al-Arqam merupakan orang kesebelas yang memeluk Islam. Termasuk juga orang yang hijrah dari Makkah ke Habasyah.

    Terdapat 40 orang dan salah satunya Umar bin Khattab yang terakhir belajar mengenai Agama Islam di rumah Al Arqam bin Abi Al-Arqam.

    Itulah kisah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam pemuda berusia 16 tahun menjadi orang kesebelas yang masuk Islam dan menjadi golongan Assabiqunal Awwalun.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Kisah Seorang Ibu yang Diceritakan dalam Al-Qur’an


    Jakarta

    Al-Qur’an adalah petunjuk untuk umat manusia, didalamnya terdapat berbagai kisah-kisah masa lalu yang menjadi pelajaran untuk umat selanjutnya. Di bawah ini kisah tentang ibu yang ada dalam Al-Quran.

    Terdapat kisah-kisah luar biasa dari seorang perempuan sekaligus ibu dari para nabi mulia, kisah-kisah ini diabadikan langsung oleh Allah SWT untuk menjadi pengingat kepada hambanya bahwa kasih sayang Allah tidak terbatas hanya karena gender dan usia saja.

    Seperti empat kisah ibu yang tertulis dalam Al-Qur’an ini yakni: kisah Siti Hajar ibu Nabi Ismail AS, kisah Milyanah ibu Nabi Musa AS, kisah Hanah ibu Siti Maryam, dan kisah Siti Maryam ibu Nabi Isa AS.


    1. Kisah Siti Hajar Ibu Nabi Ismail AS

    Mengutip buku Kisah Teladan dalam Al-Qur’an karya Ahmad Laudzai dahulu dikisahkan Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar (Istrinya) telah menikah lama, namun mereka belum diberikan seorang anak pun oleh Allah SWT.

    Setia waktunya Nabi Ibrahim AS tidak luput berdoa seperti ini, “Ya Allah aku berani mengorbankan apa saja, asalkan pintaku terpenuhi.” Hingga akhirnya Allah mengabulkan keinginan keduanya, Siti Hajar berhasil mengandung seorang anak yang diberi nama Ismail.

    Suatu hari Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan Ismail kecil ke sebuah lembah yang nantinya menjadi kota Makkah. Ketika sampai Ibrahim berpesan kepada keduanya, “Wahai istriku, tinggalah engkau bersama Ismail, di tempat ini sementara waktu, Tunggu sampai aku selesai.”

    Surah Ibrahim ayat 37:

    رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ ٣٧

    Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”

    Selayaknya manusia umumnya, Siti Hajar bernama, ” Mengapa aku bersama Islamil harus menetap di tempat yang gersang dan tandus ini”

    Nabi Ibrahim menjawab, “Sesungguhnya ini semua adalah perintah Allah SWT.” Siti Hajar pun ikhlas menerimanya.

    Hari demi hari berlalu, Ibrahim AS tidak kunjung datang, padahal persediaan makanan dan minuman mereka sudah habis. Ditambah Ismail kecil menangis.

    Sambil menenangkan anaknya, Siti Hajar berlari mendaki dua bukit yang berseberangan, yakni bukit Safa dan bukit Marwah untuk mencari sumber air. Meskipun sudah berkali-kali melalui dua bukit tersebut masih belum mendapatkan sumber air.

    Sampai Siti Hajar kelelahan dan tergeletak di samping anaknya, tetapi akhirnya Allah SWT membantu Siti Hajar dan Ismail dengan memberikannya Air Zam-Zam.

    2. Kisah Milyanah Ibu Nabi Musa AS

    Suatu ketika Firaun memerintahkan pasukannya untuk menyembelih anak laki-laki. Surah Al-Qasas ayat 4:

    اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ٤

    Artinya: “Sesungguhnya Firʻaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya. Sesungguhnya dia (Firʻaun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

    Bersamaan dengan perintah Firaun lahir seorang bayi laki-laki keturunan Israil. Allah berkata kepada Milyanah Ibu Nabi Musa AS.

    “Susuilah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai. Janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya rasul.”

    Kemudian Milyanah pun meletakan bayinya di sebuah tempat. Lalu dia hanyutkan bayi tersebut ke sungai. Atas kuasa Allah SWT bayi itu ditemukan oleh Siti Aisah istri Firaun.

    3. Kisah Hanah Ibu Maryam

    Ibu Maryam diceritakan langsung oleh Allah SWT dalam Surah Al-Imran Ayat 35:

    اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ٣٥

    Artinya: “(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada di dalam kandunganku murni untuk-Mu (berkhidmat di Baitulmaqdis). Maka, terimalah (nazar itu) dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Mengutip buku Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dijelaskan bahwa Imran adalah pria shaleh pada masanya menikah dengan Hanah yang juga amat beriman, sesuai ayat di atas istri Imran bernazar jika mempunyai anak, nantinya anak tersebut akan dijadikan abdi Allah atau menyelenggarakan Baitul Maqdis seperti saudaranya Nabi Zakaria AS.

    Allah SWT pun mengabulkan keinginannya dengan memberikan seorang anak, namun ternyata anak yang lahir adalah perempuan (Siti Maryam), padahal yang diharapkan adalah anak laki-laki karena yang menyelenggarakan rumah suci adalah anak laki-laki.

    Hanan pun lanjut berdoa berisi memohon perlindungan kepada anaknya karena dia tahu laki-laki tidak sama dengan perempuan, dan juga untuk keturunanya. Surah Al-Imran ayat 36:

    فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى ۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ ٣٦

    Artinya: “Ketika melahirkannya, dia berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal, Allah lebih tahu apa yang dia (istri Imran) lahirkan. “Laki-laki tidak sama dengan perempuan. Aku memberinya nama Maryam serta memohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari setan yang terkutuk.”

