Blog

  • Dikenal Jujur dan Amanah, Miqdad bin Amr Putuskan Mundur dari Jabatan


    Jakarta

    Miqdad bin Amr dikenal sebagai sahabat Nabi SAW yang jujur dan amanah. Karena itulah ia diberikan jabatan oleh Nabi SAW menjadi amir. Namun, suatu ketika, ia memutuskan untuk mundur dari jabatannya.

    Merangkum buku Kisah Seru 60 Sahabat Rasul karya Ummu Akbar dan kitab Rijal Haula ar-Rasul karya Khalid Muhammad Khalid edisi Indonesia terbitan Shahih, berikut kisah lengkapnya.

    Miqdad bin Amr merupakan seorang cendekiawan dengan hati yang tulus. Hal itu tercermin dari ucapannya yang selalu bermakna dan penuh dengan prinsip-prinsip.


    Miqdad termasuk golongan awal yang memeluk Islam dan menjadi orang ketujuh menyatakan keislamannya secara terbuka. Akibatnya, ia mendapatkan perlakukan diskriminatif dan kejam dari kaum kafir Quraisy. Namun, ia tidak pernah goyah dalam keyakinannya.

    Disebutkan dalam buku 365 Hari Bersama Sahabat Nabi SAW karya Biru Tosca, bahwa Miqdad mendapat pujian dari banyak kaum muslimin atas aksinya di medan Perang Badar yang disebut tidak kenal takut.

    Miqdad juga pernah membakar semangat para kaum muslimin saat peperangan Badar yang pada saat itu mereka kalah jumlah dari musuh.

    Ia berkata, “Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang diperintahkan Allah, dan kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah,’ sedang kami akan mengatakan kepada engkau, ‘Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu.’ Demi yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga akhir.”

    Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat Rasulullah SAW bahkan pernah berkata, “Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi dunia ini.”

    Kisah Miqdad bin Amr Putuskan Mundur dari Jabatannya

    Pada suatu ketika, Miqdad diangkat oleh Nabi SAW sebagai amir atau pemimpin (gubernur) di suatu daerah. Ia pun menerima dan menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dengan sangat baik.

    Setelah menjalankan tugasnya Miqdad pun kembali dan bertemu Rasulullah SAW, Rasulullah SAW bertanya kepada Miqdad, “Bagaimana rasanya menjadi seorang amir?”

    Miqdad pun menjawab pertanyaan Rasulullah SAW dengan jujur, “Menjadi seorang amir membuat aku menganggap diriku lebih tinggi dari seluruh manusia lain. Demi yang telah mengutus engkau membawa kebenaran, mulai dari sekarang, aku tidak akan tergoda untuk mengambil jabatan amir selama-lamanya.”

    Sejak ia menjabat jabatan, Miqdad memang mengaku bahwa dirinya dikelilingi oleh banyak pujian dan kemewahan. Miqdad yang dikenal jujur dan amanah, menyadari betul bahwa itulah risiko yang harus ia tanggung ketika menjabat menjadi pemimpin. Bukannya tergoda untuk melanggengkan kekuasaannya, ia malah bertekad untuk menghindari segala jabatan yang ditawarkan.

    Bahkan ketika Rasulullah SAW menawarkannya jabatan lagi, kali ini ia menolak dengan tegas tawaran tersebut. Meski tidak memiliki jabatan, kecintaan Miqdad kepada Islam tidak pernah sedikit pun berkurang.

    Bahkan tanpa jabatan pun, Miqdad selalu mengambil tanggung jawab penuh di lingkungannya. Ia selalu menggunakan sikap kepemimpinannya untuk membela orang-orang yang tertindas.

    Ada sebuah kisah, pada suatu waktu, Miqdad keluar bersama rombongan tentara. Situasi pun berubah menjadi menegangkan sebab mereka tahu musuh akan segera mengepung dan menyerang pasukan mereka.

    Komandan pasukan pun memerintahkan para pasukannya untuk tidak menggembalakan hewan tunggangannya. Ini bertujuan agar keberadaan mereka tidak diketahui musuh. Akan tetapi, ada seorang prajurit yang tidak mengetahui larangan ini sehingga ia melanggarnya.

    Ketika hal tersebut diketahui oleh komandan, prajurit tersebut pun diberikan hukuman yang sangat berat. Miqdad yang saat itu kebetulan melihat kejadian tersebut melihat prajurit tersebut sedang menangis memohon ampun.

    Karena penasaran, ia pun menghampirinya dan menanyakan apa yang telah terjadi. Setelah mendengar cerita dari prajurit tersebut, Miqdad pun memahami apa yang telah terjadi lalu segera mengajak prajurit tersebut untuk menemui komandan pasukan.

    Di sanalah, Miqdad meluruskan segala persoalan yang menimpa prajurit tersebut. Penjelasan Miqdad yang terlihat begitu jujur dan tidak mengada-ngada itu membuat komandan pun sadar akan kesalahannya.

    Komandan pun akhirnya meminta maaf kepada prajurit bawahannya. Permohonan maaf sang komandan yang tulus mampu itu akhirnya diterima oleh prajurit dan mau memaafkannya.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Hotel Utsman bin Affan, Hasil Kebun Kurma dan Wakaf Sumur Sang Khalifah


    Jakarta

    Hotel Utsman bin Affan adalah hasil pengelolaan wakaf sumur milik sang suri tauladan umat muslim. Dikutip dari situs organisasi wakaf Afrika Selatan Awqaf SA, hotel tersebut memasuki tahap terakhir pembangunan pada 2013 dan mulai beroperasi.

    Pelayanan di hotel Utsman bin Affan setara bintang lima dengan 210 kamar. Hotel juga menyediakan 30 kamar khusus yang bisa disewa setiap saat. Hotel Utsman bin Affan berdiri setinggi 15 lantai, dengan 24 kamar di tiap lantainya.

    Sejarah Berdirinya Hotel Utsman bin Affan

    Hotel Utsman bin Affan adalah hasil pengelolaan kebun kurma dan sumur wakaf yang bernama Bir Rumah atau Raumah. Sumur wakaf Utsman bin Affan ini sudah berusia lebih dari 1400 tahun dengan air yang tidak pernah berhenti mengalir.


    Lahan sekitar sumur tersebut ditumbuhi banyak pohon kurma yang bisa diambil manfaatnya. Daulah Utsmaniyah dikisahkan mengelola kebun kurma dan menjual hasilnya pada masyarakat. Seiring waktu, pemerintah Saudi melanjutkan pengelolaan wakaf sumur dan hasil penjualan kurma.

