Blog

  • Kisah Nuaiman dan Hadiah Madu untuk Rasulullah SAW



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW memiliki sahabat yang terkenal jahil dan sering membuat orang lain tertawa. Nu’aiman bin Ibnu Amr bin Raf’ah namanya, ia merupakan sahabat Rasulullah yang berasal dari kalangan Anshar.

    Dalam beberapa catatan sejarah, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad kerap tertawa dan gembira bila berada di dekat Nu’aiman saking jenakanya pria tersebut. Berkaitan dengan itu, ada sebuah kisah lucu mengenai Nu’aiman memberikan hadiah madu untuk Rasulullah.

    Mengutip dari buku Janibal Ma’rifat tulisan Dafiq Rohman, suatu hari Nu’aiman membeli madu dari seorang Badui. Tanpa membayarnya, dia mengajak orang tersebut menghadap Rasulullah SAW dan menyerahkan madu tersebut kepada beliau sebagai tanda hadiah.


    Tanpa sepengetahuan Rasulullah dan orang lain yang hadir, Nu’aiman berkata kepada orang Badui tersebut, “Mintalah bayarannya di sini,”

    Setelah menerima hadiah itu, Nabi Muhammad pun merasa senang. Terlebih madu merupakan makanan kesukaan beliau.

    Hadiah dari Nu’aiman itu kemudian dibagikan kepada orang yang hadir sampai habis. Sementara orang Badui yang menjual madu menunggu pembayaran madu yang dibeli Nu’aiman, tetapi hal itu tak kunjung ia terima hingga akhirnya bertanyalah dia kepada Rasulullah,

    “Apa maduku tidak akan dibayar?”

    Mendengar pertanyaan orang Badui tersebut, Rasulullah tersadar bahwa tidak ada yang berani melakukan hal ini kecuali sahabatnya yang usil, yaitu Nu’aiman. Beliau lalu menghampiri Nu’aiman dan bertanya mengapa dia melakukan hal tersebut.

    “Aku ingin berbuat baik kepadamu, tetapi aku tidak memiliki apa-apa,” jawab Nu’aiman.

    Alih-alih marah, Nabi Muhammad justru tertawa mendengar jawaban sahabatnya yang jahil itu. Beliau lalu segera membayar madu yang telah habis dibagikan itu.

    Di kesempatan yang lain, ada juga kisah mengenai Nu’aiman yang menyembelih unta milik tamu Nabi Muhammad SAW. Menurut kisah yang diceritakan oleh Abu as-Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlaq an-Nabi wa Adalubuhu, suatu ketika ada ada orang Arab pedalaman yang datang mengendarai untanya dan berhenti di depan pintu Masjid Nabawi.

    Setelahnya, orang tersebut masuk menemui Rasulullah. Sementara Hamzah ibn Abdul Muthalib tengah duduk bersama beberapa Muhajirin dan Anshar, Nu’aiman menjadi salah satunya.

    Kemudian, mereka berkata kepada Nu’aiman, “Hebat, untanya itu gemuk. Maukah kamu menyembelihnya karena kita benar-benar ingin makan daging? Andaikan kamu melakukannya, pastilah Rasulullah SAW akan berutang untuk membayarnya, dan kita pun bisa makan daging,”

    Mendengar itu, Nu’aiman berkata, “Tapi jika aku melakukannya dan kalian memberitahukan perbuatanku kepada Rasulullah SAW, pastilah beliau memarahiku,”

    “Kamu (kami anggap) tidak melakukan apa-apa!” jawab mereka.

    Tanpa pikir panjang, Nu’aiman segera menyembelih unta tersebut lalu pergi buru-buru. Dia melewati Miqdad bin Amru yang baru selesai menggali sebuah lubang, ia berkata

    “Wahai Miqdad, sembunyikan aku di dalam lubang ini. Tutupilah aku dan jangan tunjukkan tempatku kepada siapa pun karena aku telah melakukan sesuatu,”

    Miqdad menuruti Nu’aiman, ketika orang Arab itu keluar, betapa terkejutnya ia mendapati untanya sudah mati. Rasulullah lalu keluar dari rumahnya dan bertanya siapa yang melakukan hal tersebut.

    Para sahabat lantas menjawab bahwa itu perbuatan Nu’aiman. Kemudian Rasulullah dan para sahabat mencari Nu’aiman, setelah ditemukan ia lantas berkata,

    “Demi Dia yang mengutusmu membawa kebenaran yang telah menyuruhku melakukannya adalah Hamzah dan teman-temannya. Mereka mengatakan begini dan begitu,”

    Nabi Muhammad lalu meminta orang Arab pedalaman itu agar merelakan untanya, ia juga bersabda:

    “Unta ini menjadi urusan kalian (harus kalian bayar), dan mereka pun memakannya,”

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Bukit Shafa dan Marwah, Saksi Perjuangan Siti Hajar demi Nabi Ismail



    Jakarta

    Bukit Shafa dan Marwah adalah dua buah bukit yang menjadi tempat dilaksanakannya salah satu rukun haji yaitu sa’i. Tempat tersebut menyimpan kisah perjuangan ibunda Nabi Ismail AS, Siti Hajar.

    Hepi Andi Bastoni dalam buku Umrah Sambil Belajar Sirah Menapak Tilas Sejarah Rasulullah menjelaskan bahwa letak Bukit Shafa dan Marwah dekat dengan Ka’bah (Baitullah).

    Bukit Shafa dan Marwah yang berjarak sekitar 450 meter ini menjadi tempat melaksanakan ibadah Sa’i saat melaksanakan haji maupun umrah.


    Terdapat suatu alasan mengapa Bukit Shafa dan Marwah menjadi tempat suci sekaligus tempat melaksanakan salah satu rukun haji.

    Hal ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Qashash al-Anbiyaa bahwa alasan mengapa sa’i dilakukan di Bukit Shafa dan Marwah yaitu berkaitan dengan kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail AS.

    Siti Hajar adalah istri kedua Nabi Ibrahim AS. Dari pernikahan keduanya lahirlah Nabi Ismail AS. Adapun, istri pertama Nabi Ibrahim AS adalah Siti Sarah.

