Blog

  • Kisah Meninggalnya Umar bin Khattab, Jasadnya Dimakamkan di Samping Rasulullah SAW



    Jakarta

    Umar bin Khattab merupakan seorang sahabat sekaligus mertua Rasulullah SAW yang menjadi bagian dari Khulafaur Rasyidin. Sosok Umar bin Khattab yang kuat, tegas, berani, dan bijaksana itu membekas di ingatan para kaum muslimin di masa itu sehingga kisah meninggalnya Umar bin Khattab hal yang selalu dikenang dan tak lekang oleh waktu.

    Dikutip dari buku Teori dan Implementasi Kepemimpinan Strategis yang disusun oleh Tri Cicik Wijayanti, penyebab kematian Umar bin Khattab adalah karena dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) yakni seorang budak yang fanatik. Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk pada saat menjadi imam sholat subuh pada Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M.

    Abu Lukluk sendiri merupakan orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan oleh Umar bin Khattab dalam rangka ekspansi atau perluasan wilayah Islam. Pembunuhan tersebut dilatarbelakangi oleh rasa sakit hati Abu Lukluk atas kekalahan Persia yang kala itu merupakan negara adidaya.


    Sementara itu, Afdhal, dkk. menyebutkan dalam buku Sejarah Peradaban Islam bahwa sebelum Abu Lukluk melancarkan aksinya untuk membunuh Umar bin Khattab, terdapat penyebaran konspirasi yang dirancang oleh musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Persia. Menurut berbagai sumber, Umar bin Khattab ditusuk dengan belati beracun.

    Wasiat-wasiat dari Umar bin Khattab

    Sebelum meninggal, Umar bin Khattab memilih enam sahabatnya yakni Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash dan berwasiat pada mereka agar memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah selanjutnya.

    Lalu, setelah peristiwa tertusuknya Umar bin Khattab dan ia tengah merasa semakin dekat dengan kematian, Umar mengutus putranya Abdullah bin Umar untuk pergi mengunjungi Aisyah istri Rasulullah SAW untuk menyampaikan salamnya pada Aisyah dan permohonannya agar diperkenankan dimakamkan di samping Rasulullah SAW.

    Sebagaimana yang tercantum dalam buku Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi karya Muhammad Nasrulloh, Aisyah kemudian mengiyakan permohonan tersebut sebagai jawaban meski sebenarnya ia sangat menginginkan kelak dimakamkan di samping suaminya Rasulullah SAW dan ayahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq.

    Setelah Abdullah mengabarkan pada ayahnya bahwa Aisyah mengizinkan, bergembiralah Umar sebab tempat itu adalah yang paling diinginkannya ketika meninggal.

    Adapun dalam buku Kuliah Adab susunan ‘Aabidah Ummu ‘Aziizah, S. Pd. I, dkk., disebutkan bahwa muslim yang beriman dan taat ketika menghadapi kematian perlu disampaikan kabar gembira sebab seseorang yang saleh dan terkenal baik hendaknya digembirakan dengan pahala dari Allah sebagaimana janji-Nya atas orang-orang yang saleh.

    Ketika Umar bin Khattab menghadapi kematian, ia didatangi seorang lelaki dari kaum Anshar. Lelaki itu berkata padanya, “Bergembiralah wahai Amirul Mukminin atas kabar gembira dari Allah yang berupa ampunan atas dosa-dosamu yang terdahulu dengan masuknya engkau dalam Islam, juga dijadikannya engkau sebagai pengganti Rasulullah dan engkau menjadi pemimpin yang adil, dan bergembira pulalah engkau atas nikmat kesyahidan yang sebentar lagi kau dapatkan setelah ini semua.”

    Kemudian, Umar bin Khattab menjawab, “Wahai anak saudaraku, aku berharap cukuplah aku dimatikan dalam keadaan baik.” (al-Munjid: t.t, 9).

    Kepemimpinan Setelah Umar bin Khattab

    Setelah wafatnya Umar bin Khattab, jabatan khalifah kemudian dipegang oleh Utsman bin Affan. Berbeda dengan karakter Umar bin Khattab yang berbadan kuat lagi kekar serta sangat memperhatikan tanggung jawab dirinya dan bawahannya, Utsman bin Affan memiliki sifat yang lebih lembut dan santun perangainya dalam bermuamalah.

    Sikap terpuji dan kebaikan Utsman bin Affan telah berhasil memimpin kaum muslimin. Bahkan menukil buku Kisah-Kisah Islam Yang Menggetarkan Hati oleh Hasan Zakaria Fulaifal, disebutkan bahwa Umar bin Khattab hidup fakir dan meninggal dalam keadaan berhutang sementara yang melunasinya adalah Utsman bin Affan ketika belum seminggu sejak kematian Umar bin Khattab.

    Itulah kisah meninggalnya Umar bin Khattab, salah satu khalifah kebanggan umat muslim. Umar bin Khattab membuktikan bahwa kematian bagi orang yang beriman lagi saleh adalah kabar baik karena segala amalan baik yang telah dikerjakannya selama di dunia akan menolongnya di akhirat kelak.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Haru Istri yang Suaminya Meninggal di Madinah



    Jakarta

    Niat Sumi’ah menunaikan ibadah haji beserta suaminya pupus setelah sang suami dipanggil Allah SWT. Ini ceritanya.