    Sebagian penghasilan diberikan pada kaum yang membutuhkan, sedangkan lainnya masuk ke rekening Usman bin Affan. Dikutip dari laman Badan Wakaf Indonesia, sebanyak 1.550 pohon kurma terus memberikan hasil. Sehingga uang di rekening tabungan Utsman bin Affan terus meningkat.

    Tabungan tersebut akhirnya digunakan Pemerintah Arab Saudi untuk membeli tanah di kawasan Marzakiyah. Hotel bertaraf internasional ini diperkirakan beromzet 50 juta riyal/tahun atau setara Rp 200 miliar/tahun.

    Riwayat Pembelian Sumur Wakaf Utsman bin Affan

    Awal mula dibelinya Sumur Rumah atau Raumah oleh Utsman bin Affan terjadi karena sabda Rasulullah. Nabi Muhammad SAW merasa prihatin dengan kondisi umatnya dan berkata.

    “Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka ia akan mendapatkan surga-Nya Allah Ta’ala.” (HR Muslim).

    Mendengar hal tersebut, Utsman bin Affan yang dermawan langsung mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawarnya dengan harga tertinggi. Namun Sang Pemilik menolaknya dengan alasan tidak adanya penghasilan yang diperoleh setiap hari.

    Akhirnya, Utsman bin Affan membeli setengah sumur seharga 12.000 dirham dan sepakat untuk memilikinya bergantian dengan pemilik asli. Setiap dua hari, penduduk Madinah akan mengambil air yang cukup agar tidak kekurangan stok hingga terpaksa membelinya dari Yahudi.

    Namun sistem ini membuat Yahudi rugi dan akhirnya menjual hak milik sepenuhnya pada Utsman seharga 20.000 dirham. Sejak saat itu, seluruh penduduk dan pendatang di Madinah bebas memanfaatkan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari hingga sekarang.

    Keutamaan Wakaf Sumur

    Berdasarkan Kitab At-Targhib wat Tarhib minal Haditsisy Syarif karya Imam Zakiyuddin Abdul Al-Mundziri, sedekah yang dilakukan Utsman bin Affan termasuk dalam amalan dengan pahala berkelanjutan.

    حديث أَنَس قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعٌ يَجْرِى لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْماً، أَوْ كَرَى نَهْراً، أَوْ حَفَرَ بِئْراً، أَوْ غَرَسَ نَخْلاً، أَوْ بَنَى مَسْجِداً، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفاً، أَوْ تَرَكَ وَلَداً يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ رواه البزار وأبو نعيم والبيهقي

    Artinya: “Hadits sahabat Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Ada tujuh jenis amal yang pahalanya mengalir terus kepada seseorang di alam kuburnya: (1) orang yang mengajarkan ilmu, (2) orang yang mengalirkan (mengeruk atau meluaskan) sungai, (3) orang yang menggali sumur, (4) orang yang menanam pohon kurma, (5) orang yang membangun masjid, (6) orang yang mewariskan mushaf, (7) orang yang meninggalkan anak keturunan yang memintakan ampunan baginya sepeninggal kematiannya,’” (HR Al-Bazzar, Abu Nu’aim, dan Al-Baihaqi).

    Selain itu, sedekah air juga disebut sebagai sedekah yang paling disukai dan afdal untuk orang yang sudah meninggal. Pasalnya air memiliki manfaat yang luas baik untuk kepentingan agama maupun dunia. Beberapa keutamaan lain adalah:

    • Memperoleh ampunan dosa dari Allah SWT.
    • Mendapatkan pahala yang mengalir deras dan tidak terputus bahkan setelah meninggal dunia.
    • Memperoleh surga yang dijanjikan Allah SWT.
    • Menolong orang-orang yang membutuhkan.
    • Menjadi sedekah mulia dan disarankan sebagai amalan untuk orang yang telah meninggal.

    Demikian sejarah hotel Utsman bin Affan yang dapat menjadi pengingat untuk selalu menyisihkan sebagian harta untuk orang lain. Wakaf sumur atau air adalah sedekah jariyah yang amalannya terus mengalir, meski pelaku sedekah telah berpulang.

    (row/row)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kedermawanan Utsman bin Affan, Sang Pemiliki Dua Cahaya


    Jakarta

    Khulafaur Rasyidin adalah julukan dari empat khalifah umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW yang mempunyai jiwa kepemimpinan dan kebijaksanaan luar biasa. Masing-masing dari mereka mempunyai sisi tauladan yang dapat diikuti.

    Mengutip buku Biografi Utsman bin Affan karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dijelaskan biografi singkat mengenai Utsman bin Affan.

    Nama asli beliau adalah Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf. Sedang ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Habib bin Abd Syams bin Abdi Manaf bin Qushay.


    Pada awalnya Utsman bin Affan sering dipanggil oleh sahabat lainnya sebagai Abu Amru, namun setelah Ruqayah binti Rasulullah (Istri Utsman) melahirkan bayi yang diberi nama Abdullah, Utsman bin Affan kemudian dipanggil sebagai Abu Abdullah.

    Selain nama panggilan, Utsman bin Affan mempunyai gelar Dzunnurain (Pemilik dua cahaya). Badruddin Al-Aini saat memberikan syarah kepada Shahih Al-Bukhari menceritakan bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Mahlab bin Abu Shafrah. “Mengapa Utsman dijuluki Dzunnurain?”

    Al-Mahlab lantas menjawab, ” Karena kami belum mengetahui ada seseorang pun menikah dengan dua putri Nabi Muhammad SAW, kecuali Utsman.”

    Kedermawanan Utsman bin Affan

    1. Menyumbang Harta saat Perang Tabuk

    Mengutip buku Kisah Edukatif 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga karya Luthfi Yansyah disebutkan pada saat perang Tabuk, umat Islam kekurangan dana dan memerlukan bantuan dana dari hasil patungan para sahabat.

    Disisi lain pasukan musuh (Romawi) telah siap dengan pasukan yang banyak, prajurit dengan perlengkapan yang lengkap, serta persediaan yang memadai. Lokasi peperangan juga berada di dekat bangsa Romawi, sehingga umat Islam perlu melakukan persiapan matang dalam perjalanan menuju lokasi perang.

    Maka suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, beliau memuji Allah SWT, kemudian beliau menganjurkan kepada seluruh umat Islam untuk mengeluarkan segala kemampuannya dan menjanjikan mereka dengan balasan yang besar pula.

