Blog

  • Pernikahan Nabi Muhammad dengan Khadijah, Maharnya 20 Unta



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW menikah dengan Khadijah binti Khuwailid bin Asad pada usia 25 tahun. Beliau memberikan mahar berupa 20 ekor unta betina muda kepada istri pertamanya itu.

    Hal tersebut diceritakan Ibnu Hisyam dalam Kitab Sirah Nabawiyah-nya. Khadijah RA adalah perempuan yang memiliki garis keturunan mulia di tengah-tengah kaumnya. Ia merupakan wanita bijak, cerdas, dan Allah SWT memberikan segala kehormatan kepadanya.

    Ia juga seorang saudagar perempuan yang mulia dan kaya raya. Ia memberikan upah kepada kaum lelaki untuk memutar hartanya dengan cara bagi hasil. Orang Quraisy sejak dulu memang berjiwa bisnis.


    Pada suatu hari, Khadijah RA mendengar informasi tentang Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW saat itu belum diangkat sebagai nabi. Beliau dikenal sebagai pemuda yang jujur dalam perkataan, amanah, dan berakhlak mulia. Hal ini membuat Khadijah RA mengutus seseorang untuk menawarkan kerja sama dengan Rasulullah SAW.

    Singkat cerita, Nabi Muhammad SAW menerima tawaran itu. Beliau menjual barang-barang dagangan Khadijah RA ke Syam ditemani Maisarah. Selain ke Syam, beliau juga menjual dagangan di Makkah. Banyak yang tertarik membeli dagangan tersebut.

    Maisarah kemudian menceritakan perjalanannya saat berdagang menemani Rasulullah SAW kepada Khadijah RA. Setelah mencerna cerita Maisarah, Khadijah RA mengirimkan utusan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan maksud Khadijah RA dengan menawarkan diri kepada beliau.

    “Sepupuku, aku menyukaimu karena kekerabatanmu, kedudukanmu di antara kaummu, sikap amanahmu, kemuliaan akhlakmu, dan kejujuran perkataanmu,” ucap Khadijah RA waktu itu.

    Setelah Khadijah RA mengutarakan maksudnya, Nabi Muhammad SAW menyampaikan hal itu kepada paman-pamannya. Akhirnya, beliau ditemani pamannya yang bernama Hamzah bin Abdul Muththalib menemui ayah Khadijah RA, Khuwailid bin Asad. Hamzah meminang Khadijah RA untuk Nabi Muhammad SAW.

    Menurut Ibnu Hisyam, Nabi Muhammad SAW saat itu memberikan mahar berupa 20 ekor unta betina muda. Khadijah RA adalah wanita pertama yang dinikahi beliau dan selama menikah dengannya, Nabi Muhammad SAW tidak pernah menikah dengan wanita lain sampai Khadijah RA wafat.

    Ibnu Ishaq turut meriwayatkan, setelah menikah dengan Nabi Muhammad SAW, Khadijah RA melahirkan semua anak lelaki Nabi Muhammad SAW kecuali Ibrahim. Putra-putri mereka adalah ath-Thahir, ath-Thayyib, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah.

    Sementara itu, menurut Ibnu Hisyam, anak lelaki sulung Nabi Muhammad SAW adalah Qasim lalu Thayyib dan Thahir. Sedangkan anak perempuan sulungnya adalah Ruqayyah, disusul Zainab, Ummu Kultsum, dan Fathimah.

    Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Qasim, Thayyib, dan Thahir meninggal pada masa jahiliyah. Sedangkan semua anak perempuan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA hidup sampai masa Islam. Mereka memeluk Islam dan ikut hijrah bersama Rasulullah SAW.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Tentang Buah Khuldi dan Kisah Manusia Pertama di Surga



    Jakarta

    Nabi Adam Alaihis Salam (AS) adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT dan tinggal di surga sejak saat itu. Bapak umat manusia ini lalu diturunkan ke bumi usai terkena tipu daya iblis agar mau makan buah khuldi.

    Mahmud asy-Syafrowi menjelaskan dalam buku Bumi sebelum Manusia Tercipta, dalam Al-Qur’an maupun hadits tidak disebutkan nama eksplisit ‘buah khuldi’, tapi adanya ‘syajaratul khuldi’ yakni pohon khuldi. Hanya saja, kata Mahmud asy-Syafrowi, dalam adat kebiasaan manusia yang dimakan adalah buah, maka kemudian dipersepsikan sebagai buah khuldi.

    Ada yang menafsirkan bahwa buah khuldi adalah buah dari pohon terlarang di surga dan setan menyebutnya sebagai pohon keabadian. Nama khuldi ini merupakan penafsiran para mufassir dari firman Allah SWT dalam surah Thaha ayat 120. Allah SWT berfirman,


    فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَالَ يٰٓاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى

    Artinya: “Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

    Menurut sebuah riwayat, pohon buah khuldi ini adalah sejenis pohon yang besar. Abdurrahman bin Mahdi menceritakan dari Syu’bah, dari Abu adh-Dhahhak, dari Abu Hurairah RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya, di dalam surga terdapat sebatang pohon yang jika seorang pengendara melewati naungan pohon itu selama seratus tahun, niscaya ia tidak akan dapat melewatinya, (yaitu) pohon khuldi.” (HR Ahmad)

    Hadits tersebut turut diriwayatkan ad-Darimi dalam Musnad-nya pada pembahasan tentang Pelembut Hati bab Pohon-pohon Surga.

    Pohon khuldi tersebut menjadi petaka bagi Nabi Adam AS. Imam Ibnu Katsir menceritakan dalam Qashash al-Anbiyaa, Nabi Adam AS dan istrinya, Hawa, dikeluarkan dari surga yang penuh kenikmatan, kemewahan, dan kebahagiaan menuju ke bumi yang penuh kejenuhan, keletihan, dan kesengsaraan karena godaan iblis yang telah menjerumuskan mereka berdua.