    Suami Sumi’ah bernama Masrikan Rejo Nasikun, meninggal dunia 31 Mei 2023, dari kloter 4 asal Karanganyar, Kabupaten Demak. Yang bersangkutan meninggal dunia di RSAS Madinah.


    Jemaah berusia 72 tahun dan termasuk kategori lansia itu meninggal dunia pada Rabu (31/5/2023) pukul 18.30 WAS (Waktu Arab Saudi). Penyebabnya karena serangan jantung.

    “Suami di pesawat biasa saja. Sebelumnya memang pernah sakit tapi kalau dikeroki terus enak. Yang dikeluhkan itu sakit di ulu hati. Sebelumnya sudah pernah diperiksakan dan dinyatakan sehat ketika berangkat. Normal terus sampai mendarat bahkan sampai masuk ke hotel,” tutur Sumi’ah saat ditemui tim Media Center Haji di Makkah, (5/6/2023).

    Suami Sumi’ah meninggal waktu jalan ke masjid kira-kira menjelang perpindahan ke Makkah. “Saya juga diajak untuk jalan-jalan tapi saya tidak mau. Setelah pulang jalan-jalan suami membawa kurma. Saya bilang kok belinya sekarang pak kita lo mau ke Makkah.”

    “Nah, terus suaminya itu sakit. Ketika diperiksa sama dokter dia terus terpejam terus dibawa ke rumah sakit. Saya sempat mau ikut ke rumah sakit tapi nggak dibolehkan,” ungkap perempuan paruh baya ini.

    “Saya tidak tahu kapan bapak (suami) meninggal. Saya tahunya itu ketika dokter dan perawat datang ke kamar terus di kamar itu cuma diem saja. Terus akhirnya dia bisa mengerti Kalau suaminya sudah meninggal,” ceritanya.

    Kini Sumi’ah yang beribadah dengan kursi roda sedang menata hati. Empat koper milik dia dan almarhum suaminya yang dibawa dari Solo dia tekadkan dibawa pulang kembali nantinya.

    “Kadang-kadang kalau teringat suami perasaannya bagaimana gitu. Masih baru jadi ya nangis. Kalau keluarga sering menelpon menguatkan tanya kabar,” tutupnya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Ali bin Abi Thalib Dobrak Benteng Kuat Khaibar Seorang Diri



    Jakarta

    Bersama 1.600 pasukan muslimin, Nabi Muhammad SAW bergerak menuju Khaibar. Pada permulaan bulan Rabiulawal tahun ke-7 Hijriah itu, Rasulullah SAW benar-benar merahasiakan pergerakan pasukannya untuk mengagetkan pasukan Yahudi sekaligus mencegah bantuan-bantuan militer yang datang dari kabilah-kabilah Ghathfan.

    Menurut buku Kisah-kisah Manusia Suci susunan Sayyid Mahdi Ayatullah, di bawah lindungan kegelapan malam kaum Muslimin mengepung benteng-benteng Khaibar dan mengambil posisi di antara pepohonan kurma. Pada pagi harinya, pertempuran pun pecah dan jatuhlah benteng-benteng tersebut satu demi satu.

    Dalam Perang Khaibar ini, ada sebuah kisah menarik mengenai Ali bin Abi Thalib RA yang turut serta di dalamnya. Keberanian Ali RA dibuktikan dengan menerobos gerbang Khaibar tanpa pelindung sebagaimana dijelaskan melalui buku 125 Cerita Fakta Islam yang Unik & Menakjubkan tulisan Alifa Aryatna.


    Sebelumnya, kaum Muslimin kesulitan menaklukkan dua benteng tempat kaum Yahudi berkumpul untuk melakukan perlawanan pada kaum Muslimin dengan menggunakan anak panah. Rasulullah SAW kemudian mengutus Abu Bakar RA memimpin sebagian kekuatan pasukan Islam, sayangnya beliau menelan kekalahan.

    Akhirnya Nabi Muhammad SAW mengutus Umar bin Khattab RA, namun kaum Muslimin tetap kalah. Hal itu lantas mendorong kaum Yahudi untuk mengolok-olok kekalahan pasukan Islam.

    Kemudian, Rasulullah SAW bersabda:

    “Sungguh besok aku akan menyerahkan panji-panji kepada seorang lelaki yang mencintai Allah serta rasul-Nya, dan Allah serta rasul-Nya pun mencintainya. Ia akan bertempur terus dan tidak melarikan diri. Karenanya ia tidak akan kembali hingga Allah memberikan kemenangan kepadanya,”

    Mendengar ucapan Nabi Muhammad SAW, pasukan muslim bertanya-tanya siapakah sosok tersebut. Ketika pagi tiba, Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib RA dan menyerahkan panji-panji kepadanya serta mendoakannya meraih kemenangan.

    Ali bin Abi Thalib RA mengibarkan panji-panji dan bergerak bersama pasukan muslim untuk menghadapi musuh-musuh. Kaum Yahudi yang tengah terlena karena sebagian kemenangannya, sehingga sebagian kekuatan mereka berada di luar benteng.

    Pada saat itu pula, Ali RA bersama pasukan muslim masuk dan melancarkan serangan tak terduga. Bahkan, Ali RA berhasil membunuh Marhab dan Al Harits yang kala itu merupakan pahlawan Yahudi hingga menimbulkan ketakutan dalam barisan Yahudi.