    Utsman segera berdiri, seraya berkata, “Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah”

    Kemudian, Rasulullah turun satu anak tangga dari mimbarnya dan beliau terus menganjurkan umat Islam untuk mengeluarkan apa yang mereka punya.

    Maka untuk kedua kalinya Utsman berdiri dan berkata, “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!”

    Kemudian, beliau turun satu anak tangga lagi dari mimbar dan beliau masih saja menyerukan kaum Muslimin untuk mengeluarkan segala yang mereka miliki. Utsman untuk ketiga kalinya berdiri dan berkata, “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, wahai Rasulullah!”

    Rasulullah SAW pun mengarahkan tangannya kepada Utsman bin Affan, beliau pun bersabda, “Utsman setelah hari ini tidak akan pernah kesulitan… Utsman setelah hari ini tidak akan pernah kesulitan.”

    Ketika Rasulullah SAW belum turun dari mimbarnya, Utsman bin Affan segera lari kencang kembali ke rumahnya mengambil harta yang beliau janjikan disertai dengan 1000 dinar emas, langsung diserahkan kepada Rasulullah.

    Rasulullah berkata:

    “Semoga Allah SWT mengampunimu, wahai Utsman atas sedekah yang engkau berikan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Semoga Allah juga mengampuni segala sesuatu yang ada pada dirimu, dan apa yang telah Dia ciptakan hingga terjadinya hari Kiamat.”

    2. Pembelian Sumur Tua Orang Yahudi

    Mengutip buku Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah karya Yanuar Arifin, terdapat kedermawanan lainnya yang pernah dilakukan oleh Utsman bin Affan.

    Pada zaman Rasulullah masih tinggal di Madinah, ada sebuah sumur bernama Rumata milik orang Yahudi yang dijual tinggi, menyebabkan tidak ada seorang pun yang dapat meminum air dari sumur tersebut.

    Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membeli Sumur Rumata untuk kita, lalu menjadikannya sebagai shadaqah bagi kaum muslimin, niscaya Allah Swt. akan memberikan kepadanya minum yang disebabkan kehausan pada Hari Kiamat.”

    Mendengar sabda Rasulullah SAW, Utsman bin Affan RA pun lantas membelinya dan kemudian ia menjadikannya shadaqah bagi kaum muslimin.

    Sumur itu ia beli dengan harga yang sangat tinggi, yakni sekitar tiga puluh lima dirham. Ada juga yang mengatakan dua puluh lima dirham.

    3. Shadaqah Semua Harta Dagangan

    Suatu ketika pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Madinah mengalami kekeringan, dan tumbuh-tumbuhan dan susah untuk didapat, makanya tahun ini dikenal sebagai tahun ramadah (Tahun kelabu).

    Utsman bin Affan bersama rombongan dagangnya datang membawa seribu unta, dan setiap untanya telah dibebani berbagai muatan berupa gandum, minyak, anggur, atau tin yang dikeringkan.

    Para pedagang di Madinah segera mengerubungi dagang Utsman untuk bernegosiasi persediaan tersebut, Utsman pun menolaknya, bukan karena negosiasi gagal dan harganya tidak cocok, melainkan Utsman berniat sedekah seluruh barang bawaannya untuk penduduk Madinah yang sedang kesulitan.

    Utsman bin Affan RA berkata, “Aku bersaksi kepada Allah, aku menjadikan apa yang dibawa oleh unta- unta ini sebagai shadaqah kepada fakir miskin dari kaum muslimin. Aku tidak mengharapkan dari mereka dirham atau dinar. Namun, aku mengharapkan pahala dan ridha dari Allah.”

    Belajar dari kedermawanan Utsman bin Affan, detikers tak perlu bersedekah dengan nominal besar. detikers bisa memulainya dengan langkah kecil seperti berdonasi. Sahabat baik bisa berderma melalui berbuatbaik.id yang menjamin donasi 100% tersalurkan tanpa potongan. Yuk mulai tanamkan sikap dermawan dengan berdonasi, sekarang juga!

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Saudah binti Zam’ah, Istri Rasulullah SAW yang Pernah Dipuji Aisyah RA


    Jakarta

    Kisah salah satu istri Nabi Muhammad SAW bernama Saudah binti Zam’ah RA merupakan seorang wanita Quraisy dari Bani Amir. Sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir yang senantiasa menuduh Rasulullah SAW.

    Mengutip buku Air Mata Kanjeng Nabi Tindak Tanduk Wanita yang Membuat Baginda Menitikkan Air Mata karya Atiqah Hamid perihal riawayat hidup Saudah binti Zam’ah.

    Saudah binti Zam’ah RA adalah wanita yang gemar sedekah. Beliau adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah SAW setelah wafatnya Khadijah RA. Saudah binti Zam’ah RA sangat dihormati pada masanya.


    Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, Saudah binti Zam’ah RA pernah menikah dengan sepupunya, Sakran bin Amr, yang kemudian meninggal setelah hijrah ke Habasyah.

    Saat Rasulullah SAW melamarnya, Saudah binti Zam’ah RA diketahui telah memiliki lima anak yang masih kecil. Beliau berkata kepada Rasulullah SAW,

    “Demi Allah, tidak ada hal yang bisa menghalangi diriku untuk menerima dirimu, sedang kau adalah sebaik-baik orang yang paling aku cintai. Akan tetapi, aku sangat memuliakanmu agar aku bisa menempatkan mereka (anak-anakku yang masih kecil) berada di sampingmu siang dan malam.”

    “Semoga Allah menyayangi kamu. Sesungguhnya, sebaik- baik wanita adalah mereka yang menunggangi kuda, sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang bersikap lembut terhadap anak pada waktu kecilnya dan merawatnya untuk pasangannya dengan tangannya sendiri,” jawab Rasulullah SAW.

    Pernikahan Rasulullah SAW dan Saudah binti Zam’ah RA berlangsung pada Ramadhan, tahun kesepuluh dan setelah kematian Khadijah RA, di Makkah.

    Saudah binti Zam’ah RA dikenal sebagai orang yang gemar bersedekah. Khalifah Umar bin Khattab RA pernah mengirim sekantong penuh uang dirham padanya. Kemudian Saudah binti Zam’ah RA bertanya kepada Umar bin Khattab RA, “Apa ini?”

    “Dirham yang banyak,” jawab Umar bin Khathab RA.

    “Dalam kantong ada setandang kurma. Wahai jariah yakinkan diriku,” ujar Saudah binti Zum’ah RA. Kemudian, ia membagi-bagikan dirham tadi.