    Saat itu, Nabi Ibrahim AS membawa Siti Hajar dan Nabi Ismail AS yang saat itu masih bayi untuk pergi ke Makkah. Hal ini dikarenakan Siti Sarah cemburu dengan Siti Hajar karena ia telah melahirkan seorang anak.

    Siti Sarah meminta kepada Nabi Ibrahim AS untuk membawa Siti Hajar dan Nabi Ismail AS pergi menuju suatu tempat. Nabi Ibrahim AS menempatkan Siti Hajar dan Ismail di Baitullah dekat pohon besar.

    Pada saat itu, tidak ada seorang pun yang berada di Makkah dan sama sekali tidak ada air di sana. Sebelum meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail AS, Nabi Ibrahim AS meletakkan geribah yang berisi kurma dan bejana yang terisi air di sisi Siti Hajar dan putranya.

    Ketika Nabi Ibrahim AS hendak beranjak pergi, Siti Hajar mengikutinya dan seraya berkata, “Wahai Ibrahim, engkau hendak pergi ke mana? Apakah engkau hendak pergi meninggalkan kami sementara di lembah ini tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada makanan sama sekali?”

    Hajar melontarkan pertanyaan itu berkali-kali, namun Nabi Ibrahim AS tidak bergeming. Siti Hajar kemudian kembali bertanya, “Apakah Allah SWT memerintahkan hal ini kepadamu?” Nabi Ibrahim AS menjawab, “Ya.”

    Lalu Siti Hajar berkata, “Jika demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Setelah Nabi Ibrahim AS pergi, Siti Hajar mulai menyusui Nabi Ismail AS ketika air yang ada di dalam bejana sudah habis, Siti Hajar dan Nabi Ismail AS mulai merasa kehausan.

    Siti Hajar melihat putranya lemas dan tidak berhenti menangis karena kehausan dan sesekali kakinya menendang-nendang. Siti Hajar yang melihatnya tidak tega, ia segera pergi untuk mencari air supaya air susunya kembali keluar untuk menyusui Nabi Ismail AS.

    Ia mencari sumber air ke Bukit Shafa yang letaknya paling dekat, ia lalu menaiki Bukit Shafa dan melihat lembah di bawahnya barangkali saja ada orang yang lewat. Namun, ternyata tidak ada seorang pun yang dilihatnya.

    Hingga akhirnya Hajar pun kembali turun, ia terus berusaha sekuat tenaga hingga ia berhasil melewati lembah.

    Selanjutnya, ia mendaki Bukit Marwah dan berdiri di atasnya. Hajar kembali melihat-lihat ke bawah berharap ada orang yang lewat namun ternyata tidak ada seorang pun.

    Setelah itu, Siti Hajar berjalan mondar-mandir antara Bukit Shafa dan Marwah hingga tujuh kali. Ibnu Abbas berkata, “Nabi Muhammad SAW bersabda: “Oleh sebab itu, manusia melakukan sa’i (lari-lari kecil) di antara kedua bukit itu (dalam pelaksanaan ibadah haji)’.”

    Kemudian saat mendekati Bukit Marwah, Siti Hajar mendengar suara “Diamlah”. Siti Hajar yang menyadarinya pun langsung terdiam dan ternyata ia bersama dengan malaikat yang kemudian menghentakkan kakinya ke tanah hingga membentuk kolam kecil.

    Kemudian Siti Hajar menciduk air tersebut dan memasukkannya ke dalam bejana, ia pun meminum air itu yang kemudian di beri nama zamzam dan kembali menyusui Nabi Ismail AS.

    Mengenai Bukit Shafa dan Marwah merupakan tempat suci ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,
    ۞ اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَا ۗ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًاۙ فَاِنَّ اللّٰهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ ١٥٨

    Artinya: “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka, siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri, lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 158)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kala Paman Rasulullah Berdoa Meminta Turunnya Hujan



    Jakarta

    Abbas bin Abdul Muthalib namanya. Paman nabi yang satu ini disebut sebagai orang yang paling kesepian usai wafatnya Rasulullah SAW.

    Abbas merupakan saudara bungsu dari ayah Nabi Muhammad. Mengutip dari buku Abbas bin Abdul Muthalib yang ditulis oleh Arief Priambudi, perbedaan umur Abbas dan Rasulullah hanya berkisar dua sampai tiga tahun.

    Keduanya sangat akrab, terlebih usia mereka tidak terpaut jauh. Sosok Abbas dikenal sebagai seorang yang pemurah, selalu menjaga dan menghubungkan tali silaturahmi.


    Selain itu, Abbas juga disebut sebagai orang yang cerdas. Saking cerdasnya, Abbas memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan Quraisy, ia tak gentar membela Nabi Muhammad dari berbagai bencana dan kejahatan kaum Quraisy.

    Berkaitan dengan Abbas, ada sebuah kisah menarik. Diceritakan dalam buku Dahsyatnya Ibadah, Bisnis, dan Jihad Para Sahabat Nabi yang Kaya Raya susunan Ustaz Imam Mubarok Bin Ali, pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab terjadi paceklik yang hebat bersamaan dengan kemarau ganas.

    Masyarakat berbondong-bondong datang kepada khalifah Umar untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang menimpa daerahnya masing-masing. Umar lantas meminta para kaum muslimin untuk membantu sesama, penguasa di berbagai daerah diperintahkan mengirim kelebihan daerah ke pusat.

    Ka’ab lalu menemui Umar bin Khattab sambil berkata, “Wahai amirul mukminin! Biasanya Bani Israil kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan dengan kelompok para nabi mereka,”

    Mendengar hal itu, Umar lalu menjawab, “Inilah paman Nabi Muhammad SAW dan saudara kandung ayahnya. Lagi pla, ia adalah pimpinan Bani Hasyim,”

    Paman Rasulullah yang dimaksud ialah Abbas bin Abdul Muthalib. Selanjutnya, Umar segera pergi menemui Abbas dan menceritakan kesulitan yang dialami oleh masyarakat.