    Setelahnya, pasukan Yahudi menarik diri ke dalam benteng dan mengunci seluruh pintunya. Kaum Muslimin menghalau agar mereka tidak masuk benteng. Namun, ketika pasukan Yahudi masuk dan mengunci pintu benteng, barisan muslimin tidak dapat mendobraknya.

    Ali RA kemudian menjulurkan tangannya ke pintu benteng dan menggoyangkan pintu itu sekuat tenaga. Atas izin Allah, dicabutnya pintu tersebut dan dijadikan sebagai jembatan penyeberangan pasukan Islam.

    Menyaksikan peristiwa itu, tentara muslim terkejut. Bagaimana bisa Ali RA mendobrak pintu itu seorang diri sementara sebelumnya mereka mencoba mendobrak pintu dengan kekuatan tujuh orang.

    Setelah itu, pasukan muslim meraih kemenangan. Kaum Yahudi memohon perdamaian dengan Rasulullah dan meminta untuk tetap diizinkan menghuni rumah-rumah mereka, dengan catatan mereka menyerahkan separuh penghasilan setiap tahun kepada kaum Muslimin.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Mencuri untuk Dibagi ke Orang Miskin



    Jakarta

    Sunan Kalijaga adalah tokoh wali songo yang di masa mudanya pernah mencuri dan merampok pejabat yang korupsi di kerajaan yang menyelewengkan uang upeti dari masyarakat. Ia kemudian membagikan hasil curian tersebut kepada orang-orang miskin dan terlantar.

    Rizem Aizid dalam buku Sejarah Islam Nusantara menceritakan bahwa sebelum menjadi wali, Sunan Kalijaga adalah orang yang nakal dan berandalan. Tetapi, ia kemudian berhasil di insafkan oleh Sunan Bonang.

    Sunan Kalijaga termasuk murid dari Sunan Bonang, terdapat dua macam versi cerita mengenai Sunan Kalijaga.


    Versi pertama mengisahkan bahwa Raden Said atau Raden Sahid yang merupakan nama asli Sunan Kalijaga adalah seorang yang suka mencuri dan merampok. Namun, hasil curiannya itu tidak digunakan sendiri tetapi dibagi-bagikan kepada rakyat jelata.

    Konon, Raden Said sudah disuruh mempelajari agama Islam ketika usianya masih kecil, tetapi karena ia melihat kondisi lingkungan yang kontradiksi dengan ajaran agama itu, maka jiwanya memberontak.

    Ia melihat rakyat jelata yang hidupnya sengsara, sementara bangsawan Tuban hidup dalam kemegahan dan berfoya-foya. Rakyat diperas dan diwajibkan membayar upeti. Maka, dalam konteks itulah, Raden Said yang terpanggil hatinya mencuri harta kadipaten untuk kemudian dibagikan kepada rakyat miskin.

    Versi kedua, menyebutkan bahwa Raden Said adalah benar-benar seorang perampok dan pembunuh yang jahat. Menurut versi ini Raden Said merupakan orang yang nakal sejak kecil, kemudian berkembang menjadi penjahat yang sadis.

    Ia suka merampok dan membunuh tanpa segan, ia juga suka berjudi. Setiap kali uangnya habis untuk berjudi ia merampok penduduk. Selain itu, digambarkan bahwa Raden Said adalah seorang yang sakti dan mendapat julukan Brandal Lokajaya.

    Dikisahkan pula oleh Jhony Hadi Saputra dalam buku Mengungkap Perjalanan Sunan Kalijaga, Raden Said lahir saat kejayaan Majapahit mulai memudar hingga membuat rakyat dari hari ke hari semakin hidup dalam kesengsaraan. Hal tersebut rupanya tidak dipahami dan dipedulikan oleh penguasa Majapahit.

    Raden Said kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda yang merasa prihatin pada keadaan masyarakat. Terlebih sebagai seorang putra Adipati, Raden Said merasa memiliki tanggung jawab hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang pencuri.

    Tempat pertama yang ia jarah adalah gudang kadipatennya sendiri. Berbagai bahan makanan yang ia ambil dari gudang tersebut, secara diam-diam ia bagikan kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan.

    Masyarakat pun tidak tahu siapa yang membagikan bahan makanan tersebut. Kejadian seperti ini terus berulang-ulang, sehingga masyarakat memberikannya julukan sebagai “maling cluring”. Arti dari maling cluring in ialah pencuri yang mencuri bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk dibagikan kepada orang-orang miskin.

    Hingga akhirnya, Raden Said pun ketahuan dan diusir dari istana kadipaten. Ia semakin menjadi-jadi ketika diusir, bahkan mulai merampok orang-orang kaya yang tinggal di wilayah Kadipaten Tuban.

    Hal ini semakin membuat ayahnya, Tumenggung Wilatikta kemudian mengusirnya keluar dari wilayah Kadipaten Tuban.

    Raden Said tetap melakukan hal yang sama untuk merampas orang-orang kaya yang korupsi dan membagikannya kepada rakyat yang tidak mampu. Namun, ketika bertemu dengan Sunan Bonang ia akhirnya memutuskan untuk menjadi murid Sunan Bonang.