    Allah SWT segera mengabulkannya. Surah Al-Imran ayat 37:

    فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَا ۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ٣٧

    Artinya: “Dia (Allah) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemui di mihrabnya, dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada sesiapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”

    4. Kisah Maryam Ibu Nabi Isa AS

    Allah SWT mengkisahkan Siti Maryam sebagai wanita yang beriman dan taat kepadanya. Surah Al-imran ayat 42 – 43:

    وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ ٤٢

    يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَاسْجُدِيْ وَارْكَعِيْ مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ٤٣

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas seluruh perempuan di semesta alam (pada masa itu). Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujudlah, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.”

    Demikianlah kisah tentang ibu yang ada di dalam Al-Qur’an. Semoga menjadi pelajaran berharga untuk detikers.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pemuda Kaya yang Durhaka pada Ayahnya, Calon Ahli Neraka


    Jakarta

    Di zaman Rasulullah SAW hidup seorang lelaki yang durhaka kepada ayahnya. Ia memiliki banyak harta dan suka bersedekah kepada banyak orang namun tidak memperdulikan ayahnya.

    Berbuat baik kepada sesama adalah perintah bagi seluruh muslim, namun berbuat baik kepada orang tua termasuk sebuah kewajiban. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman melalui surah Al-Luqman ayat 14,

    وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ


    Artinya: Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.

    Kisah seorang pemuda durhaka yang menjadi ahli neraka ini dikisahkan dalam buku 115 Kisah Menakjubkan Dalam Hidup Rasulullah oleh Fuad Abdurahman.

    Suatu hari seorang laki-laki tua menemui Rasulullah SAW dan mengadukan perilaku anaknya yang kaya raya tetapi kerap mengabaikannya.

    Laki-laki tua tersebut menuturkan, “Wahai Rasulullah, anakku berbuat baik kepada semua orang dan mau membantu mereka, tetapi ia tidak mau membantuku sebagai orangtuanya. Bahkan, ia mengusirku dari rumahnya.”

    Mendengar laporan orangtua itu, Rasulullah SAW segera mengutus seorang sahabat untuk menemui anak itu dan menasihatinya agar mau menerima dan mengurus ayahnya. Namun, pemuda itu berbohong dengan mengatakan, “Aku tidak punya cukup harta untuk mengurusi ayahku.”

    Ia mengatakan hal tersebut hanya sebagai alasan, padahal pemuda ini memiliki banyak harta dan stok makanan berlimpah.

    Rasulullah SAW berkata, “Aku tahu, kau punya gudang gandum dan kurma. Kau juga memiliki simpanan uang yang sangat banyak.”

    Pemuda itu tetap mengelak, “Wahai Rasulullah, siapa pun yang mengatakan hal itu kepadamu pasti telah berdusta.”

    Pesan Rasulullah SAW pada Pemuda Durhaka

    Rasulullah SAW telah berusaha menasehati pemuda itu namun tak membuahkan hasil. Pemuda tersebut tetap bersikukuh tak mau berbuat baik pada ayahnya.

    Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Berdiri dan pergilah dari hadapanku. Ingatlah! Tak lama lagi kau akan menyesal dan di saat itu datang, penyesalanmu itu tak lagi berguna.”

    Untuk ayah dari pemuda tersebut Rasulullah SAW menyediakan tempat tinggal dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari baitulmal.

    Mengetahui sang ayah tak lagi mengganggu, pemuda durhaka tersebut lantas merasa senang dan bebas karena tidak lagi mendapat rengekan dari ayahnya.

    Balasan bagi Anak Durhaka

    Tak lama waktu berlalu, tiba saat untuk menjual kurma dan gandum. Namun nasib sial menghampiri pemuda tersebut, seluruh bahan makanan yang disimpan di gudang ludes dimakan hama.

    Pemuda itu membuka gudang tempat penyimpanan kurma miliknya. Namun, ia terkejut saat mendapati semua kurma di dalam gudangnya telah habis dimakan ulat. Tak ada yang tersisa sedikit pun kecuali biji-biji kurma yang tidak lagi laku dijual.

    Kemudian, ia bergegas pergi menuju gudang tempat penyimpanan gandumnya. Lagi-lagi ia kaget dan marah melihat gandum di dalam gudangnya diserang serangga. Hewan kecil itu memakan seluruh gandum hingga yang tersisa hanya batangnya.

    Tentu saja hal ini membuat pemuda tersebut mengalami kerugian yang besar dalam waktu sekejap.

    Meskipun telah mendapatkan musibah yang besar, pemuda ini tak juga menyadari kesalahannya. Ia tak kunjung meminta maaf kepada sang ayah.

    Beberapa hari setelah musibah itu, ia jatuh sakit. Dan ketika ia hendak mengambil uang yang selama ini disimpannya untuk berobat, lagi-lagi ia terkejut karena semua uangnya telah berubah menjadi lempengan tembikar tak berharga.

    Semua teman dan kerabat menjauhi pemuda ini karena penyakit yang dideritanya. Semakin hari keadaannya semakin memprihatinkan.

    Suatu hari Rasulullah SAW berjalan bersama beberapa sahabat. Beliau melihat pemuda itu duduk di pinggir gang dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

    Beliau menoleh kepada sahabatnya dan berkata, “Hai orang-orang yang durhaka kepada ayah dan ibunya, ambillah pelajaran dari orang ini. Alih-alih mendapatkan kedudukan mulia di surga, itulah yang ia dapatkan. la merasa mampu membeli surga dengan harta dan kedudukannya. Ketahuilah! Sebentar lagi pemuda ini akan meninggal dunia dan masuk Neraka Jahanam.”

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata: “Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, ‘Ya Rasulullah siapakah orang yang paling berhak aku layani (patuhi)?’ Jawab Nabi SAW, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Jawab Nabi SAW, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Jawab Nabi SAW, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Jawab Nabi SAW, ‘Ayahmu.” (HR Bukhari & Muslim)

    Berbuat baik kepada orangtua adalah ciri orang beriman, siapapun yang beriman kepada Allah SWT hendaknya ia memuliakan orangtuanya.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Hakim bin Hazam, Satu-satunya Sahabat yang Lahir di Ka’bah



    Jakarta

    Ka’bah merupakan bangunan suci umat Islam. Tidak semua orang dapat memasuki Ka’bah. Namun, ada kisah unik dari Hakim bin Hazam, yakni salah seorang sahabat nabi yang dikenal dermawan ini lahir di dalam Ka’bah.