    Setelah itu, Umar dan Abbas naik ke atas mimbar seraya berdoa, “Ya Allah, kami menghadapkan diri kepada-Mu bersama dengan paman nabi kami dan saudara kandung ayahnya, maka turunnkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai putus asa,”

    Kemudian, Abbas memulai berdoa dengan memuja Allah SWT,

    “Ya Allah, Engkau yang mempunyai awan, dan Engkau pula yang mempunyai air. Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah semua tumbuhan dan suburkanlah semua air susu. Ya Allah, Engkau tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa, Engkau tidak akan mengangkat bencana kecuali lantara taubat. Kini, umat ini sudah menghadapkan diri kepada-Mu, maka turunkanlah hujan kepada kami,” (HR Bukhari dari Anas bin Malik).

    Atas izin dan kuasa Allah, setelah doa tersebut dipanjatkan turunlah hujan lebat. Orang-orang lalu bersyukur dan mengucapkan selamat kepada Abbas, “Selamat kepadamu wahai Saqi Haramain yang mengurusi minuman orang di Makkah dan Madinah!”

    Dijelaskan dalam buku Pelajaran Agama Islam yang ditulis oleh Hamka bahwa memohon kepada Allah SWT dengan memakai seseorang sebagai perantara diperbolehkan. Hal ini disebut dengan wasilah yang artinya perantara.

    Dalam surat Al Maidah ayat 35, Allah SWT berfirman:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    Arab latin: Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wabtagū ilaihil-wasīlata wa jāhidụ fī sabīlihī la’allakum tufliḥụn

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan,”

    Hal inilah yang juga mendorong Umar bin Khattab untuk mempersilahkan Abbas selaku paman Rasulullah untuk membacakan doa permohonan turunnya hujan. Doa tersebut diriwayatkan dari hadits riwayat Bukhari.

    Itulah kisah mengenai paman Nabi Muhammad yang diminta Umar untuk berdoa agar hujan turun. Semoga cerita di atas dapat mempertebal keimanan kita, Aamiin.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Rasulullah Menegur Sahabat Akibat Panjangnya Bacaan Salat



    Jakarta

    Menurut keterangan hadits, diketahui ternyata Rasulullah SAW pernah menegur salah seorang sahabatnya. Teguran itu bermaksud mengingatkan sahabatnya akan panjangnya bacaan surah saat menjadi imam.

    Hadits tersebut bersumber dari Jabir bin Abdullah RA. Berdasarkan riwayatnya, sahabat yang bernama Muadz bin Jabal tersebut bahkan membuat seorang makmum memisahkan diri dari barisan salat berjamaah.

    Dikisahkan, Mu’adz pernah salat bermakmum kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, dia lalu mendatangi kaumnya dan mengimami mereka salat dengan membaca surah Al Baqarah.


    Jabir berkata, “Saat itu lalu ada seorang makmum yang memutuskan diri dari berjamaah, lalu mengerjakan salat sendirian secara ringkas,” sebagaimana dikutip dari Shalatul Mu’min Bab Imamah karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani.

    Kejadian ini pun lalu sampai kepada Mu’adz. Ia pun berkata, “Sungguh dia itu munafik,”

    Omongan Mu’adz ini lalu sampai kepada laki-laki tersebut. Laki-laki itu lalu mendatangi Nabi Muhammad SAW dan mengadukan hal itu pada beliau. Ia berkata,

    “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami ini adalah orang yang bekerja dengan tangan kami sendiri dan kami menyirami sendiri tanah kami dengan bantuan unta, dan sesungguhnya semalam Mu’adz mengimami kami salat dengan membaca surah Al-Baqarah, kemudian aku memisahkan diri, kemudian dia mengatakan bahwa aku munafik (bagaimana ini?),”

    Rasulullah SAW yang mendengar kisah dari lelaki tersebut pun mendatangi Mu’adz. Beliau pun menegurnya dengan lembut mengingatkan Mu’adz untuk mempertimbangkan kondisi makmum dalam salat.

    “Wahai Mu’adz, apakah engkau seorang yang suka menimbulkan kesulitan kepada orang lain? Apakah engkau seorang yang suka menimbulkan kesulitan kepada orang lain? Apakah engkau seorang yang suka menimbulkan kesulitan kepada orang lain? Oleh karena itu, bacalah surat Asy-Syams dan Al-A’la atau surat lain yang kurang lebih sama panjangnya.” (HR Bukhari)

    Kisah ini juga termaktub dalam Shahih Muslim dengan redaksi serupa. Berikut hadits selengkapnya.

    “Dia (Mu’adz) pernah mengerjakan salat Isya’ bersama Rasulullah. kemudian mendatangi kaumnya dan mengimami mereka salat tersebut.

    Suatu malam ia mengerjakan salat Isya’ bersama Nabi Muhammad SAW, kemudian mendatangi kaumnya dan mengimami mereka dengan membaca surat Al Baqarah, lalu ada seseorang yang membatalkan salatnya, kemudian mengerjakan salat sendirian dan setelah itu ia lalu pergi…” (HR Muslim)

    Dalam hadits Anas RA seperti yang dikeluarkan Imam Ahmad juga menyampaikan kisah serupa. Anas berkata.

    فَلَمَّا رَأَى مُعَاذَا طَوَّلَ تَجَوَّزَ فِي صَلَاتِهِ وَحَقَ بِنَخْلِهِ يَسْقِيهِ….

    Artinya: “Ketika orang tersebut mengetahui Mu’adz memanjangkan bacaannya, dia lalu memperpendek salatnya, berpaling dari salat berjamaah itu, lalu bergegas untuk menyirami tanaman kurmanya…” (HR Ahmad)

    Dijelaskan Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani, makmum memisahkan diri hal lantaran imam terlalu memanjangkan bacaan salatnya adalah termasuk uzur syar’i.