    Hal ini dikisahkan dalam firman Allah SWT,

    فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْءٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ ٢٠

    Artinya: “Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya yang berakibat tampak pada keduanya sesuatu yang tertutup dari aurat keduanya. Ia (setan) berkata, “Tuhanmu tidak melarang kamu berdua untuk mendekati pohon ini, kecuali (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau kamu berdua termasuk orang-orang yang kekal (dalam surga).” (QS Al A’raf: 20)

    وَقَاسَمَهُمَآ اِنِّيْ لَكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَۙ ٢١

    Artinya: “Ia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini bagi kamu berdua benar-benar termasuk para pemberi nasihat.” (QS Al A’raf: 21)

    فَدَلّٰىهُمَا بِغُرُوْرٍۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۗ وَنَادٰىهُمَا رَبُّهُمَآ اَلَمْ اَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَاَقُلْ لَّكُمَآ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٢٢

    Artinya: “Ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya. Maka, ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah pada keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (di) surga. Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

    Menurut tafsir Ibnu Katsir, maksud perkataan iblis dalam ayat tersebut adalah seandainya Nabi Adam AS dan Hawa memakan buah dari pohon yang ada di dalam surga tersebut, mereka akan menjadi malaikat atau akan hidup kekal di surga. Setan pun bersumpah tentang hal itu, meskipun kata-kata ini hanya tipu daya dan bertolak belakang dengan kenyataan sebenarnya.

    Dalam Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI diceritakan, setan pun tak henti-hentinya membujuk Nabi Adam AS dan Hawa dengan berbagai tipu daya agar mau memakan buah pohon (khuldi) itu. Ketika mereka mencicipi dan tersingkaplah aurat keduanya.

    “Ketika mereka mencicipi dan belum memakan buah pohon itu secara sempurna, tampaklah oleh mereka auratnya masing-masing dan tampak pula bagi masing-masing aurat pasangannya. Hal ini membuat keduanya merasa malu, aurat yang senantiasa tertutup kini tersingkap. Maka mulailah mereka menutupinya, yakni menutupi auratnya, dengan daun-daun surga,” terang tafsir tersebut.

    Ada juga yang menafsirkan bahwa buah khuldi ini bukan buah dalam makna yang sebenarnya, melainkan sebuah kiasan.

    Akibat mendekati perkara yang dilarang Allah SWT itu, Nabi Adam AS dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi. Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa pada dasarnya Nabi Adam AS diturunkan dari surga bukan karena melakukan sebuah kesalahan, melainkan karena sudah menjadi ketetapan Allah SWT. Hal ini bersandar pada sebuah hadits tentang percakapan antara Nabi Adam AS dan Nabi Musa AS.

    Dari Abu Hurairah RA ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Musa AS pernah mendebat Adam AS. Musa berkata kepada Adam, ‘Engkau telah mengeluarkan manusia dari surga hingga membuat mereka sengsara karena kesalahanmu.’ Adam menjawab, ‘Wahai Musa, engkau telah dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya. Apakah engkau mencela diriku atas suatu hal yang telah ditulis Allah sebelum Dia menciptakan aku atau yang telah ditakdirkan Allah terhadap diriku sebelum Dia menciptakan aku?’” Rasulullah SAW bersabda, “Maka Adam dapat membantah argumentasi Musa.” (HR Bukhari)

    Wallahu a’lam.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Bukannya Syahid, Sahabat Nabi yang Ikut Perang Uhud Ini Jadi Ahli Neraka



    Jakarta

    Perang Uhud adalah salah satu perang besar yang pernah dipimpin oleh Rasulullah SAW. Ada salah satu sahabat nabi yang masuk neraka karena sengaja bunuh diri saat Perang Uhud berkecamuk.

    Perang Uhud merupakan perang yang dilatarbelakangi oleh rasa dendam dari kaum kafir Quraisy yang tidak menerima kekalahannya pada saat Perang Badar, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah. Perang Uhud terjadi pada pertengahan bulan Syawal dan merupakan perang yang besar.

    Kisah Sahabat Nabi yang Masuk Neraka saat Perang Uhud

    Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah bercerita kepadanya, “Telah datang kepada kami seorang lelaki yang tak kami ketahui siapa ia, tetapi ada yang mengatakan bahwa namanya Quzman. Jika nama orang ini disebut, Rasulullah SAW bersabda: ‘Dia pasti termasuk penghuni neraka.’


    Sewaktu meletusnya Perang Uhud, Quzman terlibat penuh membantu kaum muslimin, ia bahkan berhasil membunuh tujuh atau delapan orang musyrik karena keberaniannya memang tidak dapat diragukan.

    Namun, ia terluka parah sehingga berhenti bertempur dan dibawa ke perkampungan Bani Zhafar. Kaum Muslimin berkata kepadanya, ‘Demi Allah, hari ini engkau telah membuktikan keberanianmu. Karena itu, bergembiralah menyambut surga!’

    Saat lukanya kian parah, ia mengambil anak panah dari selongsongnya lalu memakainya untuk bunuh diri. (HR at-Thabari)

    Kisah Quzman ini turut diceritakan oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri dalam Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1. Quzman yang terluka menjadi tidak sabar untuk segera mati karena tidak tahan dengan rasa sakit yang menimpanya. Dia pun menusukkan pedang ke dadanya hingga menembus punggungnya.