    Mengutip buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah tulisan Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, pada suatu ketika, ibu Hakim yang sedang hamil tua masuk ke dalam Ka’bah bersama rombongan orang untuk melihat-lihat bagian dalam Ka’bah. Ketika sudah masuk, ibu Hakim merasakan sakit yang hebat pada perutnya yang menandakan ia akan segera melahirkan.

    Ketika ingin berjalan keluar untuk melahirkan, kaki ibu Hakim sudah tidak sanggup untuk berjalan. Lalu, seseorang pun menghamparkan tikar kulit untuknya, dan melakukan persalinan di dalam Ka’bah. Tak lama kemudian, lahirlah seorang bayi itu di atas tikar tersebut.


    Bayi yang lahir di dalam Ka’bah itu diberi nama Hakim bin Hazam bin Khuwailid, saudara Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid RA. Hakim dibesarkan dalam keluarga bangsawan.

    Pada masa Jahiliyah, Hakim yang menginjak dewasa pun diangkat menjadi Kepala Urusan Rifadah (lembaga yang menangani orang-orang yang kehabisan bekal ketika musim haji). Dia mengorbankan banyak harta pribadinya untuk diberikan kepada orang-orang miskin.

    Hakim sendiri telah lama berkawan akrab dengan Rasulullah SAW, bahkan sebelum beliau menjadi seorang nabi, padahal usianya lima tahun lebih tua daripada Nabi SAW.

    Apalagi setelah Rasulullah SAW menikahi bibi Hakim, yaitu Khadijah binti Khuwailid RA, hubungan di antara keduanya bertambah erat. Sayangnya, Hakim bin Hazam saat itu masih belum tertarik untuk memeluk agama Islam. Hal ini mengherankan Rasulullah SAW sebab ialah seorang yang cerdas, tetapi enggan menerima ajaran tauhid.

    Semalam sebelum kejadian pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya, “Di Makkah terdapat empat orang yang tidak suka kepada kemusyrikan dan lebih cenderung kepada Islam.”

    “Siapakah mereka itu, Ya Rasulullah,” tanya para sahabat.

    “Mereka adalah Atab bin Usaid, Jubair bin Muchim, Hakim bin Hazam, dan Suhail bin Amr. Dengan karunia Allah SWT, mereka akan masuk Islam secara serentak,” jawab Nabi SAW.

    Keesokan harinya, pada peristiwa Fathu Makkah, Nabi SAW menyerukan pengumuman, “Siapa yang mengaku tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan mengaku bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, dia aman. Siapa yang duduk di Ka’bah, lalu meletakkan senjata, dia aman.”

    “Siapa yang mengunci pintu rumahnya. Dia aman. Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman. Siapa yang masuk ke rumah Hakim bin Hazam, dia aman.”

    Setelah pengumuman tersebut disampaikan, rumah Hakim bin Hazam menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang Makkah yang ingin menyerahkan diri kepada Rasulullah SAW.

    Tak lama setelah peristiwa Fathu Makkah, Hakim memutuskan untuk masuk Islam. Ia kemudian pergi menunaikan ibadah haji dengan membawa seratus ekor unta yang diberi pakaian kebesaran. Kemudian unta-unta itu disembelihnya sebagai kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

    Pada waktu haji tahun berikutnya, Hakim melaksanakan wukuf di Arafah bersama seratus orang hamba sahayanya. Pada masing-masing leher hamba sahayanya tergantung seuntai kalung perak yang bertuliskan kalimat “Bebas karena Allah Azza wa Jalla, dari Hakim bin Hazam.”

    Seusai haji, semua hamba sahaya tersebut dimerdekakan karena Allah SWT. Pada waktu haji yang ketiga kalinya, Hakim mengorbankan seribu ekor domba yang kemudian semuanya dibagi-bagikan kepada fakir miskin semata-mata karena Allah SWT.

    Hakim melakukan demikian untuk membayar rasa bersalahnya karena terlambat untuk memeluk Islam. Ia membayarnya dengan banyak mengorbankan segala hartanya untuk Allah SWT dan rasul-Nya.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Isa dan 3 Potong Roti yang Penuh Pelajaran



    Jakarta

    Nabi Isa AS merupakan satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diimani oleh muslim. Terdapat kisah penuh pelajaran tentang Nabi Isa AS dan tiga potong roti.

    Dikutip dari buku Misteri Bulan Ramadhan karya Yusuf Burhanudin dan Sepenggal Cerita Sejuta Makna karya Abdul Wahid al-Faizin, dikisahkan Nabi Isa AS berjalan dengan seorang pengikut yang baru ia kenal. Keduanya terus berjalan menyusuri tepi sungai.

    Ketika berada di tepi sungai, mereka memakan bekal yang berupa tiga potong roti. Keduanya masing-masing memakan satu potong roti dan menyisakan satu roti untuk dimakan nanti.


    Setelah menghabiskan roti yang menjadi bagiannya, Nabi Isa AS yang merasa haus lekas menuju telaga untuk mengambil air minum. Setelah melepas dahaga, ia segera kembali. Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat satu roti yang tersisa ternyata telah raib.

    Lalu, Nabi Isa AS pun bertanya kepada pengikutnya, “Siapakah yang telah mengambil sepotong roti yang tersisa?”

    “Demi Allah, Aku tidak tahu,” Jawab pengikutnya.

    Seolah tidak menghiraukan kejanggalan tadi, keduanya meneruskan perjalanan. Tiba-tiba Nabi Isa AS melihat rusa dengan kedua anaknya. Dengan mukjizatnya, ia memanggil salah satu dari anak rusa itu lalu disembelihnya dan dibakar. Kemudian, Nabi Isa AS dan pengikutnya memakan daging rusa hingga hanya tersisa tulang-belulangnya.