    Saudah binti Zam’ah RA. juga memiliki akhlak yang terpuji. Aisyah RA, pernah berkata, “Tiada seorang pun yang lebih aku kagumi tentang perilakunya selain Saudah binti Zam’ah yang sungguh hebat.”

    Wafatnya Saudah binti Zam’ah

    Mengutip buku Ensiklopedia Tokoh Muslim yang ditulis Ahmad Rofi Usmani dijelaskan kapan wafatnya Saudah binti Zam’ah.

    Setelah Khadijah binti Khuwalid wafat pada 10 atau 11 Ramadhan tahun ke-10 kenabian (sekitar 30 atau 31 April 619 M), Rasulullah SAW menikahi Saudah.

    Saat Rasulullah SAW menikahi ‘Aisyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, Rasulullah SAW pernah berniat untuk menceraikan Saudah.

    Ketika itu Saudah berkata, “Rasulullah! Saya bersedia memutuskan giliranku demi ‘Aisyah. Sama sekali tiada keinginan bagiku untuk berkeluarga (karena sudah tua). Namun, saya ingin dibangkitkan pada Hari Pembalasan nanti sebagai istrimu!” Beliau langsung mengabulkan permintaan tersebut.

    Perempuan yang bertangan panjang (Saudah binti Zam’ah) wafat di Madinah pada 54 H/673 M, pada masa pemerintahan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Beberapa sejarawan menyebutkan ia wafat pada 19 H/640 M, pada masa pemerintahan Umar ibn Al-Khaththab.

    Keutamaan Saudah Binti Zam’ah

    Menguitip buku The Golden Stories of Ummahatul Mukminin karya Ukasyah Habibu Ahmad inilah keutamaan-keuatamaan yang dimiliki Saudah binti Zam’ah.

    Saudah merupakan wanita yang mempunyai ketabahan dan kesabaran luar biasa, terutama ketika ia mampu menahan derita pengusiran, kezaliman, dan penganiayaan dari kaum kafir Quraisy, sesudah beliau menyatakan keislamannya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Raja Mansa Musa, Muslim Terkaya Sepanjang Masa



    Jakarta

    Raja Mansa Musa adalah penguasa Afrika Barat yang hidup pada abad ke-14. Ia adalah raja yang sangat kaya sekaligus muslim yang beriman.

    Dikabarkan BBC, sebagaimana diungkap Rudolph Butch Ware, guru besar sejarah di Universitas California, menggambarkan betapa kayanya Mansa Musa.

    “Jumlah kekayaan Musa jika dihitung di masa kini sungguh luar biasa sampai-sampai hampir mustahil untuk benar-benar memahami betapa kaya dan berkuasanya ia saat itu,” ungkap Rudolph Butch Ware.


    Banyak sejarawan yang memperkirakan kekayaan Mansa Musa. Pada 2012, situs web AS Celebrity Net Worth memperkirakan jumlah kekayaan Musa berada di angka US$400 miliar atau sekitar Rp5,72 kuadriliun. Meskipun ditemukan angka perkiraan, namun sejarawan ekonomi satu suara bahwa kekayaannya tak mungkin dinominasi ke dalam angka.

    Raja yang Hidup pada 1280-1337

    Mansa Musa adalah seorang raja yang hidup di tahun 1280-1337. Saking kayanya, jumlah hartanya tidak bisa digambarkan dengan apapun.

    Mansa Musa naik takhta menggantikan sang kakak, Mansa Abu-Bakr yang memerintah Kerajaan Mali hingga tahun 1312. Mansa Musa resmi bergelar raja setelah sang kakak memiliki rencaana besar mengarungi Samudera Atlantik.

    Mansa Abu Bakr berangkat ditemani ribuan rakyatnya dengan mengendarai 2.000 kapal. Sayangnya, rombongan ini tidak pernah kembali lagi. Demikian menurut sejarawan Suriah, Shibab al-Umari.

    Di bawah kepemimpinan Mansa Musa, Kerajaan Mali berkembang dengan sangat pesat. Ia berhasil menguasai 24 kota baru pada masa itu, termasuk Timbuktu.

    Kerajaan yang Menguasai Banyak Kekayaan

    Saking besarnya wilayah kekuasaan Kerajaan Mali, Mansa Musa layak dijuluki sebagai raja yang sangat amat kaya.

    Menurut British Museum, Kerajaan Mali memiliki hampir separuh jumlah emas yang beredar di kawasan Dunia Lama, negeri-negeri di Afrika, Asia dan Eropa. Besarnya wilayah kekuasaan Mansa Musa, maka otomatis seluruh sumber daya alam berada di bawah kekuasaannya.

    Kathleen Bickford Berzock, seorang spesialis seni Afrika di Block Museum of Art di Universitas Northwestern mengatakan, “Pusat-pusat perdagangan besar yang menggunakan emas dan komoditas lain sebagai alat tukar juga berada di daerah kekuasaannya, dan ia (Mansa Musa) memperoleh kekayaannya dari aktivitas perdagangan tersebut.”

    Raja Mansa Musa Berhaji

    Mansa Musa adalah raja yang memeluk Islam. Ia dikenal sebagai sosok muslim yang taat beragama.

    Pada jelang musim haji, Mansa Musa menuju ke Makkah melalui Gurun Sahara dan Mesir. Ia berniat menunaikan ibadah haji.

    Mansa Musa turut mengajak rakyatnya dalam perjalanan ini. Ia diketahui membawa rombongan yang terdiri dari 60.000 orang.

    Rombongan ini termasuk para pejabat kerajaan seperti hakim, pasukan tentara, pedagang dan pada budak. Rombongan ini juga membawa unta sebagai tunggangan, ribuan sapi dan kambing sebagai bekal persediaan makanan.

    Puluhan ribu orang yang bergerak bersamaan ini sekilas tampak seperti sebuah kota yang sedang berjalan. Rombongan ‘Raja Terkaya’ ini juga turut membawa banyak perhiasan dan harta berupa emas murni.

    Kisah Kairo Kebanjiran Emas Mansa Musa

    Perjalanan haji Mansa Musa melintasi Kairo. Di sini terjadi kisah penting yang kemudian tercatat dalam sejarah.

    Karena membawa perbekalan emas yang sangat banyak, Mansa Musa dengan gampang membagikan emas kepada warga Kairo. Ia singgah di kota ini selama tiga bulan tetapi menghancurkan perekonomian kota ini selama 10 tahun.

    Kehadiran Mansa Musa membuat harga emas anjlok.