    Setelah itu, sahabat kembali kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang membuatmu berkata seperti itu?” Sahabat tersebut menjawab, “Sungguh, orang yang telah engkau sebutkan itu, dia benar-benar akan menjadi penghuni neraka. Baru saja ia terluka, tetapi ia tidak sabar ingin segera mati, lalu dia bunuh diri.” (Muttafaq Alaih diriwayatkan Bukhari dan Muslim dan hadits Sahl bin Sa’ad)

    Umar Sulaiman al-Asyqar dalam Al Jannah wan Naar menjelaskan bahwa pelaku bunuh diri merupakan salah satu golongan yang akan dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda,

    “Barang siapa bunuh diri dengan besi, maka besi itu ia pegang dan ia tusukkan pada perutnya di neraka, terus-menerus dan selamanya. Barang siapa bunuh diri dengan racun, maka racun itu ia bawa dan ia minum di neraka Jahannam, terus-menerus dan selamanya. Barang siapa bunuh diri dengan terjun dari atas gunung, maka ia terjun di neraka, terus-menerus dan selamanya.”

    Dalam Shahih al-Bukhari diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda,

    الَّذِي يَخْتَقُ نَفْسَهُ يَخْنَقُهَا فِي النَّارِ، وَالَّذِى يَطْعَنُهَا يَطْعَنُهَا فِي النَّارِ

    Artinya: “Orang yang mencekik dirinya sendiri akan mencekik dirinya sendiri di neraka. Dan, orang yang menusuk dirinya sendiri akan menusuk dirinya sendiri di neraka.” (Shahih al-Jami)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Nuh Membuat Perahu Besar, Selamatkan Umatnya dari Azab Allah



    Jakarta

    Nabi Nuh merupakan satu dari 25 nabi dan rasul yang dikisahkan dalam Al-Qur’an. Bahkan, ia termasuk ke dalam Ulul Azmi.

    Ulul Azmi adalah gelar kenabian istimewa yang Allah berikan kepada para rasul dengan kedudukan khusus, ini disebabkan karena mereka memiliki keteguhan hati, ketabahan, dan kesabaran luar biasa dalam menghadapi segala ujian seperti dijelaskan oleh Khalid Muhammad Khalid dalam Hadza Al-Rasul.

    Dakwa Nabi Nuh diperuntukkan bagi Bani Rasib untuk menyampaikan tauhid. Selama masa kenabiannya, ia memperoleh kurang lebih 70 orang pengikut beserta 8 anggota keluarganya.


    Bani Rasib memperlakukan Nabi Nuh dengan hina, mereka bahkan menyekutukan Allah. Mengutip dari buku Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul oleh M Arief Hakim, kaum Nabi Nuh terkenal congkak dan zalim.

    Mereka sangat kaya, materialis dan suka meremehkan orang lain. Menurutnya harta benda dan materi adalah satu-satunya tolak ukur untuk mengangkat martabat dan harga diri manusia.

    Bahkan, fakir miskin sangat diremehkan dan dipandang sebelah mata. Alih-alih ditolong, mereka malah ditindas.

    Para budak dan binatang juga menjadi korban dari kezaliman kaum Nabi Nuh. Melihat hal itu, Nabi Nuh sangat sedih, karenanya ia terus berusaha berdakwah dengan harapan mereka mengikuti ajaran tauhid.

    Sayangnya, meski berdakwah sangat lama, pengikut Nabi Nuh hanya sedikit. Kadang-kadang Nabi Nuh merasa lelah dan hampir putus asa, namun Allah selalu membesarkan hatinya.

    Sampai suatu ketika, Nabi Nuh memperingatkan kaumnya akan azab dan bencana yang akan melanda. Peringatan itu justru ditantang oleh kaum Nabi Nuh, mereka menganggap beliau pembual.

    Akhirnya, Nabi Nuh berdoa dan memohon kepada Allah agar kaumnya diberi pelajaran. Saking zalimnya, tak jarang mereka mengusir Nabi Nuh dan para pengikutnya, bahkan mengancam akan membunuh atau mencelakakannya.

    Peringatan banjir yang dahsyat tidak dihiraukan. Nabi Nuh bersama pengikutnya lantas membuat perahu besar dengan cara bergotong-royong.

    Kaum Nabi Nuh mengolok-olok mereka dan merasa heran, “Hai Nuh, kalian memang sudah gila. Buat apa membuat perahu, sementara air laut saja tidak ada!”

    Setelah Nabi Nuh dan pengikutnya berhasil membuat perahu besar, penghinaan yang dilontarkan oleh kaum Nuh makin menjadi-jadi. Mereka bahkan melakukan penghinaan dengan cara membuang hajat di atas perahu Nuh, menjadikannya sebagai tempat buang air.

    Walau begitu, Nabi Nuh kerap memperingatkan mereka akan azab banjir besar yang Allah hendak jatuhkan. Sayangnya, mereka makin semena-mena dan kerap menyebut Nabi Nuh pembohong.

    Setelah Nabi Nuh dan pengikutnya membersihkan perahu dari tinja, mereka bersiap-siap sambil membawa perbekalan. Atas izin Allah, dalam perahu itu bahkan ada juga hewan-hewan yang ikut.

    Benar saja, banjir bandang menerpa. Saking dahsyatnya banjir tersebut, Allah menganjurkan Nabi Nuh untuk menyelamatkan sejumlah hewan dan binatang piaraan yang menumpang di perahunya.

    Saking besarnya banjir tersebut, dianalogikan seperti gulungan air yang bertabrakan juga naik ke atas sehingga membentuk gunung. Perahu itu terombang-ambing oleh air yang menenggelamkan orang-orang kafir.

    Ketika Nabi Nuh memandangi banjir tersebut, beliau melihat anaknya, Kan’aan dan berkata, “Wahai anakku, berimanlah kepada Allah. Naiklah ke atas perahu ini sebelum kamu ditelan oleh gelombang air itu, dan ikut binasa bersama orang-orang kafir itu.”

    Kan’aan menjawab seperti dalam Surah Hud ayat 43, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

    Nuh berkata lagi sesuai dalam Surah Hud ayat 43, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang.”