    Nabi Isa AS pun memohon kepada Allah SWT agar anak rusa yang telah disembelih itu hidup kembali. Lalu, anak rusa tersebut hidup kembali atas izin Allah SWT. Melihat peristiwa itu membuat pengikutnya terperanjat.

    Nabi Isa AS kembali bertanya kepada pengikutnya, “Demi Allah, yang memperlihatkan kepadamu bukti kekuasaan-Nya ini, siapakah yang telah mengambil sepotong roti yang disimpan itu?”

    Pengikutnya pun kembali menjawab, “Aku tidak tahu.”

    Mendengar jawaban yang sama, keduanya meneruskan perjalanan hingga sampai pada sebuah lembah yang terdapat sungai yang begitu dalam. Nabi Isa AS pun kembali menunjukkan mukjizatnya. Ia memegang tangan pengikutnya dengan erat. Kemudian, ia pun membawanya berjalan di atas air melewati sungai yang begitu dalam itu.

    Sesampainya di seberang sungai, Nabi Isa AS kembali menanyakan pertanyaan yang sama pada pengikutnya, “Demi Dzat yang telah memperlihatkan kepadamu mukjizat ini, aku bertanya kepadamu, siapa yang telah mengambil sisa roti kita?”

    Pengikut itu pun masih tidak gentar dan tetap menjawab dengan jawaban yang sama, “Demi Allah, aku tidak tahu siapa yang mengambilnya.”

    Untuk keempat kalinya, Nabi Isa AS pun kembali melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya melewati sebuah tanah lapang yang penuh dengan bebatuan.

    Nabi Isa AS mengambil beberapa bongkahan batu dan menampakkan mukjizatnya kembali. “Jadilah emas dengan izin Allah,” ujar Nabi Isa AS kepada bongkahan batu itu.

    Tanah itu pun seketika menjadi emas dan ia membaginya menjadi tiga seraya berkata, “Sepertiga ini bagianku, sepertiga satunya bagianmu, dan sepertiga lainnya adalah bagian orang yang mengambil roti,” kata Nabi Isa AS kepada pengikutnya.

    “Akulah yang mengambil roti itu!” sontak pengikut Nabi Isa AS mengaku. “Kalau begitu, semua emas ini untukmu,” tegas Nabi Isa AS.

    Setelah si pengikut mengakui perbuatannya, Nabi Isa AS meninggalkan pengikutnya itu dan melanjutkan perjalanannya sendirian. Tidak lama berselang ditinggalkan Nabi Isa AS, si pengikut yang masih dalam suasana gembira karena mendapatkan bongkahan emas lalu didatangi oleh dua orang. Melihat bongkahan emas yang ada pada si pengikut, kedua orang asing itu langsung tertarik.

    Kedua orang asing itu segera mendatangi si pengikut untuk merampas bongkahan emas tersebut. Tidak hanya itu, keduanya mengancam membunuh si pengikut ketika menolak untuk menyerahkan emas miliknya.

    “Bagaimana kalau emas ini kita bagi bertiga saja, Tuan-tuan?” ujar sang pengikut menawarkan dalam kondisi takut dan terancam. Setelah berunding, kedua orang asing itu sepakat dengan tawaran si pengikut.

    Di tengah pembagian emas yang ada, ketiganya merasakan lapar. Akhirnya, mereka sepakat untuk membeli makanan. Si pengikut Nabi Isa AS inilah yang diutus untuk membelikan makanan untuk mereka bertiga, sedangkan kedua orang asing itu bertugas menjaga emas yang ada.

    Kemudian, si pengikut pergi menuju desa terdekat untuk membeli makanan. Kemudian terlintas pikiran jahat di antara dua orang tersebut. Kedua orang asing mulai mendiskusikan rencana untuk membunuh pengikut tersebut.

    “Untuk apa kita terima penawarannya? Bukankah kalau kita membunuh dia, emas ini akan menjadi milik kita berdua? Dengan demikian, masing-masing kita bisa mendapatkan bagian lebih banyak,” ujar keduanya.

    Keduanya pun akhirnya berencana untuk membunuh si pengikut tersebut ketika ia kembali. Tidak lama kemudian, datanglah si pengikut Nabi Isa AS dengan membawa tiga bungkus makanan. Setelah mengetahui si pengikut datang, tanpa berpikir lama, kedua orang asing itu langsung menyergap si pengikut dan membunuhnya.

    Sebab, mereka berdua masih dalam kondisi lapar, mereka mengambil makanan yang dibawa oleh si pengikut dan segera memakannya. Meski demikian, mereka berdua pun mati karena makanan tersebut telah diberi racun oleh sang pengikut itu.

    Beberapa waktu berselang, Nabi Isa AS beserta beberapa muridnya kembali melewati tanah lapang yang dahulu dia singgahi. Secara mengejutkan, mereka menjumpai beberapa bongkahan emas yang di sampingnya tergeletak tiga mayat.

    Nabi Isa AS mengenali salah satu mayat itu yang tidak lain adalah pengikutnya yang dahulu mengambil roti. Kemudian, Nabi Isa AS pun menjelaskan kejadian yang ada dan asal-usul emas dan mayat itu. Beliau lalu berkata, “Inilah dunia dan keburukan yang diakibatkan olehnya. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia.”

    Kisah tersebut menggambarkan ketamakan manusia dalam mengejar harta dunia. Selama seseorang masih menuruti keinginan hawa nafsunya, maka ketamakan itu tidak akan ada habisnya. Dan pada akhirnya, sifat tamak tersebut akan hanya akan membuat kita merugi nanti.

    Wallahu a’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Apa yang Dilakukan Rasulullah SAW Sehari sebelum Wafat?


    Jakarta

    Rasulullah SAW merupakan sosok teladan bagi seluruh umat Islam di dunia. Wafatnya nabi dan rasul terakhir tersebut meninggalkan duka yang amat mendalam bagi kaum muslim. Apa yang dilakukan Rasulullah SAW sehari sebelum beliau wafat?