    Lucy Duran dari School of African and Oriental Studies di London mencatat bahwa para penghibur Mali, yang merupakan pendongeng balada sejarah, khususnya, marah terhadap Mansa Musa.

    “Ia membagikan terlalu banyak emas sepanjang perjalanan hingga para penghibur tak mau memuja-mujinya lagi dalam nyanyian mereka karena mereka berpikir bahwa ia menghambur-hamburkan sumber daya alam lokal di luar kerajaan,” ujarnya.

    Perjalanan haji Mansa Musa kemudian menjadi bagian dari sejarah. Kedermawanannya membagikan emas membuat Mansa Musa dan Kerajaan Mali dikenal luas.

    Pada abad ke-19, orang-orang dari berbagai penjuru mendatangi Timbuktu. Mereka ingin membuktikan mitos kota emas yang hilang di ujung dunia. Hal itu masih terus berlangsung, bahkan 500 tahun sejak Mansa Musa berkuasa.

    Peran Mansa Musa dalam Dunia Pendidikan

    Mansa Musa kembali dari Mekah bersama sejumlah cendekiawan Islam, termasuk keturunan langsung Nabi Muhammad dan penulis puisi sekaligus arsitek Andalusia bernama Abu Es Haq es Saheli, yang dikenal sebagai perancang Masjid Djinguereber yang terkenal.

    Masjid Djinguereber dibangun pada 1327.

    Mansa Musa juga banyak berperan dalam bidang seni, sastra dan pendidikan. Ia membangun banyak sekolah, perpustakaan dan masjid.

    Timbuktu berubah menjadi pusat pendidikan dan banyak orang berdatangan dari berbagai belahan dunia untuk belajar di tempat yang kini dikenal sebagai Universitas Sankore.

    Mansa Musa dikabarkan meninggal dunia pada 1337 di usia 57 tahun. Kerajaannya ini kemudian diwariskan kepada anak-anaknya.

    Sayangnya, anak-anak Mansa Musa tidak bisa menjaga kerajaan seperti sang ayah. Kedatangan bangsa Eropa ke Afrika menjadi titik akhir kehancuran kerajaan Mali.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kondisi Kesehatan Rasulullah Sepulang Haji Wada Menurun, Begini Kisahnya


    Jakarta

    Haji wada adalah haji pertama dan terakhir Rasulullah SAW. Beliau berangkat haji pada tahun ke-10 Hijriah. Kondisi kesehatan Rasulullah SAW sepulang haji wada menurun.

    Haji wada Rasulullah SAW dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Ishaq, dari Abdurrahman bin Qasim, dari Qasim bin Muhammad, dari Aisyah RA, ia berkata,

    “Rasulullah berangkat untuk menunaikan ibadah haji pada tanggal 25 Zulkaidah.” (HR Bukhari dan Muslim)


    Kondisi Kesehatan Rasulullah Sepulang Haji Wada

    Mengutip buku Tapak Sejarah Seputar Mekah-Madinah karya Muslim H. Nasution, Rasulullah SAW menyiapkan pasukan untuk melawan Romawi sekembalinya dari haji wada. Pasukan yang dibentuk Rasulullah SAW bergerak di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, putra Zaid bin Haritsah.

    Akan tetapi, sementara pasukan muslimin mulai bergerak meninggalkan Madinah, terdengar berita bahwa Rasulullah SAW jatuh sakit. Sakit Rasulullah SAW pada awalnya dirasakan di bagian kepala, kemudian berkembang menjadi demam. Sehari sebelum jatuh sakit, beliau sempat berziarah ke Pemakaman Baqi’ dan mendoakan orang-orang yang dikuburkan di sana.

    Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah bahwa Rasulullah SAW pergi ke Pemakaman Baqi’ bersama Abu Muwaihibah. Diriwayatkan dari Ubaid bin Jubair, dari Abdullah bin Umar, dari Ibnu Ishaq, dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Abu Muwaihibah, ia berkata,

    “Rasulullah SAW mengutusku pada tengah malam, Beliau bersabda, ‘Abu Muwaihibah, aku diperintahkan untuk memintakan ampunan bagi penghuni Baqi’. Mari pergi bersamaku’.”

    Abu Muwaihibah pun berangkat bersama beliau. Setibanya di pekuburan, Rasulullah SAW bersabda,

    “Assalamu’alaikum, wahai penghuni kubur. Berbahagialah kalian dengan apa yang kalian rasakan dari apa yang dirasakan manusia. Berbagai fitnah datang laksana kepingan malam gelap. Fitnah terakhir menyusul fitnah pertama, dan fitnah yang terakhir lebih buruk daripada yang pertama.”

    Beliau kemudian menengok ke arah Abu Muwaihibah dan bersabda, “Abu Muwaihibah, sesungguhnya aku diberi kunci harta dunia dan keabadian di dalamnya, sesudah itu surga. Aku diberi pilihan di antara itu atau bertemu dengan Tuhanku dan surga.”

    Abu Muwaihibah berkata, “Demi ayah bundaku, ambillah kunci harta dunia, hidup langgeng di dalamnya, lalu surga.”

    Rasulullah SAW pun bersabda, “Tidak, demi Allah, Abu Muwaihibah, aku sudah memilih kembali kepada Tuhanku dan surga.”

    Rasulullah kemudian memintakan ampunan bagi penghuni Baqi’ dan pulang. Semenjak itu, Rasulullah SAW mulai menderita sakit yang menyebabkannya meninggal dunia. (HR Ahmad)

    Diriwayatkan dari Ya’qub bin Utbah, dari Muhammad bin Muslim az-Zuhri, dari Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud, dari Aisyah RA, ia berkata,

    “Rasulullah pulang dari Baqi’, lalu menemuiku. Saat itu aku sedang sakit kepala. Aku mengerang, ‘Aduh, kepalaku sakit sekali’.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, justru kepalaku lebih sakit, Aisyah.” Selanjutnya beliau bersabda, “Apa salahnya seandainya engkau mati mendahuluiku sehingga aku mengurusmu, mengkafanimu, menyalatkanmu, dan menguburkanmu?”

    Aisyah RA berkata, “Demi Allah, jika itu yang terjadi padaku, begitu engkau selesai mengurusku, engkau akan kembali ke rumahku dan bermesraan dengan salah satu istrimu.”

    Rasulullah SAW pun tersenyum. Sejak saat itu, sakit Rasulullah SAW semakin parah hingga beliau wafat pada 12 Rabiul Awal tahun ke-11 Hijriah. (HR Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kedermawanan Rasulullah Rela Berikan Bajunya saat Ada yang Minta


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam kedermawanan. Terdapat sejumlah kisah kedermawanan Rasulullah SAW semasa beliau hidup.