    Dari sinilah Raden Said mengetahui bahwa selama ini perbuatannya tidak bisa dikatakan benar dalam Islam. Raden Said akhirnya mengetahui bahwa kebenaran dalam Islam adalah kebenaran yang hakiki, mutlak, dan tidak dapat diperdebatkan karena membawa dampak kebaikan untuk siapa pun yang menjalankan kebenaran itu.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Utsman bin Affan, Sahabat Rasulullah SAW yang Luas Ilmu dan Dermawan



    Jakarta

    Utsman bin Affan merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan memiliki keluasan ilmu.

    Utsman bin Affan adalah Khalifah ketiga semenjak kepergian sang Rasul. Selama Rasulullah SAW masih hidup, Utsman dengan setia mendampingi dimanapun Rasulullah SAW berada.

    Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya yang berjudul Biografi Utsman bin Affan menjelaskan silsilah Utsman bin Affan. Namanya adalah Utsman bin Afan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf.


    Sedang ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Habib bin Abd Syams bin Abdi Manaf bin Qushay. Nama ibu Arwa (nenek Utsman bin Affan dari jalur ibu) adalah Ummu Hukaim Al-Baidha’ binti Abdul Muththalib, saudara perempuan sekandung Abdullah bin Abdul Muththalib, ayah Rasulullah.

    Ada yang mengatakan bahwa Ummu Hukaim dan Abdullah adalah dua anak kembar Abdul Muththalib, kakek Rasulullah, seperti dikisahkan oleh Az-Zubair bin Bikar.

    Utsman bin Affan, Pemimpin yang Luas Ilmu dan Dermawan

    Mengutip buku Kisah Hidup Utsman ibn Affan oleh Mustafa Murrad, dijelaskan bahwa di kalangan sahabat Rasulullah, Utsman ibn Affan termasuk orang yang paling banyak tahu tentang Al-Qur’an dan hadits. Utsman juga termasuk salah satu penghafal Al-Qur’an.

    Ia selalu mengikuti petunjuk Nabi, Abu Bakar, dan Umar RA yakni para sahabat sekaligus Khalifah sebelum dirinya, ketika hendak mengambil keputusan. Utsman bin Affan yang memiliki gelar Dzunnurain (Pemilik Dua Cahaya) selalu mendampingi Nabi sehingga ia mendapatkan banyak ilmu dan petunjuk dari beliau.

    Utsman ibn Affan mampu mengarahkan rakyatnya kepada hal-hal yang bermanfaat, mengajari mereka kewajiban, dan memberi mereka pandangan yang baik bersumber dari ilmu dan pengalamannya. Tentu setiap arahannya ini sesuai dengan syariat.

    Karena itu, tidak mengherankan jika umat lslam di bawah kepemimpinan Utsman bin Affan mengalami kemajuan pesat dalam bidang dakwah, pendidikan, pengajaran, jihad, dan ibadah kepada Allah SWT.

    Sosok Utsman juga dikenal sangat dermawan, dia tidak pernah ragu menyumbangkan hartanya di jalan Allah dan membantu sesama. Dalam buku Utsman bin Affan RA susunan Abdul Syukur al-Azizi, Syurahbil bin Muslim RA menjelaskan bahwa Utsman pernah memberi makan banyak orang dengan makanan para bangsawan.

    Setelah memberi makan orang-orang, Utsman kemudian masuk ke rumahnya untuk makan. Utsman memberikan makanan yang baik-baik kepada orang lain sementara dirinya hanya memakan cuka dan minyak samin.

    Salah satu arahan Utsman tergambar dalam khutbahnya. Setelah memuji Allah dan bersalawat kepada Rasulullah, ia berkata,
    “Kalian tidak akan bisa menghindar dari ajal yang menanti kalian. Karena itu, sambutlah ajal dengan persiapan terbaik. Kalian tidak akan pernah tahu kapan ia akan datang, entah pagi atau petang hari. Ketahuilah, dunia ini dilipat bagi orang-orang yang terperdaya. Karena itu, jangan terperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan tertipu oleh para penipu yang terus berusaha memalingkan kalian dari Allah. Belajarlah dari para pendahulu. Bekerja dan beribadahlah dengan sungguh-sungguh. Jangan kalian lalai. Jauhilah dunia dengan cara yang baik.”

    Gelar Utsman bin Affan

    Utsman bin Affan mendapat gelar Dzunnurain yang artinya Pemilik Dua Cahaya. Badruddin Al-Aini ketika memberikan syarah terhadap Shahih Al-Bukhari menceritakan bahwa seseorang bertanya kepada Al-Mahlab bin Abu Shafrah, “Mengapa Utsman dijuluki Dzunnurain?”

    Al-Mahlab menjawab, “Karena kami belum mengetahui ada seorangpun menikah dengan dua putri Nabiku kecuali Utsman.”

    Abdullah bin Umar bin Abban Al-Jafi berkata, “Pamanku dari jalur ibuku bertanya kepadaku, “Wahai anakku, apakah kamu mengetahui, mengapa Utsman dijuluki Dzunnurain?”

    Saya menjawab, “Saya tidak tahu.” Pamanku berkata, “Karena belum ada seorang pun laki-laki yang menikah dengan dua putri seorang Nabi sejak Allah menciptakan Adam sampai datang Hari Kiamat kecuali Utsman. Karena itulah, dia dijuluki Dzunnurain.”

    Utsman menikah dengan dua putri Rasulullah SAW yakni Ruqayyah binti Muhammad dan Ummu Kultsum binti Muhammad.