    Diceritakan dalam buku Pengantar Sejarah Dakwah karya Wahyu Ilaihi dan Harjani Hefni Polah, Rasulullah SAW menderita demam selama 13 atau 14 hari sebelum akhirnya wafat pada 12 Rabiul Awal 11 Hijriah atau 8 Juni 632 Masehi.

    Hal yang Dilakukan Rasulullah SAW Sehari sebelum Wafat

    Masih dari sumber yang sama, Rasulullah SAW wafat pada hari Senin. Sehari sebelumnya yaitu Ahad, beliau memerdekakan budak-budak lelakinya, menyedekahkan tujuh dinar dari harta yang dimilikinya, dan menghibahkan senjata-senjatanya kepada kaum muslim.


    Diceritakan dalam Ar-Rahiqul Makhtum karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri yang diterjemahkan oleh Abu Ahsan, pada malam Senin, Aisyah RA meminjam minyak lampu dari tetangganya.

    “Berikanlah kepada kami sedikit dari minyak yang kamu miliki pada lampu kami ini,” kata Aisyah RA.

    Saat itu, baju besi Rasulullah SAW masih digadaikan kepada orang Yahudi senilai 30 sha’ gandum.

    Adapun mengutip Tafsir al-Azhar karya Hamka, Rasulullah SAW masih sempat menyampaikan pidato sehari sebelum beliau wafat. Beliau berpidato kepada sahabat-sahabat tercinta dari kaum Muhajirin dan Anshar.

    Dalam pidatonya, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa sekalipun masa berpisah sudah dekat, kelak mereka akan bertemu kembali di tempat perjanjian, yaitu telaga bernama Haudh. Dengan kata-katanya tersebut, Rasulullah SAW pun memberi pengharapan kepada umat-umatnya yang tidak sempat melihat wajah beliau.

    Kisah Wafatnya Rasulullah SAW

    Diceritakan dalam kitab Asy-Syamail al-Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi yang diterjemahkan Rusdianto, Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun. Hal ini dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad bin Mani, dari Rauh bin Ubadah, dari Zakariya bin Ishaq, dari Amr bin Dinar, dari Ibnu Abbas. Ia berkata,

    “Rasulullah SAW tinggal di Makkah setelah menerima wahyu selama 13 tahun. Beliau wafat dalam usia 63 tahun.” (HR Tirmidzi)

    Kisah wafatnya Rasulullah SAW dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Nashr bin Ali al-Jahdhami, dari Abdullah bin Dawud, dari Nubaith bin Syarith, dari Salim bin Ubaid. Ia berkata,

    “Rasulullah SAW jatuh pingsan setelah beliau sakit, lalu beliau sadar dan bersabda, ‘Apakah waktu salat telah tiba?’

    Para sahabat menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Perintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan, dan perintahkan Abu Bakar untuk memimpin orang-orang dalam salat.’

    Kemudian, beliau kehilangan kesadaran, dan ketika pulih, beliau bersabda, ‘Apakah waktu salat telah tiba?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah SAW lalu bersabda, ‘Perintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan, dan perintahkan Abu Bakar untuk memimpin orang-orang dalam salat.’

    Mendengar itu, Aisyah RA berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Sesungguhnya, ayahku adalah orang yang melankolis. Jika ia diberi tanggung jawab untuk menjadi imam salat, ia akan menangis dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Jadi, kalau saja engkau menunjuk orang lain.’

    Namun, Rasulullah SAW pingsan kembali. Selang beberapa saat, beliau sadarkan diri dan bersabda, ‘Perintahkan Bilal mengumandangkan azan dan perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam salat. Sungguh, kalian layaknya sahabat-sahabat Yusuf.’

    Bilal pun mengumandangkan azan, lalu Abu Bakar mengimami salat bersama para sahabat. Saat itu, Rasulullah SAW merasakan sakitnya sudah mulai membaik. Beliau pun bersabda, ‘Carikan untukku orang yang bisa memapahku.’ Maka datanglah Barirah dan seorang laki-laki lainnya. Kemudian, Rasulullah SAW dipapah oleh dua orang tersebut.

    Saat melihat beliau dipapah keluar rumah, Abu Bakar hendak mundur, tetapi beliau memberi isyarat agar Abu Bakar tetap di tempatnya sampai menyelesaikan salatnya. Kemudian, Rasulullah SAW wafat.

    Umar bin Khattab berkata, ‘Demi Allah, jika aku mendengar seseorang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW telah wafat, maka aku akan menebas orang itu dengan pedangku ini!’

    Sebelumnya, para sahabat adalah kaum yang ummi, dan tidak ada nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, sekarang mereka diam saja. Lalu mereka berkata, ‘Wahai Salim, pergilah kepada sahabat Rasulullah SAW (Abu Bakar) dan panggillah ia kemari.’ Maka, aku pun pergi menemui Abu Bakar yang sedang berada di masjid sambil menangis sesenggukan.

    Ketika melihat kedatanganku, Abu Bakar bertanya kepadaku, ‘Apakah Rasulullah SAW telah wafat?’ Aku menjawab, ‘Akan tetapi, Umar bin Khattab berkata, ‘Demi Allah, jika aku mendengar seseorang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW telah wafat, maka aku akan menebas orang itu dengan pedangku ini!’ Abu Bakar berkata, ‘Mari, kita pergi.’ Aku pun segera pergi bersamanya.

    Ketika kami datang, orang-orang sudah banyak yang masuk ke kamar Rasulullah SAW. Lalu Abu Bakar berkata, ‘Wahai manusia, menyingkirlah dari jalanku.’ Mereka pun memberinya jalan.