    Gambaran kedermawanan Rasulullah SAW diceritakan dalam hadits. Diriwayatkan Musa bin Anas dari ayahnya, dia berkata, “Rasulullah tidak pernah dimintai sesuatu pun atas nama Islam kecuali beliau memberikannya.”

    Perawi menambahkan bahwa ketika Nabi didatangi seseorang yang meminta sedekah, maka beliau memberi orang tersebut kambing yang banyaknya di antara dua bukit.


    Kemudian orang itu kembali ke kaumnya dan berseru, “Wahai kaumku! Hendaknya kalian memeluk Islam, karena sesungguhnya Muhammad akan memberikan suatu pemberian, orang yang tidak takut fakir kepada kalian.”

    Serta hadits dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Rasulullah adalah manusia paling dermawan. Dan, sesungguhnya puncak kedermawan beliau adalah ketika bulan Ramadan tatkala Malaikat Jibril mengujungi beliau. Jibril mengunjungi Nabi setiap malam di bulan Ramadan untuk menyimak bacaan Al-Qur’an beliau. Sungguh, kedermawanan Rasulullah melebihi angin yang berhembus sepoi-sepoi.”

    Mengutip buku Agar di Surga Bersama Nabi karya Mohammad Mufid terdapat beberapa kisah kedermawanan Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan karakter hebatnya sebagai panutan dan teladan umat Islam.

    Kisah Kedermawanan Rasulullah

    Suatu ketika Rasulullah SAW berangkat ke pasar untuk membeli sesuatu dengan membawa 8 dirham. Namun, di tengah jalan beliau berpapasan dengan seorang wanita tua yang sedang menangis.

    Tanpa ragu Rasulullah SAW menghampiri perempuan tua tersebut, dan menanyakan perihal alasan kenapa dia menangis. Ternyata perempuan tua itu kehilangan uangnya sejumlah 2 dirham.

    “Terimalah uang 2 dirham ini sebagai gantinya,” ucap Rasulullah SAW, kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke pasar.

    Sesampainya di pasar, Rasulullah SAW membeli gamis seharga 2 dirham, memakainya, dan langsung kembali ke rumah.

    Saat dalam perjalanan pulang, Rasulullah SAW bertemu dengan lelaki tua yang tidak mengenakan pakaian. Lelaki tua itu berkata, “Siapa saja yang mau memberikan pakaian kepada ku, semoga Allah memberikan kepadanya pakaian dari sutra hijau di surga nanti.”

    Rasulullah SAW yang mendengar perkataannya segera melepas gamis yang baru saja beliau beli di pasar, lalu menyerahkannya kepada orang tersebut.

    Rasulullah SAW yang masih memiliki 4 dirham kembali ke pasar untuk membeli gamis baru seharga 2 dirham.

    Dalam perjalanan pulang, Rasulullah SAW kembali bertemu dengan perempuan tua yang sebelumnya telah beliau berikan uang dua dirham, kali ini perempuan tua itu kembali menangis.

    “Apalagi yang menyebabkan kamu menangis?” tanya Rasulullah SAW.

    “Wahai Rasulullah, aku ini pelayan yang disuruh belanja ke pasar oleh majikanku. Aku takut dimarahi karena terlambat, padahal keterlambatan itu disebabkan oleh uang yang hilang tadi. Aku takut pulang jangan-jangan mereka memarahiku,” jawab perempuan tua itu.

    “Pulanglah, aku akan mengantarmu,” kata Rasulullah SAW.

    Perempuan tua itu diantar oleh Rasulullah SAW kepada keluarganya di perkampungan sahabat Anshar.

    Sesampai di rumah majikan perempuan tua itu, Rasulullah SAW berkata, “Pelayan wanitamu ini terlambat datang. Ia takut kalau kau marah atau menyiksanya. Kalau kau mau marah atau menyiksanya, silakan kepadaku saja,” kata Rasulullah SAW kepada majikan wanita itu.

    “Kami telah menerima bantuanmu, wahai Rasulullah. Kami telah membebaskan perempuan ini. Karena dialah Rasulullah berkunjung ke rumah ini dan memberi salam kepada kami tiga kali. Dia merdeka untuk Allah Yang Maha Agung,” kata mereka.

    “Sungguh, aku tidak pernah melihat perkara yang lebih berkah daripada sekadar uang delapan dirham ini,” kata Rasulullah SAW sambil melangkah pulang.

    Kisah kedermawanan Rasulullah SAW juga terlihat saat beliau diberi makanan, hadiah atau semacamnya. Diceritakan dalam buku Kehebatan Sedekah Kisah-Kisah Seru Tentang Kedermawanan dan Kemurahan Hati karya Fuad Abdurrahman, apabila menerima pemberian itu, beliau akan membalasnya dengan yang lebih bagus dari apa yang diterimanya.

    Anas RA menceritakan sosok Rasulullah SAW, “Tidak pernah Rasulullah SAW diminta sesuatu, melainkan beliau pasti memberikannya. Suatu ketika, datanglah seorang peminta kepada beliau. Maka, diberinya kambing yang berada di antara dua bukit. Kemudian, orang itu kembali kepada kaumnya.” (HR Muslim)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Nabi Ayub dan Rasulullah SAW Diuji dengan Penyakit Jelang Wafat



    Jakarta

    Nabi bukanlah sekadar sebuah gelar, mereka adalah individu yang dipilih oleh Allah SWT, memiliki keteguhan hati yang tak tergoyahkan, keimanan yang mendalam, dan diuji dengan berbagai kesulitan luar biasa.

    Ada seorang nabi diuji dengan diberikan penyakit yang tidak bisa disembuhkan bagi zaman sebelumnya, zaman saat itu, hingga zaman setelahnya. Berikut ini penjelasan dan jawaban mengenai sosok nabi apa yang diuji dengan penyakit.

    Berikut ini kisah sakitnya nabi utusan Allah SWT yang menandakan bahwa para nabi juga lah manusia biasa.


    Kisah Sakitnya Nabi Ayub AS

    Mengutip buku Dahsyatnya Syukur yang ditulis Prof. Dr. Komaruddin Hidayat membahas mengenai ujian yang Allah SWT berikan kepada nabi Ayub AS.

    Dikisahkan bahwa Nabi Ayub AS merupakan nabi yang mempunyai kekayaan berlimpah, namun tidak membuat dirinya menjadi sombong, malah membuatnya semakin taat dalam beribadah kepada Allah SWT.