    Ada juga yang mengatakan bahwa Utsman dijuluki Dzunnurain karena dia memperbanyak membaca Al-Qur’an pada setiap malam ketika sholat. Al-Qur’an untuk satu nur (cahaya) dan shalat qiyamul lail satu nur.

    Wallahu alam.

    (dvs/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kurban dari Dua Putra Nabi Adam AS, Qabil dan Habil



    Jakarta

    Mendekati momentum Hari Idul Adha, ada beberapa kisah yang menarik bagi muslim ketahui sekaligus memperkaya khasanah pengetahuan. Salah satunya adalah kisah kurban dari kedua putra Nabi Adam AS yang dapat kita jadikan sebagai pembelajaran.

    Dikutip dari buku Kisah Para Nabi tulisan Ibnu Katsir, kisah ini diterangkan dari As-Sadi yang menceritakan melalui Abu Malik dan Abu Shalih, yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang diteruskan dari Murrah, yang berasal dari Ibnu Mas’ud, yang mendengar dari beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW.

    Menurut kisahnya, Nabi Adam menikahkan setiap anak laki-lakinya yang bernama Qabil dan Habil dengan anak perempuan yang bukan pasangan kembarannya. Menurut aturan ini, Habil seharusnya dinikahkan dengan saudara perempuan kembarannya, Qabil, yang lebih tua darinya.


    Perempuan tersebut merupakan salah satu putri Nabi Adam yang paling cantik. Namun, Qabil berkeinginan untuk menikahi saudari kembarannya yang sangat cantik itu.

    Nabi Adam kemudian memerintahkan Qabil untuk menikahkan saudari kembarannya dengan Habil, tetapi Qabil menolak perintah tersebut. Akhirnya, Nabi Adam memerintahkan kedua putranya untuk berkurban.

    Pada saat yang sama, Nabi Adam sendiri berangkat ke Mekah Makkah dapat menunaikan ibadah haji. Sebelum berangkat, Nabi Adam berusaha menitipkan penjagaan keluarganya kepada langit, namun langit menolaknya.

    Kemudian, beliau mencoba menitipkannya kepada bumi dan gunung, tetapi keduanya juga menolak. Akhirnya, Qabil menyatakan kesediaannya untuk menjaga keluarganya.

    Selanjutnya, ketika Qabil dan Habil berangkat untuk mempersembahkan kurban seperti yang diminta oleh Nabi Adam berdasarkan perintah Allah, Habil memilih untuk mempersembahkan kurbannya berupa seekor kambing yang terbaik dan paling gemuk. Perlu diketahui bahwa latar belakang Habil adalah seorang peternak.

    Sementara itu, Qabil memilih untuk mempersembahkan hasil pertanian yang buruk. Ketika mereka menyerahkan kurban-kurban tersebut, api turun dari langit dan menyambar kurban Habil, menunjukkan bahwa kurban Habil diterima.

    Namun, api tidak menyentuh kurban Qabil, menandakan bahwa kurban Qabil ditolak. Qabil marah dan mengancam Habil, mengatakan bahwa dia akan membunuhnya dan menghalangi Habil untuk menikahi saudara perempuannya yang kembar.

    Habil menjawab, “Sesungguhnya, Allah SWT hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.”

    Kisah ini juga diabadikan dalam surah Al Ma’idah ayat 27. Allah SWT berfirman,

    ۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

    Artinya: Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.

    Ibnu Abbas juga meriwayatkan melalui riwayat lainnya, yang berasal dari Abdullah bin Amru. Abdullah bin Amru berkata,

    “Sungguh, yang terbunuh (Habil) adalah orang yang lebih kuat di antara kedua saudara itu, tetapi dia menahan diri dari melakukan dosa dengan tidak menggerakkan tangannya untuk membunuh saudaranya, Qabil.”

    Abu Ja’far al-Bakir juga meriwayatkan bahwa Nabi Adam merasa gembira karena kedua putranya telah mempersembahkan kurban dan kurban Habil diterima sedangkan kurban Qabil ditolak. Qabil kemudian mengatakan kepada Nabi Adam,

    “Kurban Habil diterima karena engkau mendoakannya, tetapi engkau tidak mendoakanku.” Padahal, Nabi Adam telah mendoakan kedua putranya dengan baik.

    Wallahu’alam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Abu Bakar Ash Shiddiq, Sakit di Ujung Ajalnya



    Jakarta

    Abu Bakar Ash Shiddiq termasuk dalam golongan orang-orang pertama yang masuk surga dari kalangan sahabat Rasulullah SAW. Berikut kisah wafatnya Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai orang yang meneruskan perjuangan Rasulullah SAW.

    Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalifah pertama umat Islam yang menggantikan kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW. Dijelaskan oleh buku 10 Kisah Pahlawan Surga Cerita Anak Shaleh & Cerdas karya Abu Zein, Abu Bakar menjadi pemimpin yang disepakati oleh muslim saat itu sebagai pemimpin yang jauh lebih baik dari semua orang.

    Abu Bakar menjalankan tugasnya dengan dedikasi yang tinggi. Setelah wafatnya Rasulullah SAW, terjadi perlawanan dari beberapa penduduk, namun Abu Bakar dengan bijaksana berhasil meredakan pertikaian di antara mereka. Dia juga melawan mereka yang menolak membayar zakat.