    Abu Bakar pun masuk ke kamar Rasulullah SAW, lalu memeluk beliau, kemudian memegang beliau sambil berkata,

    اِنَّكَ مَيِّتٌ وَّاِنَّهُمْ مَّيِّتُوْنَ ۖ

    Artinya: “Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati.” (QS Az-Zumar: 30)

    Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammad.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Harun, Sosok Pendamping Nabi Musa yang Pandai Berbicara



    Jakarta

    Kisah Nabi Harun AS berkaitan dengan Nabi Musa AS. Keduanya merupakan saudara yang usianya tidak berbeda jauh.

    Nabi Harun AS dianugerahi mukjizat pandai dalam berbicara. Kemampuannya ini juga ia gunakan untuk membantu Nabi Musa AS berdakwah.

    Menukil dari buku Mengenal Mukjizat 25 Nabi susunan Eka Satria dan Arif Hidayah, baik Musa AS maupun Harun AS sama-sama berjuang menyampaikan ajaran tauhid. Mereka juga memerangi Firaun, seorang raja yang mengingkari keberadaan Allah SWT.


    Suatu hari, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk menemui Firaun. Ia lantas menyampaikan kepada sang Khalik agar dibantu oleh Harun AS sebagaimana termaktub dalam surah Thahaa ayat 29-34,

    وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ ۙ ٢٩ هٰرُوْنَ اَخِى ۙ ٣٠ اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ ٣١ وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ ٣٢ كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا ۙ ٣٣ وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا ۗ ٣٤

    Artinya: “Jadikanlah untukku seorang penolong dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengannya, dan sertakan dia dalam urusanku (kenabian) agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak berzikir kepada-Mu.”

    Benar saja, kepandaian Nabi Harun AS dalam berbicara membuat Firaun kalah telak. Nabi Musa AS lalu membawa kaumnya bani Israil ke Mesir.

    Walau begitu, setelah mereka dibebaskan dari perbudakan Firaun, bani Israil kembali mengingkari Allah SWT. Kala itu, Nabi Musa AS beribadah di Bukit Sinai selama 30 hari.

    Pada periode itu, bani Israil mengikuti ajaran Samiri seorang penyembah patung sapi emas. Sekembalinya Musa AS, patung sapi emas itu lantas ia bakar dan bani Israil kembali beriman kepada Allah SWT.

    Sebagai seorang nabi dan rasul, Nabi Harun AS juga dianugerahi mukjizat lainnya. Menurut buku Iman dan Takwa Peraih Muflihun tulisan Nasikin Purnama, Harun AS juga dimukjizati janggut yang terdiri atas dua warna yaitu putih dan hitam.

    Dikatakan, mukjizat itu muncul setelah Musa AS melakukan perjalanan mengambil kitab Taurat. Ia menitipkan pengikutnya kepada Nabi Harun AS.

    Sewaktu para pengikut Musa AS memilih untuk mendengarkan Samiri, Nabi Musa AS yang baru pulang dari perjalanannya menjadi marah. Ia menarik janggut Nabi Harun AS dan secara tiba-tiba, janggut yang ditarik itu berubah warna menjadi putih.

    Selain itu, Nabi Harun AS juga memiliki mukjizat tongkat yang berbunga. Ini bermula ketika bani Israil melakukan pengangkatan pemimpin.

    Pada saat itu, belum ada sosok yang dinilai pantas memimpin bani Israil yang mana berujung timbulnya perdebatan. Allah SWT lalu memerintahkan setiap pemimpin suku bani Israil meletakkan tongkatnya di tempat suci, begitu pula dengan tongkat Harun AS.

    Esoknya, Musa AS melihat tongkat Nabi Harun AS bertunas dan berbunga. Hal tersebut menandakan Allah SWT memilih Nabi Harun AS sebagai pemimpin bani Israil.

    Wallahu a’lam bishawab.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Rasulullah SAW Mengajarkan Adab Merawat Masjid


    Jakarta

    Masjid adalah tempat ibadah umat Islam yang wajib dijaga dan dimakmurkan oleh setiap muslim. Menjaga masjid menjadi salah satu adab yang diajarkan Rasulullah SAW.

    Masjid bukan hanya sebatas tempat salat, tetapi juga menjadi wadah untuk dakwah, tempat pendidikan dan juga tempat untuk melakukan musyawarah. Sebagai tempat untuk menjalankan berbagai amalan, masjid harus dijaga kebersihannya.

    Dalam sebuah hadits dari Abu Darda’ bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Masjid adalah rumah setiap orang bertakwa dan Allah memberi jaminan kepada orang yang menganggap masjid sebagai rumahnya bahwa ia memberinya ketenangan, rahmat, dan kemampuan untuk melintasi shirath menuju ridha Allah, yakni surga.” (HR. Thabrani dan Bazzar)


    Terkait adab menjaga masjid, ada kisah di zaman Rasulullah SAW di mana para sahabat dan orang-orang mukmin berlomba-lomba menjaga masjid.

    Merangkum buku 115 Kisah Menakjubkan Dalam Hidup Rasulullah oleh Fuad Abdurrahman dikisahkan bahwa para sahabat Rasulullah SAW sangat memahami adab di masjid. Mereka selalu mempelajarinya, dan kukuh menjalankannya.

    Mereka sangat tekun dan berlomba-lomba memelihara kebersihan masjid.

    Suatu hari, para sahabat melihat Rasulullah SAW membersihkan dahak di masjid dengan ujung ranting, lalu beliau meminta minyak wangi kepada jemaah yang hadir. Lalu seorang pemuda memberikan parfum jenis “khaluq”, dan beliau langsung memercikkannya ke bekas dahak tadi.

    Setelah kejadian itu, beliau berbicara di depan jemaah dan mengajarkan bagaimana mengatasi masalah mulut.

    “Siapa di antara kalian yang ingin dibelakangi Allah?” tanya Rasulullah SAW.

    Para sahabat diam, terkejut mendengar pertanyaan beliau. Namun, setelah beliau mengulangi pertanyaannya, mereka menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah!”

    “Ingatlah,” lanjut beliau, “ketika kalian berdiri salat, Allah SWT ada di hadapan kalian. Maka, jangan meludah ke depan dan ke kanan. Jika mendesak ingin meludah, ” Rasulullah SAW lalu melipat pakaian satu di atas yang lain.