    Setelah semua penghuni Bumi dan orang kafir tenggelam, kecuali orang-orang yang berada di atas perahu, Allah memerintahkan Bumi untuk menghisap air yang memenuhi daratan, dan langit untuk segera berhenti menurunkan hujan. Atas kuasa Allah, perahu tersebut berlabuh di Gunung al-Juudi, satu-satunya gunung yang tidak tenggelam.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Orang yang Wafatnya Dihadiri 70 Ribu Malaikat dan Buat Arsy Bergetar



    Jakarta

    Wafatnya orang saleh memiliki keistimewaan tersendiri. Menurut sebuah riwayat, 70 ribu malaikat menghadirinya dan Arsy sampai dibuat bergetar olehnya.

    Sosok orang saleh yang dimaksud dalam riwayat ini adalah Sa’ad bin Mu’adz, salah seorang sahabat nabi. Berkaitan dengan Sa’ad, Rasulullah SAW bersabda,

    “Inilah orang yang membuat Arsy bergetar, pintu-pintu langit dibuka, dan dihadiri oleh 70.000 malaikat. Sekali jasadanya dihimpit kemudian dilepaskan.” (HR An-Nasa’i dari Ibnu Umar dengan sanad shahih; Shahih al-Jami’)


    Sa’ad bin Mu’adz adalah pemimpin Bani Abdul Asyhal. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat tegas dalam berbagai hal. Ia juga termasuk sahabat yang mendukung penuh dakwah Rasulullah SAW.

    Diceritakan dalam buku Sa’ad bin Mu’adz: Ahlu Nushroh Nabi Muhammad SAW karya Syamsuddin Ramadhan An Nawiy, Nabi SAW menyematkan kemuliaan tanpa tanding kepada Sa’ad bin Mu’adz. Beliau bersabda,

    “Tiga orang dari kaum Anshar yang tak seorang pun dapat melebihi keutamannya. Semuanya berasal dari Bani ‘Abd al-Asyhal: Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Hudlair, dan ‘Abbaad bin Bisyr.” (HR Imam Abu Ya’la dalam Musnad-nya dan Tarikh Bukhari. Imam al-Hakim menshahihkan hadits ini)

    Pada riwayat lain diceritakan, tatkala Yahudi Bani Quraidhah menunggu keputusan dari Sa’ad bin Mu’adz atas pengkhianatan mereka, Rasulullah SAW mengutus Sa’ad bin Mu’adz RA. Sa’ad bin Mu’adz pun datang dengan mengendarai seekor keledai.

    Ketika Sa’ad bin Mu’adz sampai di dekat masjid (tempat yang disiapkan Rasulullah SAW untuk mengerjakan salat saat pengepungan Bani Quraidhah), Nabi SAW bersabda, “Bedirilah untuk sebaik-baik di antara kalian atau untuk pemimpin kalian.” (HR Bukhari)

    Ibnu Hisyam menceritakan dalam Sirah Nabawiyah-nya, kaum muslim yang saat itu berdiri di depan Sa’ad bin Mu’adz berkata, “Hai Abu Amr, sesungguhnya Rasulullah SAW mengangkatmu untuk memutuskan perkara-perkara keluargamu.”

    Sa’ad bin Mu’adz berkata, “Terhadap itu semua, kalian harus komitmen dengan janji Allah bahwa hukum tentang mereka adalah sesuai dengan hukum yang aku keluarkan.”

    Mereka berkata, “Ya.”

    Sa’ad bin Mu’adz berkata, “Kalian juga harus komitmen kepada orang yang ada di sini.” Sa’ad mengatakan hal ini sambil menunjuk ke tempat Rasulullah SAW. Hal ini ia lakukan sebagai penghormatannya terhadap Nabi SAW.

    Sa’ad bin Mu’adz lalu berkata, “Tentang Bani Quraidhah, aku putuskan bahwa orang laki-laki mereka dibunuh, kekayaan mereka dibagi-bagi, dan anak-anak serta wanita-wanita ditawan.”

    Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh engkau telah memutuskan perkara mereka dengan hukum Allah dari atas tujuh langit.”

    Kisah Sa’ad bin Mu’adz dalam memutuskan perkara tersebut terjadi saat perang Bani Quraidhah pada tahun ke-5 Hijriyah. Ibnu Ishaq meriwayatkan sejumlah kisah tersebut.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Khalid bin Walid Penggal Kepala Jin Uzza



    Jakarta

    Khalid bin Walid adalah sahabat nabi yang mendapat julukan pedang Allah SWT. Ia dikisahkan pernah memenggal kepala jin Uzza.

    Kisah Khalid bin Walid memenggal jin Uzza ini merupakan perintah dari Rasulullah SAW tepatnya setelah menaklukkan Kota Makkah.

    Manshur Abdul Hakim menceritakan dalam buku Khalid bin Al-Walid Saifullah Al-Maslul, setelah menaklukkan Kota Makkah Rasulullah SAW mengutus Khalid bin Al Walid untuk menghancurkan berhala Al Uzza yang disembah oleh kaum musyrik Makkah pada zaman Jahiliyah. Berhala itu dihancurkan pada tanggal 25 Ramadan pada tahun tersebut.


    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Rasulullah SAW mengutus Khalid untuk menghancurkan berhala Al-Uzza, yang terletak di sebuah rumah di perkebunan kurma yang disembah oleh suku Quraisy, Kinanah dan Mudhar Penjaga dan pengurus berhala itu adalah dari Bani Syaiban dari kabilah Bani Sulaim sekutu kabilah Bani Hasyim.”

    Lebih lanjut diceritakan, ketika penjaganya mendengar Khalid sedang berjalan menuju berhala, maka ia mengalungkan pedangnya di atas berhala, kemudian ia menaiki bukit sambil melantunkan bait syair.