    Salah satu tugas terbesar yang dilakukan Abu Bakar adalah mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur’an. Dia dibantu oleh para sahabatnya, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit.

    Lembaran-lembaran tersebut disimpan di rumah Ummul Mukminin, Hafshah. Kemudian, pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan, lembaran-lembaran tersebut digabungkan menjadi sebuah kitab seperti yang sering kita baca sekarang.

    Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat Rasulullah SAW, pernah mengatakan, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar, karena dialah yang memiliki kontribusi terbesar dalam pengumpulan Al-Qur’an.”

    Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun, sama seperti Rasulullah SAW. Wafatnya Abu Bakar terjadi pada tanggal 22 Jumadil Akhir tahun 13 Hijriah, tepatnya hari Senin malam.

    Kisah Wafatnya Abu Bakar Ash Shiddiq

    Dijelaskan oleh Rizem Zaid dalam bukunya yang berjudul The Great Sahaba, wafatnya Abu Bakar disebabkan oleh penyakit yang dideritanya. Terdapat cerita bahwa penyakit yang ia alami adalah karena keracunan.

    Menurut cerita tersebut, orang-orang Yahudi diduga memasukkan racun ke dalam makanan Abu Bakar yang kemudian membuatnya jatuh sakit dan akhirnya mengakibatkan kematiannya.

    Ketika Abu Bakar memakan makanan beracun tersebut, ia didampingi oleh Attab bin Usaid. Selain itu, Al-Harits bin Kaldah juga ada di sana, tetapi ia hanya sedikit makan, sehingga racun tidak langsung berdampak padanya.

    Lama waktu antara memakan makanan beracun itu dan munculnya reaksi racun tersebut dikatakan satu tahun. Attab wafat di Makkah pada hari yang sama dengan wafatnya Abu Bakar di Madinah.

    Namun, terdapat juga versi lain mengenai penyebab wafatnya Abu Bakar. Menurut riwayat yang kuat dan diceritakan oleh Aisyah RA dalam buku Khalifah Rasulullah Abu Bakar Ash Shiddiq oleh Muhammad Husain Haikal, penyakit Abu Bakar disebabkan oleh mandi malam saat musim dingin yang membuatnya demam dan panas selama 15 hari.

    Karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk menjadi imam, Abu Bakar meminta Umar bin Khattab untuk menggantikannya.

    Saat penyakitnya semakin parah dan Abu Bakar berada di dekat ajalnya, seseorang menawarkan pengobatan kepadanya. Namun, Abu Bakar menolak tawaran tersebut.

    Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir, Abu Bakar mengatakan bahwa ia telah melihat Allah SWT dan Dia berkata, “Sesungguhnya, Aku akan melakukan apa yang Aku kehendaki.”

    Hingga akhirnya, Abu Bakar Radhiyallahu anhu meninggal dengan damai. Wallahu’alam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Sahabat Nabi yang Buta Ditolong Iblis Pergi ke Masjid



    Jakarta

    Sahabat nabi adalah orang-orang terdekat dan memiliki keimanan luar biasa terhadap ajaran Rasulullah SAW. Dengan keimanan yang kuat tersebut, terdapat banyak cobaan sebagaimana kisah sahabat nabi berikut hingga ditolong oleh iblis.

    Sahabat nabi yang dimaksud bernama Abdullah bin Ummi Maktum RA. Ia seorang yang buta sejak kecil. Dikutip dari buku Kisah Menakjubkan dalam Al-Qur’an tulisan Ridwan Abqary, dijelaskan bahwa walaupun begitu, kebutaannya tidak menghalangi keyakinannya terhadap keesaan Allah SWT.

    Sejak penyebaran ajaran Islam oleh Rasulullah SAW, Abdullah telah yakin akan kebenaran dan sepenuh hati mengimani ajaran tersebut. Oleh karena itu, Abdullah termasuk dalam kelompok pertama yang memeluk Islam.


    Seperti ujian yang dialami oleh para pengikut ajaran Rasulullah SAW, Abdullah juga tidak luput dari siksaan dan ejekan yang dilakukan oleh Kaum Quraisy. Namun, Abdullah tetap teguh dan tidak berpaling dari Allah SWT.

    Dia meyakini bahwa siksaan yang dilakukan oleh Kaum Quraisy adalah ujian dari Allah SWT.

    Sebagai seorang muslim yang taat, Abdullah selalu menghadiri setiap ceramah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dia juga rajin menghafalkan ayat-ayat suci yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada dirinya. Semua hal tersebut semakin memperkuat keyakinannya terhadap agama yang telah dipilihnya.

    Saat Abdullah Ditolong Iblis Pergi ke Masjid

    Dikutip dari buku Interview with The Syaitan oleh Helia Puji, iblis juga dikisahkan pernah melakukan perbuatan baik. Akan tetapi, perlu diingat bahwa mereka tetaplah iblis.

    Perbuatan baik yang mereka lakukan hanya dilakukan untuk kepentingan pribadi. Salah satunya mereka pernah menolong sahabat Rasulullah SAW yang buta, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum.

    Dikisahkan oleh Anggota Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) Syaiful Barry, Abdullah melangkahkan kakinya ke masjid dengan tertatih-tatih. Bahkan, tidak jarang, Abdullah sampai terjatuh di perjalanannya menuju masjid.