    “Usaplah dengan pakaianmu, seperti ini,” ujar Rasulullah SAW mengajarkan.

    Kemudian beliau juga memerintahkan agar masjid diberi harum-haruman dan dupa bakar, “Harumkanlah masjid kalian dengan asap dupa.”

    Kemudian beliau berpesan agar masjid dibersihkan dari kotoran seraya bersabda, “Dipampangkan kepadaku seluruh pahala umatku, sampai pahala orang yang membuang kotoran dari masjid.”

    Perempuan Penjaga Masjid

    Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang perempuan berkulit hitam tinggal di salah satu pojok masjid. Ia mendirikan sebuah kemah kecil di sana.

    Ia adalah seorang budak milik seorang penduduk Makkah. Suatu hari, sang majikan kehilangan barang, dan mereka menuduh budak itu sebagai pencurinya.

    Perempuan ini diperiksa dan ditelanjangi lalu dihina sejadi-jadinya. Setelah diketahui bahwa ia bukan pelakunya, budak wanita ini mereka tinggalkan sehingga akhirnya ia pergi ke Madinah.

    Perempuan ini sangat rajin menyapu dan membersihkan masjid. Rasulullah SAW menyukai pekerjaan wanita itu hingga ketika suatu hari beliau tidak melihatnya, beliau bertanya kepada para sahabat.

    “Ia sudah meninggal, wahai Rasulullah,” jawab para sahabat.

    Rasulullah SAW menegur keras mereka karena dianggap memandang remeh masalah ini. “Apakah (dengan tidak peduli terhadap perempuan itu) kalian merasa tidak menyakitiku? Tunjukkan kepadaku, mana kuburannya?” tanya Rasulullah SAW.

    Para sahabat mengantarkan Rasulullah SAW ke kuburan perempuan itu, kemudian beliau mendirikan salat di dekat kuburan wanita itu dan berdoa untuknya. MasyaAllah.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Hilangnya Hajar Aswad Selama 22 Tahun hingga Haji Dihentikan


    Jakarta

    Hajar Aswad diyakini sebagai batu mulia yang berasal dari surga. Menurut sejarah, hajar Aswad pernah dicuri dan hilang selama 22 tahun. Siapa pelakunya?

    Hajar Aswad terletak di salah satu sudut Ka’bah. Rasulullah SAW memiliki kebiasaan mencium hajar Aswad sehingga dianggap menjadi sunah tawaf. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Umar RA, ia berkata,

    لَمْ أَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَلِمُ مِنَ الْبَيْتِ إِلَّا الرُّكْنَيْنِ الْيَمَانِيَّيْنِ


    Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW beristilam (menyentuh) Rukun Yamani dan Hajar Aswad setiap kali beliau tawaf.” (HR Muttafaq ‘alaih).

    Namun, pada suatu terjadi suatu tragedi di Makkah yang membuat hajar Aswad menghilang. Pada kurun waktu tersebut pula Ka’bah kehilangan batu hitam dari surga tersebut. Berikut kisahnya.

    Abu Tahir Al Qarmuthi, Dalang Pencurian Hajar Aswad

    Hajar Aswad hilang karena dicuri. Pencurian hajar Aswad dilakukan oleh kelompok syiah bernama Qarmatian yang kala itu dipimpin oleh Abu Tahir Al Qarmuthi.

    Tepatnya pada tahun 317 Hijriah atau 930 Masehi, Abu Tahir dan kelompok Qarmatian yang telah berniat mencuri hajar Aswad awalnya datang dari Bahrain menuju Makkah saat sebelum waktu pelaksanaan haji.

    Setibanya di Makkah, penduduk Makkah menolak mentah-mentah kedatangan Abu Tahir dan pengikutnya. Diceritakan dalam buku Jejak Sejarah di Dua Tanah Haram karya Mansya Aji Putra, kelompok Qarmatian pun membuat tipu muslihat dengan mengucapkan sumpah palsu untuk memasuki Makkah dengan damai.

    Bahkan mereka berpura-pura menunaikan haji agar dibolehkan masuk ke Makkah. Kala itu, Abu Tahir membawa sekitar 600 penunggang kuda dan 900 pasukan berjalan, dikutip situs Archyde.

    Mereka pun mengingkari sumpah tersebut dan tak lama kemudian, kelompok Qarmatian berhasil mengambil alih Kota Makkah. Abu Tahir dengan segera memerintahkan Ja’far bin Ilaj untuk mengambil hajar Aswad dari tempatnya secara paksa.

    Tidak hanya hajar Aswad yang dicuri, mereka juga menjarah barang-barang berharga yang ada di Ka’bah. Kelompok Qarmatian merampas harta orang-orang di Ka’bah, merobek kiswah atau penutup Ka’bah, melepas pintu Ka’bah, hingga mengambil talang emasnya.

    Mereka juga membantai seluruh jemaah haji di Ka’bah dan penduduk Makkah. Kelompok Qarmatian juga membantai 30 ribu jemaah haji yang sedang tawaf, iktikaf, dan salat. Waktu pembantaiannya memang bertepatan dengan puncak musim haji.

    Kelompok Qarmatian membuang sekitar 3 ribu mayat pembantain tersebut ke dalam sumur air suci zamzam. Kemudian, sisanya dikubur oleh mereka tanpa memandikan, mengkafani, ataupun menyalatinya.

    Kelompok tersebut bahkan melantunkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dengan nada seolah mengejek pada jemaah. Mereka juga menganggap ibadah haji sebagai sebuah ritual penyembahan berhala layaknya orang-orang di zaman jahiliyah.

    Setelah tragedi berdarah di kota suci tersebut, ibadah haji pun ditiadakan selama delapan tahun berturut-turut sebab para jemaah takut akan kembalinya teror keji dari kelompok Qarmatian.