    Wahai Al Uzza, hertahanlah dengan kuat jangan lemah
    Atas serangan Khalid, lemparkanlah tutup dan bersiaplah Wahai Al Uzza, jika kamu tidak bisa membunuh Khalid
    Maka kembaliku dengan dosa akan segara atau kamu yang menang

    Ketika Khalid sampai pada berhala, maka ia langsung merobohkannya dan kembali lagi kepada Rasulullah SAW. Al Waqidi dan lainnya meriwayatkan bahwa ketika itu Khalid mendatangi berhala pada tanggal 25 Ramadan.

    Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Apa yang telah kamu lihat?” Khalid menjawab, “Aku tidak melihat apa-apa.” Lalu Rasulullah SAW memerintahkan untuk kembali lagi.

    Ketika Khalid kembali ke tempat itu, tiba-tiba keluar dari rumah berhala seorang wanita hitam yang menguraikan rambutnya sambil berteriak-teriak meratapi kesedihannya. Kemudian Khalid mengacungkan pedangnya ke atas sambil berkata melantunkan bait syair.

    Wahai Al-Uzza, kekafiranmu dan ketidaksucianmu
    Sesungguhnya aku melihat Allah telah menghinamu

    Kemudian Khalid menghancurkan rumah tersebut dan mengambil harta yang ada di dalamnya, lalu ia kembali mengabari Rasulullah SAW.

    Maka Rasulullah bersabda, “Itulah Al-Uzza yang tidak akan disembah lagi untuk selamanya.”

    Abu Ath-Thufail turut meriwayatkan hal yang sama.

    Rasulullah SAW menghancurkan semua berhala yang berada di sekitar Ka’bah dan kabilah-kabilah terdekat. Beliau mengutus para sahabatnya dalam rombongan pasukan kecil untuk menghancurkan berhala-berhala seperti yang dilakukan Khalid terhadap berhala Al-Uzza.

    Hanatul Ula Maulidya dalam buku Sang Panglima Tak Terkalahkan “Khalid Bin Walid” juga menceritakan hal yang sama mengenai kisah Khalid bin Walid.

    Setibanya di tempat Uzza berada, Khalid bin Walid menghancurkan kepala Uzza menggunakan pedangnya. Kemudian Khalid membakar reruntuhan patung terbesar itu dengan semangat yang berkobar seolah-olah ia ingin membakar dan memusnahkan kekufuran dari muka bumi.

    Setelah Khalid bin Walid berhasil menghancurkan Uzza, Khalid mendapat tugas baru dari Nabi Muhammad SAW untuk berangkat ke pemukiman Bani Khuza’ah (Bani Judzaimah) untuk menyebarkan agama Islam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Haji Mabrur yang Tidak Pernah Berangkat ke Makkah



    Jakarta

    Setiap muslim pasti menginginkan untuk dapat melaksanakan ibadah haji dan mendapatkan predikat haji mabrur. Namun, ada sebuah kisah tentang seseorang yang disebut sebagai haji mabrur, meskipun dia tidak pernah pergi ke Baitullah, Makkah. Bagaimanakah kisahnya?

    Kisah ini diambil dari buku Koleksi Hadits dan Kisah Teladan Muslim karya Ahmad Saifudin dan Mahdi dan laman resmi Kementerian Agama (Kemenag).

    Kisah Seorang Haji Mabrur Tanpa ke Baitullah

    Kisah ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Al Mubarak yang menceritakan bahwa setelah menyelesaikan ibadah haji, ia beristirahat dan tidur. Selama tidurnya, ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan mendengar percakapan mereka.


    Salah satu malaikat bertanya kepada yang lain, “Berapa banyak orang yang datang untuk menunaikan ibadah haji tahun ini?”

    “Mereka berjumlah enam ratus ribu jemaah,” jawab malaikat yang ditanya.

    Kemudian, malaikat pertama bertanya lagi, “Berapa banyak dari mereka yang ibadah hajinya diterima?”

    “Tidak ada satu pun dari mereka,” jawab malaikat yang pertama.

    Percakapan ini membuat Abdullah bin Al Mubarak merasa gemetar. Sambil menangis dia berkata, “Apakah semua orang ini datang dari tempat yang jauh dengan perjuangan dan kelelahan, melewati gurun yang luas, hanya untuk semua usahanya menjadi sia-sia?”

    Dengan gemetar, dia terus mendengarkan percakapan kedua malaikat tersebut.

    “Namun ada seseorang yang meskipun tidak melaksanakan haji, amal perbuatannya diterima oleh Allah dan semua dosanya diampuni. Karena dia, seluruh jemaah haji diterima oleh Allah.”

    “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” tanya malaikat pertama.

    “Itu adalah kehendak Allah.”

    “Siapakah orang tersebut?” tanya malaikat pertama lagi.

    “Orang itu adalah Ali bin Al Muwaffaq, seorang tukang sol sepatu di Kota Damaskus.”

    Setelah mendengar ucapan itu, Abdullah bin Al Mubarak terbangun dari tidurnya. Setelah kembali dari ibadah haji, dia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan pergi langsung ke Damaskus, Suriah. Hatinya masih gemetar dan penuh pertanyaan.

    Ketika dia tiba di sana, dia mencari tukang sol sepatu yang disebutkan oleh malaikat dalam mimpinya. Dia bertanya kepada hampir semua tukang sol sepatu apakah ada seorang tukang sol sepatu bernama Ali bin Al Muwaffaq.

    “Iya, dia ada di tepi kota,” jawab salah satu tukang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya

    Setelah sampai di tempat tersebut, dia menemukan seorang tukang sol sepatu yang berpakaian sangat sederhana. “Apakah Anda Ali bin Al Muwaffaq?” tanya Abdullah bin Al Mubarak.

    “Iya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?”