    Hingga pada suatu hari, Abdullah berjalan ke masjid hingga terjatuh dan kemudian ia bangun lagi. Setelahnya, saat Abdullah hampir kembali terjatuh. tiba-tiba tubuhnya ditangkap oleh seseorang.

    Ternyata, sosok yang menangkapnya adalah iblis. Meski demikian, mulanya, sang iblis tidak berkenan untuk mengungkapkan identitasnya.

    Namun, pada akhirnya, iblis tersebut juga mengungkapkan alasannya menolong Abdullah. Alasannya karena iblis takut bahwa jika Abdullah terjatuh lagi, semua dosa-dosanya akan diampuni.

    “Sesungguhnya aku ini iblis, yang sengaja membantumu untuk bisa ke masjid,” kata iblis tersebut, dikutip dari laman Kemenag Kanwil Kalbar.

    Abdullah menjawab, “Apa gerangan begitu luar biasanya baiknya dirimu kepada diriku,”

    Setelahnya, iblis pun berkata, “Wahai Ummi Maktum, sesungguhnya aku tidak rela, ketika engkau jatuh itu, Allah SWT mengampuni dosamu yang telah lalu.”

    Wallahu’alam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Khalifah Utsman bin Affan, Dibunuh saat Baca Al-Qur’an



    Jakarta

    Utsman bin Affan RA merupakan sosok sahabat Nabi Muhammad SAW yang sempat menjadi pemimpin kaum muslimin usai wafatnya Rasulullah SAW. Ia lahir 6 tahun setelah Tahun Gajah di Thaif.

    Utsman RA memiliki saudara perempuan yang bernama Aminah binti Affan. Sejak kecil, Utsman RA telah mengenyam pendidikan dengan baik. Karenanya, ia menjadi salah satu orang di Makkah yang pandai membaca dan menulis.

    Menukil dari buku Biografi Utsman bin Affan susunan Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi, Utsman bin Affan RA termasuk salah satu Assabiqunal Awwalun, yaitu golongan orang-orang yang pertama masuk Islam. Ia termasuk umat laki-laki keempat yang masuk Islam, setelah Abu Bakar RA, Ali bin Abi Thalib RA, dan Zaid bin Haritsah RA.


    Semasa kepemimpinannya, umat Islam mengalami kemajuan yang pesat di bidang dakwah, pendidikan, pengajaran, jihad, dan ibadah. Selain terkenal sebagai sosok yang dermawan, Utsman mampu mengarahkan rakyatnya kepada hal-hal yang bermanfaat.

    Sayangnya, kematian Utsman bin Affan RA cukup tragis. Disebutkan dalam Kisah 10 Pahlawan Surga oleh Abu Zaein, suatu hari terjadi fitnah pada masa pemerintahan Utsman RA.

    Fitnah ini disebabkan oleh seorang lelaki Yahudi yang berpura-pura masuk Islam, padahal ia membenci ajaran Islam dan kaum muslimin. Lelaki yang bernama abdullah bin Saba itu menyebar berita bohong tentang Utsman RA yang telah mengubah syari’at Allah SWT.

    Utsman RA dituduh berbuat zalim dengan mengangkat pemimpin-pemimpin dari keluarganya serta memecat gubernur yang telah ditunjuk Umar bin Khattab RA. Hal ini lantas menimbulkan kekacauan.

    Para pemberontak terpengaruh dengan fitnah tersebut, mereka datang ke rumah Utsman RA dan mengepungnya. Utsman RA dilarang makan dan minum, padahal sebelumnya dialah yang memberi makan kaum muslimin dengan hartanya.

    Pengepungan pada Utsman RA berlangsung selama 40 hari. Walau begitu, Utsman RA tetap sabar dan berdoa kepada Allah SWT agar diberi kekuatan menghadapi fitnah.

    Suatu malam, ia bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA, mereka berkata, “Malam ini engkau akan berbuka puasa bersama kami.”

    Keesokan harinya, Utsman RA pun berpuasa. Ia membaca mushaf Al-Qur’an dengan khusyuk, hingga akhirnya para pemberontak berhasil menyusup masuk ke rumahnya.

    Alih-alih menghentikan massa yang menerobos, Utsman RA tetap membaca Al-Qur’an dan tidak menghiraukannya. Ini menyebabkan seseorang memukul Utsman RA hingga terjatuh lalu menikam beliau hingga wafat.

    Pada 12 Dzulhijjah tahun 35 Hijriah, Utsman bin Affan RA wafat. Ia meninggal di usia ke-81 dan dimakamkan di bukit sebelah timur pemakaman Al-Baqi.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Mukjizat Nabi Hud AS, Salah Satunya Datangkan Kemarau Panjang



    Jakarta

    Allah SWT membekali para nabi dan rasul-Nya dengan mukjizat, termasuk pada Nabi Hud AS. Mukjizat merupakan kejadian yang luar biasa di luar kemampuan manusia yang diberikan Allah hanya kepada rasul-Nya. Sifat mukjizat tidak dapat dipelajari dan dapat terjadi seketika tanpa direncanakan.

    Dikutip dari Buku Panduan Lengkap Agama Islam susunan Tim Darul Ilmi, mukjizat terbagi menjadi dua macam yakni mukjizat kauniyah dan mukjizat aqliyah. Mukjizat kauniyah yaitu mukjizat yang tampak dan dapat ditangkap oleh panca indera, seperti misalnya tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular dan dapat membelah lautan.