    Perawi hadits Imam Ahmad dalam buku Panduan Shalat Praktis & Lengkap oleh Ustaz Ust. Syaifurrahman El-Fati juga berpendapat , seorang imam salat sebaiknya membaca membacakan surat pendek. Tujuannya, agar amalan ibadah tidak memberatkan jamaah lainnya. Dengan catatan, ukuran berat ringannya bacaan surat Al-Qur’an tergantung kebiasaan imam dan makmum di daerah tersebut.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Utsman bin Affan dan Kedermawanannya dalam Berbagi



    Jakarta

    Utsman bin Affan merupakan sosok sahabat Rasulullah SAW yang dikenal akan kedermawanannya. Dia juga termasuk ke dalam golongan yang pertama memeluk Islam atau biasa disebut Assabiqunal Awwalun.

    Usia Utsman dengan Nabi Muhammad terpaut 6 tahun lebih muda. Dirinya juga merupakan sosok pemimpin ketiga setelah Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

    Utsman memeluk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi, usia Utsman kala itu masih 34 tahun.


    Nama lengkapnya Utsman bin Affan bin Abil Ash bin Umaiyah bin Abdusy Syams bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luwa’i bin Ghaib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’addu bin Adnan. Ia lahir di Thai kawasan Hijaz, sebuah wilayah bagian barat laut Arab Saudi.

    Sebagai sosok yang dermawan, Utsman bin Affan tidak pernah ragu dalam menyumbangkan hartanya di jalan Allah dan membantu sesama. Dijelaskan dalam buku Utsman bin Affan RA susunan Abdul Syukur al-Azizi, Syurahbil bin Muslim RA menuturkan bahwa Utsman pernah memberi makan banyak orang dengan makanan para bangsawan.

    Setelahnya, Utsman masuk ke rumahnya untuk makan cuka dan minyak samin. Dia memberikan makanan yang baik-baik kepada orang lain sementara dirinya hanya memakan cuka dan minyak samin.

    Mengutip dari buku Kisah Edukatif 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga tulisan Luthfi Yansyah, kedermawanan dan kemurahan hati Utsman tidak ada yang menandingi. Ketika masjid Nabawi terasa sempit karena banyak jemaah yang ikut salat, Rasulullah SAW bermaksud membeli tanah milik seorang sahabat untuk keperluan perluasan masjid, beliau berkata:

    “Siapa yang membeli tanah keluarga Fulan lalu menambahkannya ke masjid, maka dia akan memperoleh kebaikan dari tanah itu di surga,”

    Tanpa pikir panjang, Utsman segera membelinya dari harta pribadi senilai 25 ribu dinar. Dia juga membeli sebuah sumur yang dinamai Sumur Rumah seharga 1000 dirham.

    Sumur itu lantas diserahkan kepada kaum muslimin dari berbagai kalangan, baik itu kaya, sederhana, miskin, ataupun mereka yang kehabisan bekal perjalanan. Begitu dermawannya sosok Utsman bin Affan.

    Pernah pada suatu ketika di masa kekhalifahan Umar bin Khattab terjadi musim paceklik. Sawah dan ladang menjadi kering sampai-sampai masa itu disebut sebagai tahun Ramadah atau debu.

    Kaum muslimin merasa sangat kesulitan hingga banyak nyawa manusia yang terancam. Umar berkata kepada mereka,

    “Bersabarlah dan berharap pahala-lah kalian kepada Allah! Aku amat berharap semoga Allah memudahkan kesulitan kalian pada petang ini,”

    Di penghujung hari, datanglah kabar bahwa kafilah Utsman bin Affan datang dari Syam dan rombongan tersebut tiba di Madinah pada pagi hari. Usai salat Subuh, masyarakat berbondong-bondong menyambut kedatangan mereka.

    Tak disangka-sangka, rombongan yang terdiri dari 1000 unta itu membawa gandum, minyak, dan anggur kering. Kafilah unta tersebut berhenti di depan pintu rumah Utsman.

    Bersamaan dengan itu, para budak menurunkan muatan yang ada di punggung unta. Para pedagang segera menemui Utsman dan berkata kepadanya,

    “Juallah kepada kami segala yang kau bawa, wahai Abu Amr (panggilan Utsman)!”

    Ia lalu menjawab, “Aku akan menjualnya dengan senang hati kepada kalian, akan tetapi berapa harga yang hendak kalian tawarkan kepadaku?”

    “Setiap dirhak yang engkau bayarkan akan kami ganti dua dirham!”

    “Aku akan mendapatkan lebih dari itu,” ujar Utsman.

    Para pedagang akhirnya menambahkan harga tawaran mereka. Namun, Utsman berkata, “Sesungguhnya aku akan mendapatkan lebih dari harga yang kalian tambahkan,”

    “Wahai Abu Amr, sesungguhnya tidak ada pedagang lain di Madinah selain kami. Dan tidak ada seorang pun yang mendahului kami datang ke tempat ini. lalu siapa yang telah memberikan tawaran kepadamu melebihi harga yang kami tawarkan?”

    “Allah SWT akan memberikan 10 kali lipat dari setiap dirham yang aku bayarkan. Apakah kalian dapat membayar lebih dari ini?” jelas Utsman.

    Pedagang itu kemudian menjawab, “Kami tidak sanggup untuk membayarnya, wahai Abu Amr!”

    Lalu, Utsman langsung berkata, “Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku akan menjadikan semua barang bawaan yang dibawa oleh kafilah ini sebagai sedekah untuk kaum fakir dan miskin. Aku tidak pernah berharap satu dirham ataupun satu dinar sebagai gantinya,”

    Saking dermawannya Utsman, ia rela memberikan bantuan pangan yang ada pada 1000 unta itu. Dia tidak mengharapkan uang sebagai ganti, melainkan ridha dan balasan dari Allah SWT.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Perjuangan Uwais Al Qarni Gendong Ibunya dari Yaman untuk Naik Haji



    Jakarta

    Uwais al Qarni adalah seorang pemuda fakir yang berbakti kepada sang ibu. Ia menggendong ibunya dari Yaman ke Makkah agar bisa menunaikan haji.