    “Saya ingin tahu apa yang telah Anda lakukan sehingga Anda layak menerima pahala haji yang diterima oleh Allah, padahal Anda tidak pergi menunaikan haji.”

    “Saya sendiri tidak tahu, tuan.”

    “Ceritakanlah kehidupan Anda selama ini.”

    Ali bin Al Muwaffaq kemudian menceritakan, “Selama puluhan tahun, setiap hari saya menyisihkan sebagian uang dari penghasilan saya sebagai tukang sol sepatu. Saya menabung sedikit demi sedikit hingga akhirnya pada tahun ini, saya memiliki 350 dirham, jumlah yang cukup untuk pergi menunaikan ibadah haji. Saya sudah siap untuk berangkat haji.”

    “Tapi Anda tidak pergi menunaikan haji.”

    “Benar.”

    “Apa yang terjadi?”

    “Pada saat itu, istri saya hamil dan sedang mengidam. Ketika saya hendak pergi, dia sangat menginginkan aroma makanan yang lezat.”

    “Suamiku, bisakah kau mencium aroma masakan yang enak ini?”

    “Iya, sayang.”

    “Cobalah cari siapa yang memasak, aroma masakannya sangat harum. Tolong mintakan sedikit untukku,” pintanya.

    “Akhirnya, saya mencari sumber aroma masakan itu. Ternyata berasal dari gubuk yang hampir roboh. Di sana, ada seorang janda dan enam anaknya. Saya memberitahunya bahwa istri saya menginginkan masakan yang dia masak, meskipun hanya sedikit. Janda itu diam dan memandang saya, jadi saya mengulangi kata-kata saya,” ungkap Ali bin Al Muwaffaq.

    Akhirnya, dengan sedikit ragu, dia mengatakan, “Tidak boleh, tuan.”

    “Apa pun harganya, saya akan membelinya.”

    “Makanan ini tidak dijual, tuan,” katanya sambil meneteskan air mata.

    “Mengapa?” tanya Ali.

    Dengan berlinang air mata, janda itu menjawab, “Makanan ini halal bagi kami, tapi haram bagi tuan.”

    Dalam hatinya, Ali bin Al Muwaffaq bertanya, “Bagaimana mungkin ada makanan yang halal baginya, tapi haram bagiku, padahal kita semua muslim?” Oleh karena itu, dia mendesaknya lagi, “Kenapa?”

    “Selama beberapa hari ini, kami tidak memiliki makanan. Di rumah kami tidak ada makanan sama sekali. Hari ini, kami melihat seekor keledai mati, jadi kami mengambil sebagian dagingnya untuk dimasak dan dimakan,” janda itu menjelaskan sambil menangis.

    Mendengar cerita itu, Ali bin Al Muwaffaq menangis dan pulang ke rumah. Ia menceritakan kejadian tersebut kepada istrinya dan ia juga menangis. Akhirnya, kami memasak makanan dan pergi ke rumah janda tersebut.

    “Kami membawa makanan untukmu.”

    Ali bin Al Muwaffaq memberikan 350 dirham, uang yang dikumpulkannya untuk pergi menunaikan haji, kepada mereka. “Gunakan uang ini untuk keluarga Anda. Gunakan untuk usaha agar Anda tidak kelaparan lagi.”

    Mendengar cerita itu, Abdullah bin Al Mubarak tidak bisa menahan air mata. Ternyata, inilah amal yang dilakukan oleh Ali bin Al Muwaffaq sehingga Allah SWT menerima amalan hajinya meskipun dia tidak mendapatkan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Putra Nabi Ibrahim yang Dikurbankan?



    Jakarta

    Kisah putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan atas perintah Allah SWT menjadi sejarah di balik pelaksanaan kurban hari raya Idul Adha. Dalam cerita kenabian, Nabi Ibrahim AS dikatakan memiliki dua orang putra dari dua istrinya.

    Putra pertama Nabi Ibrahim AS, yaitu bernama Ismail dari istri keduanya yang bernama Siti Hajar. Sedangkan putra keduanya bernama Ishaq dilahirkan dari istri pertamanya, Sarah.

    Ada dua pendapat yang berbeda terkait satu di antara kedua putra Nabi Ibrahim AS yang pernah dikurbankan. Orang-orang Yahudi berkeyakinan bahwa putra yang disembelih ialah Nabi Ishaq. Sedangkan umat Islam menganggap Nabi Ismail lah sosok putra nabi yang disembelih.


    Lantas, siapa sebenarnya putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan? Berikut ini penjelasannya.

    Sosok Putra Nabi Ibrahim yang Dikurbankan

    Melansir dari buku Kala Kanjeng Nabi Bercerita karya Rizem Aizid, dalam ayat Al-Qur’an tidak disebutkan secara jelas sosok putra Nabi Ibrahim AS yang dikurbankan. Hanya saja terdapat dalil yang secara tersirat mengarah kepada Nabi Ismail AS, Allah SWT berfirman:

    وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّلِحِينَ فَبَشِّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعَى قَالَ يَسُنَى إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَبْيَ أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَتَأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّبِرِينَ

    Artinya: “Dan, Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya, aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.’ Maka, Kami beri ia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka, tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffat: 99-102).

    Berdasarkan ayat tersebut, umat Islam meyakini bahwa Ismail adalah putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan. Sebab, Nabi Ibrahim dulunya tidak dikaruniai anak dengan istri pertamanya, Siti Sarah.

    Hingga akhirnya beliau menikah dengan istri keduanya, Siti Hajar, dan dikaruniai anak pertama yang bernama Ismail.

    Menambahkan dari sumber lain, dalam buku Tuntunan Berkurban dan Menyembelih Hewan karya Ali Ghufron turut diterangkan tentang sosok putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan.

    Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menegaskan bahwa adz-dzabih (orang yang dikurbankan) adalah Ismail karena dialah anak pertama Nabi Ibrahim yang memberi berita gembira atas kabar kelahirannya.

    Ahli kitab maupun umat Islam pun sepakat bahwa Nabi Ismail lebih dahulu dilahirkan dan lebih tua dibandingkan dengan Nabi Ishaq.

    Bahkan dalam kitab-kitab mereka turut disebutkan, ketika Nabi Ismail lahir, Nabi Ibrahim berusia 86 tahun. Sedangkan ketika Nabi Ishaq dilahirkan, usia Nabi Ibrahim telah menginjak 99 tahun.

    Dengan demikian, umat Islam percaya bahwa putra Nabi Ibrahim yang dikurbankan ialah Nabi Ismail. Beliau melaksanakan kurban tersebut di Makkah, tempat dimana ia bersama putranya membangun Ka’bah.

    Terlepas dari adanya perbedaan tersebut, umat muslim dapat memetik hikmah dari kisah Nabi Ibrahim. Beliau rela berkurban demi melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih anak pertamanya yang telah dinantikan-nantikan, wallahu ‘alam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nusaibah binti Ka’ab, Pasukan Perang Wanita Sang Perisai Rasulullah



    Jakarta

    Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah adalah seorang sahabat wanita Rasulullah SAW yang agung dan pemberani dalam berperang. Ia kerap dipanggil dengan nama Ummu Imarah dan dijuluki Sang Perisai Rasulullah.

    Nusaibah merupakan sosok pahlawan yang tak pernah absen meninggalkan kewajibannya untuk berjihad ketika ada panggilan untuknya. Ia tidak takut mati di jalan Allah SWT dan seluruh perjuangannya ditujukan untuk kemuliaan dunia dan akhirat.

    Salah satu kisah kepahlawanan Nusaibah binti Ka’ab yang paling dikenal sepanjang sejarah ialah ketika ia bergabung menjadi pasukan dalam Perang Uhud.


    Nusaibah binti Ka’ab Ikut Serta dalam Perang Uhud

    Mengutip dari buku Nukilan Tarikh karya Hasan Zein Mahmud, Nusaibah binti Ka’ab ikut serta dalam Perang Uhud bersama suaminya, Ghaziyah bin Amru. Awalnya, ia hanya bertugas untuk menyiapkan kebutuhan logistik dan medis bersama para wanita lainnya.

    Ia ikut membantu memasok air minum kepada para prajurit muslim dan mengobati mereka yang terluka. Ketika kaum muslimin dilanda kekacauan karena para pemanah di atas bukit melanggar perintah Rasulullah SAW, nyawa beliau berada dalam bahaya.

    Melihat Rasulullah SAW yang menangkis berbagai serangan musuh sendirian, Nusaibah segera mempersenjatai dirinya dan bergabung dengan pasukan lain untuk membentuk pertahanan melindungi beliau.

    Dikisahkan dalam buku Setitik Cahaya di Samudra Kehidupan karya Nurdin Hidayat, Nusaibah binti Ka’ab berperang melawan musuh Islam dalam Perang Uhud dengan sangat mengagumkan.

    Ia menggunakan ikat pinggang pada perutnya hingga menderita luka-luka di sekujur tubuhnya. Dalam suatu riwayat disebutkan, Nusaibah berperang penuh dengan keberanian hingga ia tidak menghiraukan keadaan dirinya sendiri ketika membela Rasulullah SAW.

    Sekurangnya ada sekitar 12 luka di tubuh Nusaibah dengan luka di bagian leher yang paling parah. Namun, hebatnya Nusaibah tidak pernah mengeluh, mengadu, ataupun bersedih sedikit pun atas segala luka yang ia rasakan.

    Ketika Rasulullah SAW melihat Nusaibah terluka, beliau bersabda, “Wahai Abdullah (putra Nusaibah), balutlah luka ibumu! Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga.”

    Mendengar doa Rasulullah SAW tersebut, Nusaibah tidak lagi menghiraukan segala luka yang ada di tubuhnya dan terus berperang membela Islam.

    Kisah Nusaibah binti Ka’ab Melindungi Rasulullah SAW

    Melansir dari buku 100 Muslim Paling Berpengaruh dan Terhebat Sepanjang Sejarah karya Teguh Pramono, Nusaibah binti Ka’ab pernah bercerita tentang kejadian Perang Uhud.

    “Aku melihat orang-orang yang sudah menjauhi Rasulullah SAW hingga tinggal sekelompok kecil yang tidak sampai sepuluh orang. Aku, kedua anakku, dan suamiku berada di depan beliau untuk melindunginya.

    Beliau SAW melihatku tidak memiliki perisai. Di sisi lain, beliau melihat ada seorang laki-laki yang merunduk sambil membawa perisai. Lalu beliau berkata, ‘Berikanlah perisaimu kepada yang sedang berperang!’ Lantas, laki-laki itu melemparkan perisainya kepadaku.

    Aku pun menangkapnya dan menggunakannya untuk melindungi Rasulullah SAW. Kala itu, pasukan berkuda dari pihak musuh menyerang kami. Seandainya mereka berjalan kaki sebagaimana kami, insya Allah kami dapat mengalahkan mereka dengan mudah.

    Tatkala ada seorang laki-laki berkuda mendekat dan memukulku, aku menangkisnya dengan perisaiku, dan ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika ia hendak merunduk untuk memukulkan pedangnya kepadaku, aku pukul urat kaki kudanya hingga jatuh terguling.

    Melihat hal itu, Rasulullah SAW berseru, ‘Wahai putra Ummu Imarah! Bantulah ibumu! Bantulah ibumu!’ Kemudian, putraku membantuku untuk mengalahkan musuh hingga aku berhasil membunuhnya.