    Kembalinya Hajar Aswad setelah Hilang selama 22 Tahun

    Setelah berhasil mencuri hajar Aswad dari Ka’bah, Abu Tahir memerintahkan pasukannya untuk menyimpan hajar Aswad tersebut ke Masjid al Dirar yang terletak di ibu kota baru negara mereka, al Hasa di Bahrain. Hajar Aswad pun disimpan di sana selama 22 tahun.

    Qutb al Din, Sejarawan Ottoman, bercerita dalam tulisannya tahun 1857, Abu Tahir ingin menjadikan masjid al-Dirar sebagai tempat suci layaknya kota suci Makkah. Namun, ia gagal mencapai impian sebab meninggal dunia.

    “Pemimpin Qarmatian, Abu Tahir al-Qarmahti, meletakkan Hajar Aswad di masjidnya sendiri, Masjid al-Dirar, dengan maksud mengalihkan haji dari Makkah. Namun, ini gagal,” tulisnya yang dikutip dari World Bulletin.

    Menurut catatan Imam al Juwaini dalam Historia Islamica, hajar Aswad akhirnya kembali ke Ka’bah setelah 22 tahun lamanya pada 952 Masehi setelah kondisi Kota Makkah kembali aman.

    Kelompok Qarmatian menyimpan hajar Aswad sebagai tebusan dan meminta bayaran kepada Bani Abbasiyah dengan jumlah uang yang besar agar bisa mengembalikan hajar Aswad ke tempat semula.

    Pada akhirnya, hajar Aswad dapat kembali namun dalam kondisi rusak dengan keretakan yang membaginya menjadi tujuh bagian. Untuk menjaga bentuknya, penjaga Ka’bah pun membingkai hajar Aswad dengan perak seperti yang dapat dilihat saat ini.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Nabi Ishaq, Saudara Nabi Ismail Beda Ibu


    Jakarta

    Saudara Nabi Ismail AS adalah Nabi Ishaq AS. Mereka saudara seayah beda ibu, ibu Nabi Ishaq AS adalah Siti Sarah sedangkan ibu Nabi Ismail AS adalah Siti Hajar. Ayah keduanya adalah Nabi Ibrahim AS.

    Mengutip kitab Qashash al-Anbiyaa karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan oleh Saefulloh MS, Nabi Ishaq AS lahir ketika Nabi Ibrahim dan Siti Sarah telah berumur lanjut. Kisah kelahirannya termaktub dalam Al-Qur’an surah As-Saffat ayat 112-113. Allah SWT berfirman,

    وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ


    Artinya: “Kami telah memberinya kabar gembira tentang (akan dilahirkannya) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh.” (QS As-Saffat: 112)

    وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ

    Artinya: “Kami melimpahkan keberkahan kepadanya dan Ishaq. Sebagian keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS As-Saffat: 113)

    Kisah Kelahiran Nabi Ishaq

    Nabi Ishaq AS lahir di Kota Kan’an pada 1761 SM. Nabi Ishaq AS lahir 14 tahun setelah Nabi Ismail AS.

    Kabar gembira kelahiran Nabi Ishaq AS disampaikan malaikat kepada Nabi Ibrahim AS dan Siti Sarah. Ketika itu, para malaikat mampir menemui Nabi Ibrahim AS dan Siti Sarah sebelum menuju kaum Nabi Luth AS. Mereka hendak menghancurkan kaum Nabi Luth AS karena kekafiran dan kejahatan yang telah mereka lakukan. Kisah ini diceritakan pada Al-Qur’an surah Hud ayat 69-73.

    Dikisahkan bahwa malaikat yang datang menyampaikan kabar baik ke Nabi Ibrahim AS dan Siti Sarah adalah Jibril, Mikail, dan Israfil. Mereka memperkenalkan diri kepada Nabi Ibrahim AS sembari menceritakan kezaliman kaum Nabi Luth AS.

    Berikutnya, mereka juga menyampaikan kepada Nabi Ibrahim AS dan Siti Sarah bahwa keduanya akan dikaruniai anak. Terkejut, Siti Sarah berkata,

    “Sungguh mengherankan! Mungkinkah aku akan melahirkan (anak) padahal aku sudah tua dan suamiku ini sudah renta? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang ajaib.” (QS Hud: 72)

    Malaikat pun menjawab, “Apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah (yang) dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (QS Hud: 73)

    Sosok Nabi Ishaq dan Kisah Kehidupannya

    Dinukil dari buku Menengok Kisah 25 Nabi & Rasul karya Ahmad Fatih, setelah diangkat menjadi nabi, Nabi Ishaq AS meneruskan dakwah Nabi Ibrahim AS di tanah Palestina. Beliau menyerukan kepada mereka untuk mengesakan Allah SWT, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mengerjakan kebajikan sesuai ajaran Islam.

    Nabi Ishaq AS menikah dengan wanita asal Irak bernama Rifqah pada usia 40 tahun. Ternyata, Rifqah memiliki kondisi mandul sehingga mereka tidak dikaruniai anak dalam waktu yang lama.

    Akan tetapi, Nabi Ishaq AS dan Rifqah tidak pernah menyerah untuk berdoa kepada Allah SWT. Akhirnya, dengan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT, Nabi Ishaq AS dan Rifqah dikaruniai bayi laki-laki kembar. Kala itu, Nabi Ishaq AS berusia 60 tahun.

    Bayi laki-laki kembar tersebut diberi nama Aishu dan Ya’qub. Kelak, Ya’qub akan meneruskan jalan ayah dan kakeknya menjadi seorang nabi. Kelahiran Ya’qub juga diceritakan dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya ayat 72.

    وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ نَافِلَةً ۗوَكُلًّا جَعَلْنَا صٰلِحِيْنَ

    Artinya: “Kami juga menganugerahkan kepadanya (Ibrahim) Ishaq (anak) dan sebagai tambahan (Kami anugerahkan pula) Ya’qub (cucu). Masing-masing Kami jadikan orang yang saleh.”

    Nabi Ishaq AS meninggal di usia 180 tahun dan dimakamkan di Gua Makhpela.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com