    Merujuk dari buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah karya Syaikh Muhammad Sa’id Mursi, Uwais al Qarni memiliki nama lengkap Uwais bin Amir bin Jaza’ bin Malik al Qarni. Ia dilahirkan di tengah-tengah keluarga besar Qarn, salah satu silsilah keluarga dari bani Murad di Yaman.

    Ia memang hidup pada masa Nabi Muhammad SAW tetapi tidak pernah bertemu dengan beliau. Mengenai Uwais al Qarni, Rasulullah SAW pernah berkata kepada Umar bin Khattab RA,


    “Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama dengan pasukan bantuan dari bani Murad, kemudian dari Qarn. Ia adalah orang yang menderita penyakit kusta, lalu penyakitnya sembuh, kecuali tempat seluas mata uang dirham. Ia adalah orang yang sangat berbakti kepada ibunya. Jika kamu bisa memintanya untuk memohon ampunan untukmu, maka lakukanlah!”

    Ketika banyak pembebasan wilayah baru pada masa pemerintahan Umar bin Khattab RA, Uwais datang bersama dengan beberapa orang dari Yaman dalam rangka untuk berjihad di jalan Allah SWT. Ketika Umar bin Khattab RA bertemu dengan Uwais ia memintanya untuk memohon ampunan kepada Allah SWT lalu Uwais pun melakukannya.

    Mengenai Uwais, salah seorang warga Kufah pernah berkata, “Ia hidup sangat sederhana dan bersahaja. Ia suka bergabung bersama kami dalam halaqah dzikir. Jika ia berdzikir menyebut nama Allah, maka dzikirnya tersebut sangat merasuk dalam hati sanubari kami.”

    Ia hidup di Kufah di tengah-tengah komunitas awam. Tidak seorang pun di antara mereka yang mengenal identitasnya. Bahkan, terkadang di antara mereka tidak ada yang mengenal Uwais al Qarni. Bahkan di antara mereka ada yang suka mengejeknya, hingga akhirnya Umar bin Khattab RA menceritakan tentang jati diri Uwais.

    Setelah itu, identitas Uwais diketahui oleh publik luas, kemudian ia pergi meninggalkan Kufah, dan bergabung bersama Ali bin Abi Thalib RA dalam Perang Shiffin.

    Mengenai kebaktian Uwais al-Qarni ini dijelaskan pula dalam buku Unconditional Marriage karya Mega Anindyawati.

    Uwais Al-Qarni adalah seorang pemuda dari Yaman yang begitu taat kepada ibunya. Semua permintaan sang ibu yang buta dan lumpuh selalu ia penuhi. Namun, ada satu keinginan ibunya yang belum bisa dikabulkan yaitu ingin pergi haji ke Makkah.

    Uwais yang merupakan seorang pemuda miskin tidak memiliki biaya untuk memberangkatkan haji ibunya. Sehingga setiap hari ia menggendong seekor kambing yang ia gembala untuk naik turun bukit. Orang-orang banyak yang mengira bahwa ia sudah gila.

    Ternyata, saat musim haji tiba Uwais yang sudah lebih kuat dan berotot menggendong ibunya untuk pergi ke Makkah. Ia menempuh jarak ratusan kilometer selama berhari-hari demi baktinya kepada sang ibu. Hal itulah yang membuat Uwais al Qarni menjadi seseorang yang tidak terkenal di bumi namun terkenal di langit.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Nabi yang Pilih Berjauhan dengan Rumah Rasulullah, Kenapa?



    Jakarta

    Menurut kisah, ada salah satu sahabat nabi yang lebih memilih rumahnya berjauhan dengan rumah Rasulullah SAW. Padahal, sahabat-sahabat yang lain bahkan berebut untuk mendiami rumah yang berdekatan dengan beliau.

    Nama sahabat tersebut diketahui bernama Sya’ban. Alasannya ini bahkan membuatnya menyesal pada saat sakaratul maut.

    Sahabat yang Pilih Rumah Berjauhan dengan Rumah Rasulullah

    Dikutip dari buku Fikih Madrasah Ibtidaiyah Kelas III tulisan Yusak Burhanudin dan Muhammad Najib, Rasulullah SAW mendiami rumah yang terletak di samping Masjid Nabawi. Para sahabatnya kerap menunaikan ibadah di sana.


    Sya’ban Radhiyallahu’anhu adalah sahabat yang selalu hadir di masjid sebelum waktu salat tiba dan memilih posisi di pojok masjid saat salat berjamaah. Hal itu ditujukan agar tidak mengganggu ibadah orang lain. Rasulullah SAW dan semua orang mengetahui akan kebiasaannya itu.

    Pada suatu hari, Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakan salat berjamaah di masjid. Namun, Rasulullah SAW terkejut karena tidak melihat Sya’ban hadir.

    Beliau menunggu kehadiran Sya’ban, tetapi Sya’ban tidak datang. Akhirnya, Rasulullah SAW memutuskan untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah tanpa kehadiran Sya’ban.

    Setelah salat Subuh berjamaah selesai, Sya’ban masih belum muncul di masjid. Rasulullah SAW sangat khawatir dan meminta seorang sahabat untuk menemui Sya’ban di rumahnya.

    Saat sampai di rumah Sya’ban, istri Sya’ban memberitahu Rasulullah SAW bahwa Sya’ban telah meninggal dunia. Istri tersebut juga menceritakan tentang teriakan Sya’ban pada saat sakaratul maut. Saat itu, Sya’ban berteriak,

    “Aduh, kenapa tidak lebih jauh. Aduh, kenapa tidak yang baru. Aduh, kenapa tidak semua.”

    Pada saat menjelang ajal, Sya’ban diberi penglihatan tentang perjalanan hidupnya dan ganjaran dari perbuatan-perbuatannya selama hidup di dunia. Ia berteriak, “Aduh, kenapa tidak lebih jauh,”

    Hal ini diketahui karena ia menyesal tidak memiliki rumah yang lebih jauh dari masjid. Sebab, setiap langkah ke masjid dihitung sebagai pahala.