    Abdullah bin Zaid, salah satu putra Ummu Imarah berkata, “Saat itu aku terluka cukup parah dan daerah tidak berhenti mengalir. Rasulullah SAW berkata, ‘Balutlah lukamu!’

    Saat itu, Ummu Imarah sedang menghadapi musuh. Namun, mendengar seruan Rasulullah SAW, ibu menghampiriku dengan membawa pembalut dari ikat pinggangnya. Lantas, dibalutlah lukaku sedangkan Rasulullah SAW berdiri menyaksikan kami.

    Ibu berkata kepadaku, ‘Bangkitlah bersamaku dan terjanglah musuh!’ Hal itu membuat Rasulullah SAW berkata, ‘Siapakah yang mampu berbuat sebagaimana yang engkau lakukan ini, wahai Ummu Imarah?’

    Kemudian datanglah orang yang tadi melukaiku, maka Rasulullah SAW berkata, ‘Inilah yang memukul anakmu, wahai Ummu Imarah!’ Ibu pun mendatangi orang tersebut dan langsung memukul betisnya hingga tersungkur.

    Rasulullah SAW tersenyum melihat yang dilakukan oleh Ummu Imarah hingga terlihat gigi gerahamnya. Beliau berkata, ‘Engkau telah menghukumnya, wahai Ummu Imarah.’”

    Ketika Rasulullah SAW wafat, ada beberapa kabilah yang murtad dari Islam di bawah pimpinan Musailamah al-Kadzab. Khalifah Abu Bakar kemudian mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang tersebut.

    Saat itu juga, bersegeralah Nusaibah mendatangi Abu Bakar dan meminta izin untuk bergabung bersama pasukan lainnya. Dalam Perang tersebut, Nusaibah mendapatkan ujian yang berat. Putranya yang bernama Habib tertawan oleh Musailamah al-Kadzab dan disiksa dengan memotong anggota tubuhnya sampai mati syahid.

    Pada perang Yamamah, Nusaibah dan putranya, Abdullah, juga ikut memerangi Musailamah hingga tewas di tangan mereka berdua. Beberapa tahun usai Perang Yamamah, Nusaibah dinyatakan wafat.

    Itulah sepenggal kisah Nusaibah binti Ka’ab yang pernah terlibat sebagai pasukan perang wanita dan dijuluki Sang Perisai Rasulullah SAW. Semoga umat muslim dan muslimah dapat memetik hikmah dari perjuangan beliau dalam berjihad membela Islam di jalan Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Jusuf Hamka Naik Haji, Kelaparan di Pesawat



    Jakarta

    Tiga tahun setelah mengucap syahadat sebagai tanda menjadi muslim, Jusuf Hamka alias Babah Alun menunaikan ibadah haji pada 1984. Ia menuangkan pengetahuan dan pengalamannya hampir 40 tahun lalu itu ke dalam buku bertajuk, “Babah Alun Naik Haji”.

    Membaca buku setebal 136 halaman yang diterbitkan Gramedia pada 2020 ini kita akan mendapat gambaran apa dan bagaimana perubahan ibadah haji ke Tanah Suci sejak 1984.

    Babah Alun Naik Haji karya HM Jusuf Hamka, terbitan Gramedia, 2020Babah Alun Naik Haji karya HM Jusuf Hamka, terbitan Gramedia, 2020 Foto: Sudrajat / detikcom

    Dalam hal layanan selama penerbangan di pesawat, misalnya. Dalam buku ini Jusuf Hamka menyebut menumpang pesawat Boeing 747 berkapasitas 500 orang. Dengan jumlah penumpang sebanyak itu ditambah pemahaman yang terbatas terkait penggunaan toilet membuat ‘kekacauan’ tersendiri. Belum lagi kebiasaan membuang sampah sembarangan di dalam kabin membuat kesibukan para pramugara dan pramugari bertambah. Akibatnya, tugas mereka untuk membagikan jatah makan siang untuk para penumpang terlambat.


    “Sudah terlambat dari waktunya, eh kotak-kotak yang disajikan ternyata cuma berisi kue-kue ringan,” keluh Jusuf Hamka.

    Tak cuma dia yang mengeluh, banyak penumpang lain pun demikian. Beberapa di antaranya malah ada yang mengecam pelayanan Garuda seolah tega menyengsarakan perut penumpang.

    “Maklum, perut orang Indonesia walau dijejali kue segerobak, kalau belum terisi nasi namanya belum makan,” imbuhnya.

    Ada seorang ibu yang menyesalkan kenapa suguhan beberapa potong lemper yang disajikan saat di Asrama Haji Pondok Gede tak dibawa serta. Tapi si suami buru-buru mengingatkan bahwa apa yang terjadi boleh jadi merupakan bagian dari ujian ibadah haji.

    Beruntung ketika petang tiba, jatah makan siang akhirnya tiba. Menunya, sejumput nasi berikut lauk-pauk, sayuran, sambal, kerpuk, dan buah. “Kami pun sigap menyantap. Suasana suram di pesawat selama berjam-jam berubah menjadi cerah. Alhamdulillah,” tulis Jusuf Hamka.

    Selepas makan siang di petang itu, azan magrib berkumandang di dalam kabin pesawat. Mereka semua bertayamum. “Ini pengalaman baru, mendengarkan suara azan dengan khusuk dan tawakal di pesawat. “Jiwa relijus saya terasa bangkit. Kami menjamak salat magrib dan isya,” imbuhnya.

    Dibandingkan dengan peristiwa 40 tahun lalu, Jusuf Hamka menilai pelayanan ibadah haji saat ini pasti jauh lebih baik. “Saya pribadi cuma sekali haji kala itu saja. Selebihnya saya beberapa kali umrah,” kata Jusuf Hamka kepada detikhikmah.

    (dvs/jat)



    Sumber : www.detik.com