    Sementara itu, mukjizat aqliyah yakni mukjizat yang hanya dapat dipahami oleh akal pikiran seperti Al-Qur’an, mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Hud AS adalah mukjizat kauniyah sebab bersinggungan langsung dengan kaum Ad. Berikut kisah lengkapnya.


    Mukjizat Nabi Hud

    1. Mendatangkan Kemarau Panjang

    Nama lengkapnya adalah Hud bin Syalikh bin Irfakhsyadz bin Sam bin Nuh AS. Dinukil dari buku Kisah Para Nabi susunan Ibnu Katsir, ada yang mengatakan bahwa Hud adalah Abir bin Syalik bin Irfakhsyadz bin Sam bin Nuh, ada pula yang mengatakan bahwa Hud adalah putra Abdullah bin Ribah al-Jarud bin Ad bin Aush bin Irm bin Sam bin Nuh AS, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jarir.

    Nabi Hud AS diutus Allah sebagai nabi dan rasul di al-Ahqaf, Huadramaut, Yaman. Di sana, tinggal sekelompok masyarakat yang bernama kaum Ad. Daerah al-Ahqaf terkenal sangat subur hingga kaum Ad hidup dengan makmur dan berkecukupan.

    Berdasarkan sejarah peradaban Islam, kaum Ad berasal dari keturunan Nabi Nuh. Bangunan-bangunan di sana sangatlah bagus mencakup rumah, kastil, istana, dan benteng sebab kaum Ad terkenal sangat ahli di bidang arsitektur.

    Oleh karenanya, kaum Ad juga menyembah patung-patung, yakni Shamud dan Alhattar. Nabi Hud AS berdakwah kepada kaum Ad dan mengajak mereka untuk beriman kepada Allah. Nabi Hud AS mengatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah yang bertugas untuk menyampaikan kebenaran.

    Hal tersebut termaktub dalam Al-Qur’an surat Al A’raf ayat 65:

    وَاِلٰى عَادٍ اَخَاهُمْ هُوْدًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

    Artinya: Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?”

    Namun, kaum Ad mengingkari ajakan Nabi Hud AS bahkan mencela dengan terang-terangan. Nabi Hud AS melanjutkan dakwah kepada mereka meski pengikutnya hanya sedikit. Setelah sekian lama, kaum Ad tidak juga berubah dan bertindak semakin kejam. Allah pun mengirimkan azab kepada kaum Ad.

    Tanah al-Ahqaf kini menjadi tandus. Tidak ada tanaman yang bisa tumbuh. Sumber air menjadi kering sehingga banyak hewan ternak yang mati. Tidak hanya itu, bangunan-bangunan mereka yang tadinya berdiri dengan megah pun ambruk dan hancur.

    2. Mendatangkan Badai Dahsyat

    Sementara itu, meskipun telah dilanda musibah yang sangat merugikan, kaum Ad masih saja mengingkari ajaran Nabi Hud AS. Sehingga, Allah pun mengabulkan doa Nabi Hud AS dengan menurunkan badai yang sangat dahsyat.

    Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al Haqqah ayat 6-7 yang berbunyi:

    وَاَمَّا عَادٌ فَاُهْلِكُوْا بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍۙ

    سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّامٍۙ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰىۙ كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍۚ

    Artinya: sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).

    3. Mendapatkan Pertolongan Allah

    Adapun mukjizat lainnya tercantum dalam buku Menengok Kisah 25 Nabi & Rasul karya Ahmad Fatih, S.Pd., bahwa Nabi Hud mampu menurunkan hujan atas izin Allah ketika kaum Ad dilanda kekeringan hingga tanaman mati dan tak ada sumber air. Nabi Hud AS juga selamat dari badai petir yang dahsyat.

    Setelah bencana yang sangat mematikan, Nabi Hud AS dan orang-orang yang beriman kepada-Nya hijrah ke Hadramaut dan memulai kehidupan yang baru. Berbeda dengan kaum Ad yang tidak mengakui ketahuidan yang dibawa Nabi Hud AS. Mereka celaka dan binasa.

    Bukti mukjizat ini terangkum dalam Al-Qur’an surat Al Araf ayat 72:

    فَاَنْجَيْنٰهُ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَمَا كَانُوْا مُؤْمِنِيْنَ

    Artinya: Maka Kami selamatkan dia (Hud) dan orang-orang yang bersamanya dengan rahmat Kami dan Kami musnahkan sampai ke akar-akarnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Mereka bukanlah orang-orang beriman.

    Selain itu, Al-Qur’an surat Hud ayat 58 juga menerangkan perihal keselamatan Nabi Hud AS dan pengikutnya yang beriman:

    وَ لَمَّا جَآءَ اَمۡرُنَا نَجَّيۡنَا هُوۡدًا وَّالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَهٗ بِرَحۡمَةٍ مِّنَّا ۚ وَ نَجَّيۡنٰهُمۡ مِّنۡ عَذَابٍ غَلِيۡظٍ

    Artinya: Dan ketika azab Kami datang, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat Kami. Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat.

    Itulah 3 mukjizat Nabi Hud AS, termasuk salah satunya yaitu mendatangkan kemarau panjang. Azab Allah yang diturunkan melalui kisah Nabi Nuh AS menjadi bukti bahwa umat muslim harus senantiasa mengimani ajaran yang dibawa oleh nabi dan rasul-Nya.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com