    Poin pertama teriakan inilah yang diketahui juga menerangkan kenapa Sya’ban memilih berjauhan dengan rumah Rasulullah SAW yang dekat masjid. Mengutip laman Kementerian Agama (Kemenag) Kanwil Aceh dan laman NU Online, saat itu, diketahui Sya’ban yang harus berjalan tiga jam dari rumahnya ke Masjid Nabawi.

    Perihal ini kemudian sampai ke telinga Ubay bin Ka’ab, seorang mantan pendeta Yahudi yang telah memeluk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW. Ubay bin Ka’ab merasa kasihan dan menyarankan agar Sya’ban membeli seekor keledai agar perjalanannya lebih cepat dan kakinya tidak terasa sakit.

    Akan tetapi, Sya’ban menolak dengan tegas sembari berkata, “Demi Allah, aku tidak ingin rumahku berdekatan dengan rumah Rasulullah. Aku lebih suka tinggal di sebuah rumah yang jauh dari beliau,”

    Ubay bin Ka’ab terkejut dengan jawaban Sya’ban dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada Rasulullah SAW. Tak lama kemudian, Rasulullah memanggil Sya’ban untuk mengonfirmasi mengapa ia tidak ingin tinggal dekat dengan beliau.

    Sya’ban pun menjawab bahwa pernah ada sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa setiap langkah seseorang menuju masjid akan menghapuskan satu dosa atau meningkatkan derajatnya satu tingkat.

    Kembali mengutip buku berjudul Fikih Madrasah Ibtidaiyah Kelas III, ada dua penyesalan Sya’ban yang dirasakannya saat sakaratul maut.

    Pertama, ia berteriak “Aduh, kenapa tidak yang baru,” lantaran menyesal tidak memberikan baju baru kepada seseorang yang pernah ia temui. Pada suatu kesempatan, ia memberikan bajunya pada seseorang yang kedinginan di luar masjid.

    Sementara itu, ia berteriak, “Aduh, kenapa tidak semua,” karena ia menyesal hanya memberikan sebagian roti yang dimilikinya kepada seseorang yang kelaparan.

    Sya’ban mengucapkan ketiga kalimat tersebut karena ia sangat menyesal. Ia merasa menyesal karena tidak melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Ini karena Allah SWT akan membalas setiap perbuatan manusia sesuai dengan kebesaran amal yang telah dilakukannya. Wallahua’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Bakti Sa’ad bin Abi Waqqash dengan Sang Ibu yang Beda Keyakinan



    Jakarta

    Sa’ad bin Abi Waqqash merupakan sahabat Rasulullah yang berasal dari keturunan kaum Quraisy. Pemilik nama asli Sa’ad bin Malik az-Zuhri itu sangat dihormati dan disegani oleh kaumnya.

    Sa’ad lahir di Mekkah pada tahun 595 M. Mengutip dari buku Memaafkan yang Tak Termaafkan karya Arifah Handayani, ayahnya bernama Malik bin Wuhaib dan ibunya bernama Hamnah binti Sufyan.

    Berasal dari lingkungan yang terdidik dan baik, Sa’ad bin Abi Waqqash menyatakan keislamannya di usia 17 tahun. Meski begitu, masuk Islamnya Sa’ad sangat ditentang oleh sang ibu yang menyembah berhala.


    Dikisahkan dalam buku Kisah Edukatif 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga yang disusun oleh Luthfi Yansyah, ibu Sa’ad sangat marah mengetahui keislaman putranya. Walau begitu, Sa’ad menghadapi tentangan dari ibunya dengan lemah lembut.

    Dengan cara yang baik, Sa’ad berusaha melunakkan hati sang ibu agar membiarkannya dengan jalan yang dipilih. Meski berbeda keyakinan dengan ibunya, Sa’ad tetap menjaga baktinya sebagai seorang anak dan selalu bersikap baik.

    Sayangnya, ibu Sa’ad tetap tidak melunak. Ia bahkan bersikukuh untuk tidak makan dan minum sampai Sa’ad meninggalkan Islam.

    Mengetahui hal itu, Sa’ad berkata kepada sang ibunda,

    “Jangan lakukan itu wahai ibu. Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku, dan tidak akan berpisah darinya,”

    Alih-alih luluh akan sikap dan perkataan Sa’ad, ibunya justru bersikeras. Ia mengetahui betul bahwa putranya sangat mencintai dirinya.

    Tindakannya untuk tidak makan dan minum mungkin akan membuat Sa’ad iba, terlebih jika kondisi sang ibu menjadi lemah dan tidak sehat lagi. Tetapi, karena Sa’ad tetap teguh dengan akidahnya, ia pun berkata,

    “Wahai ibu, demi Allah. Andai engkau memiliki 70 nyawa yang keluar satu demi satu, maka aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku untuk selama-lamanya,”

    Mengetahui Sa’ad tidak akan melepas keyakinannya sebagai seorang muslimin, ibunya mengalah. Kisah mengenai Sa’ad dan sang ibu bahkan menjadi salah satu alasan diturunkannya surat Luqman ayat 15, Allah SWT berfirman,

    وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

    Arab latin: Wa in jāhadāka ‘alā an tusyrika bī mā laisa laka bihī ‘ilmun fa lā tuṭi’humā wa ṣāḥib-humā fid-dun-yā ma’rụfaw wattabi’ sabīla man anāba ilayy, ṡumma ilayya marji’ukum fa unabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

    Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,”

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ismail & Sang Ibu, Awal Mula Disyariatkannya Sa’i



    Jakarta

    Sa’i merupakan satu ibadah yang diperintahkan untuk dikerjakan dalam ibadah haji dan umrah. Di balik pensyariatan sa’i, ternyata ada kisah singkat Nabi Ismail AS bersama sang ibu, Siti Hajar.

    Sebelumnya, Ahmad Sarwat dalam Ensiklopedia Fikih Indonesia: Haji & Umrah menjelaskan ibadah sa’i adalah amal yang dilakukan dengan berjalan atau berlari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali pulang pergi, dikerjakan setelah melaksanakan thawaf, dalam rangka manasik haji dan umrah.