    Ketaatan nabi Ayub inilah menjadikan para iblis marah dan iri, maka mereka bersungguh-sungguh untuk menggoyahkan keimanan beliau. Iblis pun menghadap kepada Allah SWT sambil meminta izin untuk menggoda dan menguji nabi Ayub.

    Allah lantas mengabulkan keinginan iblis tersebut, bukan karena Allah tidak peduli dengan nabinya, tetapi Allah bermaksud untuk menjadikan kejadian ini sebagai teladan bagi umat manusia.

    Ujian pertama Allah SWT mengabulkan para iblis untuk mengambil harta kekayaan nabi Ayub, dengan cara mematikan seluruh hewan ternak, kebun-kebun mengering, buah-buahan membusuk, rumah dimusnahkan.

    Nabi Ayub AS tetap sabar dan bersyukur, tidak mengeluh, apalagi berprasangka buruk kepada-Nya, beliau menyadari semua yang dimiliki adalah kepunyaan Allah SWT. Beberapa kali iblis mencobai menghasutnya, namun tidak membuahkan hasil.

    Hal ini tidak membuat para iblis menyerah dalam menguji nabi Ayub, mereka pun memberikan berbagai macam penyakit ke seluruh tubuh nabi Ayub. Seluruh persendian terasa remuk, badannya panas-dingin, dadanya terasa sesak dan sakit, muncul batuk-batuk berdarah, kulitnya dipenuhi bintik-bintik merah.

    Bintik merah itu lama kelamaan berubah menjadi koreng bahkan mengeluarkan bau yang tidak sedap, membuat nabi Ayub hanya bisa berbaring di tempat tidurnya, semua kebutuhannya dilayani oleh sang istri.

    Kian hari penyakit nabi Ayub semakin parah, bahkan penyakit tersebut bertahan di tubuh beliau selama 7 tahun, akhirnya nabi Ayub AS curhat mengenai kondisinya.

    Pesan nabi Ayub AS tergambarkan dalam surah Al-Anbiya ayat 83:

    ۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ ٨٣

    Artinya: “(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

    Allah menjawab doa nabi Ayyub AS melalui surah Shad ayat 42:

    اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ ٤٢

    Artinya: “(Allah berfirman,) “Entakkanlah kakimu (ke bumi)! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.”

    Nabi Ayyub AS lantas mandi dan meminum air tersebut, seketika penyakitnya sembuh.

    Nabi Muhammad AS Sakit Sebelum Wafatnya

    Neti S., Aisyah Fad, Endah W dalam buku berjudul Nabi Muhammad Saw – Kisah Manusia Paling Mulia Di Dunia menuliskan kisah wafatnya manusia paling mulia di dunia ini.

    Pada tanggal 28/29 bulan Safar 11 H Nabi Muhammad SAW merasakan sakit sepulang menghadiri pemakan jenazah seorang sahabat di Baqi.

    Rasulullah sakit selama 13/14 hari, meskipun sakit selama 11 hari Nabi Muhammad SAW tetap melaksanakan salat bersama para sahabatnya. Kemudian, penyakit beliau semakin berat, dan menghendaki untuk berada di rumah Aisyah pada hari-hari terakhirnya.

    Beberapa hari terakhir tersebut juga Abu Bakar telah menjadi imam salat menggantikan Nabi Muhammad SAW. Lalu, ½ hari sebelum wafat, Rasulullah keluar untuk menunaikan salat Zuhur, dan duduk di samping Abu Bakar.

    Rasulullah memerdekakan budaknya, bersedekah, dan memberikan senjata-senjatanya kepada umat Islam.

    Wasiat Rasulullah SAW

    Menjelang wafatnya Rasulullah menyampaikan pesan laknat Allah bagi Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi menjadi masjid.

    Nabi Muhammad SAW juga menegaskan, “Jagalah salat! Jagalah salat! Jangan sekali-kali terlantarkan budak kali.” Wasiat ini diulang-ulang hingga beberapa kali.

    Pada hari Senin, 12 Rabiul Awal, di waktu Dhuha, Nabi Muhammad SAW wafat di pangkuan Aisyah RA dalam usia 63 tahun lebih 4 hari.

    Demikianlah pembahasan tentang nabi yang diuji dengan penyakit. Nabi Ayub AS yang diuji Allah dengan penyakit yang belum pernah ada sebelumnya dan setelahnya, serta Nabi Muhammad SAW yang mengalami sakit menjelang wafatnya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Sahabat Nabi yang Ingin Jadi Miskin agar Masuk Surga Lebih Awal



    Jakarta

    Abdurrahman bin Auf namanya, ia adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang ingin menjadi miskin. Padahal, Abdurrahman dikaruniai harta yang melimpah oleh Allah SWT.

    Mengutip buku Kisah 10 Pahlawan Surga yang disusun oleh Abu Zaein, perawakan Abdurrahman bin Auf dikatakan berpostur tinggi, berkulit putih dan halus. Ia berasal dari Bani Zuhrah, keturunan paman-paman Rasulullah SAW dari pihak ibu.

    Dahulu, namanya adalah Abd Amr bin Abd Auf bin Al-Harits. Setelah masuk Islam, Nabi Muhammad SAW mengganti namanya menjadi Abdurrahman bin Auf.


    Selain dikenal sebagai sosok pedagang sukses dan kaya raya, Abdurrahman bin Auf memiliki keluasan ilmu. Ia bahkan menghafal Al-Qur’an dan mencatat setiap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

    Tidak hanya kaya, Abdurrahman bahkan memberikan 200 uqiyah emas (1 uqiyah setara dengan 31 gram) untuk memenuhi kebutuhan logistik selama perang Tabuk. Ketika ada seruan berinfak dari Rasulullah SAW ia tidak pernah ragu menyumbangkan hartanya.

    Meski memiliki harta yang berlimpah, Abdurrahman bin Auf berharap miskin. Dikutip dari buku Di Balik Takdir oleh Afsheena Moon, suatu ketika Nabi Muhammad SAW berkata bahwa Abdurrahman akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya dan menyebabkan dirinya dihisab paling lama.

    Mendengar hal itu, Abdurrahman bin Auf berpikir keras. Ia mencari cara bagaimana agar dirinya kembali menjadi miskin supaya bisa masuk surga lebih awal. Sebab, kekayaan yang dimilikinya membuat ia khawatir akan masuk surga paling akhir.