    Hukum pelaksanaan sa’i sendiri terdapat perbedaan di kalangan ulama. Menukil buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, terbagi tiga pandangan mengenai hukum sa’i. Terdapat ulama yang menyebut sa’i adalah rukun haji, yang bila ditinggalkan maka ibadah hajinya batal dan tidak bisa diganti dengan dam.


    Ada yang menyatakan termasuk wajib haji, yang jika ditinggalkan maka harus bayar dam (denda) tetapi ibadah hajinya tidak batal. Serta terdapat pula ulama yang berpendapat sa’i merupakan amalan sunnah haji. Di mana ditinggalkan maka tak ada kewajiban apa-apa bagi jemaah.

    Perintah melaksanakan ibadah sa’i dalam haji dan umrah termaktub pada Surat Al Baqarah ayat 158.

    اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَا ۗ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًاۙ فَاِنَّ اللّٰهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ – 158

    Artinya: “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka, siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri, lagi Maha Mengetahui.”

    Adapun Nabi SAW juga mensyariatkan sa’i sebagaimana riwayat dari Barrah binti Abu Tajrah yang mengatakan, “Bahwa Nabi SAW melakukan sa’i pada ibadah haji beliau antara Shafa dan Marwah, dan beliau bersabda, ‘Lakukanlah sa’i karena Allah telah mewajibkanya atas kalian.’” (HR Daruquthni)

    Selain itu, terdapat riwayat singkat di balik ibadah ini, sehingga dikenal menjadi sejarah disyariatkannya sa’i. Tepatnya yakni kisah Nabi Ismail AS bersama sang ibu, Siti Hajar. Bagaimana kisahnya?

    Kisah Nabi Ismail AS dan Siti Hajar

    Masih dari buku Fiqih Sunnah, kisah ini diriwayatkan Ibnu Abbas dari Nabi SAW. Dikisahkan, “Ibrahim AS datang bersama Hajar dan Ismail AS. Ketika itu, Ismail AS masih menyusui. Ibrahim AS menempatkan istri dan anaknya di bawah sebuah pohon besar di tempat terpancarnya air zam-zam (sekarang ini).

    Kala itu, tidak ada seorang pun yang bertempat tinggal di Makkah dan di sana tidak didapati air. Dalam kondisi seperti itu, Ibrahim AS membawa anak dan istrinya ke sana.

    Nabi Ibrahim memberi bekal sekeranjang kurma dan sekantung air untuk istri dan anaknya. Ibrahim AS melangkahkan kakinya untuk meneruskan perjalanan, dan Hajar mengikutinya. Hajar bertanya kepada Ibrahim AS, “Wahai Ibrahim, ke manakah engkau pergi? Apakah engkau meninggalkan kami di sini yang tidak ada seorang pun dan suatu pun?”

    Hajar berulang kali mengemukakan pertanyaannya. Tapi Ibrahim AS tidak pernah menoleh kepadanya. Kemudian Hajar bertanya lagi, “Apakah Allah SWT yang memerintahkanmu untuk melakukan ini?”

    Nabi Ibrahim menjawab, “Iya.” Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan kami.”

    Dalam satu riwayat disebutkan, Hajar berkata kepada Ibrahim AS, “Kepada siapakah engkau meninggalkan kami?” Ibrahim AS menjawab, “Kepada Allah SWT.” Hajar berkata, “Sungguh, aku ridha kepada Allah SWT.”

    Hajar kembali ke tempat semula. Sementara Ibrahim AS terus berjalan. Ketika Nabi Ibrahim tiba di bukit dan tidak dapat dilihat lagi oleh Hajar, dia menghadap ke Kakbah kemudian berdoa sambil mengangkat kedua tangannya:

    رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ – 37

    Latin: Rabbanaa innii askangtu ming dzurriyyatii biwaadin ghairi dzii zar’in ‘inda baitikal-muharram(i), rabbanaa liyuqiimush-shalaata faj’al af-idatam minan-naasi tahwii ilaihim warzuqhum minats-tsamaraati la’allahum yasykuruun(a)

    Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37)

    Setelah Ibrahim AS pergi, Hajar menyusui anaknya serta makan dan minum
    dari bekal yang telah ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim. Sampai pada saat perbekalan yang dibawanya habis, Hajar dan Ismail merasa dahaga. Hajar melihat kesana-kemari, barangkali tersedia air. Tapi dia tidak melihat adanya air.

    Karena merasa iba dengan sang anak, dia berdiri untuk mencari air. Dia melihat gunung yang terdekat, yaitu Shafa. Lantas dia naik ke atasnya dan melihat di sekelilingnya, barangkali ada orang yang dilihat. Namun, tidak seorang pun nampak.

    Dia lantas turun dari Shafa. Setelah berada di bawah, dia berlari kecil hingga sampai di bukit Marwah. Dia naik ke atas bukit Marwah untuk melihat-melihat, barangkali dia menemukan seseorang. Tetapi, tidak seorang pun yang dilihatnya.

    Dia mengulangi seperti itu hingga tujuh kali.” Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Itulah (awal mula) manusia melakukan sa’i di antara bukit Shafa dan Marwah.” (HR Bukhari dalam kitab Al-Anbiya, bab ‘Yazfuna: an-Naslani fi al-Masyyi’. Ditemukan pula dalam kitab Fath Al-Bari, jilid VI, hal. 396)

    Demikian kisah singkat Nabi Ismail AS dan ibunya, Siti Hajar, yang menjadi landasan disyariatkannya ibadah sa’i dalam haji dan umrah.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum, Putri Rasulullah SAW



    Jakarta

    Utsman bin Affan bukan hanya dikenal sebagai sahabat setia Rasulullah SAW. Ia juga menantu Rasulullah SAW karena menikah dengan dua putrinya yakni Ruqqayah dan Ummu Kultsum.

    Pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kulsum terjadi setelah sang kakak, Ruqqayah, meninggal dunia. Artinya Ruqqayah dan Ummu Kultsum tidak menjadi istri Utsman bin Affan dalam waktu bersamaan.

    Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya yang berjudul Biografi Utsman bin Affan menjelaskan Ummu Kultsum adalah salah seorang putri Rasulullah SAW dari pernikahannya dengan Khadijah.


    Said bin Al-Musayab mengatakan, “Utsman bin Affan ditinggal wafat Ruqayah binti Rasulullah dan Hafshah binti Umar ditinggal wafat suaminya. Umar datang kepada Utsman dan berkata, “Apakah kamu mau menikah dengan Hafshah?” Utsman telah mendengar Rasulullah yang menyebut Hafshah. Karena itu, Utsman tidak menanggapi tawaran Umar ini.

    Umar kemudian menuturkan hal ini kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Apakah kamu menginginkan yang lebih baik daripada itu? Aku menikahi Hafshah dan aku menikahkan Utsman dengan perempuan yang lebih baik daripada Hafshah, (yakni) Ummu Kultsum.”

    Dalam riwayat Al-Bukhari menyebutkan bahwa Umar berkata, “Hafshah binti Umar ditinggal wafat Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, salah seorang sahabat Rasulullah. Ia meninggal di Madinah. Umar berkata, “Aku mendatangi Utsman bin Affan. Aku menawarkan Hafshah binti Umar kepadanya. Aku berkata, “Jika kamu mau, maka aku menikahkanmu dengan Hafshah.”

    Utsman berkata, “Aku akan menimbang-nimbang urusanku.” Aku diam beberapa malam. Lalu Utsman menemuiku dan berkata, “Tampaknya aku tidak menikah sekarang” Umar berkata, “Aku menemui Abu Bakar Ash Shiddiq, Aku berkata, “Jika kamu mau, maka aku menikahkanmu dengan Hafshah binti Umar. Abu Bakar diam dan tidak memberikan balasan apa apa kepadaku. Aku merasa kesal terhadapnya sebagaimana kesal terhadap Utsman. Aku diam beberapa malam. Kemudian Rasulullah meminangnya dan aku menikahkannya dengan beliau. Abu Bakar menemuiku dan berkata, “Barangkali kamu merasa kesal denganku ketika kamu menawarkan Hafshah kepadaku dan aku tidak memberikan balasan apa-apa.”

    Umar berkata, “Ya” Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya aku tidak memberikan balasan apa-apa karena aku telah mengetahui bahwa Rasulullah telah menyebutnya. Aku tidak ingin membuka rahasia Rasulullah. Andaikata Rasululah meninggalkannya, maka aku akan menerimanya.”

    Pernikahan Utsman bin Affan dan Ummu Kultsum

    Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar menceritakan kisah pernikahan Ummu Kultsum dengan Utsman bin Affan. Ia mengatakan, “Ketika Nabi menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, beliau bersabda kepada Ummu Aiman, “Persiapkanlah putriku Ummu Kultsum dan antarkanlah kepada Utsman serta iringilah dengan rebana.” Ummu Aiman lantas melaksanakan perintah Rasulullah.

    Kemudian Rasulullah SAW datang kepada Ummu Kultsum tiga hari setelah pernikahan. Beliau bertanya, “Wahai putriku, bagaimana kamu mendapati suamimu?” Ummu Kultsum menjawab, “la adalah sebaik-baik suami.”

    Utsman meminang Ummu Kultsum di bulan Rabiul Awal tahun 3 H.

    Ummu Kultsum Meninggal Dunia

    Pernikahan Utsman bin Affan dan Ummu Kultsum berlangsung selama 6 tahun tanpa dikaruniai anak. Keduanya terpisahkan karena Ummu Kultsum meninggal dunia pada bulan Syaban tahun 9 Hijriyah.

    Ummu Kultsum meninggal dunia dikarenakan sakit yang menyerangnya. Kabar duka ini mengundang kesedihan bagi Rasulullah SAW, sang ayah, dan juga tentunya bagi Utsman bin Affan, sang suami

    Rasulullah SAW menshalatkannya dan duduk di atas kuburnya. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa ia melihat Nabi duduk di kubur Ummu Kultsum

    la berkata, “Aku melihat kedua matanya mengalirkan air mata. Lalu beliau bersabda, “Apakah ada salah seorang di antara kalian yang tadi malam tidak berbuat dosa?”

    Abu Thalhah berkata, “Aku.” Beliau bersabda, “Turunlah di kuburnya.”

    Laila binti Qaif Ats-Tsaqafiyah mengatakan, “Aku termasuk orang yang memandikan Ummu Kultsum binti Rasulullah ketika wafat. Sesuatu yang diberikan pertama kali oleh Rasulullah kepada kami adalah kain penutup badan, lalu pakaian rumah, baju kurung, dan selimut tebal. Kemudian jasad ditutupi dengan baju yang lain.”

    Ia mengatakan, “Rasulullah berada di pintu bersama dengan kain-kain kafan Ummu Kultsum. Beliau memberikannya kepada kami satu per satu.”

    Ibnu Saad menyebutkan bahwa Ali bin Abu Thalib, Al-Fadhl bin Abbas, dan Usamah bin Zaid ikut turun di liang kubur Ummu Kultsum bersama Abu Thalhah. Dan, yang memandikannya adalah Asma binti Umais dan Shafiyah binti Abdul Muthalib.

    Utsman merasa terpukul dengan kematiannya dan merasa sangat sedih karena berpisah dari belahan hatinya. Rasulullah dapat melihat Utsman berjalan dengan kesedihan. Kesedihan yang dapat terbaca dengan jelas dari raut wajahnya.

    Maka beliau mendekati Utsman dan bersabda, “Jika kami memiliki putri yang ketiga, maka kami akan menikahkannya denganmu wahai Utsman.”

    Hal ini menunjukkan kecintaan Rasulullah SAW terhadap Utsman dan menunjukkan kesetiaan serta penghormatan Utsman terhadap beliau.

    Karena menikah dengan dua putri Rasulullah SAW, Utsman mendapat julukan Dzun Nurain atau pemilik dua cahaya. Julukan ini diberikan karena Utsman menikah dengan kedua putri Rasulullah SAW.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com