    Abdurrahman bin Auf bahkan menyedekahkan separuh hartanya pada zaman nabi. Setelah itu, ia bersedekah lagi sampai 40.000 dinar yang mana kebanyakan harta bendanya diperoleh dari hasil perdagangan.

    Menyadur dari buku 99+ Moslem Booster tulisan Malik al-Mughis, Abdurrahman bin Auf bertekad menjadi orang miskin. Setelah perang Tabuk, kurma di Madinah menjadi busuk karena ditinggalkan para sahabat untuk berperang. Ia berpikir ini menjadi salah satu cara untuk menjadikannya miskin.

    Bahkan, Abdurrahman bin Auf menjual seluruh hartanya. Hasil dari penjualan itu ia gunakan untuk membeli kurma-kurma busuk di Madinah dengan harga yang tinggi.

    Para sahabat merasa senang karena kurma-kurma busuk mereka laku dibeli. Sementara itu, Abdurrahman bin Auf merasa gembira karena mengira kali ini tujuannya untuk menjadi miskin pasti berhasil.

    Tanpa disangka, datang kabar dari Negeri Yaman bahwa di sana penyakit menular yang berbahaya telah menyebar. Para tabib menganjurkan Raja Yaman mencari kurma-kurma busuk. Mereka meyakini kurma busuk itu sebagai penawar dari penyakit tersebut.

    Lalu, datanglah seorang utusan Raja Yaman menghadap Abdurrahman bin Auf. Ia lalu membeli kurma-kurma busuk dari Abdurrahman. Utusan tersebut bahkan membayar Abdurrahman bin Auf 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

    Hal itu menggagalkan usaha Abdurrahman bin Auf untuk menjadi miskin. Alih-alih miskin, ia justru jadi lebih kaya 10 kali lipat dari sebelumnya.

    Wallahu’alam bishawab.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Keajaiban Bismillah yang Dibacakan Istri Membuat Suami Munafik Bertobat



    Jakarta

    Ada kisah keajaiban basmallah yang dibacakan oleh istri hingga membuat suami munafiknya bertobat kepada Allah SWT. Kisah tersebut mengajarkan kepada kita mengenai perilaku orang-orang beriman ketika ditimpa suatu ujian.

    Islam senantiasa mengajarkan kepada muslim dan mukmin untuk mencari pasangan hidup yang baik agamanya. Seperti dalil berikut ini.

    Dilansir buku Nabila, Mutiara Halalku yang ditulis Taufik Shopi menuliskan cerita mengenai seorang istri shalehah yang menikah dengan wanita munafik.


    Istri shalehah tidak merasa hidup dalam tahanan, tapi merasa hidup dalam perlindungan. Ada kisah wanita shalehah yang bersuami jelek akhlaknya (munafik). Suatu hari, suaminya bermaksud jahil terhadap istrinya.

    Katanya, “Saya akan berbuat sesuatu yang membuatmu malu”. Setelah itu, sang suami menyerahkan sebuah kendi dan berpesan untuk disimpan dengan baik.

    Waktu berlalu, ternyata sang suami tidak pernah menanyakan kendi itu. Dia memang sengaja agar sang istri lupa akan pesan suaminya. Bahkan kendi itu diambil suaminya, lalu dibuang ke dalam sumur.

    Setelah itu ia pura-pura bertanya, “Mana kendi yang kamu simpan?”. Sang istri segera beranjak ke tempat dimana kendi itu disimpan.

    Pertolongan Allah SWT segera datang. Malaikat Jibril datang untuk mengembalikan kendi itu ke tempat semula. Sehingga, tepat pada saat istrinya sampai ke tempat penyimpanan, kendi itu sudah ada lagi seperti semula, posisinya tidak berubah sama sekali.

    Diambilnya kendi tersebut dengan membaca bismillah, lalu dibawanya ke hadapan sang suami. Sang suami geleng-geleng kepala; ia takjub atas keajaiban tersebut. Maka, setelah kejadian itu, sang suami bertobat.

    Begitulah kehidupan wanita shalehah, selalu dalam lindungan Allah SWT. Jika Allah SWT meridhoi makhlukNya, maka la akan menjaganya dari kejahatan yang mengancam.

    Mengutip buku Beli Surga dengan Al-Qur’an karya R. Wahidi dkk. Ketika menceritakan ulang kisah seorang istri selalu membaca Bismillah dari kitab Tuhfah Al-Ikhwan.

    Kitab tersebut menceritakan seorang istri yang selalu mengucapkan bismillahir rahmanir rahim setiap akan melakukan sesuatu menikah dengan suami munafik.

    Suami munafik itu tidak suka dengan keimanan istrinya, hingga dia selalu membenci setiap istrinya bertawasul kepada kalimat bismillah.

    Suatu hari suaminya menguji sang istri dengan memberikannya sekantong emas kecil, “Simpanlah barang ini.” kata suami.

    Istrinya pun menerimanya sambil mengucapkan bismillah, kemudian menyimpannya dalam kain sembari mengucapkan bismillah. Lalu dengan membaca bismillah, ia kembali menyimpan barang itu di tempat rahasia.

    Suami munafik mengetahui tempat rahasia dan mengambil kantong emas kecil itu tanpa sepengetahuan istrinya, lalu melemparnya ke lautan.

    Tujuan dari tindakannya ini supaya sang istri merasa malu, dan meragukan keyakinannya terhadap kalimat bismillah.

    Sesudah membuang barangnya ke laut, suami kembali ke toko. Siangnya sebelum pulang ke rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli ikan untuk dimasak sang istri.

    Kemudian, sesampainnya di rumah ia berikan ikan itu, ketika istrinya akan membelah ikan tadi, ia melihat kantong emas di dalamnya, sambil mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Ia mengambilnya dan menyimpannya di tempat semula.

    Malam harinya, suami munafik meminta istrinya untuk mengambil kantong emas yang ia titipkan, “Ambilkan kantong emas yang aku amanahkan kepadamu.” pintanya.

    Istri lantas bergegas mengambil kantong emas sembari mengucapkan bismillah ia berikan kepada suaminya.

    Sang suami pun terkejut ternyata kantong emas yang ia buang di laut ada kembali, lalu ia bersujud dalam hatinya ia bertobat kepada Allah SWT dan menjadi muslim.

    Demikianlah dua kisah yang serupa mengenai seorang istri shalehah dengan keyakinan dan kesabarannya mampu membuat suami yang tadinya munafik menjadi tobat dan kembali ke jalan Allah SWT.

    Tag:

    kisah islami

    istri shalehah

    hikmah

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com